"Tapi Pak, Hasan malah gak nyumbang sepeserpun," sahut Kak Angga membela istrinya.
"Kata siapa? Gak usah sok tahu kamu Angga, Hasan emang gak nyumbang hajatan tapi istrinya nyumbang lebih dari yang kalian sumbangin."
Kami semua terperangah, lalu menatap wajah Bapak dengan tatapan bertanya-tanya.
"Emang bener, Neng?" bisiku pada Asmi.
"Sedikit sih, A."
"Asal kalian tahu, ya ...." Bapak bicara lagi.
"Asmi nyumbang beras 5 kwintal buat hajatan ini," lanjut Bapak.
Lagi-lagi kami semua terperangah. Aku sampai tak percaya, ini beneran apa bapak cuma lagi belain Asmi karena Asmi istri pilihan beliau ya?
"Bukan cuma beras tapi Asmi juga nyumbang seekor kambing jenis etawa, ya kalian tahulah harganya berapa? Cari di google kalau gak tahu," imbuh Bapak lagi.
Kami semua makin melongo, tak kecuali denganku. Masa iya istriku nyumbang sebanyak itu? Dari mana uangnya? Wah jangan-jangan istriku itu anak orang kaya di desanya, buktinya bisa sumbang beras, bisa sumbang kambing, hebat emang, gak sangka juga, pantesan bapak jodohin aku sama dia.
"Kalian sumbang apa? Uang sejuta saja minta dibalikin setelah buka amplop, apa gak malu kalian? Lihat Asmi, ngasih Bapak 5 juta buat keperluan dapur aja dia diem-diem aja, gak banyak omong kayak kalian."
"Hah, masa? Bapak ngada-ngada kali mentang-mentang Asmi menantu kesayangan, Bapak," sahut Mbak Andin tak percaya.
"Kalau gak percaya tanya sama ibu kalian!" tegas Bapak.
Tanpa menunggu lagi, Kak Alfa cepat-cepat mendekat Ibu yang juga masih berdiri di sana.
"Emang bener, Bu?"
"Iya." Ibu menjawab pendek dan kecut, beliau melipat kedua tangannya di dada.
"Makanya jangan suka nilai orang dari apa yang kalian lihat aja! Sekarang malu sendiri kan kalian?" pungkas Bapak, beliau lalu pergi lagi ke kamarnya, disusul Kak Alfa yang juga pergi dengan wajah pasi menahan malu.
Kami semua akhirnya bubar karena sudah sore kami harus pulang.
Besok sore hari kami baru akan datang lagi, karena tidak seperti hari ini yang kebetulan adalah hari minggu besok kami harus masuk kerja dulu seperti biasa.
"Awas biar mobil Kakak dulu yang keluar, nanti motormu nyenggol mobil Kakak kalau lecet gimana?" ucap Mas Fatih sombong.
"Tau ih kamu pengen duluin aja, sopan dikit napa," seru Kak Alfa sambil masuk juga ke dalam mobilnya.
Terpaksa kami mundur lagi sampai mentok ke tembok rumah ibu. Tapi gak puas sampai di sana rupanya, setelah mobil kak Alfa jalan, mobil Kak Fatih justru sengaja mundur sampai mentok menekan motorku.
"Mas, bilang kan awas! Mentang-mentang istrimu jumbo mau adu gontok kamu sama mobil Mas?" teriaknya dari kursi kemudi.
Aku mulai geram, segera aku turun dari motor, Asmi sekuat tenaga menahanku, tapi tak kupedulikan lagi.
"Maksud Mas Fatih apa? Aku masih bisa sabar kalau motorku dihina, tapi kalau Mas hina-hina istriku, maaf Mas, mau ke ujung samudera pun aku siap melawanmu."
Tapi bukannya serius menanggapi, Mas Fatih dan istrinya malah tertawa melihat kemarahanku.
"Biasa aja kali Hasan! Cinta banget sih kamu sama si Asmi, punya istri body nya udah kayak motor butut kamu aja masih aja kamu bela mati-matian. Gimana kalau kamu punya istri yang bodynya kayak mobil kita?" celetuk Mbak Andin di samping Mas Fatih.
Ya Tuhan, entah terbuat dari apa hati mereka itu, sombongnya keterlaluan.
Mendengar Mbak Andin bicara begitu refleks tanganku memukul mobil mereka. "Mobil bentar lagi ditarik leasing aja bangga! Huh!"
Mereka lalu pergi melajukan mobilnya.
Aku dan Asmi memang selalu naik motor bebek butut kemana-mana, sementara kedua kakakku selalu naik mobil mewah. Gak apa-apa butut kata Asmi yang penting ini motor sendiri, daripada mereka? Naik mobil tapi mobil cicilan.
Emangnya mereka pikir aku gak tahu mobil Mas Fatih dan Mbak Andin itu hanya mobil kredit? Malahan mobilnya sering gonta-ganti karena mobilnya sering ditarik leasing, tentu aja karena mereka gak sanggup bayar cicilannya.
Kak Alfa juga lebih parah, dia dan suaminya sering minjem uang ke Bapak kalau mereka butuh buat cicilan rumah sama mobilnya yang setiap bulan selalu kurang.
"Anak-anak Alfa 'kan udah pada besar Pak, biaya sekolahnya juga makin gede, makanya Alfa pinjam tiap bulan karena darimana lagi selain dari Bapak?" ucap Kak Alfa saat itu.
Aku tahu karena aku dengar sendiri saat Kak Alfa sedang memohon sama Bapak di kamarnya.
"Makanya kamu tuh rubah dikit gaya hidup keluargamu kenapa sih Alfa? 'Kan bisa jual itu mobil kalau kalian gak sanggup bayar? Atau balikin ajalah kalau bikin pusing Bapak." Begitu kata Bapak saat itu.
Menurut desas-desus yang kudengar juga dari bapak, Mas Fatih malah sering rental mobil hanya demi terlihat 'wah' oleh tetangganya.
Karena itulah Bapak tidak suka dengan kelakuan anak-anaknya itu, padahal bapak sering memberitahu mereka bahwa kebiasaan pamer dan gaya hidup selangit mereka itu salah, tapi Kak Alfa dan Mas Fatih tidak pernah mendengarkan Bapak, lebih-lebih Ibu selalu mendukung kedua saudaraku itu makanya mereka semakin menjadi-jadi saja.
"Kamu gak usah terpancing sama gaya hidup dan omongan Kakak-Kakakmu San, biarkan mereka itu mau bagaimana Bapak udah capek kasih tahu mereka."
Begitu kata Bapak saat itu. Ucapan itu yang selalu kuingat dan kupegang hingga saat ini. Ya walaupun sebagai manusia biasa pastinya aku juga sering terpancing dengan kelakuan saudara-saudaraku itu.
Sesekali aku juga pernah berpikir ingin seperti mereka, beli rumah bagus, mobil bagus, emas dan baju-baju baru, arisan tiap minggu meskipun dari hasil kredit atau ngutang ke Bank, tapi untunglah Asmi selalu mengingatkanku.
"Sabar A, kalau gak sanggup mah ngapain maksain atuh? Hidup sederhana asal tenang, gak dikejar hutang, daripada naik mobil mewah tapi bikin resah apalagi bikin susah orang tua juga."
Begitu katanya Asmi. Ah istriku itu biarpun gendut memang punya kepribadian yang bagus banget, gak sia-sia Bapak menjodohkan aku padanya karena memang sejak bertemu dengannya pun meskipun gendut entah kenapa aku langsung cocok.
Istriku itu berisi, lebih tepatnya sih gendut, di usianya yang sudah menginjak 29 tahun berat badannya mencapai 90 kilogram lebih dengan tinggi 165.
Namanya Asmirandah terinspirasi dari artis cantik Asmirandah katanya, tapi bukannya sama, malah body-nya jauh berbeda, ibarat kutub, Asmi istriku adalah kutub utara dan Asmirandah adalah kutub selatan, tapi tidak apa-apa aku menerima dia apa adanya.
Istriku itu berasal dari desa, entah dari desa mana Bapak menemukannya, aku pun tidak tahu dan tidak pernah tanya juga sih, yang penting sekarang aku sudah menikah dengannya dan tidak pernah diejek bujang lapuk lagi sama temen-temen, tetangga juga sama saudaraku.
Tapi sayang, berhenti mengejekku mereka sekarang berganti mengejek istriku, selalu saja ada yang jadi bahan ketawaaan mereka, entahlah aku juga bingung sebenarnya masalah mereka sama istriku itu apa?
"Udah A, ayo kita pulang." Asmi menepuk pundakku, segera aku melajukan motor dari rumah Ibu.
Di tengah perjalanan pulang Asmi memintaku berhenti sebentar di depan minimarket.
"Neng, masuk sendiri aja Aa nunggu di sini," kataku sambil duduk di kursi yang biasa ada di depan minimarket.
Entah apa yang akan dibeli istriku, kubiarkan saja, aku tak mau banyak tanya juga, takutnya Asmi merasa risih, kasihan.
Sekitar 15 menit kemudian, Asmi keluar dengan 2 jinjing plastik besar berisi belanjaan di tangannya. Sontak keningku mengerut dan cepat-cepat bangkit untuk membawakan plastik itu.
"Neng, belanja apa? Kok banyak banget."
"Cuma keperluan dapur sama cemilan A, belanja bulananlah istilahnya."
Aku pun menaruh plastik itu di depan motorku. Tapi sebelum berangkat aku kembali bertanya.
"Belanja segini banyak emang Neng ada uang?
"Ya ada atuh A, makanya bisa belanja."
Sebetulnya aku sedikit heran, darimana sih uang Asmi itu? Tadi Bapak bilang Asmi nyumbang 5 juta, sekarang Asmi belanja banyak banget, gak mungkin kalau hanya dari uang gajiku, soalnya gajiku itu tidak seberapa, aku hanya jadi kurir sebuah ekspedisi sehari-harinya.
Ah ya udahlah ya, biar nanti aku tanyain aja di rumah. Gumamku dalam hati.
Kami sampai di kontrakan petak yang sudah kami sewa sejak setelah kami menikah bulan lalu.
Karena penasaran sejak tadi, segera aku mengajak Asmi duduk di kursi untuk mengintrogasinya.
"Neng, tadi kata Bapak Neng nyumbang 5 juta. Sekarang Neng belanja banyak. Kalau boleh Aa tahu Neng uangnya dari mana?"
"Dari Aa atuh, 'kan tiap hari Aa kasih uang. Kalau yang disumbangin mah itu dari tabungan, Neng," jawabnya sambil sibuk mengeluarkan barang belanjaan itu ke atas meja.
"Emang Neng punya tabungan gitu? Kenapa harus disumbangin sih Neng, 'kan bisa buat beli baju Neng, sayang loh 5 juta."
"Astagfirullah Aa, nyumbang buat orang tua masa gitu, gak apa-apa atuh 'kan biar berkah, kapan lagi coba kita punya kesempatan nyumbang? Lagipula 'kan Neng ada uangnya, kecuali kalau gak ada. Kalau soal baju mah gampang, banyak di toko kalau mau mah," jawabnya, aku terdiam mencerna perkataan istriku.
Ya memang benar apa yang dikatakannya itu, tapi apa perlu istriku sebaik itu? Nyumbang hajat 'kan gak perlu gede-gede, Kak Alfa sama Mas Fatih yang katanya orkay aja cuma nyumbang sejuta, masa iya Asmi nyumbang sampe 5 juta, apalagi katanya Asmi juga nyumbang beras sama kambing dari desanya. Sebenernya keluarga Asmi orang kaya apa bagaimana sih? Aku jadi penasaran.
"Ya udah ya udah, tapi nanti kalau Neng punya uang lagi meningan disimpen aja buat keperluan Neng, apa kek gitu, pergi ke salon atau perawatan biar kinclong, biar gak dihina-hina terus, Neng."
"Emang Aa mau Neng kinclong?"
"Ya maulah, Neng! Biar begini Aa sayang sama Neng, tapi karena Aa kere, makanya Aa belum bisa beliin Neng skincare, pergi ke salon, beli baju dan lainnya, coba kalau Aa udah banyak uang Neng bakal Aa make over sampe pangling, sampe mereka kaget lihat Neng dan gak hina-hina lagi. Makanya Neng, kalau ada uang mending buat Neng aja ngapain mikirin orang lain," ucapku serius.
Tapi Asmi malah tertawa.
"Ih serius, Neng."
"Tapi percuma kinclong dan cantik kalau hati dan akhlaknya jelek A, wajah mau dipoles secantik apapun ia akan tetap ditinggalkan dan jadi tanah tapi uang yang disedekahkan untuk menyenangkan hati orang lain akan jadi bekal buat kita di akhirat nanti."
Waduh bener juga, tapi kan-ah ya udahlah ya, istriku memang begitu, baik dan sabarnya keterlaluan.
"Aa kenapa sih tadi harus marah-marah di rumah Bapak?" tanya Asmi kemudian sambil menyenderkan bobotnya ke kursi.
"Habis Aa kesel Neng, masa iya cuma Neng yang gak dikasih bahan seragam, tega bener emang Kak Alfa sama Mbak Andin itu."
"Gak apa-apa atuh, A! Biar Neng gak pake seragam 'kan Aa mah nanti pake, nanti Aa aja yang ikut difoto Neng mah jangan."
"Mana bisa Neng, gak mau Aa kalau kayak gitu. Mana tinggal dua hari mana bisa jahit secepat itu."
"Sabar A, kalau Aa marah-marah terus nanti bisa kena penyakit serangan jantung loh."
"Heh yang bener ah?"
"Iya bener A, selain sakit jantung, di dekat orang yang sedang marah itu juga suka banyak setannya."
"Heh nakut-nakuin aja ah. Neng, dong salah satunya."
"Ya bukan Neng juga atuh A, masa Neng disamain sama setan ih," protesnya sambil mencubit perutku.
Akhirnya kami tertawa sampai terpingkal-pingkal di sana.
_____
Selepas Isya, aku rebahan di kasur, sementara istriku masih sibuk memijit ponsel androidnya di sampingku, entah apa yang sedang Asmi lakukan di ponselnya itu, akupun tidak tahu.
Tapi jika dilihat dari gerak-geriknya yang serius banget saat mengetik, aku curiga Asmi lagi ngegosip di grup WA nya. Hah biarlah namanya juga emak-emak.
Akhirnya aku memilih tidur lebih dulu.
Pukul sebelas malam tak sengaja aku terbangun, kulihat Asmi masih saja memegang ponselnya itu, sekarang ia malah sampai harus memakai kacamata segala, entah biar apa akupun bingung, aku akhirnya memaksa diri untuk duduk dan mengucek mata.
"Neng, belum tidur apa?"
"Belum A, tanggung."
"Astagfirullah Neng, gosipin apa sih sampe tanggung begitu?" Aku bertanya serius.
"Ih Aa, siapa juga yang lagi ngegosip, A."
"Lah terus?"
"Neng lagi kerja, tapi ini udah kok, mata Neng udah gak kuat, kopi sampe abis dua gelas," katanya.
Aku melirik ke arah cangkir kopi yang ada di atas nakas, lengkap dengan beberapa cemilan ringan.
Ampun deh pantas aja istriku itu gemuk, ya semalaman dia ngemil sama ngopi terus rupanya, tidak heran kalau tadi dari minimarket Asmi belanja cemilan banyak banget.
Aku menggeleng kepala dan kembali tidur di sampingnya. Tapi sebelum kembali terpejam aku sempat menatap Asmi sebentar.
Tak terasa sudut mataku basah, entah kenapa wanita di hadapanku ini sangat baik dan penyabar, walaupun begitu banyak kekuranganku dia tak pernah mengeluh.
Kadang aku merasa heran kenapa Asmi selalu terlihat bahagia selama ini setelah ia menikah denganku walau aku hanya seorang bujang lapuk karena Ibu terlalu pemilih.
Ya benar, ibu yang selama ini menentukan jodoh anak-anaknya, sialnya setiap aku membawa gadis pujaanku selalu ditolaknya dengan berbagai alasan, alhasil gadis-gadis itu akhirnya kapok dan tidak mau berumah tangga denganku karena katanya takut ibu mertuanya nanti galak.
Sama halnya dengan Asmi, saat Bapak membawanya ke rumah, Ibu sangat menolak mentah-mentah.
"Apaan sih, Bapak cari jodoh buat Hasan kok begini amat? Yang bagusan dikit kenapa sih?" katanya waktu itu.
"Sudah, kamu gak usah ikut campur lagi. Mau sampai kapan Hasan membujang? Usianya udah mau kepala 4, belum lagi Hanum ngebet nikah 2 bulan lagi, mau kamu Hasan dilangkahi adiknya?"
Terpaksa akhirnya Ibu pun menerima Asmi, dan yang membuat kami akhirnya menikah tentu karena kesabaran Asmi juga, andai dia tidak sabar seperti gadis-gadis sebelumnya mungkin sekarang perjodohan ini sudah batal lagi.
Tapi sayang meski sabar sekali istriku, Ibu selalu membeda-bedakan Asmi dengan menantu lainnya. Entah kenapa Ibu seperti tak suka sekali padanya.