Bab 2

Suasana di ruang pengadilan sudah mulai memanas. Ruangan yang memang sudah di lengkapi dengan alat pendingin, sama sekali tidak bisa membuat siapapun orang yang berada di dalamnya merasa nyaman dan tenang. Merasa sebagai korban yang telah kehilangan, Gery terus saja mendesak pelaku supaya benar-bebar mengakui kesalahannya.

Amora Atmaja, atau biasa dipanggil Amora. Dia berdiri tegak memberi kesaksian bahwa dirinya tetap menyangkal tidak terlibat dalam kecelaan tersebut. Amora beserta ayahnya yang saat itu tengah mengendarai mobil, tiba-tiba saja diserempet oleh mobil lain dan kemudian mobil dirinyalah yang pada akhirnya menabrak mobil si korban yang telah meninggal. Korban yang tak lain adalah kekasih Gery.

Amora berkata dengan lantang tanpa takut untuk membela dirinya dan sang ayah. Meski kesempatan menang sangat sedikit, Amora tetap mencoba demi mempertahankan kebenaran.

“Bukti apa yang bisa kau tunjukkan pada kami, ha?” Gery menyalak. Di belakangnya, Dion berkedip—memberi kode supaya tetap tenang.

Sudah sekitar satu jam persidangan berlangsung, pada akhirnya hakim ketua pun memutuskan. Seperti apa yang terjadi pada setiap drama sebuah pertelevisian, sebagai orang yang hidup di bawah rata-rata pada akhirnya akan kalah. Persidangan dimenangkan oleh pihak Gery. Bukan seratus persen dimenangkan, melainkan ayah Amora tetap ditahan, akan tetapi Amora diberi kesempatan untuk mencari bukti.

Nampaknya bukti dari Gery pun tidak terlalu cukup kuat untuk menjebloslan ayah Amora ke dalam pernjara selamanya.

“Tuan!” panggil Amora pada Gery yang hendak masuk ke dalam mobil. Amora berlari mengejarnya. “Boleh aku bicara?”

Gery mendecih sambil melirik ke arah Amora yang tampilannya begitu sangat sederhana. “Mau bicara apa kamu? Jangan pikir aku berubah pikiran untuk mengeluarkan ayahmu!”

Amora lantas memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum bicara kembali. “Berikan waktu aku untuk bicara, Tuan”

Gery yang awalnya acuh, mendadak risih melihat kedua mata Amora yang berkaca-kaca. Wanita itu perlahan membuat Gery merasa iba.

“Bicara saja seperlunya,” kata Gery kemudian.

Mereka bertiga berbicara di dalam sebuah kafe. Duduk saling berdekatan, tentunya dengan tatapan aneh masing-masing.

Baru juga mulai berbicara, Amora tiba-tiba menangis dan menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Aku mohon, Tuan. Bebaskan ayahku? Dia sama sekali tidak bersalah.”

Amora sedang memohon sambil menangis. Gery dan Dion yang terkejut dengan apa yang dilakukan Amora, sempat saling pandang sebelum kemudian menoleh ke beberapa pengungunjung lain.

“Hei! Kau ini apa-apaan! Kenapa malah menagis!” hardik Gery.

“Tolong, Tuan. Ayahku sama sekali tidak bersalah. Biarkan dia bebas.” Amora tetap memohon.

Tiba-tiba, Amora mengusap air matanya dan duduk tertegak. “Atau Tuan bisa melakukan apapun padaku, asalkan ayahku bebas.”

Gery diam sejenak. Ia mengusap dagu seolah sedang memikirkan sesuatu hal yang lebih menarik. Dion yang mungkin sedikut paham dengan isi dari kepala tuannya itu, terlihat menggelengkan kepala saat saling tatap. Dion berharap Gery tidak melalukan apapun yang saat ini tengah mendarat di kepalanya.

Seperti tak mempedulikan cegahan dari Dion, Gery menyeringai ke arah Amora. Kelima jemarinya mendarat di atas meja, kemudian mengetuk meja bergantian.

“Siapa namamu?” tanya Gery acuh.

“A-Amora. Amora, Tuan,” jawab Amora gugup.

“Berikan aku nomor ponselmu!”

Buru-buru, Amora merogoh ponse di dalam tas. Setelah berada di genggaman, Amora segera menulis beberapa digit nomornya. Kemudian meletakkannya di atas meja. Mendorong ponsel tersebut mendekat ke arah Gery.

Dion segera mencatat nomor tersebut lalu coba menghubungi. Setelah nomor tersebut membuat ponsel Amora berdering, seringaian penuh arti itu terlihat lagi di wajah Gery.

“Temui aku di kantorku!” Gery meletakkam sebuah kartu nama di atas meja. “Kalau kau tidak datang, kesempatan ayahmu bebas sangatlah sempit.”

Amora meraih kartu nama tersebut dengan cepat dan buru-buru ikut berdiri. “Baik, Tuan.” Amora menunduk dan mengangguk beberapa kali.

Di dalam perjalanan pulang, Dion yang sangat penasaran dengan rencana Gery pun bertanya.

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” tanya Dion

Gery menangkup kedua telapak tangan di depan dada, kemudian menggerak-gerakan jemarinya bergantian seperti kaki ubur-ubur. “Memenjarakan orang sepertinya nggak menarik, Ion.”

Dion yang bingung menoleh sekilas. “Maksud mu?”

Gery tertawa setengah menyeringai. Bisa dikatakan wajah Gery saat ini terlihat mengerikan.

“Aku memikirkan sebuah rencana. Ya … mungkin saja rencana ini justru bisa menghukum mereka dengan sepadan.”

Dion mulai mengerti dengan jalan pikiran Gery, tapi dia kurang paham dengan rencananya. Membebaskan orang dari Sel tahanan dalam keadaan hati mendendam, pastilah ada rencana dibaliknya.

Sampai di rumah, Dion tetap tidak mendapatkan jawaban dari Gery. Gery hanya tersenyum dan menyeringai membuat Dion sangat penasaran.

“Kamu pulang saja, istirahat. Besok datang ke kantor lebih awal,” kata Gery pada Dion saat turun dari mobil.

Setelah itu, Gery pun masuk ke dalam rumah. Sampai di atas teras, Gery melirik ke arah samping kiri. Di sana ada sebuah mobil berwarna merah yang terparkir.

“Lina di sini?” gumam Gery.

Penasaran, Gery pun masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, di ruang tamu ada Lina dan mama yang sedang mengobrol.

“Tuh, orangnya sudah datang,” kata Wenda sambil menunjuk kearah Gery dengan pandangan mata.

“Halo, Gery,” sapa Lina. “Aku mampir buat menemuimu.”

“Ngobrol saja dikamarku.” Gery berlalu setelah berkata demikian.

“Aku permisi, Bibi.” Lina berdiri dan menyusul Gery yang melangkah begitu cepat.

“Pelankan langkahmu!” decak Lina. “Temanmu datang, tapi kau malah merengut begitu.”

Gery tetap diam hingga sampai di kamar. Merasa gerah, Gery melepas kemejanya kemudian melempar ke sembarang tempat. Di belakang Gery, Lina hanya menghela napas lalu memungut kemeja yang tergeletak di atas lantai.

“Masih mikirin Tania?” tanya Lina. Kemeja yang ia pegang dilempar ke keranjang di dekat kamar mandi.

Gery membantingkan tubuhnya di atas ranjang. “Tentu saja. Aku tidak mungkin jika tidak memikirkan Tania. Kau tahukan aku cinta mati sama dia.”

Lina mendengus pelan. Wajahnya terlihat datar dan menunjukkan rasa ketidaksukaan dengan kalimat Gery.

“Aku tahu …” Lina duduk di tepi ranjang sambil menyentuh kaki Gery yang masih terbalut celana jeans. “Tapi tidak baik kalau kau berlarut-larut dalam kesedihan.”

“Kau pikir ini mudah?” salak Gery dan duduk tertegak. “Aku masih belum siap kehilangan!”

“Siapa bilang kalau ini mudah?” kata Lina. “Tapi … kau hanya membuat Tania menderita dengan kesedihanmu.”

Gery terdiam. Ia kemudian merobohkan lagi badannya di atas ranjang. “Lalu aku harus bagaimana?”

“Lepaskan dia. Tania Tidak mau kau seperti ini. Kalau kau memang sayang dengan Tania, kau harusnya bisa berpikir ke depan. Jalani hidup seperti biasanya. Berhentilah merenung nggak jelas.”

Suara kamar mendadak hening.

***

Bab 3

Keesokan harinya, Amora memberanikan diri datang ke kantor Intan Group untuk menemui Gery. Apapun akan Amora lakukan demi membebaskan sang ayah yang sama sekali tidak bersalah.

Sampai di depan gedung, Amora berhenti sejenak sambil mengatur napasnya yang berderu cepat. Sambil mengedarkan pandangan, Amora menggigit bibir lalu memantapkan diri untuk masuk ke dalam gedung.

Amora berjalan mendekati seorang resepsionis. “Maaf, ruangan Tuan Gery di sebelah mana ya?” tanya Amora.

Resepsionis wanita dengan pakaian di bagian dada sedikit terbuka itu tersenyum dan berdiri. “Apa sudah ada janji?”

Amora terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng.

Resepsionis itu tersenyum lagi. “Kalau begitu, mohon maaf. Nona tidak diijinkan menemui Tuan Gery.”

“Tapi dia menyuruhku datang kemari,” kata Amora. “Dia memberikan aku kartu namanya.” Amora meletakkan benda pipih persegi di atas meja konter.

“Tunggu sebentar, biar saya hubungi Tuan Gery. Nona silahkan menunggu.”

Amora kemudian duduk di kursi yang dipersilahkan oleh resepsionis.

Selang beberapa menit kemudian, suara langkah kaki datang mendekati Amora yang sedang duduk gelisah.

“Amora?” panggilnya tegas.

Amora menoleh. “Iya, Tuan.” Amora kemudian berdiri.

“Ikut saya,” perintah Dion.

Amora berjalan di belakang Dion sambil terus mengatur diri supaya tetap bisa tenang. Ini adalah harapan satu-satunya supaya papa bisa bebas. Apapun akan Amora lakukan.

“Silahkan masuk. Tuan Gery sudah menunggu.” Dion membukakan pintu. Sementara Amora masuk, Dion menutup pintu kembali lalu duduk di bangkunya—di depan ruangan Gery.

“Permisi, Tuan.” Amora menundukkan kepala.

“Duduk!” perintah Gery cepat.

Amora maju dan kemudian duduk di hadapan meja Gery. Di sana, di tempat duduknya, Gery terlihat sedang memandang sinis ke arah Amora. Ada tatapan benci dan juga dendam yang tergambar jelas.

“Berani juga kau datang ke sini,” kata Gery.

“A-apapun akan aku lakukan untuk membebaskan ayahku,” sahut Amora.

“Orang bersalah ya tetap bersalah. Untuk apa kau bebaskan?” Gery berdiri lalu melipat kedua tangan di depan dada. “Kau sepertinya tidak waras.”

Amora tersenyum getir dan menggigit bibirnya sedikit lebih kuat. Gery orang yang berkuasa, Amora tidak akan mudah memohon meskipun harus bersimpuh. Namun, jika memang hal itu diperlukan, Amora akan lakukan.

“Sudah jelas ayahmu mengantuk saat menyetir. Kau mau mengelak dan memohon apa padaku?” tanya Gery dengan suara tinggi.

Amora menunduk menatap jemarinya yang bergetar. Memejamkan mata beberapa detik, kemudian Amora menjatuhkan diri bersimpuh di hadapan Gery.

“Aku mohon, Tuan. Bebaskan ayahku. Aku bersedia melalukan apapun asal ayahku bisa bebas.” Berlutut, Amora mulai menitikkan air mata.

Gery mendecih kemudian membungkukkan badan. Satu tangannya meraih dagu Amora lalu mendongakkan ke atas. “Apapun ya?” seringaian nampak mengerikan.

Amora menyipitkan mata ketakutan. “I-iya, Tuan. Apapun.”

Gery kemudian melepas cengkeraman di dagu Amora cukup kencang hingga Amora terdorong ke belakang.

“Kau berani berkata apapun, itu artinya kau siap menanggung resikonya. Bagaimana?” Gery menatap Amora penuh arti.

Sudah maju sampai sejauh ini, tidak ada harapan bagi Amora untuk mundur. Demi sang ayah, Amora harus siap dengan resiko yang bahkan Amora sendiri belum tahu wujudnya.

“Ayahmu di vonis penjara selama lima tahun. Itu sudah ringan karena dari pihak pengadilan memberimu kesempatan untuk membela diri.” Gery berjalan sambil memutari tubuh Amora yang masih bersimpuh di lantai.

“Kalau kau memang menginginkan ayahmu bebas, jadilah budakku sesuai dengan masa hukuman ayahmu.”

Amora yang semula masih memandangi langkah kaki Gery, mendadak tersentak dan mendongak. “A-apa maksud, Tuan?” tanya Amora gugup.

Gery mendengkus kemudian berjongkok di hadapan Amora. “Kau bilang bersedia melakukan apapun asal ayahmu bebas bukan?”

Amora mengangguk. “Tentu, Tuan.”

Gery kembali berdiri lalu berjalan dan kemudian suduk di bangku kerjanya lagi. “Maka jadilah budakku.”

Bingung, panik dan gelisah, Amora rasakan saat ini. Budak? Apa yang dimaksud dengan itu? Kata itu terdengar sangat mengerikan. Amora merasakan otaknya mendadak membeku dan tidak bisa berpikir. Ketika Amora perlahan sudah berdiri, Gery tersenyum jahat tanpa peduli dengan wajah Amora yang berubah pucat.

Amora berjalan lunglai saat keluar meninggalkan gedung Intan Group. Sebuah gedung perusahaan yang berdiri dalam bidang pengelolaan makanan dan minuman, memang sangatlah berkuasa seperti apa yang sudah dikatakan banyak orang. Dan Amora sudah masuk ke dalamnya. Masuk ke dalam kehidupan di balik siapa penguasa gedung tersebut.

“Tuan Atmaja, silahkan keluar.” Seorang polisi membukakan pintu sel untuk Atmaja.

Atmaja yang masih bingung, hanya menurut dan mengikuti polisi tersebut yang membawanya ke ruangan temu keluarga.

“Ayah!” Amora menghambur datang memeluk Atmaja. “Ayah bebas.” Dua kata yang Amora katakan dalam pelukan.

“Apa maksudmu?” Atmaja melepas pelukan sang putri. “Bebas? Bebas bagaimana?”

Amora menatap sendu wajah ayahnya yang kian menua. Garis-garis keriput di bawah mata dan area wajah lainnya, pada akhirnya membuat Amora menitikkan air mata. Tentang menjadi budak, Amora tepikan untuk sesaat. Ayah bebas, itulah yang terpenting.

“Kita pulang. Nanti aku ceritakan di rumah.” Amora merangkulkan tangan pada lengan ayah lalu berjalan meninggalkan sel tahanan.

Jika Amora peduli dengan sang ayah dan bersedia melakukan apapun asalkan ayah bebas, lain dengan tiga orang di rumahnya. Ibu dan saudara tirinya sama sekali tidak membantu saat ayah berada di sel tahanan. Namun, mereka tetap menyambut kepulangan ayah dengan gembira.

Amora sempat bingung dan heran melihat tingkah mereka. Mereka senang karena ayah bebas, tapi kenapa sama sekali tidak berusaha membantu saat ayah berada di persidangan dan sel tahanan?

“Bagaimana ayah bisa bebas?” tanya Ambar. Dialah ibu tiri dari Amora. “Apa pelapor berubah pikiran?”

“Iya, Ayah. Bagaimana ayah bisa dibebaskan?” sambung Putri.

Amora yang sedang membuatkan minuman di dapur ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

Atmaja tersenyum menatap istri dan putrinya bergantian. “Amora yang membebaskan Ayah.”

“Amora?” pekik Ambar dan Putri bersamaan.

Bersamaan dengan itu, Amora datang membawa secangkir teh hangat untuk ayah. Amora tak akan kaget jika dua orang itu meliriknya dengan sinis.

“Bagaimana mungkin dia bisa membebaskan ayah,” kata Putri. “Tuan Gery adalah orang berkuasa. Amora bisa apa?”

Itu yang akan Atmaja tanyakan pada Amora. Dia sendiri juga penasaran bagaimana Amora bisa membebaskannya. Dengan tebusan? Sepertinya itu sangat tidak mungkin.

“Amora?” panggil Atmaja pelan.

“Iya, Ayah.” Amora ikut duduk. Ibu dan saudara tirinya masih menatap penuh curiga.

“Katakan pada ayah, bagaimana kau bisa bebaskan ayah?”

“Kau tidak mencuri uang untuk menebus ayah kan?” salak Ambar memotong pembicaraan.

“Mana mungkin!” balas Amora. “Aku tidak sekeji itu. Dan lagi, untuk apa kalian ingin tahu? Kalian sendiri sama sekali tidak membantu ayah dan justru memilih bersembunyi.”

Kedua orang itu bungkam sesaat sebelum kembali bicara karena tak mau kalah dengan Amora. “Kita hanya menjaga image. Apa kata orang nanti kalau tahu ayah dipenjara?”

Amora mendengkus dan tersenyum getir. “Kalian sama sekali tidak punya perasaan!”

“Apa kau bilang?” Putri sudah maju dan hendak menyerang Amora. Belum sampai, Atmaja sudah melerai lebih dulu.

“Jangan bertengkar. Ayah tidak akan memihak pada siapapun atau menyalahkan siapun. Tapi ayah mohon, berterima kasihlah karena Amora sudah membebaskan ayah.”

Mereka terdiam meskipun dalam hati sedang memaki.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED