"Aku akan melakukannya dengan pelan, Sayang ...." bisik Andre di telinga Rhea, sedangkan jemari tangan kanannya bersafari di lekuk tubuh istrinya.
Rhea hanya mampu menahan napas dengan hasrat yang makin meluap. Menikmati setiap sentuhan Andre. Seperti yang pernah dia dengar dan baca, malam pertama itu sangat indah. Rhea pun merasakan hal tersebut. Perempuan itu mendesah saat kecupan Andre turun dari lehernya, berpindah pada dadanya.
Refleks. Kedua tangan Rhea menyusup di rambut Andre, membuat lelaki itu makin liar memainkan area sensitifnya.
"Kamu suka?" Andre bertanya dengan tatapan sayu.
Kedua kelopak mata Rhea terbuka. Menatap wajah yang berada di atasnya. Pipinya memerah merupa apel.
"Sepertinya kamu sangat menikmatinya, Rhea," ucap Andre tersenyum tipis. Dia menarik gaun pengantin yang menggumpal di pinggang Rhea, juga merobek pakaian dalam berenda. Perempuan itu sekarang benar-benar polos.
"Mas Andre." Rhea menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya juga miring ke kiri. Dia malu, karena baru kali pertama polos di depan lelaki.
"Aku suamimu." Andre kembali mengungkung tubuh Rhea dan mencium lembut bibir Rhea. Mendesak lidahnya dengan liar.
Rhea membalas ciuman Andre. Tangannya berada di tengkuk dan di punggung lelaki itu. Desahannya makin menggila tatkala Andre mencium perut, lalu makin ke bawah. Ke sarang yang sudah basah.
Akan tetapi, Rhea terkejut saat Andre menyudahi sentuhan. Lelaki itu berdiri di sisi tempat tidur, memakai celananya kembali.
"A-ada apa, Mas?" Rhea bertanya tidak mengerti.
"Ada apa?" Andre mengulangi pertanyaan Rhea. "Aku tidak bisa bercinta denganmu, Rhea."
Rhea menarik selimut, menyelubungi tubuhnya yang telanjang. "Kenapa tidak bisa? Tadi--"
"Karena aku tidak mencintaimu. Aku menikah karena desakan Oma. Oh, ralat, aku terpaksa," sela Andre menjelaskan.
"Mas ...?"
"Jadi, tidak ada nafkah batin, Rhea. Kamu mengerti?" Andre mengambil bantal, merebahkan tubuhnya di sofa panjang. "Itu tadi hanya hadiah kecil dariku."
"Aku tidak mengerti," gumam Rhea tidak mengerti.
"Dengarkan, Rheana Dhatu. Aku menikah denganmu karena itu salah satu syarat mendapatkan perusahaan dan warisan Oma. Jelas, kan?" Tubuh Andre miring ke kanan, memunggungi Rhea. "Tubuhmu lumayan indah, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Hanya tubuh Kania yang bisa membuatku bergejolak," lanjutnya.
"Kania sahabatmu?" Rhea terus mengejar dengan pertanyaan. Kania yang dia kenal adalah sahabat dekat Andre, perempuan yang berprofesi sebagai model.
"Siapa lagi. Berpura-pura saja, Rhea. Beraktinglah kalau kita berdua suami istri yang harmonis."
Rhea menyusut air matanya. Dia merasa ditipu, selama ini dia kira Andre mencintainya. Dia juga merasa terhina oleh sikap Andre baru saja.
"Aku tidak mau, Mas. Ceraikan saja aku!" teriak Rhea. "Sekarang juga."
"Kalau begitu kembalikan uang yang dipakai untuk menebus rumahmu yang tergadai. Apa kamu juga tidak berpikir tentang ayahmu? Beliau pasti malu," sahut Andre. "Lalu, kuliah adikmu di fakultas ekonomi akan terhenti. Apa kamu juga ingin Oma terkena serangan jantung?"
Rhea terkelu. Dia tidak ingin membuat ayahnya sedih, apa lagi sang ayah sedang sakit. Dia juga tidak ingin mencerabut mimpi dan cita-cita Rehan, adiknya.
"Bertahanlah sampai warisan itu benar-benar jadi milikku. Lalu, kita akan bercerai," lanjut Andre meyakinkan.
Air mata luruh lagi. Rhea tidak menyangka terjerat permainan cinta Andre. Dia tidak tahu tentang warisan. Yang dia tahu, Andre dan dirinya dijodohkan, karena almarhum neneknya bersahabat dengan Oma Vena. Walaupun secara status ekonomi berbeda. Andre dari keluarga kaya raya, sedangkan Rhea dari keluarga sederhana.
Mengenai hubungan persahabatan antara Andre dan Kania hanya kedok di depan keluarga besar. Mereka berdua sebenarnya sepasang kekasih.
Rhea makin terisak. Tidak ada pernikahan indah. Yang ada hanya panggung sandiwara.
Embusan napas berat keluar dari mulut Rhea. Perempuan itu beringsut turun dari tempat tidur. Mengambil kaus dan celana kulot pendek, lalu mengenakannya.
Ponsel milik Andre yang tergeletak di meja menyala. Rhea meraih perangkat elektronik tersebut. Dia bisa membaca pesan yang tertangkap di layar ponsel.
["Aku mencintaimu, Andre. Aku percaya kamu tidak akan menyentuh perempuan kampung itu."]
Perempuan kampung? Rhea menggenggam erat ponsel di telapak tangannya. Jadi, selama ini dirinya jadi bahan olok-olokan Andre dan Kania.
Rhea meletakkan kembali ponsel di meja. Dia kembali meringkuk di tempat tidur. Punggung tangannya mengusap air mata yang terjatuh begitu saja.
"Aku tidak boleh menangis ...." lirihnya, seraya menutupi wajahnya dengan bantal.
Akan tetapi, dia tetap terisak. Rasa sakitnya sangat luar biasa.
***
"Wah, pengantin baru," goda Oma Vena. "Mana Andre?"
"Masih tidur, Oma." Rhea menarik kursi, dia duduk di seberang Oma Vena. Perempuan berusia tujuh puluh tahun itu menatapnya.
"Pasti capek karena kegiatan semalam. Ya, kan?" Lagi-lagi Oma Vena menggoda Rhea.
Rhea hanya tersenyum simpul menanggapinya. Seandainya Om Vena tahu tidak pernah terjadi 'kegiatan malam'. Rhea yang masih lebih mengutamakan kebahagiaan keluarganya, tidak akan memberitahu Om Vena bahwa Andre tidak mencintainya. Bahwa Andre akan menceraikan dirinya setelah mendapatkan warisan
"Aku harap kalian segera punya anak. Aku ingin menimang cicit sebelum meninggal dunia," kata Oma Vena penuh harap.
"Oma pasti akan mempunyai cicit," tukas Rhea. Ya, Walaupun bukan dari rahimnya. Mungkin dari rahim Kania.
Mereka berdua terdiam. Menikmati sarapan, hanya denting sendok yang kadang beradu dengan piring. Tidak berselang lama, Andre turun. Rambut, wajah, dan pakaian lelaki itu terlihat licin.
"Selamat pagi, Oma," sapa Andre, mencium kedua pipi Oma Vena.
"Sudah rapi, mau ke mana?" Oma Vena bertanya.
"Mau ada urusan mendadak di kantor," sahut Andre enteng.
"Lho, seharusnya kamu libur. Ajak istrimu bulan madu, Ndre," pinta Oma Vena, memandang Andre jengkel.
"Rhea tidak mau, karena ayahnya belum pulih. Benar, kan, Sayang?" Andre berdiri di belakang Rhea, kedua tangannya berada di pundak istrinya.
"Iya, Oma. Kami menunda bulan madu." Rhea mengikuti permainan Andre.
"Aku pergi dulu, Sayang," pamit Andre.
Rhea beranjak dari kursinya. Mengikuti Andre sampai ke garasi.
"Kamu tidak perlu mengantarku, Rhea." Andre mendengkus jengkel.
"Bukankah kau ingin aku berpura-pura sebagai istri yang baik?" Rhea mengingatkan ucapan Andre semalam. "Biar terlihat harmonis, kan?"
"Rhea, aku ingatkan. Kamu tidak akan pernah menjadi yang pertama bagiku, hanya menjadi yang kedua. Dan, kamu bukan masa depanku," tegas Andre menyakitkan.
Kedua tangan Rhea mengepal kuat. Rasa marah bercampur sedih melesap di setiap inci tubuhnya. Bagaikan sel kanker yang mematikan perlahan.
Andre memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju rumah Kania, dia sudah berjanji akan datang.
Bagi Andre, Kania adalah segalanya. Namun, perjodohannya dengan Rhea empat bulan yang lalu, menghancurkan impian Andre mempersunting Kania. Dia harus tunduk pada omanya demi harta. Menikahi Rhea yang berpenampilan sederhana dan tidak cantik.
Begitu sampai, Andre langsung turun dari mobil. Lelaki itu tidak perlu berpayah mengetuk pintu karena mempunyai kunci pintu rumah Kania. Langkahnya memburu masuk ke rumah.
"Aku tahu kau yang datang." Kania muncul dari arah dapur, perempuan itu hanya mengenakan baju tidur berbahan satin dengan bahu yang terbuka. "Aku baru selesai masak. Ayo, sarapan."
Andre menggapai tubuh Kania. "Aku mau sarapan kamu." Kemudian mencium bibir Kinan. Lidahnya bermanuver agresif di dalam mulut perempuan itu. Tangan kanannya menyusup di dada Kinan.
"Ndre ...." Kania melepas pagutan, napasnya terengah. "Aku mau sarapan dulu. Lapar," katanya manja.
"Baiklah, mari kita sarapan dulu." Andre harus menahan gejolaknya. Tubuh indah Kania membuatnya candu. Dia benar-benar menyukai perempuan yang sedang membuat kopi itu. Tubuh tinggi dengan tungkai jenjang, kulitnya putih mulus. Rambut cokelat terang yang panjang.
"Benar semalam tidak terjadi apa-apa? Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan kekasihku bersama perempuan lain." Kania menaruh secangkir kopi hitam panas di meja.
"Rhea tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu, Kania. Perempuan itu tidak cantik sama sekali," sahut Andre.
Kania memiringkan kepalanya, Andre mengatakan hal itu supaya meredam rasa cemburunya. "Tidak cantik? Rhea itu manis dengan kulit cokelat yang indah, Ndre. Walaupun tidak tinggi, Rhea mempunyai dua bukit seperti melon."
Andre tidak berkomentar. Menyesap kopi dengan pelan-pelan. Ya, diakuinya, tubuh mungil Rhea indah dengan dada yang bulat penuh. Sebenarnya semalam dia hampir terlena.
"Ndre, aku takut kamu akan jatuh cinta pada Rhea," ujar Kania, lantas melahap roti isi.
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Rhea. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh."
"Kan, setiap hari bertemu, Ndre. Ada pepatah Jawa 'witing tresno jalaran soko kulino'. Cinta hadir karena terbiasa." Wajah Kania merengut.
"Jangan meragukan aku, Kania. Sudah selesai sarapannya?" Andre beranjak dari kursi, membopong tubuh Kania pindah di sofa ruang keluarga. Kania hanya tinggal sendirian, jadi aman bercinta di mana saja.
"Rupanya kamu sudah tidak tahan," bisik Kania yang sekarang berada di pangkuan Andre. Mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Andre.
"Gara-gara mengurus pernikahan sialan itu, aku tidak bertemu denganmu selama seminggu. Bayangkan saja, betapa aku merindukan dirimu," ucap Andre, mencium pundak Kania, tangannya menarik tali kecil baju tidur milik Kania perlahan.
"Aku juga merindukanmu, Ndre. Sangat."
Andre langsung menyerang Kania dengan brutal. Menjelajahi setiap inci tubuh perempuan itu. Pagi yang dingin berubah memanas dengan suara desahan.
"Aku suka wangimu, Kania."
Kania membantu Andre melepaskan kaus dan celananya. Lantas, kembali berpelukan di sofa dengan hasrat yang meluap-luap. Namun, Kania langsung melompat turun dari tubuh Andre.
"Ada apa?" Andre memicingkan matanya.
"Sebentar." Kania berlari ke kamar mandi yang terletak di bawah tangga.
Andre melihat tubuh setengah polos itu hilang di balik pintu kamar mandi. Sebenarnya ada apa dengan perempuan itu? Main putus di tengah jalan.
Kania muncul kembali, dia mengenakan handuk putih yang melilit di tubuh indahnya.
"Ada apa, Sayang?" Andre mengulangi pertanyaan.
"Sori, mbak bulan datang." Kania tertawa cekikikan melihat wajah Andre berubah muram. "Canda, Ndre," katanya kemudian seraya melepaskan handuk. Duduk di atas tubuh kekasihnya, dan memulai aktivitas liar yang terjeda.
***
Rhea hanya berdiam diri di kamar. Sampai siang Andre belum pulang, dia tahu ke mana Andre pergi. Bukan ke kantor, tapi ke rumah Kania.
Sungguh mengenaskan nasibnya, pengantin baru yang kesepian dan penuh kesedihan. Rhea tanpa sadar menitikkan air matanya kembali. Dia menatap langit yang membiru sempurna. Sangat indah, kontras dengan hatinya.
Dering ponsel membuat Rhea berjalan ke meja rias. Nama Sita terpampang di layar.
"Hei, halo, pengantin baru. Aku tidak mengganggumu, kan?"
"Halo, Sita. Apa kabar? Aku senang kamu meneleponku."
"Aku baik. Aku sekarang berada di Jakarta. Maaf, karena pesawatnya delay aku tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu," jelas Sita.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kadang cuaca bisa mengubah rencana." Rhea tertawa hambar.
Sita adalah temannya. Mereka bertemu di rumah sakit, sama-sama menemani keluarga yang sakit. Walaupun usia Sita lebih muda empat tahun darinya, Rhea menemukan kecocokan. Bukan hanya usia, Sita juga berasal dari keluarga konglomerat.
Rhea hanya bekerja staf administrasi, sedangkan Sita menekuni karirnya sebagai desainer.
"Aku ingin bertemu denganmu, Rhea. Tapi, mungkin kau sudah berangkat bulan madu."
"Aku menunda bulan madu. Datanglah ke rumah suamiku. Atau kita bertemu di luar."
"Aku akan ke rumahmu saja, deh."
"Oke, aku tunggu."
"Sampai jumpa."
Rhea mengantungi ponselnya ke saku celana. Dia berjalan keluar kamar, dia mendapati pintu kamar di ujung lorong terbuka. Rhea pun penasaran.
Tampak Bik Darni sedang mengganti seprai. Tirai-tirai pun diturunkan oleh Pak Karto.
"Debu, Non. Jangan berdiri di situ," tegur Bik Darni.
"Mau ada tamu ya, Bik?" tebak Rhea.
"Den Samuel, adiknya Pak Andre besok pulang, Non."
Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia belum pernah bertemu Samuel, adik iparnya itu kuliah di luar negeri. Rhea hanya melihatnya di foto keluarga yang terpasang di ruang keluarga. Itu pun foto Samuel mengenakan seragam biru.
"Sudah tujuh tahun, akhirnya pulang. Den Samuel ngambek karena tidak diizinkan menjadi penyanyi oleh Nyonya Vena," kata Bik Darni.
"Oh, gitu."
"Makanya tidak mau pulang, Non. Tapi, sepertinya sekarang sudah diizinkan karena sudah selesai kuliah."
"Usianya Samuel berapa, Bik?"
"Kurang tahu, Non. Waktu pindah ke Belanda, baru lulus SMP."
Rhea mengira-ngira umurnya Samuel sekitar dua puluh dua tahun. Beda empat tahun dengan dirinya.
Rhea baru mengenal keluarga Rahardyan kurang lebih lima bulan yang lalu, saat ayahnya memberitahu bahwa dirinya dijodohkan dengan Andre. Jadi, dia tidak tahu persis kondisi keluarga suaminya.
"Rhea," panggil Oma Vena.
Rhea menoleh, melihat Oma Vena berdiri di ambang pintu kamar.
"Bisa kita bicara?"
Rhea masuk ke dalam kamar Oma Vena. Perempuan sepuh itu meminta dia duduk di kursi.
"Aku tahu yang terjadi di antara kamu dan Andre semalam," ungkap Oma Vena, menutup pintu kamar dan duduk di sebelah Rhea.
"O-oma tahu?" Rhea mengernyit heran.
"Aku tahu dari wajahmu yang murung. Jangan berpikiran aku mengintip kalian semalam." Oma Vena tertawa kecil. "Andre tidak menjalankan tugas suaminya sebagaimana mestinya, bukan?"
Wajah Rhea menunduk. Menyembunyikan rasa malu dan sedih.
"Dari awal Andre tidak setuju menikah denganmu. Tapi, aku bersikukuh. Karena aku tahu kamu perempuan yang cocok mendampingi Andre," kata Oma Vena, menepuk tangan Rhea.
Rhea mendongak. "Mas Andre tidak mencintaiku, Oma," ucap Rhea dengan suara bergetar karena menahan tangis.
"Aku selalu mendukungmu, Rhea. Taklukkan Andre, kamu pasti bisa. Setiap hari bertemu, kamu bisa menggunakan waktu dengan baik. Memasak untuknya atau sedikit berpakaian seksi saat hanya berdua di kamar."
Embusan napas berat keluar dari mulut Rhea. Dia tidak yakin bisa mengalahkan Kania, sang super model terkenal.
"Jangan menyerah sebelum berperang, Rhea. Aku tahu Kania lebih cantik, tapi--"
"Oma tahu tentang Kania?" Rhea menatap lawan bicaranya.
Tawa Oma Vena pecah padahal tidak ada yang lucu. "Aku tahu, Kania dan Andre hanya berpura-pura bersahabat."
"Lalu, kenapa Oma tidak membiarkan mereka menikah?" Rhea sangat penasaran.
Oma Vena pun menjelaskan bahwa dia tidak suka dengan profesi Kania, juga karena sang super model pernah terjerat skandal. Kania menjadi simpanan lelaki kaya raya.
"Ini untukmu, Rhea." Oma Vena memberikan kalung bermata berlian yang sangat indah. "Aku juga telah mentransfer sejumlah uang ke nomor rekeningmu. Nikmati sesukamu."
Rhea bergeming. Dia merasa seperti perempuan yang dibeli oleh keluarga Rahardyan. Oma Vena dan Andre sama-sama membohongi dirinya.
"Raih cinta suamimu, Rhea. Jangan menyerah begitu saja. Aku di belakangmu," ucap Oma Vena. "Tolong, demi aku, pertahankan pernikahanmu." Oma Vena menggenggam tangan Rhea dengan erat. Perempuan tua itu memohon.
"Aku tidak bisa berjanji, Oma. Maafkan aku."
Rhea lantas keluar kamar dengan menggenggam kotak beledu hitam. Bersamaan dengan Andre yang muncul.
"Sudah selesai urusannya di kantor?" tanya Rhea.
"Sudah." Andre menguak pintu kamar, melepas kemejanya.
Pandangan mata Rhea tertuju pada tanda merah di leher dan di dada Andre. Wangi parfum perempuan tercium ketika dia mengambil kemeja yang tergeletak di lantai.
Suaminya ternyata memang mencari kehangatan tubuh Kania. Rhea sangat menderita, tapi alih-alih menangis dia menawarkan secangkir teh pada Andre.
"Aku hanya ingin tidur, jangan ganggu aku," sahut Andre yang hanya mengenakan celana boxer, lelaki itu langsung menggenyakkan tubuhnya di kasur.
Rhea hanya bisa memandang punggung lelaki yang tengkurap itu. Menarik napas dalam-dalam, mengembuskan satu per satu. Dirinya pasti bisa merebut Andre dari Kania. Dia istrinya, dia yang harus di posisi pertama. Bukan kedua.
***
Langkah Rhea cepat menyusuri koridor dan menuruni anak tangga. Tidak sabar menemui Sita yang sudah menunggu di teras belakang rumah.
Rhea langsung memeluk temannya yang sedang berdiri di ujung teras. Sita bertubuh jangkung, hingga Rhea bagai memeluk pohon kelapa.
"Sepertinya kau tambah tinggi," seloroh Rhea mengurai pelukan.
"Itu hanya perasaanmu saja, karena kamu tidak bertambah tinggi," canda Sita, merangkul bahu Rhea. "Rumah keluarga suamimu sangat indah, aku suka tamannya."
"Banyak bunga mawar dan krisan." Rhea ikut memandang taman di depan mereka.
"Mungkin aku juga akan tinggal di sini tidak lama lagi ...."
"Apa maksudmu, Sita?" Rhea tidak mengerti.
"Kau tahu, aku berteman dengan Samuel. Si bungsu dari keluarga ini. Seminggu yang lalu kami bertemu di New York." Wajah Sita menyemburat merah muda. "Kami makan malam berdua di apartemenku. Aku yang mengundangnya, tentu saja ...." lanjutnya makin tersipu sendiri.
Rhea mengangkat kedua alisnya. Menunggu kelanjutan cerita Sita mengenai Samuel, adik iparnya.
"Dia menciumku, Rhe. Kami berciuman dengan penuh gairah." Sita menutup wajahnya sendiri.
"Lalu?"
"Lalu dia berpamitan pulang. Bukankah itu menandakan hubungan kami naik satu tingkat?"
"Ya, kamu harus bertanya pada Samuel, bukan padaku," cibir Rhea.
"Ck. Malu." Sita menukas.
"Aku hanya bisa bilang dia kemungkinan tertarik padamu. Kadang ucapan tidak diperlukan, bukan?" Rhea membalikkan tubuhnya, bersandar pada pagar setinggi pinggang. "Lihat dan lanjutkan, apa hubungan kalian berkembang atau berhenti," lanjutnya.
"Kau terdengar seperti penasihat ulung. Kalau Samuel menyukaiku. Aku sangat bahagia."
"Seperti apa Samuel?"
"Dia ganteng, tingginya sekitar 185 centi meter. Tubuhnya proposional. Kulit putih," jawab Sita. "He, apa kau belum bertemu dengannya?"
"Belum. Samuel sudah lama tinggal di Belanda. Dia besok baru pulang." Rhea mendesah lirih.
"Tapi, dia mengatakan kalau sudah pulang hari ini? Yang mana yang benar."
Rhea mengedikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu."
Sita memandang wajah Rhea. Perempuan itu dari tadi terlihat muram.
"Rhea, ada apa? Wajahmu murung. Katakan, jangan berbohong padaku," cecar Sita.
"Pernikahanku tidak sesuai dengan apa yang aku impikan, Ta ...." Rhea menengadah wajahnya, menahan sesak di dadanya. Dia lantas menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Tentang Andre yang menikah karena harta, juga tentang Kania.
"Oh, aku tidak tahu harus berkata apa." Sita mengusap punggung Rhea.
"Tidak ada malam pertama. Sungguh mengenaskan, bukan?" Rhea tertawa getir, mentertawakan dirinya sendiri.
Sita mengambil kotak besar dengan pita satin berwarna merah. Dengan mata berbinar, dia menyodorkan pada Rhea.
"Wah, boleh aku buka sekarang?" Rhea menaruh kotak di atas pagar, menarik pita hingga terlepas. Bibirnya membulat setelah melihat isinya. Empat tumpukan baju tidur yang seksi dan satu lingerie hitam.
"Suamimu mungkin tergila-gila dengan si supermodel. Tapi, kamu setiap hari bersamanya. Pakailah baju tidur yang seksi." Rhea menundukkan kepalanya, berbisik pelan, "Dan, tidak perlu memakai dalaman."
Mata Rhea mengerjap. Sita usianya lebih muda, tapi tahu tentang bagaimana menjaring lelaki.
"Jangan melotot seperti itu, Rhea. Tidak apa-apa bergenit pada suami sendiri. Satu lagi, kita ubah gaya rambut dan penampilanmu. Bagaimana kalau besok kita pergi berbelanja baju?" tanya Sita.
Rhea menunduk, memperhatikan baju yang dia kenakan. Untuk ukuran istri dari orang kaya, penampilannya biasa saja. Kemeja panjang dan celana kulot. Rambutnya yang tebal panjang memang tidak bervolume.
"Baiklah, besok siang. Bagaimana?" Rhea setuju, perempuan itu ingat, rekeningnya berisi sejumlah saldo yang melimpah.
"Oke. Apa suamimu menerima undangan dari Geraldine Finn? Perempuan itu merayakan pesta ulang tahun, dan tamu undangannya harus memakai gaun warna hitam."
"Aku tidak tahu. Kapan ulang tahunnya?" Rhea bertanya
"Besok malam."