Bab 1

"Emmhh."

Desahan tertahan itu terdengar dari bibir Lauren saat merasakan jilatan di leher nya yang disertai kecupan basah. Tidur nyamannya jadi terganggu, membuatnya perlahan membuka mata untuk melihat seseorang yang berada di atas . Namun suasana kamar sangat gelap, membuatnya tidak bisa melihat jelas wajah itu. 

Kembali Lauren mendesah saat tangan besar itu menangkup bagian dada nya dan meremas nya agak kuat. "Sayang, kamu kapan pulang? Jam berapa sekarang?" tanyanya berusaha tetap waras. 

"Hmm."

Bukannya mendapat jawaban Lauren malah mendengar seseorang yang dianggap suaminya itu menggeram. Akhirnya Ia pun membiarkan saja dan diam tidak melawan saat tali gaun tidur nya dibuka dengan tidak sabaran dan membuat kulit nya kini terasa dingin karena tidak lagi tertutupi apapun. 

Tangan Lauren yang tadinya di sisi tubuh kini terangkat meremas rambut pria itu yang turun dan terus mengecupi permukaan kulitnya. Jilatan nya dari dada sampai ke inti tubuh nya, membuat badannya sesekali melengking merasakan geli tapi nikmat di waktu bersamaan. 

"Aww pelan-pelan Matthew!" pekik Lauren karena pria itu menggigit paha bagian dalam nya agak kuat, membuat nya linu. 

Entah kenapa Lauren merasa sikap Matthew malam ini agak kasar, padahal biasanya mereka selalu melakukan hubungan badan dengan lembut dan sama-sama menikmati. Sebuah dugaan melintas begitu saja di kepala Lauren, apa mungkin yang sedang menyentuh nya ini bukan suaminya? 

"Ahh!"

Namun pemikiran buruk itu langsung hilang saat Lauren merasakan jilatan di bagian inti nya. Kedua matanya pun kembali terpejam, dengan jambakan nya yang semakin erat di kepala yang sedang ada di bawah nya itu. Sungguh ini sangat-sangat nikmat. 

Kedua mata Lauren kembali terbuka saat jilatan itu berhenti. Sial, padahal tinggal sebentar lagi Ia mendapat klimaks! 

Mendengar suara gesper yang dibuka dengan terburu-buru membuat Lauren pun bisa mengerti jika suaminya itu sudah tidak sabar ingin menyatukan tubuh mereka. Dengan sabar dan berdebar Lauren pun menunggu. Ia memang sudah sadar, namun masih belum bisa melihat jelas karena suasana kamar benar-benar gelap. 

"Matthew apa kamu mabuk malam ini?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Lauren karena merasa aneh saja dengan sikap agresif suaminya. 

Tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban, malahan yang Lauren dapatkan adalah ciuman ganas dan membuat nya pun kembali hanyut. Perlahan Lauren bisa merasakan sesuatu memasuki inti tubuh nya, membuat nya tanpa sadar meremas bahu kokoh suaminya karena sensasi nya entah kenapa terasa berbeda. 

Saat benda panjang itu berada sempurna di inti tubuh nya, Lauren sampai menahan nafas karena benar-benar merasa sesak. Apalagi saat mulai digerakkan, kaki nya yang terbuka lebar sampai bergetar merasakan linu. 

"Emm kau nikmat sekali, Lauren!" geram pria yang berada di atasnya. Terlihat bersemangat menggerakkan bagian bawahnya mencari kepuasan. 

Kernyitan terlihat di kening Lauren saat mendengar suara yang terdengar asing itu, seperti bukan suara Mathhew. Tetapi sekarang Lauren seperti tidak bisa berpikir jernih, sanking terlalu menikmati penyatuan mereka. "Ahh lebih cepat, sebentar lagi," pinta nya agak memohon. 

Dan saat pelepasan itu Lauren dapatkan, tubuhnya terlihat bergetar hebat dengan dada yang membusung ke atas. Baru saja beberapa saat menikmati klimaks nya, kesadaran Lauren kembali saat tubuhnya di putar dan bokongnya di angkat, "Emmhh Mathhew tunggu dulu!"

"Aku belum keluar sayang," bisik pria itu tepat di telinga nya, lalu disertai jilatan membuat nafsu Lauren kembali bangkit. 

Malam itu benar-benar malam yang panjang, penuh gairah dan sangat panas. Tidak ada satupun bagian tubuh Lauren yang tidak disentuh, dan entah kenapa Lauren benar-benar merasa sangat puas, tidak seperti biasanya. Mereka pun baru selesai saat kesadaran Lauren hilang. Walau sangat lelah, tapi bibir Lauren terlihat melengkungkan senyuman tanda dirinya sangat menikmati hubungan badan itu. 

"bonne nuit mon amour." Ya itulah perkataan terakhir yang Lauren dengar sebelum kesadarannya benar-benar hilang. 

***

Cahaya matahari yang masuk dari tirai yang terbuka membuat tidur nyaman Lauren terganggu. Perlahan matanya terbuka, dan pandangan pertamanya adalah langit kamar. Bukannya menggerutu kesal karena tidur nya sudah terganggu, tapi Lauren pagi ini malah terbangun dengan bibir melengkungkan senyuman. Ingatannya pun kembali pada kejadian tadi malam. 

Pandangannya lalu turun ke tubuhnya yang dibaluti selimut, Lauren yakin di balik itu dirinya tidak memakai apapun karena bisa merasakan. "Ternyata benar bukan mimpi, ah aku senang. Lalu di mana sekarang Mathhew?" gumam nya seorang diri. 

Lauren memilih mendudukan tubuhnya sambil memperhatikan sekitar, tidak mempedulikan selimut yang jatuh membuat dada nya kini terpampang jelas. Kernyitan dalam terlihat di kening Lauren karena tidak menemukan keberadaan suaminya. Apa mungkin sudah bangun lebih dulu ya? 

"Mungkin dia sudah turun ke bawah untuk sarapan." Batin Lauren berusaha positif thingking. 

Lauren pun memutuskan beranjak dan berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Bibirnya dari tadi terus menyunggingkan senyuman, tanda sedang merasa senang. Otaknya yang mesum ini terus terbayang adegan panas tadi malam. 

Lauren tanpa basa-basi langsung menyatakan jika tadi malam adalah pengalaman bercinta yang paling luar biasa! 

Setelah memakai dress rumahan nya yang bahkan masih terbilang elegan, juga memoles sedikit make up agar wajahnya terlihat cerah, Ia pun turun dari lantai dua menuju ruang makan. Saat masuk, terlihat sudah ada Mama mertuanya juga Kakak Ipar nya. Seperti biasa, Lauren pun menyapa mereka dengan ceria. 

"Lauren kenapa diam saja, ayo dimakan? Apa kamu mau makan dengan menu lain?" tanya Alisya-Mama mertuanya. Mungkin bingung melihat menantu nya itu celingak-celinguk memperhatikan sekitar. 

Lauren pun duduk terlebih dahulu dan memfokuskan pandangan pada wanita paruh baya yang duduk di depannya. "Em Mah, Mathhew mana ya? Apa dia sudah berangkat lagi ke kantor, aku bangun kesiangan," tanyanya. 

"Loh bukannya Mathhew gak pulang ya? Dia kan katanya ada tugas di luar kota, langsung berangkat dari kantor ke Bandung. Mama tahu dari Matthias, memangnya Mathhew gak ngabarin kamu?"

Pernyataan itu tentu saja membuat Lauren syok setengah mati, bahkan segigit roti yang sempat dikunyah nya sampai keluar lagi karena tersedak. Kedua matanya bahkan melotot lebar. Ekspresi nya ini pasti akan dianggap berlebihan, padahal Matthew sudah biasa tugas ke luar kota. 

Bukan, bukan itu yang membuat Lauren terkejut. Jika suaminya semalam tidak pulang, lalu siapa yang sudah menyentuh nya dan membuat nya mabuk kepayang tenggelam dalam nafsu. Perlahan Lauren melirik seseorang yang duduk di sebelah kiri Mama mertuanya. Tersentak saat matanya bertemu dengan Kakak Ipar nya. Seringai di bibir Matthias entah kenapa membuatnya merinding, seperti senyuman yang mengartikan banyak hal.

Bab 2

Pluk! 

"Lauren?"

Merasakan tepukan di tangannya yang berada di atas meja, membuat lamunan Lauren terhenti. Ia berdehem pelan berusaha menghilangkan rasa gugup, lalu memfokuskan pandangan lagi pada mertuanya. "A-aku gak papa kok Mah," jawabnya sambil berusaha tersenyum. 

Alisya pun membalas senyumannya manis. "Kalau memang Mathhew belum ngabarin kamu, nanti selesai sarapan telepon saja dia. Dasar dia itu, masa saja sama istri gak minta izin dulu mau pergi keluar kota. Nanti Mama tegur deh," kata nya yang terlihat sangat membela menantu nya. Alisya memang sangat menyayangi Lauren. 

Lauren hanya berdehem pelan lalu melanjutkan kembali sarapannya walau terlihat tidak bernafsu. Kepalanya terus menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Matthias. Entah kenapa Ia gugup sekali, padahal biasanya tidak pernah seperti ini. Semua gara-gara prasangka buruknya. 

Merasakan tenggorokannya kering, Lauren membawa segelas susu di depan lalu meminum nya perlahan. Tetapi mata nya ini malah dengan lancang kembali melirik Matthias, dan sialnya Ia ketahuan membuatnya pun tersedak terbatuk-batuk sampai susu nya sedikit muncrat. 

"Ya ampun Lauren, pelan-pelan minum nya sayang, sampai kesedak begitu," pekik Alisya ikut panik dan memberikan beberapa lembar tisu pada menantu nya. 

Lauren pun menyimpan segelas susu itu dan mengambil alih tisu di tangan mertuanya sambil berterima kasih. Ia mengusap dagu dan bibir nya yang belepotan dengan tisu, untungnya hanya sedikit mengotori bagian atas dress nya. Sambil membersihkan bagian atas dada nya, Lauren terus menggerutu mengutuk kebodohan dirinya sendiri. 

Kalau bersikap seperti ini terus, bukankah Matthias akan tahu jika Lauren sedang gugup? Menyebalkan memang. 

Merasa lengket karena noda susu di sekitar leher dan dada atas nya, Lauren pun memutuskan beranjak untuk membersihkan nya di kamar mandi yang tidak terlalu jauh dari ruang makan. Alisya hanya tersenyum membiarkan, lalu kembali melanjutkan makan. 

"Ahh sial, kenapa aku gugup banget ya kalau lihat Kak Matthias? Enggak mungkin, masa saja dia yang tadi malam datang ke kamar dan.. " Lauren tidak melanjutkan perkataan nya karena merasa malu sendiri, berubah menjadi ringisan pelan. 

Tangannya lalu bertumpu di wastafel, seraya Ia menatap wajahnya di depan cermin. Bukan sedang mengagumi wajahnya yang cantik, melainkan memperhatikan sekitar leher nya yang bersih tanpa noda dan mulus. Bukankah biasanya melakukan hubungan seks selalu ada adegan meninggalkan bekas di tubuh? Alias kiss mark. 

Tetapi setelah Lauren perhatikan lagi, tidak ada satu pun kiss mark di tubuh nya. Kepalanya terasa pusing memikirkan apakah kejadian tadi malam itu nyata atau hanya mimpi nya saja. Hembusan nafas kasar keluar lewat celah bibir Lauren, tidak mau terlalu memikirkan, Ia pun keluar dari kamar mandi itu. 

Namun betapa terkejut nya Lauren karena di depan pintu ada Matthias. Hampir saja mereka bertabrakan. "Astaga, Kak Matthias. Ke-kenapa di sini? Ada apa?" tanyanya gagap tanda sedang gugup. Lauren tanpa sadar meremas pegangan pintu yang masih setengah terbuka. 

"Gak apa-apa, cuman mau ke kamar mandi. Kamu sudah selesai belum?" Matthias malah bertanya balik, jika di perhatikan mata nya terlihat memperhatikan bagian atas dada Ipar nya yang terbuka dan sedikit basah karena air, membuatnya menelan ludah kasar. 

"Oh su-sudah kok, maaf kalau agak lama," jawab Lauren sambil tersenyum kikuk. Bukannya menyingkir, Lauren malah masih terdiam mematung di ambang pintu. Sekarang Lauren terlihat bodoh, percayalah semua terjadi karena rasa gugup nya. 

Matthias terlihat dua langkah mendekat, membuat Lauren harus menahan nafas karena kali ini posisi berdiri mereka sangat dekat. Bahkan hidung Lauren bisa mencium wangi parfume khas Kakak Ipar nya itu yang sangat maskulin. Entah kenapa, wangi ini terasa tidak asing, seperti sudah Lauren cium cukup lama. 

"Kakak mau apa?" Pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja dari bibir Lauren karena Matthias terus menatap nya dalam dari posisi sedekat ini. 

Tidak tahukah pria itu jika sekarang Lauren sangat gugup? Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin. 

Matthias pun kembali membuka suara, namun kali ini suaranya terdengar agak serak. "Bagaimana saya bisa masuk kalau kamu halangin jalannya?"

Menyadari itu membuat Lauren melotot dan segera keluar dari kamar mandi. Tingkahnya itu terlihat  menggemaskan di mata Matthias, walau begitu pria itu dengan sekuat tenaga berusaha menahan senyumannya dan tetap menunjukkan ekspresi datar. Sebelum menutup pintu, Matthias dan Lauren sempat bertatapan lagi, sorot mata mereka terlihat mengandung banyak arti. 

"Sayang, kamu lagi ngapain di sana?"

Suara menggema yang sangat familiar itu, membuat Lauren menolehkan kepala ke belakang untuk melihat. Senyuman lebar langsung terukir di bibir nya melihat kepulangan suaminya, dengan berlari riang Ia pun mendekat dan langsung berhambur memeluk tubuh tegap itu. "Akhirnya kamu pulang juga, aku kangen banget. Dasar jahat kenapa gak ngabarin sih kalau mau pergi keluar kota?!"

Matthew terdengar terkekeh kecil, Ia pun mengusap punggung ringkih itu berusaha menenangkan. "Maaf sayang, aku gak ngabarin kamu dari telepon, tapi aku sudah minta ke Kak Matthias untuk ngasih tahu kamu kok. Apa dia gak sampain ke kamu?"

Dengan pelan Lauren pun menggeleng karena memang Ia tidak diberi tahu Matthias soal hal ini. Malahan Ia tahu dari Mama mertuanya tadi, ya memang yang memberi tahu pertama adalah Matthias, namun tetap saja Kakak Ipar nya itu salah karena tidak memberitahu dirinya langsung padahal sudah diberi amanat oleh suaminya. 

Bibir nya yang sempat tertekuk ke bawah karena ngambek berubah menjadi senyuman cerah melihat Matthew menunjukkan buket bunga mawar yang ternyata dari tadi disembunyikan di belakang punggung nya. Lauren pun langsung menerimanya dan menghirup wangi bunga itu dengan rakus. 

"Pas di perjalanan pulang tiba-tiba aku kepikiran untuk beliin kamu bunga, ternyata feeling aku benar. Jangan ngambek lagi ya, aku benar-benar minta maaf gak ngabarin kamu langsung, nanti gak akan begini lagi, aku janji," kata Matthew seraya mengusap puncak kepalanya. "Sekarang aku mau minta hadiah nya dong."

Perhatian Lauren dari bunga teralih, tertuju pada Matthew dengan pandangan bingung. Belum sempat membuka suara untuk bertanya, bibir nya sudah dibungkam oleh ciuman dari Matthew. Sepertinya hadiah yang dimaksud adalah ciuman, dan dengan senang hati Lauren menerima bahkan memeluk leher Matthew dengan sebelah tangannya yang tidak memegang buket bunga. 

"Emmh!" Lauren sedikit mendesah saat merasakan bokong nya di remas oleh tangan nakal Matthew, dan pria itu belum mau menghentikan ciumannya yang semakin dalam. 

Ceklek! 

Mendengar suara kamar mandi terbuka, barulah ciuman mereka terhenti dan langsung berdiri kikuk sambil berusaha mengatur nafas yang memburu. Lauren memilih menundukkan pandangan sambil mengusap sekitar bibir nya yang basah karena ciuman tadi. 

"Hai Kak tumben belum ke kantor, aku kira tadi siapa yang keluar hehe," sapa Matthew sambil mengusap tengkuk nya tanda sedang gugup, tapi Kakak nya itu hanya berdehem pelan dan memilih melenggang pergi membuat Matthew bingung karena tidak biasanya di cuekin.

Bab 3

Pasangan suami itu naik ke lantai dua, Lauren harus menyiapkan pakaian untuk Matthew yang akan berangkat kerja lagi. Kasihan sekali pikirnya suaminya itu sangat sibuk, padahal baru pulang dari luar kota. Walaupun perusahaan milik keluarga, tapi tidak bisa bekerja leha-leha. Apalagi Matthias sekarang yang menjadi Direktur Utama, dikenal sebagai Bos yang tegas dan kompeten. 

Melihat Matthew yang akan masuk ke kamar mandi, Lauren terlebih dahulu bertanya, "Kamu mau pakai jas warna apa hari ini? Biar aku siapin."

Matthew pun menoleh dan terlihat mengusap dagunya seperti sedang berpikir keras. "Apa saja deh, selera kamu kan bagus, pasti aku pakai kok. Aku mandi dulu ya, gerah banget badan aku, lengket." Setelah mengatakan itu, Matthew pun baru masuk ke kamar mandi. 

Lauren sendiri masuk ke ruangan ward drobe mulai mencari setelan jas dan juga dasi warna senada yang menurut nya cocok. Memang selera nya tentang fashion cukup bagus, ya karena dulu saat kuliah pun mengambil jurusan desainer. Sayangnya sekarang hanya jadi Ibu rumah tangga, suaminya tidak mengijinkan Lauren bekerja. 

Seperti kebanyakan pria lainnya, Mathhew pun tidak lama selesai mandi. Terlihat di tubuhnya buliran air, ternyata keramas juga, terbukti dari rambut nya yang basah. Lauren yang dari tadi duduk di ranjang pun beranjak dan memberikan pakaian pada suaminya itu. "Nih aku sudah pilihan warna navy, kesukaan kamu."

"Makasih sayang, tapi aku pengen kamu bantu aku pakai baju nya hehe." Matthew terlihat sekali ingin bermanja dengan istrinya itu, tidak apa kan? 

Lauren hanya menggeleng pelan dan mengatai Matthew seperti anak kecil saja, namun tetap Ia lakukan sebagai bukti istri yang berbakti. Mathhew bahkan tidak malu membuka handuk yang menutupi bagian bawahnya, hingga mrmbuat nya telanjang bulat. Tidak usah malu, keduanya kan suami istri. 

Di saat Lauren akan mengancingkan kemeja, matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di dada bidang Mathhew. Jari telunjuk nya lalu terulur mengusap tanda merah yang sangat familiar itu. Namun Lauren tersentak saat tangannya ditangkap, membuat nya mengangkat kepala dan langsung bertatapan dengan suaminya. 

"Sayang ini masih pagi, aku juga mau berangkat kerja. Kamu jangan goda aku dong," rengek Matthew sambil mengerucutkan bibir nya. Padahal hanya sentuhan ringan, tapi Mathhew yang memang mudah tergoda langsung terangsang. 

Lauren memilih memendam rasa penasaran nya, lalu menanyakan hal lain. "Kamu kemarin malam gak pulang dan bilang keluar kota, kamu pergi dengan siapa? Apa dengan sekertaris kamu itu lagi?" Nada suara Lauren terdengar agak berat, begitu pun tatapannya menjadi tajam. 

Matthew yang melihat perubahan ekspresi istrinya itu tentu saja dibuat bingung. Ia berdehem pelan berusaha menghilangkan perasaan gugup nya, lalu menjawab, "Iya aku pergi dengan Anne, dia kan sekertaris aku dan harus selalu ada di samping aku. Lagian kalau aku sendiri yang kerja bakal kerepotan, bukannya tugas sekertaris handle pekerjaan bos nya ya?"

Bahu Lauren terlihat melemas, Ia lalu melepaskan tangannya yang dari tadi dipegang Mathhew. Berusaha menutupi perasaan kecewanya, Ia memilih memberikan jas di ranjang pada pria itu dan menyuruh nya memakai baju sendiri. Sedangkan Lauren keluar kamar lebih dulu, untuk menyiapkan sarapan. Mungkin saja Mathhew belum sarapan. 

Sebenarnya Lauren tidak mau berpikir negatif dan menduga jika suaminya itu ada main dengan perempuan lain di luar setelah melihat tanda merah di dada Mathhew. Itu adalah kiss mark, wanita dewasa sepertinya yang sangat berpengalaman dalam urusan ranjang tentu saja tahu tanda itu. Tadinya Lauren ingin tanyakan, tapi takut sakit hati sendiri. 

Lamunan Lauren lalu terhenti saat mendapatkan pelukan tiba-tiba dari belakang. Sudah dapat dipastikan jika itu adalah Mathhew. "Sayang makasih sudah siapin sarapan, tapi kayanya aku gak akan makan di rumah, sudah telat banget," kata Matthew tidak enak. 

"Hm ya sudah, tapi nanti di kantor jangan lupa sarapan. Jangan tinggalin, nanti kamu sakit lagi," sahut Lauren sambil mengusap tangan pria itu yang bertengger di perut nya. 

Sempat Lauren tawarkan untuk membuat bekal, tapi Matthew menolak dan memilih akan membeli di kantor saja. Keduanya lalu keluar dari rumah, seperti kebiasan Lauren mengantar suaminya itu hanya sampai ke depan. Lambaian tangan Lauren pun baru turun setelah mobil Mercedes-Benz itu keluar dari gerbang rumah. 

Senyuman di bibir Lauren pun luntur, berganti dengan tatapannya yang tajam. "Sepertinya aku harus mencari tahu sesuatu, ini bukan pertama kali aku lihat tanda merah itu di tubuh Matthew. Tapi.. Bagaimana kalau semisal dugaan aku itu benar?" Batin Lauren bergemelut. 

***

Siang ini Lauren sudah dandan cantik, Ia akan ke kantor tempat bekerja suaminya dengan alasan membawakan makan siang. Jarang sekali Ia melakukan ini, Lauren pun sengaja tidak memberitahu Matthew terlebih dahulu karena memang di balik niat nya ada sesuatu. Apalagi kalau mencari bukti tentang kecurigaan perselingkuhan suaminya. 

Dengan menaiki mobil pribadi nya, Lauren entah kenapa merasa berdebar, tidak seperti biasanya. Namun Ia berusaha menguatkan hati nya, sambil di hati terkecil berharap jika dugaannya salah dan tidak terbukti. Hah bukankah pemikirannya ini sangat naif? Padahal sudah ada bukti. 

Setengah jam kemudian Lauren sampai juga di kantor itu, saat Ia masuk sempat menjadi pusat perhatian dari beberapa karyawan. Dengan senyuman ramah nya, Lauren membalas sapaan mereka. Lauren pun langsung menuju lantai dua belas, tepat nya ruangan pribadi tempat bekerja Matthew. Namun aneh nya, meja di depan ruang kerja yang biasanya di tempati sekertaris kosong. Kemana Anne? 

"Ahh tunggu dulu, pintunya belum ditutup rapat!" Pekikan suara perempuan di dalam ruangan, sontak saja membuat Lauren berdebar dengan kedua matanya yang berkedip perlahan. 

Dengan kaki gemetar nya, Lauren berjalan berusaha untuk menggapai pintu yang memang tidak tertutup rapat, menyisakan celah sedikit. Namun belum sempat tangannya menggapai pegangan dan membuka nya, sebuah tangan di belakang terulur dan menahan nya. Lauren pun menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran Kakak Ipar nya, sejak kapan? 

"Kak Matthias, a-ada apa?" tanya Lauren dengan suara gagap nya. Percayalah posisi mereka saat ini cukup dekat, bahkan pinggang ramping nya bersentuhan dengan sisi tubuh pria jangkung itu. 

Tetapi Matthias tidak menjawab dan malah menarik tangannya pergi dari sana. Lauren terlihat berjalan agak sempoyongan karena tarikan pria itu yang cukup kencang, mereka lalu masuk ke dalam lift dan Matthias segera menekan tombol lantai paling atas. Melihat itu membuat Lauren bingung. "Kita mau kemana? Kak Matthias kenapa narik-narik tangan aku?" tanyanya agak protes. 

Saat Matthias menoleh ke belakang, Lauren langsung mengatupkan bibir nya melihat tatapan dalam pria itu. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu, kamu juga sepertinya terus memikirkan nya dari kemarin malam."

Kemarin malam? Bukankah kejadian kemarin malam itu.. Lauren yang berhubungan badan dengan sosok yang yang dianggap nya suaminya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED