Bab 2

Abraham dan Jihan tercengang mendengar permintaan Mikhaela untuk yang kesekian kalinya. Kemudian pria yang memakai kemeja berwarna biru itu memegang tangan sang istri dengan lembut.

"Sayang, jangan ucapakan hal yang bukan-bukan dulu! Saya ingin kamu sehat dan menjalankan operasi besok, ya!" pinta Abraham dengan sangat lembut.

Sedangkan Jihan, hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Sebab ia bingung harus bersikap bagaimana saat ini.

"Mas, apa salahnya menuruti keinginanku? Jika Jihan sudah melahirkan anak, kamu bisa menceraikannya! Jika tidak, maka tidak masalah bagiku. Kamu harus ada yang mengurus, lihatlah aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang!" terang Mikhaela.

Abraham bangun, kemudian melirik ke arah Jihan. Sebab memikirkan perasaan wanita itu karena ucapan sang istri tadi.

"Mikhaela, kamu jangan berpikir seperti itu! Sama saja kamu menggap Jihan sebagai boneka! Bisa diceraikan kapan saja!"

Abraham berucap dengan tegas, kemudian bergegas pergi dari sana. Sebab dia ingin menegakkan diri dari permintaan konyol sang istri. Sedangkan Jihan, masih di tempatnya melihat Mikhaela menangis.

"Nyonya, jangan menangis!" pinta Jihan dengan lembut.

"Lihatlah suamiku Jihan, dia menggap aku ini wanita jahat yang memperlakukan kau seperti boneka," sahut Mikhaela dengan lirih.

Jihan langsung memegang tangan sang Nyonya, karena dia tidak berpikir seperti itu. Kemudian wanita muda itu memeluk sang majikan dengan lembut.

"Saya tidak berpikir seperti itu. Nyonya, karena saya tau perasaan Anda seperti apa sekarang sebagai seorang istri yang tidak akan bisa memberikan keturunan untuk suami Nyonya," jelas Jihan.

Mikhaela berhenti menangis, kemudian dia tersenyum dan mereka melepaskan pelukan. Setelah itu Jihan memberikan makan siang untuk sang majikan. Sedangkan Abraham masih belum kembali, entah pergi ke mana pria itu.

Jihan berharap kalau Mikhaela tidak akan meminta permintaan itu lagi. Namun firasatnya mengatakan kalau sang majikan akan selalu meminta hal itu sampai dia menikah dengan Abraham menjadi istri kedua pria tersebut.

...

Malam hari tiba, Abraham baru kembali ke ruangan sang istri, pria itu melihat Mikhaela sudah tidur, dan Jihan juga. Namun sang pembantu tidur dengan posisi duduk di samping istrinya.

Kemudian, dia menghampiri Jihan dan menepuk pundak wanita itu dengan pelan. Sontak saja membaca sang empunya terbangun.

"Tuan!" kaget Jihan, melihat sang majikan ada di hadapannya.

"Kamu tidur saja di sofa! Biar saya yang menjaga Mikhaela," bisik Abraham.

Karena dia takut membangunkan sang istri yang tidur dengan pulas. Kemudian Jihan bergegas menuju sofa dan menidurkan tubuhnya, sebab ia merasa sangat mengantuk selama menjaga Mikhaela seharian penuh, di tambah lagi harus menenangkan sang majikan yang terus-menerus menangis.

Abraham memandang wajah Mikhaela dengan dalam, dia tidak habis pikir mengapa istrinya memintanya untuk menikah lagi, hanya karena ingin mendapatkan anak.

Abraham mencium tangan istrinya dengan lembut, kemudian dia tertidur sambil memegang tangan Mikhaela dengan erat.

Pagi hari tiba, Jihan terbangun. Wanita muda itu melihat sang majikan masih tidur, kemudian dia bergegas pergi dari sana menuju luar, dan duduk di bangku sambil mengatur nafas dengan perlahan.

Tak berselang lama, ponsel Jihan bergetar ada pesan dari Mikhaela yang memintanya untuk segera kembali ke ruangan. Wanita muda itu bergegas masuk ke dalam dan melihat kedua majikannya tengah duduk.

"Ada apa ya. Nyonya?" tanya Jihan pelan.

Entah mengapa, hatinya berdetak kencang seperti akan ada yang terjadi setelah ini.

Wanita itu pun menghela nafas panjang.

"Jihan, duduklah di sini! Ada yang ingin aku sampaikan," pinta Abraham sambil menggesekkan kursi ke sampingnya.

Jihan langsung berjalan mendekati Abraham dan duduk di samping pria itu sambil melirik ke arah sang Nyonya, yang ada di hadapannya saat ini.

"Jihan, Mas Abraham akan menyampaikan sesuatu padamu sebelum aku masuk ke ruang operasi," ujar Mikhaela dengan lembut dan senyuman manisnya.

Jihan hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, karena hatinya tidak tenang. Wanita itu tahu apa yang akan disampaikan oleh sang Tuan nanti. Sebab, firasatnya mengatakan bahwa Abraham sudah menyetujui permintaan gila Mikhaela.

"Jihan, menikahlah dengan saya! Jangan takut, saya tidak akan menceraikan kamu. Kita akan selalu bersama seperti permintaan Mikhaela," terang Abraham.

Jihan tercengang mendengar ucapan sang Tuan, kemudian dia melirik ke arah Mikhaela yang terlihat sangat bahagia. Hatinya bingung harus mengambil langkah apa sekarang. Sebab ia tidak ingin menikah dengan Abraham.

Namun, ia juga harus mengingat kebaikan yang dilakukan oleh Mikhaela selama ini, membuat dia harus membalas budi tersebut. Akan tetapi, Jihan tidak siap menikah diumur yang baru menginjak 26 tahun.

"Jihan, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja hal itu! Aku minta, jawab dengan jujur, jangan ada paksaan atau tekanan dari siapapun!" tegas Abraham sambil melirik ke arah sang istri.

Sontak saja hal ini membuat Mikhaela tersindir, karena Abraham seperti tengah menuduhnya menekan Jihan agar mau menikah dengan sang suami.

"Baik Tuan," jawab Jihan pelan.

Abraham bergegas pergi dari sana, karena dia ingin menemui Dokter yang akan melakukan operasi pengangkatan rahim sang istri beberapa jam lagi. Sedangkan Jihan, langsung membereskan apa saja yang dibutuhkan oleh sang majikan

.

"Jihan, kamu makan dulu, itu nanti saja!" pinta Mikhaela dengan lembut.

Jihan tersenyum, kemudian menyelesaikan pekerjaan dan menghampiri sang majikan yang berada di tempat tidur pasien.

"Nyonya, saya izin pergi ke kantin sebentar ya. Nanti saya kembali lagi, tidak lama kok," izin Jihan dengan hati-hati.

Sebab, ia takut Mikhaela tidak mengizinkannya pergi. Karena Abraham sudah membelikan makanan untuknya sejak tadi.

"Untuk apa? Bukankah anak buah mas Abraham tadi membawakan makanan untukmu?" jawab Mikhaela dengan pertanyaan.

Jihan bingung harus menjawab apa, kemudian dia diam dan memakan makanan yang dibawakan oleh anak buah Abraham untuknya tadi.

Padahal, ia ingin menenangkan diri agar tenang dan mengambil keputusan apa yang harus diambil selanjutnya. Akan tetapi, sudah gagal, karena dia tidak bisa berbohong pada sang majikan.

Setelah selesai, Jihan membawa barang yang diperlukan untuk Mikhaela menuju ruang operasi. Sedangkan sang majikan dibawa oleh perawat menggunakan kursi roda menuju ruangan operasi.

Sedangkan Abraham, masih berada di belakang menemui Dokter yang akan melakukan operasi pada sang istri nanti.

Saat Mikhaela hendak masuk ke ruangan operasi, wanita itu meminta Jihan mendekatinya. Kemudian dia memegang tangan sang pembantu dengan erat.

"Jihan, aku berharap saat aku selesai operasi, kau sudah menyetujui permintaan mas Abraham. Percayalah semua akan baik-baik saja! Dia tidak akan meninggalkanmu. Kita akan mengurus anakmu bersama," terang Mikhaela.

Jihan hanya diam, kemudian dia menatap wajah Mikhaela yang terlihat sangat memperhatikan, sebab wajahnya terlihat sangat pucat dan lema.

"Aku rela berbagi suami denganmu, karena aku tau kau tidak akan mencintai mas Abraham, begitu juga sebaliknya. Aku ingin sekali merawat anak," tambah Mikhaela.

Jihan masih diam, kemudian Mikhaela bergegas pergi dari sana dibawa oleh perawat masuk ke dalam ruangan operasi.

"Apa yang diucapkan oleh Mikhaela tadi. Jihan?" tanya Abraham yang baru saja tiba, membuat Jihan terkejut dan menatap wajah sang majikan.

Bersambung.

Bab 3

Jihan terdiam, membuat Abraham mencurigai sang istri mendesak Jihan agar mau menikah dengannya. Kemudian ia membawa wanita itu duduk di bangku dengan saling berhadapan.

"Apa istriku mendesakmu agar menikah denganku?" tanya Abraham dengan pelan.

Jihan diam, karena dia bingung harus menjawab apa. Sebab ia tidak ingin Abraham marah pada Mikhaela yang selalu mendesaknya untuk menikah dengan sang Tuan.

Namun, dia juga tidak enak kalau berbohong pada Abraham yang selalu baik padanya. Akan tetapi, untuk kali ini Jihan harus berbohong demi kebaikan sang Nyonya yang masih sakit.

"Tidak Tuan, nyonya tidak mengatakan apapun," jawab Jihan pelan.

Abraham tidak percaya akan ucapan Jihan, karena dia tahu betul seperti apa sang istri. Namun ia tidak ingin bertanya lebih jauh pada Jihan, sebab saat ini tengah

mengkhawatirkan keadaan Mikhaela yang tengah menjalankan operasi.

Sedangkan Jihan, memilih pergi dari sana. Sebab ia tidak enak berduaan dengan sang majikan. Ya walaupun mereka tengah menunggu Mikhaela, tetap saja dia tidak enak.

Dokter memanggil Abraham masuk ke dalam untuk melihat kondisi Mikhaela dan rahim yang sudah habis di gerogoti oleh penyakitnya, hal itu membuat Abraham tidak sanggup melihat dan memilih untuk menunggu di luar. Apa lagi dia tadi melihat sang istri masih di tempat tidur operasi.

Bahkan para Dokter masih membersihkan sisa-sisa penyakit di dalam perut istrinya.

Abraham menangis tersedu-sedu tanpa rasa malu dilihat banyak orang di sana. Karena hatinya saat ini sangat sakit mengingat sang istri masih di dalam menjalankan operasi.

Pada saat itu juga Jihan kembali dan melihat sang majikan menangis. Pikirannya pun melayang entah ke mana, ia cemas akan keadaan Mikhaela yang ada di dalam ruangan operasi.

"Tuan, apa nyonya baik-baik saja?" tanya Jihan dengan cemas.

Abraham langsung menoleh, kemudian dia menghapus air mata dan mengatur nafas agar lebih tenang. Hal itu membuat Jihan bingung akan sikap sang Tuan.

Kemudian, Jihan duduk di samping Abraham sambil terus melirik ke arah pintu ruangan operasi berharap dokter ke luar dan memberikan kabar Mikhaela padanya. Sebab sang Tuan hanya diam saat dia bertanya tadi.

Satu jam kemudian, Dokter ke luar memberitahu jika operasi Mikhaela berjalan dengan lancar. Hal itu membuat Abraham senang begitu juga dengan Jihan rasa cemasnya sudah hilang.

"Bu Mikhaela sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang rawat," ujar Dokter tersebut sambil bergegas pergi dari sana.

Abraham bernafas dengan lega, kemudian dia bergegas pergi dari sana menuju ruang rawat sang istri. Sedangkan Jihan masih diam di tempat. Sebab, ia menunggu majikannya di sini.

Ya, walupun dia sangat lelah, tetap ia ingin melihat keadaan Mikhaela secepatnya. Jihan sangat menyayangi wanita itu, sebab sudah sangat baik padanya selama ini.

Tak berselang lama, Mikhaela ke luar bersama seorang perawat. Jihan meneteskan air mata melihat sang majikan duduk lemah di kursi roda.

"Mbak, biar saya saja yang membawa Nyonya Mikhaela ke ruangannya!" pinta Jihan dengan lembut.

Perawat itu menuruti keinginan Jihan, kemudian mereka bergegas menuju ruangan Mikhaela dengan perlahan. Setelah sampai, Abraham langsung menyambut kedatangan sang istri dan membawanya naik ke tempat tidur.

Setelah itu, perawat tersebut memeriksa keadaan Mikhaela dan bergegas pergi dari sana. Sedangkan Jihan langsung menghampiri sang majikan.

"Nyonya, apa masih sakit perutnya?" tanya Jihan dengan lembut sambil menatap wajah sang majikan.

Mikhaela hanya menganggukkan kepala, karena ia masih lema tenaganya belum pulih betul. Jihan pun tersenyum sambil memegang tangan sang majikan dengan lembut.

"Jihan, kamu pulang saja! Biarkan aku di sini menjaga Mikhaela," pinta Abraham.

Jihan melirik ke arah sang Tuan, kemudian menganggukkan kepalaku. Padahal ia masih ingin merawat Mikhaela yang baru saja selesai operasi. Namun, dia tidak berani membantah majikannya.

Saat dia hendak pergi, tangannya ditarik oleh Mikhaela membuat Jihan berhenti dan menatap wajah sang majikan.

"Tolong jangan pergi! Tetaplah di sini temani aku!" pinta Mikhaela pelan.

Jihan menganggukkan kepala, kemudian duduk sambil memijat kaki sang majikan dengan lembut. Sedangkan Abraham hanya diam melihat mereka.

Keesokan paginya.

Jihan bersiap-siap, karena hari ini dia akan pulang. Namun sebelum itu, ia harus memberikan jawaban dari permintaan Mikhaela kemarin.

Wanita muda itu menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati Mikhaela yang tengah makan bersama Abraham.

"Nyonya, saya pulang ya," pamit Jihan dengan lembut.

"Kemarilah, makan dulu baru kamu pulang. Nanti akan diantar sama Mas Abraham!" sahut Mikhaela dengan lembut.

Jihan tersenyum dan menghampiri wanita itu, sedangkan Abraham hanya diam dan terus melanjutkan memakan sarapannya dengan perlahan.

"Kamu sudah memiliki jawaban, 'kan Jihan?" tanya Mikhaela dengan lembut.

Jihan menganggukkan kepala, kemudian mulai menghabiskan sarapannya dengan perlahan. Setelah selesai, mereka bertiga duduk saling berhadapan. Sebab Jihan akan memberitahu apa keputusan yang dia ambil.

Jihan menghela nafas panjang, kemudian menundukkan pandangannya, berharap setelah ini semua akan baik-baik saja seperti sebelumnya.

"Saya bersedia menikah dengan Tuan Abraham," terang Jihan.

Abraham langsung menatap wanita itu, karena dia tidak percaya Jihan mau menikah dengannya. Jujur ia berharap sang pembantu tidak mau menuruti permintaan istrinya, karena ia tidak ingin menikah lagi.

Sedangkan Mikhaela sangat bahagia karena Jihan menuruti keinginannya. Kemudian ia memeluk sang pembantu yang sudah dianggap sebagai adik dengan erat.

"Terima kasih Jihan, kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Jangan panggil aku nyonya lagi! Sebab, kau juga akan menjadi nyonya!" pinta Mikhaela lembut.

"Baik Nyonya, maksudnya Kak Mikhaela," jawab Jihan gugup.

Mereka berdua saling berpelukan dengan erat, walaupun Jihan tidak bahagia. Namun ia senang bisa melihat sang majikan sangat gembira.

Abraham langsung pergi dari sana, karena dia ingin mengobrol dengan Jihan, ada yang kesepakatan yang ingin dibicarakan pada wanita itu tanpa sepengetahuan Mikhaela.

"Sudah pergilah! Mas Abraham menunggumu. Ingat ya! Setelah aku pulang kau harus segera menikah dengannya," ujar Mikhaela dengan sangat gembira.

"Baik Kak Mikhaela," jawab Jihan dengan lembut.

Jihan bergegas pergi dari sana, saat di luar tangannya ditarik oleh Abraham. Sontak saja membuatnya terkejut, dan menatap wajah sang majikan. Kemudian duduk di samping pria itu.

"Jihan, ini kesepakatan untuk kita berdua ya. Jangan beritahu siapapun termaksud Mikhaela! Sebab, saya ingin pernikahan kita hanya di atas kertas. Saya tidak akan menyentuhmu, kita hanya berpura-pura di hadapan Mikhaela. Mengerti?" jelas Abraham.

Jihan menganggukkan kepalanya, karena dia senang Abraham tidak akan menyentuhnya selama pernikahan mereka berlangsung. Sebab ia menyetujui permintaan Mikhaela hanya karena ingin membalas budi, bukan karena ia mau menikah dengan sang Tuan.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mikhaela yang baru saja ke luar dari kamarnya, dengan membawa botol infus yang ada di tangannya.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED