Aku dipaksa Menikah
Aku benar-benar takut dan frustasi, ketika lelaki yang menatapku penuh intimidasi, mengatakan bahwa dirinya adalah calon suamiku, takdir apakah yang menimpaku saat ini?.
Aku tidak mau dan tidak sudi menikah dengan lelaki itu, tatapannya sangat mesum kepadaku. Lelaki yang tak aku kenal itu, lantas terus mendekati diriku.
"Bicara apa kau? Kau bukan calon suamiku, Arsen adalah calon suamiku, dia kekasihku saat ini," teriakku meralat ucapannya, kepadaku.
Lelaki itu lantas berusaha untuk menyentuh pipiku, segera aku tepiskan tangannya. Ku palingkan wajahku, ketika dia hendak mendekatkan bibirnya kearahku.
Lelaki itu tersenyum seringai kearahku, sungguh aku tak tau apa yang dia pikirkannya tentang diriku.
"Kenapa kamu sangat galak, cantik?" tanya lelaki itu seraya menggodaku.
Aku berusaha untuk menghindari dirinya yang semakin lama semakin datang mendekati kearahku.
"Jangan mendekatiku!" sergahku, ketika dirinya terus saja mendekat ke arahku.
"Kenapa? Besok kita akan menikah sayang, seluruh tubuhmu akan menjadi milikku," terangnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Sungguh aku sangat jijik kepada dirinya, mana mungkin aku mau menikah dengannya, apalagi menyerahkan tubuhku kepadanya.
"Aku tidak mau menikah denganmu!" tegasku, menatap kesal kearahnya.
"Kenapa?" tanya lelaki itu seraya menatap wajahku dengan tatapan menggodaku.
"Karena aku sudah memiliki kekasih, kau tak berhak mengatur hidupku, aku tidak mengenalimu dan kau jangan pernah memaksaku untuk menikah denganmu," tegasku, dengan menatap nyalang kearahnya.
Lelaki yang biasa dipanggil Tuan Zu, terlihat tertawa, ketika dirinya mendengarkan ucapanku.
"Hahahahaha...memangnya kau siapa? Kau hanya kutu kecil bagiku, kau adalah gadis tawanan dari orang tuamu."
Deg
Deg
Deg
Jantungku seketika berdegub dengan kencangnya, sungguh apa yang dikatakan olehnya, membuatku langsung Shock seketika.
Orang tuaku mana mungkin melakukan itu kepadaku, selama ini mereka sangat mencintaiku.
"Tidak, kamu pasti bohong!" ucapku dengan nada penuh emosi.
"Siapa yang berbohong? Orang tuamu sendiri yang membuat kesalahan kepadaku, dia melarikan diri dan meninggalkanmu di rumah sendiri," jawabnya menatap seringai ke arahku.
Deg
Sungguh aku tak bisa berkata apa-apa lagi, ketika lelaki itu menuduh orang tuaku berbuat sekeji itu kepadaku, sedangkan orang tuaku mengatakan kepadaku, kalau saat ini mereka sedang dalam tugas luar kota, itulah sebabnya orang tuaku meninggalkanku sendiri dirumah, hingga terjadilah penculikan yang menimpaku saat ini.
Seketika air mataku sudah mengalir membasahi pipiku, sungguh pilu nasibku saat ini.
"Kau tidak usah menangis, kau akan aku buat bahagia, asal kau menjadi istriku yang penurut."
"Tidak, aku tidak mau menikah denganmu, lepaskan aku!" tolakku dengan nada menjerit dan berusaha untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuhku.
"Tak ada yang bisa menolakku, aku akan tetap menjadikanmu istri ke empatku."
Mendengar ucapan Tuan Zu, membuat hatiku langsung hancur seketika, tanpa basa basi lagi, tubuhku langsung ditariknya.
Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan kepadaku. Tak lama setelah itu, Tuan Zu menarik tengkuk leherku, saat itupun dirinya memaksaku berciuman dengannya.
Aku meronta-ronta, kupukul-pukul dadanya beberapa kali, namun dia tetap tak mau melepaskan ciumannya dari bibirku.
Air mataku kembali jatuh membasahi pipiku, hingga akhirnya Tuan Zu melepaskan pagutannya, ketika nafasku mulai tersengal-sengal.
Saat itu, dia mendorongku ke belakang, Tuan Zu langsung mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jarinya.
Aku yang masih Shock, hanya terdiam terpaku menatap dirinya saja, tak lama kemudian kurasakan bibirku yang sudah basah karena bekas ciumannya, akupun segera menghapus bekas ciumannya dengan menggunakan tanganku.
Berkali-kali aku mencoba untuk menghapus bekas ciumannya, namun masih kurasakan bibirnya masih membekas dibibirku.
Tuan Zu, menatapku dengan tersenyum menyeringai, aku melihat dirinya berdiri di depanku dengan menatap penuh ke arahku.
"Kenapa kamu menghapus bekas ciumanku?" tanyanya dengan menatap tajam kearahku.
"Cih aku tidak sudi bibirmu membekas di bibirku," cibirku dengan terus menghapus bekas ciumannya.
"Kau akan menerima ciumanku setiap hari nantinya, bersiaplah, kau akan ikut denganku sekarang!" ucapnya seraya mendekat ke arahku.
"Tidak, aku tidak mau!" tolakku, seraya memundurkan langkah kakiku.
Merasa dirinya aku tolak mentah-mentah, tiba-tiba Tuan Zu langsung menarik tanganku. Dengan cepat akupun digendong dengan cara dipanggul keluar dari kamar ini.
Aku meronta-ronta saat itu, namun dia dengan santainya terus memanggul tubuhku menuju ke arah mobilnya.
Saat itulah, tubuhku langsung didorong masuk kedalam mobilnya. Setelah itu, Tuan Zu langsung masuk ke dalam mobilnya.
Dia duduk bersebelahan denganku, lalu tangannya langsung memeluk tubuhku, kutepiskan tangannya, namun tak sedikitpun tangannya bergeser dari pundakku.
"Jalankan mobilnya!" titahnya seraya terus menatap wajahku.
"Baik, Tuan," Jawab sopir dengan menutup kaca pembatasnya.
Aku melihat kaca pembatas antara kursi penumpang dengan kursi pengemudi, sudah menutup sendiri, ketika sopir tersebut memencet sebuah tombol yang ada disetir kemudinya.
Saat itulah, Tuan Zu kembali menciumku dengan penuh intimidasi. Kedua tanganku yang kecil, dicengkram dengan satu tangannya, hingga aku tak bisa melepaskan diri darinya, tubuhku dihimpit dengan tubuhnya yang besar saat itu.
Aku menangis sejadi-jadinya, ketika dia berlalu tak senon*h kepada ku, kedua buah dadaku diremasnya beberapa kali.
Saat aku sudah kehilangan tenagaku, saat itu pula dirinya melepaskan bibirnya dari bibirku. Nafasku mulai tersengal-sengal, dadaku sudah naik turun dan kurasakan tubuhnya yang tadi sedang menindihku, langsung bangkit dari tubuhku.
Tuan Zu lalu menarik tubuhku, kemudian didudukkanlah tubuhku di atas pangkuannya, dia menatap wajahku, lalu menghapus air mataku.
"Jangan menangis Ana, aku tak mau wajah cantikmu akan hilang, karena tangisanmu itu."
Aku hanya terdiam dan tak menanggapi ucapannya, aku terus memalingkan wajahku ke arah lain.
Tak selang beberapa menit kemudian, aku merasakan mobil yang aku tumpangi saat ini, sudah terparkir di depan istanahnya.
Kulihat banyak para pengawalnya di rumahnya.
Aku benar-benar bingung dan penasaran dengan sosok lelaki yang saat ini berada dihadapanku. Siapakah dirinya? Kenapa dia seperti orang yang sangat berpengaruh saat ini.
Ketika Tuan Zu keluar, dia menyambut diriku dengan memberikan uluran tangannya ke arahku, aku hanya menatap wajahnya kesal, lalu kemudian aku keluar tanpa menyambut uluran tangan darinya.
Aku lalu berdiri tepat disisinya, tanpa basa-basi lagi, tanganku dilingkarkan ke arah lengannya, lalu akupun diajak masuk olehnya.
Saat aku dan Tuan Zu, memasuki Isatanahnya, tiba-tiba aku melihat 3 orang wanita kini sudah datang menyambutnya, lalu sekilas melirikku dengan tatapan sinis.
Aku belum tau siapa mereka, namun ketika aku melihat dari gelagat ketiga wanita tersebut, aku yakin mereka adalah istri dari Tuan Zu.
"Tuan Zu, apa kamu capek?" tanya wanita yang berambut ikal.
"Tuan Zu, siapa gadis itu?" tanya wanita yang berambut lurus.
"Tuan Zu, silahkan duduk, biar aku pijit," tawar wanita berambut pendek.
Tuan Zu, tak menghiraukan mereka semua, tampak dirinya menatap wajahku terus, hingga aku terlihat sangat gugup.
"Kalian, Perkenalkan ini adalah Ana, calon madu kalian. Kami akan menikah dengannya esok pagi, jadi jangan pernah kalian membully atau berbuat kasar kepadanya," ucap Tuan Zu, menatap nyalang kearah ketiga istrinya.
Tak ada satupun dari mereka yang berani membantah Tuan Zu, terlihat mereka sedang menatapku penuh.
Sungguh akupun tak mau menikah dengan pria yang sudah beristri, seperti Tuan Zu.
Tanpa basa basi lagi, akupun segera dibawa masuk ke dalam kamarnya. Aku menolak dan meronta, namun kembali tatapannya mengintimidasiku.
"Kau tidur bersamaku atau kau tidur dengan para pengawalku?" ancamnya dengan mata dan tubuhnya mengintimidasiku.
Gleg...
Seketika akupun menelan ludahku sendiri, aku terpaksa menurutinya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kita tidur seranjang dan aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu."
Mendengar ucapannya itu, sontak membuatku langsung membolakan kedua mataku kearahnya.
"Apa Tuan bilang? Aku tidak sudi tidur denganmu." tolakku mentah-mentah.
Tuan Zu hanya mengulum senyumannya ke arahku, lalu dengan cepat tubuhku didorongnya ke belakang.
Aku sontak terkejut, ketika tubuhku langsung tersungkur diatas kasur, saat itulah dengan mudahnya dia langsung menarikku diatas ranjangnya, lalu memeluk tubuhku dari arah samping.
"Tidurlah, aku tak akan berbuat macam-macam kepadamu."
"Lepaskan aku!" aku memberontak berusaha melepaskan tubuhku dari pelukannya.
"Sekali lagi kau memberontak, akan aku telanjangi tubuhmu dan kutiduri dirimu."
Gleg..
Seketika akupun langsung terdiam dan tidak berani mengatakan apapun kepada dirinya.
"Bagus, itu lebih baik Ana, istirahatlah, karena besok adalah hari pernikahan kita.
Deg...
Jantungku mulai tak menentu, sungguh aku benar-benar tidak mau menikah dengan lelaki seperti dirinya.
"Arsen, tolonglah aku, aku sedang diculik saat ini, dan dia mau memaksaku menikah dengannya esok pagi." gumamku dalam hati.
****
Esok paginya, akupun segera dipaksa untuk memakai gaun pengantin putih yang sudah disiapkan oleh Tuan Zu, untuk pernikahan kami. Namun aku tetap menolak, aku tidak mau memakai gaun pengantin itu.
Aku menangis sejadi-jadinya saat itu, hingga akhirnya Tuan Zu datang ke kamar dan melihatku masih belum mengenakan gaun pengantinku.
Seluruh pelayan diminta keluar, setelah mereka keluar, kulihat Tuan Zu langsung menutup pintunya.
Dia menatap nyalang kearahku, tak lama setelah itu, diapun mendekat kearahku. Aku langsung memundurkan langkah kakiku ke belakang.
Tuan Zu terus melangkah maju ke arahku, matanya sudah menatap nyalang ke arahku. Tak lama setelah itu, aku rasakan tubuhku sudah mentok di tembok.
Tuan Zu lalu mengunci tubuhku dengan kedua tangannya dijulurkan di depanku.
"Kenapa kamu belum memakai gaun pengantinmu?" tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Aku tidak mau menikah denganmu." jawabku dengan nada menolak.
Tuan Zu lantas tersenyum kearahku, lalu tak lama kemudian.
Sreeek...sreeeek..
Pakaianku langsung disobeknya, dia merobek-robek pakaianku, tidak hanya itu, Tuan Zu langsung melucuti pakaianku, hingga terlihatlah tubuhku yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Tuan Zu tampak marah kepadaku, lalu dirinya mulai mengambil gaun pengantin itu dan dipakaikannya kepadaku.
"Sudah aku bilang, tidak ada satu orangpun yang bisa menolakku kali ini."
"Dengar Ana, kau jangan pernah bersikap lemah dan melawan dihadapanku, aku bisa lebih kejam kepadamu, kau pikir siapa dirimu? Kau hanya sekedar barang gadai, yang dititipkan orang tuamu kepadaku."
Aku hanya menangis saat itu, dia terus menghinaku dan mengancamku.
Sungguh aku tak bisa berkata apa-apa lagi, Tuan Zu tampak murka kepadaku, sungguh aku ketakutan saat itu, ketika dia mengarahkan sebuah pistol ke arah kepalaku.
"Dengar baik-baik, jika kau tidak mau menikah denganku nanti, kau akan tau akibatnya nanti, jadi jangan berbuat macam-macam kepadaku Ana," ancamnya seraya menodongkan pistol itu ke arahku.
.
.
Saat semuanya sudah siap, aku pun segera dibawa kesebuah Gereja, disana aku akhirnya akan mengucapkan janji suci didepan Pendeta yang akan menikahkanku nanti.
Tak selang beberapa lama kemudian, aku pun diantar seorang pengiring menuju ke tempat Tuan Zu yang ada di depan.
Pengiring itu terus saja menatap wajahku, ketika dia mengantarkanku ke arah altar untuk melakukan prosesi janji suci. dia adalah istri pertama Tuan Zu.
Ketika tubuhku sudah berdiri disamping Tuan Zu, samar-samar kulihat wajahnya terlihat menatapku penuh intimidasi.
Segera aku hilangkan rasa kegugupanku dengan terus menatap wajah Pendeta yang ada di depanku saat ini.
Saat itulah, pendeta tersebut langsung membacakan janji suci pernikahan kami.
Tuan zu mengucapkan janji sucinya terlebih dahulu, setelah selesai, akupun menjawab janji suciku kepada Tuan Zu.
Ketika semuanya sudah selesai kami mengucapkan janji suci tersebut, Pendetapun langsung membuka penutup kepalaku, lalu dihadapan semua orang, dia mencium bibirku dengan mesra.
Selesai acara pernikahan kami, akupun dibawa kesebuah tempat, dimana aku sendiri tidak tau alamatnya.
Tuan Zu lalu menggendongku dan menurunkan tubuhku, di atas ranjang pengantin yang sudah dihias sebelumnya.
Aku hanya terdiam, ku geser tubuhku ke belakang, kulihat Tuan Zu sudah melepaskan semua pakaiannya, hingga menyisakan boxer yang menempel di tubuhnya.
Dia langsung menarik tubuhku dan merobek gaun pengantinku.
Dengan tatapan penuh mengintimidasiku, Tuan Zu memerintahkan diriku untuk melayani dirinya, aku menolaknya mentah-mentah.
"Kita sudah menikah, tak bisakah kau memberikan malam pertama kita dengan cara spesial?"
"Aku tidak mau! menikah denganmu sudah membuatku cukup menderita. Tolong lepaskan aku!" tolakku seraya dengan menangkupkan kedua tanganku.
Tuan Zu menatap geram kearahku, tanpa basa basi lagi, pakaian dalam yang menempel ditubuhku, tiba-tiba dilucuti semua olehnya.
"Aku akan melakukan malam pertamaku denganmu sekarang, suka atau tidak, aku akan melakukannya kepadamu sekarang."
Deg..
Jantungku sudah berdetak tak karuan, ketika Tuan Zu dengan kasarnya merenggut kesucianku saat itu, dia menyusuri setiap lekuk tubuhku dan terus mengintimidasiku.
Aku yang melawan dirinya hanya sia-sia saja, tenagaku tak sebanding dengan tenaganya.
Dia lalu dengan kasar menerobos lembah surgawiku, hingga aku tak kuat menahan rasa sakitku, ketika dirinya merenggut keperawananku dengan cara paksa dan kasar.
"Sakiiiit...hiks..hiks..."
Bersambung
Sakit hatiku, ketika lelaki yang kini menjadi suamiku, merenggut kesucianku dengan paksa, berkali-kali aku meminta dan memohon untuk tidak melakukannya, namun apa dayaku jika lelaki itu akhirnya dengan cepat menggagahi tubuhku.
"S-sakit, tolong jangan lakukan lagi," aku merintih kesakitan, ketika Tuan Zu kembali lagi meminta haknya.
"Tahan Ana, ini tidak akan sesakit yang pertama, layani aku malam ini hingga aku puas menikmati tubuhmu," jawabnya lalu kembali menyusuri tubuhku dan kembali menerobos liang kenikmatanku.
Akupun pasrah, meawanpun percuma, aku hanya akan kehilangan tenagaku nanti.
Tuan Zu, seperti seorang yang kelaparan saat menikmati tubuhku, entah berapa kali dia menggempur tubuhku yang sudah sangat lemas dan sudah gemetaran karena melayi dirinya saat ini.
Tuan Zu tak memberiku ampun malam itu, aku bagaikan sebuah robot yang terus-terusan dia melampiaskan hasratnya kepadaku.
Akhirnya akupun jatuh limbung diatas ranjang, aku sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melayani Tuan Zu.
Tuan Zu yang sudah melihatku sudah lemas, langsung tidur disisiku dan memelukku dengan erat.
"Terima kasih Ana, aku sangat puas malam ini," ucapnya dengan meraba milikku dibagian depan.
Sungguh aku jijik mendengar kata-katanya tadi, tak ku sangka, malam pertamaku harus terenggut dengan cara seperti ini.
Aku tak bisa menahan air mataku, kutumpahkan air mataku hingga membasahi seluruh pipiku.
"Maafkan aku Arsen, maafkan aku," gumamku dalam hatiku, memanggil Arsen kekasihku.
***"*************
Pagi harinya, ketika matahari sudah mulai menyingsing, aku segera bangkit dari tempat tidurku, dengan merasakan selakanganku yang sakit, aku berusaha untuk bangkit dan meraih sebuah handuk yang ada diatas nakas. Ketika aku mulai bangkit, hatiku pilu saat melihat noda merah diatas ranjang tempat tidurku.
Kulihat Tuan Zu sangat lelap dalam tidurnya saat itu, segera aku berjalan kearah kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih.
Aku menangis ketika melihat tubuhku penuh tanda kepemilikan Tuan Zu, aku berusaha untuk menggosok-gosok tubuhku dengan sabun, namun aku merasa tubuhku masih saja tetap kotor.
Aku nyalakan shower dan kubasahi tubuhku dari atas hingga bawah, aku berharap bekas jama'an Tua Zu bisa segera hilang dari tubuhku, tapi aku masih tetap saja merasakan bagaimana bibir dan tangannya menjamah tubuhku.
Aku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak saat itu. Aku meringkup dan menekuk kedua kakiku, aku frustasi dan saat itu, terlintas dalam pikiranku untuk mengakhiri hidupku.
Saat itu, aku melihat ada kotak peralatan mandi yang ada di tembok, segera aku langkahkan kakiku menuju kearah kotak tersebut, lalu aku mulai pelan-pelan membuka kotak tersebut, kulihat ada sesuatu disana, sebuah pisau pembersih yang kuyakini ini milik dari Tuan Zu.
Tanpa berpikir panjang akupun langsung mengambil pisau itu dan aku sayatkan di nadiku.
"Ihssss...ah...," rintihku menahan sakit yang luar biasa ketika pisau tersebut sudah merobek kulitku.
Aku menangis kembali, ketika darah suda mulai bercucuran jatuh dihandukku, tatapan ku nanar ketika melihat wajahku di depan cermin itu.
Beberapa menit berlalu hingga aku pun sedikit kehilangan kesadaranku, tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar mandia.
Tok..tok...tok..
"Ana, kau ada di dalam?".
Samar-samar aku mendengar suara Tuan Zu dari arah luar.
Aku tak menjawab, aku berharap diriku mati secepatnya, ketika Tuan Zu masuk ke dalam kamar mandiku.
Tak selang beberapa lama kemudian, kembali Tuan Zu memanggil namaku denan suara yang cukup lantang saat itu. Namun perlahan-lahan kesadaranku mulai menipis hingga akhirnya tiba-tiba kurasakan gelap disana.
****
Tuan Zu, merasa ada yang aneh dengan suara gemercik air dari dalam kamar mandi, tak ada sahutan ketika dirinya berkali-kali memanggil nama Aneisha dengan sebutan Ana.
Tuan Zu, semakin geram setelah Ana melewatkan waktu yang ditentukan oleh Tuan Zu untuk segera keluar dari kamar mandi secepatnya.
"Kau jangan membuat kesabaranku habis Ana, cepat kamu keluar!" sentak Tuan Zu.
Tak lama setelah itu, Tuan Zu langsung menendang pintu kamar mandinya dengan satu kali tendangan, akhirnya pintu tersebut terbuka.
Tuan Zu langsung mulai masuk kedalam, dilihatnya tubuh istri barunya yang sudah tergeletak diatas lantai.
Tuan Zu benar-benar terkejut saat itu, hingga akhirnya diapun langsung menggendong tubuh mungil Aneisha, Tuan Zu semakin cemas ketika wajah Aneisha sudah mulai memucat.
"Ana, kau tak apa-apa? Kau jangan membuatku takut Ana," Tuan Zu terlihat sangat ketakutan.
Segeta dia menghubungi anak buahnya dan memerintahkan untuk segera menyiapkan mobilnya.
Sementara itu, Tuan Zu memakaikan pakaian untuk ana, sebelum akhirnya dia dibawa keluar menuju ke Rumah Sakit.
"Cepat buka pintunya!" seru Tuan Zu kepada sopirnya.
"Baik Tuan," jawab sopir tersebut, lalu membukakan pintu untuk Tuan Zu.
Tuan Zu langsung memasukkan tubuh Aneisha terlebih dahulu, sebelum akhirnya Tuan Zu masuk ke dalam mobilnya.
"Jalankan mobilnya!" titahnya dengan cepat
"Baik Tuan!" jawab sopir tersebut lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit.
Beberapa menit kemudian, mobil merekapun akhirnya sampai di UGD.
Segera Tuan Zu menggendong tubuh Aneisha menuju ke ruang UGD. Dengan pengawaan yang cukup ketat, akhirnya Tuan Zu berhasil memasuki ruang UGD.
Tuan Zu lalu memerintahkan Dokter, untuk segera menolong Aneisha.
"Cepat tolong dia!" ucap Tuan Zu dengan ucapan penuh intimidasi.
"Ba-baik, Tuan," jawab Dokter tersebut dengan nada gugup.
Tak selang beberapa lama kemudian, Dokter tersebut langsung menolong Aneisha, dengan cara menghentikan darahnya yang mengalir deras.
"Cepat hentikan pendarahannya!" Dokter berkata kepada perawat disana.
"Baik, Dok," jawab perawat tersebut.
Setelah Dokter tersebut berhasil menyelamatkan nyawanya, Dokter tersebut langsung memberitahukan kepada Tuan Zu.
"Bagaiamana dengan istri saya Dok?" tanya Tuan Zu kepada Dokter.
"Istri anda selamat Tuan Zu, anda datang tepat waktu," jawab Dokter tersebut bernafas lega
"Terima kasih Dok," jawab Tuan Zu menatap wajah istrinya yang terbaring lemah.
Tuan Zu, meminta istrinya untuk segera dipindahkan ke kamar VVIP, agar Tuan Zu bisa menjaga istrinya yang saat ini terbaring lemah.
"Sepertinya istri anda sedikit mengalami depresi," tutur Dokter tersebut, ketika melihat wajah Aneisha yang terlihat sangat lembab.
"Jangan bicara omong kosong Dok," elak Tuan Zu langsung menatap nyalang kearah Dokter tersebut.
Dokter itupun langsung terdiam, ketika Tuan Zu menatap dirinya dengan nyalang.
"Maaf Tuan Zu, saya tidak bermaksud mengatakan hal itu," jawab Dokter dengan wajah ketakutan.
"Pindahkam istriku sekarang juga!" titahnya lalu segera keluar dari ruangan UGD.
Beberapa saat kemudian, Aneisha dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Saat ini terlihat Tuan Zu sedang duduk disamping bankar istrinya yang terbaring lemah.
"Kenapa kamu melakukan ini Ana? Kenapa kau sungguh bodoh? Apa kurangnya aku? Disaat wanita lain ingin bersanding denganku, kau justru tertekan saat aku jadikan istriku, kau sungguh unik Ana." ucap Tuan Zu dengan mencium punggung tangan istrinya.
.....
3 hari kemudian...
Aneisha semakin membaik, Tuan Zu selalu menjaga dan selalu berada didekat Aneisha, semenjak dirinya dirawat di Rumah Sakit.
"Kau sudah lebih baik Ana?" tanya Tuan Zu, menatap wajahnya
Aneisha memalingkan wajahnya, sungguh dia tak mau melihat wajah suaminya saat ini.
Malam pertama yang menimpanya, membuatnya cukup trauma.
"Kau tak ingin berbicara kepadaku Ana?" tanya Tuan Zu tersenyum manis dihadapan Aneisha yang saat ini terlihat sangat acuh.
Tak selang beberapa lama kemudian, seorang pengawal masuk dengan mendorong kursi roda.
"Tuan, kata Dokter, Nona Ana sudah bisa dibawa pulang," ucap Pengawal tersebut.
"Baiklah, siapkan Mobil, kita akan pulang sekarang!" jawab Tuan Zu.
"Baik, Tuan," jawab Pengawal tersebut dan langsung pergi meninggalkan kamar inap tersebut.
Tuan Zu, lalu menggendong tubuh Aneisha dan mendudukkannya di atas kursi rodanya, setelah itu didorongnya kursi tersebut menuju ke lobby Rumah Sakit.
"Kita akan pulang sayang,"
Aneisha tak menjawab dia hanya terdiam seribu bahasa, ketika Tuan Zu berusaha mengajaknya untuk berbicara.
Sedikit kesal dengan sikap Aneisha saat ini, namun Tuan Zu berusaha untuk mengontrol emosinya saat itu.
Tak selang beberapa lama kemudian, mobil merekapun datang, Tuan Zu lalu mengangkat tubuh Aneisha menuju ke mobilnya, setelah itu diapun masuk kedalam mobilnya, hingga beberapa menit kemudian, mobil tersebut akhirnya berjalan melesat menuju istanahnya.
***
Sesampainya di istanah rumahnya, Tuan Zu langsung disambut oleh ketiga istrinya yang saat ini sudah menunggu dirinya.
"Tuan Zu, kau lama sekali meninggalkan kami," ucap Cellyn dengan nada manjanya
"Cellyn benar, sebenarnya kalian bulan madu kemana?" tanya Jenny menatap sinis kearah Aneisha yang saat ini duduk dikursi rodanya.
"Kenapa dengan istri ke empatmu, Tuan Zu?" tanya Lili heran.
Mendengar pertanyaan dari ketiga istrinya, membuat Tuan Zu bingung, harus menjawab pertanyaan siapa terlebih dahulu.
"Bisakah kalian jangan menanyakan apapun kepadaku? Aku baru datang dan Ana harus beristirahat, kalian jaga dia selagi aku tidak berada di rumah, pekerjaanku harus terbengkalai karena menjaga dirinya." tutur Tuan Zu menatap ketiga istrinya secara bergantian.
"Baik, Tuan Zu, kami akan menjaga istri mudamu." jawab Lilian dengan tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa curiga, Tuan Zu mempercayakan Aneisha kepada ketiga istrinya.
Tin Zu, segera mendorong kursi roda tersebut, masuk ke dalam kamar Aneisha, yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuknya.
Semua istri Tuan Zu memang memiliki masing-masing kamar yanga berbeda. Namun diantara kamar ketiga istrinya, kamar Aneishalah yang sangat istimewah.
"Ana, aku tinggal sebentar, jika perlu apa-apa, kau mintalah bantuan kepada istriku yang lain."
Aneisha tampak terdiam dan tak menanggapi ucapan Tuan Zu.
Tuan Zu sekilas menatap wajahnya yang terasa sayu saat itu, segera Tuan Zu mencium bibir Aneisha dengan mesranya, setelah itu mengacak rambutnya, lalu bergegas pergi meninggalkan kamarnya.
Sementara itu, ketiga istri Tuan Zu, terlihat sangat cemburu kepada Aneisha, ketika Tuan Zu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
"Ini tidak bisa dibiarkan," ucap Lilian kepada Jenny dan juga Cellyn.
"Iya Kakak, Tuan Zu nampaknya sangat mencintai wanita itu," sahut jenny dengan nada kesalnya.
"Kita harus membuat wanita itu segera pergi dari sini," Lilian berkata kepada kedua madunya dengan menatap kearah mereka berdua dengan tatapan seringai.
"Bagaimana caranya Kak?" tanya Jenny kemudian.
Tak lama kemudian, Lilian langsung membisikkan sesuatu rencana kepada kedua madunya.
Terlihat mereka bertiga nampak tersenyum penuh seringai, lalu mereka menuju ke kamar Aneisha.
Braaak....
Pintu kamar Aneisha langsung dibuka dengan kasar, betapa terkejutnya Aneisha, ketika pintu kamarnya dibuka secara kasar oleh ketiga istri Tuan Zu.
"Hei, jangan jadi istri Tuan Zu yang manja kamu! Cepat kau buatkan kami minuman!" perintah Lilian dengan penuh intimidasi.
Aneisha tak pedulikan mereka pada awalnya, namun tak lama setelah itu, Lilian dengan dibantu Jenny dan Cellyn, langsung menarik tangan Aneisha dengan kasarnya.
"Sakit.... Jangan sakiti aku," Aneisha terlihat kesakitan, ketika tangannya yang terluka ditekan oleh Lilian.
Aneisha dibawa menuju ke sebuah Taman, disana, Aneisha dipaksa untuk menyirami seluruh tanaman.
Ketika itu, terlihat salah satu pengawal yang melihat ketiga istri Tuan Zu, bersikap kasar kepadanya, saat itulah Pengawal tersebut berpikir untuk menolong Aneisha dari bullyan ketiga istrinya.
Ketika Aneisha di sirami tubuhnya dengan air keran yang ada disana, seketika tubuh Aneisha yang masih lemah, langsung jatuh limbung disana.
Saat itulah sang Pengawal bernama Kim, datang menolong Aneisha yang saat itu tengah terbaring lemah tak berdaya diatas rumput taman, dia lalu menggendong tubuh Aneisha, dan mendudukkannya di kursi taman, lalu dirangkulnya tubuh Aneisha, untuk membuat tubuhnya tetap hangat.
Tanpa disadari, Tuan Zu yang saat itu tiba-tiba kembali ke rumahnya, langsung disambut oleh ketiga istrinya, yang saat ini tengah mengatakan sesuatu kepada Tuan Zu mengenai istri mudanya.
"Tuan Zu, istrimu ternyata tidak sakit, dia malah tengah asyik bermesraan dengan pengawalmu, Kim," Lilian berusaha memfitnah Aneisha dihadapan Tuan Zu.
Tuan Zu langsung menatap tajam kearah Lilian, yang saat itu tengah mengatakan sesuatu yang membuat dirinya sangat marah.
"Kau bicara apa istri pertama ku? Kau jangan coba-coba memfitnah adikmu itu, berlakulah baik kepadanya, jangan sekali-kali kau memfitnah dirinya," tekan Tuan Zu dengan mengangkat dagu Lilian dengan satu jarinya.
"Benar Tuan Zu, saat ini istri mu tengah bermesraan dengan Kim di taman belakang," sahut Jenny dengan menunjuk kearah taman belakang.
Saat itulah, Tuan Zu langsung berjalan menuju taman belakang, lalu tak lama kemudian, langkah kakinya terhenti ketika melihat Aneisha tengah dipeluk oleh pengawalnya Lim.
"Sedang apa kalian disini? Kenapa kalian berselingkuh di saat aku tidak ada?".
Deg....
Bersambung