“APA INI ARTINYA, MAS?” Keras terdengar teriakan seorang wanita, menggema di ruang tamu sebuah rumah mewah.
“Ya, aku harap kamu mengerti dengan pilihanku ini, Lis!” balas seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang sedang duduk di ruang tamu bersama wanita yang berteriak itu. Raut kemarahan terpancar jelas di wajah keduanya.
“Bagaimana dengan pernikahan kita selama ini? Bagaimana dengan Ravatar dan Jeanny, apa kamu tidak kasihan dengan mereka? Mereka itu anak-anak kamu, Ronald?” sahut wanita itu berusaha memberi pengertian pada suaminya dengan intonasi yang sedikit diturunkan.
“Bukan begitu, Elisa. Aku justru minta pengertian dari kamu tentang perasaan suamimu ini. Sudah lama aku merasa tertarik dengan Evelyn. Lagi pula Evelyn memang cukup akrab dengan anak-anak kita kan? Pastinya tidak ada masalah kalau aku menikah dengan dia.” Lelaki gagah perkasa itu tak mau menyerah.
“Jadi, maksudnya aku akan dimadu dengan adik angkatku? Dia itu ipar angkatmu. Teganya kalian sama diriku!” Elisa menggeram penuh kemarahan seraya menatap wajah suaminya.
“Bukan. Bukan begitu! aku merasa dengan kehadiran Evelyn di sini, keluarga kita akan semakin lengkap. Bukannya kalian juga sudah bersama-sama sejak dari dulu? Seharusnya kamu mendukung pernikahan aku dengan adik angkatmu itu,” jelas Ronald berusaha untuk menenangkan amarah Elisa.
“Enak aja! Alasan apa itu? Bagaimana dengan perasaanku ini, Ronald? Aku sudah mendukungmu selama 10 tahun sejak kita menikah! Dari saat kamu masih bekerja sebagai pegawai rendahan sampai jadi manager seperti sekarang! Inikah balasanmu untuk kesetiaanku selama ini, Ronald?” Elisa kembali berteriak namun masih terkontrol.
“Bukan begitu! Aku hanya minta agar kamu mengerti dengan perasaanku. Apakah itu sesuatu yang susah buatmu? Lagi pula wanita yang aku pilih bukan orang asing. Kamu dan anak-anak sudah mengenal Evelyn dari dulu. Evelyn itu wanita baik-baik, kamu sebagai seorang istri seharusnya bangga karena suamimu ini masih pengertian.” Ronald bicara panjang lebar tak mau kalah.
“Pengertian maksudmu apa, Ronald?” Amarah Elisa makin membara.
“Laki-laki lain pasti sudah menceraikan istrinya yang tidak mau menuruti keinginan suaminya seperti kamu!” bentak Ronald dengan nada penuh amarah karena kehilangan kesabarannya. Namun demikian dia tetap berusaha agar suaranya tidak terdengar kasar atau meninggi.
Malam itu benar-benar malam yang terburuk buat Elisa, terutama untuk kehidupan rumah tangganya dengan Ronald. Bagaimana tidak? Setelah 15 tahun membina rumah tangga, Elisa tidak pernah menyangka bahwa suaminya itu telah berselingkuh dengan Evelyn.
Memang banyak rumor yang beredar kalau Ronald berselingkuh dengan beberapa wanita muda di kantornya. Namun Elisa tetap tidak menaruh curiga serta mengabaikan rumor itu karena di kantor suaminya Elisa menyimpan pengawas. Namun semua itu terbukti keliru dengan pernyaataan Ronald malam itu yang memberitahu rencana pernikahannya secara mendadak.
Elisa masih tidak percaya bahwa suaminya memang telah berselingkuh, bahkan akan menikahinya. Fakta bahwa wanita yang hendak dinikahi oleh suaminya itu adalah adik angkatnya sendiri, kian membuat hati Elisa hancur berkeping-keping. Elisa sengaja memasukan Evelyn ke kantor suaminya, agar bisa menjadi pengawas. Naum yang terjadi malah pagar makan tanaman.
“Kalau begitu, Mas Ronald boleh memilih. Kalau menikahi Evelyn, aku dan anak-anak akan angkat kaki dari rumah ini!” ancam Elisa. Namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap ancamannya itu dapat mengurungkan niat suaminya untuk menikah lagi. Dia melakukannya sekedar untuk menguji, apakah masih ada rasa cinta dalam hati Ronald untuk dirinya dan anak-anaknya.
“Kalau begitu, kamu juga boleh memilih. Hidup bersama aku, anak-anak kita dan Evelyn. Atau silakan bawa semua barang-barangmu keluar dari rumah ini. Aku tidak akan berhubungan lagi dengan kamu. Lagi pula Jeany anak kita pun lebih dekat dan lebih suka dengan Evelyn dibandingkan dengan kamu ibunya yang kerjanya keluyuran tiap hari!” Ronald kembali membentak Elisa dengan nada keras.
Jawaban Ronald yang disampaikan lewat bentakan itu langsung membuat hati Elisa semakin hancur berkeping-keping, dan pikirannya sangat kacau balau berkecamuk. Memang ucapan Ronald benar, Elisa sering keluyuran, namun tidak hanya main, dia juga sesekali bisnis walau belum menghasilkan.
Dia juga mengakui kebenaran ucapan suaminya, memang, kalau dibandingkan dengan dirinya yang sudah berusia 35 tahun, Evelyn yang baru berusia 23 tahun, sangat berbeda jauh. Bukan hanya perbedaan umur saja, namun Evelyn yang berparas amat cantik itu bisa dikatakan mengalahkan Elisa dalam berbagai bidang. Termasuk dalam mengemong kedua anak Elisa, padahal Evelyn sendiri bekerja.
Tubuh indah Evelyn yang langsing dan padat dengan tinggi 162 cm, proporsional amat kontras dengan tubuh Elisa yang mulai agak gemuk sehabis melahirkan Ravatar dan Jeany, kedua anaknya. Terlebih lagi, dengan sikap Evelyn yang feminin, perhatian, baik hati, dan keibuan, terkadang membuatnya lebih disukai anak-anak Elisa dibandingkan dirinya. Terutama oleh Jeany yang baru berusia 4 tahun. Dalam mengerjakan PR-nya Ravatar pun lebih suka meminta bantuan pada Evelyn, padahal rumah mereka terpisah jauh.
Sebenarnya sikap kedua anaknya itu, kadang melukai perasaan Elisa sebagai ibu kandungnya, namun Elisa kadang juga tidak terlalu peduli. Mengingat Evelyn memang adik angkat yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya, jadi wajar kalau Ravatar dan Jeany menganggap Evelyn tantenya sendiri.
Ya, pada waktu masih bayi, Evelyn diadopsi oleh orang tua Elisa dari sebuah panti asuhan. Elisa bahkan yang paling sering merawat Evelyn dibanding kakak dan adik-adiknya. Elisa turut menyaksikan pertumbuhan Evelyn dari seorang bayi kurang gizi, menjadi seorang wanita muda yang sangat intelek dan cantik jelita. Luka hati Elisa kian terakut-akut mengingat bagaimana dia merawat Evelyn dulu layaknya seorang kakak pada adik tercintanya.
“Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, toh pernikahan kami baru akan dilaksanakan satu atau dua bulan kedepan. Tapi ingat, aku tidak akan merubah pikiran. Keputusanku sudah bulat dan aku akan tetap menikahi Evelyn, terserah apa kamu suka atau tidak!” tegas Ronald seraya berlalu masuk ke dalam kamar.
Seketika itu pula Elisa ambruk ke lantai, menangis tersedu-sedu menyadari bahwa cintanya telah dikhianati oleh Ronald, walau dia sendiri pernah mengkhiantai cinta suaminya, namun itu dulu dan Elisa sudah bertobat sebelum suaminya tahu. Untunglah Ravatar anak sulungnya sedang menginap di rumah Evelyn, sehingga dia tidak perlu menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Sementara Jeany yang sudah tidur, masih terlalu kecil untuk mengerti pokok permasalahan ayah dan ibunya.
Elisa berpikir dengan keras, bisa saja dia meninggalkan rumah itu, namun itu berarti dia harus menyerahkan kedua anaknya pada Evelyn, dan itu tidak lebih dari pengibaran bendera kekalahannya dalam mempertahankan rumah tangganya. Elisa berusaha tegar, dia tidak akan menyerah semudah itu. Elisa memikirkan masa depan Ravatar dan Jeany yang entah bagaimana nasibnya apabila ditinggal olehnya dan hidup bersama Evelyn, tente angkat yang sekaligus akan menjadi ibu tirinya.
Namun apabila dia bertahan, itu berarti dia harus rela dimadu dalam seumur hidupnya oleh Ronald. Sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh istri manapun, termasuk dirinya.
Mata Elisa kian berat, ujian ini begitu sulit baginya, bagaimana pun juga rumah tangganya kini terancam hancur karena ulah adik angkatnya sendiri. Bagaimana nasib anak-anaknya kelak dan bagaimana dia harus melewati hari-harinya jika Ronald benar-benar memadunya. Elisa sadar jika madu yang satu ini, akan benar-benar menjadi racun dalam sepanjang sisa hidupnya kelak.
“AAAAAAAH……!”
PRAANG!
Elisa mengamuk dan dilemparkannya asbak kaca yang berada di meja sampingnya ke lantai hingga asbak itu pecah berkeping-keping. Kembali Elisa terlarut dalam kesedihannya, saat terbayang masa-masanya bersama Ronald dan jalinan persaudaraannya dengan Evelyn. Elisa tak kuasa menahan amarahnya lagi. Kini dendamnya membara kepada adik angkat yang telah tega mengkhianatinya.
‘Kalau saja kamu tidak pernah ada, kalau saja kamu tidak pernah jadi adikku, KALAU SAJA AKU BISA MEMBUAT KAMU MENDERITA, EVELYN!’ Demikian geram hati Elisa pada adik angkatnya yang sebentar lagi akan menjadi pelakornya.
Tidak ada lagi perasaan Elisa sebagai seorang kakak bagi Evelyn, yang ada kini hanyalah dendam yang mendalam sebagai seorang istri yang disakiti suaminya, sekaligus seorang kakak yang dikhianati adiknya. Elisa harus membuat perhitungan.
^*^
“AAAAAAAH……!”
PRAANG!
Elisa kini membanting gelas dan piring kotor sisa makan malam yang belum dibereskannya. Dia benar-benar frustasi dan sadar bahwa untuk membuat perhitungan dan membalaskan dendamnya pada wanita yang bahkan namanya pun dia yang memberikan dulu itu, perlu menenangkan diri dan berpikir dengan jernih. Agar tidak salah langkah.
Setidaknya tidak menimbulkan buntut yang sangat panjang seperti kasusnya Vina Cirebon, yang bahkan mencuat kembali setekah delapan tahun berlalu, dengan pemberitaan yang teramat masip dan caur marut. Jangan sampai ada pihak yang memfilmkannya.
Elisa berusaha keras mendinginkan kepalanya yang terbakar oleh amarah dan dendam sambil berusaha berpikir, bagaimana caranya untuk memberi pelajaran bagi Evelyn. Membunuh Evelyn tentu saja merupakan jalan pintas, namun Elisa berpikir apabila hal itu dilakukan, sudah pasti dirinyalah yang pertama kali dijadikan tersangka karena motifnya amat gampang dibaca oleh suami dan pihak berwajib.
Apalagi menyewa orang untuk membunuh tentunya tidak mudah dan bisa saja menguras banyak biaya. Lagi pula Elisa lebih menginginkan Evelyn sengsara dan menderita. Elisa ingin melukai atau menyiksa Evelyn hingga cacat? Itu mungkin ide yang efektif. Namun pastinya akan membuat Elisa meringkuk ditahanan polisi apabila hal itu sampai ketahuan. Dan nantinya bisa saja Evelyn yang dilukai akan membalaskan dendamnya pada Ravatar atau Jeany, kedua anaknya.
‘Apakah aku harus membalasnya dengan cara yang sama. Menggoda ketiga adiknya dan menjadikan mereka selingkuhanku?’ batin Elisa.
Ronald empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki. Revan, Rayhan dan Rafly, tak kalah ganteng dan gagahnya dengan Ronald.
Hidup Revan terbilang sangat harmonis dengan istri dan kedua anaknya, mungkin akan sedikit sulit mengajak dia selingkuh. Revan tipe suami idaman yang setia pada keluarganya. Sementara Rayhan bisa dikatakan rumah tangganya tidak baik-baik saja. Akan lebih mudah diajak selingkuh karena pada dasarnya dia seorang playboy.
Bagaimana dengan Rafly?
Rafly paling muda, paling ganteng, masih kuliah dan merupakan adik kesayangan Ronald. Jika Elisa bisa menaklukan Rafly, kepuasan balas dendamnya akan sempurna, karena luka yang dirasakan Ronald, akan jauh lebih pedih. Disamping itu, resikonya pun relatif kecil. Tidak akan berbenturan dengan istrinya, sementara dengan Revan dan Rayhan pasti akan berhadapan dengan istri-istrinya kalau sampai ketahuan.
‘Benarkah itu cara yang terbaik? Terus bagaimana dengan si Evelyn? Keenakan sekali kalau tidak dibikin perhitungan. Aku harus membuat si pelakor itu benar-benar hancur hidupnya, titik!’ ralat Elisa.
Kepala Elisa malah semakin pusing dengan rencananya itu. Dia sama sekali tidak bisa menemukan cara yang efektif. Dalam keputusasaannya, Elisa mengambil handphonenya dan beranjak keluar dari rumahnya. Dia akan meminta saran dari kakak sulungnya, Erna.
“Halo, ada apa, El? Tumben malam-malam nelpon?” tanya Erna.
“Tolong bantu aku, Kak. Aku sudah tidak tahan lagi,” pinta Elisa dengan suara tersedu-sedu dan tentu saja Erna sontak terkejut mendengar suara adiknya itu.
“Loh, kamu kenapa, El?” Erna terdengar sedikit panik.
“Kak... aku... aku...” Elisa kembali terisak menahan tangisnya.
“Sudah, sudah. Tenangkan dulu dirimu, lalu ceritakan apa yang terjadi,” ujar Erna menenangkan adiknya.
Mendengar suara kakaknya, Elisa kembali berusaha untuk mengendalikan diri. Setelah memastikan kalau perasaannya sudah tenang, Elisa pun mulai menceritakan duduk persoalan rumah tangganya. Mendengar nasib adiknya yang sedang sangat direndahkan, sontak Erna naik darah dan emosi, apalagi saat mendengar bahwa Ronald hendak mengusir adiknya itu, dan lebih memilih Evelyn, adik angkat mereka yang telah berubah menjadi pelakor.
“Sialan! Jadi rupanya pelakor itu si Evelyn?” tanya Erna emosi.
“I... iya begitu lah Kak.” Elisa menjawab terbata-bata.
“Apa-apaan si Evelyn itu? Manusia tidak tahu diri. Tega sekali dia! Tidak menyangka si Evelyn ternyata serigala berbulu domba. Pura-pura alim tak tahunya binal, licik dan brengset!” Erna makin garang.
“Makanya Kak, aku sudah tidak tahan. Aku juga tidak masih tidak percaya kalau si Evelyn seperti itu,” ujar Elisa masih terbata-bata.
“Terus, bagaimana rencana kamu selanjutnya?” tanya Erna penuh perhatian.
“Aku mau buat perhitungan, Kak. Aku tidak rela kalau si pelakor itu yang menikmati semua ini tanpa penderitaan. Aku yang tunggang langgang mendukung Mas Ronald dari nol hingga seperti sekarang ini, masa dia yang menikmatinya. Terlalu enak hidup dia, sejak bayi hingga kini, keluarga kita yang menyokongnya,” tutur Elisa panjang lebar dan berapi-api penuh dendam kebencian.
“Baguslah, Kakak dukung kalau begitu! Terus, kamu mau apakan si pelakor itu?” tanya Erna.
“Aku bingung, Kak. Kita tidak bisa membunuh atau melukai si pelakor itu. Kita bisa dipenjara.” Elisa kembali kebingungan.
“Aduuh! Kamu kepikirannya kejauhan! Bukannya ada cara yang lebih gampang!” gerutu Erna.
“Apa itu, Kak?” tanya Elisa makin bingung.
“Makanya El, tenangkan dulu dirimu,” jawab Erna.
“Bukannya gampang? Daripada dibunuh atau dilukai begitu, lebih baik kalau kita melukai mental si Evelyn saja!” lanjut Erna.
“Maksudnya?” Elisa melongo tak sabar menunggu jawaban kakak sulungnya.
“Suruh aja orang lain memperkosa si Evelyn sebelum dinikahi si Ronald!” cetus Erna.
Pernyaataan kakaknya itu seolah seberkas cahaya yang menghapus kebingungan hati Elisa. Benar-benar sebuah ide yang luar biasa! ‘Yes, mengapa tidak? Tentu saja! Itu cara yang paling baik untuk menaklukkan si pelakor itu. Rasain kamu, Evelyn!’ hati Elisa gembira.
Dengan diperkosa, tentu saja akan memberi luka mendalam bagi Evelyn dan membuat Ronald berpikir bahwa Evelyn bukan wanita baik-baik karena sudah tidak perawan sebelum dinikahinya. Benar-benar sambil menyelam minum air! Lagipula dengan trauma pemerkosaan itu, pastilah mental Evelyn akan goyah dan gampang diintimidasi oleh Elisa.
Elisa yang kenal baik dengan Evelyn tahu betul bahwa kepribadian Evelyn yang feminin dan agak penakut itu akan membuatnya gampang dikontrol di bawah kendalinya.
“Benar Kak! Ide kakak bagus sekali! Tapi bagaimana cara melaksanakannya?” Elisa mulai antusias.
“Tenang saja lah! Kakak yakin banyak laki-laki yang mau melakukannya kalau kamu bayar untuk memperkosa si Evelyn, lagi pula si Evelyn kan cantik? Malah lebih gampang untuk mencari sukarelawan yang mau memperkosa dia rame-reme, hehehe,” papar Erna sangat yakin.
“Kalau kamu mau, Kakak bisa mencarikan beberapa orang,” lanjutnya. Erna lalu memberikan sedikit nasihat untuk merencanakan perangkap itu.
“Boleh Kak! Tolong kakak carikan orang-orang yang bisa memperkosa si Evelyn!” pinta Elisa yang kini tampak ceria, kontras dengan raut wajahnya sebelum menelepon Erna.
“Ya sudah kalau begitu. Jangan sedih lagi ya? Ingat, kalau besok si Ronald bertanya lagi, jawab saja kalau kamu setuju. Supaya rencana kita bisa berjalan.”
“Iya Kak. Terima Kasih Kakakku yang paling aku cintai!”
“Iya, kakak tutup dulu ya? Besok kakak cari orang yang tepat, nanti kita rencanakan bersama. Jangan di rumahmu, kita ketemu di luar. Jangan sampai ada yang curiga. Besok pagi kakak kasih info lagi ya. Masih lama ini mereka nikahnya juga.”
“Baik, Kak.”
“Daah, met malam ya, El,” ujar Erna sambil menutup teleponnya
Elisa tersenyum sekilas, dia berpikir ide brilian itu amat efisien dan mudah untuk dilaksanakan. Sekarang hanya tinggal mempersiapkan mental dirinya sendiri agar rencana itu bisa berjalan lancar.
Kebahagiaan Elisa pun datang dari ketidakterdugaannya jika solusi itu justru datang dari Erna, kakaknya. Harus diakui sudah cukup lama hubunagan Elisa dengan Erna tidak baik-baik saja. Mereka relatif jarang komunikasi apalagi berjumpa. Lebih tepatnya semenjak Elisa mempunyai anak pertama. Ditopang dengan kesibukan Erna yang karirnya terus meningkat, sehingga nyaris tak punya banyak waktu buat keluarga besarnya, terutama dengan Elisa yang tinggal di kota berbeda.
‘Terima kasih Kak Erna,’ ucap Elisa sambil bangkit dan tertawa riang dalam hatinya.
Dia bersumpah akan memperbaiki hubungannya dengan kakaknya. Andai Erna selalu sibuk dengan kegiatannya, mungkin seharusnya dia yang mendatanginya. Atau merencanakan wisata bersama. Elisa bahkan tidak terlalu kenal dengan suami Erna yang kedua, karena suami pertamanya kabur entah kemana.
Elisa tersenyum-senyum sendiri membayangkan rencananya berjalan dengan mulus, dan hubungannya dengan Erna pun kembali terjalin indah seperti masa-masa kecil dahulu. Elisa pun segera pergi tidur dengan perasaan tidak sabar menunggu datangannya hari pembalasan buat Evelyn dan hari kemenangan untuk dirinya. Namun sebelum masuk ke kamarnya, dia membersihkan kembali rumahnya dari serpihan beling-beling asbak, piring dan gelas yang tadi dihancurkannya.
‘Adik angkat adalah maut, mungkin ada benarnya juga,’ batin Elisa.
^*^
Pagi harinya, Elisa bangun dengan perasaan lega. Dia meregangkan tubuhnya dan menghela napas sejenak sebelum turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Elisa lalu pergi menuju ke dapur, dilihatnya Ronald sudah berpakaian lengkap, siap untuk pergi ke kantornya juga Ravatar sudah siap berangkat sekolah. Sementara Jeany sedang bersama Yati, sang baby sitter.
Tak lama kemudian Revatar dianterin sama sopir ke sekolahnya, sementara Ronald sedang duduk di meja makan sambil membaca koran pagi, menyeruput secangkir kopi hangat dan sesekali membuka ponselnya. Elisa lalu duduk di hadapan Ronald. Sesaat hawa dingin yang terasa cukup menekan karena mereka berdua saling terdiam tanpa bicara sebelum akhirnya Ronald mulai angkat bicara.
“El, bagaimana keputusan kamu soal pernikahan aku dan Evelyn?” tanya Ronald langsung pada pokok permasalahan.
Begitu mendengar pertanyaan Ronald, segera darah Elisa kembali naik ke ubun-ubun melihat bagaimana suaminya itu sangat tergila-gila pada Evelyn. Elisa nyaris mengamuk kembali, namun dia teringat nasihat kakaknya semalam. Elisa pun berusaha menjaga emosinya dan bersikap seolah dia pasrah dengan pernikahan suaminya itu. Bagaimanapun agar rencananya berhasil, bisa membalaskan dendam pada Evelyn bahkan sebelum dia resmi dinikahi suaminya.
“Sudahlah Mas, kalau itu memang keinginanmu dan tak bisa dirubah lagi, aku sebagai istri hanya bisa pasrah dan mengikuti semuanya,” tutur Elisa dengan nada lirih yang dibuat-buat.
Ronald langsung tersenyum sumringah begitu mendengar perkataan Elisa itu. Walau dalam hatinya ada sedikit kebingungan dengan sikap Elisa yang berubah drastis dibandingkan tadi malam.
“Kamu sudah yakin, El?” tanya Ronald sedikit keheranan.
“Iya Mas. Kemarin aku sudah bicara dan dinasehati oleh Kak Erna. Memang sebagai istri, aku harus membuat suamiku bahagia. Karena aku mau dirimu bahagia, aku rela kalau kamu mau memperistri Evelyn. Lagi pula perkataan Mas Ronald kemarin memang benar, Evelyn bukan orang asing bagi kita, aku kenal baik dengan Evelyn, makanya aku setuju,” kilah Elisa.
“El, aku benar-benar bahagia, akhirnya kamu mau mengerti juga perasaan suamimu ini.” Ronald tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lagi.
“Tapi Mas Ronald harus berjanji kalau kamu bisa membagi kasih sayang dengan kami secara adil dan berimbang. Terus, jangan lupakan juga anak-anak kita. Mereka tidak boleh menjadi korban akibat pernikahan yang kedua papanya.” Elisa menunduk, berpura-pura sedih dan pasrah.
“Iya, pasti! Kamu kan juga istriku, El? Bagaimana mungkin aku melupakan kamu? Terlebih lagi dengan anak-anak kita. Kamu, Evelyn, Ravatar dan Jeany tidak mungkin aku lupakan!” ujar Ronald.
Elisa merasa lega. Setidaknya Ronald dapat masuk dalam perangkap lebih mudah dari yang dibayangkannya tadi malam. Sekarang Elisa hanya perlu mengatur agar dia benar-benar ikut terlibat dalam acara pernikahan suaminya dengan calon madunya itu.
“Mas Ronald, kalau boleh, aku juga mau ikut membantu acara pernikahan kalian nanti,” ucap Elisa.
“Boleh saja. Tapi kenapa kamu juga mau ikut membantu? Sebenarnya kita sudah merencanakan kalau kamu tidak perlu ikut. Kata Evelyn tidak enak kalau kamu ikut repot, makanya dia mau berusaha sendiri,” ucap Ronald agak penasaran.
“Sudah tenang saja, Mas. Bagaimana pun Evelyn itu adik angkatku, Mas tahu sendiri kalau aku hampir menganggap Evelyn sebagai adik kandungk. Tentu saja aku dan seluruh keluarga besar harus ikut membantu kalian,” dalih Elisa.
“Kamu tidak repot nantinya?” tanya Ronald lagi, dan Elisa hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Ronald dan tersenyum.
“Syukurlah, El. Aku benar-benar senang punya istri yang pengertian seperti kamu,” puji Ronald.
“Iya, Mas,” jawab Elsa samnbil menunduk.
“Ya, mungkin kamu nanti bisa membantu Evelyn untuk mempersiapkan dirinya. Kamu kan sudah pernah menikah, mungkin bisa mengajari Evelyn atau membantunya mempersiapkan dirinya.” Wajah Ronald pun semakin semringah.
“Iya Mas, nanti aku juga akan datang menemui Evelyn di rumahnya, dan bicara baik-baik, aku harap sih dianter sama Mas Ronald.” Elisa kembali menatap wajah suaminya.
“Oh iya, tapi sepertinya minggu-minggu ini tidak bisa. Soalnya Pak Antoni, sedang cuti. Aku harus menyelesaikan tugas-tugasku, juga tugas-tugas Pak Anton selama cuti, kurang lebih dua minggu dia akan berada di Singapore, dan jadwal kerja aku pun pastinya berubah, lebih banyak ke luar kota,” jelas Ronald.
“Iya gak apa-apa, Mas. Nanti aja kalau Mas Ronald sudah ada waktu, soalnya memang ini harus kita bicarakan serius enam mata, sebelum hari H pernikahan kalian tiba.”
“Terima kasih, Sayang, atas pengertiannya,” balas Ronald dengan ceria. Dalam hati Elisa jauh lebih ceria dari Ronald.
Sekarang sebagian besar kendali berada di tangan Elisa. Dia tertawa-tawa dalam hati melihat bagaimana gampangnya rencananya berjalan, dan bagaimana semesta seolah mendukungnya. Elisa kembali merasa sebagai ratu drama seperti yang dulu-dulu lagi.
Ronald pun segera berangkat ke kantor, sebelumnya akan mengantarkan Ravatar dulu ke sekolah. Sementara Elisa langsung memberikan perintah kepada Yati untuk mengajak Jeanny keluar atau main ke rumahnya Evelyn. Nanti siang Yati diminta menjemput Ravatar dan membawanya ke rumah Evelyna juga. Elisa sangat yakin jika suaminya bukan sibuk dengan pekerjaannya, tapi ingin bersenang-senang di rumah Evelyn.
‘Silahkan kamu bersenang-senang dulu Anak Panti Sialan! Sebelum hidupmu benar-benar hancur berkeping-keping,’ geram Elisa menahan amarah dan cemburunya.
[Hallo Lis, udah bangun?] sebuah pesan dari Erna, masuk ke nomor Elisa.
[Sudah kak, boleh aku nelpon? Kakak tidak sibuk kan?] balas Elisa.
[Ini lagi meeting, tapi kalau chat masih bisa. Gimana udah bicara belum sama si Ronadl?] Erna selalu sinis pada Ronald, adik iparnya itu, karena pernah ada iniden yang kurang mengenakan di masa lalunya.
[Beres. Semua lancar tanpa ada halangan] Elisa membalas dengan ditambah emotion senyum bahagia.
[Good, Kakak juga sudah ngehubungi Bram, yang akan jadi relawan itu, mungkin nanti siang dia akan menghubungi kamu. Sebaiknya jangan bertemu di rumah. Silakan kalian atur saja janjian di luar. Ingat ya, El, ini harus benar-benar matang perencanaannya, jangan sampai carut marut seperti kasusnya Vina Cirebon, karena yang mengatur skenarionya kurang cerdas.]
[Iya Kak, nanti Bram suruh aja menghubungi aku dulu.]
[Sudah dulu ya, El. Kakak mau presentasi dulu, jangan dibalas]
Hari yang sangat cerah dengan udara yang sangat sejuk. Elisa memanfaatkan keberpihakkan alam dengan berkebun. Merawat aneka tanaman bunga kesayangannya yang sebagian daun dan tangkainya mulai menua dan kuning.
“Selamat pagi,” Elisa menjawab panggilan masuk dari nomor tak dikenal, dia menduga itu nomor seseorang yang akan menjadi sukarelawannya.
“Selamat pagi. Benar ini dengan adiknya Tante Erna?” jawab orang di seberang telpon.
“Benar Bang, saya Elisa. Ini betul Bang Bram?” tanya Elsia antusias.
“Salam kenal dengan saya, Bram. Saya menapat info dari Tante Erna kalau Tante Elisa sedang butuh jasa saya. kira-kira seperti apa ya pekerjaannya?” tanya lelaki yang mengaku Bram itu penasaran.
“Oh, Kak Erna belum menjelaskan ya?” Elisa balik bertanya.
“Belum.” Bram menjawab singkat.
“Oke kalau begitu kita harus bertemu. Kapan Bang Bram bisa ke Bogor?”
“Bagaimana kalau besok atau lusa, soalnya hari ini saya masih di Semarang.”
“Boleh Bang. Nanti kasih kabar lagi aja kalau sudah siap bertemu. Saya juga banyak waktu kok.”
“Siap. Terima kasih, Tante. Selamat siang!”
“Selamat siang, sampai jumpa nanti ya, Bang Bram.”
Elisa kembali tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Ternyata semesta benar-benar mendukung segala renacanya. Dia pun lantas melanjutkan aktivitas berkebunnya dengan senang hati.
[Lis, hari ini aku mendadak harus dinas ke Bandung, mungkin agak lama, sekitar lima hari atau seminggu] Tak lama kemudian masuk juga pesan ke ponsel Elisa dari suaminya.
[Iya Mas, hati-hati ya. Kalau ada waktu coba sekalian ketemu sama Kak Erna] balas Elisa sambil tersenyum. Erna tinggal di Bandung.
[Iya gimana nanti aja. Kalau kamu sibuk atau banyak kegiatan di luar, sebaiknya Ravatar dan Jeany dititipkan aja di rumah Evelyn. Dia bilang mau libur, kebetulan cuti dia belum diambil dalam setahun terkahir. Katanya sih mau jalan-jalan juga, biar aja mereka liburan bareng, kalau perlu sekalian aja sama Bi Yati]
[Iya Mas, gampang itu, nanti aku atur sama Evelyn. Jangan lupa ya, kalau ketemu Kak Erna, sampaikan salam, kalau dia ada waktu, ajak sekalian ke sini, Mas. Aku udah lama juga gak ketemu dia.]
[Kak Erna kan orang sibuk. Mana bisa main ke sini. Nanti aja kamu main ke Bandung kalau sudah ada waktu.]
Hati Elisa makin berbunga-bunga, ini kesempatan emas yang tak pernah diduga-duga sebelumnya. Suaminya akan berdinas cukup lama, sehingga bisa lebih matang merencanakan segalanya.
‘Inilah kalau istri solehah yang dizolimi, membuat perhitungan. Semuanya serba dimudahkan, hehehe,’ batin Elisa penuh kebanggaan.
^*^