Seorang gadis cantik nan seksi yang bersiap di kamar mandi sebelum memasuki ruangan sakral di mana pria pujaannya berada. Gadis itu benar-benar memastikan penampilannya secantik dan se-seksi mungkin agar pria impiannya luluh.
"Lihatlah, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun dia tidak tergoda dengan semua ini. Bahkan jika di luar aku sering digoda," ucapnya seorang diri dengan menepuk pelan dada serta bokong montoknya.
Tak ingin lebih lama, ia segera keluar dari kamar mandi dan memasuki ruangan Presdir berada. Terlihat pemilik ruangan ini tengah berkutat dengan segala pekerjaan. Di saat serius seperti ini, kadar ketampanan pria pujaannya bertambah berkali-kali lipat. Ia bahkan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya melihat menampakkan yang sangat sulit dilewatkan.
"Tuan, ini laporan keuangan yang Tuan minta 30 menit yang lalu," ucap gadis seksi itu dengan suara dibuat lembut dan mendayu.
Sayang sekali, pria pujaannya itu tidak menoleh atau membuka suara sedikit pun. Hanya mengangguk singkat dan mengibaskan satu tangannya seolah menyuruh gadis itu keluar.
Sakit hati? Tentu saja. Sudah berdandan sejak 2 dekade yang lalu, dilirik saya tidak.
'Sial! Seharusnya aku langsung saja perkosa dia,' kesalnya dalam hati. Bisa mati di tempat jika diucapkan secara langsung.
***
Sedangkan di belahan dunia lain, seorang gadis tengah dihadapkan suatu keputusan yang sangat sulit.
Nina—perempuan paruh baya Ibunda dari sosok Niana menatap nyalang anaknya. Begitupun dengan Jendra—ayah Niana. Namun, Niana tetap acuh atas pendiriannya. Ia tidak peduli pada kedua manusia itu yang sedari tadi mengomel dan membentak Niana.
"Tanpa persetujuan darimu, saya akan tetap menikahkan kau dengan Jacob!" pungkas Jendra yang akhirnya pergi meninggalkan istri dan anaknya.
Jacob yang terus mengintai perdebatan itu melalui alat penyadap suara pada ponsel milik Jendra, ia senang bukan kepalang ketika membayangkan gadis mungil nan cantik itu menjadi miliknya. Beberapa hari ke depan, burung perkututnya akan masuk sarang yang lebih fresh dan tersegel. Membayangkannya saja membuat ia tak tahan untuk tidak tersenyum cabul.
Kembali pada Niana, gadis itu termenung seorang diri di kamarnya. Ternyata, usahanya untuk menolak sangat tidak berarti apa-apa. Pria itu tetap menjadikannya tumbal agar semua harta gelap ini kekal abadi.
"Tidak ada pilihan lain selain mengatakan iya, Niana." Begitu pula dengan Nina, ia tidak peduli terhadap perasaan Niana.
Selepas kepergian ayah dan ibunya, Niana mejambak rambut panjang miliknya sambil berteriak hebat. Kaki mungil nan putih itu berjalan cepat ke segala arah untuk menghancurkan semuanya.
Tubuhnya berhenti di depan cermin besar, menatap kasihan pada dirinya yang cantik.
"Kau memang cantik, Niana. Sayang sekali jika nanti anak turunmu ikut pada si ayah, mereka terlihat jelek dan berhati busuk," lirih Niana.
Tangannya terulur untuk mengusap wajahnya di pantulan cermin, namun setelahnya, ia menghancurkan cermin itu menggunakan tangan kosong. Sama sekali tidak peduli pada tangannya yang sudah compang camping penuh darah.
Bibi Yur—salah satu asisten di rumah Niana yang sangat dekat dengannya, ia segera masuk ke dalam kamar Niana ketika mendengar keributan yang sangat kacau di sana.
Perempuan bertubuh gempal nan tua itu segera menghampiri Niana sambil menangis tersedu-sedu. Tanpa peduli Niana yang sudah berlumuran darah, ia segera memeluknya penuh hangat.
"Anak manis, tenang sedikit ya, sayang? Hati bibi sakit melihatnya, nak," ucap Bibi Yur tanpa melepaskan pelukan hangat itu.
"Nak, tidak mungkin Tuhan memberikan cobaan di atas kemampuan hambanya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini nak. Semua orang bisa meninggalkanmu, tapi tidak dengan Tuhan." Suara Bibi Yur terdengar sangat lembut di telinga Niana, suara yang selalu ia dengar seumur hidupnya.
"Bibi, aku tidak mau," lirih Niana setelah lama terdiam di pelukan Bibi Yur.
Keduanya sedikit mengendurkan pelukan itu, diusapnya air mata Niana menggunakan kedua tangan Bibi Yur yan tak lagi kencang.
"Bibi akan selalu bersama Niana, ke manapun Niana pergi, Bibi akan selalu ada. Tidak usah takut ya, nak? Kita hadapi semuanya bersama-sama," balas Bibi Yur dengan senyum manisnya. Senyuman paksa agar Niana menjadi lebih tenang.
Niana tak membalas, kembali menumpahkan tangisnya di sana.
Detik, menit, jam, semuanya telah terlewati. Niana menangis tiada henti di pelukan Bibi Yur. Sampai akhirnya, gadis itu terpejam dengan sendirinya.
Bibi yur tersenyum kecil melihat wajah damai Niana yang sudah dibanjiri air mata.
Salah satu tangan Bibi Yur menggapai bantal yang ada di atas ranjang Naina. Perlahan ia merebahkan tubuhnya dengan tubuh gadis cantik yang masih terlelap di dekapannya.
"Tidurlah yang nyenyak, sayang, Bibi tidak akan meninggalkanmu," lirih Bibi yur sambil mengusap pelan rambut Niana.
Kini, posisi keduanya tidur di lantai berdua, Niana menggunakan salah satu tangan Bibi Yur sebagai bantalnya.
Meskipun dingin, Bibi Yur tidak peduli. Ia tidak bisa mengangkat tubuh Niana ke atas ranjang, ia juga tidak mau membangunkan Niana. Biarkan saja lantai kamar yang dingin ini menjadi saksi kesedihan keduanya.
***
Sudah satu minggu lamanya Niana tidak keluar dari kamar, Bibi Yur-lah yang selalu setia bolak-balik ke kamar Niana untuk memberinya makan.
Setelah memberi Niana sarapan, Bibi Yur kembali keluar dan menutup pintu kamar Niana.
Namun setelahnya, pintu itu kembali terbuka menampakkan wajah seorang wanita yang sangat dibenci oleh Niana.
"Jam 10 nanti, kau akan bertemu dengan calon suamimu. Berdandanlah secantik mungkin, kali ini kau harus menjadi anak yang berguna." Setelah mengucapkan tujuannya, wanita itu kembali pergi meninggalkan Niana yang kembali terdiam.
Sarapan yang sudah ada di tangan, Niana simpan di atas nakas kecil samping tempat tidurnya.
"Tuhan, kau adalah zat yang paling adil, kan? Aku memohon keadilanmu, aku mohon ...," rintihnya sambil menatap kosong ke depan.
Niana bangkit, masuk ke dalam kamar mandi lantas berendam di sana. Cukup lama, bahkan sangat lama.
Lagi-lagi, Bibi Yur kembali menyelamatkan Niana. Perempuan itu teriak sekencang-kencangnya ketika melihat Niana yang tak sadarkan diri sedang berendam di bathtub, entah sejak kapan gadis itu ada di sana.
Pelayan yang lain berlarian menghampiri Bibi Yur, berusaha sebisa mereka mengangkat tubuh Niana dan memakaikan beberapa pakaian agar Niana tidak terlalu telanjang.
Nina, wanita itu berdecak kesal ketika melihat anaknya kembali tak sadarkan diri. Bukan hanya sekali, Niana sangat sering seperti ini.
"Nyonya, saya meminta izin untuk membawa Niana ke rumah sakit—"
"Bawa pergi sekarang, anak itu memang sangat tidak berguna. Penyakitan dan menyusahkan," ujar Nina memotong perkataan Bibi Yur yang belum selesai.
Hati Bibi Yur berteriak ingin menangis, bagaimana bisa seorang ibu bersikap seperti itu pada anak kandungnya sendiri?
Tanpa mengatakan apapun lagi, Bibi Yur segera keluar menyusul pelayan yang lain untuk membawa Niana ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan, Bibi Yur tidak melepaskan Niana sedetik pun dari pelukannya. Diciumnya kening Niana yang dingin dengan penuh kasih sayang.
Sesampainya di rumah sakit yang sudah tak asing bagi Bibi Yur maupun Niana, dokter segera menangani gadis rapuh itu.
Pria berjas putih itu dengan cekatan menangani Niana, ia sudah hafal tentang kondisi Niana. 5 tahun ia menangani gadis malang ini.
Setelah memastikan semuanya selesai, dokter dan suster yang semula berada di dalam ruangan Niana, keluar secara bersamaan membuat Bibi Yur serta sopir yang mengantar mereka berdiri dari duduknya.
"Dokter, bagaimana keadaan Niana?" tanya Bibi Yur, wajahnya dihiasi kepanikan yang luar biasa.
"Seperti biasa, Niana telat datang kemari. Harusnya sejak 3 hari yang lalu Niana datang ke sini untuk Check up. Dan satu lagi, Niana pasti mengabaikan obatnya," jawab dokter itu panjang lebar membuat Bibi Yur menghela napas panjang.
Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter dan suster, Bibi Yur segera masuk ke dalam ruangan Niana. Netranya menangkap sosok gadis cantik tengah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
"Yur, kapan gadis ini memiliki kehidupan yang baik? Kapan Tuhan memberikannya kebahagiaan?" pertanyaan Pak Andes—sopir pribadi Niana, memecah keheningan di dalam ruangan dingin itu.
Bibi Yur masih belum menjawab, telapak tangannya menangkup hangat pipi Niana.
"Aku yakin, suatu saat nanti Niana bisa tersenyum dan tertawa bebas seperti manusia pada umumnya. Entah di kehidupan sekarang, atau pun kehidupan kedua yang entah ada atau tidak."
***
"Maaf Tuan Jacob, anak kami sedang sakit, dia tidak bisa datang untuk menemuimu. Mungkin lain kali jika Niana sudah sembuh, kami akan kembali membawanya untuk bertemu denganmu," ujar Nina penuh rasa hormat pada Jacob yang ada di depannya.
Jacob mengangguk-angguk kecil layaknya orang bodoh. Pria itu sedikit menggaruk kepalanya, mencongkel ketombe yang tak sengaja ikut masuk ke dalam sela-sela kuku tangannya.
"Tidak masalah, kau harus memastikan jika calon istriku baik-baik saja dan sehat selalu," ujar Jacob yang dibalas senyuman penuh hangat oleh Nina.
Tak berselang lama, Nina akhirnya keluar dari rumah mewah itu, kembali menggandeng lengan suaminya untuk masuk ke dalam mobil yang sama. Keduanya kembali dengan perasaan yang sangat berbunga. Sebentar lagi, keduanya akan hidup dengan damai tanpa harus memikirkan harta serta anak satu-satunya. Toh ada Jacob yang mereka percaya untuk menjamin semuanya.
Di dalam rumah mewah itu, Jacob tak henti-hentinya tersenyum senang menatap foto Niana pada ponselnya. Ia sangat senang ketika membayangkan gadis manis itu menjadi istrinya.
"Aku tidak sabar untuk bisa memeluk dan mencium-mu, Niana." Spontan asisten pribadi Jacob bergidik ngeri ketika melihat tuannya mengecup singkat layar ponsel yang masih menyala menampakkan wajah Niana yang cantik.
Namun, sebisa mungkin ia menetralkan raut wajahnya sebelum Jacob menyadari hal itu. Tamatlah riawayatnya jika hal itu terjadi. Dan karena tak ingin menahan rasa mual terlalu lama, ia memilih pergi dan berdalih sakit perut.
Selepas kepergian si asisten, Jacob segera menghubungi salah satu wanita penghangat ranjang miliknya untuk datang ke mansion. Tak pernah sehari pun ia absen menikmati wanita. Dan kali ini, fantasinya hanya tertuju pada wajah cantik Niana, membayangkan jika gadis itu yang ia nikmati saat ini.
'Sial, milik wanita ini sudah terasa longgar. Sabarlah Jony-ku yang malang, sebentar lagi kau akan mendapatkan sarang yang lebih indah dan sempurna, kau bisa menikmatinya kapanpun yang kau mau.' Batin pria itu terus terucap seraya menikmati jasa basah yang ia dapatkan dari salah satu wanita pemuas.
***
"Saya permisi," ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Niana. Gadis itu belum membuka mata sama sekali, mungkin alam bawah sadarnya lebih membahagiakan daripada kenyataan yang terjadi.
Bibi Yur kembali menatap Niana, tersenyum kecut melihat wajah pucat gadis itu.
"Cepat bangkit, nak, Bibi berjanji akan selalu menjaga dan memberikan yang terbaik untukmu," bisik Bibi Yur seraya menyisihkan rambut halus yang ada pada wajah cantik Niana.
***
"Mau sampai kapan kau menahannya? Bukan kah kau sangat mencintainya?" tanya seseorang yang berhasil membuat lamunan pria berjas putih itu kembali tersadar.
"Aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku takut dia tidak akan mempercayaiku lagi," balasnya.
Ryan mengangguk-anggukan kepalanya, ia menepuk pundak sang sahabat lalu melenggang pergi.
Selepas kepergian Ryan, pria itu kembali melamun, memikirkan keadaan gadis yang ia cintai, semakin hari semakin memburuk saja. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat gadis pujaan hatinya itu kembali sehat seperti orang pada umumnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, Niana sudah kembali ke rumahnya. Besok, ia akan melakukan pernikahan yang paling ia takuti.
"Kenapa kalian sama sekali tidak punya hati? Apakah doaku tidak tembus langit? Apakah Tuhan sengaja membiarkan hidupku sepenuhnya sengsara?" Niana terus bertanya-tanya sambil menatap figura besar foto ayah dan ibunya yang ada di ruang tamu. Senyum kedua orang itu terlihat sangat manis sambil menggendong anak kecil cantik.
Niana menatap sendu ke arah gadis kecil itu, ia berharap pada Tuhan agar dirinya kembali ke masa-masa kecilnya. Di masa itulah ia merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
"Tidak usah memasang wajah sedih, sebentar lagi kau akan bergelimang harta, kau bisa membeli apapun yang kau mau tanpa harus meminta padaku," ujar seseorang yang tak sengaja melihat Niana tengah menangis menatap figura besar itu.
"Bukan kah aku tidak pernah meminta apapun pada ibu?" tanya Niana, tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok yang masih ada di belakang.
"Cih, tapi aku yang membiayai hidupmu selama 22 tahun. Ingat itu!" sentak Nina lalu pergi meninggalkan Niana.
Niana mendengus kesal, rasanya ia ingin membunuh ibunya sendiri.
Setelah kepergian sang ibu, Niana kembali memasuki kamar, saksi bisu isak tangisnya selama bertahun-tahun.
Mungkin, besok ia tidak akan tidur di kamar ini lagi, melainkan di kamar pengantin bersama orang yang paling ia takuti dan paling ia benci.
"Tuhan, tunjukkan keadilanmu," lirihnya sambil menatap ke arah langit-langit kamar. Beberapa saat setelahnya, alam mimpi membawa Niana pergi.
***
Pagi menyapa, Niana yang sudah terjadi sejak pukul 3 dini hari hanya bisa terdiam lesu. Para pelayan dan orang tuanya sudah heboh, bahkan calon suaminya sangat sering menelpon. Hanya saja, tidak Niana hiraukan dan memilih untuk diam.
"Niana sayang, mandi dulu nak, sebentar lagi perias akan datang," ujar Bibi Yur ketika melihat anak majikannya itu tengah terduduk lesu di atas kasur.
Niana melenggang pergi, memasuki kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Niana kembali keluar. Di sana, netranya menatap sosok Nina tengah berbicara hangat dengan orang yang akan merias wajahnya.
"Itu dia, kau bisa segera meriasnya. Ingat, buat anakku secantik mungkin," pinta Nina pada seorang wanita muda itu.
Nina kembali keluar, membiarkan perias merias wajah anaknya.
"Ah, aku meninggalkan satu koper alat rias di dalam mobil. Mohon tunggu sebentar ya," ucap perias itu sambil tersenyum tak enak hati pada Niana. Niana hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Kini hanya ada Bibi Yur dan Niana.
Niana melirik ke arah tangannya ketika Bibi Yur memberikan jaket, kacamata, dan topi serba hitam, dahinya mengeryit heran.
"Pergi nak, area belakang kosong, dan waktumu sangat terbatas."
Niana membulatkan kedua matanya tak percaya, ia menatap ke sekeliling. Dengan air mata yang mulai menetes, dikecupnya dahi Bibi Yur penuh sayang. Tak lupa ia membawa uang cash cukup banyak untuk bekalnya.
"Kita akan bertemu suatu saat nanti. Niana sangat menyayangi Bibi," ucap Niana, satu detik setelahnya ia berlari dengan cepat serta menatap sekitar penuh was-was.
Sama halnya dengan Niana, Bibi Yur segera pergi ke dapur, ia akan berpura-pura tidak tahu tentang Niana.
Perias kembali ke dalam kamar Niana, dipanggilnya beberapa kali calon pengantin itu, namun sama sekali tidak ada sahutan. Sesegera mungkin ia melaporkan hal ini pada nyonya besar yang sedang sibuk di ruang tamu.
"Nyonya, nona Niana tidak ada di kamar."
Nina spontan terkejut, ia berlari secepat mungkin menuju kamar anaknya.
"Niana!!! Di mana kau?!!"
Satu rumah sangat heboh, bagaimana bisa calon pengantin kabur di beberapa jam sebelum dinikahkan?
Bibi Yur, ia hanya bisa menangis dan diam sambil membakar roti kesukaan Niana.
"Kau! Di mana gadis kurang ajar itu?! Kau sembunyikan di mana?!!!" tanya Nina penuh kasar ketika melihat Bibi Yur yang asyik sendiri membakar roti.
Bibi Yur kembali berpura-pura, sebisa mungkin ia menutupi semuanya.
"Bukan kah nona Niana ada di kamar? Beliau meminta saya untuk membakar roti, katanya, nona Niana ingin sarapan ini," jawab Bibi Yur membuat Nina kembali naik pitam.
Otaknya buntu sekarang, apa yang harus ia katakan pada calon besan juga suaminya sekarang?
Tepat di detik yang sama, Jendra tiba dengan senyum senang terukir di wajahnya. Ia baru saja tiba setelah melihat persiapan di hotel yang akan menjadi tempat pernikahan anaknya.
Namun, senyum senang itu perlahan musnah ketika melihat seisi rumah kacau mencari Niana.
Mata tajamnya menatap ke arah Nina, tampak wanita itu sedang gelisah sambil memanggil nama Niana. Kakinya melangkah mendekat, menampar sekuat tenaga wanitanya.
"Kau memang tidak becus!" sentak Jendra pada sang istri. Nina hanya diam sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Maafkan aku, Niana kabur tanpa seorang pun ketahui," ujar Nina namun tidak dihiraukan oleh suaminya.
Pria yang tak lagi muda itu segera keluar rumah, memerintahkan beberapa bawahannya untuk mencari Niana sampai ditemukan. Tanpa terkecuali.
***
Niana benar-benar pergi jauh dari lingkungan rumahnya. Bahkan, ia sudah 3 kali naik bus dan keluar dari pulau tempat ia dilahirkan agar dirinya semakin menjauh dari kota kelahirannya itu.
Di dalam bus, Niana hanya bisa menangis meratapi dirinya malang. Entah setelah ini, kakinya akan melangkah ke mana, sama sekali tidak memiliki tujuan.
Niana turun dari bus, ia terus berjalan menyusuri trotoar. Yang ia bawa hanya uang, selebihnya, ia tidak membawa apa-apa lagi.
Saking pusingnya, Niana tidak menyadari jika dirinya semakin memasuki area jalan raya. Tidak lagi di trotoar seperti sebelumnya. Banyak klakson yang berbunyi ketika Niana semakin ke tengah. Namun, gadis itu tetap tidak menyadarinya.
Perlahan, Niana merasakan perutnya sakit. Dipegangnya perut itu sambil berjalan perlahan-lahan.
Niana yang menyadari jika dia berjalan di jalur yang salah pun hendak kembali ke trotoar. Namun sayang, Mercedes-Benz lebih dulu menabrak dirinya sangat kuat.
Niana terpental agak jauh, orang-orang yang ada di sekitar sana reflek berteriak dan mendekati ke arah Niana. Gadis itu tampak sangat kesakitan.
Pengemudi Mercedes-Benz itu segera keluar, wajahnya tampak terkejut melihat seorang gadis berlumuran darah mengaduh kesakitan.
Niana merasakan tubuhnya melayang, ia sempat melihat wajah orang yang menabraknya. Sangat sangat rupawan. Dan dada bidang itu, terasa sangat nyaman dengan detak jantung yang berdegub kencang menjadikan nyanyian indah di ambang kesadaran.
Niana segera dimasukkan ke dalam mobil, beberapa detik setelahnya mobil itu kembali berjalan lebih cepat menuju rumah sakit.
"Kau bertahanlah, aku akan bertanggung jawab," ucap pria itu ketika melihat Niana yang mulai menutup mata. Sungguh, rasa sakitnya sangatlah luar biasa. Niana juga tidak tahu kenapa ia tidak langsung pingsan saja.
***
Dokter dan beberapa tim medis segera melakukan yang terbaik untuk Niana, telat 1 menit saja nyawa gadis itu bisa melayang karena kehabisan darah.
Pria itu terduduk lesu di depan ruang IGD, ia sama sekali tidak mengira kalau hal ini akan terjadi.
Seorang pria tiba, wajahnya tampak sangat panik ketika mendengar kabar bahwa sahabatnya tak sengaja menabrak seorang gadis. Sangat parah.
"Prince, apa yang telah kau lakukan?" tanya pria yang baru saja tiba membuat lamunan Prince buyar. Ditatapnya pria itu lalu ia menggeleng pelan.
"Aku tidak sengaja menabraknya. Aku benar-benar tidak sengaja," ujar Prince—pria yang telah menabrak Niana. Pria pewaris tunggal perusahaan raksasa di bidang teknologi, serta bisnis yang merebak di mancanegara.
"Tidak perlu khawatir, kau hanya perlu bertanggung jawab," balas Jordan—sahabat Prince.
Kedua pria itu duduk di kursi depan IGD. Sampai akhirnya, dokter keluar dengan diikuti beberapa tim medis lainnya untuk memberitahukan kondisi Niana.
"Apakah kalian keluarga pasien?" tanya dokter itu, reflek Jordan dan Prince saling melemparkan pandangan. Jangankan keluarga, namanya saja mereka tidak tahu.
"Saya orang yang telah menabraknya, kami tidak mengetahui siapa dia," jawab Prince sejujurnya.
Dokter menghela napas, sebenarnya, ada hal yang ingin ia sampaikan. Namun, ketika mengetahui jika kedua pria ini bukanlah anggota keluarga pasien, dokter pun mengurungkan niatnya.
"Untuk saat ini kondisi pasien sudah mulai stabil, mungkin memerlukan waktu beberapa hari agar tetap berada di rumah sakit. Kondisinya belum memungkinkan jika ingin dibawa pulang," ujar dokter menjelaskan keadaan Niana sekarang.
Prince dan Jordan mengangguk paham. Salah satu dari mereka memilih pergi untuk melakukan administrasi.
Prince memasuki ruang ICU di mana Niana berada. Ruangan ini sangatlah dingin.
Wajah Niana sudah dibersihkan dari darah yang sebelumnya terus mengucur hebat. Banyak bagian tubuh yang ditutupi perban sekarang.
"Kau kenapa tiba-tiba ada di tengah jalan? Aku tidak sengaja menabrakmu," ujar Prince pada gadis yang belum ia ketahui namanya. Gadis itu hanya diam, wajahnya bahkan terlihat sangat pucat. Dan kepucatan itu sama sekali tidak menutupi wajahnya yang cantik.
Meskipun biasanya ia tak terlalu ambil pusing dengan masalah seperti ini, namun kali ini ia seperti tidak tenang memikirkan gadis yang celaka karenanya.
Jordan baru saja menyelesaikan masalah administrasi, ia kembali pada Prince yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Kau sudah mendapat identitasnya?" tanya Jordan yang dibalas gelengan kepala oleh Prince. Bahkan ketika Prince meminta bantuan tim medis, mereka semua gagal dalam mencari identitas Niana.
Tidak ada kartu atau pun ponsel yang akan digunakan untuk mencari informasi Niana, gadis itu hanya membawa diri dan beberapa lembar uang saja.
"Kita tunggu saja sampai dia sadar, baru kita cari tahu identitasnya," putus Jordan yang tentunya disetujui oleh Prince.
***
Prince dan Jordan akhirnya pulang, hari sudah semakin gelap namun keduanya belum juga sampai ke rumah masing-masing.
Di mansion, Prince segera memasuki rumah megah itu sambil membuka jas serta dasi yang masih menggantung di leher. Beberapa bagian pakaiannya ada yang terkena darah.
Salah satu pelayan yang ada di sana tampak membulatkan mata ketika melihat pakaian tuan mereka terdapat darah.
"Astaga, apa yang telah terjadi, Tuan? Kenapa jas anda banyak darah?" tanya salah satu pelayan.
"Ah, ini, aku baru saja menabrak seorang gadis. Kau tidak perlu khawatir," jawab Prince ketika melihat wajah pelayannya pucat.
Pelayan wanita bernama Tia itu akhirnya merasa lega. Setidaknya, bukan Prince yang terluka. Meskipun dingin dan jarang bercengkerama, namun seisi mansion sangat peduli pada Prince karena pria itu sendiri sangatlah ringan tangan untuk membantu kesulitan para pekerjanya.
Prince kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat istirahat. Namun sebelumnya, ia memilih untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Hari ini benar-benar melelahkan, belum lagi pikirannya yang tak tenang memikirkan gadis itu.
"Dia orang mana? Bagaimana kalau keluarganya mencari?" Prince terus bertanya-tanya.
***
4 hari Niana tekurung di ruang ICU, dan di hari ke lima ini gadis cantik itu sudah mulai sadarkan diri dan akan dipindahkan ke ruang rawat.
"Aku di mana?" tanya Niana dengan suara yang sangat lirih.
Jordan yang saat itu tengah menjenguk Niana sontak tersenyum hangat melihat gadis yang ia tunggu akhirnya membuka mata.
"Akhirnya ... perlu aku panggilkan dokter?" tanya Jordan pada Niana yang masih termenung menatap sekitarnya yang asing.
"Aku di mana?" tanya Niana sekali lagi, pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh pria asing itu.
"Kau masih di rumah sakit, Nona. Tolong maafkan sahabatku, dia yang membuatmu sampai seperti ini," jawab Jordan membuat Niana kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Niana terbatuk-batuk, bahkan sampai mengeluarkan darah. Jordan sangat panik, pria itu segera memencet bel untuk memanggil dokter.
Pria berjas putih dengan diikuti beberapa tim medis dengan cepat memasuki ruangan di mana Niana berada. Jordan pun keluar, membiarkan tim medis untuk kembali memeriksa Niana.
Selagi menunggu dokter memberinya kabar tentang Niana, ia memilih untuk menghubungi sahabatnya. Prince pasti senang mendengar kabar bahwa gadis yang mereka tunggu sudah mulai sadarkan diri.
"Dia sudah sadarkan diri. Sayangnya, dia kembali ditangani oleh dokter setelah muntah darah tadi," ucap Jordan pada seseorang yang tersambung dengan ponselnya.
Tak berapa lama sambungan itu terputus, bersamaan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan Niana.
"Bagaimana dokter?" tanya Jordan yang sudah berdiri di hadapan dokter.
"Keadaan tubuhnya belum sepenuhnya membaik, kami meminta izin untuk melakukan operasi penyumbatan pembuluh darah di jantungnya," ujar dokter membuat Jordan segera meraih pena yang ada di tangan suster dan segera menandatangani berkas persetujuan operasi.
Tak berapa lama Niana kembali dibawa pergi menuju ruang operasi. Jordan hanya bisa diam menatap gadis cantik itu yang kembali tak sadarkan diri.
Di seberang sana, Prince kembali melanjutkan rapatnya yang tertunda karena mendapat telepon dari Jordan. Namun selama berjalannya rapat, ia benar-benar tidak fokus dan terus terbayang wajah penuh luka gadis yang saat ini menjadi tanggung dirinya. Bagaimana ia melihat sekelebat tatapan lelah serta tubuh ringkih yang masih ia ingat dalam benaknya.
'Tidak seharusnya aku memikirkan dia sampai tidak fokus bekerja seperti ini. Toh aku sudah bertanggung jawab dan akan tetap bertanggung jawab sampai dia sembuh seperti sedia kala. Oh ayolah gadis cantik, keluar dari pikiranku segera agar aku bisa bekerja dengan benar!' batin Prince menggerutu kesal.
***