Sebuah mobil sport hitam membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, diikuti oleh deretan sedan mewah di belakang. Hotel bintang lima menjadi tujuan dari mereka, setelah kabar mengejutkan menyeruak dalam telinga pentolan mafia, yang kini memimpin di depan.
Reynand Abrizam, lelaki berparas tampan itu tak berpikir lebih lama, kala kabar tentang upacara pernikahan merasuki pendengaran. Tepat tiga jam sebelum Reynand menginjakkan kaki di bandara pribadi, panggilan masuk dari sahabat baiknya telah berhasil menyulut emosi.
Bergegas penguasa dunia bisnis juga kegelapan itu mengaspal bersama anak buahnya, tanpa lupa untuk menurunkan titah pada yang lain, agar lebih dulu mendatangi lokasi hendak dijadikan saksi terucapnya janji suci, yang kini sudah mulai terlihat oleh kedua mata tajam Reynand.
Lelaki itu mengabaikan penjagaan di depan, menerobos masuk tanpa mengurangi kecepatan. Tubuh-tubuh dari pria bersenjata yang coba menghadang, ditabrak dan dilindas oleh keempat roda mobil sport Reynand, diikuti oleh seluruh anak buahnya.
Ballroom menjadi tujuan akhir, Reynand menjelajahi lantai mengilat untuk bisa berlabuh di tempat sudah penuh tamu undangan. Bahkan, setiap insan yang ada di atas lantai menuju ballroom diabaikan, beserta caci maki tertuju padanya.
Sebuah ruangan memiliki dua pintu tinggi terbuka lebar, diterobos oleh Reynand dengan mobilnya. Suasana dalam gedung yang semula hening, berubah histeris akan teriakan-teriakan dari para undangan yang ada. Semua kocar-kacir menjadi dua bagian, tatkala kendaraan masih ditempati empunya itu berhenti di tengah ruangan.
Dua orang tengah berdiri di depan, turut kaget dan membesarkan pupil mata. Terlebih, adalah perempuan bergaun pernikahan putih berekor panjang, yang kini menyipitkan kedua mata, sekedar mempertajam penglihatan demi memastikan wajah di balik kaca kendaraan.
“Rey?!” Membeliak perempuan cantik bernama Keisha Veronica, begitu mengetahui pasti siapa yang duduk di balik kemudi.
Mempelai pria pun tak kalah kaget, begitu nama tak ingin didengar, justru melesat dalam pendengaran. Reza, lelaki bersetelan jas putih itu menoleh pada kedua orang tua, serta calon mertuanya. Wajah semula penuh dengan rona bahagia, sekarang berubah cemas seketika.
Apa lagi, saat kaki Reynand sudah menginjak lantai marmer putih ruangan, dan berhasil memancing keributan dari orang-orang yang sangat mengenali siapa dirinya. Reynand berdiri gagah di samping mobil, mengancingkan jas tanpa melepaskan pandangan dari Keisha.
“Bawa semua orang keluar dari sini!” Titah lelaki pemilik tinggi 188 sentimeter tersebut, pada anak buah yang tak ditoleh sama sekali.
Pria-pria bertubuh besar segera menjalankan perintah, menggiring semua orang meninggalkan ruangan telah dihias cantik oleh mawar putih. Reynand mengayunkan langkah kaki lebar mendekati Keisha, refleks tangan Reza menarik pergelangan calon istrinya dan menyembunyikan di balik tubuh.
“Apa lagi yang Anda inginkan sekarang?! Apa semua belum cukup, sampai Andra harus datang dan menghancurkan pernikahan kami?!” sembur Reza, seketika langkah Reynand terhenti di hadapannya.
Lelaki bersetelan jas hitam itu menarik ujung bibir kanan atas, menelisik seseorang yang mengintip ke arahnya. “Bukankah ini sangat mengagumkan, Keisha? Kau menikah dengan mantan kekasihmu, dan menggelar acara mewah tanpa rasa malu!”
“I—ini semua tidak seperti yang ka—“
“Jangan menekannya lagi! Pergilah, atau semua orang yang ada di sini akan menghabisi Anda, tanpa sisa!” sela Reza, memenggal kata gagap Keisha.
Reynand dengan wajah santai menoleh, beredar pandangan ke sekeliling ruangan. “Aku tidak menemukan siapa pun yang bisa melakukan hal itu.” Kedua pundak terangkat, beriringan dengan bibir melengkung ke bawah.
“Anda memang orang tidak tahu malu, Tuan Reynand! Bisa-bisanya Anda datang kemari dan membuat keributan, setelah meninggalkan Keisha demi perempuan lain!” seru Reza.
“Pergilah, jangan pernah mengusik kehidupan Keisha lagi. Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh Keisha, bahkan jika itu hanya seujung rambutnya! Dia adalah istri saya, dan saya harap Anda masih memiliki sedikit rasa malu, untuk tidak lagi menemui dan mengusik kehidupannya! Biarkan Keisha bahagia, tanpa ada gangguan dari iblis gila seperti, Anda!” imbuh Reza, masih dengan penekanan sama.
“Aku tidak melihatnya bahagia bersamamu. Dia justru bahagia saat melihatku. Bukan begitu, Keisha?” Reynand menyeringai tipis, mengintip tempat persembunyian perempuan cantik di hadapannya.
“Percaya diri memang sangat baik. Tapi, terlalu percaya diri juga sangat menjijikkan!” ejek Reza. “Jangan pernah berani menatap istri saya, atau—“
“Atau, kau akan menghabisiku?” penggal Reynand, lalu menoleh ke sisi lain ruangan.
“Lihatlah, mereka bahkan tidak bisa bergerak untuk melawan anak buahku. Lalu, bagaimana bisa kau melawanku?” Kedua alis Reynand terangkat bersamaan. “Singa, tidak pernah takut dengan ancaman semut! Kau, mengerti?!”
“Anda terlalu tinggi menilai diri. Sampah seperti Anda, hanya pan—“ Lagi-lagi perkataan Reza terpenggal. Kali ini, bukan kalimat yang menyergap, melainkan kepalan tangan mendarat pada wajah kiri.
“Terlalu banyak bicara, itu akan membunuh dirimu sendiri!” berang Rehnand, mencengkeram kerah kemeja Reza dan memukul wajahnya bertubi.
Tubuh Reza tak dilepaskan, bahkan saat lelaki itu sudah terdorong dengan hujan bogem mentah tanpa jeda. Reynand membenturkan punggung Reza ke dinding, menekan leher lelaki itu sampai tubuh terangkat tinggi. “Kau hanyalah sampah busuk tidak berguna!” tekan Reynand, melemparkan tubuh Reza layaknya itu adalah sampah.
Reza memekik kesakitan, kala ia terbanting kencang di lantai. Teriakan dari Keisha juga ibunda Reza menggelegar, namun Reynand tidak memedulikan. Tuan muda itu berjalan menghampiri Reza, berdiri tepat di samping pinggang dan membungkuk. Kerah kemeja kembali diangkat, sport mata mematikan ditunjukkan jelas oleh Reynand.
“Kesalahan pertama yang kau lakukan, adalah kau menikahinya!” erang Reynand, memukul batang hidung Reza hingga kepala belakang terbentur ke lantai.
“Kesalahan kedua, adalah kau menyentuhnya!” timpal tuan muda sudah terbakar amarah tersebut, memukul sekali lagi pada bagian mata kiri Reza.
“Kesalahan paling fatal, adalah kau menghina dan mengancamku dengan mulut sampahmu!” Reynand mengangkat lebih tinggi tangan ke samping, sebelum akhirnya otot-otot terkumpul pada kepalan, menghantam paras di bawahnya bertubi.
Wajah Reza sudah tak lagi berbentuk seperti sedia kala, darah segar mengucur dari hidung serta mulut. Reynand bak orang kesetanan, terus saja menghajar tanpa peduli akan lawannya yang sudah tak memiliki kesadaran.
Keisha tidak lagi bisa diam, ia memaksa kaki bekunya untuk berlari. Mendorong sekuat tenaga tubuh Reynand, sembari berteriak agar semua perbuatan dihentikan. “Cukup, Rey! Jangan memukulnya lagi, dia bisa mati!”
Reynand bertambah berang, menoleh ke arah Keisha dan mengempaskan kepala Reza begitu saja, hingga benturan kuat terdengar. “Kau ... kau membelanya di depanku?!” Melotot kedua mata memerah Reynand.
“Berapa kali harus aku katakan, jangan pernah membela laki-laki lain di depanku!” teriaknya sangat kencang.
“Kau sudah mengkhianatiku, dan sekarang kau membelanya?! Apa kau sudah benar-benar gila, Keisha?!”
“HENTIKAN!” Terdengar suara kencang dari arah lain, beriringan dengan letusan pistol.
“REY!” histeris Keisha.
Proyektil melesat tepat pada lengan kiri Reynand, merobek kulit dan meninggalkan rasa panas. Lelaki itu meringis, menatap darah yang mengucur. Keisha gemetar hebat, jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, sebelum akhirnya ia harus menghadang Reynand yang ingin mendekati Bram.
“Tidak, aku mohon. Jangan sakiti papa, Rey.” Keisha memeluk erat, demi membuat ayunan kaki urung dibuat oleh lelaki di depannya.
“Aku mohon ...,” pintanya menatap harap.
Reynand merapatkan gigi dalam mulut tertutup, menyaksikan permohonan Keisha adalah hal paling tak diharapkan. Lelaki itu menyambar tangan perempuan masih mendekapnya, menyeret pergi ke arah mobil berada.
“Lepaskan putriku!” erang Bram dari kejauhan, tubuhnya sudah dibekuk setelah pistol dirampas anak buah Reynand lebih dulu.
Keisha menoleh, tapi ia tak mampu menghentikan langkah. Reynand terus menyeretnya, tanpa memedulikan kesulitan dirinya menyelaraskan kaki.
“Ledakkan hotel ini, sekarang juga!” titah Reynand, mengejutkan perempuan di balik tubuhnya.
“Sesuai perintah, Tuan!” seru para pria berpakaian serba hitam.
Mata Keisha nanap, dia melihat sang papa juga punggung lelaki telah membukakan pintu untuknya. “Kamu sudah gila?! Bagaimana bisa kamu memerintahkan mereka untuk meledakkan tempat ini, Rey?!”
“Masuk!”
“Tidak akan pernah!” tekan Keisha. “Kalau memang kamu ingin menghancurkan tempat ini, biarkan aku menemani mereka di sini!”
Reynand geram, tarikan napas berat diciptakan olehnya, kemudian bersimpuh di samping Keisha. Bukan untuk memohon, lelaki itu merobek ekor gaun dan membuang asal. Tubuh Keisha pun didorong paksa untuk masuk dalam kendaraan, Reynand memutar dan berlabuh ke balik kemudi.
Mobil seketika dijalankan mundur, walau mata cemas Keisha masih tertuju pada papanya. Dia bahkan terus memohon, agar titah ditarik oleh lelaki yang mengemudi dengan kecepatan tinggi sekarang. Namun, sayangnya itu tak dipedulikan, oleh tuan muda di balik kemudi yang terus mengeraskan rahang.
“Jangan lakukan apa pun pada papa, atau aku akan melompat dari sini, Rey!” ancam Keisha serius.
Reynand sekedar melirik, dia begitu acuh dengan ancaman diberikan barusan. Bukan karena tak peduli, tapi karena si pemilik kulit putih itu yakin, bahwa Keisha tak akan bisa membuka pintu dan melancarkan ancaman.
“Rey! Aku serius dengan perkataanku!”
“Lompat dan matilah, kalau kau bahagia melakukan hal itu!”
“Apa?” tak percaya Keisha. “Ka—kamu bilang apa barusan?”
“Melompatlah!” Reynand menoleh, kedua mata dilebarkan sembari menegaskan kalimat.
Keisha membuka mulut lebar-lebar, mata tadi terbelalak berubah sayu. Tetap saja, lelaki berhati keras di sampingnya tak memedulikan. Reynand menekan sebuah alat kecil pada telinga kanan, itu adalah alat komunikasi yang menghubungkan dirinya, dengan semua bodyguard.
“Seret Bram ke hadapanku, bawa juga lainnya! Hotel itu, aku tidak ingin melihatnya berdiri lagi!” perintahnya, menyentak perhatian Keisha sekali lagi.
Mendengar hal itu, hati Keisha semakin tak karuan. Siapa yang tak mengenal bagaimana cara Reynand menghancurkan lawan, terlebih ketika sang penguasa itu telah menjatuhkan titah, agar musuh dibawa ke hadapannya. Ruang bawah tanah tersembunyi, seketika menghampiri benak Keisha. Dia menggoyangkan lengan Reynand, memohon dan merengek layaknya anak kecil.
Nihil. Semua masih diabaikan oleh tuan muda yang kini menekan klakson, menyadarkan pengawal di depan rumah akan kehadiran dirinya. Pagar hitam menjulang tinggi dibukakan segera, Reyanand menyisir halaman luas rumahnya, diiringi oleh tubuh-tubuh membungkuk bodyguard.
Kendaraan dihentikan tepat di depan teras, para pelayan pun telah berbaris menyambut hadir tuan mereka. Reynand turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Keisha dan menyeret masuk dalam rumah megah, dipenuhi oleh perabot-perabot berwarna hitam.
Elevator dalam rumah dijadikan jalan pintas oleh Reynand, untuk sampai lantai tiga, di mana ruang pribadinya berada. Genggaman belum dilepaskan dari tangan mungil Keisha, bahkan ketika pintu elevator sudah terbuka di lantai tujuan. Reynand menyisir lantai marmer hitam mengilat, membuka kasar pintu dan membanting kencang.
Tubuh Keisha dihempaskan ke ranjang, hingga perempuan terlihat sangat cantik dalam riasan nude menyegarkan itu, memekik kesakitan dengan memegangi lengan kanan. “Au!” seru Keisha meringis. “Kamu menyakitiku, Rey!”
“Menyakiti?! Apa kau tahu apa itu rasa sakit?!” Reynand bertolak pinggang, alisnya saling bertautan. “Kalau kau mengerti apa itu sakit, kau tidak akan mengkhianatiku seperti hari ini!”
“Aku tidak pernah mengkhianatimu sama sekali, Rey. Aku memiliki alasan, untuk apa yang aku lakukan!”
“Benarkah?! Alasan apa yang membenarkanmu untuk menikah lagi, sementara kau masih memiliki suami?!” teriak Reynand.
“Di depan mataku sendiri, kau bahkan tidak menolak saat dia menyentuhmu!”
“Berapa kali kau sudah tidur dengannya, Keisha? Atau ... kau bahkan sudah mengandung anaknya, sampai kau bersedia menikah dan melupakan pernikahan kita?! Katakan saja, apa itu alasanmu menggugurkan kandunganmu, Kei?!”
“Harusnya, dari awal kau mengatakan kalau tidak ingin mengandung anakku!”
Reynand terus meninggikan suara, tatkala bayang tentang Reza menggenggam tangan Keisha, membayangi ingatan. Napasnya memburu, hati memanas tak karuan, seolah siap untuk terbakar tanpa sisa.
Keisha tak mampu mempercayai apa diucapkan oleh lawan bicaranya, ia menelisik kecewa pada wajah merah padam dari lelaki yang berdiri di dekat ranjang. “Apa aku serendah itu di matamu, Rey? Mungkinkah, aku bisa melakukan hal serendah itu?”
“Harusnya, aku yang bertanya padamu, sudah berapa kali kamu meniduri Anita sampai dia hamil?! Kenapa kamu justru pergi meninggalkanku, hanya demi bisa hidup bersama Anita, Rey?!”
“Sedikit saja, apa kamu tidak berpikir kalau aku sangat terluka? Aku membutuhkanmu, tapi kamu justru meninggalkanku bersama Nabila, untuk membangun kehidupan baru dengan Anita!”
“Di mana hati nuranimu sebenarnya, Rey?! Kamu meninggalkanku dalam kondisi hamil, tanpa sedikit saja penjelasan!”
“Satu tahun, Rey. Satu tahun aku hidup dalam kebodohan, menyalahkan diriku sendiri tentang kenapa kamu bisa meninggalkanku seperti sampah tidak berharga!”
“Kenapa, Rey?! Katakan, kenapa kamu membawa Nabila pergi untuk tinggal bersama Anita?! Apa yang sudah aku lakukan, sampai kamu mencampakkanku seperti sampah?! Kenapa?!”
Keisha menggebu-gebu, teringat seperti apa kehidupan memaksanya menerima kenyataan pahit, kala diri tengah mengandung benih cintanya bersama sang suami.
Reynand mengeraskan rahang, memusatkan perhatian pada wajah terlihat frustrasi di depannya. Kaki kanan di angkat oleh Reynand menekuk di atas ranjang, mencapit wajah Keisha dan langsung menyergap bibirnya.
Tak ada kesempatan bagi Keisha menolak, tubuh terus terdorong sampai terbaring di atas ranjang. Refleks perempuan berambut hitam pekat itu membalas, setiap perlakuan dari lelaki yang sudah menyempurnakan posisi di atas tubuhnya.
Tangan-tangan Reynand mengobrak-abrik gaun pernikahan, membuang ke lantai tanpa menghentikan aksi gilanya. Keisha pun turut membebaskan tubuh kekar Reynand dari jas serta kemeja. Namun, semua terhenti ketika mata indahnya menangkap beberapa luka.
“Rey?” pilu Keisha, menyentuh dada dipenuhi oleh bekas luka.
Reynand menatap pada tubuhnya sendiri, kemudian menarik diri dan meninggalkan tubuh sangat ingin dinikmati. “Pakai pakaianmu, dan istirahatlah!”
“Tidak! Jelaskan padaku, bagaimana bisa kamu terluka seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi, Rey? Di mana Nabila sekarang?”
“Aku ibunya, Rey. Aku berhak tahu di mana putriku, dan apa yang sudah terjadi pada kalian berdua!”
Reynand berdiri, melepaskan jas dan hanya meninggalkan kemeja hitam yang mulai dikancingkan olehnya. Lengan panjang digulung sampai batas siku, sembari menatap perempuan di atas ranjang.
Tanpa meninggalkan sepatah kata, Reynand pergi menuju pintu. Keisha yang sudah cukup diam menanti jawaban, lekas turun dan mengejar, mengabaikan tentang tubuh yang sekedar ditutupi oleh pakaian dalam.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Rey!” tegasnya, menarik lengan lelaki sudah hampir sampai pintu.
Reynand menoleh, dia menelisik paras cantik di depannya, kemudian sengaja berpaling ke sisi lain. Begitu acuh tatapan dibagikan, lengan dipegang juga dilepaskan olehnya.
“Rey!” seru Keisha, mendorong pintu sudah mulai terbuka sedikit. Dia berdiri di baliknya, menyandarkan tubuh belakang dan sengaja menghalangi.
“Kalau kamu berpikir aku akan diam saja, kamu salah! Aku bukan lagi Keisha yang dulu, Rey!”
“Di mana Nabila sekarang? Bukankah kalian pergi bersama hari itu, kenapa kamu hanya kembali sendirian? Apa yang sebenarnya terjadi, Rey? Kenapa kamu pergi setelah tahu kalau aku sedang mengandung?”
Reynand menarik dalam napas, bibir dibasahi olehnya sembari menoleh ke sisi kanan. “Menyingkirlah dari jalanku, jangan memaksaku bertindak kasar.”
“Lakukan saja, tidak ada yang peduli! Aku sudah terbiasa dengan semua rasa sakit yang kamu berikan selama ini, Rey.”
“Kau tidak berhak mencegahku, atau mempertanyakan apa pun padaku. Mengerti?!” tajam Reynand.
“Ingatlah ini, Keisha. Kau sudah menghabisi calon anakku, dan aku pastikan kalau hidupmu akan seperti di neraka mulai hari ini!” imbuhnya serius, menundukkan kepala dan mendekatkan tepat di hadapan wajah lawan bicaranya.
“Bukan aku yang sudah membuat calon anak kita tiada, Rey. Kamu ... kamu dan Anita yang sudah melakukannya!” Keisha tak kalah menekankan kata, Reynand menautkan kedua alis tebalnya.
“Kalau kalian tidak pernah memberikan obat itu, aku tidak akan kehilangan anakku! Bukan aku yang akan tinggal seperti di neraka, tapi kalian berdua!”
“Kalian yang sudah menghancurkan hidupku, kalian juga yang sudah membuat orang tuaku ....”
Keisha tidak sampai hati untuk melanjutkan kalimat, mendorong dada Reynand menjauh dan lekas pergi ke arah kamar mandi dalam ruang luas sama. Lelaki bermata tajam itu terus mengikuti setiap ayunan kaki sang istri, beriringan tanya menggelayut dalam kepala.
Reynand menghela napas panjang, hening memikirkan sesuatu. Pintu dibuka olehnya, membanting kasar dan melenggang pergi dengan kaki lebar. Keisha yang belum sempurna menyisir kamar mandi, sanggup mendengar kala benturan kencang terjadi.
Tubuh Keisha merosot di balik pintu, air mata tak lagi mampu tertahan. Perut dipegangi olehnya, terputar jelas ingatan tentang kehadiran sang buah hati, yang hanya bersemayam sejenak dalam rahim.
“Kenapa semua ini terjadi, Tuhan?” pilunya, menatap ke arah perut datar.
Kehamilan yang semula dianggap sebagai awal kebahagiaan baru, nyatanya berubah kehancuran hanya dalam waktu singkat. Tawa bahagia dari putri dan suaminya, tak lagi hadir semenjak mereka pergi meninggalkan juta gores luka.
Keisha hancur dan terpuruk seorang diri, tertikam rindu yang semakin dalam dirasakan, kala teriakan bahagia Nabila mulai mengisi pendengaran. Bocah perempuan yang terus saja berlompatan begitu mendengar kabar kehamilan ibunya, berhasil menjadi siksa paling nyata dirasakan oleh Keisha.
Sementara perempuan di dalam ruang lembap itu meratapi kehidupan, Reynand sudah kembali menelusuri jalanan dengan mobil pribadinya. Tidak diikuti oleh siapa pun, lelaki dengan jemari kanan mengusap-usap kening itu, terus menerobos kegelapan malam menuju sebuah rumah.
Mata memang tertuju ke jalanan, namun pikiran telah jauh melayang-layang. Sama halnya seperti Keisha yang terus dibayangi kenangan mengerikan, Reynand pun mendapati hal tak jauh berbeda, dan mulai meremas dada terasa menyakitkan.
Sebuah rumah serba putih dimasuki olehnya, setelah melaju dengan kecepatan tak karuan. Reynand disambut oleh pelayan, namun tak dipedulikan dan terus melenggang ke mini bar rumah. Sebotol minuman diambil, Reynand duduk menenggak seorang diri.
“Kau sudah menemui Keisha?” Terdengar suara teguran, Reynand tak menoleh untuk mencari tahu.
Si empunya rumah ada di ruang kerja tadi, hingga tak perlu dikabarkan oleh siapa pun untuk mengetahui, bahwa sahabat baiknya telah singgah di kediamannya. Evano, lelaki berkaus oblong putih itu duduk pada kursi bulat bar, menatap Reynand yang terus membasahi tenggorokan dengan minuman beralkohol.
“Kau berhasil menggagalkan pernikahannya, atau ....”
“Bagaimana bisa dia keguguran? Bukankah, kau yang ada di sini setelah aku pergi?” tanya Reynand, sedikit saja ia tidak melihat lawan bicaranya.
Evan meraup oksigen keterlaluan, mempersiapkan rangkaian alfabet dalam kepala, sebelum bibir mengutarakan. “Obat yang diberikan oleh Anita, bukan obat pencegah kehamilan. Itu obat yang bisa merusak rahim Keisha, membuatnya tidak bisa memiliki anak.”
“Apa?!” Reynand terkejut, menoleh dengan alis bertaut.
“Ya. Karena obat itu juga, Kei tidak bisa mempertahankan kandungannya. Empat hari setelah kepergianmu, Kei mengalami pendarahan hebat. Beruntung, pengawal cepat membawanya ke tempatku, atau dia tidak akan bisa diselamatkan.”
“Kenapa kau tidak memberitahu soal itu?! Aku suaminya, dan aku berhak tahu apa pun yang terjadi padanya!”
“Haruskah aku mengatakan, saat kondisimu dengan Nabila .... Tidak, Rey! Aku juga tidak ingin kehilanganmu dan Nabila. Kalian tidak dalam kondisi yang pantas, untuk diberikan kabar semacam itu.”
Reynand hening, Evan menepuk pundaknya. “Tenang saja. Aku sudah berhasil membujuk Kei untuk melakukan pengobatan. Aku bisa memastikan, kalau rahim Kei sudah baik-baik saja. Kalian bisa memiliki anak lagi.”
“Mungkinkah aku memiliki anak, dengan perempuan yang sudah mengkhianatiku?! Baru satu tahun aku pergi, dan dia sudah menikah lagi! Aku bahkan sangat ingin menyiksanya, karena sudah menjalin hubungan dengan pria lain, saat dia masih menjadi istriku!”
“Kau salah paham!” sanggah Evan. “Kei melakukan pernikahan ini dalam tekanan Bram dan Anita, bukan keinginannya sendiri!”
Reynand terkejut, gelas diturunkan olehnya dari ujung bibir, setelah menenggak tuntas sisa minuman. “Anita?! Apa maksudmu?!”
“Sarah ... Sarah ada di tangan Anita dan Bram. Kalau Kei tidak menuruti untuk menikah dengan Reza, maka nyawa Sarah akan menjadi taruhan. Untuk itulah, aku terpaksa menghubungimu dan mengatakan tentang pernikahan Keisha, agar kau datang dan membantunya.” Evan menerangkan, semakin mengerut alis dari kawan baiknya.
“Hanya kau yang bisa menggagalkan pernikahan itu, tanpa membuat Sarah terluka. Dan kau juga yang bisa menyelamatkannya dari Anita dan Bram.”
“Percayalah padaku, Rey. Istrimu tidak pernah berkhianat, dia terpaksa melakukan semua ini. Satu hal yang perlu kau ketahui, Kei tidak pernah benar-benar mempercayai ucapan Bram tentang dirimu. Sampai kemarin, dia masih menunggumu dan Nabila kembali.”
“Ya, meski Bram terus saja meracuni dengan fakta-fakta palsu tentangmu, yang juga terlibat dalam penyekapan Sarah.
“Maksudmu, Bram ....”
“Ya!”
Evan mengangguk yakin, seolah ia tahu kelanjutan dari tanya terkejut sahabatnya. Reynand membisu, tatapan diarahkan ke depan. Gelas digenggam semakin kuat oleh telapak kirinya, ada rangkaian peristiwa menyulut api amarah, yang mulai terputar jelas usai penjelasan Evan barusan.