Bab 1

"Dosa apa yang hambamu ini lakukan ya Tuhan, mengapa bisa terus-terusan berurusan dengan pria ini, apa dia sengaja membuntutiku atau memang sudah takdir untuk terus berurusan dengannya? "Setakut apapun saat ini ana pada majikannya itu, namun dia tetap bisa membuat ekspresi wajahnya setelah mungkin untuk menutupi ketakutannya itu.

Ehenm…ehenm

Ana langsung berdehem untuk mencoba mencairkan suasana yang seketika langsung berubah terasa mencekam di sekitarnya itu, seakan-akan ada aura jahat yang berada di sekelilingnya saat ini, sampai-sampai bulu tengkuknya langsung bangun karena merinding.

"Hei, kenapa sekarang kedua pria ini malah saling bertatapan seperti permusuhan begitu? Mereka tampaknya sudah saling mengenal "batin ana saat melihat ulah keduanya itu.

"Sepertinya aku harus menghindar dari sini secepatnya," batinnya lagi.

Ehenm…

" Maaf kak Al, sepertinya perut ana tiba-tiba sakit, ana ingin pergi ke toilet sebentar ya? "Ujar ana meminta izin.

"Ya, jangan lama-lama ya ana," pesan Aldo, Semarang apapun dia saat ini saat bertemu pria yang menabrak anak barusan, Aldo masih bisa berusaha untuk bersikap lembut kepada gadis itu.

"Iii…iya kak,"sahur ana. Lalu langsung berlarian ke arah toilet demi meninggalkan kedua pria yang tengah saling melemparkan tatapan permusuhan itu.

"Huh tanda kok seru benar-benar kekanakan, aktingmu benar-benar hebat, bisa bersikap selembut itu kepada seorang gadis!" Ejek Aris.

"Hahahaha kau terlalu memuji teman, "sahut Aldo seraya tersenyum menyeringai.

"Hah aku rasa aku tak sedang memujimu, akan tetapi aku sedang memojokkanmu!" Sahur hari seraya melemparkan tatapan membunuhnya ke arah Aldo.

Prok…prok …prok…

Aldo langsung bertepuk tangan saat mendengar ucapan pria itu.

"Hahaha benarkah? Salam pertemuan wahai teman tapi musuh! Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang direktur CTIA group di sini, yang begitu terkenal dengan sebutan panggila kerja, sampai-sampai begitu jarang menampakkan batang hidungnya di tempat umum, hanya karena sibuk mengurus pekerjaannya, kau takut bisnismu akan dikalahkan oleh perusahaan 6 gong group bukan? Aku tahu kau dan juga semua karyawanmu tak memiliki otak jenius seperti orang-orang yang ada di perusahaan Samgong group "eject Aldo, lalu tersenyum menyaringnya ke arah alis sambil bersedekap.

Sementara Aris tampak semakin menegaskan rahangnya dan juga mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Aldo barusan, yang begitu meremehkan dan juga menginjak-injak harga dirinya itu, ditambah lagi malam ini Aris benar-benar tak menyangka bisa melihat pemandangan seorang anak pembantunya itu, tengah berjalan dengan salah satu anggota keluarga musuh bebuyutannya itu di tempat seperti ini.

"Cih…"ujar Aris berdecih. Sembari menatap Aldo dengan pandangan yang juga tak kalah remehnya.

"Aku sendiri pun juga benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan calon ahli pewaris perusahaan Sam gong group di tempat seperti ini, bukankah rumor mengatakan kalau calon ahli pewaris samgong group paling benci berkeliaran di tempat Rama seperti ini? Dan juga paling benci jika berbaur dengan masyarakat kelas bawah!? "Balas Aris sembari melemparkan tatapan yang sangat menusuk kepada pria remaja yang ada di hadapannya itu.

Walaupun Aldo masih SMA, tetapi Aris bisa tahu kalau sifat anak remaja yang ada di hadapannya itu benar-benar menurun kepada kakek moyang serta kedua orang tuanya yang terkenal begitu angkuh dan sombong itu karena kekayaan mereka.

Ibaratkan peribahasa buah tak jauh jatuh dari pohonnya.

"Dan lebih parahnya lagi kau ke sini bersama seorang perempuan kelas rendahhan yang sama sekali tidak masuk dalam kategori tipe wanita idamanmu!" Tambah Aris lagi lalu tersenyum licik, karena berhasil memojokkan dan membalas penghinaan pria itu padanya barusan.

Aris pernah mensource di Google tentang berita perusahaan Sam gong group tersebut. Karena sudah lama beberapa tahun ini terus-menerus menjadi pesaing ketat perusahaan keluarganya itu.

Sehingga tanpa sengaja matanya sempat melihat artikel tentang kriteria wanita idaman calon ahli pewaris sang group itu. Walaupun saat ini Aldo masih duduk di bangku SMA, akan tetapi seluruh keluarganya sempat membeberkan ke para awak media kalau perusahaan mereka akan diteruskan oleh putra bungsu satu-satunya itu.

"Ayah, ibu kali ini aku menyalahkan kalian, andai kalian tak menggambar-gemborkan putramu ini ke sosial media atau ndak, mungkin sampai sekarang anakmu tak akan pernah mendapatkan penghinaan seperti ini," gumam Aldo kesal.

Setelah itu dia pun langsung memutar otaknya cepat demi mencari-cari keburukan yang ada pada pria.

"Ayo, memori buruk hadirlah! Walau bagaimanapun juga aku harus membalas perkataan pria ini dengan perkataan yang tak kalah menyakitkan," gumam Aldo dalam hatinya, sambil terus berpikir. Tak lama setelah itu dia pun langsung tersenyum menyeringai, karena sudah berhasil menemukan keburukan yang ada pada pria itu.

"huh, apa kau tak tahu, kalau selama beberapa tahun ini sempat berdesa gosip yang begitu memalukan tentang dirimu? Dan sempat menjadi trending topik yang paling enak untuk dibahas, bahkan para awak media terus berlomba-lomba untuk mengoreknya demi meremehkan acara stasiun televisi mereka? "Ujar Aldo angkuh saat berhasil menemukan kelemahan pria itu.

"Satu lagi, kau harus tahu ini, kenapa bisa kau menjadi bahan gosipan para netizen, walau sesungguhnya kau itu bukanlah pria penjahat kelamin, ataupun pria yang bersifat buruk seperti kebanyakan pria lainnya, bahkan identitasmu juga sangat tertutup rapat dari dunia luar, jawabannya adalah karena kau dikira important oleh semua orang, gara-gara tak pernah berkencan dengan wanita manapun selain dengan kakakku di saat 3 tahun yang lalu, padahal usiamu saat ini sudah hampir memasuki kepala tiga, terlalu lucu bukan? Pria dewasa dan kaya sepertimu tak pernah berkencan dengan para wanita manapun selain dengan kakakku, seharusnya sekarang kau sudah menikah dan memiliki seorang anak, orang-orang yang usianya lebih mudah darimu saja sudah banyak yang memiliki momongan, sementara kau masih saja membujang, dan juga menjadi perjaka tua sampai sekarang! "

"Kau, benar-benar anak kurang ajar! Persis seperti ibumu, mulutmu benar-benar harus dikasih plester, agar tak sembarangan bicara!" Bentak Aris

Dia benar-benar merasa marah pada pria itu, bahkan darahnya langsung naik ke ubun-ubunnya saat itu juga. Ingin rasanya dia langsung menghajar anak muda yang ada di hadapannya itu sekarang juga, tapi mengingat ini berada di tempat umum. Dia pun langsung mengurungkan niatnya. Karena dia masih memikirkan perusahaannya, takutnya perusahaannya akan terkena imbasnya, karena konflik yang dia timbulkan, ditambah lagi Aris begitu mencintai istrinya. Walaupun keluarga Bella dikenal sangat mencemoo seluruh keluarganya karena permusuhannya sudah turun-temurun itu, akan tetapi dia masih bisa meredam amarahnya, agar tak menghajar adik iparnya itu.

"Baiklah, kali ini kau aku biarkan lolos, mengingat, saat ini kita tengah berada di tempat umum! "Ujar Aris geram sambil menggertakkan giginya menahan amarah yang sudah begitu bergejolak di dadanya saat ini.

"Eh! Kau benar-benar lelaki tak berbobot, aku rasa tak pernah benar-benar buta karena dulunya sudah pernah jatuh cinta kepada seorang laki-laki pengucap sepertimu!" Aja Aldo dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu demi menyusul ana yang pergi ke toilet tadinya.

Bab 2

"andaikan saja kedua orang tuaku masih hidup ya Allah, mungkin jalan hidupku tak akan seperti ini, "keluh ana

Ana benar-benar ketakutan saat ini, ketika membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti, apalagi saat mengingat perjalanan hidupnya sampai sekarang sedihnya justru semakin bertambah-tambah dari sebelumnya.

Saat itu ana benar-benar merasa bersedih, karena harus kehilangan kedua orang tua yang sangat dia cintai itu secara bersamaan. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, saat mereka akan pulang menuju kampung halamannya.

Sesungguhnya dulunya ana juga berasal dari keluarga yang cukup mampu saat di desanya, namun oleh karena kedua orang tuanya sudah meninggal semua harta benda peninggalan kedua orang tuanya itupun langsung ditarik oleh para rentenir, karena ayahnya sempat meminjam uang kepada mereka untuk modal usahanya.

Bahkan mereka belum sempat melunasi semua hutang piutangnya itu karena sudah meninggal duluan, sampai-sampai Anna harus ikut pamannya tinggal di kota, di saat pamannya mengajak tempo dulu. Karena pamannya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini.

Malangnya setelah beberapa tahun tinggal dengan pamannya, tempo hari pamannya langsung mengusulkan kepadanya, agar dia sebaiknya sekolah sambil bekerja saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu. Karena alasan, pamannya yang sudah tak lagi mampu untuk membiayai hidupnya. Dikarenakan anak-anaknya masih memerlukan uang yang cukup banyak, demi melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.

"Ana, kau menangis karena apa? "Tanya Aldo.

Wajahnya tampak begitu khawatir lalu membawa tubuh gadis itu kedekatannya, entah mengapa Aldo menjadi begitu Tak tega saat melihat gadis itu menangis, baru kali ini dia menaruh simpati kepada seorang perempuan, karena selama ini dia terlalu acuh kepada semua perempuan cantik yang terus-menerus mengejar cintanya, sehingga langsung membuatnya sesuka hati untuk mempermainkan mereka.

" Ah kak Aldo, sejak kapan kakak ada di sini? "Tanya ana sambil mengusap air matanya setelah menjauhkan tubuhnya dari pria itu.

"Ana kalau kamu ingin menangis, menangislah! Bahuku selalu bersiap untuk kamu melupakan segala keluh kesahmu," ujar Aldo sambil menggerakkan jamur di tangannya untuk mengusap air mata gadis itu yang masih mengalir dengan derasnya.

"Hiks...hiks...hiks...kak Aldo," Isak ana.

Ana sudah menyandarkan tubuhnya pada pria itu, Aldo langsung memeluk tubuhnya dengan erat demi menenangkannya, entah mengapa ana langsung merasa damai saat ada seseorang yang begitu memperhatikannya.

Karena ini pertama kalinya dia merasa diperhatikan oleh orang lain dari semenjak kedua orang tuanya sudah tiada, selama ini dia hanya bisa menanggung bebannya sendirian, tanpa berbagi kepada siapapun.

Dia hanya bisa menutupinya dengan tingkah yang selalu ceria ketika di hadapan orang lain, ana merasa dirinya harus benar-benar kuat untuk menjalani hidup ini sendirian, tampak kehadiran orang tuanya.

"Ana, apa kamu mau menceritakan masalahmu itu kepadaku? "Tanya Aldo lembut.

Sementara ana, tak lagi menyahuti pertanyaan pria itu, dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Untuk menumpahkan seluruh bebannya diperlukan pria itu, dia benar-benar merasa terharu karena pria itu begitu perhatian kepadanya, sehingga ana langsung mengingatkannya kepada mendiang kedua orang tuanya yang sama persis seperti Aldo.

"Baiklah, kalau kamu tak ingin bercerita kepadaku, Aku tidak akan memaksamu," ujar Aldo sambil mengusap-usap pucuk kepala gadis itu.

Hatinya terasa tersayat sayat karena pilu, saat mendengar tangis gadis itu yang terdengar begitu memilukan, seakan-akan menyimpan luka yang begitu dalam.

Setelah merasa puas menumpahkan tangisnya di dekapan pria itu ana pun langsung melepaskan pelukannya kembali untuk segera mencuci wajahnya di westafel terlebih dahulu,demi menghilangkan mata sembabnya.

" Bisakah kakak mengantarkan Ana pulang sekarang? Ana sudah mengantuk," ujar ana.

Wajahnya masih menampakkan raut wajah sedih.

" Tentu saja aku akan mengantarkan mu pulang, tapi bisakah kamu membayarku dengan sebuah senyuman, sebagai upahku mengantarkanmu kembali pulang ke rumah?! Ujar Aldo lembut sembari menatap wajah gadis itu.

Sedetikpun pandangannya tak bisa lepas dari wanita itu, berharap Ana kembali ceria dan tersenyum seperti biasanya.

"Apakah kakak yakin hanya meminta bayaran dengan sebuah senyuman saja? "Sahut Ana sembari membalas tatapan Aldo dengan menunjukkan wajah yang sedikit demi sedikit, mulai tersenyum kembali.

"Tentu saja tidak, kau harus membayarnya dengan sebuah ciuman "sambil mendekatkan wajahnya ke arah ana.

Saat melihat tingkah Aldo, Ana pun langsung menjewer telinganya karena permintaan konyolnya itu.

"Aaaaaaa hentikan! Aku tidak bersungguh-sungguh, aku hanya bercanda, "ringis Aldo saat merasakan kupingnya dijewer oleh gadis itu.

"Hei, kakak terlalu lebay, padahal Ana tidak menjawab kuping Kakak sekuat itu, mengapa sampai harus ditarik seperti itu, seakan-akan Ana sudah menyiksa kakak saja," ujar anak kesal sambil memutar bola matanya karena jengah.

" Ana jeweranmu, seperti listrik yang mampu menyetrum seluruh tubuhku, tapi bedanya kalau disengat oleh listrik, akan langsung membuatku celaka, Tetapi kalau sengatan listrik darimu justru membuatku ketagihan, "ujar Aldo sambil mengeringkan matanya sebelah.

" Aaah.. sudahlah! Kakak bicara apa? "Ana kesel sekali, namun wajahnya tampak memerah karena malu, dia sudah berlarian keluar demi meninggalkan pria itu.

Sementara Aldo pun langsung berinisiatif untuk mengejarnya, saat langkahnya sudah sejajar, Aldo pun langsung mengamit lengan Gadis itu agar tak terpisah di dalam keramaian.

Sementara Ana lagi-lagi hanya bisa diam, dan membiarkan pria itu menganggap tangannya. Sambil terus melangkahkan kaki mereka secara bersama ke arah parkiran.

***

Blamm...

Aris langsung menutup pintu mobilnya dengan keras. Entah mengapa saat ini seluruh amarah dan juga emosinya, semakin meluap-luap tak tertahankan, gara-gara pertengkarannya dengan Aldo tadinya. Ditambah lagi saat tak jauh dari mobilnya itu dia juga turut menyaksikan adegan seorang anak dan juga Aldo yang terlihat mesra, tampak seperti sepasang kekasih itu.

"Sial! Berani sekal Berani sekali dia keluar rumah tanpa seizinku! "Maki Aris dalam hati, seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

Sementara itu, Nisa adik sepupunya Aris yang sedari tadi terus memperhatikan ulah kakaknya itu pun menjadi terheran-heran sendiri, karena ini adalah pertama kalinya dia melihat  kakaknya sampai segila itu.

Dugh...

Aris kembali menendangkan kakinya ke mobil.

"Kakak, kakak kenapa sih.?

Nisa pun berusaha untuk memberanikan dirinya untuk bertanya, walaupun sesungguhnya saat ini dia sedang ketakutan, tapi dia sudah tak dapat membendung rasa penasarannya lagi.

"Diam! "Bentak Aris kasar.

"Kamu itu hanya anak kecil yang tak bakal mengerti apa-apa, Dan asal kamu tahu, ini semua bisa terjadi karena dirimu! "Ujar Aris lagi. Seraya menatap tajam ke arah gadis kecil itu.

Saat ini hari sudah tak dapat menahan rasa amarahnya lagi, sampai-sampai anak kecil yang tak tahu menahu itu pun menjadi sasarannya.

"Hiks... Hiks... Nisa ingin turun, Nisa nggak mau pulang sama Kak Aris, Kak Aris jahat! "

Tangis Nisa langsung pecah saat itu juga, karena syok dengan ulah Kakak sepupunya itu. Secepat kilat gadis kecil itu sudah keluar dari dalam mobil, dengan langkah yang tergesa-gesa berjalan menuju ke arah trotoar.

Bab 3

" Nisa berhenti! "Teriak Aris seraya mempercepat langkahnya. Namun Gadis itu tak kunjung menghentikan langkahnya. Nisa, maafkan kakak, kakak hanya sedang emosi, jadi Bisakah kita pulang sekarang! "Tambah Aris lagi saat tangannya sudah berhasil menceka lengan gadis kecil itu.

"Nggak mau! Kak Aris jahat, bisa nggak mau pulang sama Kak Aris, Kak Aris nakal, huhuhu... Huhuhu... "Tangisannya semakin parah dari sebelumnya.

"Ayolah Nisa, Kakak minta maaf! Nisa Mau kan maafin kakak? Nanti Kakak beliin boneka beruang kesukaan kamu yang paling besar, jadi Mau kan maafin kakak?" Bujuk Aris lagi. Sambil mengelus-ngelus puncak kepala Nisa untuk meredakan tangisnya.

"Nisa nggak mau, bisa nggak mau pulang bareng sama Kak Aris, Kak Aris sudah jahat sama Nisa, Kak Aris jahat, hiks.. hiks..." Teriak Nisa.

Sambil tangannya mencoba untuk melepaskan genggaman tangan arus di lengannya. Namun semuanya hanya sia-sia belaka karena tenaga mereka yang tak sebanding. Sementara semua orang yang berada di situ pun langsung melihat ke arah mereka, karena mendengar kehebatan itu.

"Pak Aris, Kenapa ini? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda? "Ucap seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar di telinga Aris. Aris pun lantas menolehkan wajahnya.

"Wisnu! Kebetulan sekali kau ada di sini, tolong kau antarkan Nisa pulang ke rumah orang tuaku! Saat ini aku sudah kelelahan, Aku ingin istirahat sesegera mungkin, "ujar Aris

"Baik Pak, serahkan saja urusan ini pada saya," wajar Wisnu menyahut.

Lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis kecil itu untuk meluluhkannya.

"Sayang, ayo Om antar pulang ke rumah, ini kebetulan Om punya coklat buat kamu, tapi syaratnya kamu harus mau Om antar pulang ke rumah dulu, bagaimana, mau kan? "Tanya Wisnu lembut secara mengusap air mata gadis kecil itu.

"Ya, Nisa mau," sahut bisa akhirnya. tangisannya pun sudah mulai reda, sementara tangannya sudah mengambil bungkusan coklat yang ada di tangannya Wisnu.

" Kalau begitu saya pamit undur diri dulu Pak, "minta Wisnu lalu membungkuk hormat kepada atasannya itu, karena sudah berhasil membujuk target.

"Ya," sahur arus datar. Setelah itu dia pun langsung kembali ke mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumahnya.

***

Sudah selama 1 jam setengah Ana duduk di teras rumah majikannya itu, mungkin dengan cara begini Ana pikir majikannya itu pasti sudah tertidur dan tak akan menunggu kepulangannya ke rumah lagi. Karena bawaan malam yang semakin bertambah larut.

"Ya Allah lindungilah hambamu ini! "Doa ana.

Sebelum membuka pintu.

Kreeit...

Pintu rumah pun terbuka.

Malamnya Baru beberapa langkah Ana berjalan ke arah kamarnya tiba-tiba dia langsung dikagetkan oleh suara bentakan seorang pria yang berasal dari sofa ruang tamu rumah majikannya itu.

"Masih punya muka berani pulang ke rumah hah! Bukannya tadinya tengah berkencan dengan kekasih hatimu itu? Lantas Kenapa masih kembali ke sini? Atau jangan-jangan kekasihmu itu sudah mencampakkanmu sekarang, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan? "Suara Aris terdengar begitu nyaring sampai menggema di dalam ruangan itu.

Andaikan saja rumah mereka berdekatan dengan rumah para tetangganya mungkin saja semua tetangganya itu akan langsung terbangun saat itu juga karena mendengar suaranya yang begitu nyaring Mbak memakai microphone itu.

Untungnya jarak rumah Aris dengan para tetangganya lumayan cukup jauh, sekitar 10 m dari rumahnya. Arif memang sengaja membeli rumah yang letaknya agak jauh dari tetangga kiri kanannya, agar terhindar dari ikut campur orang lain terhadap urusan privasinya itu.

Walau bagaimanapun juga harus memang tak ingin hak privasinya itu tersebar ke khalayak keluar, terlebih karena statusnya Yang menyandang sebagai suami Bella namun hanya menikah secara diam-diam dari dunia luar dan di belakang seluruh keluarganya itu.

"Ya Allah, mengapa kau tak mengabulkan doa hambaMu yang lemah ini? "Karena sudah putus asa seluruh tubuhnya juga gemetaran karena ketakutan.

Baru kali ini Aris membentaknya dengan begitu luar biasa kerasnya, mungkin dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya Aris memang pernah membuat nyalinya sempat menciut karena takut. Namun dibandingkan dengan hari itu, kali ini kemarahan harus jauh lebih luar biasa dari sebelumnya.

"Apa kamu tak punya mulut hah! Aku sedang berbicara denganmu Kenapa kamu tak menjawab!"suara Aris semakin meninggi dari sebelumnya karena pembantunya itu tak kunjung membuka mulutnya.

Sementara itu, Ana lagi-lagi hanya terdiam, dia justru menunjukkan pandangannya ke bawah, karena semakin merasa takut pada majikannya itu.

"Semoga ini hanya mimpi, aku yakin ini hanya mimpi gumam Ana membohongi dirinya sendiri.

Sambil menggigit-gigit bibirnya agar terbangun dari mimpi buruknya itu.

"Apa kamu lupa kalau aku ini adalah majikanmu? Berani-beraninya kau keluar rumah tanpa seizinku, selama ini aku membiarkanmu keluar rumah tanpa seizin ku hanya untuk pergi ke sekolah, bukan untuk berpacaran di luar rumah, mau ditaruh di mana mukaku hah! Kalau sampai kau hamil saat tinggal bersamaku, mukaku akan langsung tercoreng di luar sana karena pembantuku hamil diluar nikah! "Aris sudah mencengkram dagu Gadis itu agar menatap ke arahnya, sementara Ana hanya meringis kesakitan dan juga kecewa karena semuanya adalah kenyataan.

"Ayo jawab! Kenapa kau masih diam, atau kau mau malam ini tidur di jalanan, Karena tak menjawab pertanyaanku?!"

Dua... Dua... Suara gemuruh Guntur menggelegar di luar sana, Lalu Tak lama setelah itu langsung turun hujan, dengan begitu derasnya karena saat ini ibukota memang tengah dilanda musim hujan.

"Ya Tuhan, bahkan kau lebih memihak pada pria ini dibanding hambaMu yang lama ini, "batin Ana

Andai di luar sana tidak turun hujan, saat ini dia pasti sudah keluar dari rumah itu.

"Ma maafkan Ana Pak, Ana tidak melakukan tuduhan seperti yang bapak katakan, Ana hanya jalan-jalan saja bersama Kak Aldo, selain itu kami tidak akan melakukan hal lainnya lagi, "sahut ana gemetaran

Air matanya sudah merembes keluar, dia tak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan pria itu agar dia tak diusir malam ini..

"Ana, kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa! Saat ini kamu sedang berbicara dengan orang dewasa, bukan dengan bocah ingusan, kau pikir aku akan langsung percaya begitu saja dengan ucapanmu itu! "Saat ini Aris benar-benar dikuasai oleh gejala amarah yang begitu mendidih.

Aris tahu sendiri siapa itu Aldo, Aldo adalah seorang pria brengsek yang suka menggonta-ganti pasangannya, apalagi saat dia mengingat status Aldo yang tidak hanya tampan dan juga mempunyai banyak uang tersebut, Aldo bisa saja mendapatkan wanita manapun yang ia mau hanya dengan sekali rayuan.

Bukankah kebanyakan orang akan menilai kalau uang adalah segalanya, begitu pikirnya. Apalagi untuk mendapatkan wanita cantik seperti Anna yang ekonominya berasal dari kelas bawahan, bagi Aldo itu adalah hal yang sangat mudah, ditambah lagi dengan statusnya yang akan menjadi pewaris sah perusahaan Sam gong group yang terus-menerus menjadi perusahaan pesaing bisnisnya turun-temurun itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED