Bab 1

"Aku capek mas! Harus dengerin omongan mama kamu itu!"

"Kamu anggap aja angin lalu. Udah nggak usah dengerin,"

"Tapi mas, aku tuh udah kesel banget. Bertahun tahun aku di julitin sama mama kamu. Emang enak rasanya?"

Salsa mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Mungkin aku harus rela kamu nikah dengan wanita lain. Tapi setelah wanita itu punya anak. Kamu ceraikan dia. Bayi itu nantinya menjadi hak kamu mas,"

Kairo terbatuk batuk saat menyeruput kopi. Jantungnya kaget sekali mendengar ucapan dari mulut salsa.

"Hati-hati dong mas. Jadi kotor nih sepreinya," ucap salsa dengan kesal sambil mengambil cangkir yang ada di tangan Kairo. Ia meletakkan cangkir itu di meja kecil.

"Tunggu-tunggu! Kamu nggak salah ngomong? Masa iya aku nikahin perempuan lain. Terus di cerai gitu aja," seru Kairo dengan heran.

"'kan yang kita butuhkan itu anak mas! Aku nggak mau terus di hina sama mama kamu. Bahkan sama tetangga juga! Aku nggak mau mas. Aku capek!"

"Ya udah, ya udah ya. Kita tidur aja dulu. Kamu pasti capek banget 'kan? Kita bicara masalah itu nanti besok lagi ya," ucap Kairo dengan sabar. Ia mengelus rambut panjang milik sang istri.

Beberapa hari kemudian di sebuah jalanan yang sepi.

"Kita harus kemana ini Bu? Ya Allah mereka tega banget ngusir kita,"

"Kita coba cari kontrakan lagi ya. Insya Allah malem ini kita bisa tidur di kasur yang empuk," ucap Salamah dengan lemas.

"Ya Allah Bu, ibu kenapa Bu? Bu? " Farah gadis berusia dua puluh lima tahun itu terus berusaha membangunkan sang ibu yang sekarang pingsan di jalanan.

"Ya Allah udah malem gini. Mau minta tolong sama siapa?" tanya Farah dengan bingung sambil melihat jalan yang sepi.

"Tolong! Tolong!" ia berteriak dengan keras beberapa kali. Tapi tak ada satupun orang dan kendaraan yang melaju di jalan itu.

"Ya Allah gimana ini?" Farah menangis sedih. Ia sangat bingung sekali.

"Bu, bangun Bu," Farah menepuk nepuk pipi sang ibu. Berharap sang ibu akan membuka matanya. Tapi sepertinya ibunya terlalu lemas hingga tak sadarkan diri.

Farah melihat cahaya di depan sana. Lampu mobil terlihat jelas. Secepat mungkin Farah menghentikkan mobil itu. Bahkan ia hampir saja tertabrak.

"Dasar nggak punya otak nih orang!" Kairo segera membuka mobilnya dengan cepat. menatap gadis yang di depannya itu. melihat air mata yang ada di pipi gadis itu membuat Kairo menjadi merasa iba.

"maafkan saya pak! tolong ibu saya pak, tolong sekali. cuma bapak yang saat ini bisa menolong saya pak," Farah memohon dengan penuh harapan.

"memangnya ibu kamu kenapa?" tanya Kairo sambil melihat wanita yang tergeletak di jalan.

"kami berdua di usir dari kontrakan karena tidak bisa bayar uang kontrakan pak. ibu sedang sakit. kami berjalan mencari kontrakan tapi ibu pingsan sekarang pak. tolong saya pak. saya mohon pak..."

"ya udah cepat bawa ibu kamu ke mobil." ucap Kairo dengan tegas.

"tapi pak saya nggak bisa pak," Farah terlihat bingung.

Kairo dengan sekuat tenaga membopong wanita yang pingsan itu dengan cepat.

"jadi kita ke rumah sakit ya,"

"ya, tapi pak saya nggak punya uang. tolong ya pak saya pinjem uang dulu. pasti nanti saya bayar pak," ucap Farah dengan memohon untuk yang kedua kalinya.

"Udah nggak usah di ganti juga nggak papa. Maaf saya cuma bisa nganter kamu ke rumah sakit dan bayar biaya rumah sakit. Setelah itu saya harus pulang ke rumah," ucap Kairo dengan tegas.

"Baik, pak. Terimakasih banyak pak," ucap Farah tersenyum lebar. Ia sangat bersyukur sekali bisa mendapatkan pertolongan dari Allah.

Sampai di rumah sakit. Salamah segera di bawa ke ruangan. Sementara Kairo segera memberikan uang kepada Farah.

"Ini uang untuk biaya rumah sakit. Segini cukup kan?"

"Insyaallah cukup pak, terimakasih banyak ya pak, saya janji bakalan ganti,"

"Udah nggak usah ganti nggak papa kok. Saya pergi dulu ya," ucap Kairo dengan terburu-buru. Karena hari sudah larut malam. Ia ingin segera merebahkan diri di kamar.

"Ya Allah baik banget bapak itu. Semoga aja kebaikannya di balas sama Allah. Pasti istrinya seneng banget dapat suami kaya gitu. Udah ganteng baik lagi. Eh, astaghfirullah kenapa aku jadi kaya gini sih!" Farah menepuk keningnya dengan keras.

Farah kini menunggu dokter keluar dari sebuah ruangan. Ia berharap sang ibu akan baik-baik saja.

"Gimana dok keadaan ibu saya?" tanya Farah dengan serius.

"Maaf, ibu anda harus segera di opname," ucap dokter itu dengan tegas.

Salamah harus dirawat di rumah sakit. Karena kondisinya yang begitu lemas. Dokter juga harus mengambil darah Salamah untuk di lakukan tes.

"Ya Allah ibu harus di opname. Uang segini mana cukup. Aku harus cari uang dari mana lagi?" kata Farah di dalam hatinya dengan bingung.

"Apa anda tahu bahwa ibu anda terkena kanker darah?" Tanya dokter dengan serius.

"Iya pak, saya tahu pak. Memang ibu pernah juga di lakukan kemoterapi. Tapi berhenti di tengah jalan. Karena biayanya nggak cukup pak," tutur Farah dengan sedih.

"Baik, kalau begitu sebisa mungkin harus di lakukan kemoterapi lagi. Karena jika tidak dilakukan, itu akan fatal akibatnya,"

"Baik dok, saya akan berusaha,"

"Pihak rumah sakit bisa membantu pembayaran biaya ibu kamu. Tapi itu juga tidak cukup. Kamu juga harus berusaha Farah,"

"Baik pak, saya akan mencari dana tambahan untuk ibu saya. Saya ingin ibu saya sembuh total pak," ucap Farah dengan berkaca kaca.

***

"Jadi gimana mas? Kamu udah setuju dengan apa yang di katakan aku waktu itu?"

"Yang mana sih?" Kairo sibuk dengan kerjaannya di laptop.

"Kamu fokus sama aku dong mas. Aku mau bicara serius sama kamu mas," kata salsa sambil menutup benda hitam yang ada di depan suaminya.

"Oke oke, kamu mau bicara apa sayang?" tanya Kairo sambil mengelus pipi sang istri dengan mesra.

"Aku serius mas, aku serius sama kamu mas. Aku harus menikahkan kamu sama wanita lain. Supaya kita bisa punya anak mas,"

"Ya ampun, kenapa kamu ngotot banget sih ngebahas itu lagi," ucap Kairo dengan kesal.

"Dinda temen aku. Dia punya teman perempuan yang lagi butuh uang mas. Aku yakin perempuan itu pasti mau nikah sama kamu. Dia gadis desa mas. Aku yakin dia bisa jaga rahasia dan pasti dia anak orang baik," ucap salsa dengan yakin.

"Ya Ampun, udah deh kamu nggak usah ngaco ah," Kairo dengan wajah kusut pergi saja dari kamar.

"Mas, mas tunggu mas!" panggil salsa dengan keras.

Bab 2

"Kamu butuh uang 'kan Farah?"

"Iya aku butuh uang. Tapi nggak harus kaya gitu juga kan," Farah melirik dengan pikiran yang bingung.

"Hei! Ingat! Lagian itu bukan uang haram," ucap Dinda sambil mengguncangkan lengan Farah.

"I-iya aku tahu. Ta-tapi aku nggak ada fikiran untuk nikah," ucap Farah dengan tegas.

"Farah Maharani kamu tuh cuma nikah sebentar aja sama pak Kairo. Setelah kamu hamil dan melahirkan kalian itu bakalan bercerai. Uang yang akan di berikan sama kamu juga sangat banyak. Satu milyar loh! itu uang semua ya. Bukan daun! Lagian aku tahu banget bisnis salsa dan suaminya itu. Salsa bisnis skincare yang keuntungannya bisa milyaran. Pak Kairo juga pengusaha sukses. Udah kamu nurut aja apa kata aku. Kamu terima tawaran ini. Itu bakalan membuat hidup kamu bahagia. Ibu kamu juga pasti seneng banget nantinya. Ibu kamu bisa sembuh dan bisa hidup nyaman. Kamu bisa beli rumah sendiri nantinya. Nggak usah pusing pusing mikirin uang kontrakan ," jelas Dinda dengan antusias.

"Iya sih, tapi apa salsa temen kamu itu baik? Pak Kairo gimana? Nanti aku kena KDRT nikah sama pak Kairo," ucap Farah dengan cemberut.

"Dasar bodoh! Kamu nggak usah deh mikir negatif kaya gitu. Salsa itu temen lama aku. Dia itu baik . Ya udah pasti suaminya baik lah,"

"Tapi aku bisa kan? Ketemu sama pak Kairo dulu?" Tanya Farah dengan ragu.

"Haduh, ngapain nanya kaya gitu. Ya bisa lah. Harusnya kamu itu beruntung karena pak Kairo itu ganteng. Tapi awas loh! Jangan jatuh cinta sama dia. Kan nanti juga kamu bakalan cerai sama dia. Dia itu cuma pengin punya anak aja dari kamu,"

"Iya enggak kok, aku nggak bakalan jatuh cinta sama pak Kairo . Lagian aku itu fokusnya ke ibu aku. Aku bakalan membahagiakan ibu aku," ucap Farah dengan tegas.

"Oke, besok aku atur jadwalnya. Kamu harus pake baju yang bagus ya," kata Dinda mendelik.

"Aku cuma punya baju biasa aja Din,"

"Ya udah aku pinjemin kamu gamis deh, aku juga udah nggak dipake gamis itu. Besok deh ya. Nanti aku WA kamu ya,"

***

"Gimana Din? Si Farah udah mau di ajak kompromi?" tanya salsa dengan serius.

"Udah kok, sebentar lagi pasti dia pasti kesini. Kamu tenang aja," ucap Dinda melihat jam tangannya.

Restoran yang bernuansa elegan itu terlihat sangat mewah bagi Farah. Ia masih berdiri di depan restoran. Ragu untuk masuk ke dalam restoran.

"Duh, mati hapenya. Gimana ya? Masa aku harus nyari Dinda ada di meja nomer berapa. Aku kan malu masuk ke dalam," ucap Farah dengan bingung.

Tiba tiba saja seseorang tak sengaja menabraknya dari belakang.

"Eh, maaf mbak maaf," ucap Kairo dengan cepat.

"Eh, bapak. Ya Allah ketemu disini nggak nyangka. Maaf ya pak. Saya masih belum bisa ngembaliin uang bapak. Maaf pak, pasti saya balikin pak. Oh ya, saya minta alamat atau nomer WA bapak aja deh,.supaya kalau punya uang saya bisa ngembaliin," ucap Farah dengan cepat.

"Kan saya udah bilang nggak usah di kembalikan uangnya. Kamu juga jangan manggil saya bapak ya. Panggil aja mas. Emangnya saya udah tua apa dipanggil bapak," kata Kairo dengan wajah kesal.

"Oh iya iya maaf pak, eh mas,"

"Saya masuk dulu ada urusan," kata Kairo lalu segera masuk ke dalam.

"Eh pak! mas maksudnya!" panggil Farah dengan keras. Tapi sayangnya Kairo sudah terlalu jauh di dalam sana.

"Duh, kenapa aku nggak nanya namanya siapa ya, bego banget sih," Farah memukul keningnya sendiri.

"Heh! Farah!" Panggil Dinda di pintu masuk restoran.

"Eh, Dinda Untung kamu ke sini. Hape aku mati soalnya. Aku malu masuk ke dalam sendirian," Farah kini di gandeng oleh Dinda.

Mereka berdua menuju ke meja dimana ada dua orang suami istri.

"Kenalin semuanya, ini Farah teman saya," ucap Dinda dengan ramah.

Mata farah terus saja melihat wajah Kairo. Begitu juga sebaliknya.

"Hah? Mas mas itu yang bakalan jadi calon suami aku?" tanya Farah di hatinya dengan kaget.

"Duduk Farah," ucap salsa dengan elegan.

Kini Dinda dan Farah duduk.

"Ini Kairo Juang suami saya. Yang nantinya akan menjadi istri kamu," ucap salsa dengan tersenyum manis.

"Jadi kamu udah tahu semuanya kan? Dinda udah jelasin semuanya sama kamu 'kan Farah?" Tanya salsa melihat wajah Dinda.

"U-udah Bu, "

"Panggil aja mbak,"

"Eh, iya udah mbak salsa. Saya udah paham semua yang di jelasin sama Dinda," seru Farah dengan tegas.

"Oke, jadi saya jelasin lagi ya. Jadi saya udah nulis semua perjanjian di kertas. Nanti kamu baca aja ya. Soalnya lumayan banyak. Intinya kamu bakalan nikah sama suami saya dan setelah kamu hamil lalu melahirkan. Kamu akan di ceraikan oleh Kairo. Lalu anak kamu juga menjadi hak Kairo. Jadi saya dan Kairo melakukan ini. Karena kami ingin sekali mempunyai anak. Kamu mengerti kan? "

"Iya mbak salsa. Saya ngerti, " ucap Farah mengangguk.

"Kalau kamu udah siap . Nanti bisa langsung kamu menikah dengan suami saya. Kamu hubungi saya aja ya," ucap salsa dengan ramah.

Setelah pertemuan itu di dalam rumah. Kairo menjadi sangat pusing sekali.

"Udah kamu tenang aja mas. Aku yakin Farah itu orang baik. Lihat aja tampangnya. Cantik kok mas. Dia kan juga lagi butuh uang untuk biaya ibunya yang sakit," kata salsa dengan yakin.

"Iya aku tahu, tapi ini bukan hal yang remeh. Kalau ada apa apa kamu harus tanggung jawab ya. Kalau misalnya tiba tiba Farah kabur bawa uang kita gimana? Atau Farah malah nggak hamil hamil gimana?" tanya Kairo dengan serius.

"Aduh, udah deh mas. Kamu jangan ngaco. Aku bakalan ajak dia ke dokter. Kalau kesehatan dia itu bagus. Terus tadi kamu bilang apa? Farah bawa kabur uang kita? Nggak bakal mas. Aku udah kenal banyak temen yang suaminya polisi. Dia kabur kemanapun ya bakalan ketangkep. Udah deh mas . Pokonya mas tinggal serahin semuanya ke aku. Mas harus nurut ke aku. Oke?"

Kairo hanya mengangguk.

"Tapi kamu dilarang jatuh cinta sama Farah mas! Pokonya di perjanjian itu kalau Farah udah hamil dan lahiran. Kamu udah harus cerai sama dia!" ucap salsa dengan tegas.

"Iya iya lagian cuma kamu orang yang aku cintai. Salsabila yang cantik," ucap Kairo sambil mencium pipi sang istri.

Kairo hanya bisa berkata seperti itu. Karena hanya itu yang bisa membuat hati sang istri bahagia. Meski saat melihat wajah Farah yang memakai kerudung dan bergamis warna pink. Itu membuat hati Kairo bergetar. Entah kenapa ia bisa merasakan itu. Mungkin karena ia menginginkan mempunyai istri berhijab tetapi takdir masih belum berpihak kepadanya. Ia memiliki istri bernama salsa yang mempunyai wajah cantik dan rambut panjang lurus yang selalu terurai kemanapun pergi.

Bab 3

"Hah? kok saldonya banyak banget kaya gini?" tanya Farah dengan bingung melihat layar ponselnya.

Terdengar suara nada WhatsApp. Ia segera membaca tulisan di layar ponselnya.

"Mbak salsa? ya ampun, dia ngirim uang aku banyak banget," ucap Farah di hatinya dengan kaget.

"Farah? Ada apa?" tanya Salamah yang duduk di kasur rumah sakit.

"Oh, enggak ada kok Bu, nggak ada apa apa. Ibu makan lagi ya," segera Farah menyembunyikan ponsel di tas selempang miliknya.

"Ibu makan yang banyak ya, supaya cepat sembuh," ucap Farah sambil menyuapi sang ibu dengan bubur ayam.

Salamah melahapnya dengan cepat. Tapi kini ekspresi wajahnya terlihat muram.

"Kenapa bu? Nggak enak bubur ayamnya?"

"Ibu maunya ketoprak sama kue ulang tahun yang coklat. Kalau habis makan ketoprak enaknya makan yang manis manis. Nah kalau makan kue ulang tahun yang coklat pasti enak banget rasanya," wajah ibu berbinar membayangkan makanan itu.

"Tapi Bu, uangnya nggak cukup Bu," kata Farah dengan wajah sedih.

"Padahal ibu pengin banget beli makanan itu. Kapan ya? Ibu bisa makan makanan enak kaya gitu,"

"Ya udah ibu sabar ya, nanti aku bakalan cari kerja supaya bisa dapet uang yang banyak," ucap Farah tersenyum manis.

Saat malam tiba. Farah mencari pedagang ketoprak. Ia melihat ada di sebrang jalan.

"Nah itu dia! aku mau beli ketoprak supaya ibu seneng," ucapnya sambil berjalan menuju ke penjual.

Telfon Farah berbunyi.

"Halo?"

"Halo Farah, kamu udah terima uang itu kan? jadi gimana? Kapan kamu siap menikah dengan suami saya?" tanya salsa.

"Iya mbak, makasih banyak mbak. Secepatnya mbak. Saya sudah siap menikah dengan suami mbak salsa," kata Farah dengan nada ragu.

"Ya udah besok saya jemput kamu ya," kini sambungan panggilan terhenti.

Farah hanya bisa terdiam melongo.

"Mbak ketopraknya pedes apa nggak?" tanya si tukang ketoprak.

"Oh iya iya pak, jangan pedes ya pak," jawab Farah yang tadinya melamun.

Esok harinya Farah bersama dengan salsa pergi ke sebuah rumah sakit besar.

"Semuanya akan di cek di rumah sakit ini. Itu untuk memastikan kalau kamu nanti bisa hamil saat sudah menikah dengan Mas Kairo," ucap salsa dengan tegas.

"Baik mbak salsa. Saya nurut saj dengan mbak salsa," kata Farah mengangguk. Ia hanya berusaha menjalankan skenario yang sudah di takdirkan untuknya. Setelah menunggu beberapa hari. Hasil kesehatan keluar dan dinyatakan bahwa Farah sehat. Semuanya normal dan Farah bisa hamil.

Esok harinya Farah melangsungkan pernikahan di rumah sakit. Karena itu adalah kemauan Farah. Farah ingin sang ibu menyaksikan dirinya menikah dengan Kairo.

Setelah semuanya selesai dengan lancar. Salamah terlihat bahagia sekali.

"Ya Allah, ibu nggak nyangka kamu mendapatkan jodoh seperti Kairo. Kok' kamu nggak pernah cerita sama ibu sih,"

"Hehehe iya Bu, kan kejutan buat ibu," kata Farah tersenyum manis. meski ia harus berbohong.

"Tapi Kairo baik kan? Soalnya dia kan dari turunan orang kaya. Kamu nggak papa nanti sama keluarganya? Nanti kamu di hina," ucap salamah dengan khawatir.

"Enggak kok, Bu. Insyaallah keluarga Kairo itu baik semua," ucap Farah tersenyum kecil. Meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi karena ia sangat menyayangi sang ibu. Jadi itu semua di lakukan olehnya.

"Nah, sekarang ini adalah kamar kamu. Rumah ini khusus untuk kamu dan kairo. Karena aku nggak mau satu rumah sama kamu," ucap salsa dengan tegas.

"Iya baik mbak,"

"Semuanya sudah tersedia di rumah ini. Kalau ada apa apa. Kamu telfon aja. Oh ya, sebaiknya Kairo tidak ke rumah ini dulu. Karena kamu harus istirahat terlebih dahulu. Agar semuanya berjalan dengan lancar. Ingat yah, vitamin dan buah buahan itu kamu makan ya. Supaya kamu sehat terus," ucap salsa dengan tegas.

"Iya mbak, terimakasih banyak mbak. Oh ya mbak. Kalau mas Kairo ke sini nanti mbak WhatsApp ya. Soalnya barang kali saya ada di rumah sakit nemenin ibu,"

"Iya kalau itu gampang, ya udah saya pergi dulu," salsa dengan cepat meninggalkan rumah itu.

Farah kini melihat lihat kamarnya yang bersih dan nyaman. Ada rasa senang melihat ini semua. Bahkan meja rias juga sudah terisi dengan skincare yang komplit.

"Ya Allah andai ini semua milik aku. Tapi aku hanya di fasilitasi ini aja udah seneng banget sih. Tapi di sisi lain aku juga takut. Duh, gimana ya nanti kalau ketemu mas Kairo. Aduh pusing banget aku," ucap Farah dengan mengacak kerudung yang di pakainya.

***

"Oh jadi gitu, ya udah baguslah. Tapi harus di cerai kalau udah lahiran ya," ucap sinta dengan serius.

"Iya ma, udah ada perjanjiannya kok. Lagian Farah itu gadis desa yang nggak punya kerjaan. Jadi mana mungkin mas Kairo langgeng sama Farah," kata salsa dengan yakin.

"Mama jadi nggak sabar menimang cucu," kata mama Sinta dengan tersenyum manis. Ia yang baru saja pulang dari luar kota merasa senang karena Kairo menikah dengan wanita lain yang bisa hamil.

***

"Kamu kenapa cemberut gitu Salsa?" tanya Kairo sambil mendekat kepada sang istri yang sedang berada di depan meja rias.

"Wajahku cantik begini tapi sayang aku mandul mas," kata salsa dengan wajah sedih.

"Udah kamu jangan sedih. Mending kita tidur aja yuk. Ini malam Jum'at kan?" tanya Kairo dengan tersenyum manis.

"Dasar kamu mas," kata salsa mencubit pipi sang suami.

***

Sementara itu di rumah Farah sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia membawa makanan dan juga pakaian ganti untuk sang ibu.

"Di rumah yang menurut aku cukup besar ini. Aku malah sendirian. Ya ampun... kenapa aku merasa begitu kesepian. Kenapa rasanya begitu sakit seperti ini?" tanya Farah di dalam hatinya.

Entah kenapa ada perasaan kecewa. Sebagai pengantin baru yang seharusnya berbahagia. Tapi ia malah bersedih seperti ini. Memang ini semua bukan kemauan dari dalam hatinya. Tapi pernikahan ini hanya untuk membuat sang ibu benar benar sehat.

Sampai di rumah sakit. Farah melihat sang ibu yang sedang asyik menonton tv.

"Setelah ganti ruangan yang bagus seperti ini. Ibu jadi betah. Ada ac-nya, ada tv-nya juga. Melihat pemandangan dari jendela juga indah sekali. Makasih banyak ya Farah," ucap Salamah tersenyum bahagia. Baru kali ini Farah melihat ibunya tersenyum penuh kebahagiaan seperti ini.

"Iya Bu, ini semua karena mas Kairo. Mas Kairo ingin yang terbaik untuk kesembuhan ibu," Farah terpaksa berbohong. Fasilitas ini yang memberikan adalah salsa.

"Baik banget ya suami kamu. Ajaklah Kairo ke sini. Ibu kan pengin ngobrol sama Kairo," ucap salamah penuh harap.

"Iya Bu, nanti mas Kairo pasti aku ajak kesini jenguk ibu," Farah tersenyum lebar. Meski hatinya sangat tersiksa. Kalau saja Salamah tahu jika anaknya adalah istri kedua. Tentu saja Salamah akan merasa begitu sedih.

"Oh ya Bu, sebentar ya Bu. Farah lupa mau beli pulsa. Farah pergi ke minimarket sebentar ya Bu," kata Farah buru buru mengambil tas selempang miliknya di meja.

"Iya hati hati ya Farah,"

Jalanan terasa begitu padat. Kawasan di depan rumah sakit adalah jalan besar yang setiap hari hampir selalu macet. Terik matahari membuat Farah berjalan cepat menuju ke tempat yang ber-AC.

"Panas banget di luar ya Allah," ucapnya sambil mengusap keringat di keningnya. Melihat lelaki yang merupakan suaminya itu ada di depan kasir. Segera Farah bertindak.

"Eh, mas Kairo,"

Kairo juang berbalik dengan kaget. Mata mereka bertemu. Kairo hanya terdiam dan bingung harus bagaimana. Sementara Farah tersenyum manis melihat sang suami. Tiba tiba saja kairo mendekatkan wajahnya ke telinga Farah.

"Farah! Kalau di luar seperti ini. Kamu nggak usah sok kenal sama saya!" ucap Kairo dengan lirih dan tegas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED