Bab 1

Santi tersandung oleh kakinya sendiri karena menghindari kubangan jalan. Padahal jalanan disitu sudah diaspal sedemikian rupa, mungkin ini karena efek hujan deras semalam. High heels yang dipakai sampai patah sebelah sehingga mau tak mau harus mematahkan sisi yang lainnya agar seimbang.

Dengan jalan yang terseok-seok, dia melanjutkan langkah menuju ke sebuah perusahaan besar yang ada di seberang jalan. Santi menyeberang jalanan itu dengan perlahan, karena saking padatnya jalanan saat ini.

Namun baru saja sampai di tepi, Santi nyaris terjatuh lagi karena ada mobil berhenti mendadak di depannya. Mobil mewah berwarna hitam yang bisa dipastikan keluaran terbaru karena catnya yang masih mengkilap.

“Wah … kapan aku bisa naik mobil semewah ini, ya?”

Tanpa sadar dia mengelus badan mobil tersebut. Dan ketika menyentuh bagian pintu, secara tiba-tiba keluarlah sang pemilik mobil dan brukk!! Santi terjatuh lagi.

“Ohhh … maafkan aku! Aku buru-buru sampai nggak liat kalau ada orang!” ujar seorang lelaki berjas navy.

Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Santi berdiri. Betapa tampannya lelaki yang seperti pangeran di dunia dongeng itu. Kulitnya yang putih bersih tampak bagus memakai jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Nggak apa-apa! Terima kasih, ya!! Awwwhhhh …!!” Santi merintih kesakitan dan secara tak sengaja malah berpegangan pada lelaki tampan itu dengan posisi yang hampir berpelukan.

“Hati-hati! Coba kamu duduk dulu di dalam mobil,” ujarnya sambil membantu Santi duduk di jok mobil belakang.

Dengan sedikit berjinjit, Santi pun duduk menghadap keluar. Dan laki-laki itu meminta supirnya untuk mengambil kotak P3K yang ada di depan setelah melihat lutut Santi ternyata berdarah.

“Biar aku obati dulu lukamu, ya.”

“Tapi …”

“Udah, kamu diem aja!”

Lelaki itu pun membersihkan lutut Santi dengan posisi setengah menunduk. Dan mungkin karena posturnya yang terlalu tinggi itu, dia akhirnya berjongkok.

Santi yang mengenakan rok mini pendek itu merasa risih ketika menyadari lelaki tersebut mencuri pandang ke dalam roknya. Apalagi kulit mulus pahanya yang terekspos tepat di depan wajah lelaki itu.

“Jangan banyak bergerak!!” seru lelaki itu sambil menahan paha Santi. Ada desiran tersendiri yang dirasakan oleh Santi ketika lelaki itu menyentuh lembut pahanya.

Namun dengan cepat ditepisnya tangan itu setelah menyadari bahwa itu salah. “Maaf!!” ujar lelaki itu.

“Awwwhhh!!”

“Sakit??”

“Sedikit.”

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau melamar kerja di perusahaan Sanjaya Corporation. Hari ini aku interview,” jawab Santi tanpa tau bahwa lelaki yang di depannya sekarang adalah Bima Sanjaya, CEO perusahaan tersebut.

“Owh … semoga sukses, ya!” ucapnya setelah selesai memplester luka Santi.

“Ma-makasih! Aku masuk dulu, takut telat!” kata Santi seraya turun dari mobil dan membenarkan posisi roknya yang sedikit tersingkap.

“Aku akan mendapatkanmu sebentar lagi, lihat saja!!” kata Bima dengan senyum liciknya.

“Dia memang terlihat seksi,” ujar Aldo, sahabat yang merangkap menjadi tangan kanan Bima. Lebih tepatnya orang yang mencarikan wanita-wanita cantik untuk menuntaskan nafsu Bima.

“Pastikan dia menjadi sekretarisku mulai besok!!”

“Apapun buatmu!” jawab Aldo yang memang sudah hafal dengan sifat Bima. Sekali dia mempunyai target, maka tidak akan dilepaskannya begitu saja.

***

“Ooohhh … Bimm!! Jangan berhenti, teruss!!!” seorang wanita tengah duduk di atas meja kerja Bima dengan kaki yang terbuka lebar. Kepalanya mendongak ke atas merasakan dua benda kenyal miliknya sedang dihisap oleh Bima.

Tubuhnya membusung sehingga berada tepat di depan wajah Bima. Kakinya semakin melebar berharap Bima bermain di bawah sana. Tapi dia tak pernah melakukan sampai itu. Dia hanya suka merambah seluruh tubuh wanitanya dengan sentuhan jari.

“Ahhh …!!” wanita itu makin blingsatan saat jari Bima masuk ke balik celananya. Dimainkannya celah surga dunia itu dengan gerakan jarinya. Digesek-gesek ke atas dan ke bawah secara berirama sehingga membuat wanita itu mendesah terus menerus.

Santi yang baru saja mulai bekerja hari itu merasa ada yang aneh dari ruangan bosnya. Dia memang belum bertemu langsung dengan bosnya karena katanya sedang ada tamu penting. Dan dia hanya diminta duduk di meja kerjanya yang ada di depan ruangan CEO itu.

Dengan jarak yang tak begitu jauh itu, Santi bisa mendengar samar suara seorang wanita yang meracau tak ada hentinya. 

“Siapa sebenarnya tamu penting bos? Kenapa aku malah merinding sendiri dengernya? Jangan-jangan tamunya bukan manusia? Bisa aja dia memakai pesugihan, kan??” batin Santi sambil mengelus-elus tangannya.

“Mmmmhhhhh!!!”

Santi terlonjak kaget saat mendengar suara lenguhan yang cukup kencang dari dalam. Akhirnya dengan sedikit keberanian, Santi ingin mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.

Perlahan Santi mendekati pintu tersebut dan membukanya secara perlahan. Matanya langsung membulat sempurna ketika melihat seorang lelaki dewasa tengah berada dalam posisi menyusu seperti bayi pada seorang wanita.

Tangannya yang besar meremas salah satu yang lain dan sang wanita terlihat sangat menikmati permainan itu. Tangannya sampai memeluk kepala lelaki tersebut agar tak menghentikan aksinya.

Dilihatnya baju sang wanita berserakan di lantai, dan tak jauh dari sana ada sebuah dalaman yang bisa dipastikan itu adalah tempat menampung dua benda padat yang dimiliki wanita itu. Santi merasakan ada yang berkedut di bagian bawah miliknya melihat pemandangan itu.

Dia tak kuasa melihat lagi ketika sang wanita turun dari meja dan mendorong lelaki itu agar duduk di kursi. Dibukanya gesper yang melingkar di celana lelaki yang bisa dipastikan adalah bosnya itu. Dengan cepat, sang wanita langsung membuka resletingnya dan mengeluarkan sebuah benda dari sana.

Santi segera menutup kembali pintu tersebut dengan nafas terengah-engah. Pemandangan yang tak pernah dilihatnya selama di desa. Dia adalah gadis lugu yang tidak mengenal dunia liar semacam itu. Yang ada di pikirannya hanya bekerja dengan gaji besar dan bisa membantu keuangan keluarganya yang berkekurangan.

Saat dia duduk dan bersandar di kursi kerjanya, secara tak sengaja dia menekan tombol rahasia yang membuka celah untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Santi menelan salivanya berulang kali ketika melihat sang wanita tengah berjongkok di tengah-tengah kaki sang bos.

“Dia, ‘kan??” Santi menutup bibirnya saat melihat dengan jelas wajah lelaki yang ada di ruangan itu.

“Aku pasti salah lihat!!” katanya memantapkan hati dan kembali melihat dari celah tersebut. Namun, saat Santi melihat ke sana lagi, yang terlihat malah semakin membuatnya berdebar kencang.

Sang wanita tengah memegang milik sang bos dan menjilatnya layaknya es krim. Sesekali dikulumnya benda tersebut dan dihisapnya.

Bima yang menyadari bahwa sekretaris barunya tengah memperhatikannya bersikap seolah tidak menyadarinya. Dia sengaja menunjukkan aktivitas panasnya agar ketika tiba nanti gilirannya, dia tidak terkejut lagi.

Santi merasakan celana dalamnya basah entah karena apa. Dan karena itu dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan melihat apakah itu karena datang bulan atau bukan.

“Ini cairan apa??” tanyanya dalam hati, bingung. Selama ini dia tak pernah mengalami hal semacam itu. Segera dirapikan celananya kembali dan duduk di atas kloset duduk. Pikirannya kembali teringat pada kejadian yang dilihatnya tadi.

Ada rasa geli menjalar di tubuhnya saat mengingat bosnya tengah menyusu pada wanita tadi. Secara tak sadar, Santi memegang miliknya sendiri. Diremasnya dua benda montok yang ada di depan dadanya itu, sambil membayangkan bosnya itu melakukan hal sama padanya.

Bab 2

Santi merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Ada rasa ingin, tapi tidak tahu keinginan yang seperti apa. Akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan aksinya tersebut sebelum diketahui oleh karyawan lain.

Tapi saat keluar dari toilet, Santi baru menyadari kalau yang dimasukinya adalah toilet khusus untuk CEO. Dengan tergesa-gesa dia segera keluar dari sana dan kembali ke tempat kerjanya.

Untuk beberapa saat tidak terdengar suara-suara aneh dari dalam ruangan bosnya. Namun, setelah itu keluarlah wanita tadi dari dalam sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.

“Ohhh … jadi kamu sekretaris Bima??” tanya wanita itu dengan nada angkuh.

“I-iya!”

“Kamu disuruh masuk ke dalam!” ujarnya sambil melenggang pergi.

“Baik.”

Santi pun masuk ke dalam ruangan CEO dengan hati-hati. Dia tak menyangka jika orang yang menolongnya di depan kemarin adalah pemilik perusahaan itu sendiri.

“Silahkan duduk!” kata Bima.

“Ma-makasih, Pak.”

Bima memandang Santi dengan tatapan yang begitu dalam sampai gadis cantik itu tak berani menatapnya dan hanya menunduk ke bawah. Baju yang dipakai oleh Santi termasuk longgar, tapi tak menutupi bentuk tubuhnya yang molek.

Rok span yang dikenakannya menutupi sampai ke lutut namun di mata Bima tidak seperti itu. Dia masih ingat betul betapa putih dan mulusnya kulit yang ada di balik rok itu.

“Santi Kusuma Dewi.”

“Iya, Pak.”

“Umur 23 tahun, lulusan SMK jurusan sekretaris. Punya pengalaman menjadi admin jual beli online …”

Bima membaca riwayat hidup Santi dan hanya dijawab dengan anggukan olehnya.

“Benar semua?”

“Iya, Pak.”

“Kalau bicara itu tatap mata lawan bicaranya. Kamu kayak gitu kesannya nggak sopan, lho!” tegur Bima.

“Iya, maaf!”

“Kamu masih punya adik yang sekolah?”

“Iya … Bapak tau dari mana?”

Bima menatap Santi lekat. Ingin rasanya dia tertawa saat itu mendengar pertanyaan tak masuk akal itu. Tapi, ditahannya demi menjaga image di hari pertama kerja Santi.

“Kamu nggak lihat ini??”

Santi langsung salah tingkah sendiri melihat Bima yang menunjukkan foto copy KK miliknya. Rasanya malu sekali pada bos barunya itu. Baru hari pertama aja udah terlihat bodoh.

“Oh iya, nanti akan ada yang kasih kamu penjelasan tentang apa tugas kamu di sini. Termasuk menyiapkan kebutuhan pribadiku.”

Santi langsung mengangguk mendengar kata kebutuhan pribadi. Dalam ingatannya muncul pernyataan orang di desanya, kalau jadi sekretaris di perusahaan besar itu harus bisa menyiapkan segala kebutuhan pribadi yang diminta bosnya. Itu kalau mau digaji tinggi.

“Kamu semangat sekali, ya? Bagus!! Aku suka!!”

“Aku butuh banyak uang untuk biaya sekolah adik-adikku di desa, Pak. Jadi aku harus gigih bekerja agar punya gaji yang tinggi.”

Bima merasa menang begitu mendengar perkataan Santi. Kalau untuk urusan bisnis, jangan ragukan kemampuan seorang Bima.

Sekalipun dia suka bermain wanita, tapi kemampuannya dalam bidang bisnis tak bisa diremehkan.

"Jadi kamu perlu gaji berapa banyak?" tanya Bima sambil berdiri dan mengitari tubuh Santi.

Tangannya menyentuh bahu Santi perlahan. Dengan jari telunjuk, disentuhnya dari bahu kanan sampai kiri. Melewati bagian bawah lehernya.

Santi sedikit menggeliat karena merasa geli. Dia tidak tahu kalau Bima sedang sibuk mencari cara agar bisa segera melihat tubuh polos Santi tanpa sehelai benangpun.

"Aku ikut aturan perusahaan aja, Pak."

"Perusahaan atau aku??"

"Apa, Pak??"

"Kalau ikut perusahaan, kamu akan terima gaji UMR sama seperti yang lain. Tapi kalau mau yang lebih, kamu bisa ikut aturanku."

"Maksudnya??"

"Nanti kamu akan tahu."

"Apa seperti yang dilakukan tamu tadi, Pak??" tanya Santi polos.

Bima sampai tergelak dibuatnya. Dia kembali duduk di kursinya dan meminta Santi untuk memijit bahunya.

"Coba kamu pijit bahuku saja dulu," katanya sewajar mungkin.

"Baik!"

Santi memijat bahu Bima dengan sedikit gugup. Setelah beberapa saat, Bima meminta Santi untuk duduk di atasnya.

"Duduk sini!"

"Tapi, Pak …"

Karena Santi tak kunjung duduk di pangkuannya, ditariknya gadis tersebut dan langsung dipeluknya dari belakang.

"Lain kali jangan gerai rambut panjang kamu ini. Diikat ke atas, oke??" kata Bima sambil menyingkirkan rambut itu sehingga memperlihatkan leher jenjang Santi.

"I-iya, Pak!! Ahhh …"

Santi secara refleks mendesah ketika Bima mencium lehernya.

"P-pak!! Jangan la- ahhhh …" Santi menggigit bibir bawahnya karena Bima malah menjilati lehernya itu.

Matanya terpejam menikmati permainan lidah yang baru pertama kali dirasakannya. Saat terlena dengan sentuhan hangat itu, Santi dikejutkan dengan tangan besar yang entah sejak kapan sudah berada di balik bajunya.

Santi mencoba menahan tangan yang sudah masuk ke balik bra yang dikenakannya tapi seperti tak bertenaga. Kaki dan tangannya terasa lemas saat dua jari Bima menjepit puncak benda kenyal miliknya itu.

"Sshhhhh!!" Nafas Santi mulai tak beraturan merasakan gerakan memutar di puncak miliknya.

"Nikmat bukan??" tanya Bima.

"Itu … aku … emmhhhh …"

Bima meliuk-liuk merasakan sensasi yang membakar tubuhnya. Dan dia tak mengerti kenapa seperti ada yang mengganjalnya dari bawah.

"Desahanmu membuat yang di sana bangun," bisik Bima.

Diputarnya posisi duduk Santi sehingga mereka kini saling berhadapan dari posisi menyamping. Wajah Santi sudah memerah akibat perbuatannya.

Tapi, Bima sudah tak tahan lagi dan dengan cepat dibukanya kancing baju Santi hingga terlihat posisi bra yang dipakainya sudah berantakan.

"Malu, Pak!!" Santi menyilangkan kedua tangannya di depan. Tapi, Bima tak kehabisan akal, apalagi Sudah sudah terbuai sentuhannya.

Diciumnya bibir mungil Santi dengan lembut. Santi sempat terkejut dan mendorong dada bidang Bima pelan.Tapi merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya membuat Santi enggan untuk menolaknya lagi.

Bima yang tak terbiasa mendapat bermain lembut pun akhirnya makin lama makin kasar dan menuntut. Apalagi karena tak mendapat respon dari Santi sedikitpun.

"Apa kamu belum pernah berciuman sebelumnya??" tanya Bima kesal seraya melepas pagutan mereka.

"Be-belum sama sekali, Pak!! Maaf kalau bikin kecewa," jawab Santi.

Bima malah terperangah dibuatnya. Kenapa Santi malah minta maaf padanya? Sepertinya Santi benar-benar polos dan tidak mengerti bahwa dirinya sedang dalam bahaya.

“Rapikan baju kamu sekarang …”

“Baik …”

Santi berdiri di depan Bima sambil mengancingkan kembali bajunya. Kegiatannya itu tak lepas dari pandangan sang bos yang meneliti setiap inci bentuk tubuh sekretaris barunya itu.

“Sudah, Pak! Jadi apa tugasku sekarang?”

“Kamu kembali ke meja kerjamu saja dulu. Nanti biar Aldo yang kasih tahu kamu jelasnya apa.”

“Baik. Aku permisi dulu.”

Santi membungkukkan badannya sebelum berlalu dari sana. Setelah dia keluar, Bima segera menghubungi Aldo untuk mencarikannya wanita sekarang juga. Hasrat yang belum tersalurkan itu malah membuat kepalanya pusing.

“Carikan sekarang juga!! Sekretaris baru itu masih terlalu polos untuk membantuku melepaskannya!!”

“Ya, baiklah. Segera aku carikan wanita untukmu, Bos!!” kata Aldo tepat di depan Santi yang baru saja duduk. Dimatikannya ponsel tersebut dan terlihat Santi yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Maaf, kamu siapa dan ada perlu apa?” tanya Santi.

“Aku Aldo.”

“Oh … maafkan aku, Pak. Aku nggak tahu …”

“Nggak apa-apa. Kita memang belum pernah ketemu sebelumnya, jadi aku maklumi. Lagipula aku hanya tangan kanan Bima disini, jangan sungkan begitu padaku.”

“Jadi apa yang harus aku kerjakan sebagai sekretaris Pak Bima?” tanya Santi.

“Seperti sekretaris pada umumnya. Kamu aturkan jadwal untuk Bima, tiap pagi kamu buatkan dia kopi dan juga biskuit rasa kelapa. Stocknya ada di dalam ruangan itu,” terang Aldo sambil menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari sana.

“Baik.”

“Kalau stocknya sudah habis, kamu harus membelinya sendiri karena itu sudah menjadi tugas sekretarisnya sejak dulu, bukan office boy disini. Dan yang perlu kamu ingat, Bima tidak suka sembarang orang masuk ke ruangannya tanpa izin lebih dulu. Jadi, kamu harus pastikan setiap tamu yang masuk sudah membuat janji atau belum.”

“Baik.”

Santi mencatat apa yang dikatakan oleh Aldo tentang apa yang disuka dan tidak disuka oleh bosnya itu. Harapannya agar tidak lupa dengan semua hal penting itu.

“Terakhir …”

“Ya??” tanya Santi sudah siap mencatatnya.

“Kamu harus bisa memuaskannya!”

Bab 3

“Me-memuaskan bagaimana maksudnya?” tanya Santi bingung.

“Kamu lihat di sudut meja ini, ada sebuah tombol.”

“Ah … ini tombol yang bisa membuka akses untuk melihat ke dalam, ya?”

“Kamu sudah tau?”

“Tadi nggak sengaja kepencet, dan …”

“Dan apa?” selidik Aldo.

“Dan itu …”

“Itu? Itu apa??”

“Tamu Pak Bima tadi … itu …”

“Kamu ini pura-pura bego atau emang beneran polos, sih?” tanya Aldo tak sabar.

“Aku benar-benar nggak tau soal begituan, Pak!”

“Lalu yang kamu tahu sebagai tugas sekretaris itu apa?”

“Maaf, Pak! Aku memang belum begitu tau apa saja tugasnya, tapi aku akan berusaha untuk melakukan semuanya yang terbaik.”

Aldo memperhatikan Santi dengan seksama, dan tersenyum tipis. “Pantas saja Bima marah-marah tidak jelas, sepertinya gadis ini benar-benar polos.”

“Pak?? Jadi apa tugasku?” tanya Santi, melambaikan tangannya di depan Aldo yang malah melamun.

“Ohhh … untuk sementara cukup itu aja dulu. Nanti aku akan kasih tahu lagi kedepannya bagaimana. Dan alangkah baiknya kalau nanti ada tamu penting, kamu belajar dari tamu itu.”

“Belajar apa, Pak??”

“Memuaskan Bos kamu lah!!”

“Owh, pantes aja tadi si Bos kayak kesal gitu sama aku,” tutur Santi.

Aldo dibuat terperangah dengan ucapan Santi yang benar-benar polos itu. Tapi, di satu sisi ada rasa tidak tega juga jika gadis sepolos Santi menjadi korban Bima.

“Nanti akan ada tamu penting untuk Bima, namanya Wilona. Kalau dia sudah datang, langsung suruh masuk aja, ya. Aku masih ada urusan, bye!!” Aldo melambaikan tangan setelah mematikan ponselnya.

Santi hanya tersenyum dan memperhatikan kepergian Aldo dengan penuh tanda tanya. Setelah itu, dilihatnya catatan yang sudah dibuatnya tadi. Dia mencoba untuk menghafal semua itu agar tidak salah.

Saat sedang mencoba mengingat hal penting apa saja yang harus dilakukannya, samar tercium aroma lavender yang memabukkan. Semakin lama semakin kuat diiringi dengan suara langkah kaki yang bisa dipastikan milik seorang wanita.

Klotak! Klotak!

“Bima ada?” tanya seorang wanita seksi menggunakan baju berwarna merah terang dengan rambut panjang yang tergerai hingga punggung.

“Dengan siapa, ya? Sudah ada janji?” tanya Santi.

“Ya iyalah. Aku Wi-lo-na.”

“Oh, Mbak Wilona ternyata. Silahkan masuk, Mbak. Udah ditunggu sama Pak Bima di dalam,” ujar Santi ramah.

Wilona mengibaskan rambutnya sambil berjalan dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin. Hal itu tentu saja menarik perhatian Santi yang memang secara khusus diminta belajar dari tamu penting yang dimaksud Aldo tadi.

“Apa aku juga harus berjalan seperti itu tadi? Tapi, dengan high heels setinggi itu??” Santi tak bisa membayangkan jika harus meliuk-liukkan tubuhnya dengan heels yang panjangnya mungkin saja lebih dari 10 cm itu.

Sementara dia sendiri memakai heels ukuran tiga sentimeter saja sudah berkali-kali terjatuh. Luka di lututnya saja masih belum sembuh akibat jatuh kemarin.

Santi jadi teringat ketika Bima berjongkok di depannya, dan dengan lembut mengobati lukanya itu. Tanpa sadar tangannya menyentuh kulit pahanya yang kemarin sempat disentuh oleh Bima. Ditambah ketika tadi dia memperoleh sentuhan lembut di bagian yang selama ini belum pernah disentuh siapapun.

Pikirannya mulai melayang kemana-mana, sampai akhirnya dia dikejutkan oleh suara Wilona yang seperti menahan sesuatu dari dalam ruangan Bima. Karena penasaran, Santi memencet tombol rahasia yang ada di meja dan melihat aktivitas apa yang sedang terjadi di sana.

Santi secara refleks menyentuh dadanya sendiri ketika melihat Bima tengah mengeksplor milik Wilona dengan mata yang menggelap. Diremas dua benda kenyal yang ada di genggamannya mengikuti apa yang dilakukan Bima pada Wilona.

“Perasaan apa ini? Kenapa aku sangat menyukainya? Aku seperti sedang terbang ke awang-awang … ahhh …” Santi menutup bibirnya ketika melihat Bima membenamkan wajahnya di antara gundukan padat milik Wilona.

Ditutupnya celah tersebut karena tidak kuat lagi untuk melihatnya. Tubuhnya terasa panas hanya dengan melihatnya saja. Buru-buru dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan miliknya yang terasa sangat basah itu.

“Aahhh … kenapa aku jadi membayangkan kalau Pak Bima melakukan itu padaku?” gumam Santi tak habis pikir. Segera dibersihkan miliknya dengan air dan mengeringkan dengan tisu toilet. Begitu selesai, Santi tak langsung kembali ke mejanya karena takut mendengar semuanya lagi.

“Haii .. kamu karyawan baru di sini, ya?”

Santi menoleh ke arah suara yang menyapanya dari belakang. Ada beberapa wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. Mereka terlihat ramah dan bersahabat.

“Haiii .. iya, Mbak. Aku baru masuk hari ini.”

“Kenalin aku, Tya. Dan ini Dina, kami dari bagian marketing.”

“Oh, iya. Aku Santi, Mbak.”

“Nggak usah panggil Mbak gitu, santai aja!!”

“Oh, iya! Mbak … eh, Tya. Dina.”

“Hahahaha … logatmu lucu juga, ya!”

“Ahh … aku emang berasal dari kampung, jadinya ya cara bicaraku mungkin memang sedikit beda sama yang lain.”

“Iya, nggak apa-apa. Santai aja kali, kita juga bukan tipe orang yang beda-bedain ras suku bangsa, hahaha …,” canda Tya.

“Makasih kalau gitu.”

“By the way, kamu di bagian mana? Kok aku nggak liat di ruangan sini?”

“Ahhh … itu aku kebetulan jadi sekretarisnya Pak Bima.”

Tya dan Dina langsung saling menatap tak percaya. Kemudian mereka memperhatikan Santi dari atas sampai bawah.

“Kenapa?” tanya Santi.

“Bukannya apa-apa nih, ya! Tapi, bukannya toilet sekretaris Pak Bima itu ada di atas, ya? Kenapa kamu malah ke sini?”

“Loh? Di atas kan hanya ada satu toilet buat si Bos.”

“Iya, tapi biasanya itu dipakai barengan sama sekretarisnya juga. Kamu belum dikasih tahu??”

“Aku nggak tahu.”

“Emmm … ya udah kalau gitu. Mending kamu segera balik aja ke tempatmu, takutnya nanti dicari si Bos,” kata Tya.

“Iya, bisa gawat kalau Bos nyari tapi kamu nggak ada!” imbuh Dina.

“Ya udah kalau gitu aku balik dulu, ya. Makasih udah ingetin,” kata Santi seraya berjalan menuju tempat kerjanya.

Setibanya disana, ternyata Wilona belum juga keluar dari sana. Tapi sudah tidak terdengar suara aneh-aneh lagi dari dalam sana. Baru saja Santi ingin duduk di kursinya, terdengar suara benda pecah dari dalam ruangan dibarengi suara teriakan Wilona .

Pyarrrr!!!

“Aaahhhh!!!”

Santi segera melihat dari balik celah dan melihat vas bunga yang sudah pecah berantakan di lantai.

“Kamu kenapa sih, Bim?? Nggak biasanya begini!!” pekik Wilona.

“Keluar!!”

“Tapi, kenapa?? Aku bahkan belum bisa membuatmu pu-“

“Aku bilang keluar!!!”

Mendengar suara teriakan Bima membuat Wilona takut dan segera memakai kembali bajunya. Diambilnya tas yang ada di sofa dan segera keluar dari ruangan itu.

“Apa kamu liat-liat??” tanya Wilona ketus karena Santi menatap ke arahnya.

“Maaf, Mbak!! Aku nggak bermaksud apa-apa.”

“Huhhh!!!” Wilona menghentakkan kakinya sambil melangkah pergi ke luar dari sana.

“Salahku apa, sih??” gerutu Sinta.

“SANTII!!!!”

Santi sampai terlonjak kaget mendengar teriakan Bima dari dalam. Dengan cepat Santi segera masuk ke ruangan dan mendapati wajah bos barunya itu memerah.

“I-iya, Pak! Ada apa, ya?”

Tanpa banyak basa basi Bima berdiri dan mencium Santi dengan liar.

“Hmmhhhpp!!” Santi tak kuasa melawan Bima yang tentu saja tenaganya lebih kuat.

“Tenangkan yang di sana!!” ucap Bima di sela ciumannya.

Santi sampai terlonjak kaget saat Bima mengarahkan tangannya ke bagian inti tubuh sang bos yang terasa begitu keras dan besar itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED