Bab 1

Hana merasa kepalanya begitu pusing. Pandangannya buram dan dunia seakan sedang mengalami gempa besar. Blur, itulah penglihatannya kini. Masa iya angka satu terlihat jadi angka sebelas. Berjalan sempoyongan melewati orang-orang yang kadang bertabrakan dengannya.

"Sialan banget mereka, ini pasti masukin sesuatu ke dalam gelas minuman gue!" Ia terus mengumpat saat berjalan sambil berpegangan pada dinding dan beberapa pintu kamar.

"Ck, ini kamar gue yang mana, nih? Elahh ..."

Menatap angka-angka yang terpampang di depan pintu kamar, tapi tak terlihat begitu jelas. Gaswat juga, kan, kalau ia salah kamar.

Saat tangannya menyentuh salah satu pintu, tiba-tiba malah terbuka begitu saja. Ia tersenyum. "Sepertinya kali ini gue nggak salah kamar," ujarnya segera melangkah masuk.

Hels yang dikenakannya ia tanggalkan, berlanjut dengan gaun hingga hanya meninggalkan sebuah tanktop dan short pant tipis. Badannya seakan

remuk dan istirahat adalah hal terindah yang akan ia lakukan.

"Good night," gumamnya tersenyum manis, kemudian langsung merebahkan badannya di kasur dan bergumul ke dalam selimut tebal.

Sebuah sentuhan tiba-tiba dirasakan Hana di tubuhnya ... membuat matanya yang mengantuk, seakan diajak untuk terbuka lebar. Kepalanya pusing, tapi dirinya berusaha untuk sadar. Ya, mungkin ini baru dua jam dirinya tidur. Mencoba mengingat kembali, kalau saat ini ia sedang berada di kamar, tapi siapa yang menyentuhnya? Dan harus diingat kalau dirinya belum punya suami, loh, ya.

Hana berusaha untuk tak yakin dengan apa yang dialaminya kini, tapi rengkuhan itu semakin erat ia rasakan dari arah belakangnya. Ia menelan Saliva nya dengan susah, sebelum akhirnya memantapkan diri untuk melihat benda apa yang kini menempel di badannya.

Bola matanya seakan mau lepas dari sarangnya, saat mendapati penampakan yang ada di badannya. Iya, benar sekali ... sebuah tangan kekar sedang memeluknya erat. Dan ia bisa memastikan kalau si pemiliknya adalah seorang cowok. Berusaha untuk tak kaget, tapi apalah daya, mulutnya tak bisa ditahan untuk tak berteriak.

Teriaknya menggema dengan nada setinggi mungkin. Kalau bisa, ia ingin membuat semua orang di hotel ini mendengar teriakannya. Asli, ini kagetnya pake banget. No kw kw.

Langsung saja, tanpa komando ia beranjak dari posisi tidurnya sambil menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya dan menjauh dari posisi tempat tidur.

Saat berbalik badan, justru dirinya malah dihadapkan dengan penampakan yang lebih mengejutkan lagi. Bukan hantu ataupun sejenisnya, tapi bisa membuat otak sehat jadi berbelok arah. Seorang cowok dengan kondisi setengah telanjang ... bukan, lebih tepatnya dia hanya mengenakan daleman dibagian bawah, kini ada di depan matanya.

"Ini gila! Tiba-tiba gue bangun dengan seorang cowok yang ... sulit dipercaya," gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Cowok itu menatap garang kearah Hana sambil menutupi badannya dengan kemeja yang tergeletak di lantai. "Tak sopan! Memasuki kamar orang lain tanpa ijin!"

"Heiiiii!! Anda yang tak sopan, Om!" Hana menunjuk kearah cowok itu penuh kesal dengan tuduhan yang dia berikan. Ingin mengeluarkan kata-kata terlakhnat, tapi bibirnya serasa kelu. Hingga akhirnya ia terduduk di lantai sambil berteriak-teriak atas apa yang dialaminya kini.

Cowok itu menghampiri Hana dan menarik lengannya dengan paksa agar berdiri dari posisi duduknya, kemudian dengan kasar dia mencengkeram dagu Hana.

Ia berdecis. "Apa ini pekerjaanmu?!" Kemudian tersenyum licik. "Iya, benar ... demi uang dan kedudukan, semua wanita akan melakukan hal apapun juga. Termasuk mengorbankan harga dirinya bahkan tubuh sekalipun!"

Dia mendorong Hana hingga terhentak ke dinding, membuat selimut yang menutupi tubuhnya ikut melorot ke lantai. Karena marah atas ucapan dan tuduhan yang diterimanya, benda itu hanya ia abaikan. Kemudian berjalan dan kembali mendekati cowok itu seolah tak terpengaruh dengan wajah sangar yang sedang menatapnya tajam.

Tersenyum sambil bersidekap dada dihadapan cowok itu seolah menantang. "Anda pikir saya ini gadis macam apa ... menjual diri karena uang?!" Sebuah tamparan langsung diberikan Hana tepat di pipi cowok itu.

Tamparan itu langsung membekas di pipinya yang kini tampak memerah. Ditambah lagi dengan emosinya yang seolah naik ke ubun-ubun mendapatkan perlakuan dari Hana. Bahkan seumur hidup pun, ia belum pernah mendapatkan sebuah tamparan. Dan kini, dengan mudahnya gadis kecil ini melakukannya.

"Dengar, ya, om-om mesum! Saya bukan seperti yang anda katakan! Kedudukan, uang ... itu tak ada apa-apanya dengan harga diri. Itulah perbedaan pemikiran antara orang berpendidikan dengan orang yang ..." Hana menghentikan perkataannya. Ia menarik napasnya dalam. "Apa yang Anda lakukan pada saya?!" tanyanya sadar dan kembali ke pokok permasalahan.

Dia memandang kearah Hana dari atas hingga bawah ... kemudian tersenyum di sudut bibirnya. "Apa menurutmu, gadis sepertimu adalah tipeku? Nggak ada yang menarik sedikitpun apalagi menggairahkan," ungkapnya seolah meledek fisik Hana.

Tangan Hana mengepal saat mendengar perkataan cowok itu, yang lebih tepat seperti sebuah ejekan.

"Dasar om-om hidung belang! Bisa nggak, sih, jangan bawa-bawa fisik?! Saya ini masih SMA, masih ABG ... yakali body saya harus bahenol, dada saya harus ukuran big size. Keterlaluan!"

"Apa?" tanyanya sedikit kaget saat mendengar Hana mengaku sebagai anak SMA.

"Apa? Jangan sok kaget! Om mau saya adukan ke KOMNAS perlindungan anak karena sudah berbuat tak senonoh pada saya yang masih di bawah umur!?"

Dia menjentikkan jarinya dihadapan Hana. "Heii ... bangunlah dari tidurmu. Kamu kira saya ini jenis laki-laki seperti apa, yang meniduri bocah sepertimu? Bahkan terlihat tak meyakinkan kalau dirimu sudah mengalami yang namanya puberitas."

Lagi-lagi perkataan itu selalu saja mengarah pada fisik.

Hana kesal dan kali ini kekesalannya sudah berlipat ganda. Ia mendorong cowok itu hingga mundur satu langkah ke belakang.

"Keterlaluan! Katakan apa yang sudah Anda lakukan sama saya!"

"Hentikan!"

Hana tak menghiraukan bentakan itu. Ia hanya fokus dengan kemarahannya. "Apa yang Anda perbuat sama saya, hah! Katakan ... katakan!!!" Ia berteriak-teriak histeris.

Kali ini tangannya malah ditahan. "Lepasin!"

"Tak mengakui perbuatanmu, tapi malah terus mendekatiku. Oke ... sepertinya kamu memang menginginkannya, ya?"

Hana terdiam mendengarnya. Tapi secara tiba-tiba, satu tangan cowok itu sudah berada di pinggangnya dan sebelah lagi mengunci kedua tangannya.

"Ini, kan, yang kamu mau?"

"Menjauh dariku!" bentak Hana.

Dengan cepat, ia malah menciumi lekukan leher Hana ... meskipun gadis itu menolak dan berusaha menghindarinya. Inilah akibat jika berurusan dengannya. Seolah olah ancaman yang yang dilontarkan padanya, justru malah berbanding terbalik.

"Ini, kan, yang kamu mau?!"

"Lepasin aku!!!"

Bahkan saat ini tangan Hana sudah terlepas dari cengkeramannya, tapi tak membuat gadis itu bisa melarikan diri dari hadapannya.

Entah berapa goresan yang ada di punggungnya kini karena serangan dari kuku gadis itu. Benar benar gadis kecil yang nakal.

"Menjauh dariku!!" Ia terus berteriak-teriak dan mendorong om-om mesum itu dari hadapannya. Rasanya kukunya juga sudah ia kerahkan untuk menggores punggungnya, tapi tetap saja gagal.

Kali ini justru hal yang tak terduga dilakukannya pada Hana. Iya, dia mencium bibir gadis itu. Dan apa yang respon yang ia dapat? Tadinya Hana yang berontak, memukulinya, berteriak-teriak, menggaruk punggungnya layaknya singa betina yang sedang mengamuk, kini semua itu terhenti seketika. Sebuah cairan bening, hangat ... menetes dan tak sengaja, jatuh mengenai pipinya.

Hana masih terdiam membisu tanpa ekspressi saat cowok itu masih melakukan aksinya. Matanya membola, tapi cairan bening itu sudah menetes dari kelopak matanya.

'Ini hanya mimpi Hana... ini hanya mimpi ... ini hanya mimpi.'

Menutup kedua matanya, berusaha meyakinkan hatinya kalau ini semua tak benar. Ini hanya mimpi buruknya saja. Di saat bersamaan, pintu tiba-tiba dibuka dari arah luar.

"Apa yang kamu lakukan, Justin?!"

Pertanyaan itu membuat aksinya pada Hana terhenti seketika dan pandangannya beralih kearah sumber suara. Tak hanya itu, Hana yang ada dihadapannya, lebih tepatnya berada dalam dekapannya tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Nyaris berakhir di lantai, tapi dengan cepat ia menahan hingga akhirnya gadis itu berakhir di pangkuannya.

Bab 2

Seorang wanita berjalan cepat menghampiri Hana yang masih berada dalam pangkuan cowok bernama Justin itu. Ya, tentu dengan wajah penuh emosi.

"Apa yang kamu lakukan dengan gadis ini?! Kamu keterlaluan, Justin!" Ia benar-benar kesal dan emosi saat mendapati hal yang tak terduga di depan matanya.

Bahkan saat wanita itu berkoar-koar dengan penuh emosi di depannya, tak terbesit rasa takut atau rasa bersalah di wajah Justin. Toh, ia juga tak melakukan apa-apa. Oke ... mungkin hanya sekadar ciuman.

Perlahan ia berjalan menuju tempat tidur, memindahkan Hana yang masih tak sadarkan diri dalam pangkuannya. Kemudian, berjalan menuju kamar mandi seolah mengabaikan wanita itu.

Keluar dengan pakain casual lengkap. Oke ... dan justru kali inilah dirinya malah terlihat kaget. Karena apa? Di dalam kamarnya sudah terlihat beberapa orang berkumpul, termasuk kedua orang tuanya. Apa mereka semua tak ingat, kalau ini adalah kamarnya. Apa mereka semua lupa, kalau ia tak suka ada orang lain yang masuk ruang pribadinya tanpa izin?

"Ada apa ini?" tanya Justin heran. "Aku sudah bilang, kan, jangan memasuki kamarku tanpa ijin. Apa perlu ku buat di depan pintu agar semua orang bisa membacanya?!" Bicara dengan nada emosi.

"Apa yang sudah kamu perbuat pada gadis itu?" tanya seorang laki-laki paruh baya, sambil menunjuk kearah Hana yang tak sadarkan diri di kasur.

Justin tersenyum di sudut bibirnya, kemudian duduk di sofa dengan sikap cuek. "Ayolah ... kalian jangan ikut berpikiran aneh-aneh seperti yang dilakukan Alice," balasnya melirik kearah wanita yang memergokinya sedang mencium Hana.

"Aneh-aneh apanya? Justin ... aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu sedang berciuman dengan gadis itu!" Kalau bisa mengeluarkan api dari mulutnya, bisa dipastikan semua yang ada di kamar ini akan hangus disambar.

"Dan masalahnya buat kamu, apa?" tanya Justin balik.

"Tentu saja ini masalah besar buatku, Justin. Karena kamu adalah ..."

"Hentikan!" bentak Justin saat Alice ingin melanjutkan perkataannya. Iya, ia tak suka dengan kalimat yang akan dikatakan wanita itu selanjutnya.

Justin beranjak dari kursinya, kemudian berdiri dihadapan Alice. "Ralat," ucapnya. "Aku bukan sedang berciuman dengannya, tapi lebih tepatnya lagi justru aku yang menciumnya. Aku yang menciumnya, Alice. Paham?!"

Alice berniat menampar Justin, tapi tentu saja ia tak akan membiarkan itu terjadi. Dengan cepat Justin menyambar tangan wanita itu dan menghentakkannya dengan kasar.

"Jangan coba-coba menyentuhku!"

"Jangan bersikap seburuk itu pada Alice, Justin," lerai Arum, mamanya.

"Kalau Mama mau membelanya, di tempat lain saja ... jangan dihadapanku. Karena itu tak akan mempan untukku," komentarnya atas tindakan mamanya.

Di sana ada orang tuanya dan juga orang tua Alice. Bahkan beberapa kekuarga terdekat pun juga hadir. Sepertinya wanita ini dengan cepat menghubungi semua orang untuk mengadilinya. Hanya beberapa saat di kamar mandi, buktinya semua orang sudah berkumpul.

"Justin! Kamu sudah begitu keterlaluan memperlakukan Alice begitu buruk," tambah papanya Alice.

"Diam! Jangan ikut campur jika tak tahu kejadiannya!"

Satu bentakan, mampu membuat kucing liar diam seketika.

"Kalian siapa?" tanya Hana yang tiba-tiba sadar dengan ekspressi kaget di wajahnya. Ya ... bagaimana ia tak kaget, tiba-tiba malah dihadapkan dengan banyak orang. Bahkan tak ada yang dikenalinya satupun.

Semua mata kini memandang kearahnya.

Hana ingin bangun, tapi dengan cepat Justin kembali mendorong gadis itu hingga kembali ke posisi tidurnya. "Ingat, kan, kalau kamu tak mengenakan pakaian?"

Matanya langsung membola, selimut yang tadinya berniat ia singkirkan, kini justru ia tarik hingga kembali menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan wajahnya yang terlihat.

"Tuh, benar, kan ... dengar apa kata Justin. Pasti diantara mereka sudah terjadi sesuatu. Aku yakin sekali." Alice lagi-lagi tak terima dengan apa yang terjadi pada Justin dan Hana.

"Heyyy ... Tante, apa yang kamu katakan?!" tanya Hana bingung. Seakan-akan sebuah tuduhan terburuk sedang ditujukan padanya.

"Diam kamu! Gara-gara kamu semua ini terjadi. Kamu, kan, yang menggoda Justin hingga semua ini terjadi?!"

"Apa? Menggoda? Yang benar saja ngomongnya, Tante. Yakali aku godain om-om. Otakku masih normal, berjalan pada jalur yang lurus. Harusnya saya yang marah ... kenapa dia tiba-tiba tidur di sebelahku dan meluk-meluk aku?" tunjuk Hana mengarah pada Justin.

"Apa kamu bilang, Tante? Kamu pikir saya ini Tante kamu?"

"Bukan Tanteku, tapi lebih tepatnya mirip tante-tante," ungkap Hana jujur. Kalau bohong, kan, dosa. Ya kan gaes.

Justin hanya bisa memijit kepalanya dengan semua yang terjadi malam ini. Iya, ini masih tengah malam dan semua keluarganya malah membuat masalah di kamarnya.

"Semuanya keluar!" perintah Justin.

"Apa?!" Alice malah kaget mendengar suruhan Justin.

"Apa kamu nggak dengar? Keluar dari kamarku, sekarang!"

"Justin! Gadis itu ..."

"Keluar sekarang!"

Iya, semua keluar dari kamar itu, termasuk Hana yang dengan cepat beranjak dari posisinya. Dengan masih melilitkan selimut di badannya, ia berjalan menuju pintu keluar. Sungguh, saat mendengar perintah Justin yang terkesan menakutkan itu membuatnya bergidik ngeri juga. Layaknya mendengar auman seekor singa jantan yang siap mengamuk.

"Aku tidak memintamu keluar, kan?"

Langkah Hana terhenti seketika, kemudian berbalik badan mengarahkan pandangannya pada Justin. Semua orang yang posisinya juga sudah berada di luar kamar menatap aneh perkataan Justin. Termasuk Alice.

"Siapa?" tanya Hana.

"Kamu."

Mendengar perkataan Justin, membuat Alice seakan ingin mengeluarkan taring panjang.

"Om, aku ini seorang gadis. Dan kini hidupku sudah punya masalah besar denganmu. Jadi, apalagi mau mu? Apa belum cukup mengambil ciumanku? Apa belum cukup dengan tidur dan memelukku?"

Astaga! Keingat ciuman membuat otaknya jadi seakan begeser. Tak tahukah laki-laki ini kalau itu adalah ciuman pertamanya?

"Kalian berdua keterlaluan!!" pekik Alice.

Justin mendekati Hana dan tersenyum licik. "Nanggung, kan? Lebih baik ciptakan masalah besar sekalian," komentar Justin sambil menaik-turunkan alisnya menatap dan menghampiri Hana.

Hana hanya membalas perkataan Justin dengan ekspressi bingung. "Apa maksudmu?"

Tak menjawab pertanyaan Hana, ia justru menarik gadis itu kembali dan menutup pintu kamarnya dengan cepat.

"Justin!!"

Itu adalah teriakan terakhir dari Alice yang terdengar. Kemungkinan besar wanita itu sedang heboh di luar sana mengeluarkan omelan dan kekesalannya. Ya ... ia sudah hapal betul seperti apa kepribadian buruk seorang Alice. Sudah tak diragukan lagi.

"Om maunya apa, sih?!" Hana berteriak-teriak di depan Justin "Sudah cukup masalah tadi, jangan ditambah lagi. Sekarang, buka pintunya karena aku mau keluar!"

"Sudahlah, aku juga nggak akan berbuat macam-macam padamu," ujar Justin menyentil dahi Hana dan berjalan menuju tempat tidur.

Apa yang dia katakan? Nggak mau berbuat macam-macam padanya, tapi malah mengurungnya di sini. Apa dia tak berpikir kalau orang-orang yang ada di luaran sana lah yang sedang memikirkan apa yang tengah terjadi di dalam sini.

"Sebenarnya maumu apa, sih? Aku bingung, loh."

"Sudah ku katakan, kan ... aku hanya ingin membuatmu dalam masalah yang lebih besar saja," jawab Justin santai.

Haruskah ia menertawakan dirinya sendiri yang punya banyak masalah, tapi om-om ini malah kekurangan masalah.

"Apa hidupmu kurang bermasalah, hingga ingin menciptakan sebuah masalah? Terserah. Tapi jangan mengajakku dalam masalahmu!"

Justin duduk di pinggiran tempat tidur. Menatap gadis yang masih terlihat cemas di depannya. "Sadarlah. Sebenarnya bukan aku yang membuat masalah, tapi kamu. Ini kamarku, apa otakmu sedang tak beres hingga sampai memasuki kamarku?"

Hana sedikit terdiam dan tertunduk dengan tampang bersalahnya. "Oke, aku minta maaf dibagian itu. Soalnya di acara tadi dikerjai teman-temanku hingga mabuk dan ..."

Justin berdecak sambil bersidekap dada. "Waww ... apa ini tak terlalu berlebihan? Masih SMA, kan ... dan sudah minum-minum?"

Hana memandang kesal kearah Justin. "Om, bisa dengar apa yang ku jelaskan, tidak? Aku dikerjai teman-temanku. Paham?"

"Tak meyakinkan," balas Justin kembali berfokus pada ponsel di tangannya.

Hana sekarang bingung harus berbuat apa. Berteriak? Yakali. Di depan pintu kamar ada keluarga laki-laki ini saja, mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Hana menyambar pakaian miliknya yang tergeletak di lantai dan berjalan menuju kamar mandi. Setidaknya ia tak membuat mata laki-laki ini terus berfokus pada tubuhnya. Mengatakan bodynya tak menggairahkan, tapi malah menciumnya? Apa maksudnya coba.

Setelah mengenakan pakaiannya, ia menyambar ponsel miliknya yang ada di nakas. Kemudian mencari kontak orang tuanya. Apa-apaan maksud orang ini mengurungnya di sini? Apa dia seorang pembunuh berdarah dingin? Atau, pedofil?

"Hallo, Pa ..."

Mendengar itu, Justin yang tadinya abai, langsung beranjak dari duduknya dan merebut ponsel milik Hana dengan cepat. Tapi tak berhasil karena gadis itu malah mempertahankannya.

"Berikan padaku," pintanya memaksa.

"Papa ... bantuin aku! Aku dikurung sama cowok ..."

Belum selesai perkataannya, Justin berhasil mengambil alih ponsel miliknya. Kesal, dengan cepat ia mengambil sebuah bantal dan memukuli Justin dengan benda itu.

"Keluarin aku dari kamar ini, Om. Aku nggak mau di sini!" teriaknya masih memukuli Justin.

Justin dengan sengaja mendorong Hana ke tempat tidur ... kemudian dengan cepat menindih gadis itu agar tak bisa berbuat apa-apa.

"Lepasin aku!!" pekiknya terus berontak saat kedua tangannya ditahan oleh Justin.

"Ya ampun, kenapa kamu seliar ini, hem?"

"Biarin!"

"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu," komentar Justin.

"Kenapa? Apa aku harus tersenyum manis padamu? Apa aku harus menunjukkan sikap lembutku padamu? Nggak akan!"

Justin tersenyum. "Hana," gumamnya mengarah pada bandul kalung yang melingkar di leher Hana. "Nama yang bagus," tambahnya memuji.

"Terimakasih. Tapi maaf, pujianmu tak membuat rasa kesalku padamu hilang, Om. Jadi, lepasin aku! Aku nggak mau di sini denganmu. Orang tuaku pasti nyariin," jelasnya kembali heboh.

"Jangan bicara lagi, aku pusing mendengar suaramu yang cempereng itu."

"Om ... lepasin aku," rengeknya berlanjut.

Justin semakin mendekatkan wajahnya pada Hana. "Apa aku harus menciummu lagi, agar bibirmu itu bisa diam seketika?"

Belum kejadian, tapi ancaman Justin sukses membuatnya bungkam seketika sambil menggigit bibir bawahnya.

"Awas saja kalau sampai melakukannya lagi," umpat Hana.

"Jangan mengancamku balik."

"Kenapa? Om pikir aku takut padamu?"

Justin lagi-lagi tersenyum mendapatkan sikap seperti itu dari Hana. Biasanya nggak ada wanita yang berani melawannya, bahkan Alice sekalipun. Tapi kali ini, ia seolah kalah oleh seorang anak SMA.

"Jangan menatapku dengan tatapan mesum seperti itu," komentar Hana saat merasa kalau Justin terus menatapnya. Ia tertawa receh. "Jangan bilang kalau tiba-tiba Om ..."

"Benar sekali, aku menyukaimu," timpalnya langsung mencium bibir Hana.

Hana kaget dengan apa yang dilakukan Justin padanya. Bahkan, saking kagetnya ia seolah hanya bisa diam membatu. Seperti sebuah aliran listrik sedang menjalar memasuki aliran darahnya, hingga ia dibuat tak sanggup untuk bergerak sekalipun.

Justin yang tadinya mencengkeram pergelangan tangan Hana, perlahan beralih pindah ke telapak tangan gadis itu ... seolah menautkan dengan tangannya. Ya, ia merasakan rasa kaget Hana dari genggaman tangan itu yang mengerat.

Justin awalnya hanya berniat membuat Hana diam, tapi lama kelamaan ia malah menikmati ciuman itu. Rasa yang benar benar membuatnya seakan tak ingin melepaskan.

Hana seolah bingung dengan apa yang ia rasakan. Perasaan apa ini? Kenapa ia malah seolah pasrah mendapatkan perlakuan ini dari Justin?

Sebuah hantaman di pintu kamar, sontak membuat keduanya kaget. Bahkan ciuman yang dilakukan Justin pun terhenti seketika dengan posisinya yang masih berada di atas tubuh Hana.

"Hana!!"

Bab 3

Mata Hana melotot, mendapati siapa yang menghampirinya kini. Sontak, dengan cepat ia mendorong Justin yang masih berada di atas badannya, hingga menyingkir. Setelah itu ia segera beranjak dari tempat tidur dengan tampang cemas.

"Papa," ujarnya menghampiri seorang laki-laki paruh baya.

"Apa yang kamu lakukan?!" tanya laki-laki paruh baya itu dengan wajah penuh emosi. Bagaimana ia tak emosi, mendapati anak gadisnya malah beradegan seperti itu di depan matanya sendiri. Mending kalau hanya dapat info dari orang lain, lah ini justru melihat langsung.

"Aku nggak lakuin apa-apa, Pa," jawab Hana. "Dia yang bikin masalah buatku," tambahnya menunjuk kearah Justin yang masih duduk di pinggiran tempat tidur dengan ekspressi santai, seolah tak sedang terjadi masalah apa-apa.

Emil, papanya Hana menatap tajam kearah Justin. Perlahan melangkah untuk semakin mendekat. Tapi tiba-tiba dahinya berkerut saat memikirkan sesuatu ketika mendapati siapa yang sedang berhadapan dengannya kini.

"Kamu Justin, kan?"

"Benar," jawab Justin singkat.

Rasanya ia ingin meluapkan rasa emosinya pada Justin saat mengingat kejadian barusan. Tapi semua rasa itu seolah terhenti ketika mengingat siapa sosok Justin sebenarnya.

"Ada masalah?" tanya Justin balik pada Emil.

"Apa yang kamu lakukan pada putri saya?!"

Justin beranjak dari duduknya, kemudian berdiri dihadapan Emil. "Saya nggak melakukan apa-apa dan ini juga bukan salah saya. Tanya pada putri Anda, kenapa ini semua bisa terjadi?"

"Yang benar saja kalian menyalahkan Justin untuk masalah ini. Sudah jelas sekali kalau gadis ini yang menggodanya. Kalian benar-benar membuat masalah dalam keluarga saya!"

Alice muncul lagi, karena masih tak terima kalau Justin berurusan dengan Hana. Apalagi cowok itu malah memilih dia. Lalu, bagaimana nasibnya selanjutnya?

"Diam! Ini bukan urusanmu!" bentak Justin pada Alice.

Alice memang takut pada Justin, tapi untuk urusan kali ini ia tak mau ambil resiko terburuk. "Justin, aku berhak ikut campur untuk masalah ini, karena aku ..."

Perkataan Alice terhenti seketika saat tatapan tajam itu mengarah padanya. Seperti sebuah badai yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Justin, jangan membentak Alice seperti itu lagi. Ingat, dia itu ..."

"Semuanya bisa diam, tidak! Atau silahkan keluar dari kamarku!!"

Oke ... semuanya diam saat Justin sudah mengeluarkan suaranya. Bahkan, orang tuanya dibuat terdiam. Bukan apa-apa, hanya saja mereka tahu seperti apa watak Justin yang kalau semakin dilawan dan dibantah, justru akan semakin menjadi-jadi. Dia tak akan melihat status sekalipun saat emosi.

"Han, jelasin sama Papa apa yang sebenarnya terjadi?! Dan jangan katakan kalau kamu sudah melakukan kesalahan terbesar itu!"

Ia pastikan dirinya akan habis kena marah sama papanya. Ini bukan hanya larangan pacaran yang dilanggarnya, tapi lebih parah lagi. Jangan sampai dirinya didepak dari silsilah keluarga hanya karena kesalahan yang nggak jelas ini.

"Hana!" Bentak Emil saat Hana masih diam membatu.

"Aku nggak lakuin apa-apa, Pa. Beneran," ungkapnya memastikan. Tapi entahlah, ia juga tak tahu apa yang sudah terjadi.

"Apa yang kamu katakan!? Kamu mau membuat nama orang tuamu dan keluargamu buruk di mata semua orang. Begitukah?"

"Papa ... semalam aku mabuk dan salah masuk kamar. Tapi aku pastikan antara aku dan dia," tunjuknya kearah Justin yang masih diam tanpa rasa cemas. "Nggak terjadi apa-apa. Aku yakin itu."

Mendengar penjelasan Hana, langsung saja ia layangkan tamparan kearah wajah gadis itu. Tapi terhenti saat Justin justru menahannya tangannya.

"Jangan lakukan itu pada Hana," komentar Justin.

Kalau Hana salah, mungkin ia akan biarkan tamparan mendarat di pipi gadis itu, tapi di sini dia hanya melakukan kesalahan kecil. Hanya salah masuk kamar. Dan ia juga tak melakukan apa-apa pada Hana, pun sebaliknya. Hanya saja di saat semua orang muncul, keduanya sedang beradegan mesra. Itulah yang jadi pemicu.

Kebayang, kan, gimana tampang juteknya Alice saat mendapati sikap baik Justin pada Hana? Bahkan sebagai wanita terdekat dalam kehidupan Justin, ia tak pernah diperlakukan sebaik itu.

"Saya tahu kalau ini salah, tapi jangan melakukan kekerasan itu padanya. Lagian, saya juga nggak melakukan apa-apa pada Hana. Dan itu saya pastikan." Justin meyakinkan Emil.

Emil memandang ketus kearah Justin. "Mendapati putrinya berada di dalam satu kamar dengan seorang laki-laki, bahkan sedang beradegan ..." Ia tak bisa mengucapkan perkataan itu. "Apa menurutmu sebagai orang tua, saya tak merasa cemas? Dia itu seorang gadis, masih SMA ... meskipun tak melakukan hal yang lebih, tetap saja namanya sudah dipandang buruk!" jelas Emil.

Hana mulai menangis. "Tapi beneran, Pa ... aku nggak lakuin apa-apa." Ia tak menyangka jika masalah ini dampaknya begitu buruk. Kalau tahu begini, mending tadi tak menelepon papanya.

"Diam! Pernyataanmu bahkan tak mempengaruhi penilaian Papa padamu, Hana!"

"Sudah saya katakan, jangan membentaknya lagi!" Kali ini Justin merasa tak rela saja kalau Hana dimarahi, meski oleh orang tuanya sekalipun.

Emil menarik lengan Hana dengan kasar dari pegangan Justin, kemudian memandang dingin pada cowok itu. "Saya tahu kalau kamu punya pengaruh besar dalam bisnis, tapi untuk urusan pribadi, tetap saja itu beda arah!"

Setelah menyatakan rasa sakit hatinya itu, Emil membawa paksa Hana dari sana dengan paksa. Bahkan ia mencengkeram tangan putrinya itu, bentuk rasa marahnya.

"Sakit, Pa," isaknya saat cengkeraman papanya terasa menyakitkan di lengannya.

Seperginya Emil dan Hana dari sana, Alice mendekati Justin yang masih berdiri diam di posisinya.

"Kamu lihat, kan, sekarang? Bahkan papanya saja memandangnya buruk. Sementara kamu seolah terus membelanya tanpa memikirkan perasaanku." Menyentuh wajah Justin dengan lembut, tapi sikapnya malah dibalas kasar oleh Justin yang menyentakkaan tangannya.

Justin masih diam. Pikirannya seolah fokus pada Hana.

"Apa yang terjadi padamu? Apa yang telah dia lakukan padamu hingga membuatmu lupa diri? Ini baru beberapa jam dan kamu sudah berhasil dipengaruhi oleh gadis SMA itu!"

Tadinya tak menghiraukan ocehan Alice, tapi makin dibiarkan justru mulut wanita ini seakan-akan tak berniat diam.

Menatap ke arah orang tuanya. "Ma, Pa ... tolong bawa dia pergi dari sini sebelum sesuatu yang buruk ku lakukan padanya!"

"Justin!" Bentakan itu berasal dari papanya Alice.

"Sekarang!" Matanya memerah menatap tajam kearah laki laki paruh baya yang sepertinya tak rela saat Alice ia perlakuan buruk.

Iya, bentakannya itu membuat orang tuanya dan orang tua Alice segera berlalu dari sana. Termasuk Alice yang masih tak terima dengan perlakuan Justin padanya.

****

Emil menyeret Hana hingga ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Beberapa kali gadis itu terjerembab atas tarikan Emil, tapi dengan tanpa rasa kasihan dia menarik kembali gadis itu hingga berdiri.

Arini yang saat itu berada di kamar langsung bergegas mengikuti langkah anak dan suaminya menuju lantai atas. Apalagi tangisan Hana begitu jelas terdengar, membuat rasa penasarannya semakin menjadi.

"Ada apa ini? Kenapa memperlakukan Hana seperti itu?" tanya Arini tampak kesal pada suaminya.

"Tanya pada putrimu, apa yang sudah dia lakukan," ungkap Emil menunjuk kearah gadis yang kini terduduk di lantai kamar sambil menangis.

Arini menghampiri Hana. "Ada apa, sih, Han? Bilang sama Mama."

"Ma, aku ..."

"Putri satu-satunya di rumah ini, melakukan kebodohan yang membuat hidupnya hancur. Bahkan keluarga kita akan ikut hancur gara gara kelakuannya!"

"Apa?" Arini semakin dibuat bingung.

"Dia berada dalam satu kamar dengan seorang laki-laki. Dan kamu tau apa yang ku dapati saat masuk? Mereka malah sedang beradegan ..." Ia memijit pelipisnya. Kepalanya seakan mau meledak mengingat kejadian itu. Berharap penampakan itu hilang dari ingatannya.

Arini kini memandang kearah Hana. "Apa benar itu, Han?" tanyanya seolah tak percaya. Bahkan berharap ini semua nggak benar.

Tangis Hana semakin menjadi-jadi. "Enggak, Ma ... aku nggak lakuin apapun. Aku hanya salah masuk kamar dan ..."

"Jadi, apa menurutmu yang Papa dapati saat masuk tadi adalah sebuah kebohongan. Begitukah?"

Arini benar-benar merasa shock dengan kejadian ini. Berharap Hana akan menjadi gadis yang benar, justru malah membuat masalah besar. Ia memang tak menyaksikan langsung, tapi mendengar kalau suaminya bicara begitu tentu saja ia percaya.

"Dan asal kamu tahu, laki-laki yang bersamanya adalah Justin," tambah Emil mengungkapkan.

"Apa?!" Arini kaget.

Bukan apa-apa, hanya saja Justin bukan orang sembarangan dalam bidang bisnis. Untuk itulah, semua bisnismen pasti mengenalnya ... yang kalau bermasalah dengan dia, pasti akan dibuat kalah telak. Tapi sekarang justru Hana malah menciptakan masalah itu dengan Justin.

"Apa semua orang mengetahui kejadian ini?" tanya Arini pada Emil.

"Keluarga dia ada di sana saat kejadian."

"Astaga, Hana! Jujur saja, Mama kecewa sama kamu! Karena masalah ini, kamu sudah membuat keluarga kita bermasalah dengan orang yang tak tepat. Semuanya hancur!"

Saking kesalnya, Arini sampai mengumpat pada Hana habis habisan. Ia seolah melupakan kalau gadis yang masih menangis itu adalah putrinya.

"Tapi aku nggak lakuin hal apapun sama dia, Ma. Bahkan sampai saat inipun ku pastikan kalau aku masih gadis," jelas Hana memastikan.

"Meskipun begitu kenyataannya, tapi tetap saja tak semua orang bisa berpikiran positive! Mana ada gadis baik-baik berada dalam satu kamar dengan seorang laki-laki! Pikir dong, Hana ... pikir!"

Emil menarik napasnya panjang, berusaha menahan emosinya agar tak makin menjadi.

"Mulai sekarang, kamu nggak boleh keluar dari kamar! Nggak akan ada lagi shooping, jalan-jalan, apalagi sekolah! Diam di kamar adalah hukuman yang harus kamu jalani, Hana!"

Arini melangkah keluar dari sana diikuti oleh Emil. Tak hanya itu, dari luar keduanya bahkan mengunci pintu kamar.

Apalagi yang ia lakukan kini kalau bukan menangis. Ya, menangisi kebodohan yang telah dilakukannya. Menyesal karena menghubungi papanya. Berharap membantu, justru masalahnya bertambah besar.

Sekarang apalagi kalau bukan hanya diam di kamar layaknya seorang penjahat yang di penjara karena sudah melakukan tindakan kejahatan. Menghabiskan hari-hari penuh kebosanan sampai mati. Ia akan mati konyol di kamar ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED