Bab 1

"Aaaaa..."

Seketika Rachel berteriak keras saat melihat seorang pria tertidur di sampingnya tanpa sehelai pakaian ditubuhnya. Ia mendadak panik ketika bangun tidur, menyadari ada tangan kekar melingkar erat di sekitar perutnya.

Ditambah keadaan dirinya terbaring tanpa mengenakan pakaian di ranjang asing yang tidak dikenalnya itu, makin menambah kebingungan dalam benaknya.

Suara teriakan Rachel yang keras terdengar sampai ke luar kamar. Dimana Damian dan istrinya, Kate nampak terlihat lelah.

Mereka berdua baru pulang dari perjalanan dinas pagi hari ini. Damian yang mendengar suara lengkingan aneh itu lantas mencolek lengan Kate.

"Mah..." panggil Damian seraya menegok ke kiri dan ke kanan.

"Apa sih, Pah?"

"Mamah dengar suara tadi gak?" tanya Damian ke Kate.

"Suara apa, Pah?" 

"Seperti suara teriakan wanita. Suaranya terdengar di dalam rumah kita. Mama gak dengar? Suaranya kencang padahal," jawab Damian seraya memusatkan pendengarannya.

"Iya. Mamah dengar, Pah. Sepertinya suara itu asalnya dari dalam kamar Dave, tapi masa iya Dave bawa wanita masuk ke rumah."

"Coba kamu cek dulu sana. Nanti papah nyusul setelah bawa koper-koper ini ke dalam kamar," ucap Damian seraya mendorong koper-koper besar dengan kedua tangannya.

Kate mengangguk patuh, kemudian segera berjalan menuju kamar Dave. 

Cklek...

Kate membuka pintu kamar Dave. Seketika itu juga Kate melongo dengan mulut terbuka lebar. Kate melihat Dave yang tidak mengenakan busana itu tengah tertidur berduaan dengan seorang wanita. Keadaan wanita itu juga tidak lebih baik daripada Dave.

"Astaga DAVE," teriak Kate seketika.

Rachel menoleh saat mendengar suara nyaring Kate. Kate yang melihat wajah Rachel kebingungan bercampur rasa takut itu segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. 

Dave mengerang pelan sambil mengejapkan kedua matanya begitu mendengar suara ribut-ribut disekelilingnya. 

"Ada apa sih, Mah? Masih pagi kenapa musti teriak-teriak?" keluh Dave seketika.

Dan tepat saat itu, Damian datang ke kamar Dave. Damian terdiam untuk beberapa detik, tapi langsung paham dengan apa yang terjadi di depan matanya. 

"Anak kurang ajar. Jadi seperti ini kelakuanmu saat papah dan mamah tidak ada di rumah," berang Damian sambil mengepalkan kedua tangannya.

Seketika Damian memukul keras kepala Dave dengan wajah kesal. 

"Argh... Sakit, Pah. Aduh... Duh—"

Dave merintih kesakitan dengan wajah kebingungan.

"Dave baru bangun tidur langsung di pukul saja. Ada apa sih?"

"Ada apa? Ada apa? Anak gadis siapa ini yang kamu bawa ke rumah?" tanya Damian seraya menunjuk ke arah Rachel.

Dave menengok sekilas ke arah Rachel dan terkejut melihatnya.

"Loh? Kamu siapa? Kenapa ada dirumah saya?" tanya Dave keheranan.

"Saya yang harusnya tanya begitu ke kamu. Kenapa saya malah di bawa kemari?" sela Rachel memotong ucapan Dave.

"Saya bawa kamu kesini? Yang benar saja," elak Dave seketika.

"Sudah berani bawa anak orang ke rumah, malah sekarang mengelak lagi. Dasar anak kurang ajar. Tidak tau diuntung," geram Damian dengan mata melotot menatap ke Dave.

"Saya beneran gak ingat, Pah."

"Siap yang mengajarimu jadi anak pembohong begitu. Hah?"

Damian sudah tidak tahan lagi dan menghajar Dave seketika. Dave hanya bisa pasrah saat tangan Damian meninjunya. Jiwa lelaki Dave ingin melawan. namun otak warasnya mencegah Dave, mengingat lelaki yang tengah memukulinya saat ini tidak lain ialah ayahnya sendiri.

"CUKUP..."

Kate berteriak keras, membuat Damian dan Dave menoleh ke arahnya.

"Sudah, Pah. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah," ujar Kate memperingati.

"Terus saja kau bela anak manja yang kurang ajar ini. Sudah membuat malu begini saja masih kau bela," gerutu Damian ke Kate.

"Aku bukan membelanya, tapi mau sampai kapan kau hajar dia begitu? Sampai babak belur baru papah puas." 

Kate murka dan balik menatap tajam wajah Damian. Seketika Damian berdiri dan menghentikan aksinya. 

"Kau urus semua kekacauan ini—"

Damian menoleh ke arah Dave.

"Setelah itu temui papa di ruang tamu. Awas saja kalau kau mencoba lari dari masalah," ketus Damian.

Damian lalu balik badan dan berjalan ke luar kamar.

"Bagaimana tidak tambah kurang ajar kalau terus di perlakukan manja begitu," dengus Damian sepanjang jalan.

☆☆☆

Saat ini Dave telah duduk di sofa panjang. Damian yang tengah membaca koran itu sempat melirik ke arah Dave. Namun ia tidak menghiraukan keberadaan anaknya itu dan malah lebih memilih terus membaca koran paginya.

Tidak berselang lama, Kate datang bersama Rachel yang sudah berpakaian. Kate menduduki Rachel di sebelah Dave, sedangkan ia sendiri duduk di sebelah Damian.

Damian menutup lembaran koran ditangannya. Kemudian wajahnya beralih menatap tajam ke arah Dave dan Rachel bergantian.

"Jadi apa yang telah kalian berdua lakukan dirumah ini semalam?" tanya Damian tanpa basa-basi terlebih dahulu. 

Dave terdiam, mencoba mengingat kembali peristiwa semalam. Seingatnya semalam ia sedang bersama dengan teman-temannya di klub malam. Namun mengapa pagi hari ini ia bangun bersama wanita asing di kamarnya.

Seketika Dave melirik ke arah Rachel dengan tatapan menyelidik. 

Melihat Dave yang enggan berbicara, di tambah Rachel yang terus menuduk ketakutan, Dave jadi kesal sendiri.

"Kenapa diam saja? Kalian punya mulut 'kan? CEPAT JAWAB," berang Damian setengah membentak keduanya.

Kate lantas menepuk-nepuk punggung suaminya, mencoba menenangkannya.

"Maaf bukannya tidak mau menjawab, tapi saya tidak begitu ingat jelas kejadian semalam. Yang saya ingat Dave menawarkan tumpangan saat saya mau pulang. Semalam badan saya tidak enak. Saya tidak tau apa yang terjadi pada tubuh saya, rasanya panas dan terbakar dari dalam. Saya terpaksa mengiyakan ajakan Dave karena teman saya pergi lebih dulu. Setelah itu bapak dan ibu bisa mengira-ngira apa yang terjadi selanjutnya. Saya juga tidak menyangka Dave akan membawa saya kesini."

Dave terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka Rachel akan bicara segamblang itu kepada kedua orang tuanya. Ia berbicara seakan Dave-lah yang merencanakan dan menginginkan semua ini terjadi.

Padahal semalam Rachel sendirilah yang menyerangnya lebih dulu dan membangkitkan gairah kelakiannya.

Seketika Dave merasa jijik dengan tampang polos Rachel.

Kedua orang tua Dave tercengang setelah mendengar penuturan Rachel. Damian mengeram marah menatap wajah Dave. 

Hampir saja Dave di hajar lagi oleh ayahnya itu, jika Kate tidak menahan lengannya. Sedangkan Kate hanya bisa memijat pelipisnya yang tegang sembari mengeleng, tidak percaya dengan kelakuan anaknya.

Damian menghela napas berat, memandang iba ke arah Rachel.

"Saya hargai kejujuranmu itu—"

Damian beralih menatap ke arah Dave.

"Kau bukan anak kecil lagi sekarang. Jadilah pria sejati. Nikahi dia atau kau akan lebih membuat malu keluarga jika dia sampai hamil," ucap Damian memberi saran yang terdengar bagai sebuah perintah.

"Papah..."

BERSAMBUNG...

Bab 2

Dave terkejut, tidak menyangka papahnya akan semudah itu memutuskan.

"Aku menolak pernikahan ini, Pah."

Dave berbicara dengan tegas. Ia tidak ingin mengorbankan hidupnya dengan menikahi wanita yang tidak jelas asal usulnya. Terlebih ia baru bertemu dengan Rachel semalam.

Dave yang memiliki prinsip hidup akan menikah dengan wanita yang dicintainya itu, sudah pasti akan menentang rencana gila papahnya.

"Apa kau bilang? Mau bikin malu papah rupanya kau."

"Bukan begitu, Pah. Dave hanya tidak mau menikah dengan sembarang wanita.

Lagipula dia juga belum tentu bakal hamil. Lebih baik kita pastikan dulu sebelun mengadakan pernikahan," ucap Dave seraya melirik ke arah Rachel.

"Pukulan papah tadi rupanya belum cukup menyadarkan otak dangkalmu itu. Enteng sekali kau bicara," geram Damian seketika.

"Jangan begitu, Dave. Bagaimana kalau wanita ini nantinya hamil? Pikirkan kesusahan yang akan keluarga kita hadapi kalau sampai ada yang tau kau menikah karena telah menghamili anak orang. Pikirkan juga nasib wanita ini nantinya," ujar Kate mencoba menasehati anaknya.

"Ya. Kalau dia nantinya hamil pun masih bisa digugurkan bukan, Mah?"

Kate seketika mengelus dada, mendengar jawaban tidak bertangung jawab yang keluar dari mulut anaknya.

"Anak ini benar-benar—"

Damian seketika bangkit dari tempat duduknya.

"Sini kau. Sepertinya kau perlu dihajar lagi agar otakmu dapat bekerja dengan semestinya," berang Damian sembari mengepalkan kedua tangan.

Bukan cuma kedua orang tua Dave saja yang kesal, Rachel yang duduk di sebelah Dave mengeleng tidak percaya dengan perkataannya.

Rachel kini telah menyadari lelaki macam apa yang duduk di sebelahnya. Rachel jadi sangat mengerti alasan Damian bersikap kasar kepada Dave.

"Hey, kau bantu aku. Saat ini kau sedang dalam masa subur atau tidak?" tanya Dave sambil menyenggol lengan Rachel.

Seketika Rachel memandang tajam ke arah Dave, kemudian bangkit dari tempat duduknya.

"Maaf om, tante. Saya tau menikah itu bukan perkara yang mudah. Saya bisa mengerti niat baik kalian, tapi saya juga punya harga diri. Saya tidak akan memaksa kalau laki-laki itu tidak menginginkannya—"

Damian seketika berdiri menatap wajah Rachel yang juga menatap ke arahnya.

"Tidak masalah jika dia tidak menginginkan pernikahan ini. Saya janji tidak akan menuntutnya, jika saya nanti hamil," kata Rachel dengan penuh ketegasan.

Damian sempat terkejut dengan perkataan Rachel. Namun, sedetik kemudian ia diam-diam tersenyum kecil.

Melihat tidak ada tanggapan apapun, Rachel kembali membuka mulutnya.

"Sepertinya tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan. Maaf kalau kehadiran saya sudah mengusik kehidupan kalian—"

Rachel menuduk ke arah Damian dan Kate secara bergantian.

"Kalau begitu saya pamit, karena saya juga harus kembali. Saya permisi," ucap Rachel seraya berjalan pergi.

"Tunggu dulu sebentar."

Suara berat Damian menghentikan langkah kaki Rachel. Damian lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendekati Rachel.

"Saya meminta maaf atas perbuatan anak saya. Sebagai permintaan maaf, tolong izinkan supir pribadi kami mengantar mba sampai ke tujuan."

Rachel memandang sekilas wajah Damian, kemudian mengangguk pelan. Damian lantas memanggil supir pribadinya.

"Pak Jiman..."

Tidak berselang lama, seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri Damian.

"Iya, Tuan. Ada apa?" seloroh laki-laki yang disapa dengan panggilan Jiman oleh Damian.

"Tolong antar wanita ini pulang ya, Pak."

"Baik, Tuan Damian."

Jiman mengangguk patuh, kemudian wajahnya beralih melihat ke arah Rachel.

Rachel lalu dibawa pergi oleh pak supir itu.

Keesokan harinya, Rachel yang tengah makan pagi dirumahnya itu tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara ketukan pintu.

Anggraini lantas bergegas membukakan pintu untuk menengok siapa tamu yang datang sepagi ini.

Rachel awalnya tidak perduli dan tetap melanjutkan sarapannya itu, namun makannya mulai terusik saat ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.

"Siapa ya tamunya?" batin Rachel bertanya dalam hati.

Ia lantas mencuci kedua tangannya, kemudian bergegas mengintip ke ruang tamu.

Dari balik sekat pembatas, samar-samar Rachel melihat beberapa orang duduk diruang tamu. Rachel berusaha menajamkan indera pengelihatannya.

Mata Rachel terbelalak seketika.

"Bukankah itu Dave? Mau apa dia kesini?" batin Rachel kembali berseru.

Rachel melihat sosok Dave tengah duduk di sofa rumahnya. Bukan cuma Dave, Rachel juga melihat Damian dan Kate duduk di sana mengampit Dave yang tengah tertunduk.

Rachel lantas mendekatkan telinganya, agar dapat mencuri dengar percakapan orang tuanya dengan kedua orang tua Damian.

"Kedatangan saya sekeluarga kesini sebenarnya berniat ingin melamar putri kesayangan bapak dan ibu, Rachel."

Nada suara Damian terdengar sangat sopan, berbeda sekali dengan saat Rachel pertama kali bertemu.

"Anak saya, Dave berniat menikah dengan Rachel." Sambung Damian disertai senyuman.

Rachel sontak terkejut mendengar ucapan Damian. Ia sungguh tidak menyangka, Dave akan melamarnya secepat ini.

"Bagaimana, Pak, Bu? Apa Dave di izinkan menikah dengan Rachel?" tanya Kate terdengar lembut.

"Sepertinya saya harus tanya dulu pada anaknya. Sebentar ya saya panggilkan," ujar Anggraini seraya pergi menemui anaknya.

Anggraini terkejut saat melihat Rachel berdiri di belakang sekat pembatas ruang tamu dengan ruang makan.

"Eh, kamu sudah di sini rupanya—"

Ibu Rachel lantas mengandeng lengan anaknya.

"Ayo ke depan. Ada pemuda tampan yang berniat melamarmu," ucapnya terlihat bersemangat.

Saat Rachel sudah berdiri di ruang tamu, ia dapat melihat senyum lembut Kate dan juga seorang gadis perempuan yang duduk di sebelah Kate. Sedangkan, Dave duduk tertunduk sambil memandangi lantai rumahnya.

Ayo duduk dulu sini," ujar Anggraini seraya menarik tangan Rachel agar duduk di sebelahnya.

"Hel, ini ada yang ingin melamarmu. Namanya Dave,"ucap Robert membuka obrolan dengan anaknya.

Rachel kemudian menoleh ke arah Dave yang saat ini tengah memandang wajahnya. Kedua mata mereka saling bertemu pandang untuk beberapa saat. Namun, Rachel segera mengalihkan pandangannya.

"Gimana? Apa kamu mau menikah dengannya, Nak?" tanya Anggraini dengan lembut.

Rachel bingung harus menjawab apa saat ibunya bertanya soal lamaran Dave di seluruh keluarganya. Alhasil, Rachel hanya tersenyum kecil sembari melirik ke arah Dave yang nampak terdiam dengan wajah datar.

Saat ini Dave dan Rachel sedang berada di depan teras rumah Rachel. Rachel sebelumnya mengajak Dave keluar rumah dengan dalih ingin mengenal Dave lebih dalam.

"Kau terlihat tidak keberatan sama sekali menikah dengan saya," sindir Dave saat mereka sedang berduaan.

"Lantas aku harus bagaimana?"

Rachel malah bertanya balik, membuat Dave tidak bisa berkutik.

"Setelah kemarin dengan semangat berkobar menentang, pada akhirnya kau datang kemari juga. Tidak kusangka," sindir balik Rachel.

"Itu semua karena paksaan papah. Lagipula saya hanya ingin memastikan kau tidak hamil saja. Jadi bersabarlah selama sebulan ini," ucap Dave datar.

"Sebulan? Apa maksudmu?" tanya Rachel nampak bingung.

BERSAMBUNG...

Bab 3

Dave yang stres karena tekanan pekerjaan ditambah sikap keras Damian yang kerap mendoktrinnya itu, kerap mencari hiburan dengan datang ke klub malam.

Ditemani botol-botol minuman keras, Dave menghabiskan waktu malamnya. Tak jarang beberapa wanita cantik datang mendekatinya, berperan sebagai pelipur hati laki-laki kesepian semacam Dave.

Jika Dave suka, mereka akan duduk mengampit tubuh Dave. Kemudian menemani Dave sepanjang malam.

Seperti malam hari ini, Dave kembali mengunjungi klub untuk bersenang-senang. Namun malam ini, Dave sedang dalam mood yang tidak baik.

Tidak seperti biasanya, malam ini Dave mengabaikan wanita-wanita yang datang mendekat. Jengah karena tidak dihiraukan, satu persatu dari mereka lantas memilih pergi.

Alhasil, Dave hanya duduk sendirian di sofa sembari memandangi punggung wanita yang tadi diacuhkannya.

Sudah bergelas-gelas minuman keras yang diminumnya malam itu, tapi tetap tidak membuatnya mabuk.

Bosan melihat pemandangan disekitarnya, Dave bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan sempoyongan melewati wanita yang tengah meliuk-meliukan tubuhnya dengan manja mengikuti dentuman suara keras yang diputar oleh DJ malam itu.

Tangan nakal Dave tanpa sadar kerap menyentuh ke bagian tubuh terlarang wanita penghibur itu.

Hingga matanya tanpa sengaja melihat seorang wanita tengah duduk manis di pojok bar. Melihat wanita itu tengah duduk sendirian, jiwa lelakinya terdorong untuk berjalan mendekatinya.

Dave menepuk pundak wanita itu pelan. Begitu wanita itu menoleh, seketika Dave tersenyum lebar. Dave seakan tengah tersihir dengan wajah cantik dan penampilan anggunnya malam itu. Wanita cantik dengan rambut sebahu itu mengenakan dress selutut berwarna merah.

"Hai, cantik. Sendirian saja?" sapa Dave ramah.

Suara bass bernada rendah yang keluar dari mulut Dave, membuat wanita cantik itu tersenyum. Seketika Dave terpesona melihat senyum manisnya.

"Boleh kita berkenalan? Saya Dave," ucap Dave seraya mengulurkan sebelah tangannya.

"Rachel."

Rachel membalas uluran tangan Dave dan berjabat tangan dengan lelaki yang memiliki iris mata berwarna grey ini.

"Wow. Nama yang pas untuk wanita secantikmu," goda Dave seraya tersenyum sembari mengusap rambutnya sendiri.

Rachel terlihat tersipu malu mendengarnya. Ia lantas mengalihkan perhatian dengan meminum minuman di gelas yang ada di hadapannya.

Gluk...

Bunyi suara air tegukan yang mengalir melintasi kerongkongan Rachel, membuat Dave menahan salivanya.

Rachel melirik ke arah Dave yang tengah memandangi wajahnya. Entah mengapa Rachel terlihat tersipu malu, mendapatkan tatapan penuh ketertarikan dari Dave.

Dave menyadari ada semburat merah di pipi Rachel. Ia lantas mengangkat sebelah alisnya, semakin tertarik dengan wanita bermata hazel dihadapannya ini.

"Saya lihat kau sendirian saja. Mau di temani?" tanya Dave setengah berharap.

"Apa kehadiranku tidak akan menganggumu?"

Rachel yang balik bertanya, malah membuat Dave tertawa kecil.

"Tentu tidak menganggu sama sekali. Karena saya juga datang sendirian."

"Maaf, tapi saya tidak datang sendirian."

"Benarkan? Ah, sayang sekali—"

Dave menghela napas kecewa, namun tetap menampakkan senyum di wajah tampannya.

"Tapi sepertinya dari tadi aku tidak melihat siapapun yang duduk disebelahmu, selain diriku. Lantas kemanakah sosoknya berada sekarang?"

"Ya, sangat disayangkan. Dia barusan pergi lebih dulu," ucap Rachel pelan.

Kekecewaan sesaat Dave seakan sirna seketika, mendengar ucapan lirih Rachel.

"Tidak sepantasnya wanita secantik dirimu di tinggal pergi seperti ini. Seperti orang yang tidak berperasaan saja," celetuk Dave menyuarakan isi kepalanya.

Rachel tertawa kecil mendengarnya, membuat Dave menoleh dan ikut tertawa juga.

Orbolan mereka berdua pun berlanjut. Mereka berdua berbicara pembahasan santai, hal-hal yang tidak serius. Dave sesekali melempar candaan dan Rachel hanya tersenyum menanggapi seadanya.

Hingga Dave menyadari wajah Rachel terus berkeringat. Ia lantas mengambil tisu di sekitarnya, kemudian mengelap bulir keringat Rachel di dahinya dengan tisu itu.

Rachel terdiam saat tangan Dave bergerak di sekitar wajahnya, namun matanya membulat menatap ke arah Dave dengan penuh keterkejutan.

Dave menyadari Rachel terpaku menatapnya dengan tubuh seolah membeku. Ia lantas berhenti menyeka keringat Rachel dan malah memandangi lekat wajah wanita bermata hazel itu.

"Maaf, saya melihat dahimu berkeringat."

Mata Rachel masih memandangi wajah Dave. Saat kedua mata mereka saling bertemu pandang satu sama lain, Rachel baru menyadari lelaki dihadapannya ini sangat rupawan.

Rambut pirang yang terjulur ke depan menutupi dahinya, rahang tegas nan kokoh, mata bulat dengan iris berwarna grey yang tengah menatap matanya itu membuat Rachel terpana untuk sesaat.

"Sepertinya kau terlihat kurang nyaman, bagaimana kalau kita keluar dari sini?" ucap Dave memberi saran.

Rachel mengangguk pelan. Dave memberikan tisu bekas keringat itu, ke tangan Rachel.

Entah mengapa Rachel merasakan sesuatu sengatan yang mengelora dalam dirinya, saat telapak tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Dave.

Dengan gerakan impulsif, Rachel tiba-tiba memegang lengan Dave.

Dave lantas memandangi wajah Rachel dengan tatapan seakan berkata, "ada apa?"

"Aku ingin pulang saja. Sepertinya badanku sedang tidak enak. Maaf," ucap Rachel seraya menunduk.

"Tidak apa-apa—"

Walaupun sedikit kecewa, Dave tetap mengulas senyum di wajahnya.

"Saya antar kau pulang ya? Please, kali ini jangan menolak."

Rachel mengangguk, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dave mempersilahkan Rachel berjalan lebih dulu, sementara ia di belakang mengikutinya sembari memegang sebuah ponsel ditangannya.

Dave memesan taksi online untuk mengantar pulang Rachel. Saat menunggu taksi datang, Rachel terlihat gelisah, seperti orang yang tengah kepanasan.

Padahal suasana malam itu, sangat sejuk dengan adanya angin semilir yang melintas disekitar mereka berdua. Dave yang bingung hanya memandangi Rachel yang terus bergerak-gerak gelisah.

Bagi Dave gerakan Rachel terlihat sangat sensual dan malah membangkitkan gairah kelakian dalam diri Dave untuk segera muncul ke permukaan.

Tiba-tiba saja tubuh Rachel oleng, membuat tangan Dave memegang pinggangnya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu pandang.

Dave yang tengah mabuk berat itu pun tanpa sadar bergerak menarik tengkuk Rachel agar mendekat ke wajahnya.

Kemudian Dave mencium Rachel dengan lembut, ciuman yang disertai lumatan kecil itu seketika berubah jadi cumbuan panas saat Rachel memberikan izin dengan membuka mulutnya.

Rachel rupanya membalas cumbuan panas Dave, membuat hasratnya makin membara. Namun, Dave terpaksa menahan hasratnya saat mendengar suara dering di ponselnya.

"Argh..." umpat Dave seketika.

Suara dering di ponsel Dave itu, rupanya panggilan dari supir taksi yang memberitahu jika sudah sampai di tempat tujuan.

Dave lantas mengajak Rachel masuk ke dalam taksi bersama dengan dirinya. Ia sempat terdiam sesaat saat pak supir bertanya alamat tujuan.

Dave awalnya ingin membawa Rachel ke hotel, tapi ia teringat kalau rumahnya kosong. Akan sangat merepotkan jika mereka harus melakukan reservasi hotel lagi. Maka dari itu, Dave langsung memberitahu pak supir agar pergi ke rumahnya.

BERSAMBUNG...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED