Bab 1

James mendengus kesal, setelah mendapat informasi bahwa anaknya tengah berkencan di sebuah hotel bintang lima bersama dengan seorang gadis yang berpenampilan seksi, bajunya bahkan tak bisa menutupi seluruh bagian inti wanita itu.

"Bawa aku ke tempat anak itu."

*****

Pintu diketuk, asisten pribadi lelaki itu masuk.

"Tuan muda, Ayah anda tengah menuju kesini," Bram, menginterupsi. Chris yang hampir mendaratkan ciuman ke arah Chiara, langsung menghentikan aksinya.

"Sayang aku akan menemuimu nanti," ujar Chris lalu mencium lembut pipi sang kekasih, Chiara. Chris beranjak bangun dari duduknya Ialu menyuruh pengawal pribadinya untuk mengantarkan gadis tersebut menuju kendaraannya.

"Silahkan ikut saya, Nona," ujar si pengawal dengan hormat.

Chiara menghentakkan kakinya kesal, kencan bersama sang kekasih lagi-lagi digagalkan oleh calon Ayah mertuanya.

Chiara sangat kesal sekarang dan tak berharap banyak dari hubungannya bersama Chris karena James tak pernah memberikan restunya.

Pintu ruangan itu terbuka, beberapa pengawal pribadi berjajar rapi, setelahnya James masuk.

"Dad?"

"Kuizinkan kamu menjalin cinta dengan wanita manapun, namun tidak sampai membuatnya hamil apalagi menikahinya. Karena sejak kecil hidupmu ditakdirkan untuk melindungi dia!" hardik james.

"Wanita yang bahkan lenyap ditelan bumi?" tanya Chris, kepalanya dipenuhi kekesalan saat ini.

"Dan tugasmu adalah mencarinya sampai ketemu!" tegas James tak kalah kencang.

"Dad, kau bahkan lebih tahu, bagaimana aku mencari Oliv seperti orang gila selama ini hingga membuatku putus asa dan sepertinya aku menyerah." Chris memijat kepalanya pelan. Rencananya malam ini bersama Chiara berantakan dan semua itu karena ayahnya yang terlalu otoriter.

"Apa, menyerah? Semudah itu? Aku tak membesarkanmu untuk jadi pecundang, Chris. Berusahalah lebih keras lagi."

"Sampai kapan, Dad. Katakan?"

James berpikir sejenak, kemudian berkata.

"Dua tahun lagi. Setelah itu kau bebas dalam menentukan hidupmu." Chris mengangguk, merasa mendapat angin segar. Dua tahun tidaklah lama, pikirnya.

James melemah, tidak sekasar tadi. Ia menepuk pundak anaknya.

"Setelah kau bertemu Oliv, terserah dia yang akan memutuskan, apakah kalian akan bersama atau sebaliknya. Namun aku selalu berharap, semoga kalian bersama selamanya."

"I'm not sure, Dad."

🍒🍒🍒🍒🍒

Tampan, mapan dan terkenal, tak membuat hidup Christian Oliver bahagia. Setelah sang ayah menjodohkannya sedari kecil dengan anak sang sahabat, Olivia Wijoyo. Namun sang gadis tak pernah ditemuinya, bahkan setelah Chris mencarinya selama bertahun-tahun. Hingga membuatnya hampir menyerah. Chris tahu, janji ayahnya kepada sahabatnya harus terwujud. Chris sudah mencari Olivia kesana-kemari, namun hanya kegagalan yang dia dapat.

Dimana sebenarnya Olivia berada?

🍒🍒🍒🍒🍒

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, tiba-tiba ponsel Chiara berdering.

"Non Chiara, Ayah anda semakin melemah, beliau terus memanggil nama Olivia dan Julia." Dokter kepercayaan keluarga Suryo Joyo yang berbicara.

Chiara tak bersuara, ia meletakkan asal ponselnya. Sepertinya inilah saatnya membawa kembali Julia dan anaknya.

"Bawa aku ke desa sia*lan itu," perintahnya pada sang supir, yang dibalas anggukan.

Bab 2

Via sedikit berlari ketika pintu rumahnya digedor dari luar. Lalu membukanya segera.

"Oh, ya ampun!" Wanita itu langsung berpaling muka "Cepat tutupi wajah si*lanmu itu!" hardiknya. Via lupa akan keadaan dirinya. Ia berbalik lalu segera meraih kerudung dan menutup sebagian wajahnya.

"Maaf, anda siapa?" Wanita itu tak menjawab. Langsung melenggang masuk ke dalam rumah yang bentuknya sudah tak beraturan dan hampir rubuh. memindai sekeliling lalu bergidik seperti jijik.

"Jadi, selama ini kalian tinggal di gubuk ini rupanya," Chiara tersenyum mengejek.

"Maaf Nona, jika anda datang kesini hanya untuk menghina kami, sebaiknya anda segera pergi!" usir Via.

"Jangan sombong kamu anak ha*am!" kecam Chiara.

"Jaga bicara anda, Nona. Sebelum saya robek mulut anda yang tajam itu!" gertak Via.

"Kamu sama saja seperti ibumu," ejeknya.

Via memang miskin, ia sadar itu. Tapi ia tak akan membiarkan orang lain menghina dirinya. Hidup dibawah garis kemiskinan bukan keinginannya. Semua sudah suratan takdir. Toh, selama ini ia tak pernah mengemis pada siapapun untuk meminta makan.

"Panggilkan wanita itu, cepat!" bentak Chiara. Ia melihat Via mematung.

"Tentu saja ibumu, bo*oh!" lanjutnya kemudian.

"Ibu tak ada di rumah, beliau sedang pergi ke ladang."

"Aku akan menunggunya!" Chiara duduk di kursi rotan yang sudah nampak lapuk dimakan usia. Tak lama seorang wanita datang, dengan karung kecil yang dipikulnya. Isinya sayuran dan juga umbi hasil dari keterampilannya berladang.

"Non Chiara?" Julia berkali-kali memandangi gadis itu. Ia takkan lupa dengan wajah itu. Meski sudah lama mereka berpisah. Chiara adalah anak tirinya. Tak terasa sudah belasan tahun lamanya sejak wanita itu diusir dari rumah kediaman Suryo Joyo.

"Oh, kamu masih ingat rupanya." Chiara mendelik.

"Ada apa Non Chia mencari kami?" tanya Julia akhirnya.

"Papa sakit dan dia ingin bertemu kalian. Jadi segeralah bersiap."

Setengah jam kemudian mobil mewah membelah jalanan desa yang menjadi tontonan warga sekitar.

🍒🍒🍒🍒🍒

Kendaraan mewah itu berhenti di sebuah halaman rumah mewah milik keluarga Suryo Joyo. Julia mematung sesaat setelah turun. Teringat bagaimana hidupnya seperti neraka di tempat itu.

"Ibu baik-baik saja?" Via bertanya, lalu menggandeng tangan sang ibu.

Julia mengangguk. "Iya. Ayo, kita masuk."

Seorang lelaki paruh baya terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangannya. Dialah Suryo Joyo, suami yang telah mengusir Julia dari kediamannya bertahun-tahun lalu.

"Ju-julia …" panggilnya tak bisa didengar, nafasnya terasa sesak saat wanita di depannya mulai menangis tersedu.

"Maafkan aku …" tangan Suryo sedikit bergerak. julia meraih tangan yang mulai keriput, lalu menggenggamnya erat, hatinya iba.

"Dari dulu aku sudah memaafkanmu."

"Oliv …" Suryo ingin sekali memanggil seorang gadis yang berdiri mematung di belakang istrinya, namun lagi-lagi mulutnya terkunci. Julia menoleh ke arah Via, kemudian memberi isyarat agar ia mendekat.

"Dia ayahmu, orang yang selama ini kamu rindukan, Nak."

Via mendekatkan kepalanya di dada Sang Ayah, lalu mulai menangis. Kerinduannya selama ini akan sosok Sang Ayah, akhirnya sirna.

"Maafkan Ayah, Nak. Selama ini sudah membuat kalian menderita," batin Suryo berbicara, sedangkan mulutnya kaku untuk mengucap. Sudah lama ia menderita stroke.

"Aku sangat merindukanmu, Ayah." Via menangis tersedu. Bertahun-tahun ia bertanya pada Sang Ibu mengenai keberadaan ayahnya, namun Julia selalu bungkam dan menjawabnya dengan tangisan.

Tiba-tiba Chiara masuk ke ruangan. Tangannya melipat di dadanya lalu menyunggingkan senyum mengejek melihat reuni kecil keluarganya.

"Aku ingin bicara dengan kalian berdua, ikuti aku!" perintahnya tanpa melirik kepada Suryo. Via dan Julia saling pandang sebelum akhirnya mengikuti keluar ruangan.

Bab 3

Chiara berkacak pinggang sambil menatap penuh amarah pada Via dan Julia.

"Kamu pasti sangat senang bisa melihat suamimu kembali. Dan kamu gadis cacat, pasti bahagia karena sudah tahu siapa ayah kandungmu."

Via dan Julia saling pandang. Tak dapat dipungkiri, keduanya tentu saja merasakan kebahagiaan itu. Meskipun mereka masih belum mengerti, maksud dari Chiara membawanya kembali.

Dan mereka tengah bersiap akan ucapan dari Chiara sebenarnya.

"Apa kamu ingin mengurus suamimu?" tanya Chiara menyelidik. Julia mengangguk cepat membuat sudut bibir Chiara terangkat.

"Bagus. Tapi aku punya syarat untuk itu."

Via dan Julia kembali berpandangan.

"Syarat?" gumam Via.

"Syarat apa, Nona?" tanya Julia. Baginya asal bisa mengurus Suryo-suaminya. Syarat apapun akan dia lakukan asal tidak menyakiti anaknya.

Chiara mengangkat dagunya dengan angkuh melihat reaksi keduanya.

"Syaratnya adalah kamu harus menjadi mata-mata untukku!" tunjuknya tepat pada wajah Via.

Membuat ibu dan anak itu kaget.

"Apa. Mata-mata?"

Apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu?

*******

Via baru saja menginjakkan kakinya di negara terkaya di Timur Tengah. Seorang agen mengantarkannya ke sebuah apartemen mewah di lantai 30. Agen itu pamit pergi setelah berbincang sebentar dengan Bram.

"Nona, silahkan masuk. Ini adalah tempatmu bekerja. Sesuai kontrak yang tertera, kamu akan berada disini selama 2 tahun." Bram memberi penjelasan. Via hanya mengangguk. Bram memberitahu Via mengenai pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya dan juga memberitahu tentang kebiasaan dan makanan yang biasa dikonsumsi oleh bos mereka.

Setelah menerima penjelasan Via mengangguk tanda mengerti. Sepertinya pekerjaannya tidak terlalu berat, apalagi bosnya hanya tinggal seorang diri dan sering bepergian ke luar negri. Begitu yang dijelaskan oleh Bram yang tak lain adalah asisten pribadi seorang Christian Oliver.

Via memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya selama kontrak kerja berlaku. Kamar itu begitu megah dan besar, meski tak sebesar kamar utama milik majikannya. Namun jika dibandingkan dengan rumah kumuhnya di kampung, sungguh tidak ada apa-apanya.

"Nona, ayo kita sarapan." ajak Bram, saat Via tengah menatap kagum pada ruangan yang disebut kamarnya. Via menoleh.

Bram berdiri di depan kamar Via, sedikit terpukau kala bertatapan dengan manik mata coklat gelap milik Via.

Yang ia tak mengerti kenapa Via memakai cadar dan abaya hitam panjang, padahal ini bukan di negara Arab.

"Baiklah, Tuan." Bram terkekeh geli, merasa aneh dengan panggilan gadis itu. Lalu menggeleng pelan.

Mereka memakan sandwich berdua di dapur yang juga sama besarnya sambil berbincang ringan.

"Oh, ya. Apa nama lengkapmu?" tanya Bram santai. Via hampir saja membuka mulutnya untuk menjawab saat pintu depan terbuka disusul Christian dan dua orang pengawalnya, memasuki ruangan.

Bram dan Via segera menuju pintu depan. Kedua orang pengawal membawa Chris dan menidurkannya di sofa. Lelaki tampan itu meracau tak jelas seperti tengah mabuk.

"Kalian berdua boleh pergi," interupsi Bram yang langsung mendapat anggukan.

Via hanya berdiri tanpa bersuara. Bram yang mengerti akan keterkejutan di mata Via tersenyum kecil. Ia kemudian berbicara.

"Via, jangan kaget begitu, bukankah orang mabuk itu biasa. Tugasmu adalah mengurusi Tuan Oliver sekarang, ayo kerjakan!" meski tak mengerti akhirnya Via mendekat sesuai instruksi dari Bram. Via membuka sepatu dan kaos kaki milik Chris, lalu membuka dasi dan melepaskannya, kemudian membuka kancing kemeja pria tampan itu.

Bram meminta Via agar membantunya membopong Chris ke kamarnya. Pekerjaan ini sengaja tak mengandalkan pengawal karena permintaan Chris sendiri. Kamar utama adalah ruangan pribadi 'Sang Bos' maka siapapun tak diizinkan masuk ke sana selain Bram dan pekerja yang tugasnya membersihkan ruangan. Begitu selesai, Bram langsung pamit untuk ke kantor mengurusi jadwal bosnya.

Tinggallah Via sendiri sekarang. Ia bingung harus mengerjakan pekerjaan apa. Karena menurut Bram sendiri, ruangan unit tidak perlu dibersihkan karena sudah dibersihkan tadi.

Akhirnya Via pun terlelap.

*****

Via membuka matanya setelah beberapa waktu terlelap. Perutnya keroncongan dan minta diisi. Via menoleh pada pintu kamar utama yang masih tertutup. Ia menghubungi Bram dari ponsel pemberian Chiara. Untunglah tadi ia meminta nomor ponsel Bram. Kemudian bertanya pada Bram mengenai apa yang harus dilakukannya. Via mengiyakan setelah Bram memberinya perintah untuk segera memasak.

Via membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan. Mulai memotong dan meracik bahan-bahan lalu memasaknya perlahan. Via berharap Bosnya akan menyukai masakannya setelah mendengar cerita dari Bram bahwa Bosnya sangat menyukai makanan rumahan.

Pintu kamar terbuka, menghadirkan sosok tampan disana dengan wajah yang segar sehabis mandi. Chris mencium aroma masakan dari arah dapur disusul suara denting beberapa perabotan.

'Apakah pekerja baru sudah datang,?' batinnya bertanya.

Chris melangkah menuju dapur. Ia melihat seorang wanita tengah memindahkan ayam goreng pada sebuah piring. Kris tertegun menatap wanita itu dari arah belakang kemudian menghampirinya "Siapa kamu?" tanyanya langsung dengan bahasa asing. Via menoleh sedikit kaget melihat Bosnya tiba-tiba berdiri tak jauh darinya.

"Eh, Tuan. Perkenalkan, saya adalah pekerja baru disini, nama saya Via." Via mengangguk sopan. Kening Chris berkerut melihat penampilan Via sekaligus terpukau mendengar suara lembut milik Via, meski bahasa yang Via ucapkan terkesan kaku.. Tak lama Chris bersuara.

"Aku lapar," ucapnya dingin.

"Silahkan Tuan, makanan sudah saya siapkan."

Tanpa banyak bicara Kris langsung duduk dan menikmati makanannya, ia merasa senang karena masakan yang dimasak oleh Via ternyata sangat lezat dan sesuai dengan seleranya. Bahkan ia berkali-kali menambah.

"Dimana kamu belajar memasak? Masakanmu sungguh sangat enak. Aku menikmatinya. Terima kasih."

Via menjelaskan dengan hati-hati takut Bosnya marah. Chris mengangguk setelah mendengar penjelasan Via dan pergi ke ruangannya untuk bersiap. Tak berapa lama ia berlalu pergi dengan penampilan yang lebih rapi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED