Bab 2

Pulang dari pasar, dengan barang belanjaan segambreng, mertuaku sempat sempatnya mengajakku ke sebuah klinik untuk memastikan apakah aku benaran hamil atau tidak.

"Bu, Monik belum hamil Bu. Tadi itu dipasar Monik mual mual karena mencium bau got yang beleberan hingga ke jalan,"

"Udahlah Monik,  kamu manut saja kata kata ibu. Ibu yakin, diperut kamu itu pasti sudah ada jabang bayik nya. Kamu enggak usah cerewet, biar kita periksa sama sama!" Perintah ibu mertuaku bersikeras.

Aku menghela nafas. Susah sekali rasanya meyakinkan ibu ibu kebelet pengen nimang cucu satu ini.

"Kalau ternyata hasilnya masih negatif, ibu enggak akan marah kan sama Monik?" Cicitku lagi.

Bu Leli memukul pelan lenganku sambil melotot.

"Kamu ini ngomong apa!? Apa segitu enggannya kamu punya anak? Kalau kamu kepingin cepat punya anak, kamu harus yakin dan optimis! Lima tahun bukan waktu yang sebentar lho Monik? Harusnya ibu sudah punya dua orang cucu dari kamu!" Omelnya lagi sambil bersungut-sungut.

Ya kali, membuat anak semudah menguleg sambel di cobek. Tinggal masukin garam cabe terasi langsung jadi. Tapi masalahnya kan ada di mas Arman? Pria itu syusah sekali memuaskan hasrat ku. Bahkan, baru sekali dua kali celup, mas Arman sudah crot duluan!

Ingin rasanya aku mengadu pada ibu mertuaku yang paling baik ini. Tapi manalah mungkin beliau mau mendengar keluh kesah ku mengenai hubungan ranjang kami? Yang ada aku bakalan disemprot karena telah menyebar aib suami! Heuhh!

Kami pun tiba didepan sebuah klinik. Ibu berpesan ke pada mang bajaj agar mau menunggui kami karena barang belanjaan kami cukup banyak jumlahnya.

"Silahkan ibu kencing di kamar mandi. Jangan lupa sebagian urin ditampung kedalam wadah ini ya Bu," ucap seorang perawat cantik berpakaian serba putih seraya menyerahkan sebuah cup penampung air seni padaku.

Aku yang sejak tadi selak kencing akhirnya bisa membuang seluruh air seni yang kutahan tahan. Tak lupa aku menyisakan sebagian urin dan memasukkannya kedalam wadah.

"Sudah dok," aku keluar kamar mandi seraya memegangi satu cup penuh air seni-ku.

Perawat tadi membuka satu buah tespack kehamilan lalu mencelupkannya kedalam air seni-ku.

Aku berdebar debar.

Kulirik Bu Leli juga wajahnya tampak serius dan menegang.

Hingga akhirnya perawat itu menghela nafas panjang lalu berkata dengan kalimat yang sudah bisa aku tebak.

"Ibu, mohon maaf, hasil tespacknya masih negatif. Ibu belum hamil,"

"Ah, masa sih dok!? Itu salah kali hasil tespeknya. Coba saya mau, tespecknya di ulang. Saya mau pakai tespack yang lebih mahal dan akurat!" Sangkal Bu Leli dengan dahi mengkerut kecewa.

Suster pun menuruti kemauan ibu mertuaku yang sudah kebelet pengen menimang cucu. Dicelupkannya sebuah alat tespeck yang harganya lebih mahal. Hanya dalam lima detik, hasilnya sudah keluar.

"Maaf ibu. Hasilnya sama saja. Masih negatif. Ibu mohon bersabar ya, saya sarankan agar ibu mencobanya lagi dirumah. Perbanyak makan makanan bernutrisi, jangan sampai ibu stress, kalau perlu cari waktu untuk berlibur bersama  dengan suami mencari suasana baru," nasihat perawat cantik itu lagi sembari tersenyum lebar.

Wajah Bu Leli terlihat masam. Sembari menatapku penuh kecewa, beliau mengajakku untuk segera pulang.

"Maaf ya Bu, Monik belum bisa mewujudkan keinginan ibu untuk menimang cucu..." Lirihku seraya menatap wajahnya yang tampak frustasi.

"Ya sudah. Lain kali kamu harus lebih berusaha lagi wik wik wik nya sama si Arman! Ajak suami kamu itu liburan sekali kali. Ibu perhatikan dia lebih senang bekerja daripada dirumah bersama kamu!"

"Iya Bu," jawabku lemah.

Apa yang dibilang ibu mertuaku ini seratus persen benar adanya. Mas Arman Setiap harinya pergi pagi dan pulang selalu malam hari sekitar pukul delapan. Setiap kali kutanya, jawabannya lemburlah, meeting lah, ketemu klien lah, dan aku? Bisa saja aku menyuruh seseorang untuk memata matai mas Arman dan melaporkan apa saja kegiatannya selama dikantor padaku, mengingat perusahaan besar itu dipimpin oleh ayahku sendiri.

Namun aku bukanlah type istri over possesiv. Aku tetap berpositif thinking pada suamiku dan tak ingin terjebak dengan rasa curiga yang menyiksa.

Siang ini aku sebenarnya ada kelas yoga dipusat kebugaran tempat biasa aku menempa diri. Tapi berhubung aku malas, aku hanya rebahan saja dirumah seraya bermain ponsel dan menonton drakor kesukaanku.

Sementara itu, si ibu mertuaku yang paling baik hati, bersama bi Iyem- pembantu dirumahku, sama sama memasak menyiapkan menu spesial untuk calon ibu yang ingin hamil.

Heuh, sedari tadi Bu Leli menyodoriku cemilan berupa buah buahan yang dia beli dari pasar tradisional.

****

Seperti biasa, pukul delapan malam, mas Arman pulang bekerja. Sudah ada ibu mertua yang siap sedia menyambut kedatangannya.

"Lho, ibu sudah disini Tho, kemana Monik?" Sekilas kudengar mas Arman menanyakan keberadaan ku.

Aku yang biasa setiap hari menyambut kedatangan suamiku memilih melipir saja, mengamati dari jauh karena tak ingin disebut lancang, bersaing dengan ibu mertua untuk merebut hati dan perhatian mas Arman.

"Halahh, jangan kamu pedulikan istri pemalasmu itu Arman! Sedari tadi kerjaannya cuma main handphone saja di kamar. Sudahlah gendut, pemalas pulak. Jiih,, kalau bukan karena dia puteri CEO tempat kamu bekerja, mana mau ibu membiarkan kamu menikah dengannya lima tahun tanpa kehadiran seorang @nak!" Ketus ibu mertuaku dengan suara sedikit dipelankan. Namun meski dipelankan, aku masih bisa mendengar jelas semua kalimatnya.

Aku terjengit kaget. Tak menyangka ibu mertua yang kukira sangat baik dan perhatian itu nyatanya menyimpan sesuatu yang busuk dalam hatinya.

"Sstt.. ibu jangan ngomong keras keras. Nanti didengar sama Monik," kudengar mas Arman memperingatkan sang ibu.

Bu Leli menuntun putera kesayangannya itu ke arah meja makan. Wanita itu melayani suamiku bak sedang melayani suaminya sendiri. Benar benar penjilat dan ratu drama!

"Ini, ibu sudah masakkan sayur kesukaanmu Arman. Dimakan yang banyak ya," wanita itu tampak mengambilkan beberapa lauk ke piring mas Arman, sementara lelaki itu diam saja.

Memang sih, selama ini aku tak pernah berlaku demikian pada mas Arman. Aku berfikir tugasku adalah memasak dan  menyiapkan makanan. Sisanya dia bisa ambil sendiri apapun yang dia suka. Berbeda dengan perlakuan ibu mertuaku yang memperlakukan puteranya bak seorang raja.

"Man, tahu tidak. Tadi ibu sempat mengira istrimu itu sedang hamil karena dia mual mual saat di pasar! Awalnya ibu sangat senang sekali, lalu membawanya ke klinik. Disana Monik di tespeck. Dan kamu tahu hasilnya?" Bu Leli sengaja menjeda kalimatnya agar sang putera memperhatikannya dengan seksama, dan triknya berhasil. Mas Arman menghentikan suapannya seraya menatap penasaran pada sang ibu.

"Dia tetap belum hamil!" Tandas Bu Leli dengan suara menggebu gebu.

"Monik akan selamanya sulit hamil Bu! lihat saja badannya sebongsor itu. Kalau dia mau hamil, minimal Monik harus menurunkan setengah dari bobotnya yang sekarang," timpal mas Arman seraya asik menyantap makan malamnya.

Aku mendengus kesal. Bisa bisanya dia menyalahkan diriku didepan ibu tercintanya itu. Padahal selama ini kan mas Arman sendiri yang tak sanggup memenuhi kebutuhan batinku diatas ranjang? Dia seperti tak berselera menyentuhku. Bahkan ingin cepat cepat crot lalu mengakhiri permainan! Sekarang dia malah menjelek jelekkan aku didepan ibunya!? Huh! Anak dan ibu sama saja! Menyebalkan!

"Itulah yang ibu selalu bilang sama istrimu itu man! Tapi apa? Dia bilang olahraga itu membosankan, diet makanan sehat itu menyiksa, minum jamu itu membuat dia mual! Dan banyak lagi alasan lainnya jika ibu memberinya petunjuk agar dia cepat hamil!" Tandas ibu mertuaku yang mengadu pada puteranya.

"Ya terus ibu mau bagaimana sekarang? Menceraikan Monik? Jelas enggak bisa Bu, karier Arman sedang bagus bagusnya di perusahaan," ucap mas Arman tanpa rasa berdosa.

Mataku seketika memanas. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata kata menyakitkan itu dengan entengnya. Jadi selama ini mas Arman mau menikah denganku yang gemuk ini, hanya karena gara gara uang dan jabatan!?

"Kamu bisa menjalin hubungan dengan wanita yang sehat dan cantik diluaran sana Arman. Kalau perlu, kalian menikah saja secara siri! Ibu udah enggak tahan lagi kepengen menggendong cucu darimu! Menunggu Monik hamil hingga bertahun tahun lamanya, hanya membuat batin ibu merasa tertekan!"

Aku menggeleng sambil berderai air mata. Aku sama sekali tak menyangka jika mas Arman dan ibunya sama sama busuk! Bagaimana bisa seorang ibu memberi nasihat menyesatkan seperti itu kepada putranya? Padahal dalam agama pun melarang, menikah secara diam diam tanpa persetujuan dari istri sah adalah haram.

"Ya sudah nanti Arman pikirkan lagi Bu. Ibu yang sabar ya, saat ini Arman sedang fokus dengan karier Arman. Urusan Monik, biar Arman saja yang mengurusnya," ucap mas Arman seraya menyudahi makan malamnya. Lelaki itu kemudian bangkit dari meja makan.

Aku yang menangis dipojokan tangga buru buru berjingkat lalu masuk kedalam kamarku di lantai dua.

Hatiku rasanya teriris perih mengetahui motif sebenarnya mas Arman mau menikah denganku selama lima tahun ini!

Pintu kamar terbuka. Aku rebahan sembari memejamkan mata, berpura pura tidur agar mas Arman tak curiga.

"Ya ampun... Babi satu ini malah tidur duluan. Suami pulang bukannya disambut dan dilayani dengan baik? Ckckckc" kudengar dengan sangat jelas mas Arman berdecak kesal.

Sudah biasa lelaki itu memanggil aku dengan sebutan babi, kuda Nil, gajah, atau ubur ubur. Meski hatiku terasa sakit, namun aku berusaha menanggapinya dengan santai.

Tapi setelah tahu jika dia dan ibunya merencanakan sesuatu dengan menikahiku, seketika rasa sakit itu berubah menjadi rasa benci. Pantas saja selama ini mas Arman tak pernah menunjukkan rasa peduli dan kasih sayangnya padaku. Dia seolah tak peduli dengan perasaanku!

'Aku tak menyangka kalau kamu dan ibumu bisa sejahat ini sama aku mas! Lihat saja, suatu saat aku akan membalas semua perbuatanmu, lalu membuangmu bak seonggok sampah!' tekad ku dalam hati.

Tentu saja rencana itu tak serta Merta aku lakukan dengan tergesa gesa. Aku perlu memberinya pelajaran atas semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini....

(Bersambung)

Bab 3

"Ahh, kamu serius Mon!? Mas Arman dan ibunya bisa sejahat itu!?" Sentak Ranty, sepupuku yang bekerja satu kantor dengan mas Arman. Aku mengangguk sendu.

"Tapi aku perhatikan ya Mon, mas Arman itu kalau dikantor kelihatan enggak neko neko lho orangnya. Beliau bekerja sangat rajin dan menjunjung tinggi etos kerja. Makanya kariernya selama ini selalu mulus!" Pungkas Ranty lagi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku ceritakan padanya.

Aku dan Ranty adalah saudara sepupu. Kami hampir seumuran. Ranty selain cantik dia juga pintar, tak heran jika saat ini kariernya melesat tajam. Di kantor papaku, saat ini Ranty menjabat sebagai manager operasional.

Berbeda dengan diriku yang setelah lulus kuliah langsung menikah dengan mas Arman, lalu fokus menjadi seorang ibu rumah tangga.

"Tapi entah kenapa ya Ran, aku merasa kalo mas Arman itu punya selingkuhan. Walau ini hanya sekedar feelingku saja sebagai seorang istri, tapi aku bisa ngerasain kalau selama ini dia memilih bertahan sama aku cuma buat melindungi kariernya aja. Selebihnya dia enggak ada perasaan apa apa sama aku,"

Ranty tersenyum getir. Dia menyentuh kedua tangan ku yang tergeletak diatas meja.

"Setiap rumah tangga itu pasti ada saja ujiannya Mon. Ujian berumah tangga paling berat adalah ditahun pertama hingga tahun ke lima. Ditahun itu biasanya segala macam sisi buruk pasangan terungkap. Lalu ada saja ujian yang datang misalkan dari segi keuangan, lingkungan, tekanan sosial bahkan ancaman orang ketiga dalam rumah tangga. Aku harap kamu bersabar sampai kamu benar benar mengerti siapa kamu dan suami kamu sebenarnya," ucap Ranty lagi menasehati ku. Aku mengangguk pelan.

Meski belum menikah, ternyata Ranty lebih bersahaja dalam menyikapi konflik konflik berumah tangga.

"Aku harap jangan ada yang kamu sembunyikan dari aku Ran. Kalau mas Arman dikantor ada main atau flirting dengan cewek lain, kamu harus lapor ke aku. Aku enggak mau menyia nyiakan masa mudaku hanya untuk lelaki yang hanya bisa memanfaatkan aku saja. Aku harap kamu mau bantu aku buat jadi mata mata di kantor, oke?" Pintaku pada Ranty. Gadis cantik dengan wajah glowing itu mengangguk.

Kini hatiku sedikit lega setelah mengajak Ranty  ketemuan dan curhat masalah rumah tanggaku padanya. Memang hanya kepada Ranty lah aku percaya dan bisa curhat apapun sampai ke hal hal paling privat sekalipun.

Usai ketemuan dengan Ranty disebuah restoran, akupun lanjut melakukan perawatan diri ke sebuah salon kecantikan. Jika kelak mas Arman ternyata bukan jodohku, toh aku masih akan terlihat cantik.

****

Sore harinya saat aku sedang asik menonton drakor kesukaanku, terdengar suara deru mobil memasuki pelataran rumah.

'mas Arman? Apa mungkin dia? Tapi kok tumben mas Arman pulang cepat. Biasanya dia pulang paling lambat jam delapan malam? batinku, keheranan. Aku segera beranjak menghampiri pintu lalu membukanya.

"Lho mas, tumben kok pulang sore?" Tanyaku dengan alis berkerut. Lelaki itu tersenyum lalu mencium keningku. Aku semakin mengerutkan kening.

"Sekali sekali mas kan juga kepengen pulang cepat kayak karyawan yang lain. Soalnya mas sudah lama enggak makan bareng sama istri tercinta dirumah," balasnya sambil merangkulku masuk.

Aku semakin terheran dengan sikapnya hari ini. Lho, tumben tumbenan lelaki yang biasanya cuek bebek sama istrinya ini mendadak bersikap manis? Dia lagi enggak kesambet jin Begundal 'kan?

"Ayo sayang, mas sudah lapar. Mama masak apa hari ini? Enggak tau kenapa mas tiba tiba kepengen makan berdua sama mamah," ucapnya lagi dengan nada mesra semakin membuatku bingung.

Tapi sebagai istri yang baik aku pun melayani mas Arman dengan segera menyiapkan makanan di meja makan. Aku menata masakan yang sudah tersedia dengan cantik.

Aku juga belajar menjadi istri yang baik dari ibu mertuaku, dengan menyendokkan nasi ke piringnya beserta lauk pauk yang dia sukai.

"Terima kasih mama sayang..." Ucapnya dengan nada manis. Aku berusaha menutupi rasa Heranku dengan tersenyum.

Meski aku terus bertanya tanya dalam hati atas perubahan drastis sikap suamiku, namun aku berusaha untuk bersikap biasa layaknya seorang istri. Aku tak lagi cuek dan acuh tak acuh seperti sebelumnya.

Usai makan sore, mas Arman hendak membersihkan diri. Saat mas Arman mandi, aku sengaja menyiapkan pakaian ganti untuknya dan kutaruh diatas pembaringan agar lelaki itu tak sibuk mencari carinya lagi dalam lemari pakaian.

Usai mandi, masih dengan titik titik air yang membasahi tubuhnya, lelaki itu justru menarikku hingga terhempas ke atas tempat tidur.

"Mas!?" Seruku dengan tatapan penuh tanya. Lelaki yang hanya mengenakan handuk itu tersenyum miring lalu menyergap tubuhku yang gemoy.

"Mas! Kamu kenapa sih, sejak pulang kerja sikapmu jadi aneh!?" Cicitku seraya mendorong tubuh tinggi besarnya dari atas tubuhku.

Sekilas lelaki itu menatapku sendu, lalu mulai mendaratkan kecupan dibibirku. Aku hendak menolak, namun aroma wangi sabun ditubuhnya membuatku terbius.

Kami bercumbu cukup lama. Hal yang sebelumnya bahkan tak pernah mas Arman lakukan padaku. Biasanya jika sedang minta jatah, lelaki itu langsung menghujamkan senjatanya tepat dirahimku lalu cepat cepat ingin segera mengakhirinya.

Tangan nakal mas Arman mulai menggrepe grepe bagian dadaku yang montok dan besar.

"Lepaskan pakaianmu sayang. Aku kebelet sedang ingin bikin baby dengan kamu," ujarnya seraya menarik kasar blouse lengan pendek yang kukenakan.

Aku pun pasrah. Hampir tak pernah mas Arman memperlakukan aku se spesial hari ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah dia... Sudah tahu rencanaku? Tapi dari mana dia tahu?

Mas Arman mencucup dua buah pepaya ku yang amat besar dengan kuncup sebesar buah cherry berwarna hitam kemerahan. Lidahnya dengan lincah menari nari menzilati buah cherry milikku, menciptakan gelenyar indah yang belum aku rasakan sebelumnya.

Aku mengerang panjang. Tubuh jumboku menggeliat kekiri dan kekanan. mas Arman terus berada diatas tubuh besarku sembari menggigit gigit kecil pentil Cherryku dengan liar.

Setelah itu cumbuannya mengerah kebagian bawah tubuhku. Aku terhenyak! Selama ini aku lupa mencukur bulu bulu bagian bawah tubuhku karena kesulitan melakukannya sendiri hingga bulu bulu jembutku tumbuh rimbun dibawah sana, seperti semak belukar.

Lelaki itu menyibak rerumputan liar yang tubuh subur menyelimuti gundukan bukit ku yang tembam penuh dengan lemak.

Mas Arman mulai memasukkan dua ujung jarinya kedalam Miss veggie ku hingga membuat tubuhku menegang dahsyat!

"Mas... Pelan pelan. Aku... Aku geli sekali, ouh yeah terus sayang! Nikmat," rengekku saat empat jarinya terbenam dalam gua darba milikku yang hangat dan lembab. Mas Arman mulai mengeluar masukkan empat jemarinya dengan ritme beraturan kedalam rahimku membuat tubuhku tiba tiba meregang sempurna

Sesuatu cairan hendak muncrat dari dalam lorong kenikmatan ku membuatku mencengkram kuat kuat ujung ujung sprei.

Aku menggigit bibir sambil menggelinjang kekanan dan kekiri saat dibawah sana sesuatu meleleh hangat dari dalam goa darba milikku.

Cairan itu bahkan menyembur dan membasahi jari jari mas Arman. Lelaki itu tersenyum tipis. Sementara tubuhku terkulai lemah tak berdaya.

"Maas, cepat masukkan mas, aku udah enggak tahan, please..." rengekku dengan nada sedikit memelas.

Mas Arman menurut. Dengan ganas dihujamkannya rudal ukuran sedang milik mas Arman kedalam lobang Ciput embemku yang tebal, tembem dan menganga lebar.

Aku mendesah tertahan, berharap rudal mas Arman tak cepat cepat keluar seperti biasanya. Apalagi saat ini, libido sedang berada dipuncak kenikmatan. Aku sungguh amat menikmatinya.

Mulutku tak henti hentinya menceracau, menahan puncak kenikmatan yang selama ini hampir tak pernah kurasakan.

Mas Arman terus memacu senjata berbentuk gada satpam itu sedalam yang dia bisa, karena lemak tebal diciput embemku hanya bisa ditembus oleh rudal rudal berukuran panjang dan besar.

Menit berikutnya, mas tubuh mas Arman menegang. Dia memeluk erat tubuh besarku. Kurasakan sesuatu cairan hangat menyembur dari senjata kelelakiannya membasahi lorong rahimku.

Sejenak lelaki itu terdiam menikmati pancaran yang mengalir dari dalam organ vitalnya. Lalu tak berapa lama kemudian, tubuhnya terkulai lemah disamping tubuhku.

Nafas kami sama sama memburu. Kulihat keringat membanjiri tubuhnya yang bidang.

Mas Arman merangkak mendekatiku.

"Terima kasih ya sayang...." Ucapnya lembut seraya mengecup keningku.

Tiba tiba saja aku merasa bak melambung ke angkasa dengan kata kata dan perlakuannya yang amat manis hari ini. Rasanya sangat indah jika aku diperlakukan spesial seperti ini.

"Sama sama mas..." Lirihku seraya tersenyum dengan kedua pipi merona merah.

(Bersambung)

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED