Bab 1

Aurora Safitri, gadis berparas cantik yang harus rela menjadi istri kedua oleh seorang pria tampan nan kaya raya namun kesepian.

Namun siapa sangka ternyata menjadi istri kedua tak seburuk dengan yang ia pikirkan, yang selalu menjadi bahan ocehan emak-emak berdaster tentang penderitaan yang dialami menjadi istri kedua justru Aurora mengalami hal sebaliknya, ia justru diperlakukan bak seorang ratu oleh suami penguasanya itu. 

Awal kisah….

"Kamu kenapa Ra?" tanya seorang gadis yang seumuran dengan Aurora, disaat melihat wanita itu termenung. 

"Aku lagi bingung Ca!" jawab lesu Aurora kepada sang sahabat yang bernama Rebecca dan biasa ia panggil Eca. 

"Bingung kenapa?" Rebecca menyeruput minuman noba dingin yang ada di tangannya. Minuman yang wajib mereka konsumsi saat menginjak wilayah kampus.

Saat ini mereka sedang berada di cafe yang tak jauh dari kampus tempat mereka menimbah ilmu.

"Aku butuh uang, tapi aku nggak tahu harus pinjam kemana? Mana banyak lagi! Apa aku jual ginjal aja ya?" ucap sedih Aurora.

Plak

"Apaan sih! Sakit tau nggak!" sungut kesal Aurora saat sahabatnya itu menghadiahinya dengan tabokan yang cukup keras di kepala bagian belakangnya. 

"Habisnya kamu itu bicara asal ceplos saja. Mending kamu mengikuti jejakku, kamu bisa dapat uang tanpa harus menjual ginjal, yang ada entar kamu mati lagi. 

"Astagfirullah Ca... Tega benar kamu Ca, doain sahabat kamu yang cantik jelita ini mati." Aurora menatap sedih sahabatnya seraya memegang dadanya. 

"Cih, drama queen! Memang kamu butuh berapa sih? Siapa tahu simpananku cukup."

"100jt!" 

"What? Banyak bener. Memang mau diapain uang segitu banyaknya?" 

"Bayar utang Ayah tiriku Ca. Dia minggat dari rumah, aku yang di tagih ama rentenir sampai sekarang."

"Kasihan banget sih nasib kamu yah! Kamu mau nggak ngikutin jejakku?  Kebetulan bos suamiku lagi butuh istri kedua," tawar Rebecca dengan sangay hati-hati. Wanita itu takut jika sahabatnya merasa tersinggung.

Aurora terdiam menatap sahabatnya lekat.

"Memang kamu nggak sakit hati jadi yang kedua?" tanya penasaran Aurora yang masih asyik menikmati minuman bobanya yang gelasnya cukup tinggi. 

"Kadang-kadang. Tapi meski aku jadi yang kedua, aku diutamakan, asal kamu tahu," jawabnya santai memainkan pipet minumannya.

"Iya juga sih, kan istri pertama Suamimu  pramugari, jarang pulang jadi otomatis kamulah di utamakan." 

"Hmm, benar. Gimana, kamu mau nggak? Bukannya aku mengajarkan kamu yang enggak bener ya. Cuman ini jalan yang menurutku  paling cepat, apalagi kita kan bukan jadi sugar baby tapi istri sah dimata hukum dan agama.  Jadi menurutku sih sah-sah aja!" 

Aurora tampak diam mencoba mencerna ucapan sahabatnya. 

Oh my? Apa dia harus melakukannya?

"Memang kamu jadi istri kedua ngapain?" tanya asal Aurora membuat Rebecca memutar bola matanya malas. 

"Ya apalagi. Sama seperti seorang istri pada umumnya. Melayani suami mulai dari pagi sampai pagi lagi. Hehe." 

Wanita itu tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya. Pasti otak sahabatnya itu sudah traveling ke mana-mana. 

"Udah enggak usah banyak berpikir. Nanti aku tanya suamiku. Setelah itu aku kabarin deh."

Aurora menghela nafas panjang. "Terserah deh! Aku udah nggak punya jalan lain lagi. Aku ikut apa kata kamu aja."

Aurora sangat tahu siapa pria yang di maksud sahabatnya Rebecca. Seorang pria yang kaya raya namun kesepian sebab sang istri mengejar karirnya sebagai seorang model. Pria yang sering diceritakan oleh Rebecca yang selaku sahabat serta atasan suaminya. 

Di sebuah Apartemen

"Yang," panggil Rebecca kepada sang suami yang tak lain adalah - Jason Collin. 

"Apa Yang?" 

"Apa bos kamu masih nyari istri kedua?" tanya Rebecca. 

"Iya Yang, masih. Kenapa? Apa kamu punya rekomendasi?" tanya santai Jason masih menatap layar TV dengan kepala berada di pangkuan istrinya. 

"Hmm.. Sahabatku lagi butuh uang 100jt, aku saranin sih tadi." Tangan wanita itu sedari tadi membelai rambut suaminya.

"Apa dia mau?" tanya Jason antusias. Serasa mendapatkan angin segar pria itu langsung bangun dari pangkuan Rebecca. Bagaimana tidak senang, jika tugas yang selama ini belum terselesaikan sudah mengarah ke titik terang. 

"Ya mau enggak mau, dia harus mau. Tapi apa bos kamu enggak keberatan, kalau harus minta uang segitu banyaknya?" 

"Baginya uang segitu nggak ada apa-apanya Sayang. Besok deh aku bilang sama si bos. Tapi jangan lupa kirim fotonya, pasti si tengik itu ingin lihat dulu orangnya seperti apa," ucap Jason seraya mencubit pelan hidung mancung istri keduanya itu. 

"Oke!" sahut Rebecca tersenyum manis, lalu mencium bibir sang suami dan tentu saja dibalas oleh Jason. 

"Yang, pengen!" rengek Jason dan di angguki oleh Rebecca. Tak membuang waktu Jason langsung membopong istrinya ke kamar dan melakukan apa yang harus di lakukannya.

*****

Sementara di rumah kecil beralaskan semen yang belum sempurna tampilannya, seorang wanita cantik meski dengan gaya sederhananya tengah memakan mie instannya dengan tidak bersemangat. Wanita itu masih memikirkan keputusan yang telah di ambilnya demi membayar utang ayah tirinya. 

"Aku jadi istri kedua?" gumamnya setelah mie instan di mangkuknya telah habis tak tersisa. Meski tidak semangat tapi tetap saja perutnya lapar.

"Ayah ke mana sih? Tega banget meninggalkan Aura sendiri? Meninggalkan hutang lagi!" gerutunya dengan sangat jelas. 

Setelah selesai membersihkan piring kotornya, wanita itu memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di jendela sambil menatap langit. Ia mengingat kembali moment  bahagianya saat sang ibu dan ayah kandungnya masih hidup. 

Kehidupannya berubah menjadi cukup suram, saat ibunya harus menikah lagi dengan Ayah tirinya yang bernama Herman. Pria yang di pilihkan oleh sang nenek kala itu. Pria yang awalnya selalu bersikap baik kepada mereka lama kelamaan berubah menjadi kasar. Bukan hanya itu ayah tirinya ternyata hobby bermain judi. 

Tak hanya sampai disitu, ia dan sang ibu bahkan kerap kali menjadi bulan bulanan ayahnya saat pria itu kalah bermain judi dan puncaknya saat ibunya jatuh sakit. Ayah tirinya jarang pulang ke rumah dan Aurora sering melihat ayahnya bersama wanita lain dengan begitu mesranya. 

Ayahnya bekerja? Ya, pria itu bekerja di bengkel besar dengan gaji yang lumayan besar pula. Namun kebiasaan buruknya membuat semua tak pernah cukup. 

Aurora beruntung karena mempunyai otak yang cukup cerdas, meski uangnya pas pasan atau kerap kali tak cukup namun wanita itu masih tetap dapat menimbah ilmu hingga ke jenjang universitas dengan bantuan beasiswa.

"Andai aku masih punya keluarga yang lain, aku enggak akan sendirian seperti ini," lirihnya.

Wanita itu mengusap kasar air matanya yang telah meluncur jatuh bebas ke pipinya. Ia merasa kesepian, tak ada lagi keluarga yang hangat seperti saat dia masih kecil. Semuanya berubah, sangat berubah! Hingga kadang membuat wanita itu putus asa. 

Dengan gaya duduk, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, gadis itu menangis tertahan. "Ibu, Aura lelah Bu. Ayah Herman sangat jahat bu. Dia meninggalkan Aurora sendirian bu. Apa Ibu tahu, aku terpaksa harus menikah menjadi istri kedua untuk membayar semua utangnya yang sangat banyak itu. Aku tidak punya cara lain lagi bu. Sampai matipun aku bekerja, pagi sampai malam aku takkan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu bu."

"Aura harus bagaimana bu?"

Bab 2

Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gedung pencakar langit yang begitu megah. Seorang pria dengan sigap dan cekatan membukakan pintu mobil kepada tuannya.

Seorang pria tampan, gagah, bermanik keabuan turun dari mobil itu. Memperbaiki jasnya kemudian berjalan dengan wajah datar masuk ke dalam gedung tersebut. Seluruh karyawan membungkuk memberi hormat kepada pria yang tak lain adalah CEO mereka yang sering mereka beri julukan sang Penguasa.

"Selamat pagi Pak."

Tak ada jawaban, pria itu hanya berlalu dengan gagahnya tanpa memperdulikan sapaan karyawannya.

Sang Penguasa dan asistennya itu masuk ke lift khusus CEO. Asisten menekan tombol 30 dan lift itu pun bergerak naik.

Saat tiba di ruangan, pria tersebut duduk di kursi kebesarannya. Jason langsung melaporkan jadwal tuannya untuk hari ini dan sesuatu yang telah lama ia kerjakan namun belum membuahkan hasil.

"Bagaimana tuan?" tanya Jason kepada atasannya sekaligus sahabatnya itu -- Alvaro Ricolas.

Alvaro masih terus saja menatap foto yang dikirim oleh asistennya itu.

"Lumayan! Bawa dia ke Apartemenku sebentar siang. Aku mau bicara langsung," titah sang penguasa itu.

Akhirnya.

"Siap!" jawab Jason.

Alvaro Ricolas, pengusaha tampan nan kaya raya, memiliki segudang prestasi. Namun sayang, dia menjadi pria kesepian meskipun telah menikah. Alvaro menikahi wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun dan pernikahannya pun sekarang berjalan dua tahun.

Namun sangat disayangkan istrinya tak pernah menetap di Indonesia. Dia harus menetap di Negeri paman sam untuk menjadi seorang model terkenal. Selama ini sang istri hanya pulang tiga bulan sekali dan Alvaro hanya sesekali mengunjungi sang istri dikarenakan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkannya. Untuk itu dia mencari istri kedua yang setiap saat bisa menemaninya.

Kontrak? No! Enggak ada sistem kontrak-kontrakan. Dia tidak mau terjebak seperti sang asisten yang hampir kehilangan istri keduanya yang diam-diam sudah mengisi hatinya hanya karena sebuah kontrak konyol.

Pria itu hanya akan mencoba untuk menjalani kehidupannya seperti biasanya bersama wanita itu nantinya, yang pasti kebutuhan biologisnya adalah alasan utamanya untuk menikah lagi, tapi bukan berarti ia akan memperlakukan wanita itu dengan buruk. Tidak! Itu tidak pernah terlintas di otak seorang Alvaro.

Pria tersebut selalu mengingat petuah orang tuanya, bahwa ia terlahir dari rahim seorang wanita. Perlakukan wanita dengan baik dan jangan pernah mengangkat tangan kepada wanitamu.

Sementara di tempat lain

"Huft... Capek banget!" keluh seorang wanita yang saat ini sedang mengganti seragamnya. Aurora baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan karena meminta izin untuk cepat pulang. Pagi tadi wanita itu mendapat kabar dari sahabatnya bahwa pria yang diberitahukan tempo hari ingin bertemu siang ini juga.

Karena meminta izin, Aurora jadi harus menyelesaikan beberapa tugas yang sebenarnya bukan tugasnya di cafe tempat ia bekerja.

"Huft... Sumpah aku sangat gugup." Wanita itu mengelus dadanya sembari selalu menarik nafas dalam-dalam. "Pria itu galak nggak yah?" celetuknya.

Setelah dirasa cukup rileks, wanita itu melangkah keluar setelah pamit dengan beberapa teman-temannya.

Aurora bergegas menaiki bus untuk sampai di alamat yang diberikan Rebecca padanya. Dengan detak jantung yang tak menentu ia terus melangkah menaiki sebuah gedung yang terbilang sangat mewah. Mencari nomor unit apartemen yang ingin ia tuju.

Apartemen

"Kau butuhkan berapa?" tanya Alvaro tanpa basa-basi kepada seorang gadis yang kini duduk diam dengan tangan gemetar.

"Se-seratus juta tuan." Aurora begitu gugup berhadapan dengan makhluk bernyawa bak seorang dewa yang ada di depannya menatapnya dengan intens.

"Banyak juga yah!" ucap santai Alvaro.

Mereka saat ini sedang berada di Apartemen Alvaro, duduk saling berhadapan. Jika Alvaro duduk santai seraya menyilangkan kakinya, justru sikap berbeda di tampilkan oleh Aurora. Gadis itu duduk merapatkan kedua lututnya dengan jemari yang saling bertautan.

"Kau tahu Apa persyaratannya?" Al kembali bersuara setelah puas memandangi gadis di depannya.

"Ta-tau tuan." Aurora masih saja gugup. "Ya Allah, kenapa aku menjadi gugup begini sih. Nggak biasanya," batin Aurora.

"Apa?"

"Jadi istri kedua tuan."

"Apa kau siap? Kau harus siap melayani semua kebutuhanku, termasuk kebutuhan biologisku. Apa kau mengerti?" ucap tegas Alvaro.

"Mengerti tuan," jawab Aurora dengan jantung berdebar. Berdebar bukan karena ia jatuh cinta, namun sepertinya ia lapar. Tenaganya telah terkuras meski hanya mengeluarkan suara menjawab pertanyaan pria di depannya.

"Ya Allah Semoga saja keputusan ini tepat."

"Baiklah. Siapkan dirimu. Kita akan menikah besok!"

"Hah? Besok!" Aurora tersentak. Apa pria didepannya ini waras."

"Kenapa?"

"Apa tidak terlalu cepat tuan?" Aurora Bahkan sempat bengong mendengar ucapan pria itu.

"Tidak! Bahkan sekarang kalau kau mau, kita bisa menikah sekarang juga," ucap santai Al, jangan lupakan seringai liciknya yang bisa buat bulu siapapun yang melihatnya merinding termasuk Aurora.

"Eh tidak tidak!" bantah cepat Aurora. "Besok saja tuan. Ya besok!" ucap Aurora tersenyum kikuk. "Ya Allah sultan mah bebas. Ada maunya mau langsung aja. Apa dia sudah kebelet punya dilayani ya? Ikhh!" Aurora bergidik ngeri menanggapi kehaluannya. Di mana membuat Alvaro yang sedari tadi diam-diam memperhatikannya seraya menautkan alisnya.

"Siapa namamu?"

"Aurora."

"Nama lengkap?"

"Aurora Safitri."

"Ok. Ini kunci apartemenmu. Mulai hari ini kamu tinggal di apartemen sebelah. Pernikahan kita akan dilangsungkan besok di sini. Semua keperluanmu akan disiapkan oleh asistenku dan sahabatmu.

"Baik tuan." Jawab pasrah Aurora seraya mengambil kunci yang terletak di meja depannya. "Mimpi Apa aku semalam bisa tinggal di apartemen mewah begini," batin Aurora.

"Terima kasih Tuan. Kalau begitu saya permisi." Aurora sudah mulai berdiri.

"Eh, siapa yang menyuruh kamu pergi," ucap Alvaro.

"Hah?" jaawab Aurora dengan wajah bingungnya. Di mana membuat garis-garis melengkung di bibir Alvaro. "Menggemaskan juga gadis ini," batin Alvaro.

"Te-terus saya harus ngapain tuan?" tanya Aurora yang bingung. "Memang aku harus ngapain coba. Ada-ada saja ini pria tampan. Untung tampan, tapi tatapannya bikin merinding. Udah kayak di kutub utara. Eh kayak kamu pernah aja ke kutub utara Aura."

"Ya kamu harus layani saya dulu dong baru pergi," goda Alvaro kepada Aurora yang saat ini menatapnya bingung. "Menggoda gadis ini sepertinya seru," batin Alvaro.

"Eh! No!" ucap Aurora seraya menyilangkan kedua tangannya. "Bu-bukannya besok yah baru kita nikahnya. Ke-kenapa tuan minta di layani sekarang. Saya nggak mau!" ucap Aurora dengan wajah yang cemberut. Jangan lupakan tatapannya yang mengisyaratkan kalau ia sedang marah. Namun itu justru membuat pria didepannya terbahak-bahak.

"Hahaha... Otakmu mesum juga ternyata gadis kecil."

"Ya Allah Gusti. Tampannya calon suamiku," batin Aurora.

"Saya meminta kamu memasak karena saya lapar. Pasti kamu juga belum makan kan?" tanya Al dan diangguki oleh Aurora dengan wajah yang memerah menahan malu.

"Ya sudah sana masak! Semua bahan sudah ada lemari pendingin," ucap Al masih dengan sisa tawanya.

"Baik Tuan." Aurora segera bergegas meninggalkan calon suaminya yang masih saja tertawa. "Astaga maluku di ambon."

Setelah kepergian Aurora ke dapur Al menghubungi Jason untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pernikahannya besok.

Bab 3

"Apa benar unit apartemen ini milikku?" ucap lirih Aurora saat kakinya telah berpijak di tempat yang begitu luas. Tak hanya itu, semua furniturenya terlihat begitu mewah.

Aurora membuka mulutnya lebar saat menyentuh semua benda mewah yang ada di dalam apartemen itu. Guci yang sangat besar, lukisan abstrak yang begitu indah serta furniture lainnya yang tergantung.

"Sebanyak apa harta mereka yah?"

"Mungkin saja harta mereka takkan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh turunan lagi," ucap Aurora lirih seraya tertawa kecil. Wanita itu masih tak percaya jika ia bisa menginjakkan kaki di tempat orang kaya seperti ini.

Setelah Aurora lelah mengagumi seisi apartemen tersebut. Wanita itu akhirnya memilih untuk memasuki kamar yang telah tersedia. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali bekerja di supermarket pada sore hari nantinya.

Al kembali ke kantor diantar Pak Ujang supir pribadinya saat Jason tidak ada. Jason kali ini tak bersamanya sebab pria itu sibuk mengurus semua kebutuhan pernikahannya besok.

Sementara di tempat kerja Aurora, wanita itu dimarahi habis habisan oleh atasannya karena keterlambatannya. Tidur wanita itu terlalu nyenyak di kasur yang empuk sehingga membuat ia terlambat hampir satu jam lamanya.

"Maaf nyonya. Saya tidak akan mengulanginya lagi," pinta takut Aurora seraya menunduk. "Saya mohon jangan pecat saya." Aurora memohon kepada wanita paruh baya yang saat ini sedang berkacak pinggang di depannya.

"Tidak bisa. Sekarang juga kembalikan seragam itu. Kau aku pecat," ujar tegas pemilik minimarket tersebut.

Dengan gontai Aurora pun membuka seragam itu. Dia hanya diberikan upah dua lembar uang merah sebagai gaji, padahal tinggal beberapa hari lagi wanita itu akan menerima upah sebulan. Namun siapa sangka semua jadi seperti ini.

Tanpa menunggu lagi, Aurora beranjak untuk pulang ke Apartemen baru yang mulai hari ini ditinggalinya untuk menumpang hidup.

"Untung saja aku tidak harus membayar uang sewa apartemen ini," ucapnya setelah menghempaskan tubuhnya di kasur empuk yang berukuran sangat lebar.

Wanita malang itu memejamkan mata, meratapi nasibnya yang sedikit kurang beruntung.

"Sudahlah! Aku harus istirahat. Besok aku akan menikah. Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang menantiku kedepannya.

****

Pagi menjelang siang suasana pagi ini tampak begitu terik. Tak tanggung-tanggung sang mentari mengeluarkan cahayanya dengan begitu terasa menyengat di kulit. Namun itu tidak mengusik bagi para wanita yang sedang berada di apartemen mewah.

Aura sedang di make over oleh MUA profesional yang dibayar langsung oleh Jason. Sejak awal sang sahabat Rebecca tidak pernah meninggalkannya, bahkan sekarang mereka sedang di make up bersama.

Setelah selesai Aurora mematung melihat tampilannya di cermin. "Eca, Apa benar ini aku?" tanya Aurora yang seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Rebecca tersenyum kecil saat menatap sahabatnya. "Iya Auraku sayang. Ini adalah dirimu, dan apa kau tahu, kau itu sangat cantik jika berhias seperti ini. Sering-sering saja nanti berhias biar suami kamu klepek-klepek denganmu."

"Ish, kau itu bisa aja. Aku dandan juga tetap jadi istri kedua."

"Jangan pesimis gitu dong. Kali aja kita yang sekarang jadi istri kedua, bisa jadi satu-satunya nanti."

"Ngerep!" ketus Aurora.

"Harus dong. Makanya aku selalu berusaha melayani suamiku dengan baik dan sepenuh hati, biar dia makin cinta."

Itulah wejangan sang sahabat yang cukup masuk akal di pagi hari sebelum Aurora melangkah ke apartemen sebelah untuk melangsungkan pernikahannya. Pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Rebecca berjalan duluan di ikuti oleh Aurora di belakangnya dengan perasaan yang gugup. Jantungnya serasa menari-nari di dalam sana, jari jemarinya saling bertautan.

Ting tong.. Ting Tong..

Pintu terbuka..

"Yang, kau cantik sekali!" puji Jason begitu melihat siapa di balik pintu. Sang istri yang terlihat begitu cantik. Meski istri pertamanya lebih cantik, namun perlahan istri keduanya itu sudah hampir menyaingi istri pertamanya. Tak tanggung-tanggung Jason membiayai semua perawatan Istri keduanya itu.

"Terima kasih sayang." Rebecca langsung mencium sekilas bibir suaminya dan inilah yang di sukai Jason kepada Rebecca. Istrinya itu tak akan malu untuk menunjukkan rasa cintanya dimanapun. "Tapi hari ini ratunya bukan aku, tapi orangnya ada di belakangku," tambah Rebecca lalu bergeser selangkah untuk memperlihatkan Aurora.

"Good Job sayang. Alvaro pasti suka. Ayo masuk ,semuanya sudah siap," ujar Jason berjalan duluan. Rebecca menggandeng Aurora untuk masuk.

"Tanganmu dingin sekali Aura?" tegur Rebecca.

"Aku gugup Eca."

"Oh tentu saja Aura, itu adalah hal yang sangat wajar."

Saat Aurora masuk di sana sudah terlihat beberapa orang termasuk sang calon suami yang sedang berbincang dengan seorang pria yang bisa dikatakan sebayanya, dengan posisi membelakangi nya.

"Al itu calon istrimu? Cantik!" ujar salah satu sahabat Al -- Ethan Sandraders. Al langsung berbalik. Maniknya langsung menangkap sosok wanita cantik yang kini tengah lengkap dengan kebaya putihnya yang begitu megah.

"Cantik juga nih bocah!" batin Al. Aurora yang di tatap oleh Alvaro semakin gugup. Wanita itu lebih memilih menundukkan pandanganya. Rebecca menyenggol lengan Aurora seraya tersenyum menggoda.

"Kurasa dia akan jatuh cinta padamu Aura," goda Rebecca.

"Halunya dikurangi neng," delik Aurora menatap sahabatnya jengah.

"Kita lihat saja nanti," tutur Rebecca menantang lengkap senyum nakalnya tak lupa alisnya sebelah terangkat.

Meski hanya menyandang gelar sebagai istri kedua namun Rebecca tak pernah menggunakan cara licik apalagi berniat untuk bersaing dengan istri pertama suaminya. Oh tidak! Ia hanya setia melayani suaminya tanpa banyak neko-neko.

Rebecca hanya selalu siap sedia jika suaminya membutuhkannya. Tentu saja berbeda dengan istri pertama suaminya yang sangat jarang di rumah. Entah karena memang hanya pekerjaan atau ada sesuatu yang lain. Entahlah, dia tak mau ambil pusing untuk hal itu.

Pernikahan pun berlangsung disaksikan oleh penghulu,saksi, serta beberapa teman Alvaro.

Orang tua? Alvaro belum bisa memberitahukan orang tuanya perihal tentang pernikahan ini. Kendati demikian, suatu saat ia pasti memperkenalkan istri keduanya kepada mereka. Kapan? Entah!. Sedangkan ayah tiri Aurora jangan ditanya lagi, semenjak ia meninggalkan rumahnya dengan setumpuk hutang, pria itu tak pernah lagi menampakan batang hidungnya.

Ijab kabul telah selesai diucapkan Alvaro dengan satu tarikan nafas. Alvaro dan Aurora kini resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka saling tukar cincin. Aurora meraih tangan Alvaro dan mencium punggung tangan itu dan Al mencium kening sang istri di mana langsung mendapat ledekan oleh sang asisten bersama yang lain.

Para sahabatnya pun menyalami dan memberikan pelukan mengucapkan selamat. Semoga bahagia dan tak selalu ditinggal lagi. Begitulah kata para sahabat Alvaro, membuat Al melemparkan tatapan tajamnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED