Tring
Seorang wanita tampak menggeliatkan tubuhnya ketika ia merasa terganggu dengan deringan ponselnya, karena seseorang yang terus menelpon sampai akhirnya Naura pun menjawab panggilan tersebut dengan mata yang sayu.
“Hallo, ini siapa ya?” Lirih Naura pada lawan bicaranya.
“Buka mata kamu dan lihat nama siapa yang tertera di layar ponselmu.”
Naura menurut dan bergumam, “Burung Beo.”
Aska mengusap wajahnya dengan kasar, “JADI KAMU MENAMAKAN KONTAK SAYA BURUNG BEO!!”
Mata Naura membulat ketika ia mulai mengenali siapa pemilik suara ini, “Eh Pak Aska…”
“KE RUMAH SAYA SEKARANG JUGA!!”
Karena suara Aska yang begitu menggelegar, tanpa sengaja membuat bayinya kembali menangis.
“Astaga pak… diluar lagi hujan deras.”
“Saya gak peduli!”
Samar-samar Naura pun mendengar suara tangisan bayi yang semakin kencang, “Itu suara bayi siapa?”
“Bayi say-“
“APA!?” seru Naura yang begitu shock.
Lain halnya dengan Aska yang kini menjauhkan ponselnya dari telinga, akibat suara Naura yang begitu kencang.
"Pelankan suaramu Naura."
"Em maaf Pak... Tapi Bapak kan belum menikah, kok Bapak bisa punya anak sih?"
"Susah buat dijelasin, anak saya sekarang lagi nangis dan kamu tolong kesini sekarang."
"Kenapa harus saya Pak? Kenapa gak mamanya aja?" Heran Naura.
"Kalau dia ada disini sudah pasti saya akan menyuruhnya dan tidak akan menelpon kamu. Kamu kesini sekarang dan bantu saya untuk menjaga bayi ini, jangan lupa untuk membelikan popok dan susu karena sepertinya saya tidak memiliki itu semua. Pastikan bahwa semua barang-barang itu yang termahal dan bermerk," pesan Aska yang tidak ingin anaknya mengenakan barang-barang yang biasa.
"Tapi saya gak punya uang sebanyak itu pak."
"Saya akan transfer, bersiaplah kemari dengan membawa barang-barang yang sudah saya pesan tadi."
"Nggak nunggu reda dulu-"
Tiba-tiba saja sambungan teleponnya ditutup secara sepihak, dan hal itu membuat Naura geram.
"DASAR BOS NYEBELIN!! BISA-BISANYA DIA MENGGANGGU WAKTU ISTIRAHATKU," seru Naura yang dengan terpaksa keluar rumah dengan tubuh yang mengenakan sebuah jas hujan.
Perlahan rasa dingin mulai melingkupinya, apalagi dia mengendarai sebuah motor sehingga angin pun dengan bebas menerpanya. Sedangkan di sisi lain Aska tengah mencoba untuk menenangkan bayinya yang terus menangis.
"Bisa gawat kalo Mami sampai tau kalo aku udah punya anak," gumam Aska yang begitu berat untuk menerima bayi ini.
Setelah hampir 1 lebih jam Aska menunggu, akhirnya Naura pun tiba di depan rumahnya dengan kondisi yang begitu mengenaskan karena jas hujan yang dikenakan olehnya telah sobek sehingga membuat pakaiannya basah, belum lagi kedua tangannya yang sudah penuh membawa barang-barang pesanan Aska.
"Lama banget kamu nyampenya!? Saya nunggu kamu hampir satu jam lebih lho," omel Aska yang membuat Naura darah tinggi.
"DI LUAR HUJAN PAK! BAPAK GAK LIAT SAYA SUDAH BASAH KUYUP, BELUM LAGI PESANAN BAPAK YANG GAK SEDIKIT. BAPAK SUDAH MEREPOTKAN SAYA DAN SEKARANG BAPAK MALAH MENYALAHKAN SAYA! TAU GINI SAYA GAK MAU BANTU BAPAK LAGI," bersamaan dengan itu Naura menyerahkan barang belanjaannya pada Aska.
Aska segera meletakkannya di lantai dan berlari mengejar Naura untuk meminta maaf.
"Maafkan saya Ra, tapi saya mohon kamu jangan pergi dulu ya? Anak saya masih menangis dan mungkin dia sudah tidak nyaman lagi dengan popoknya," tahan Aska pada lengan Naura.
"Saya gak peduli! Saya mau pulang saja."
"Saya mohon Ra, memangnya kamu tidak kasihan sama bayinya? Dia sudah ditinggalkan oleh ibunya sedangkan saya belum pernah merawat seorang bayi," tatap Aska dengan mata yang menyedihkan.
Karena merasa iba akhirnya Naura pun mau untuk membantunya, dan dengan senang hati Aska membawa Naura ke kamarnya.
"Pakaian kamu basah, lebih baik kamu gunakan ini..." bersamaan dengan itu Aska menyodorkan sebuah hoodie dan celana panjangnya.
Naura tak menolak dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaian tersebut karena ia juga merasa kedinginan, sedangkan pakaian yang ia kenakan sebelumnya tengah dikeringkan.
"Ya ampun popoknya penuh," lirih Naura yang kemudian membersihkan bayi tersebut dan menyodorkan popok bekas tersebut pada Aska.
Aska tampak mual dan menolaknya, "Kenapa kamu kasih popoknya ke saya? Kamu gak tau apa kalo popoknya bau banget?"
"Kalau begitu bapak yang mengganti popoknya dan saya yang membuang ini, masa semuanya saya yang ngerjain."
Dengan terpaksa Aska pun menerima popok bekas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di dekatnya, sedangkan Naura tampak tersenyum senang karena untuk pertama kalinya ia bisa menyuruh bosnya yang super bossy.
Bayi itu mulai merasa tenang ketika popoknya sudah di ganti dan kini ia tengah menikmati susunya.
"Ingat ya Pak, bayi itu harus di kasih susu minimal 2 jam sekali. Bayi itu mudah lapar apalagi bayi cuma minum susu doank," ujar Naura yang mengingatkan bosnya.
Karena kebetulan ia pernah merawat keponakannya sehingga ia pun tau sedikit cara mengurus bayi.
"Iya Ra, kalau kamu mau kamu bisa bermalam disini untuk menjaga bayi saya."
Seketika itu juga Naura menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, "Maksud bapak apa ngomong seperti itu!?"
"Jangan salah paham dulu Ra! Saya hanya ingin kamu menemani bayi saya untuk satu malam ini saja, karena saya takut jika kamu pulang nanti bayi saya akan kembali menangis."
Dengan penuh pertimbangan akhirnya Naura pun setuju, "Oke! Tapi hanya untuk satu malam saja."
"Iya Naura."
"Tapi bagaimana bisa bayi ini sampai disini?"
Kemudian Aska menjawab, "Jadi ceritanya..."
Flashback on
Malam ini hujan turun dengan begitu derasnya, Aska yang kebetulan terbangun dari tidurnya lantas keluar dari kamarnya untuk mengisi tekonya. Sampai akhirnya Aska terdiam ketika samar-samar ia mendengar suara tangisan bayi.
“Suaranya terdengar begitu dekat, apa mungkin tangisan bayi tetangga terdengar sampai sini?” Pikir Aska yang rasanya tidak mungkin, karena jarak dari rumahnya ke sebelah sangatlah jauh.
Karena penasaran akhirnya Aska melangkahkan kakinya menuju teras rumah, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang bayi tengah menangis disana, lengkap dengan sebuah tas yang berisi pakaian sang bayi.
“Bayi siapa ini!?” Seru Aska yang kemudian membawanya masuk, karena tak mungkin ia meninggalkan bayi ini di luar dengan keadaan hujan yang begitu lebat.
Aska menoleh ke sekitarnya untuk mengecek situasi dan ketika ia merasa aman, ia pun membawa bayi itu ke dalam kamarnya.
Menempatkan bayi itu di tempat tidurnya, yang perlahan tangisannya mulai mereda karena merasa aman dan hangat.
“Orang tua macam apa mereka!? Meninggalkan anaknya dalam keadaan hujan seperti ini. Setidaknya kalau tidak menginginkan bayi, seharusnya mereka tak pernah membuatnya.”
Di saat dirinya tengah menggerutu tiba-tiba saja mata Aska menangkap sepucuk surat, dengan segera ia pun mengambilnya dan kemudian membaca surat tersebut.
“Mungkin kamu akan merasa terkejut mendapati seorang bayi di depan rumahmu, tapi percayalah bahwa dia adalah putrimu. Jangan pernah mencariku dan urus saja dia karena dia adalah tanggung jawabmu dari Saskia,” Aska merasa terkejut sampai akhirnya surat itu jatuh dari tangannya.
“Bagaimana mungkin?”
Aska Dirgantara, merupakan seorang CEO muda yang cukup terkenal di kotanya. Selain itu ia pun memiliki paras yang tampan sehingga tak heran jika banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasih atau bahkan teman tidurnya, kehidupannya yang begitu royal membuat Aska bertingkah semaunya sampai akhirnya ia menghamili mantan kekasihnya.
Aska menoleh ke arah bayi itu, dan kemudian menyambar ponsel yang berada di dekatnya untuk menghubungi Saskia. Sayangnya sambungan telepon itu tidak tersambung, besar kemungkinan bahwa Saskia memang benar-benar lepas tanggung jawab.
Aska merasa frustasi dan namanya pasti akan buruk jika ia memiliki seorang anak, sedangkan ia belum pernah menikah.
“Naura…” tiba-tiba saja nama itu terlintas dalam pikirannya, dan dengan segera ia pun menelpon sang sekretaris.
Flashback off
"Jadi begitu ceritanya," jelas Aska dengan mata yang sayu karena ia sudah mengantuk.
Sedangkan Naura hanya menganggukkan kepalanya, "Oh begitu..."
"Em sekali lagi saya ucapkan terimakasih karena kamu mau membantu saya Naura, Saya berjanji kalau saya akan membalas semua kebaikan kamu. Kebetulan ini sudah malam dan lebih baik kamu tidur sekarang, saya pamit..." Ucap Aska yang kemudian berlalu pergi dari kamarnya menuju kamar yang ada di sebelahnya.
***
Keesokan harinya,
Naura terbangun dari tidurnya dan langsung membuatkan susu untuk sang bayi, sampai akhirnya ia dikejutkan dengan sosok wanita paruh baya yang membuka pintu kamar tersebut.
Bu Mega tampak shock ketika melihat seorang wanita yang tengah bersama dengan seorang bayi di kamar putranya, belum lagi Naura mengenakan pakain Aska sehingga membuat Bu Mega mengira bahwa Naura itu adalah kekasih sekaligus ibu dari bayinya.
"ASKA...!!!!" Teriak Bu Mega yang membuat Aska panik dan berlari ke arah kamarnya.
"Mami..."
Bersambung,
Bu Mega menarik kuping Aska dan menyeretnya ke arah Naura dan bayinya.
"Aaaarrghh!! Sakit Mi," ringis Aska yang juga merasa malu ketika ia diperlakukan seperti ini di depan karyawannya sendiri.
Bu Mega kemudian melepaskan jewerannya pada Aska dan menunjuk ke arah Naura, "Siapa dia!? Kenapa dia memakai pakaianmu? Lalu bayi ini?"
Aska menunduk pasrah, "Dia bayi Aska Mi."
Sedangkan Naura tampak cemas karena berada di situasi yang menegangkan.
"APA!!? JADI KALIAN BERDUA SUDAH MEMILIKI ANAK TAPI TIDAK MEMBERITAHU SAYA?"
Naura menggelengkan kepalanya, "Bayi ini bukan-"
"STOP!! MAMI GAK MAU TAHU, SECEPATNYA KALIAN HARUS MENIKAH."
Bukan hanya Naura saja yang shock, tetapi Aska pun turut terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh ibunya itu.
Saat Naura hendak mengatakan yang sebenarnya, tiba-tiba saja Aska menahan tangannya.
"Baik Mi, kita akan menikah secepatnya."
Perkataan Aska bahkan lebih membuatnya terkejut, ia tidak mungkin menikah dengan seseorang yang tidak ia sukai, terlebih Aska adalah bosnya yang terkenal sangat buaya.
"Pak-"
"Udah kamu nurut aja sekarang," gumam Aska yang sedikit berbisik.
"Baguslah! Mami akan menyiapkan acara yang paling mewah untuk kalian berdua dan mengundang banyak tamu serta rekan kerja kita."
"Jangan Mi, kita adakan secara sederhana saja."
Bu Mega tampak tak setuju, "Mana bisa seperti itu! Kamu itu seorang CEO dan anak Mami satu-satunya, jelas saja Mami menginginkan pernikahan yang megah untuk kalian berdua."
"Tapi Mi, apa kata orang-orang nanti kalo Aska sudah punya anak duluan?"
Bu Mega merenungkan perkataan Aska, "Kamu benar juga."
"Kita adakan acara sederhana saja Mi, cukup keluarga dan kerabat terdekat saja yang di undang."
"Baiklah kalau begitu!" Angguk Bu Mega yang akhirnya setuju.
"Emmmm emm," bayi itu tampak berceloteh sehingga membuat Bu Mega menjatuhkan fokusnya pada sang bayi.
"Cucuku…" Senyumnya yang kemudian mengambil alih bayi tersebut dari pelukan Naura, "Siapa namanya?"
Naura melirik ke arah Aska ketika Bu Mega bertanya padanya.
"E namanya Viola Mi," timpal Aska.
"Namanya sangat lucu! Mami bawa jalan-jalan ya?"
"Tapi Viola belum mandi Bu," sela Naura yang membuat Bu Mega melotot.
"Ibu? Kami masih berani panggil saya ibu? Kamu kan sebentar lagi jadi menantu saya, seharusnya kamu panggil saya Mami donk."
Naura menggaruk tengkuknya, "Iya Mi."
"Ya udah kalau gitu Mami ke luar dulu ya?" seru Bu Mega yang begitu senang mendapatkan cucu dadakan.
Setelah Bu Mega keluar dari kamar tersebut, Aska langsung menarik Naura untuk duduk di sofa dengan dirinya yang kemudian mengunci pintu.
"Naura, mungkin ini terkesan dadakan tapi kamu mau kan menikah dengan saya?" pinta Aska dengan sungguh-sungguh.
Naura tertawa terbahak-bahak, "Lawak nih bapak."
"Saya serius Ra."
Tawa itu tergantikan dengan keheningan sampai akhirnya Aska kembali bertanya, "Kamu mau kan!?"
"No! Saya gak mungkin nikah di usia muda Pak, apalagi saya harus menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Saya gak mau!" tolak Naura mentah-mentah.
Ia bahkan tak peduli jika Aska adalah seorang sultan andara atau pria sejuta karisma, karena yang ia pentingkan adalah masa mudanya.
"Memangnya umur kamu berapa?" Tanya Aska sembari mengangkat dagu.
"23 tahun."
"Kita hanya berbeda 4 tahun saja, dan saya rasa menikah di usia 23 tahun termasuk ideal."
"Tapi saya gak cinta sama Bapak! Saya tidak mau menyia-nyiakan masa muda saya."
"Memangnya kamu pikir saya cinta sama kamu? Ya walaupun kamu cantik."
Naura memutar bola matanya, "Lalu untuk apa kita menikah?"
"Demi bayi dan ibu saya."
Naura menggelengkan kepalanya, "Lalu bagaimana dengan saya?"
"Emm kita nikah kontrak saja, bagaimana?"
"Nikah kontrak?" ulang Naura.
"Saya akan memberikan rumah, mobil dan sejumlah uang jika kamu menikah dengan saya. Kita bisa bercerai setelah satu tahun kita menikah," tawar Aska yang begitu menggiurkan.
"Tapi bagaimana dengan ibu saya? Beliau pasti tidak akan menyetujui hal gila seperti ini."
"Jangan beritahu dia, lagian ini hanya pernikahan pura-pura. Aku akan meminta salah seorang wali yang nantinya akan menggandengmu di altar nanti," jelas Aska.
"Tapi saya merasa salah jika harus membohongi ibu saya, Pak."
"Menurutmu apa dia akan setuju jika kamu menikah karena dasar kesepakatan? Ini peluang untukmu Naura, kamu bisa mendapatkan rumah dan apa yang kamu inginkan untuk membahagiakan ibumu. Setelah semuanya berakhir saya juga tidak akan memintamu untuk tetap bersama dengan saya, karena saya pasti akan mencari sosok ibu yang bisa menerima Vio dengan baik. Kamu bisa keluar dari perusahaan saya dan membangun usahamu sendiri, hanya satu tahun saja Naura."
"Beri saya waktu Pak, karena ini berat bagi saya."
"Tidak ada waktu lagi Ra, Vio menyukaimu belum lagi kamu berada di tempat tidurku dengan mengenakan pakaian milikku. Akan susah menjelaskannya pada Mami kalau kamu hanya seorang karyawan," bujuk Aska.
"Tapi-"
"Saya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari perempuan yang bisa menjaga Vio seperti kamu, kamu lihat? Bagaimana Vio merasa tenang saat bersamamu? Apa kamu tidak kasihan padanya?"
Sebenarnya Naura juga merasa kasihan padanya, belum lagi tawaran yang diberikan Aska begitu menggiurkan.
"Baiklah, saya setuju."
Saking senangnya Aska memeluk Naura, "Terimakasih Ra! Kamu adalah penyelamat hidup saya."
"Tapi saya gak bisa nafas Pak!" tepuk Naura pada bahu Aska.
Aska segera melepaskan pelukannya, "Maafkan saya! Saya terlalu senang dan bersemangat, secepatnya saya akan membuat surat kontrak untuk pernikahan kita."
"Perlu di garis bawahi bahwa setelah kita menikah hanya status kita saja yang berubah, bapak tidak boleh menyentuh saya dan kita tidak boleh tidur di satu ranjang yang sama, serta apapun yang melibatkan fisik dan bersentuhan."
"Lalu bagaimana jika Mami saya curiga kalo kita terlalu jauh seperti itu?"
"Emm kita akan terlihat seperti pasangan pada umumnya jika di hadapan Bu Mega, tapi jangan berlebihan!" pesan Naura.
"Siap! Saya akan mencantumkan syarat kamu dikontrak pernikahan kita nanti."
"Sepertinya saya harus izin pulang Pak, karena saya harus mengganti pakaian."
"Tidak! Akan sangat membahayakan jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini. Saya akan meminta Hana untuk menyiapkan pakaianmu," tahan Aska yang kemudian memencet sebuah bel yang ada di dekat ranjangnya.
Tak berselang lama seorang wanita paruh baya datang, yang Naura ketahui bahwa beliau adalah kepala maid di rumah Aska.
"Ada apa Tuan muda?" Tanya Hana dengan ramah.
"Hana, saya meminta kamu untuk memesankan pakaian untuk calon istri saya. Apa bisa pagi ini harus tersedia?"
Hana tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja! Kalau begitu saya akan menghubungi beberapa butik untuk datang kemari."
"Baiklah! Kamu atur saja bagaimana baiknya karena saya harus membersihkan tubuh saya sekarang," ucap Aska yang kemudian mengambil satu set pakaian dari dalam lemari lalu melenggangkan kakinya untuk kembali ke kamar sebelumnya.
Perlahan Naura menghampiri Hanna, "Maaf Bu… apa saya boleh memesan satu set dalaman?"
"Panggil saja saya Hana."
"Baik Hana."
"Untuk permintaan anda pasti akan saya pesankan."
Naura menganggukkan kepalanya, "Terima kasih."
"Lebih baik anda sekarang membersihkan diri, karena sekitar setengah jam lagi mereka akan datang membawakan beberapa pakaian untuk anda."
"Tapi saya tidak memiliki alat mandi," jawab Naura.
"Saya akan meminta seorang maid untuk menyiapkannya untuk anda, saya pamit undur diri."
"Iya."
Kemudian sang kepala maid pun berlalu dari kamar Aska yang luasnya bukan main.
"Ternyata tinggal disini sangat mudah, apapun yang tuannya inginkan mereka dengan sigap menyiapkannya."
Sedangkan di taman, Bu Mega tampak bermain dengan Viola yang berada di gendongannya.
"Cantiknya cucu Oma…"
Aska tersenyum ketika melihat ibunya yang tengah bersantai di gazebo taman, perlahan ia mendekatinya.
"Aska, Viola sangat mirip denganmu. Sepertinya dia adalah dirimu di versi perempuan," kekeh Bu Mega.
"Benarkah?"
"Iya! Saat kamu bayi, kamu terlihat sama seperti Vio. Mulai dari hidung, bibir dan bentuk wajahnya."
"Tentu saja! Vio kan anaknya Aska."
"Oh iya! Kenapa kamu tidak memberitahu Mami kalo kamu sudah punya anak?"
"Em maaf Mi, ini semua terjadi begitu saja dan Aska takut untuk memberitahu Mami soal ini."
"Kenapa harus takut? Mami pasti akan menerima pilihanmu, justru Mami tidak suka jika kamu menyimpan rahasia di belakang Mami."
"Aska janji ini yang terakhir kalinya Aska mengecewakan Mami."
Bu Mega mengangguk, "Iya Mami maklumi selagi kamu bertanggung jawab dan menikahi kekasihmu."
"Tentu saja Mi, makanya Aska membawa mereka untuk tinggal disini."
"Siapa nama kekasihmu itu?"
"Dia Naura Mi, Naura Pratiwi."
Bersambung,
Di kamar,
Naura baru saja keluar dari kamar mandinya dengan sebuah bathrobe yang melekat di tubuhnya. Ia disambut oleh beberapa maid yang sudah siap dengan beberapa dress casual yang tergantung di sana.
"Mari Nyonya," senyum salah seorang maid yang langsung menuntun Naura.
Hana kemudian mencocokkan pakaian yang pantas untuk Naura satu demi satu, sampai pilihannya jatuh pada sebuah dress berwarna biru muda yang begitu simple.
"Silahkan untuk mencobanya," pinta Hana yang juga memberikan satu set dalaman yang sebelumnya Naura pesan.
"Baik," angguk Naura yang kemudian berjalan ke arah walk in closet milik Aska.
Naura cukup kagum ketika melihat ruang ganti tersebut, yang penuh dengan berbagai jenis jas dan pakaian branded milik bosnya itu.
"Astaga! Aku hampir lupa untuk mengganti pakaianku," seru Naura yang langsung mengenakan pakaiannya.
Tampak pas dan anggun ketika Naura memakainya, setelah selesai Naura pun keluar dan menghampiri Hana.
"Anda terlihat sangat cantik Nyonya," puji Hana.
"Terimakasih Hana."
"Nona Sela, sekarang bagian anda."
Gadis cantik itu mengangguk dan menghampiri Naura serta menuntunnya untuk duduk di sofa, dimana ia sudah siap dengan alat make up nya.
Bersamaan dengan itu Aska berjalan memasuki kamarnya untuk mengajak Naura sarapan.
"Naura-" perkataan Aska terhenti ketika ia melihat betapa cantiknya Naura.
Ia terlihat anggun dengan make up naturalnya, Aska terpeson karena biasanya Naura jarang sekali dandan saat bekerja. Walaupun begitu Naura tetap cantik dengan wajah polosnya yang alami, namun ia tak mengira jika sekretarisnya itu bisa terlihat menawan.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Naura, yang rupanya sudah selesai untuk di poles.
Aska memasuki kamar dengan Hana yang meminta para maid dan jasa riasnya untuk keluar meninggalkan mereka berdua.
"E Mami suruh saya panggil kamu untuk sarapan," sahut Aska ketika ia sudah berada di hadapannya.
Melihat tatapan Aska yang begitu dalam tentu saja membuat Naura merasa aneh, dan canggung.
"Bapak kenapa liatin saya segitunya? Aneh ya, Pak? Atau terlalu menor?" tanya Naura yang hendak mengambil tisu untuk menghapus riasannya.
"Kamu cantik!"
Naura urung mengambil tisu yang ada di depannya, "Iya tapi saya sedikit risih karena tak biasa."
"Mulai sekarang kamu harus membiasakannya, kamu terlihat menawan! Saya tidak menyangka bahwa itik buruk rupa sepertimu bisa berubah menjadi seekor angsa," goda Aska dengan tawanya.
Sedangkan Naura tampak mendengus kesal.
"Saya bercanda, ayo turun!" Ajak Aska padanya.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju meja makan, dimana Bu Mega sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Liat Mama dan Papamu, mereka tampak serasi!" Puji Bu Mega seraya berbisik pada cucunya.
"Silahkan duduk," dengan gentlemannya Aska menarik kursi untuk Naura.
Sedangkan Naura tampak canggung ketika ia mendapati bosnga itu bersikap lembut, tidak cerewet dan semena-mena seperti biasanya.
"Makasih Pak," angguk Naura yang kemudian duduk di kursi tersebut.
"Kok kamu manggil Aska dengan sebutan Pak?" Heran Bu Mega yang membuat Naura gelagapan.
"E Naura itu sekretarisnya Aska Mi, dia udah terbiasa panggil Aska dengan sebutan Bapak. Tapi biasanya Naura manggil Aska dengan sayang kok, iya kan honey?" lirik Aska dengan senyuman yang penuh isyarat.
"Iya sayang," angguk Naura yang merasa awkward.
"Oh jadi Naura itu sekretaris kamu? Kok Mami baru tau. Bukannya sekertaris kamu itu Fara? Sepupu kamu?"
"Fara resign Mi beberapa bulan yang lalu dan penggantinya Naura, sampai sekarang."
"Sampe sekarang?! Kamu ngebiarin perempuan hamil buat kerja?" omel Bu Mega.
Dimana Aska keceplosan soal pekerjaan Naura yang menjabat sebagai sekretarisnya di beberpa bulan ini.
"Soalnya Naura bosan di rumah Mi, makanya Naura bantu Aska di kantor. Lagian pekerjaannya gak berat kok," lanjut Naura.
"Setelah melahirkan apa kamu langsung kembali bekerja? Lalu Vio bagaimana?"
Sialnya Naura lupa kalo disini ia berpura-pura menjadi ibu kandungnya Vio.
"Kalau sekarang Naura di rumah jaga Vio."
Bu Mega mengangguk, "Vio umurnya berapa bulan?"
"2 bulan Mi," jawab Aska yang untungnya ia menemukan sebuah surat keterangan yang menjelaskan bahwa Viola lahir di dua bulan yang lalu.
"Jadi kamu gak punya sekertaris donk?"
"Masih bisa handle kok Mi."
"No! Secepatnya kamu harus cari sekertaris baru. Mami gak mau jadwal kamu berantakan karena gak ada yang ngatur," ujar Bu Mega dengan tegas.
"Oke Mi."
Naura menatap nanar ke arah Aska, dimana ia sangat mencintai pekerjaannya itu.
"Hari ini Mami ada janji buat ketemu sama dokter, kalian lanjut aja sarapannya."
"Mami ngapain ketemu sama dokter?" Sahut Aska yang kemudian meminta Hana untuk menggendong bayinya.
"Akhir-akhir ini sendi Mami suka sakit, kayaknya Mami kena reumatik."
"Semoga cepet sembuh ya Mi," lirih Naura.
"Iya sayang, kalo gitu Mami pergi dulu ya? Dan soal pernikahan biar Mami yang urus, kalian fokus saja sama Vio dan pekerjaan."
"Iya Mi," angguk mereka berdua.
Setelah itu Bu Mega keluar dari rumah, tampak kelegaan muncul di hati mereka berdua.
"Saya deg-degan Pak," ungkap Naura sembari menoleh ke arah Aska.
"Apalagi saya."
"Terus pekerjaan saya gimana Pak?" lanjut Naura yang sebenarnya tidak ingin sampai kehilangan pekerjaannya.
"Terpaksa kamu harus resign, selama kita menikah kamu tidak boleh bekerja."
Naura terduduk lesu, "Baiklah."
"Ayo makan makananmu! Nanti keburu dingin," titah Aska kemudian.
Naura menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, sampai akhirnya ia membulatkan matanya.
"Nasi gorengnya enak!" ucap Naura yang mungkin tengah kelaparan.
"Tentu saja, karena ada koki khusus memasak di rumah ini."
"Pantas saja," bersamaan dengan itu Naura kembali melanjutkan sarapan paginya.
"Sepertinya kita harus mencari baby sitter agar kamu tidak kesusahan merawat Vio," tandas Aska yang juga tengah menikmati sarapannya.
"Boleh," angguk Naura setuju.
Karena pastinya ia membutuhkan seseorang yang ahli, apalagi ia juga tidak banyak berpengalaman tentang mengurus bayi.
Setelah sarapan, Naura hendak menyusun piring kotor yang baru saja mereka pakai.
"Itu pekerjaan para maid, jadi kamu tidak perlu bersusah payah melakukan apapun di rumah ini. Cukup duduk santai dan jaga putri kecilku," jelas Aska yang membuat Naura menaruh piringnya kembali.
"Iya Pak."
"Ingat! Di depan Mami kamu harus memanggil saya dengan sebutan sayang."
"Iya Pak…"
"Sekarang kamu pergi ke kamar Vio, karena saya sudah menyiapkan satu kamar untukmu dan Vio di atas."
"Dimana?" tanya Naura, yang tak tau jelas dimana lokasinya.
"Tepat di samping kanan kamar saya."
Naura menganggukkan kepalanya, "Baik Pak! Kalau begitu saya ke kamar dulu karena harus memandikan Vio."
"Hari ini saya ambil libur… Kalau kamu sudah selesai memandikan Vio, kita pergi ke supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhannya."
"Iya Pak."
Saat itu juga Naura berjalan menuju kamarnya, untuk memandikan si bayi mungil itu.
Dimana disana sudah ada Hana dan seorang maid yang siap membantunya untuk bersiap.
"Nyonya, perkenalkan ini Laras asisten pribadi anda. Dia yang akan membantu anda untuk menyiapkan segala kebutuhan anda," pungkas Hana yang memperkenalkan Laras padanya.
"Terimakasih Hana."
"Kalau begitu saya permisi, jika anda perlu sesuatu anda bisa meminta tolong pada Laras atau memanggil saya."
"Iya Hana."
Selepas itu Hana berlalu pergi, dengan meninggalkan mereka berdua.
"Laras, tolong bantu aku memandikan Vio. Apa bisa?" lirik Naura padanya.
"Tentu saja Nyonya."
Naura kemudian membawa Vio ke dalam kamar mandi, dengan Laras yang menyiapkan air hangat. Tidak ada bak bayi, tapi Naura bersyukur karena ada sebuah bak kecil yang bisa digunakan sebagai bak mandi Vio.
"Dia sangat cantik! Sepertinya dia mengambil semua gen ayahnya," puji Laras yang merasa bahwa Naura dan Vio tidak mirip.
"Iya memang benar!" angguk Naura yang kemudian bergumam dalam hati, "Tentu saja Vio mirip dengan ayahnya karena mustahil jika Vio mirip denganku karena aku bukanlah ibu kandungnya."
Naura dengan luwes memandikan Vio, walaupun sebenarnya Naura merasa was-was dan hati-hati ketika memegang tubuh kecilnya, yang sedikit licin karena sabun.
Bersambung,