"Kondisi ibu kamu semakin menurun, Nak. Segera lunasi administrasi agar bisa dilakukan pencangkokan ginjal secepatnya atau nyawa ibumu tidak akan tertolong," ujar lelaki berjas putih yang berdiri tepat di samping pasien sekarat yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Dengan wajah cemasnya, perempuan cantik itu mengangguk lemah, meski ia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu. "Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk ibu saya. Akan saya lunasi secepatnya."
Dokter tampan yang terlihat seumuran dengan almarhum ayahnya itu mulai mendekat, mengusap bahu Cecil pelan, lalu tersenyum manis dan berkata, "Kamu yang sabar, ya? Sedikit banyak saya tahu bagaimana kehidupan keluargamu. Kamu memang anak yang hebat. Ibu kamu sering cerita tentang kehebatan putrinya ini. Tetap semangat! Setidaknya, dukungan kamu sangat dibutuhkan pasien untuk berjuang melawan penyakitnya. Kamu jangan menyerah dan jangan lupa berdoa, minta kesembuhan untuk ibumu. Sesungguhnya, hanya Dia yang Maha Menyembuhkan."
Cecil membalas senyuman itu tak kalah manis. Ia sangat bersyukur, karena dokter yang merawat ibunya ini adalah orang baik. Bahkan, beliau tidak pernah menolak jika dimintai bantuan. "Terima kasih banyak, karena Dokter sudah merawat ibu saya dengan sangat baik. Kalau boleh, saya mau merepotkan Dokter sekali lagi, saya minta tolong, titip Ibu sebentar, karena saya harus kembali bekerja untuk membayar biaya rumah sakit."
Dokter mengangguk, dengan senang hati laki-laki itu akan membantu Cecil yang membutuhkan bantuannya. "Silakan, Nak Cecil. Kamu anak baik dan berbakti. Tuhan akan selalu mempermudah langkahmu. Semoga kamu bisa secepatnya mendapatkan biaya untuk operasi ibumu."
"Aamiin. Saya permisi dulu." Setelahnya, Cecil pergi meninggalkan ibunya di ruangan bersama dokter yang merawat.
***
Cecilia Hutama. Gadis manis itu tengah melamun di ruang kerjanya. Pikirannya berkecamuk, memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu yang singkat. Ia tidak mungkin membiarkan nyawa ibunya dalam bahaya. Bagaimanapun juga, gadis itu harus berhasil mengumpulkan biaya operasi untuk Nira, perempuan cantik yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya selama ini. Hanya Nira satu-satunya keluarga yang Cecil punya, karena ayah Cecil sudah meninggal beberapa tahun lalu.
"Apa aku pinjam Bos saja ya, buat operasi Ibu?" gumam Cecil pada diri sendiri. Tidak ada pilihan lain, hanya bosnya yang bisa menjadi penolong saat ini.
Untuk sesaat, Cecil merasa diterpa angin segar. Namun detik berikutnya, ia menggeleng tegas setelah mengingat bagaimana bos galak itu memakinya kemarin.
"Nggak, nggak! Bos galak itu nggak mungkin mau ngasih bantuan. Aku musti gimana ya Tuhan?!"
Cecil pun mulai frustasi. Ditelungkupkan wajahnya di atas meja kerja sambil membayangkan wajah bosnya yang galak itu.
"Arghhh! Kenapa punya bos galak banget sih?! Aku mau pinjam uang ke man--"
"Siapa yang galak?!" Suara bariton memenuhi ruangan, Cecil pun terkesiap. Ia terlihat gelagapan.
Cecil mendongak, Jantungnya hampir copot saat melihat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya.
"P--pak Dev?" ucap Cecil terbata. Ia pun langsung menunduk, tidak berani menatap bos galaknya itu. Takut-takut, jika Devan marah lagi dengannya. Sementara sorot mata laki-laki itu menatap dingin ke arah Cecil, seperti ada dendam kesumat yang belum terbalas.
"Siapa yang kamu bilang galak?!" tanyanya sekali lagi. Ekspresi datarnya membuat suasana semakin mencekam.
"Bapak!" Tanpa sadar, Cecil keceplosan.
Laki-laki bernama Devan itu melotot tajam, membuat Cecil menutup mulutnya. Ia sadar sudah melakukan kesalahan yang fatal.
"Ma--maksud saya, tadi ada bapak-bapak di jalan, orangnya galak. Kakinya terinjak saja langsung marah." Bodoh! Baru kali ini Cecil merutuki otak briliannya itu. Bisa-bisanya ia memberi alasan yang tak masuk akal. Mana mungkin Devan percaya?
Devan menelisik mata Cecil. Perempuan itu terlihat tengah berdusta. Devan bisa melihatnya dari manik matanya yang bergerak gelisah. Lagian, ia tadi mendengar dengan jelas jika Cecil menyebut kata bos. Apa mungkin dirinya yang dimaksud? Batin Devan bertanya-tanya.
"Nggak usah alasan! Ke ruangan saya sekarang juga! Saya tunggu 5 menit!" Tanpa basa-basi, Devan berlalu meninggalkan Cecil yang masih mematung di tempatnya.
Cecil pun menghembuskan napas kasar. Ia harus siap menerima resiko yang akan dirinya dapatkan setelah ini.
Tak ingin membuat bosnya semakin marah, ia pun bergegas menuju ruangan CEO perusahan yang bergerak di bidang properti ini. Dengan langkah seribu, Cecil berjalan menuju ruangan Pak Direktur.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan terdengar dari luar.
"Masuk!" teriak seseorang dari dalam. Tentu saja itu Devan, satu-satunya orang yang berkuasa di kantor ini.
Cecil pun segera masuk saat pemilik ruangan mempersilakan dirinya masuk.
"Telat dua menit!" ucap sang CEO dengan ekspresi yang sama. Datar dan dingin.
Cecil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ya, memang telat dua menit. Tapi, ini terlihat berlebihan jika harus dipermasalahkan.
"Maaf, Pak. Jalan ke sini juga butuh waktu. Nggak langsung ngilang. Ruangan saya dan kantor Pak Devan, jaraknya cukup lumayan. Jadi, saya juga butuh waktu untuk jalan ke sini."
Devan tidak suka mendengar alasan. Apalagi bantahan. Karyawannya yang satu ini memang paling suka membangkang. "Jangan kebanyakan alasan! Saya tidak suka!"
Cecil pun berdecak dan memutar bola matanya. Hanya perempuan itu yang berani menantang Devan. "Ckck! Udah sih, Pak. Orang cuman telat dua menit. Hidup saya sudah rumit, jangan dipersulit!"
Cecil terlihat kesal. Kepalanya yang sudah pusing memikirkan pengobatan ibunya, menjadi semakin pening karena bos galaknya ini. Rasanya, ingin sekali ia makan orang.
Devan sendiri merasa heran dengan gadis manis yang bekerja di perusahaannya ini. Sama sekali tidak ada takut-takutnya dengan atasan. Justru terkesan seperti menantang, seolah tidak takut kehilangan pekerjaannya.
"Kok jadi galakan kamu? Di sini, bosnya saya, bukan kamu! Kalau sudah bosan bekerja, dengan senang hati saya akan pecat kamu!"
Cecil terkesiap. Matanya membulat dengan mulut terkatup rapat. Ia kemudian meraih tangan Devan, menciumnya dengan hormat sambil memohon karena pekerjaan ini sangat penting baginya. "Tolong jangan pecat saya, Pak. Maaf, kalau saya sudah kurang ajar sama Bapak. Tapi saya mohon, jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini. Ibu saya terbaring kritis di rumah sakit. Kalau Bapak pecat saya, saya bayar rumah sakit dan pengobatan ibu saya pakai apa, Pak?"
Dengan terus mencium tangan Devan, Cecil berusaha merayu bosnya. Ia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Bagi Cecil, kantor ini adalah harapan satu-satunya.
"Itu bukan urusan saya," ucap Devan acuh. Sebenarnya, Devàn tidak benar-benar berniat memecat Cecil karena perusahaan ini masih membutuhkan karyawan kompeten seperti Cecil. Ia hanya memberi pelajaran saja pada karyawannya yang suka membangkang itu.
"Pak, saya mohon dengan sangat, tolong jangan pecat saya. Saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Ibu saya sedang sakit parah dan butuh perawatan intensif. Saya juga butuh uang untuk biaya operasi cangkok ginjal ibu saya. Saya mohon, Pak, jangan pecat sa--"
"Diam!" Perintah Devan membuat Cecil berhenti nyerocos.
Melihat Cecil yang sudah berhenti bicara, Devan ikut diam, lalu memperhatikan penampilan Cecil dari atas sampai bawah.
"Duduk!" titahnya kemudian.
Cecil yang masih gelisah dengan karirnya di kantor ini, masih terus berdiri mematung tanpa mengindahkan perintah atasannya, itu membuat Devan semakin geram.
"Kenapa masih berdiri?" ucap Devan dingin dan terasa menusuk di telinga.
"Ta--tapi, Pak?"
"Saya bilang duduk ya duduk!" bentak Devan membuat Cecil terkesiap. Gadis itu tertegun sampai susah payah menelan liur yang tercekat di tenggorokan.
Tak ingin mendapat masalah lebih runyam lagi, Cecil memilih untuk duduk. Ia menarik kursi yang ada di hadapan Devan.
"Baik, saya duduk."
Cecil hanya bisa merunduk dalam. Takut-takut jika Devan kembali murka padanya, pekerjaannya ini pasti akan hilang dalam sekejap dan posisinya akan digantikan dengan mudahnya.
"Kamu butuh uang?" tanya Devan dengan suara yang melembut, membuat Cecil menarik napas lega. Meski begitu, ia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Iya, Pak," jawabnya hanya dengan sekali anggukan.
"Saya di sini, bukan di bawah. Ngapain nundukin kepala?!"
Dengan susah payah, Cecil berusaha untuk sabar. Ia harus bisa tahan emosi. Belum saatnya membantah bos galaknya yang ngeselin ini. Dengan kuat, gadis itu mencengkeram ujung roknya agar bisa lebih tenang.
Perlahan, Cecil mulai mengangkat kepalanya. Ditatapnya manik Devan dengan tatapan lembutnya. Kali ini, ia mengalah demi pekerjaannya yang dipertaruhkan. "Iya, Pak. Saya minta maaf."
Devan tersenyum samar. Ia merasa menang karena sudah berhasil membuat sekretarisnya yang songong itu menjadi tak berkutik.
"Ekehm." Suara deheman milik Devan, terdengar cukup horor di telinga Cecil. Gadis itu berusaha tenang dengan memilin ujung roknya hingga lecek.
Saat saling pandang, tanpa sengaja tatapan keduanya saling beradu. Devan menatap Cecil dengan sorot yang tajam, sementara gadis itu menatap manik Devan dengan tatapan sayunya. Devan bisa melihat ada sebersit kesedihan di balik tatapan milik Cecil.
"Emmm ... saya bisa bantu kamu membiayai semua pengobatan ibu kamu," Bak super hero, Devan menawarkan bantuan pada Cecil. Tentu saja tidak gratis. Perempuan itu harus memberinya imbalan yang sepadan.
Mendengar itu mata Cecil berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka jika bos galaknya ini ternyata masih punya sisi kemanusiaan yang baik. Ia merasa sedikit bersalah, karena penilaiannya pada laki-laki itu tidak sepenuhnya benar.
"Bapak serius?" tanya Cecil memastikan. Semoga saja, laki-laki itu beneran baik.
"Ya, tapi ada syaratnya."
Kedua alis Cecil bertaut. Bodoh! Ia merasa bodoh! Mana mungkin Devan mau membantunya dengan cuma-cuma? Pasti laki-laki itu sudah punya rencana licik. Tapi, Cecil tidak boleh egois. Demi ibunya, syarat apa pun akan dirinya lakukan.
"Apa syaratnya?" ucap gadis itu lantang. Ia tidak peduli dengan syarat yang Devan berikan. Bagi Cecil, nyawa ibunya jauh lebih penting sekarang.
"Jadi istri saya!"
"Jadi istri saya!"
Tepat setelahnya, mulut Cecil membuka lebar. Pupus sudah harapan Cecil. Ia tidak menyangka jika Devan bisa segila ini. Menikah bukan sebuah permainan yang harus dimenangkan. Ini benar-benar sudah kelewatan!
Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa dengan mudah menyuruhnya menjadi seorang istri? Ini terdengar sangat konyol. Menikah tidaklah semudah itu. Banyak pertimbangan, terlebih pernikahan bukanlah hal yang remeh.
Cecil menggeleng pelan. Ia masih tidak percaya ini. "Pak Devan benar-benar gila! Kalau Bapak dendam sama saya, nggak perlu main-main seperti ini, Pak! Bapak pikir ini lucu? Pernikahan bukan lelucon yang bisa dimainkan seenaknya. Di dalam pernikahan ada janji suci yang terucap dengan Tuhan sebagai saksinya. Jangan main-main dengan hal itu!"
Cecil menatap nanar laki-laki yang ada di hadapannya. Rasanya, ingin sekali ia mencakar wajah tampan yang sesat itu.
"Saya juga tidak main-main! Kamu butuh uang kan? Saya juga butuh seorang istri yang bisa menyelamatkan saya dari desakan keluarga yang menyuruh saya untuk segera menikah. Dengan begitu, kita sama-sama untung. Kamu bisa menyelamatkan nyawa ibumu dan saya tidak perlu repot-repot mencari seorang istri."
Devan menyeringai. Cecil pun ikut terkekeh.
"Haha ... seorang Devano Nicolas, CEO dari perusahaan ternama, kaya raya, tampan, mapan, incaran banyak wanita, tapi mencari istri dengan cara murahan begini? Saya curiga kalau bapak tidak suka lawan jenis. Apa jangan-jangan, Bapak mau nikah sama saya, hanya untuk menutupi kelainan Bapak yang belok itu ya?"
Tudingan Cecil membuat Devan semakin murka. Emosinya pun sudah tak terkendali lagi. Ia tidak terima jika dituduh sebagai laki-laki tidak normal.
"Tutup mulutmu! Saya ini pria normal!" geram Devan dengan gigi yang gemertak. Rahang kokohnya mengeras sempurna. Laki-laki itu mengepal keras, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa? Bapak marah saya bilang tidak normal? Kalau Pak Devan normal, kenapa Bapak ingin menikah dengan saya? Pak Devan punya kuasa. Bukannya di luar sana banyak wanita cantik yang bisa Bapak beli semaunya? Menikah saja dengan salah satu dari mereka!" Suara Cecil terdengar meninggi. Gadis itu juga terlihat sangat emosi.
"Karena saya tidak percaya sama cinta. Semua perempuan hanya mengincar harta dan ketampanan saya. Tidak ada yang tulus mencintai saya, seperti cinta Mama pada anaknya. Jadi, saya tidak suka berurusan dengan wanita. Semuanya sama saja. Hanya uang dan tampang yang mereka incar."
Plak!
Tamparan keras dari Cecil mendarat mulus di rahang Devan. Cecil tidak terima jika Devan menganggap semua perempuan seperti itu. Bagi Cecil, ini sama saja seperti hinaan besar untuknya.
Mendapat tamparan dari Cecil, Devan pun melotot tajam. Ia sudah tak bisa lagi membendung emosi. Hampir saja, tangannya melayang di pipi mulus gadis itu. Tapi ia urung dan tangannya pun hanya melayang di udara, mengingat jika di hadapannya ini adalah perempuan. Pantang bagi Devan menyakiti perempuan.
"Beraninya kamu menampar saya?! Semua yang saya katakan itu benar! Di luaran sana, banyak perempuan cantik yang bisa didapatkan dengan mudah saat uang dan tampang berbicara. Perempuan itu sampah dan murah!"
"Bukankah mama Pak Devan juga perempuan? Apa mana Bapak juga sampah?!" ucap Cecil penuh amarah. Bosnya ini sudah benar-benar keterlaluan.
"Kecuali mama saya! Karena Mama saya, perempuan terhormat!" ucap Devan dengan entengnya.
"Saya juga bukan perempuan seperti yang Bapak pikirkan! Saya memang butuh uang, Pak. Tapi uang itu tidak untuk kepentingan saya sendiri. Saya butuh uang untuk menyelamatkan nyawa ibu saya. Hanya Ibu yang saya punya di dunia ini. Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu! Dan sekarang, ibu saya tengah bertarung melawan penyakitnya! Jangan anggap semua perempuan seperti itu, Pak! Kami juga punya harga diri!"
Isak tangis terdengar dari bibir kecil gadis itu. Ia sudah tidak bisa membendung emosinya lagi. Apa yang Devan pikiran soal perempuan, itu salah besar. Tidak semua perempuan memiliki pemikiran picik seperti itu.
Devan memegang pelan bahu Cecil yang masih bergetar. "Oke, saya minta maaf soal itu. Tapi tolong kamu pikirkan sekali lagi tawaran saya. Saya tahu, kamu bukan perempuan seperti itu, karena cuman kamu satu-satunya perempuan yang tidak tertarik dengan pesona saya. Mangkanya saya menawari kamu kerja sama ini. Saya tahu kamu butuh uang. Saya janji akan menanggung semua biaya ibu kamu di rumah sakit dengan imbalan kamu harus menjadi istri saya selama satu tahun. Anggap saja, saya bayar kamu menjadi istri kontrak saya. Hanya satu tahun, tidak lebih dari itu. Saya juga tidak akan ikut campur urusan kamu selama itu tidak menyangkut pernikahan kita di mata keluarga. Saya tidak akan sentuh kamu sampai waktu yang ditentukan."
Cecil menggeleng. Ia tidak bisa menjadi istri bayaran seperti ini. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral. Ia tidak ingin mengotori janji suci penilahan, dengan bermain dengan yang namanya pernikahan. Impiannya untuk menikah sekali seumur hidup juga akan sirna jika ia menerima tawaran ini. "Maaf, tapi saya tidak bisa. Bagi saya, pernikahan itu sakral. Saya tidak mau bermain-main dalam menjalani pernikahan."
Devan menyeringai, mengusap pipi Cecil pelan lalu bergerak semakin mendekat dan berbisik,"Jangan egois! Pikirkan nyawa ibu kamu! Saya tunggu jawaban kamu besok pagi! Nyawa ibu kamu sekarang berada di tangan kamu. Semoga kamu tidak salah mengambil keputusan."
Devan menepuk pelan pundak Cecil, lalu pergi dari ruangan pribadinya, meninggalkan Cecil yang masih mematung di tempat.
"Arghh! Kenapa nggak ada yang bisa dipilih?! Keduanya sama-sama mencekik. Aku harus apa?" Cecil mengerang kesal di ruangan Devan. Matanya sembab setelah mengeluarkan tetesan kristal cair dari sudut matanya.
Air matanya kembali menetes, setelah mengingat apa yang Devan katakan. Nyawa ibunya saat ini berada di tangannya. Kalau sampai dirinya tidak bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi, ibunya padati tidak akan tertolong.
Cecil pun memilih untuk duduk, menenangkan sejenak pikirannya agar bisa berpikir jernih.
Setelah isak tangisnya Reda, gadis cantik itu kembali ke ruangannya. Pekerjaannya hari ini harus segera terselesaikan. Jika tidak, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menjaga ibunya di rumah sakit, akan tersita dengan lembur karena pekerjaan yang belum selesai. Dengan semangat, Cecil pun segera berkutat dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
Hufttt!
Cecil menarik napas lega saat semua pekerjaan telah usai sebelum waktu pulang tiba. Jadi, ia bisa siap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Tiba-tiba, suara dering telepon memenuhi ruangannya. Ia pun bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Dengan cepat, Cecil menekan tombol hijau setelah tahu jika yang menelepon adalah pihak rumah sakit.
"......."
"Apa? Ibu saya semakin drop?"
"......."
"Baik, saya ke sana sekarang juga!"
Tut ... tut ..
Setelah mendapat telepon dari rumah sakit yang memberi tahu jika kondisi ibunya semakin menurun, Cecil pun segera menyambar tasnya.
Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan yang masih menunjukkan pukul 3 sore. Itu berarti, jam pulang masih kurang satu jam lagi.
Cecil tidak bisa menunggu selama itu. Ia harus bergegas pergi ke rumah sakit karena ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa pikir panjang, Cecil pun nekad menemui Devan dan meminta izin untuk pulang lebih awal dari jam pulang kantor. Ia tidak peduli kalau Devan memarahinya nanti. Yang penting, sekarang ia harus cepat sampai rumah sakit.
Dengan langkah tergesah, Cecil berjalan menemui Devan di ruangannya.
Tok ... tok ....
Suara pintu yang terketuk.
"Masuk!"
Setelah mendapat perintah, Cecil pun langsung masuk ke dalam.
"Permisi, Pak," ucuapnya ragu dengan raut wajah cemasnya.
Devan memperhatikan Cecil dari atas sampai bawah. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ini masih jam berapa, Cecilia Hutama?! Kenapa jam segini kamu sudah membawa tas? Masih mau kerja kan?! Apa sudah bosan kerja di sini?"
Cecil menarik napas panjang, sebelum akhirnya ia memohon untuk diizinkan pulang lebih awal.
Cecil meraih tangan Devan, lalu menciumnya dengan hormat. Ia benar-benar memohon kali ini. "Maafin saya, Pak. Saya memang salah karena sudah lancang untuk pulang di jam kantor. Tapi saya mohon, kali ini saja izinin saya pulang lebih awal, Pak. Kondisi ibu saya semakin menurun. Barusan, saya dapat telepon dari pihak rumah sakit, kalau ibu saya drop lagi, Pak. Saya harus ke rumah sakit sekarang. Tolong beri saya izin, Pak."
Cecil berlutut di hadapan Devan. Ia sungkem pada lelaki itu dan membuang jauh-jauh egonya.
"Berdiri, Cecil," perintah Devan tegas.
Cecil menggeleng. Ia tidak akan beranjak sedikit pun sebelum Devan memberinya izin. "Nggak, Pak. Saya akan tetap berlutut sampai Bapak mengizinkan saya."
Cecil yang kukuh dengan pendiriannya, ia tidak akan gentar.
"Cecil, berdiri!" pinta Devan.
Lagi-lagi Cecil menggeleng, hingga membuat Devan kesal.
"Oke, saya izinkan, tapi saya sendiri yang antar kamu ke rumah sakit," pungkas Devan.
Tanpa menunggu lebih lama, Cecil pun berdiri dari tempatnya. "Ayo, Pak!"
Cecil menggeret langkah Devan agar berjalan lebih cepat.
Sesampainya di parkiran, Devan menghentikan langkahnya.
"Jangan buru-buru! Saya ambil kunci mobil sebentar."
Cecil yang sudah tidak sabar, ia pun terlihat bersemangat. "Biar saya saja yang ambil, Pak! Kuncinya di mana?"
Devan menunduk sambil menunjuk saku celana bagian depan dengan dagu. "Di situ. Mau ambil?"
Cecil bergidik ngeri. Mana mungkin ia berani mengambil kunci mobil yang ada di saku celana Devan? "Tidak, Pak. Pak Devan saja yang ambil.
Setelah kunci mobil dibuka, Cecil pun segera membuka pintu penumpang bagian belakang.
"Ngapain kamu buka pintu belakang?" cegah Devan.
Cecil memutar bola matanya, lalu memasok oksigen dalam-dalam. "Ya saya mau masuk lah, Pak. Tadi Bapak bilang mau antar saya? Kalau nggak ikhlas, mending saya naik taksi. Waktu saya terbuang banyak kalau cuman buat meladeni Bapak!"
Cecil menutup pintunya dengan keras, dan ia berniat pergi dari hadapan Devan.
Saat ingin pergi, dengan cepat, laki-laki itu menahan langkah Cecil. Ia membuka pintu penumpang bagian depan lalu memaksa kepala Cecil untuk masuk ke dalam.
"Masuk!"
"Aduh, duh! Sakit!" adu Cecil saat kepalanya dipaksa masuk.
"Saya bukan sopir kamu! Enak saja main duduk di belakang!"
"Iya, Pak. Maaf!" ujar Cecil saat dirinya sudah berhasil duduk di samping kemudi."
Tanpa menghiraukan Cecil, Devan langsung menutup pintu Cecil dan segera masuk ke dalam mobil sportnya.
Tak lama, mobil mewah dengan warna hitam metalik itu berbaur dengan pengemudi lain dan membelah jalan raya yang cukup padat itu.
"Di rumah sakit mana?" tanya Devan saat mobil sudah melaju hingga setengah perjalanan.
"Rumah Sakit Darma Husada," jawab Cecil dengan harap-harap cemas. Pikirannya tidak tenang memikirkan kondisi ibunya sekarang.
Devan merasa terganggu dengan kegelisahan yang Cecil alami, ia pun berniat menegur. "Bisa tenang nggak sih?! Saya nyetir buruh konsentrasi!"
Cecil melirik sebentar, setelahnya ia berusaha tenang. "Iya, maaf."
Cecil membuang muka ke arah jendela. Lebih baik, ia mengalihkan fokusnya pada pemandangan daripada memikirkan kegelisahannya lagi, bisa-bisa nanti bosnya kembali marah.
Setelah beberapa lama, mobil Devan mulai memasuki area parkir rumah sakit. Tanpa basa-basi, ia pun menyuruh Cecil untuk turun. "Turun!"
Cecil yang belum sadar jika keduanya sudah sampai, ia pun terkesiap mendengar bentakan Devan, hingga membuatnya mengelus dada untuk beberapa kali. "Astaga! Bisa lembut dikit nggak sih? Pendengaran saya masih bagus, Pak. Nggak perlu bentak-bentak!"
Setelahnya, Cecil pun langsung turun dari mobil mewah itu, dengan perasaan dongkol. Ia pun meninggalkan Devan yang masih sibuk mengunci mobilnya.
"Tunggu! Saya tidak tahu ruang inapnya!" teriak Devan saat Cecil semakin mempercepat langkahnya.
Devan menggerutu setelah ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Cecil. Meski dengan napas memburu, Devan terlihat tetap berwibawa.
"Bisa pelan-pelan gak?!" ucap Devan setengah berteriak.
Seketika, Cecil menghentikan langkahnya, menoleh pada Devan lalu menatap laki-laki itu tajam. "Nggak! Saya nggak bisa santai lihat ibu saya seperti itu. Bapak tidak tahu gimana perasaan saya sekarang!"
Tanpa menghiraukan tatapan bosnya, Cecil terus berjalan menuju ruangan ibunya dirawat.
Cecil menyunggingkan senyumnya saat melihat sebuah kamar bertuliskan Mawar 07. Ia pun semakin mempercepat langkahnya dan bergegas masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," salam Cecil masuk.
Kehadirannya langsung disambut hangat oleh pria berjas putih yang sedari tadi menemani ibunya yang terbaring tak berdaya. "Waalaikumussalam."
Setelahnya, disusul kehadiran Devan di belakang Cecil.
Dokter memandang laki-laki yang baru saja masuk itu dengan tatapan intens. Ia merasa heran karena sebelumnya Cecil tidak pernah mengajak siapapun untuk datang ke rumah sakit. "Laki-laki ini siapanya Nak Cecil?"
Cecil tersenyum sambil memperkenalkan Devan. "Ini bos saya, Dok. Namanya Devan. Kebetulan, beliau yang berbaik hati mengantar saya ke sini."
"Oh ... silakan duduk." Dokter mengajak Cecil dan Devan untuk duduk di sofa mini yang ada di sana.
Cecil yang sudah tidak sabar ingin mendengar perkembangan ibunya, tanpa basa-basi, gadis itu langsung menanyakan keadaan ibunya pada dokter paruh baya itu.
"Kondisi ibu saya gimana, Dok? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Cecil penuh harap.
Dokter menggeleng lesu. "Masih belum ada perkembangan, bahkan semakin memburuk. Bagaimana? Nak Cecil sudah berhasil melunasi biaya administrasi? Sepertinya, kita sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ibu kamu harus segera mendapatkan donor ginjal baru."
Cecil terdiam. Ia memejamkan mata sejenak. Tak terasa, air matanya pun ikut menetes. "Saya belum berhasil mendapatkan uang itu, Dok. Apa tidak bisa dilakukan tindakan dulu? Saya janji, secepatnya saya akan lunasi biayanya."
Dokter menggeleng. Sebenarnya, ia juga kasihan dengan keadaan Cecil. Tapi pria paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. "Maaf, Nak. Selama administrasi belum terlunasi, operasi tidak akan bisa dimulai. Ini sudah menjadi ketentuan dari pihak rumah sakit. Rumah sakit tidak bisa mengcover lebih banyak lagi dari jaminan asuransi."
Cecil tersenyum sambil mengusap wajahnya gusar. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
"Terima tawaran saya, dan semuanya akan baik-baik saja."
Suara Devan mengagetkan lamunan Cecil. Gadis itu menatap Devan serius.
"Kenapa sih, kamu ngotot banget nyuruh saya nikah sama kamu?!" ucap Cecil kesal.
"Ya, karena cuman kamu satu-satunya perempuan yang tepat menjadi istri pura-pura saya. Saya tahu, kamu tidak akan mungkin terpesona dengan saya. Dengan begitu, sama-sama menguntungkan, karena kamu tidak akan main perasaan."
"Tapi saya tidak bisa main-main sama pernikahan. Saya cuman mau menikah sekali dalam hidup saya."
Devan menyeringai. Sementara, dokter hanya bisa menyaksikan perdebatan itu dengan ekspresi bingung.
"Ya, itu bukan urusan saya. Pikirkan lagi baik-baik, Nona Cecil! Semua keputusan ada di tangan kamu sekarang. Mau menerima tawaran saya, atau ibumu mati di tangan putrinya sendiri."
Cecil memegangi pelipisnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Kedua pilihan itu sama-sama sulit, tapi membiarkan ibunya tidak tertolong, itu lebih mematikan bagi Cecil.
Cecil menatap Devan. Dengan hati yang berat, mau tidak mau, ia harus menerima tawaran itu, agar ibunya bisa selamat.
"Baik, saya terima tawaran Pak Devan. Saya bersedia menjadi istri Bapak selama satu tahun. Syarat yang lainnya menyusul. Yang penting, Pak Devan sekarang harus melunasi semua biaya administrasi, mulai dari biaya operasi, perawatan, hingga biaya rumah sakit ini sampai ibu saya sembuh."
Tanpa terasa, air mata Cecil meluruh. Ia tidak punya pilihan lain. Entah apa yang akan Devan perbuat padanya setelah ini.
Dokter menggeleng. Sebenarnya, ia juga kasihan dengan keadaan Cecil. Tapi pria paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. "Maaf, Nak. Selama administrasi belum terlunasi, operasi tidak akan bisa dimulai. Ini sudah menjadi ketentuan dari pihak rumah sakit. Rumah sakit tidak bisa mengcover lebih banyak lagi dari jaminan asuransi."
Cecil tersenyum sambil mengusap wajahnya gusar. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
"Terima tawaran saya, dan semuanya akan baik-baik saja."
Suara Devan mengagetkan lamunan Cecil. Gadis itu menatap Devan serius.
"Kenapa sih, kamu ngotot banget nyuruh saya nikah sama kamu?!" ucap Cecil kesal.
"Ya, karena cuman kamu satu-satunya perempuan yang tepat menjadi istri pura-pura saya. Saya tahu, kamu tidak akan mungkin terpesona dengan saya. Dengan begitu, sama-sama menguntungkan, karena kamu tidak akan main perasaan."
"Tapi saya tidak bisa main-main sama pernikahan. Saya cuman mau menikah sekali dalam hidup saya."
Devan menyeringai. Sementara, dokter hanya bisa menyaksikan perdebatan itu dengan ekspresi bingung.
"Ya, itu bukan urusan saya. Pikirkan lagi baik-baik, Nona Cecil! Semua keputusan ada di tangan kamu sekarang. Mau menerima tawaran saya, atau ibumu mati di tangan putrinya sendiri."
Cecil memegangi pelipisnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Kedua pilihan itu sama-sama sulit, tapi membiarkan ibunya tidak tertolong, itu lebih mematikan bagi Cecil.
Cecil menatap Devan. Dengan hati yang berat, mau tidak mau, ia harus menerima tawaran itu, agar ibunya bisa selamat.
"Baik, saya terima tawaran Pak Devan. Saya bersedia menjadi istri Bapak selama satu tahun. Syarat yang lainnya menyusul. Yang penting, Pak Devan sekarang harus melunasi semua biaya administrasi, mulai dari biaya operasi, perawatan, hingga biaya rumah sakit ini sampai ibu saya sembuh."
Tanpa terasa, air mata Cecil meluruh. Ia tidak punya pilihan lain. Entah apa yang akan Devan perbuat padanya setelah ini.