Bab 1

Seorang pemuda masih asyik meringkuk dibalik selimut tebalnya. Jam menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit namun sepertinya ia masih asik dengan mimpi indahnya.

Tok tok tok

"Yon, bangun Nak, sekolah." Panggil sang Mama dibalik pintu.

Hening.

Tak ada jawaban.

"Euy Deon bangun!" Sang Mama semakin mengetok keras. Geram dengan putranya, Mama pun mengambil kunci cadangan kamar Deon kemudian membuka paksa.

Ceklekk

Mama menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kamar Deon yang masih gelap. Tungkainya menuju jendela kemudian menyingkap tirai gorden.

"Eughh, siapa sih yang gangguin kencan gue sama Jisoo." Pemuda itu mengerjapkan matanya tatkala sinar mentari menembus retina sang empu. Menggerutu pelan karena mimpi indahnya terusik.

"Jangan kebanyakan halu bujang. Bangun, ini bentar lagi kamu telat!" Setelah mengumpulkan nafas, Mama Deon berteriak keras di depan telinga anaknya. Deon tersentak kaget seraya melebarkan bola matanya.

"Astaghfirullah iya Ma iyaa ini mau mandi. Masih pagi-pagi udah ngegas aja Mamaku ini," gerutu Deon. Tak urung kakinya melangkah menuju kamar mandi.

"Baru hari pertama udah telat, gimana sih, Yon!" Omel Mama yang masih bisa didengar Deon dibalik kamar mandi. Sedang Deon hanya memutar bola matanya malas.

----

"Sepuluh menit lagi jam 7 pas. Gilaa untung gak telat gue." Lelaki yang berseragam putih abu-abu itu terlihat kelelahan karena berlari hingga akhirnya  sampai di depan gerbang sekolah barunya.

"Hfff Pak, saya belum terlambat kan?" Tanyanya pada security.

"Belum, berapa menit lagi bel. Kamu cepetan berbaris sana!" Ucap security yang ber-name tag Anton itu."Oke, Pak. Thankies yo Pak Bro," setelah say-bye dengan pak security, lelaki itu pun menuju lapangan dan ikut berbaris.

Karena hampir telat, dia berada di barisan mbelakang. Cowok itu mengibas-ibaskan seragamnya karena gerah. Saat menoleh ke samping, tak sengaja dia melihat seorang gadis yang sibuk memperhatikan guru yang berpidato. Tersenyum manis, langsung saja Deon Arkayuda memamerkan kharismanya.

"Hey cewek, nama lo siapa? Kenalin nama gue Deon Arkayuda, panggil aja Deon" Deon mengulurkan tangannya sambil senyum-senyum namun tidak direspon sama sekali. Bahkan memandang ke arah Deon pun tidak berminat.

" Elah jutek amat. Emang gue kurang ganteng apa sampe lo gak mau liat," gerutunya. Masih tidak direspon, Deon greget sendiri sama cewek disebelahnya.

"Heh, nama lo siapa sih? Gue tuh cuma pengen kenalan aja bukannya mau ngapa-ngapain lo jadi lo gak usah takut karena gue bukan penjahat tapi gue tampan dan baik hati," cerocosnya dengan suara yang agak meninggi hingga kini mereka menjadi pusat perhatian. Cewek itu pun menatapnya tajam kemudian menundukkan kepalanya, dia sangat tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.

"Heh kamu yang di barisan kedua paling belakang. Maju ke depan!" Ucap Ibu Lusi, guru yang tadi berpidato.

"Saya Bu?" Tanya Deon polos.

"Memangnya siapa lagi? Kalau guru sedang berbicara jangan ikut-ikutan bercerita juga! Itu sangat tidak sopan. Maju kamu!"  Dengan santainya Deon berjalan ke depan

"Kamu berdiri disitu sampai upacara penyambutan selesai." Deon hanya mengangguk pasrah, semua pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.

"Sial amat gue, hari pertama jadi anak SMA aja udah dihukum. Ini semua gara-gara tuh cewek, untung cantik. Kalo nggak, udah gue cincang lu" gerutunya dalam hati.

Bab 2

Proses belajar mengajar tahun ajaran baru dimulai, dimana banyak wajah-wajah baru di SMA Paffela. Siswa siswi junior saling berkenalan satu sama lain.

Tapi tidak dengan gadis dingin tak tersentuh itu. Namanya Meira Arkayyana, cewek introvert yang tak pandai bergaul. Sejak pertama masuk sekolah ia tak mempunyai teman satu pun. Hingga pertama kali masuk kelas ia memilih duduk sendiri di bangku pojok belakang. Keadaan seperti ini tidak membuat Meira kesepian. Dengan begini, ia merasa tenang. Tak ada pengganggu, pikirnya.

Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa siswi masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing.

Dubrakkk

Dorongan pintu yg keras menyita perhatian seisi kelas. Mata mereka berpusat pada cowok di depan pintu yang memasang wajah tanpa dosanya. Namanya Deon Arkayuda, cowok ekstrovert yg tidak bisa diam, usil, dan petakilan. Deon sengaja mencuri perhatian dengan membanting pintu kelas.

"Apa lo semua liat-liat?Terpesona heh!" Deon berucap dengan songongnya. Semua memandang sinis ke arahnya.

"Songong banget sih, untung ganteng. Kalo gak udah gue ulek lu," ucap Kate

Dengan pdnya Deon menjawab ,"emang ganteng," semua yang ada disana menyorakinya. Deon ini percaya dirinya sudah overload ternyata.

Pemuda itu mengangkat bahunya acuh, resiko jadi orang ganteng tuh dimana-mana pasti jadi pusat perhatian. Matanya menyusuri kelas mencari tempat yang kosong.

Deon mendengus, semua bangku penuh, hanya tersisa satu bangku di bagian pojok belakang, yang disebelahnya diduduki seorang cewek yang sedang fokus membaca novel. Tak peduli dengan kegaduhan yang diciptakan olehnya tadi.

Matanya melihat semua meja. Rata-rata perempuan duduk dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki.

"Masa cuma gue doang yang duduk sama cewek? Ogah ah," batinnya. Tak sengaja ia melihat satu meja yang diduduki oleh sepasang berbeda gender itu.

"Woi lo pindah disana . Gue duduk sama dia. Cuma lo doang cewek yang duduk sama cowok. Ke belakang sana duduk sesama cewek!" Suruhnya.

"Apa-apaan lo nyuruh-nyuruh. Dia cewek gue, jadi biarin dia disini. Lagian gue ogah ngegay duduk sama lo," bukan ceweknya yang menyahut, tapi cowoknya yang bernama Levin.

Sheina, cewek Levin tersenyum mengejek ke arah Deon.

Deon memandang sinis ke arah mereka. "Dih, bucin lo," sahutnya

"Sirik lo jones!" Balas Levin dan Sheina kompak

"Bacot lo both." Deon berjalan kesal ke arah bangku pojok belakang. Tak ada pilihan lain, hanya tempat di samping cewek itu yang kosong.

Deon membanting tasnya kesal ke meja membuat Meira yang sedang membaca tersentak. Meira mendongak dan menatap Deon tajam. Deon menatap balik Meira.

"Heh lo cewek yang buat gue tadi dihukum kan?" Ucapnya teriak. Meira memasang wajah bingung. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.

"Aduh gak usah pura-pura gak tau. Karena lo udah buat gue dihukum, lo juga harus dihukum!"

"Apaan sih" jawab Meira ketus.

"Apaan apaan! Lo harus dihukum pokoknya. Hukumannya gue mau lo jadi teman gue dan duduk sama gue terus. Gampang kan?"

"Gue gak mau," Deon terlihat kesal. "Gak bisa gitu dong, lo harus tanggung jawab atas perbuatan lo. Nama lo siapa? Gue maksa ini!" Meira tetap tak peduli. Tak sengaja Deon melihat name tag Meira.

"Meira Arkayyana, oh nama lo Meira? Gue udah tau wlek," ucapnya girang. Meira menatap Deon aneh. "Cowok freak," batinnya. Kemudian dia kembali membaca novelnya.

"Jangan cuek cuek napa jadi cewek. Cuma lo nih cewek yang nolak pesona gue, di luar sana yang mau sama gue antri kek mau dapat sembako," cerocosnya namun tak dipedulikan Meira.

"Woii temenin gue ngobrol dong. Masa novel lebih menarik," ucapnya mengganggu Meira.

"Guys gantengan mana gue atau novel?" Tanyanya ke seisi kelas.

"Gantengan cowok fiksi di dalam novel sih," sahut mereka. Deon mendengus sebal.

"Dengar ya, kalian semua stress. Masa muji-muji cowok fiksi yang jelas-jelas gak nyata itu, mana halu pengen jadi istrinya lagi. Kenapa gak realistis aja gitu. Misalnya suka sama gue yang berdiri nyata di depan kalian ini. Udah ganteng, baik, sholeh, kaya raya dan tidak sombong pula," ujar Deon sombong sembari merapihkan kerah bajunya yang sama sekali tidak rapih itu.

"Bentar bro, lo udah gak tertolong. Saking pd-nya gue sampai mau gumoh,"

"Ya gitu, ciri-ciri orang yang menolak kenyataan gini nih," sindir Deon. Yang disindir hanya berdecih sinis.

"Udah woy, gak usah debat. Orang ganteng, soleh, tajir tuh diakui, bukan mengakui. Diem ya Deon, gak usah pancing keributan lagi," final Levin frustasi. Deon menatap Levin sinis, agaknya pemuda itu hendak mengibarkan bendera perang.

"Ekhem." kelas yang tadinya ribut menjadi hening saat ada guru yang masuk. Sesaat guru sedang menjelaskan mengenai sekolah, karena hari pertama masuk sekolah belum dikasih materi. Masih pengenalan lingkungan sekolah. Deon tak hentinya mengganggu Meira. Mengajaknya ngobrol terus menerus meskipun tidak direspon.

Lama-lama Meira merasa risih, hingga menginjak keras kaki Deon. "Arghh" Deon berteriak. Bu Lina yang sedang menjelaskan menatap ke arah bangku Deon dan Meira.

"Deon Arkayuda, ada apa?"

"Ehmm nggak Bu, tadi digigit semut," jawabnya sambil nyengir.

"Digigit semut aja sampe teriak, lemah. Cowok bukan sih? Udah tenang! Saya mau menjelaskan lagi."

"Buset gak guru, gak murid-murid disini mulutnya pada pedas ya. Sabarkanlah Deon ya Tuhan semoga tetap waras sampai lulus, aamiin," gerutu serta harapannya dalam hati.

Bab 3

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

"Bodo amat wlekk" Alea menjulurkan lidahnya mengejek ke Deon. Dengan kesal Deon berjalan keluar kelas.

Seisi kelas menggeleng-geleng melihat sepasang anak manusia yang ribut tadi. Nambah lagi si Lea biang rusuh, Deon aja gak habis-habis. Makin ribet dah kalo ada mereka berdua.

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

"Bodo amat wlekk" Alea menjulurkan lidahnya mengejek ke Deon. Dengan kesal Deon berjalan keluar kelas.

Seisi kelas menggeleng-geleng melihat sepasang anak manusia yang ribut tadi. Nambah lagi si Lea biang rusuh, Deon aja gak habis-habis. Makin ribet dah kalo ada mereka berdua.

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED