Bab 1

"Aku tahu, kamu tak setuju dengan perjodohan ini. Tidak jadi masalah buatku. Aku hanya memintamu untuk menerimanya saja," ucap Luna dengan nada yang begitu tegas dan pasti.

"Apa Mbak jatuh cinta padaku setelah pertemuan kedua ini?"

"Kamu bisa berpikir apa saja," jawab Luna dingin.

Yudha begitu percaya diri. Ia merasa memiliki pesona kuat bak Casanova. Baginya, ketampanannya memang tidak akan pernah pudar oleh waktu. Apalagi disokong oleh statusnya sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar, rasa percaya dirinya memuncak.

"Sejujurnya, aku sudah memiliki kekasih, Mbak," kata Yudha mencoba menolak.

Yudha masih ragu, walau kakeknya menawarkannya dua hektar kebun durian dan sebuah apartemen mewah sebagai kado pernikahan. Yudha menjadi heran, pria tua yang semula pelit padanya itu tiba-tiba menjadi sangat dermawan. Entah apa tujuan sebenarnya selain alasan agar dia memberikannya cucu.

"Tak masalah kamu punya kekasih, sebab aku juga tak mengharapkan menjadi istrimu selamanya. Cukup tiga tahun saja," tawar wanita bercadar hitam yang dipanggil Luna.

Gaun hitam Luna menutupi seluruh tubuhnya. Hanya matanya saja yang bisa Yudha lihat. Itu pun Yudha seperti segan menatap lama-lama. Entah aura apa yang dibawa gadis itu.

"Pernikahan bukan untuk main-main, Mbak," timpal Yudha.

"Anggap saja kamu sedang menolongku," ujar wanita itu lagi.

"Menolong bagaimana, Mbak?" tanya Yudha heran.

Gadis bercadar itu diam. Sepertinya dia tak suka dengan pertanyaan Yudha. Yudha benar-benar bingung.

"Dua tahun saja, bagaimana?" tawar Yudha.

"Baik," jawab Luna dengan cepat.

Setelah perjanjian itu, Yudha tidak pernah lagi berbicara apa pun dengan Luna, meskipun mereka bertemu kembali saat diskusi keluarga. Bagi Yudha, wanita itu sangat dingin melebihi es. Sebagai calon suami, Yudha sebenarnya ingin melihat wajah di balik cadar itu. Akan tetapi, melihat sikap Luna, Yudha jadi enggan. Yudha bahkan seperti tidak ingin mencari masalah dengan memintanya membuka cadar, meskipun laki-laki itu berhak melakukannya. Hari pernikahan pun tiba.

"Saya terima nikahnya Diandra Safaluna binti Nasron Kamal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 300 juta rupiah, tunai."

Setelah beberapa saat hening, akhirnya suara riuh dari para saksi dan tamu undangan terdengar menggema memenuhi gedung mewah hotel De Luxurious.

Sayudha Wistara terlihat bahagia. Laki-laki berpostur tinggi semampai itu telah membuktikan kepada siapapun bahwa dia bisa melamar seorang wanita bercadar dengan mahar yang fantastis.

Di malam pengantin, Yudha termenung di sofa merah yang baru saja dibeli ibunya. Laki-laki itu bingung. Selama dua tahun ke depan, apa yang akan dia lakukan dalam menjalani pernikahan tanpa cinta itu? Kepalanya terasa pusing bagai habis mengitari bumi tujuh kali, sangat berat. Tiba-tiba terdengar langkah lembut dari arah kamar.

"Apa kamu ingin kita melakukannya malam ini?" tanya Luna dengan tatapan tajam.

Yudha terpaku, seolah tak mampu berbicara. Ia selalu menciut dengan indah bola mata itu. Mata bulat besar, tajam dengan hiasan bulu mata yang lentik. Seperti warna coklat dan biru menyatu, begitu bersinar.

"Aa?? Ehmmm ... anu ... itu, begini ...."

Yudha kebingungan. Grogi, itu sudah pasti.

"Aku akan membuka cadarku dan seluruh kain ini jika kamu mau," tawar Luna.

Yudha tersenyum kecut. Kenapa wanita itu harus menyertakan kalimat 'jika kamu mau'?

'Memangnya aku saja yang punya nafsu? Dia kira aku lelaki apa? Tak akan. Aku tak akan menyerah padanya dengan mudah. Gengsi!' racau batin Sayudha.

"Apa Mbak memerlukannya?" tanya Yudha seolah dia tak menginginkannya.

Gadis bercadar itu hanya diam, sama sekali tidak menjawab. Hati kecil Yudha menginginkan Luna mengatakan 'iya' atau setidaknya mengangguk. Biar bagaimana pun, Yudha adalah laki-laki dewasa yang normal. Apalagi status mereka adalah suami istri. Yudha merasa cukup bersabar telah menunggu sedari tadi.

Dengan tatapan dingin, gadis yang baru saja Yudha sahkan itu berjalan mendekat. Jantung Yudha seperti akan mencolos keluar. Dekat, lebih dekat lagi. Rasanya Yudha seperti akan menikmati keindahan surga. Namun seketika harapannya hempas. Luna melenggang melewati Yudha, menyisakan aroma parfum yang begitu lembut menyeruak dari guratan helaian kain hijabnya. Sebelum dia keluar, Luna membalikkan badan menatap suaminya.

"Aku akan tidur di kamar samping, Mas," ucapnya datar.

Yudha hanya mengangguk dengan memasang senyum sedemikian rupa. Kecewa, itu sudah pasti. Yudha sadar pernikahan itu akan berakhir, tapi akad yang tadi pagi ia ucapkan bukan main-main.

"Andai dia tahu, aku bahkan merasakan beban bumi ini seperti semuanya terpangku padaku. Lalu ketika kata sah dari hadirin riuh rentak, serasa lepas semua beban itu. Bagaimana bisa dia semudah itu memperlakukanku? Wanita menyebalkan!" gerutu Yudha.

Ingin rasanya laki-laki itu meninggalkan rumah itu lalu menemui kekasihnya. Namun itu adalah hal yang mustahil. Akan sangat aneh, jika seorang pengantin laki-laki pergi di malam pertamanya. Yudha mengembuskan napasnya kuat-kuat.

"Oh ya, apa tadi aku salah mendengar? Dia panggil aku apa? Mas?" gumam Yudha sendirian menatap langit-langit. Mengapa terdengar sangat hangat di telinganya?

Gadis bercadar itu membuat Yudha mulai penasaran. Laki-laki itu mencoba memejamkan mata namun matanya kembali terbuka, seperti ingin melihat sesuatu. Yudha bangkit dengan cepat.

"Malam ini, setidaknya aku harus tahu seperti apa wajahnya!"

Sedang di sisi lain, Luna segera mengunci pintu, melucuti kain putih penutup dirinya lalu mengempaskannya begitu saja. Tampak rambutnya lurus sedikit curly di bagian bawah. Warnanya hitam berkilau terhentak indah. Sama sekali dia tidak memandang cermin sekedar untuk untuk mengagumi kecantikannya sebagai pengantin. Gadis itu segera mengeluarkan laptop. Dengan cekatan, jari-jarinya mengetik sesuatu. Tak lama, sebuah pesan datang.

(Senjata-senjata sudah dikumpulkan di hutan utara. Ada 10 orang yang berjaga. Tinggal menunggu perintah, boss!)

Bibir merah muda nan ranum itu menyeringai seperti puas. Jari jemarinya kembali mengetik.

(Musnahkan!)

Bab 2

Terlihat ada beberapa pesan lain yang masuk.

(My Angel, pengiriman aman. Sudah ditransfer.)

Gadis yang dikenal sebagai Angel Gracelia itu mengulum senyum. Itu adalah pesan dari anak buahnya yang sudah berhasil mengirim stok senjata terakhir untuk dijualnya secara ilegal. Sekarang dia sudah memutuskan berhenti dari dunia hitam itu. Angel Gracelia memeluk agama Islam dengan mendapatkan nama baru, Diandra Safaluna.

(Angel, ada penawaran Si Putih, keuntungan 50%.)

Jari lentik gadis itu mengetik lembut.

(Sudah kukatakan, aku tidak berhubungan dengan barang laknat itu lagi. Tolak!)

"Menjadi orang yang lebih baik itu memang rada susah ya," lirih Luna mengerucutkan bibir.

(Bagaimana malam pertamanya My Angel? Jebol ya?)

Marimar

(Kamu diet saja, tak usah mau tau! Jangan lupa, atur pertemuanku dengan The Lord! Secepatnya!) balas Luna.

"Ketua gengster setan itu takkan bisa menyudutkanku. Sudah kupegang data matinya. Dia harus memberiku penjelasan mengapa ia sampai membunuh dua anak buahku! Kutu alas!" umpat Luna meneguk air mineral yang tersedia di meja kecil samping kasurnya.

Tiba-tiba, ada pesan yang baru saja masuk.

(Semoga cucuku tak merepotkanmu ya, My Angel. Aku titipkan dia. Tolong jagalah dia untukku.)

Aderald

Luna mencebik.

"Ccch ... cucumu payah!"

Ingin rasanya dia mengirim ucapannya itu namun entah mengapa, seperti ada yang menghalanginya. Yah, sebuah rasa yang disebut sungkan. Luna memanyunkan mulut, membiarkan laptopnya menyala. Pikirannya berputar pada peristiwa ketika dia menolong kakek tua itu dari sekapan kawanan perampok.

"Siapa mereka?" tanya Luna.

"Palingan suruhannya Si Hitam," jawab Aderald masih gemetar.

"Aku sudah tak berurusan dengan dunia itu lagi! Jangan dia memancing begini!" seru Luna dengan mata menyala karena marah.

"Saya juga sudah jelaskan saat dia menawarkan dagangannya. Tapi dasar Si Botak jelek itu tak pernah mau mendengar. Dia ingin My Angel tetap menjadi bandar barang haram itu!"

"Sudah cukup kehilangan bapak dan ibuku yang membuat aku berhenti untuk masuk dunia hitam itu! Katakan, berhentilah atau kuputuskan urat-urat nadinya nanti!" ancam Luna dengan gerahamnya yang berkedut.

"Ba-baaik, Angel," jawab Aderald gugup.

Sejenak Luna diam, seperti termangu. Gadis itu meremas-remas jarinya, menandakan dia sedang was-was.

"Aku takut mereka adalah anak buah Eville. Sungguh, aku lebih baik mati daripada menjadi gundik mafia berhati iblis itu!"

"Tidak My Angel. Saya yakin, Eville akan memenuhi janjinya setelah mendapatkan tebusan besar itu."

Luna mengangguk mencoba menenangkan diri.

"Apa mereka melihat wajahmu?" tanya Luna lagi.

"Iya, My Angel," jawab Aderald dengan napasnya memburu ketakutan.

"Sudahlah, biarkan saja."

Aderald menghela napas lega. Ia tahu budaya keluarga mafia ini. Jangan sampai ada yang mengenal wajah mereka. Kalau sampai ada, mereka akan mendapatkan hukuman cambuk seratus kali. Aderald adalah generasi awal yang mengabdi di keluarga Luna. Ia selamat dari penyergapan malam itu sebab sedang tidak berada di tempat.

Ayah dan Ibu Luna adalah mafia yang bergerak dalam jual beli obat-obat terlarang dan senjata illegal. Mereka memilih diam dan dihukum mati. Luna selamat bersama Aderald dan dua anak buah mereka, Marimar dan Gaston. Nama asli mereka tak ada yang tahu. Mereka memilih melupakan nama lahir untuk menemukan jati diri yang baru.

"Kita harus hijrah, Aderald! Memulai hidup yang lebih terhormat."

"Semua tergantung My Angel saja. Investasi Nyonya Zanna dan Tuan Luis tetap ada dan kapanpun bisa engkau ambil," ujar Aderald.

"Biarkan saja. Aku ingin memulai hidupku seperti wanita pada umumnya," lirih Luna.

Aderald menggumam, memikirkan sebuah solusi.

"Seperti menikah?" tanya Aderald.

Luna tertawa renyah.

"Aku lebih mudah menemukan yakuza daripada jodoh," kelakar Luna.

Aderald masih bergeming. Urat-urat wajah tuanya menegang. Laki-laki tua itu sedang berpikir keras.

"Aku akan ke luar negeri. Mungkin di sana, aku bisa melupakan semua hidup burukku di sini!"

"Jangan, My Angel. Saya mohon. Ibarat rumah, kau adalah lampu bagi kami di sini! Bisniss jual beli berlian ini masih permulaan."

"Lalu, kamu ingin aku terus bersembunyi di sini, di tempat terkutuk ini?"

"Tak perlu, My Angel. Engkau bisa tinggal bersamaku. Bukankah semua itu milikmu?"

"Terimakasih, kamu sudah menghargaiku, Aderald. Tapi aku tak punya alasan yang tepat untuk bersamamu di dunia luar. Akan banyak hal yang perlu dipertimbangkan," ujar Luna.

"Saya ada ide, My Angel. Mohon maaf jika ini menyinggung perasaanmu. Engkau bisa masuk ke dalam keluargaku, hanya dengan cara ini," ujar Aderald berapi-api.

Luna mengernyitkan dahi.

"Nikahilah cucuku!"

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba, ingatan Luna buyar. Terdengar pintu kamarnya sekarang sedang diketuk.

"Untuk apa laki-laki payah itu mengetuk pintuku menjelang dini hari begini? Apa dia berubah pikiran? Malam pertama? Aaah ... tak semanis yang kukira," gerutu Luna memasang hijab dan cadarnya.

Bab 3

Yudha mengetuk pintu kamar Luna dan kali ini lebih kencang. Sedari ketukan pertama, tidak ada respon dari dalam. Laki-laki itu mengigit bibir bawahnya, berencana kembali lagi ke kamar. Gadis bercadar itu pasti sudah tidur.

Bagaimana Yudha bisa melewati malam ini dengan rasa penasaran yang mulai menjalar di hatinya?

Tiba-tiba suara pintu terbuka. Refleks Yudha membalik badan. Tampak Luna masih dengan cadar pengantin. Bedanya, pakaiannya sekarang berwarna hitam lagi. Warna yang menjadi ciri khas gadis itu.

"Anu ... aku ingin ...."

'Sial!'

Hati Yudha mengumpat dirinya sendiri. Mengapa dia harus gugup? Laki-laki berambut lurus cepak itu memangku kedua tangannya di paha. Celingak-celinguk tak jelas.

Tampak Luna mengernyitkan alis. Di mata Yudha, gadis bercadar itu sekarang terlihat menarik. Kedua manik mata biru milik gadis itu seperti menghipnotis secara perlahan.

"Ingin apa, Mas?" suara Luna mendayu.

"Makan. Yah. Aku lapar. Mbak juga kan? Sekarang kan masih jam sepuluh. Pasti Mbak lapar juga. Kita terakhir makan tadi jam enam sore," kilah Yudha mencari alasan.

"Jam segini terlalu larut buatku, Mas. Tapi kalau kamu mau, aku bisa menemanimu makan."

Yudha menyunggingkan senyum terpaksa. Lagi-lagi kalimat itu keluar, 'kalau kamu mau'. Yudha benar-benar merasa kesal mendengar Luna mengucapkan kalimat itu.

"Baiklah. Tak apa. Istirahat. Aku bisa makan sendiri," jawab Yudha dengan nada datar.

Luna hanya mengangguk lalu menutup pintu.

"Oh Tuhan. Apa dia terbuat dari es? Dingin bagai es batu," gerutu Yudha melangkah gontai.

Yudha membuka tudung saji.

"Aku harus makan banyak agar memiliki tenaga untuk menahan ujian hidup," dumel Yudha meraih hidangan yang tersaji.

Sesuap demi sesuap laki-laki itu melahap nasi dengan lauk ayam goreng teriyaki kesukaannnya. Tiba-tiba Luna muncul, berjalan dan mengambil air minum di dispenser yang tak jauh dari Yudha. Gadis itu mengangkat penutup wajahnya lalu menutup gelas itu dengan cadarnya. Telinga Yudha bisa mendengar tegukan dari mulut Luna. Rupanya wanita itu sangat kehausan. Yudha hanya melongo, tak tahu harus menyapa atau tidak. Tanpa melihat suaminya, apalagi menegur, Luna pun kembali.

"Apa aku ini makhluk astral yang kasat mata? Sebagai istri, dia tak pantas mengabaikanku! Aku harus segera mengajarinya. Kali ini tak boleh lemah. Sebagai seorang suami, aku harus punya power!" oceh Yudha bertekad dengan wajah sangat serius.

Esoknya, Yudha mengajak Luna mengunjungi mall. Mereka mendapatkan voucher belanja sebagai hadiah pernikahan.

"Kenapa Mbak tidak mengambil yang Mbak mau? Mbak tak perlu sungkan. Apa Mbak tak tahu, aku adalah pemilik sebuah perusahaan besar?" tanya Yudha berlagak sembari menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.

"Iya, aku tahu, PT. Yudhastara tbk yang bergerak di bidang ekspor rempah-rempah kan?"

Yudha mengangguk bangga. Ia yakin, pastilah perusahaannya terkenal di mana-mana.

"Sebelumnya, apa Mbak pernah bekerja?" tanya Yudha mencoba mengulik informasi.

Gadis bercadar itu mengangguk.

"Kerja apa?" tanya Yudha penasaran.

"Hanya jual online dari rumah, produk makanan," jawab Luna datar.

Giliran Yudha yang mengangguk dengan ekspresi menahan rasa kesal.

'Apa kakek tak salah pilih? Sepertinya tua bangka itu menaruh benci padaku sebab sering mencuri uangnya dulu ketika kuliah' omel Yudha dalam hati.

"Kenapa, Mas?" tanya Luna membuyarkan pikiran suaminya.

"Tidak apa-apa," jawab Yudha dingin.

"Setelah pernikahan kita berakhir, aku janji akan tetap menafkahi Mbak Luna," lanjut Yudha yakin.

"Tak perlu, Mas."

"Jangan sungkan. Uangku tak akan habis kalau sekedar memberikan mantan istri ala kadarnya. Aku tak ingin jadi gunjingan, menelantarkan wanita yang lemah," papar Yudha.

Gadis bercadar itu hanya diam.

'Apa dia tersinggung? Ah ... aku tak peduli. Jangan-jangan kakekku memungutnya dari desa' gerutu hati Yudha mencuri pandang pada Luna.

Yudha menghela napas dan fokus menyetir. Tiba-tiba mobilnya tersentak-sentak. Seketika Yudha panik lalu berhenti di pinggir kiri jalan.

Booooom!!!

Yudha menendang ban mobilnya dengan kesal. Mengapa bisa kempes tiba-tiba? Padahal, dia rajin merawatnya.

"Bajing*n! Siapa yang merusak mobilku?!" umpat Yudha dengan wajah merah padam.

Yudha merogoh ponselnya dan makin marah. Sedari tadi, ia terus menghubungi montir yang biasa menservis mobilnya. Sayang, tak ada tanggapan. Luna turun. Yudha tahu, gadis itu sedari tadi memperhatikannya yang sedang memaki keadaan.

"Masuk lagi, Mbak. Tak ada gunanya kamu keluar!" perintah Yudha sambil mencoba berpikir solusi yang bisa dia lakukan selain terus menghubungi montir itu.

Gadis bercadar itu seolah tidak mendengarkannya.

Luna justru berkata, "Bukannya ada ban cadangan di belakang? Aku lihat, peralatan juga lengkap."

"Ya begitu. Biasanya aku menghubungi montir langgananku, tapi saat ini mungkin dia sibuk di bengkel."

"Oh," jawab Luna singkat.

Gadis bercadar itu langsung mengikat ujung gamisnya. Ia memilin kain itu sehingga betisnya yang menggunakan leging hitam terlihat jelas. Luna bergegas menuju belakang, membuka cap belakang mobil lalu menarik kencang ban mobil cadangan. Dengan lincah, gadis itu menggelindingkan ban. Meskipun masih terheran-heran, Yudha mendekat.

"Mbak! Kamu tidak sedang main-main kan?"

"Tolong nyalakan lampu tanda!" perintah Luna mengabaikan pertanyaan suaminya.

Walau tak yakin, tetap saja Yudha melakukan perintah istrinya. Luna lalu mengambil dongkrak mobil dan kunci roda. Tangannya yang terlihat putih bersih kontras dengan alat-alat itu. Perlahan ia mengendurkan baut ban mobil yang kempes lalu dengan kekuatan penuh, Luna memasang dongkrak mobil. Dengan cepat, dia melepaskan ban yang kempes itu dengan sempurna lalu memasang ban yang baru.

Yudha menganga, melongo keheranan bercampur rasa kaget yang luar biasa. Dia seperti kehilangan akal melihat aksi wanita yang baru dinikahinya itu. Bagaimana bisa Luna melakukan itu semua? Belum habis rasa kaget Yudha, istrinya itu pun menghidupkan mobil lalu bergerak maju mundur sambil memastikan ban itu terpasang dengan baik.

'Selain mengganti ban mobil, istri bercadarku bisa menyetir?!' pekik batin Yudha tak percaya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED