Istri Kakakku Selalu Menangis
Suara dentuman dari besi-besi jalanan memekakkan telinga secara mendadak. Hampir membuat jantung terlonjak keluar dari tempatnya. Semua orang kaget luar biasa.
“Punguti usus dan organ tubuh lainnya! Cepat! Sebelum ada kendaraan yang menggilas,” ucap salah satu warga.
“Ambil daun pisang atau kain bekas untuk menutupi tubuhnya!”
“Sementara, hentikan dulu kendaraan yang hendak melintas!”
Terjadi kecelakaan tepat di depan toko beras milik Kak Heru. Tempat ini berlokasi di tikungan layaknya huruf S, wajar saja sering terjadi kecelakaan. Lokasi yang tak pantas digunakan untuk membawa kendaraan ngebut. Aku bergidik ngeri.
Kecelakaan tunggal itu telah membuat seorang wanita pengendara sepeda motor tewas di tempat. Ia menabrak pagar besi pembatas depan toko beras. Kondisinya mengenaskan. Cepat-cepat orang menyiram darah yang mengalir di jalanan dengan pasir. Pasir-pasir itu diangkut dengan ember dan kaleng cat.
Aku baru tadi malam tinggal di sini, setelah tamat SMA orang tuaku meminta agar Kak Heru membawa ke kota. Hal itu tentu disetujui olehnya, bahkan aku sempat ditawarkan untuk kuliah di sini. namun, kutolak karena merasa belum siap. Jadi, aku akan ikut menjaga toko beras ini.
“Kak, ada kecelakaan. Itu di sana,” ucapku pada Kak Heru yang baru keluar dari gudang beras paling belakang.
“Dah biasa terjadi di sini, Siti. Kakak sudah tak takut lagi.” Kak Heru menjawab cuek.
“Memang sering, ya?”
“Sering sekali. Sudahlahh, jangan dilihat terus. Nanti kamu takut, dah sore. Sana mandi.”
Aku hanya mengangguk. Memang benar, kalau terus melihatnya aku akan merasa takut. Apalagi meninggalnya tragis atau istilah orang kampung adalah mati basah.
“Siti,” panggilnya saat aku baru hendak membalik badan.
“Iya?”
“Kamu jangan masuk kamar sebelah gudang beras dan jangan perduli kalau Mbak Rena sering menangis. Abaikan saja,” ucapnya enteng sembari menatapku tajam.
“Kenapa?”
“Tidak usah banyak tanya, kamu masih terlalu belia untuk tahu urusan rumah tangga. Jangan membantah.”
“Hm, baiklah.” Aku menjawab sekenanya.
Saat melewati kamar Mbak Rena, tak sengaja melihat ia sedang menangis tersedu-sedu. Pintu kamar yang tak terkunci pun membebaskan pandangan mataku melihat semua secara jelas. Mengapa Mbak Rena menangis? Aku hendak masuk dan bertanya, tapi kaki ini terasa berat melangkah.
Rupanya, Mbak Rena pun melihatku yang berdiri di depan pintu. Pantulan wajahku terlihat setengah dari cermin kamarnya. Ia menoleh sembari menghapus sisa-sisa bulir bening yang keluar dari pelupuk matanya.
“Mbak kenapa menangis?” tanyaku yang sudah tertangkap basah mengintip.
“Mbak memang selalu menangis sejak menikah dengan kakakmu,” jawabnya sedih.
Mendapati jawaban demikian, aku bertambah bingung harus berkata apalagi. Kak Heru sudah memperingati agar aku tak terlalu perduli dengan Mbak Rena. Memangnya ada apa dengan pernikahan mereka? Setahuku semua tampak baik-baik saja kalau mereka pulang kampung. Sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh mereka.
“Memangnya kenapa, Mbak?”
Lama menunggu pertanyaan itu dijawab, tapi hening. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Mbak Rena. Hanya terlihat dari bola matanya kalau ia sangat terluka, entah mengapa aku bisa merasakannya. Namun, aku tetap bingung hal apa yang membuat wanita cantik ini menangis. Apa dia tak bahagia?
“Ada kecelakaan di depan toko, ya?” Ia mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Mbak. kecelakaan sampai orangnya meninggal.”
“Sudah biasa, tikungan depan sini memang tikungan maut.”
“Mbak, Siti mau nanya boleh?” Aku menatap wajahnya lekat. Mbak Rena pun mengangkat wajahnya.
Mumpung Kak Heru lagi sibuk di depan, ini kesempatan baik untuk menanyakan kamar sebelah gudang beras itu. Aku sungguh penasaran mengapa dilarang masuk sana, padahal aku sudah tahu detail tempat ini. Ya, kecuali tempat itu.
“Tadi, Kak Heru bilang kalau Siti dilarang masuk kamar sebelah gudang beras. Memangnya kenapa?”
“Oh, tak apa. Itu hanya kamar kosong, kamu jangan ke sana.”
Saat aku hendak membuka mulut untuk kembali bertanya, Mbak Rena segera berdiri dan masuk kamar mandi kamarnya. Kakinya terlihat lunglai tak bertenaga. Aku pun merasa kalau ia sengaja menghindar.
Kupasang telinga tepat di pintu kamar mandinya. Terdengar jelas kalau ia kembali menangis, kali ini isakannya terdengar lebih memilukan. Setelah itu, aku tak dapat mendengar apa-apa lagi karena ia menghidupkan air untuk menyamarkan suara tangisnya. Aneh, bukan?
***
Toko ini sekaligus dijadikan tempat tinggal. Bagian depan adalah tempat berdagang. Bagian tengah adalah rumah bagi kami dan bagian belakang adalah gudang beras. Malam ini, aku sedang tidur-tiduran di kamar karena merasa lelah. Peristiwa kecelakaan tadi sore pun masih jelas membayang, membuat energiku terasa habis. Ya, aku takut melihat darah.
“Siti, turun dulu. Saatnya kita makan malam,” kata Kak Heru sambil mengetuk pintu kamar.
“Siti belum lapar.”
“Cepat turun, kami tunggu.”
Aku beringsut pelan dari ranjang dan menuju dapur. Di sana sudah duduk berseberangan Kak Heru dan Mbak Rena. Dari tatapannya, aku dapat membaca kalau Kak Heru terlihat sedang kesal. Memangnya ada apa?
“Sini makan dulu, Siti.” Mbak Rena berusaha ceria walaupun matanya bengkak.
Kami pun makan bersama, tak banyak obrolan yang terjadi. Semuanya tampak canggung. Bahkan, seolah Kak Heru dan Mbak Rena bagai orang asing yang pertama kali bertemu. Kak Heru makan lahap sedangkan istrinya hanya makan sedikit. Ia nampak tak berselera.
“Mbak makannya dikit banget, tambah lagi, dong.” Aku berusaha memecahkan suasana kaku ini.
Mbak Rena hanya tersenyum simpul dan tak menjawab apa-apa.
“Dia memang porsi makannya segitu. Memang dikit,” jawab Kak Heru cuek.
“Mas, seharusnya kamu tahu mengapa aku jadi begini. Pura-pura tidak tahu tak akan membuatmu biasa-biasa saja!” Suara Mbak Rena meninggi seakan kecewa berat.
“Terima saja takdirmu, Rena. Bukannya sudah terbiasa?” Kak Heru menaikkan satu alisnya.
“Suami tak tahu diri! Apa kurangnya aku? Semuanya sudah kuturuti, bahkan—“ Ucapan Mbak Rena terhenti karena Kak Heru melemparkan gelasnya hingga pecah berkeping-keping.
Aku berada di antara mereka merasakan ketegangan luar biasa. Mataku naik turun dengan jantung berdegup kencang. Bingung harus berbuat apa karena sama sekali tak tahu asal muasal pertengkaran ini. Diam bak patung hidup, itulah yang kulakukan.
Mbak Rena pun kembali menangis. Air mata itu kembali berjatuhan di pipi tirusnya. Aku tak tega dan langsung memberinya tisu. Timbul niat kuat dalam hati kalau aku harus mencari tahu mengapa istri kakakku sering menangis. Pasti ada hal yang tak beres antara mereka.
Melihat Mbak Rena menangis, Kak Heru tampak tersulut emosi dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti gerakan hendak menampar.
“Aww! Sakit.”
PART 2
Setelah insiden pertengkaran itu, aku merasa tak enak hati. Mengapa baru sehari di sini, semua tampak kacau. Padahal, mereka terlihat mesra di hadapan orang tua di kampung. Jari tengah bagian kiriku terasa ngilu karena terkena serpihan kaca saat membersihkan pecahan gelas yang dibanting Kakak.
Karena pusing, aku menonton televisi. Mbak Rena sudah berlari ke kamar dan menangis lagi. Aku tak hendak mengganggunya, biarlah ia menenangkan diri dulu. wanita berambut lurus itu cantik, tapi wajahnya selalu sembab karena sering menangis. Keluarga Mbak Rena jauh dari kota ini, ia wanita yang berasal dari luar pulau. Akan sulit baginya untuk pulang tanpa izin dari Kakak.
“Jari kamu luka, ya? Ini kasih betadine,” kata Kak Heru yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Iya, luka sedikit kena kaca gelas.” Aku mengambil obat merah itu dari genggamannya.
“Kamu istirahatlah, sudah malam. Apa kamu gak takut nonton TV sendirian? Suasana habis kecelakaan gak enak.”
“Gak takut, kok. Kan, kecelakaan itu kita gak tahu apa-apa. Mungkin sudah takdir korbannya, masa dia mau ganggu kita,” ucapku.
“Bisa saja jadi hantu penasaran dan menakuti semua orang. Soalnya sering, Siti. Sanalah kamu masuk kamar.”
Kak Heru menjitak pelan pucuk kepalaku, mungkin sedikit gemas. Apa yang kuungkapkan salah? Rasanya tidak. Kami di rumah ini pasti tak tahu akan ada kecelakaan di depan toko beras. Tikungannya memang tajam, pengendara harus konsentrasi agar tak salah jalan. Masalah arwah penasaran, entahlah. Itu urusan Allah, bukan hak manusia mendalami alam gaib.
“Kak, di bagian rumah ini ada tiga kamar. Satu kamar kalian, satu kamar Siti, dan satu lagi kamar siapa?” tanyaku penasaran.
Memang ada kejanggalan terlihat di sini. di kamar Mbak Rena menangis kemarin, hanya ada terlihat barang-barang miliknya di dalam ruangan itu. Di kamar satu lagi ada lengkap barang-barang Kak Heru di sana. Apakah mereka pisah ranjang? Sejak kapan?
“Kita di rumah ini tidur sendiri-sendiri, Siti. Mbakmu suka menangis, jadi Kakak gak betah sekamar sama dia. Gak bisa tidur, berisik aja. Setiap hari Kakak harus bekerja di depan, malamnya gak bisa tidur. Jadi, jalan terbaik adalah Kakak dan Mbak Rena pisah kamar kalau dia sedang menangis saja.”
Aku membulatkan mata mendengarkan cerita dari satu-satunya kakakku di dunia ini. Ya, kami hanya terlahir berdua saudara. Jarak kami cukup jauh, yaitu sepuluh tahun. Aku bingung, harus pada siapa percaya padaa penghuni rumah ini. Mbak Rena tidak mungkin menangis tanpa sebab dan Kakak juga mengambil keputusan yang benar untuk pisah kamar. Siapa yang salah dan siapa yang benar?
“Oh, gitu. Siti cuma kasihan aja lihat Mbak Rena keseringan menangis. Seperti tak bahagia.”
“Udahlah, kamu jangan terlalu ambil hati. Kakak kandungmu adalah Kakak, seharusnya kamu lebih percaya saudara kandung. Wanita memang sulit dipahami, intinya kamu jangan terlalu kasihan padanya.” Kak Heru berkata serius.
Aku tak menjawab apa pun. Hening.
“Kamu tidur, ya? Kakak mau cek gudang beras sebentar,” katanya sambil berdiri dari sofa.
“Siti boleh ikut?”
“Enggak, kamu istirahat aja.”
Aku hanya bisa menatap punggung Kak Heru yang perlahan hilang. Ia menuju gudang beras yang berjarak tiga meter dari pintu belakang dapur. gudang beras itu memang terpisah dari rumah, tapi jaraknya sangat dekat.
Aku melanjutkan menonton drama di televisi walaupun jalan ceritanya membosankan, aku tetap melihatnya agar hati terhibur. Telapak tanganku refleks mengibas-ngibas di depan wajah karena tiba-tiba tercium bau amis darah persis kejadian kecelakaan tadi sore. Bayangan mengerikan kondisi korban pun terputar kembali, membuat suasana takut. Bulu sekitar tengkuk pun meremang.
“Hii, takut. Bau apaan amis gini? Bau darah segar,” gumamku seorang diri sembari mencabut kabel televisi.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengetuk kamar Mbak Rena. Rencananya aku akan tidur di sana malam ini, sungguh rasa takut sudah menjalar ke seluruh tubuh. Mana Kak Heru sudah cerita aneh-aneh lagi tadi, huh! Menyebalkan.
“Mbak, buka pintu.” Aku mengetuk daun pintunya.
“Iya, sebentar.”
Mbak Rena pun keluar, bagian kelopak matanya tampak basah.
“Ada apa, Siti?”
“Siti takut tidur sendiri malam ini, mau tidur di sini boleh?” Aku berkata penuh harap.
“Boleh, masuklah. Kakakmu sudah ke gudang beras?”
“Sudah barusan.”
Muncul pertanyaan mengapa Mbak Rena tahu kalau Kakak ke gudang beras? Apa mungkin karena sudah pekerjaannya, jadi aktivitas itu sudah jadi kebiasaan. Tapi, tunggu! Apa yang dilakukan Kakak malam-malam di gudang beras? Tadi sore, dia sudah memeriksanya. Ah, entahlah!
Aku langsung masuk kamar Mbak Rena dan merebahkan diri di ranjangnya yang besar. Wanita itu kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu menempelkan es batu di kelopak matanya. Oh, matanya basah karena es batu. Buat apa? Mata bengkaknya terlihat mulai membaik.
“Itu buat apaan, Mbak?”
“Ini biar mata gak sembab lagi. Mbak juga selalu cuci muka dengan air es. Jadi, tak terlihat kalau sudah menangis. Di luar rumah harus tetap terlihat ceria.”
Hatiku terenyuh. Dari sini sudah terlihat bahwa Mbak Rena tak mau terlihat terluka di depan orang lain. Ia istri yang baik, istri yang kuat. Pasti ada penyebab serius mengapa ia sering menangis. Kak Heru mungkin terlalu kasar padanya. Aku benci kala mengingat sikap Kakak pada istrinya ini.
“Besok kita ke pasar, ya. Kamu besok ikut belanja, sekalian lihat-lihat keadaan di sini.”
“Wah, Siti mau. Beli apa kita, Mbak?”
“Kebutuhan rumah dan kamu boleh minta apa saja besok.” Mbak Rena menyunggingkan senyuman padaku.
“Mbak, Siti sudah selesai halangan. Minjam mukena, dong. Besok mau mandi dan mau salat subuh,” ucapku.
Mbak Rena diam. Ia kembali merenung seolah aku tak ada di sampingnya. Apa aku ada salah ucap? Mbak Rena bangkit dan menutup jendela kamarnya yang belum ditutup. Angin malam terasa dingin tak lazim berembus dari luar.
“Mukena Mbak sudah dibuang Kakakmu. Besok kita beli mukena dan sajadah baru buat kamu, ya.”
Hah? Mana mungkin Kak Heru membuang alat beribadah. Aku merasa tak percaya dengan ucapan Mbak Rena. Mana mungkin itu terjadi. Bohong, itu pasti bohong.
“Al-qur’an ada, Mbak?”
“Besok sekalian kita beli di pasar, tapi ingat kamu kalo mau beribadah kunci kamar kamu.”
“Kenapa, Mbak?”
“Hm, biar lebih khusyuk aja ibadahnya, Cantik.”
“Jadi, Mbak sudah lama gak ibadah? Kalau Kakak?”
“Sudah, kamu jangan terlalu banyak bertanya hal itu. Nanti Mbak bisa menangis lagi. Sana, tidurlah duluan.”
Aku segera memasang selimut ke tubuh dan menghadap ke samping bagian dinding. Diam-diam air mataku keluar. Pedih sekali hati ini rasanya kala mendengar ucapan Mbak Rena tadi. Apa iya Kak Heru membuang alat ibadah? Ya Allah, kalau itu benar, mengapa bisa terjadi? Apa mungkin wanita ini memang pembohong?
Sungguh, aku bingung siapa di antara mereka yang bersalah?
Saat tanganku meremas sprei, ada suara kresek-kresek dari gesekan plastik. Benda apa yang ada di dalam sprei Mbak Rena? Penasaran ini tak dapat tersimpan lama. Jantungku berdegup kencang membayangkan segala kemungkinan yang nantinya jadi kenyataan. Sepertinya benda ini sengaja disembunyikan olehnya. Memangnya kenapa?
PART 3
Pagi-pagi, aku sudah bangun duluan. Mbak Rena masih tertidur di sampingku dengan wajah sendu. Kutatap wajah itu, mana mungkin ia wanita pembohong? Sepertinya tidak.
Hatiku tak mampu menempatkannya sebagai pembohong. Tapi, bagaimana dengan ucapan Kakak? Katanya aku jangan terlalu peduli dengan istrinya. Maksudnya apa?
Mumpung ia masih tidur, aku mengambil plastik di bawah sprei dan memasukkan ke dalam baju.
“Maaf, Mbak. Siti pinjam dulu bungkusannya. Sungguh, Siti penasaran,” gumamku pelan. Berbicara dengan orang tidur tak apa, kan?
Perlahan, aku keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamarku. Saat melewati kamar Kak heru, pintunya terbuka. Rupanya ia lupa menutup daun pintu tadi malam.
Kakak terlihat pulas karena kelelahan. Ia hanya tidur memakai baju dalam saja dan celana pendek. Padahal semalaman hujan, apakah tak dingin? Mana tak pakai selimut lagi. Aku menggeleng.
Sesampainya di kamar, aku segera membuka bungkusan itu. Sebelumnya, tak lupa kukunci pintu agar tak ada yang masuk dan melihat. Bisa gawat kalau ketahuan!
“Apaan isinya, sih?”
Tanganku cekatan membuka ikatan demi ikatan plastik hitam tersebut. Saat terbuka … rupanya itu berisi test pack yang jumlahnya banyak. Tanganku gemetar menyentuh benda itu.
Ingatan kembali memutar memori, memang Kak Heru dan Mbak Rena sudah menikah hampir tiga tahun lamanya. Namun, belum punya anak. Rupanya Mbak Rena mengalami luka batin cukup dalam di sini.
Setelah kuperhatikan, beberapa test pack memang negatif. Akan tetapi, aku menemukan beberapa yang bergaris dua. Bukannya kalau garis dua itu artinya hamil? Seperti yang sering terlihat di film-film? Berarti Mbak Rena sempat hamil dua kali.
Lalu, apakah keguguran? Tak pernah keluarga di kampung mendapat kabar berita baik kalau Mbak Rena hamil.
Saat ditanya Ayah dan Ibu pun mereka hanya tersenyum sambil menjelaskan kalau memang belum dikasih amanah oleh Allah. Padahal, pertanyaan itu kembali dilontarkan saat mereka menjemputku kemarin.
Kebohongan apalagi ini? Mengapa pernikahan Kakak terasa penuh misteri. Terlalu banyak hal yang disembunyikan.
Aku menyandarkan punggung ke dinding, menghela napas panjang. Walau bagaimanapun, aku juga sudah dewasa. Sudah cukup paham soal ini.
Cepat-cepat test pack itu kusimpan lagi dalam plastik. Nanti, akan dipikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan benda ini ke kamar Mbak Rena.
Terdengar suara pintu diketuk. Siapa? Plastik itu kumasukkan dalam lemari dengan tergesa-gesa.
“Cepat mandi, Siti. Kita harus ke pasar pagi-pagi biar dapat sayuran segar.”
“Iya, Mbak. siti mandi sekarang.”
“Mbak tunggu di depan, ya.”
Setelah selesai bersiap-siap, aku mengikuti Mbak Rena ke pasar. Kami naik motor karena jaraknya pun dekat. Berjalan kaki saja sebenarnya hanya beberapa menit. Tapi nanti kalau bawa motor, kami bisa belanja banyak nantinya.
Sesampainya di pasar, aku menemani Mbak Rena belanja kebutuhan rumah untuk isi kulkas. Setelah selesai, Mbak Rena membawaku ke kedai sayur-sayuran. Wanita sudah cukup tua yang memilikinya. Wanita itu sedang menata sayurannya agar lebih rapi. Rambutnya sudah separuh memutih.
“Kita sudah beli sayur di sana tadi. Kenapa ke sini, Mbak?” tanyaku.
“Ada beberapa yang belum kita beli.”
Aku hanya diam mengekori Mbak Rena.
“Eh, Rena. Sama siapa itu?” kata wanita pemilik kedai. Ia menyambut dengan senyuman ramah.
“Oh, ini namanya Siti. Adik ipar saya, Bude.”
“Cantik sekali gadis ini.”
Aku menyalami wanita yang dipanggil Bude oleh Mbak Rena. Mereka tampaknya sangat akrab sekali, sering berinteraksi. Akan tetapi, satu hal kuingat adalah Mbak Rena di sini sebatang kara. Ia sama sekali tak punya saudara dan hanya semata-mata mengikuti Kak Heru. Lalu, siapa Bude ini?
“Siti, ini uangnya untuk beli mukena dan sajadah.” Mbak Rena memberiku tiga lembar uang seratus ribuan.
“Siti beli al-qur’an sekalian, ya?” pintaku.
“Iya, apa aja yang mau kamu beli silakan. Habisin aja uangnya. Mbak tunggu di kedai Bude Ratmi. Kamu belilah di toko sana,” tunjuk Mbak Rena mengarah ke deretan toko pakaian.
“Iya, Mbak. makasih, Siti belanja dulu.”
Aku senang sekali dan langsung meninggalkan kedai itu. Berjalan menuju toko untuk membeli alat ibadah. Tak butuh waktu lama, aku sudah selesai berbelanja.
Sambil menenteng plastik belanjaan, terlihat dari sini kalau Mbak Rena duduk berhadapan dengan Bude Ratmi. Mereka hanyut dalam obrolan serius di samping kedai. Ada anak perempuan seusiaku yang melayani pelanggan yang belanja di kedainya.
Sesekali, Mbak Rena tampak mengusap bagian mata. Apakah ia menangis lagi? Sepertinya, ia sedang curhat pada Bude Ratmi.
Aku menebak, selama tinggal di sini, Mbak Rena selalu bercerita pada wanita itu tentang keresahan hatinya. Bukanlah perkara mudah jauh dari keluarga dan hanya ikut suami di luar pulau. Satu hal yang kusadari, kalau Mbak Rena butuh teman.
“Sudahlah, kamu sabar aja. Semoga nanti suamimu bisa berubah,” kata Bude Ratmi sembari mengelus pundak Mbak Rena.
“Enggak mungkin, Bude. Enggak mungkin itu terjadi,” sahut Mbak Rena sedih.
Nah, pasti ada rahasia dalam pernikahan mereka yang sengaja disembunyikan dari keluarga. Namun, aku tak mungkin bisa langsung menodong dengan pertanyaan-pertanyaan yang bukan ranahku. Walau bagaimanapun mereka tetap punya privasi.
“Sudah belanjanya?”
“Sudah, Mbak. Sudah lengkap semua.”
“Yuk, kita pulang. Apakah gak mau belanja lagi?” Mbak Rena bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak mengembangkan senyum terpaksa.
“Ini saja cukup, Mbak.”
“Kami permisi pulang dulu, Bude. Yani, Mbak pulang,” pamit Mbak Rena.
“Iya, hati-hati.”
Oh, rupanya gadis yang melayani pembeli di kedai tadi bernama Yani. Mungkin itu anak bungsunya Bude Ratmi, aku mencoba menerka.
Sepanjang jalan, kami hanya diam. Tak ada obrolan apa-apa, aku hanyut dalam pikiran sendiri. Bude Ratmi adalah orang yang tahu tentang apa saja kisah rumah tangga Kak Heru dan Mbak Rena.
Logika saja, kalau tak ada masalah mana mungkin kita ingin bercerita dan meminta pendapat orang lain. Dengan bercerita, kita akan merasa nyaman dan lega. Itulah yang dilakukan Mbak Rena.
“Bude Ratmi itu temannya, Mbak?” tanyaku saat kami telah sampai rumah.
“Iya, Siti. Beliau orang baik walaupun bukan saudara.”
Aku mengangguk paham dan langsung masuk ke dalam rumah membawa belanjaan. Ada Kak Heru sedang melayani para pelanggan.
Pagi-pagi saja sudah ada beberapa yang antre buat beli beras. Lokasi tikungan pun tak jadi halangan kalau sudah rezekinya.
“Siti,” panggil Mbak Rena.
Aku yang sedang menyimpan belanjaan di dapur pun segera menoleh. Ia tersenyum dingin. Matanya membulat seolah hendak menegaskan sesuatu.
“Ingat, ya! Kalau salat pintu kamar dikunci. Kalau ngaji jangan bersuara. Habis ibadah langsung simpan semuanya dalam lemari dan kunci.”
Aku memutar bola mata karena bingung. Banyak sekali pertanyaan yang hendak kulontarkan, tetapi tertahan di tenggorokan. Mengapa ibadah harus seperti sembunyi-sembunyi? Persis zaman PKI. Haruskah begitu?
“Satu lagi, di rumah ini dilarang makan kepiting,” sambung Mbak Rena.