[Anda ditangkap atas dugaan kekerasan dan pelecehan seksual, dengan surat penangkapan ini anda boleh diam sampai di kantor polisi dan memanggil pengacara anda]
Itulah kata-kata yang terus mengusik pendengaranku sejak dua hari yang lalu.
Ahhh! Nasib yang sangat buruk.
Seorang polisi membuka sel tahanan dan berkata padaku. “Nona Cassandra, silahkan ikuti saya.”
“Kemana lagi? Apakah saya sudah mendapatkan pengacara? Kapan saya dibebaskan dari sini?" Aku berkata dengan penuh harapan.
"Kasus anda masih berlanjut." Dia berkata dengan sangat tenang, lalu membuka pintu ruangan interogasi.
“Interogasi lagi?!” Aku hampir berteriak sangat kencang karena merasa tidak terima dengan keadaan yang terjadi.
Aku sudah diinterogasi selama lima kali, dengan semua pertanyaan-pertanyaan aneh yang tidak pernah aku lakukan.
“Silahkan masuk Nona,” Ujarnya.
Aku yang sudah lelah berdebat pada akhirnya melangkah masuk, aku melihat tiga orang laki-laki yang dua diantaranya sangat asing, sedangkan satu lainnya adalah perwakilan detektif untukku.
“Duduklah Nona Cassandra.” Detektif yang seingatku bernama Herald itu berucap sangat lembut. Aku langsung duduk di bangku yang dia sediakan.
Mataku melirik sekilas kearah dua orang asing yang di depanku. Perawakan yang sangat menyeramkan dan menawan itu membuat bulu kuduk berdiri.
“Nona Cassandra, dua orang di depan anda adalah korban dari kasus anda saat ini. Apakah anda mengingat mereka?” Pertanyaan yang cukup mengejutkan itu membuatku diam beberapa saat.
“Mereka korban? Tidak salah? Apakah detektif Herald tidak melihat perbandingan tubuh mereka dengan saya? Mata yang sehat pasti bisa membandingkan mana korban dan mana tersangka. Dan saya adalah korban disini!” aku bersungut-sungut saat mengatakan hal tersebut.
“Nona Cassandra, ini beberapa video yang memperlihatkan dengan jelas bahwa anda melakukan kekerasan dan pelecehan seksual pada korban." Herald mengarahkan layar laptop kedepanku, mau tak mau aku melihat apa yang coba dia tunjukkan.
Video di dalam sana memperlihatkan bagaimana aku bertindak seperti orang aneh.
Tunggu dulu? Ini kapan? Ini aku? Bagaimana bisa aku?
Kulihat tanggal kapan dibuatnya video ini.
30 Desember.
Berarti tiga hari yang lalu. Tepat sehari sebelum aku ditangkap.
Coba kuingat-ingat..
Astaga!
Saat itu aku mabuk karena baru saja putus cinta.
"Maaf, sepertinya ada kesalahan. Saat itu aku sedang mabuk dan…"
"Jadi secara tidak langsung anda mengakui bahwa sedang mabuk saat melakukan hal tersebut?" Detektif Herald sepertinya bukan orang yang berpihak padaku, dia sepertinya berpihak pada orang yang menjebak diriku saat ini.
"Bukan, maksudku…" Aku tak mampu membalas ucapannya.
Bagaimana sekarang? Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan tidak ingat apapun yang terjadi pada malam itu. Apakah aku benar-benar melakukan tindakan bodoh?
"Tuan-tuan, mohon dengarkan penjelasanku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukan hal seperti itu pada kalian. Aku mengaku salah, saat itu aku sedang putus cinta dan baru pertama kali minum minuman beralkohol. Jadi aku langsung mabuk begitu saja. Jadi ini sebuah kesalahpahaman." Ujarku dengan sangat yakin.
"Tidak ada kesalahpahaman dari video yang terlihat saat ini Nona Cassandra. Ini bukti yang konkret untuk membuat anda mendekam di penjara selama beberapa tahun." Sekali lagi ucapan Detektif Herald benar-benar menyudutkan diriku.
"Apakah aku bisa mendapatkan keringanan? Maksudku, apakah kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik? Tidak mungkin saya dipenjara hanya karena video ini kan? Aku benar-benar minta maaf, tolong maafkan aku dan berikan aku jalan keluar terbaik." Aku berusaha tersenyum semanis mungkin di depan dua orang yang katanya adalah 'Korban'
Namun di mataku mereka bukan korban, tapi seperti pemangsa.
"Nona Cassandra?" Salah satu korban bermata biru mulai berbicara padaku.
"Ya!" Kataku dengan cepat.
"Saya Aaric, apa yang bisa Nona tawarkan pada kami untuk membicarakan masalah ini baik-baik? Kami mengalami banyak kerugian, baik itu dari sisi harga diri maupun mental. Jadi kami harus tahu penawaran seperti apa yang bisa anda janjikan pada kami." Aaric berkata dengan begitu santai, entah kenapa sikapnya yang begitu santai malah membuatku semakin takut.
"Aku, aku punya dua puluh dolar untuk ganti rugi. Apakah itu cukup?" Ujarku penuh harap.
Dua orang korban di depanku saling berpandangan, salah satu dari mereka menaikan sebelah alis seperti meremehkan. "Dua puluh dollar?"
"Ya, bagaimana?" Aku berusaha percaya diri dengan penawaran yang aku lakukan saat ini.
"Apakah anda sedang bercanda? Kami tidak butuh uang, tawarkan hal yang lebih menguntungkan untuk kami." Ujar Aaric.
"Apa? Aku tidak punya apa-apa! Apa yang kalian inginkan untuk ganti rugi selain uang?" Aku mencoba untuk berkompromi, tapi apakah dia punya saran yang tidak akan merugikan diriku?
"Tubuh anda." Ujarnya.
Jantungku langsung berdegup kencang saat mendengar kata-kata Aaric. "Tubuhku? Apakah kalian akan menjual organ dalamku?"
"Tidak, kami mau membuat perjanjian. Baca kontrak ini baik-baik dan langsung tanda tangan." Dia berucap tanpa basa-basi.
Aku hanya melirik sekilas ke arah kertas yang dia banting di depanku. 'Kontrak kerjasama?'
"Jika aku tak mau?"
"Maka saya pastikan anda akan dihukum gantung, tanpa melakukan persidangan apapun." Ujarnya dengan nada sangat serius.
"Aku tidak takut mati." Aku masih mencoba untuk bertahan hidup, apapun yang dia katakan, ini terasa seperti lelucon konyol!
"Maka saya akan menghancurkan adik anda." Setelahnya dia tersenyum dan berusaha mengambil berkas di depanku, namun aku langsung menahan berkas tersebut dengan cepat.
"Kenapa kau membawa-bawa adikku dalam masalah ini! Aku tidak segan-segan merobek wajahmu jika kau menyentuh adikku!" Mataku menatap lekat ke arah matanya, dan dia hanya tersenyum sinis.
"Tanda tangan!" Hanya itu yang dia katakan. Namun aku hanya diam saja sambil menahan berkas tersebut.
"Tanda tangan!" Lelaki di sebelah Aaric sudah menginterupsi keadaan saat ini. Dia bahkan memperlihatkan sebuah foto dimana kepala adikku sedang ditodong dengan pistol.
Dia benar-benar menculik adikku?!
Siapa dia? Dia belum memperkenalkan dirinya sama sekali dan sudah berani mengancamku?
"Apa yang kau lakukan pada adikku?!" Aku menelan ludah susah payah saat melihat foto tersebut.
"Tanda tangan dan aku pastikan adikmu selamat! Apakah kami harus mengatakannya berulang kali?!" Aaric sudah menekan suaranya dengan sangat dalam, hal itu membuatku langsung mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangan secepat mungkin
Bahkan otakku masih belum bisa memproses keadaan saat ini. Aku hanya bisa mengikuti alur yang mereka mainkan, karena mereka memegang kelemahanku.
"Bagus! Sekarang ikuti kami dan jangan banyak bertanya." Aaric berucap pelan. Dia baru bangun dari tempat duduknya setelah lelaki di sampingnya bangun lebih dulu.
Lelaki bermata coklat, itulah dia.
Sepertinya dia pemimpin disini, melihat bagaimana sikapnya yang begitu dingin dan menyeramkan.
Aku menghela nafas panjang, mengikuti mereka keluar dari kantor polisi untuk masuk ke dalam mobil yang sangat mewah.
"Silahkan istriku, masuklah dan duduk di dekatku." Aku hampir tersedak air liur karena mendengar lelaki bermata coklat berkata 'Istriku?' apakah dia sedang mabuk?
"Tunggu! Istri?" Aku menahan tangannya yang sudah mau memegang punggungku, aku tidak suka saat seseorang mulai menyentuhku tanpa aku setujui.
"Ya, bukankah Anda sudah menandatangani perjanjian untuk menjadi istriku?"
"Tunggu? Bisakah kau beritahu siapa namamu? Dan bisakah kau berhenti berbicara sopan? Sebab sikapmu tidak sopan sama sekali!" Aku berbicara dengan sangat cepat, namun dia hanya tersenyum dan mendorong tubuhku hingga masuk ke dalam mobil. Aku mau tak mau langsung duduk dan berharap mendapatkan penjelasan.
Dia masuk lewat pintu lainnya, mobil tersebut sudah bergerak dengan perlahan menembus jalanan ibukota.
"Aku Bardolf Konstantino, suami barumu." Dia melanjutkan ucapannya, hal tersebut membuatku semakin kesal.
"Tidak mungkin, kau sedang bercanda?" Aku bertanya lagi dan mulai melirik wajahnya yang entah kenapa sangat tampan.
"Baca saja disini." Dia memperlihatkan berkas yang tadi aku tandatangani. Aku mulai membaca semuanya dengan hati-hati, semuanya! Inti dari berkas tersebut adalah aku resmi jadi istrinya dan Nyonya keluarga Konstantino?
Aku sedang berada di reality show ya?
Kenapa rasanya ini seperti permainan?
Tapi melihat raut wajah Bardolf yang serius, aku yakin ini bukan sekedar permainan.
"Bardolf? Kenapa? Aku tak mengerti, kenapa kau melakukan hal seperti ini? Aku tidak punya apa-apa, aku bahkan tak punya uang lebih dari dua puluh dolar, aku hanya wanita biasa yang hidup bersama seorang adik, aku tinggal di apartemen kecil yang seluruh temboknya sudah berlumut. Bisakah kau jelaskan kenapa kau memilih diriku dibandingkan wanita lain?" Aku berusaha untuk berpikir dengan jernih dan mencoba tetap tenang, aku akan bertanya serius padanya.
Mungkin saat berada di penjara aku hanya terburu-buru ingin lepas dari sana. Merasa berkas yang ditandatangani hanya berisi tentang informasi ganti rugi, entah itu uang atau mungkin aku jadi pembantu di rumahnya. Tapi apa ini? Aku jadi Nyonya Konstantino?
Siapa yang tidak tahu keluarga itu? Salah satu keluarga terkaya di dunia, yang seluruh kekayaannya bahkan tak bisa dihitung lagi! Apa keinginan orang kaya pada orang sepertiku?
"Ayahmu bernama Gabriel, benar kan?" Bardolf tahu nama ayahku?
"Iya," Bagaimana bisa dia tahu nama ayahku?
"Sebelum ayahmu meninggal dunia, dia sudah menikahkan kita. Kira-kira waktu itu umur kita sekitar lima tahun, setelahnya dia memberikan kau padaku, dia juga memberikan seluruh hartanya pada keluarga Konstantino. Aku boleh membawamu kembali sebagai istriku saat umur kita menginjak 28 tahun. Kau bisa membaca semua perjanjian di halaman paling terakhir, disana ada surat wasiat dari ayahmu dan juga flashdisk yang berisi video pernyataan." Bardolf berbicara dengan sangat serius, aku mulai melakukan apa yang dia perintahkan. Dia bahkan meminjamkan laptopnya untuk membiarkan aku melihat isi dari pernyataan ayahku dalam video.
Aku melihat dalam diam, beberapa saat setelahnya tubuhku langsung terasa dingin.
Semuanya benar.
Semua yang Bardolf katakan benar!
"Tapi, tapi aku tidak ingat apapun." Ujarku lagi.
"Ya, aku juga tidak ingat apapun. Aku baru ingat setahun yang lalu, saat ayahku meninggal dunia dan memberitahu semua kenyataan ini. Itu kenapa aku terlambat bertemu denganmu." Dia berkata dengan nada lemah dan sepertinya sangat menyesal.
Untuk saat ini aku tidak bisa berkata apapun lagi, aku hanya bisa menerima semua kenyataan sambil berpikir.
Apa yang dipikirkan ayahku pada saat itu? Kenapa dia bisa memberikan seluruh hartanya pada keluarga Konstantino? Bahkan dia membiarkan aku yang masih muda menikah dengan lelaki ini. Memang sih dia tampan, tapi siapa tahu dia hanya seorang psikopat.
Perjalanan terasa sangat lama, hingga kami sampai di sebuah mansion mewah dengan gaya arsitektur yang menawan. Beberapa pelayan dan pengawal menyambut kami, aku dibantu keluar dari mobil oleh Bardolf.
"Dimana adikku?" Itulah pertanyaan pertama yang harus aku ajukan.
"Dia ditempat yang aman, jika selama sebulan kau bisa jadi Nyonya rumah yang baik, aku akan memberikan adikmu." Ancaman lagi? Aku ingin sekali menentang ucapannya, tapi mataku kini tertuju pada seorang wanita cantik yang sudah menghampiri Bardolf dan bahkan mencium bibir lelaki itu.
Siapa wanita ini? Kekasihnya kah?
"Hai…" aku mencoba untuk menyapa, tapi wanita itu hanya tersenyum dan menggandeng lengan Bardolf untuk masuk ke dalam Mansion.
Aku mengikuti langkah kaki mereka dari belakang, aku cukup terkesima dengan semua interior yang ada di mansion tersebut. Benar-benar seperti tempat tinggal para bangsawan kelas atas.
"Cassandra, ini istriku yang keempat. Namanya Elzahara, kau akan dibantu olehnya untuk memahami semua peraturan dalam mansion. Nanti malam aku akan ke kamarmu, pastikan kau membersihkan tubuhmu dengan baik." Setelah berkata seperti itu, Bardolf langsung pergi meninggalkan kami.
Aku cukup tertegun saat mendengar semua kata-kata darinya. Istri keempat? Tunggu dulu! Apa-apaan ini?
"Ayo ikuti aku untuk berkeliling mansion." Wanita bernama Elzahara ini sepertinya tidak berniat menyambut diriku dengan baik.
"Apakah aku boleh bertanya satu hal?" Aku tidak mengikuti langkah kakinya, aku merasa seperti terjebak pada keadaan yang tidak menyenangkan.
"Ya, tentu saja. Tapi kita harus sambil berjalan. Mansion ini sangat besar, dan aku tidak punya banyak waktu hanya untuk menemani dirimu." Elzahara langsung melangkah lagi, dia tak peduli apa aku mengikutinya atau tidak. Pada akhirnya aku terpaksa melangkahkan kaki ini untuk mengikuti wanita sombong itu!
"Tanyakan apa saja yang mau kau tanyakan." Ujarnya.
"Kau istri keempat? Aku istri keberapa? Ada berapa istri yang dimiliki Bardolf? Apakah dia penggila wanita?" Itulah pertanyaan yang memang harus aku utarakan dengan jelas.
Untuk beberapa saat dia hanya tertawa sinis, setelahnya dia melirik diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kau datang tanpa tahu apapun?" Cemooh dari bibirnya membuatku sedikit kesal.
"Aku dijebak oleh lelaki bernama Bardolf itu, dia memasukan aku ke dalam penjara dan mengancam akan menyakiti adikku satu-satunya. Bahkan tadi dia berkata bahwa aku dan dia sudah menikah sejak kecil. Sekarang aku sadar bahwa semua itu pasti hanya omong kosong." Aku berkata terus terang, tidak peduli jika Elzahara akan memberitahu Bardolf.
"Kau istri kelima, semua istri-istri Bardolf sudah meninggal dunia. Hanya aku yang tersisa, mungkin sebentar lagi aku juga akan meninggal." Elzahara berkata tentang kematian dengan sangat mudah, apakah dia sudah dicuci otaknya?
Astaga! Jantungku sudah bertalu-talu tak karuan, rasa takut bahkan telah merayap ke setiap aliran darahku.
Bardolf benar-benar psikopat?
"Ini foto-foto mendiang istri Bardolf. Tersusun sesuai urutan, dari istri pertama hingga istri ketiga. Fotoku tidak ada disini karena aku belum meninggal dunia." Elzahara menunjuk ke arah dinding yang terdapat tiga bingkai foto berukuran besar.
"Ada lagi yang mau kau tanyakan? Wajahmu langsung pucat begitu, apakah kau takut?" Ucapan darinya membuatku membeku.
"Apakah saat Bardolf tidak suka pada istrinya, maka mereka akan dibunuh?" Aku mencoba untuk tetap tenang saat mempertanyakan hal tersebut.
Tuhan..
Bagaimana ini?
"Saat kami tidak bisa menjadi istri yang berguna, Bardolf akan membuang kami." Ujarnya dengan begitu tegas.
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih sama sekali, ucapan Elzahara terus menghantui aku selama seharian, aku bahkan tak bisa bertanya apapun. Tatapan matanya saja membuatku merinding, belum lagi suasana di Mansion ini yang begitu suram.
Bardolf berkata padaku akan datang malam hari untuk melakukan hubungan suami istri, tapi sampai menjelang pagi dia tak terlihat sama sekali, yang datang hanya para pelayan yang membantuku mandi dan bersiap-siap untuk sarapan pagi.
Aku melangkah perlahan menuruni anak tangga satu persatu, pergi ke ruangan makan bersama pelayan yang tidak berbicara padaku, bahkan saat aku bertanya sudah berapa lama mereka berada disini, mereka tetap diam.
"Hai Cassandra, kau terlihat cantik seperti namamu." Ucapan seorang wanita yang cukup berumur membuatku langsung menengok ke arahnya.
"Hai.." hanya itu yang aku katakan, aku langsung duduk di salah satu bangku setenang mungkin.
"Ck! Kau cukup berani untuk langsung duduk tanpa disuruh sama sekali." Wanita yang tadi menyapaku sekarang berucap sambil tertawa sinis.
Tak lama Elzahara dan lelaki bernama Aaric datang secara bersamaan, disusul oleh Bardolf yang hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Bentuk tubuhnya yang begitu seksi dengan bekas luka di bagian perut membuatku terperangah, lebih tepatnya aku terkejut dan kagum secara bersamaan.
"Ahhh, istriku sudah datang lebih dulu." Bardolf tiba-tiba saja berjalan ke arahku dan mencium pipiku dengan sangat lembut.
Wajahku terasa panas karena mendapatkan ciuman mendadak, tapi aku berusaha untuk tetap sadar dan tidak menanggapi apa-apa.
"Berhentilah bersikap konyol, suamiku!" Elzahara seperti sangat kesal karena suaminya mencium istri kelimanya lebih dulu.
"Duduklah, kita akan bahas kelanjutan dari hubungan kalian." Sekali lagi, wanita yang tidak aku ketahui siapa namanya sudah berbicara seolah-olah dia adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Mansion ini.
"Aku Nyonya Crystal, jika itu yang jadi pertanyaan di otak kecilmu." Dia menatap mataku sangat lekat ketika berkata seperti itu.
"Jadi, apakah wanita ini sudah setuju akan memberikan keturunan untukmu, Bardolf?" Crystal bertanya tanpa basa-basi.
"Apa maksudnya ini? Keturunan apa?!" Aku berkata dengan suara yang lantang tanpa sadar.
"Wah! Dia berani bersuara saat aku berbicara. Apakah kau menemukannya di tempat sampah, Bardolf?"
"Nenek, maafkan aku. Sepertinya dia kurang tidur, jadi berbicara kasar." Elzahara sudah berpihak pada suaminya, karena sudah membela Bardolf secara terang-terangan.
"Aku pantas mendapatkan penjelasan! Bukan begitu Nyonya Crystal?" Kataku lagi.
"Jaga sopan santun Cassandra! Tutup mulutmu dan Ingatlah bahwa adikmu masih berada di genggamanku! Mudah untukku membunuhnya!" Bardolf berucap sambil menatap sinis ke arahku, dia kembali mengancam.
"Kau yang seharusnya tutup mulut!" Aku membentaknya tanpa takut sama sekali.
"Cassandra! Apakah itu caramu berkata pada suamimu sendiri?!" Nenek tua bernama Crystal sudah bertindak sangat menyebalkan, dia berkata seolah-olah aku ini sudah jadi menantu dari cucunya? Ya sebut saja dia neneknya Bardolf, aku bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya.
"Seharusnya kau berkata seperti itu pada cucumu. Sebab disini aku yang ditindas secara semena-mena." Aku berkata dengan nada pelan, menyesap minuman hangat yang baru saja disediakan oleh pelayan.
"Cassandra apakah kau…"
"Bisakah kau tutup mulutmu?!" Aku berkata dengan sangat lantang saat Elzahara sudah ingin berkata sesuatu.
"Cassandra!!" Bardolf membanting meja sambil menatap mataku dengan sangat lekat.
"Apa?! Apakah kau hanya akan membentak diriku dan mengancam saja? Jelaskan padaku apa maumu dan keluarga ini padaku! Aku tidak percaya pada semua omong kosong yang kau katakan kemarin! Bagaimana bisa kau menjadikan aku istri kelima?! Itu adalah tindakan konyol!"
"Semua yang aku katakan memang benar, apakah bukti-bukti yang aku tunjukan masih kurang meyakinkan untukmu?"
"Bukti-bukti? Bukti yang bisa kau buat? Konyol sekali, ucapanmu sangat menyebalkan!" Aku tidak akan kalah untuk berdebat dengannya, sebab aku wanita egois yang akan bertindak sesuka hati.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun yang kau pikirkan. Aaric, singkirkan Meisya dan buat wanita ini sadar bahwa aku bukan hanya sekedar mengancam!" Bardolf sudah berkata dengan serius, aku langsung melotot kaget saat mendengar nama adikku disebut.
"Jangan pernah berani menyentuhnya! Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, Bardolf!"
"Kau pikir aku takut dengan ancaman itu? Tidak!" Ujar Bardolf.
"Bardolf, Cassandra! Bisakah kalian berhenti berdebat? Aku ingin makan dengan tenang." Ujar Nenek Crystal.
"Oh come on! Kau bisa makan dengan tenang dan aku bisa pergi dari sini jika Bardolf tidak bertindak semena-mena." Aku masih berucap dengan sinis, aku tak mau mereka semua menganggap aku bisa diatur sesuka hati.
"Bisakah kau berbicara sopan, Cassandra? Aku bukan orang yang bisa memberikan kelonggaran pada sikapmu yang kurang ajar. Aku bisa menghancurkan kau kapan saja, tapi untuk saat ini kami membutuhkan dirimu." Dia bersikap sangat tenang ketika mengatakan tentang membutuhkan diriku?
"Apa yang kau butuhkan dariku?"
"Seorang anak, kami butuh penerus keluarga Konstantino. Kau menjadi istri kelima karena selama ini istri-istri Bardolf tak bisa melahirkan anak dengan selamat. Mereka semua meninggal dunia setelah melahirkan, bahkan Elzahara hampir meninggal dunia saat berusaha melahirkan anak pertamanya. Tapi ternyata dia bisa bertahan, tapi tidak dengan anaknya." Crystal berkata sangat jelas, aku suka dengan sifatnya saat ini, tapi aku tidak suka saat dia mengatakan tentang kematian orang lain dengan begitu mudah.
"Seorang anak? Bagaimana kalian bisa memilih diriku hanya untuk melahirkan seorang anak?"
"Kau sangat sehat untuk melahirkan seorang anak, bahkan kau masih perawan." Bardolf menanggapi dengan sangat santai, sekali lagi aku merasa terhenyak karena mendengar semua ucapannya.
"Jadi aku disuruh datang kesini untuk menyerahkan tubuhku dan kematianku sendiri? Kau punya tiga istri yang meninggal dunia saat melahirkan, lalu satu istri lagi yang selamat saat melahirkan. Lalu kau membawaku kesini hanya untuk melahirkan anakmu? Keluarga ini sepertinya tidak punya malu." Ujarku sambil terkekeh pelan, aku berusaha untuk makan salad sayur yang kelihatannya sangat enak. Untuk saat ini aku perlu mengisi tenaga agar bisa melawan orang-orang yang tak punya norma sama sekali.
"Kau tidak punya pilihan, kau sudah menandatangani perjanjian. Jika kau membatalkan itu, maka kau harus membayar denda. Lalu jangan lupakan tentang keselamatan adikmu. Kau berada di bawah kendaliku, Cassandra." Bardolf tersenyum sangat mengerikan ketika dia berucap seperti itu.
Keselamatan adikku memang yang paling terpenting untuk saat ini, aku hanya bisa menuruti apa yang mereka katakan. Ibu? Ayah? kalian berkata padaku bahwa apapun yang terjadi aku harus melindungi adikku. Sekarang, walaupun nyawa dan harga diriku ternodai, maka aku harus tetap melindungi adikku bukan? Ya.. tidak masalah jika aku hanya dijadikan alat oleh keluarga Konstantino.