Saat kesadarannya perlahan kembali, dia menyadari dirinya telanjang di bawah selimut. Kepanikan mulai merayap dalam benaknya.
"Nggak, ini nggak mungkin terjadi..." bisiknya pada dirinya sendiri, suara gemetar.
Andini terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya, matahari pagi menyelinap melalui celah-celah tirai, menyinari kamar hotel yang sunyi.
Pikiran Andini segera kembali ke kejadian malam sebelumnya.
Dia ingat bagaimana Rama, dalam keadaan mabuk, mendekapnya erat, menindih tubuh mungilnya dengan tubuh besar yang penuh tenaga.
Dia bisa merasakan ciuman dan sentuhan kasar yang diterimanya tanpa daya. Setiap upaya untuk memberontak sia-sia, tangisannya teredam oleh kepanikan dan ketakutan yang melumpuhkan.
"Mas Rama, tolong! Jangan..." suaranya bergetar dalam ingatannya.
Namun, Rama dalam keadaan mabuk, tidak menyadari permohonannya. Dia terus melanjutkan aksi bejatnya, merampas kehormatan Andini dengan brutal.
Bagaimana mungkin... keperawanannya direnggut oleh kakak iparnya sendiri?!
"Ini salah! Dia kakak iparku!" pikiran itu menghantam Andini dengan kekuatan penuh.
Tubuhnya gemetar lebih keras, menyadari bahwa pria yang melukainya adalah suami dari kakaknya sendiri, Anjani.
Andini terisak, air mata mengalir deras di pipinya. Dia merasa kotor, dipermalukan, dan hancur.
Dia melihat ke arah Rama yang masih tertidur di sebelahnya, tubuhnya yang telanjang setengah tertutup selimut.
Dengan amarah dan kesedihan yang mendidih dalam hatinya, Andini segera meraih pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya secepat mungkin.
Hatinya semakin tercabik-cabik melihat bercak darah disprei yang berwarna putih bersih. Pusat tubuhnya sangat sakit, tapi hatinya lebih hancur.
"Mas Rama! Bangun!" jerit Andini, suaranya pecah oleh isak tangis.
"Bangun dan jelaskan apa yang sudah kamu lakukan padaku!"
Rama terbangun dengan terkejut, mengerjap-ngerjapkan mata sambil mencoba memahami situasi.
Kepala berat karena mabuk, dia melihat Andini yang berdiri di hadapannya dengan mata bengkak karena menangis.
"Andin, apa yang terjadi?" tanya Rama dengan suara serak, bingung.
"Apa yang terjadi?!" Andini mengulang pertanyaan itu dengan marah, suaranya naik.
"Kamu yang seharusnya tahu! Kamu... kamu telah memperkosa aku, Mas! Kamu hancurkan hidup aku!!"
Rama terdiam, wajahnya berubah pucat.
"Nggak mungkin... saya... saya tidak mungkin melakukan itu..."
"Tapi kamu melakukannya, Mas!" Andini berteriak, air mata semakin deras.
"Kamu mabuk dan kamu... kamu memperkosaku. Aku mencoba melawan, aku mencoba menghentikanmu, tapi kamu terlalu kuat."
Rama menatap Andini dengan rasa bersalah yang mendalam. Dia menyadari bercak darah di sprei itu adalah milik Andini dan semuanya memang benar.
"Andin, saya... saya benar-benar tidak ingat apa-apa. Saya mabuk... Saya tidak sadar apa yang aku lakukan. Maafkan saya, Andini. saya... saya sangat menyesal.."
"Maaf?! Kamu pikir maaf bisa memperbaiki semuanya?! Kamu pikir maaf bisa mengembalikan keperawanan aku, Mas?!" Andini menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar.
"Kamu sudah merusak segalanya. Kamu menghancurkan hidup aku, kehormatan aku. Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini? Sedangkan kamu adalah kakak iparku, Mas! Bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada kak Anjani? Bagaimana aku bisa menghadapi dia setelah ini, Mas?!"
Rama merasa panik.
"Andin, jangan.. jangan beritahu Anjani. Saya sangat mencintai dia, saya tidak mau kehilangan dia..."
Tanpa sadar, Rama menetaskan air mata. Semua ini sangat kalut, tidak ada yang mau mengalami ini.
"Saya akan bertanggung jawab, Andini. Saya akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan saya.."
"Kamu tidak mengerti! Ini bukan hanya tentang tanggung jawab atau konsekuensi. Kamu telah menghancurkan keluargaku, kepercayaan yang diberikan padamu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu."
Dengan air mata yang masih mengalir, Andini bergegas keluar dari kamar hotel, meninggalkan Rama yang terpaku di tempatnya, diliputi rasa bersalah yang mendalam.
Suara pintu yang menutup keras menjadi tanda akhir dari sebuah kepercayaan yang hancur, meninggalkan luka yang mungkin takkan pernah sembuh.
***
"Mas, Andin mana kok sampai jam dua belas gini belum pulang?"
Anjani melihat jam dengan cemas, adik kesayangannya belum juga pulang padahal Rama sudah di rumah sejak pukul delapan malam tadi.
"Mungkin macet." Rama menjawab gugup. Dia sangat cemas, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Bagaimana tidak? Satu malam tidak sadar meniduri adik iparnya, dan sekarang perempuan 23 tahun itu belum juga pulang.
"Macet apa sampai tengah malam gini, Mas?! Kamu kasih dia kerjaan sebanyak apa?" Suara Anjani meninggi, kepanikan jelas terdengar.
Rama berusaha menenangkan istrinya, meskipun diam-diam ia juga lebih khawatir karena sudah pasti dirinya lah penyebab Andini tidak mau pulang.
"Sayang, mungkin Andin lagi ketemu sama teman-temannya—"
"Teman apa?! Andin baru di sini. Dia juga bukan anak malam yang suka keluyuran apalagi clubbing! Apalagi di luar sedang hujan deras, pokoknya aku mau cari Andin—"
"Jani... Sayang.." Rama mencoba membujuk dengan suara lebih lembut. "Biar saya yang cari Andin sekarang, ya. Ini sudah malam dan hujan deras di luar, kamu tunggu di rumah saja, ya?"
Anjani tetap keras kepala, tangannya sudah mengambil kunci mobil. "Nggak mau—"
"Saya mohon, sayang..." Rama meraih tangan istrinya, memandangnya dengan penuh permohonan.
Luluh, Anjani mengangguk dan membiarkan Rama mencari sang adik. Sejak kecil, Andini adalah anak yang manja dan tidak pernah keluyuran sampai malam seperti ini.
Rama segera menuju mobilnya, hatinya penuh dengan rasa bersalah dan kecemasan. Di tengah derasnya hujan dan angin kencang, ia berusaha mencari Andini meskipun tanpa tujuan yang pasti.
Meskipun kakak adik, Anjani dan Andini memiliki sifat yang sangat berbeda. Anjani selalu ceria dan tegas, sementara Andini pendiam dan penutup.
Tiba-tiba Rama melihat banyak mobil yang berhenti dan mengerumuni sesuatu meskipun hujan sedang sangat lebat.
Pria itu segera mengambil payung dan turun, perasaannya tidak enak.
"Buk, ada apa ya?" tanya Rama pada seorang ibu-ibu penjual tisu yang buru-buru ingin berteduh.
"Ada yang nabrak anak gadis, nggak mau tanggung jawab.." suara ibu itu terlebur hujan, dan Rama segera menerobos kerumunan untuk mencari tahu.
Dan siapa sangka orang yang dia cari-cari dan khawatirkan tengah terduduk di trotoar dengan kondisi basah kuyup dan tatapan kosong.
"ANDIN!" teriak Rama dan segera mendekatinya serta memayunginya.
"Kamu tidak apa-apa?! Apa ada yang terluka?!" Suara Rama penuh kekhawatiran, dia berusaha menatap mata Andini yang kosong.
Andini hanya menatap kosong. Dia seperti sudah kehilangan semangat hidup.
"Mas ini siapanya, ya? Kasihan mbaknya ini ditabrak, cuma bengong ditanyain nggak dijawab. Yang nabrak kabur, Mas." Jelas salah seorang pengendara baik hati yang menolong.
"S-saya... saya keluarganya, Pak. Terima kasih sudah membantu."
Rama kembali menatap Andini, hatinya semakin hancur melihat kondisi adik iparnya.
"Din... saya mohon berteduh dulu ya... saya mohon sekali. Tolong.."
Andini menatap Rama dengan tatapan marah dan penuh kekecewaan.
Dia merasa ingin marah bertemu lagi dengan kakak iparnya ini.
Namun sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, dunia sekitarnya mulai berputar.
Detik selanjutnya, semuanya terasa berputar dan gelap. Andini pingsan diiringi teriakan panik semua orang.
"Din, kamu udah sadar?"
Suara Rama penuh kepanikan dan kekhawatiran, gemetar saat dia menggenggam tangan Andini yang masih lemah.
Andini membuka matanya perlahan, melihat Rama duduk di samping tempat tidurnya dengan ekspresi lelah dan cemas.
"Mas...," suaranya serak, penuh kelemahan. "Aku di mana? Aku mau pergi—"
Andini mencoba untuk bangun, namun Rama segera menahannya dengan lembut.
"Kamu baru saja kecelakaan, Din. Tapi syukurlah tidak ada luka serius. Sekarang kamu di UGD. Kamu tadi pingsan. Dokter bilang kamu kecapean dan kedinginan karena kehujanan tadi," Rama menjelaskan, suaranya dingin namun bergetar penuh emosi.
"Aku harus segera pergi.."
"Andin.. Anjani sedang menuju ke sini.."
Mendengar nama kakaknya, jantung Andini berdetak kencang. Pikiran tentang Anjani membuat kepalanya berputar.
"Tolong, Andini, saya mohon... jangan kasih tahu Anjani tentang... tentang kita. Saya akan hancur kalau dia tahu. Tolong... demi Anjani... demi kita semua."
Andini menatap Rama dengan tatapan penuh kepedihan dan kemarahan.
Matanya berkaca-kaca, dan hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"Mas... kamu pikir aku bisa hidup dengan kebohongan ini? Kamu pikir aku bisa terus berpura-pura? Ini semua salahmu! Kamu menghancurkan hidupku!" Suaranya pecah, menahan isak tangis yang semakin sulit ditahan.
"Andini, tolong... saya hanya ingin menyelamatkan rumah tangga kita. Saya tahu saya salah, tapi saya mohon... saya tidak bisa kehilangan Anjani," Rama memohon dengan penuh putus asa.
Air mata mulai mengalir deras dari mata Andini.
"Dan bagaimana dengan hidupku, Mas? Bagaimana dengan perasaanku? Kamu pikir aku bisa terus hidup dengan beban ini? Kamu egois!"
Belum sempat Rama menjawab, pintu ruangan terbuka dengan cepat, dan Anjani masuk dengan tergesa-gesa.
"Din! Ya Tuhan, kamu sudah sadar!"
Anjani segera menghampiri tempat tidur Andini dan memeluknya erat.
Air mata mengalir di pipinya, mencerminkan kekhawatiran dan kasih sayangnya yang mendalam.
"Kamu nggak apa-apa, dek? Kakak khawatir banget. Kamu tadi kok bisa diserempet sih? Untungnya Mas Rama nemuin kamu."
Andini merasa kepalanya berat, hatinya semakin hancur mendengar kekhawatiran kakaknya.
Dia hanya bisa mengangguk pelan, tidak tahu harus mengatakan apa.
Rama berdiri, berusaha menenangkan dirinya. Anjani menatap Rama dengan penuh terima kasih.
"Terima kasih, Mas. Kamu memang suami yang baik," ucapnya sambil memeluk Rama dengan penuh rasa syukur.
Rama hanya bisa tersenyum kaku, hatinya penuh rasa bersalah.
Andini memejamkan matanya, air mata mengalir perlahan di pipinya. Namun, demi kakaknya, dia tahu dia harus bertahan.
"Kak, aku mau pergi."
Andini mencoba bangkit, berniat berdiri dari tempat tidurnya.
"Loh, loh, Din. Memang udah boleh pulang ya, Mas?" Anjani melirik ke Rama dengan panik.
"Tadi dokter mengatakan kalau Andin sudah merasa lebih baik, sudah boleh pulang," jawab Rama, berusaha terdengar meyakinkan.
"Aku nggak apa-apa kok, kak." Andini berusaha meyakinkan kakaknya yang sangat khawatir.
"Beneran? Yaudah kita pulang sekarang biar kamu bisa istirahat di rumah, ya."
"Aku mau pulang ke kos, kak. Aku... tadi udah cari kosan—"
"Kos?!" Anjani terkejut, "Kamu ngomong apa sih, dek? Kos apa sih? Kakak udah bilang tinggal sama kakak aja. Pergaulan di luar itu bahaya. Kakak nggak bisa percaya dan biarin kamu tinggal sendirian. Jangan aneh-aneh ah ngomongnya. Apalagi kamu lagi sakit gini. Udah nggak usah ngelantur, kamu lagi kecapean aja ini. Ayo kita pulang ke rumah kakak sekarang."
Anjani mengomel seperti biasanya, tidak mau mendengar penjelasan Andini perihal kos. Rasa khawatirnya membuatnya enggan mendengarkan.
"Mas, tolong bantu papah Andin biar aku yang nebus obatnya, ya," pinta Anjani kepada Rama, yang langsung mengangguk.
Rama merangkul bahu Andini dengan lembut, berusaha memberi dukungan meski dirinya sendiri merasa tertekan.
Mereka berjalan perlahan menuju pintu keluar, namun baru beberapa langkah, Andini tiba-tiba meringis kesakitan, membuatnya berhenti sejenak.
Sakit dari pusat tubuhnya karena malam itu masih sangat sakit.
"Ahh.." Andini meringis.
"Kenapa, dek? Ada yang luka?" Anjani bertambah panik, cepat-cepat meneliti tubuh adiknya untuk mencari luka tambahan.
"Mas! Kamu bilang Andin nggak ada luka karena kecelakaan tadi, cuma pingsan karena kecapekan. Gimana sih dokternya periksanya?! Mana yang sakit bilang ke kakak. Kakak bisa cari yang nabrak kamu dan minta tuntut—"
"Kak.. Aku nggak papa. Maaf bikin khawatir."
Andini menunduk, merasa bersalah melihat reaksi panik kakaknya.
"Beneran, Din?" Anjani memastikan sekali lagi, tatapannya masih penuh kecemasan.
"Iya, kak." Kali ini, Andini menjawabnya dengan senyuman yang berusaha menenangkan.
Anjani akhirnya merasa sedikit lega, meski masih terlihat khawatir. "Yaudah deh, kalau kamu memang sudah merasa lebih baik. Tapi nanti jangan terlalu memaksakan diri. Ayo kita pulang."
Mereka meninggalkan ruang UGD, sementara Andini merasakan kepalanya masih pusing, tetapi dia tahu, demi kakaknya dan rasa tanggung jawab yang harus dihadapinya, dia harus kuat.
***
"Lo nggak takut, Jan?"
Tiwi, sahabat Anjani sejak kuliah, menatapnya dengan cemas saat mereka duduk di kafe yang nyaman, menyesap kopi mereka setelah Anjani selesai kontrol program hamil.
"Takut apa?" Anjani menatap Tiwi dengan bingung, sambil menikmati kopinya yang lembut.
Sebagai istri direktur, keseharian Anjani kini tak jauh dari shopping, ngopi cantik, dan perawatan di salon.
Kehidupan yang mewah namun terasa hampa bagi sebagian orang.
"Anjani, dengerin gue," Tiwi mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan suaranya.
"Adik lo yang baru 23 tahun, cuma beda 6 tahun sama suami lo, sekarang jadi sekretaris dia dan lebih parahnya lagi tinggal serumah."
Tiwi mewanti-wanti sambil sibuk memangku anaknya yang berusia 3 tahun, yang tak bisa lepas dari gendongannya.
Sebagai ibu baru, dia harus membawa anaknya ke mana pun dia pergi.
"Ya ampun, Wi," Anjani tertawa kecil, gelengan kepalanya mencerminkan betapa tak masuk akalnya kekhawatiran Tiwi.
"Di rumah nggak cuma berdua doang. Ada gue, kakaknya Andin, istrinya Mas Rama. Ada mbok Yem juga, dan Pak Kus, supir juga tinggal di sana. Lagian, kamar gue sama Mas Rama di lantai dua, sedangkan kamar Andin di lantai bawah di kamar tamu karena dia nggak mau di atas. Maksud lo, Mas Rama malem-malem menyelinap ke kamar Andin gitu? Ngaco lo, Wi."
Tiwi mengernyitkan kening, tapi dia tidak menyerah.
"Lo tau nggak kerjaan sekretaris apa? 24/7 nempel sama bosnya, alias laki lo."
Anjani terdiam..