"Aku akan menikah."
Untuk kali pertama, aku membenci kalimat yang keluar dari mulutnya. Dengan tatapannya yang teduh, dia menyodorkan sebuah undangan pernikahan bersampul biru laut itu padaku.
Tanganku bergetar saat menerimanya. Tanpa perlu aku beritahu pun, rasanya semua orang tahu kalau aku sangat kaget sekarang.
Siapa yang tidak kaget menerima undangan dari seseorang yang kita harapkan menjadi masa depan kita sendiri?
"Aku tahu ini terdengar tiba-tiba. Aku tahu kamu pasti kaget. Tapi aku benar-benar nggak punya pilihan lain selain nurutin maunya orang tua aku," ucapnya sambil sesekali menghela nafas. Aku tahu ini pasti sama beratnya untuknya.
"Kamu boleh marah sama aku, Zah. Bahkan kamu boleh pukul aku sekarang," sambungnya lagi dengan suara yang terdengar bergetar.
Aku masih diam. Aku berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Aku tak ingin tangisanku kian membebaninya.
Kuberanikan diri menatap matanya, lalu tersenyum. Walau sejujurnya kedua kelopak mataku mulai menghangat, lantaran air mata itu sudah mendesak untuk keluar.
"It's okay. Aku yakin i-ini yang terbaik buat kita," ujarku dengan suara bergetar pula. Rasanya sakit. Sangat sakit.
"Lagipula, ini nggak tiba-tiba Lukas. Soal perjodohan kamu dan keseriusan kedua orang tua kamu dengan niat mereka, kita sudah sama-sama tahu sejak tahun lalukan?"
Dia kini hanya memilih diam dan menatapku. Suasana angin malam di pesisir pantai malam ini, kian menambah sendu suasana diantara kami.
"Jadi, ini nggak tiba-tiba sama sekali."
"Maafin aku yang nggak bisa berbuat apa-apa sama hubungan kita."
"No. Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Nggak ada yang salah dengan nurutin kemauan orang tua, Lukas. Apalagi niat mereka baik." Aku harus tetap terlihat tegar, walau pada kenyataannya sangat sulit.
"..."
"A-aku yang salah, karena nggak tahu diri sejak awal. Harusnya aku nggak di sini sejak dengar kabar perjodohan kamu."
"Hei...kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Aku yang minta kamu untuk tetap nemenin aku," kata Lukas kian erat menggenggam tanganku.
"Sejak awal memang aku yang salah Lukas. Aku terlalu pengecut karena nggak bisa memperjuangkan kamu di depan orang tua aku sendiri."
"Zah...no. Kamu udah ngelakuin yang kamu bisa. Tapi memang jalannya sulit buat kita."
Air mataku mulai menetes. Aku tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menangis. Rasanya terlalu sakit karena harus terpisah seperti ini. Baik aku atau pun Lukas, tak akan ada yang bisa menentang takdir.
"Maafin aku, Lukas. Maaf karena aku udah terlalu banyak ngebuang waktu kamu."
"No. Aku bahagia bisa kenal kamu. Tiga tahun sama kamu, salah satu momen terbaik dalam hidup aku."
Tangisanku kian pecah. Lukas menarikku dalam pelukannya erat, mencoba menenangkanku.
Aku tahu, ini akan jadi hari terakhir kami bersama. Aku akan kehilangan Lukas.
-----
Dan...di sinilah aku sekarang, menyaksikan dari jauh betapa meriahnya resepsi pernikahan Lukas di ballroom salah satu hotel kenamaan Ibu kota.
Lukas bukannya tak mau mengundangku. Hanya saja dia tak ingin aku semakin terluka melihatnya bersama sang Istri di pelaminan. Lagipula, dia pasti tahu aku akan menolak untuk hadir.
Lalu kenapa aku ada di sini sekarang? Berdiri seperti orang bodoh di depan pintu masuk. Entahlah...aku hanya ingin melihatnya untuk kali terakhir sebagai orang yang mencintainya karena setelah ini aku harus terpaksa mengikhlaskannya.
"Zahra," panggil seseorang memecah lamunanku.
Aku bergegas mengusap air mataku yang sempat turun membasahi pipiku. "Oh, hai Gita."
Gita itu salah satu rekanku di kantor. Kami memang tidak begitu dekat, tapi dia sedikit banyak tahu soal Aku dan Lukas.
"Kamu nggak masuk?" tanya Gita hati-hati, mungkin dia khawatir pertanyaannya akan menyinggung perasaanku.
Aku menggeleng kepala pelan sambil tersenyum tipis,"Nggak. Aku cuman mampir sebentar. Kamu sendiri nggak masuk?"
Gita memandangi sebentar ke arah ruangan penuh dekorasi itu, kemudian menggeleng cepat."Kayaknya nggak deh. Lagian ke sini juga nemenin sepupu doank sih, kebetulan dia kenalannya mempelai wanita."
Aku mengangguk tanda mengerti.
"Sambil nunggu sepupu aku, mending kita ke coffeshop dekat sini aja. Gimana?"
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba Gita begitu akrab denganku. Apa mukaku tampak begitu menyedihkan sekarang hingga butuh di hibur dan ditemani dengan secangkir kopi? May be...
***
Setibanya di coffeeshop, setelah order dan menerima pesanan kami memilih duduk di meja paling pojok persis di depan jendela. Hubungan kami yang tidak begitu dekat membuatku sedikit canggung untuk memulai pembicaraan apalagi mencari topik.
“Pasti berat banget ya, Zah?” tanya Gita tiba-tiba memecah lamunanku dan membuatku sedikit bingung.
“Soal apa?” tanyaku dengan muka cengo. Aku mendadak lemot.
Gita tersenyum kecil. Semoga saja itu bukan senyum meledek karena aku tampak seperti orang begs' tadi.
“Kamu dan…Lukas," jawab Gita tetap yang selalu hati-hati dalam berbicara, khawatir menyinggungku.
“Oh…ya. Lumayan berat. Tapi mungkin ini yang terbaik. Mau itu buat aku ataupun Lukas.” Aku mencoba jujur dengan perasaan aku sendiri, walau sebenarnya aku bukan tipe orang yang nyaman bercerita dengan siapapun.
“Aku juga pernah ada di posisi kamu. Dan ngeliat kamu sekarang, ternyata kamu jauh lebih kuat daripada aku. Percaya atau nggak, dulu aku sampe ngurung diri seminggu di kamar. Ya…seterpuruk itu.”
Aku memilih diam mendengarkan cerita Gita, atau lebih tepatnya curahan hati. Jujur saja, aku merasa sedikit kaget juga, karena tak menyangka bahwa Gita punya kisah yang sama denganku.
Sungguh agak tak biasa rasanya, Gita yang tiba-tiba akrab denganku, lalu Gita yang dengan santainya bercerita padaku. Ya…kita tidak sedekat itu sebenarnya. Entahlah, mungkin karena kita mengalami nasib yang sama. Yup, sama-sama di tinggal nikah.
“Lalu satu lagi, kamu sudah ikhlas? Rela?” Lagi-lagi pertanyaan Gita sukses membuatku terdiam sejenak. “Yang ada disana sekarang ternyata bukan kamu melainkan orang lain,”sambung Gita lagi, kini dengan nada suara yang lebih santai.
Aku tersenyum kecil sambil meneguk kopiku sedikit, lalu kembali meletakkan cangkirnya di atas meja." Memangnya aku punya pilihan lain?"
Gita hanya tersenyum mendengar jawabanku. Setelahnya kami terus mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari masalah pekerjaan, hungga rumor yang sedang hangat di bicarakan di kantor.
Lagipula tak ada gunanya membicarakan Lukas atau pun masa lalu Gita lagi. Semuanya sudah berlalu. Setiap orang juga sudah punya kehidupannya masing-masing dan kebahagiaannya sendiri.
Berpisah dari Lukas memang cukup berat bagiku, tapi akan lebih berat lagi jika kami terus memaksakan hubungan yang tak mungkin mendapat restu itu. Semakin di pertahankan kita akan saling melukai satu sama lain.
Dan ya, berbahagialah Lukas. Aku juga akan menciptakan kebahagiaan aku sendiri.
***
Siang ini, aku masih di sibukkan dengan pekerjaan di kantor. Bahkan aku seakan tak punya waktu untuk sekadar makan siang. Yup…biasalah, ini akhir bulan dan pekerjaan sebagai admin tentu lebih banyak dari biasanya. Ada begitu banyak data yang harus di rekap dan lain-lain.
Namun di sela kesibukan itu tiba-tiba aku mendapat satu pesan chat dari sahabatku.
-Riska
‘Lana, kayaknya udah nggak ada gunanya kamu mempertahankan cowok gamon itu. Udah berapa kali dia ketahuan begini, tapi di ulangin terus. Kamu nggak capek apa?’
Chat itu masuk bersamaan dengan foto kekasihku dengan seorang wanita di cafe.
Untuk kesekian kalinya, Kenzo kedapatan oleh temanku tengah bersama mantannya. Dan percaya atau tidak, tadi pagi dia mengaku sedang sakit, hingga tak bisa menjemputku. Ternyata itu kebohongan yang dia buat untuk kesekian kalinya. Dan lucunya, dia punya banyak sekali waktu, dan kesehatan yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama perempuan itu.
Huft…kepalaku yang tadinya pening karena pekerjaan yang menumpuk, kini semakin bertambah pening. Kenzo sungguh kelewatan. Lihat saja, aku tak akan diam lagi kali ini.
***
Sore harinya, entah ada angin apa laki-laki itu tiba-tiba datang menjemputku tanpa perlu aku minta. Senyumnya tampak semringah saat melihatku. Ahh…entahlah, aku nyaris tak bisa membedakan senyumnya kali ini karena memang senang melihatku atau karena hatinya sedang berbunga-bunga lantaran sudah menghabiskan waktu seharian bersama sang mantan.
“Kamu kenapa ke sini?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Jemput kamulah. Apa lagi?” sahutnya masih dengan senyum lebarnya itu. Biasanya aku senang melihatnya tersenyum riang seperti itu, tapi kali ini aku muak. Sungguh.
“Tumben banget. Biasanya kamu nggak pernah ke sini kalau nggak aku minta.”
“Ya kan biar surprise. Lagian udah lama kita nggak keliling kota sore-sore naik skuter aku ini.”
“Surprise, atau kamu kebetulan aja habis ketemu orang di dekat sini?” tanyaku mencoba menyindir dengan halus.
“Ya nggak lah, aku emang cuman mau jemput kamu."
Ok, kali ini dia kembali sukses membuat alasan menutupi kebohongannya. Jika tak ada laporan dari Riska mungkin aku juga akan tertipu.
“Aku capek. Aku mau pulang aja,” ucapku yang sudah tidak mood menghabiskan waktu terlalu banyak dengannya.
Dia diam sejenak, mungkin dia menyadari perubahan suasana hatiku hari ini. Walau sering menipuku, Kenzo itu cukup peka dengan perasaanku. Sayangnya dia tidak bisa menjaga baik-baik perasaanku.
Kamipun pulang dengan mengendarai skuter hitam miliknya. Sepanjang perjalanan aku memilih bungkam, sekalipun bicara aku hanya akan menjawab dengan 3 kata. Iya, tidak, dan entahlah. Mungkin Kenzo akan bosan dengan jawabanku. Tapi percayalah itu akan lebih baik untukmu Ken, daripada aku memakimu di sepanjang perjalanan ini.
Akhirnya, kami tiba di rumah. Aku memandanginya sebentar,"Kamu langsung pulang aja, aku mau istirahat jadi nggak bisa nemenin kamu ngobrol kayak biasanya."
Dia diam, namun menatapku heran. Dia pasti sudah bisa menebak kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Masa' bodoh, aku hanya ingin dia pulang saja dulu. Aku sudah tidak ada tenaga untuk memulai pertengkaran hari ini. Tenaga dan pikiranku sudah terkuras habis di kantor tadi.
“Ok. Kamu jangan telat makan.”
Aku mengangguk pelan lalu kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sungguh…tak hanya pikiran dan badan saja yang capek hari ini, tapi hati juga. Huft…
***
Weekend. Waktu yang tepat untuk bersantai ria dan melepaskan penat dari segala macam rutinitas. Namun bukannya bersantai, aku justru memilih menguji kesabaranku dengan mengajak Kenzo bertemu setelah beberapa hari aku bersikap dingin padanya. Dan luar biasanya, bukannya berusaha membujuk dia justru semakin rutin menemui mantannya.
Aku sangat berterima kasih karena dari dulu Riska memang sering datang ke cafe ini untuk bekerja. Yup…temanku itu seorang freelance content writer. Jadi dia bisa menyelesaikan pekerjaannya di mana saja.
Aku sengaja memilih cafe yang sama yang sering di datangi Kenzo bersama mantannya itu. Ya…itung-itung dia peka kenapa aku tiba-tiba mengajaknya bertemu di sini.
“Kamu sebenarnya kenapa?” tanyanya membuka obrolan.
Finally, pertanyaan itu lah yang sudah aku tunggu sejak beberapa hari yang lalu.
“Kamu yang sebenarnya kenapa?” Aku belagak bodoh dan sengaja balik bertanya.
“Aku? Kenapa jadi aku? Kamu sendiri yang beberapa hari ini cuek dan dingin sama aku."
See…dia sadar betul dengan perubahan sikapku, tapi lucunya dia tak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.
“Cafe ini bagus ya, kamu sering ke sini?”
Dia menggeleng dengan wajah serius,"Nggak. Ini malah pertama kalinya aku ke sini."
Aku mengangguk-anggukkan kepala,"Hmmm…pertama kali ya. Berarti, teman aku sering salah lihat donk."
“Maksud kamu?” Kali ini raut wajahnya mulai berubah heran.
Aku diam kali ini, aku mengeluarkan ponselku lalu menunjukkan foto-foto yang di kirim Riska padaku. Dia diam, air mukanya tampak tak tenang. Dia pasti sedang memutar otak untuk mencari alasan paling logis.
“Kamu kan nggak pernah cerita kalau kamu punya kembaran. So…yang ada di foto ini kalau bukan kamu, siapa lagi?”
“Alana, She's just my ex. You know that, right? Dan ki-kita juga ketemu cuman karena dia minta tolong aja sama aku. Bu-buat.”
Aku menghembuskan nafas kasar, aku mulai gerah mendengar segala macam alsannya, "Enough, Ken!!"
Dia diam dengan raut muka panik.
Jujur saja, jika perasaan yang bermain sekarang mungkin aku akan memilih untuk stay. Tapi ternyata logikaku lebih mendominasi di sini. Mungkin karena sudah capek lantaran terus dibohongi.
“Kamu bilang, She's just your ex. Tapi cara kamu memperlakukan dia, tidak seperti status hubungan kalian itu.”
“Please, Lana. Trust me,” mohonnya berharap aku akan mempercayainya.
Apa aku peduli? Ya, sedikit. Tapi…apa aku akan percaya? Of course not. Buang jauh-jauh harapan itu karena aku sudah berhenti mempercayainya.
"Ini bukan kali pertama kamu lebih mementingkan dia ketimbang aku, Ken. Aku capek. Aku ngerasa jadi cewek paling bego' kalau aku tetap percaya sama kamu dan memberi kamu kesempatan lagi dan lagi."
“Lan, aku janji akan berubah setelah ini. Aku akan lebih memprioritaskan kamu.”
Aku terkekeh,"Kamu bercanda? Kamu lupa sudah berapa kali kamu melanggar janji itu?"
“…”
“Come on, Ken. Wake up. Sejak awal, kamu sendiri yang memutuskan buat membuka jalan balik ke masa lalu kamu. Tanpa pernah tahu, aku berjuang sendirian buat masa depan hubungan ini.”
“Lana aku-,”
“Cukup!! Aku nggak akan mau dengar lagi. Silakan balik ke masa lalu kamu dan jangan halangi aku buat ngeraih kebahagiaan aku sendiri.”
Aku memilih pergi setelah mengeluarkan semua uneg-unegku selama 1 tahun belakangan ini.
I'm really sorry Ken. But…I have to say goodbye.
***
Menikah adalah impian semua orang. Dan setiap wanita tentu memiliki pernikahan impian yang ingin dia wujudkan. Menjadi ratu sehari, dengan gaun mewah nan luxury tentu jadi salah satu keinginan besar yang ingin mereka jadikan kenyataan.
Tapi berbeda denganku yang hanya menginginkan akad penuh khidmat di masjid serta acara tasyakuran sederhana saja di rumah. Dan tentu saja keinginanku itu tidak di setujui oleh keluargaku dan keluarga calon suamiku. Pasalnya, Reza, lelaki yang akan menikah denganku itu adalah anak tunggal. Yup...orang tuanya ingin membuat pesta yang mewah untuk pernikahan anaknya.
Lalu aku? Ya...aku hanya bisa menyetujuinya saja. Walau sebenarnya, aku sudah terlalu lelah sekarang karena mengurus semuanya. Mulai dari hunting gedung, fitting baju pengantin, menemui pengurus catering. dan lain-lain.
Mereka menginginkan pernikahan mewah dan tak terlupakan tapi mereka malah meminta aku dan Reza mengurus semuanya sendiri. Aku akan sangat dengan senang hati jika mereka memakai jasa Wedding Organizer saja. Sumpah!
"Kamu kayaknya udah capek banget. Kita pulang aja dulu," ucap Reza yang tengah fokus menyetir.
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan, karena memang aku sudah capek.
"Nggak mau makan dulu? Kamu dari siang belum makan loh.
Aku menggeleng cepat,"Nggak deh ntar di rumah aja."
"Aku beliin roti dulu buat ngeganjel perut, mau?" tanya Reza lagi. Dia memang sangat baik dan seperhatian itu.
Aku kembali mengangguk sambil tersenyum kali ini. Aku senang dengan semua perhatiannya padaku, bahkan hingga hal terkecil sekalipun. Seperti saat ini. Teman-temanku bilang, aku beruntung karena memiliki Reza. Dan semoga saja, Reza juga merasa beruntung karena punya aku.
Setibanya di minimarket, Reza turun dari mobil. Sementara aku memilih tinggal di mobil karena memang kakiku sudah sangat pegal.
Aku mengubah senderan jok depan tempatku duduk, agar aku bisa lebih nyaman. Tapi tiba-tiba mataku teralihkan dengan satu benda kecil yang tergeletak di bawah dasboard mobil tak jauh dari kakiku.
Mataku membulat sempurna saat aku sadar benda kecil apa yang baru saja aku lihat. Sebuah testpack dengan dua garis merah tercetak jelas di sana.
Ini punya siapa? Kenapa bisa ada di mobil Reza? Pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku.
***
Aku tiba di rumah dengan pikiran yang semakin semrawut. Niatnya ingin istirahat tapi pasca penemuanku aku pikiranku malah jadi tak tenang sekarang. Mobil Reza baru saja meluncur meninggalkan pekarangan rumahku, aku memang belum sempat menanyakan perihal testpack tadi padanya. Aku harus menjernihkan pikiranku lebih dulu sebelum aku bertanya detail padanya.
Langlahku berhenti persis di depan teras, saat melihat sahabatku yang sudah menghilang seminggu ini sekarang tiba-tiba saja sudah ada di rumahku. Menyambutku dengan mata sembab dan hidung yang merah.
Sudah seminggu aku tidak mendengar kabar darinya, akhirnya dia muncul tapi dengan keadaan yang tampak tidak baik-baik saja. Tadinya aku ingin memarahinya karena terus mengabaikan chat dan teleponku, tapi melihat kondisinya, aku menjadi kasihan.
"Jenni, kamu kenapa?" Langkahku cepat menghampirinya dan berangsur memeluknya.
"Via... ." Tangisnya kembali pecah.
"Kamu kemana aja? Apa yang terjadi sampe kamu nggak ada kabar seminggu ini?" tanyaku runtun karena memang sangat penasaran. Aku melepas pelukanku dan menatap kedua matanya menuntut sebuah cerita jelas.
"A-aku hamil."
Rasanya bak petir di siang bolong, mendengar sahabatku yang belum menikah ini tiba-tiba saja hamil. Bahkan aku tak pernah mendengar dia dekat dengan laki-laki manapun.
Ahhh...pikiranku menjurus kembali pada testpack yang aku temukan di monil Reza. Mungkinkah? Tidak. Tidak. Aku tidak boleh berpikiran jelek dulu.
"Ceritain sama aku semuanya, Jen."
***
Aku memutuskan untuk membawa Jennie ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah. Di rumahku terlalu banyak orang, ada orang tuaku, saudara-saudaraku serta suami dan anak-anak mereka. Demi menghindari telinga lain mendengar cerita Jenni, akhirnya aku membawanya ke sini. Dan mungkin segelas capucinno bisa menenangkan sedikit pikirannya.
"Sekarang cerita, bagaimana kamu bisa seperti ini? Laki-laki brengsek mana yang ngelakuin itu sama kamu? Kasih tahu aku sekarang."
"Vi...aku bingung harus mulai ceritanya dari mana."
"Just tell me, Jen. Please!!"
Setelah cukup lama membuang waktu, akhirnya Jenni mulai menceritakan semuanya padaku. Aku yang sejak awal mencoba berpikir yang baik-baik saja, akhirnya buyar semua. Aku bahkan kehabisan kata-kata untuk merespon Jenni. Dugaan yang aku pikir salah tadi ternyata benar adanya. Cerita Jenni sungguh mengalahkan dahsyatnya petir di siang bolong. Laki-laki brengsek itu ternyata calon suamiku sendiri, Reza. But how??
"Jadi...testpack ini punya kamu?" tanyaku sambil meletakkan barang temuanku di atas meja dan mendorongnya agar lebih dekat ke arah Jenni.
Jenni mengangguk dengan raut muka bersalah.
"Vi please...maafin aku. Aku khilaf. Aku beneran nyesel," ucap Jenni dengan raut wajah memelas. Aku tahu dia memang sedang menyesali perbuatan kejamnya padaku. Tapi itu tentu tak akan bisa menenangkanku.
"Aku nggak bermaksud nyakitin kamu dan bikin kamu kecewa kayak gini. Sumpah Vi. Aku beneran nyesel," sambungnya lagi kini dengan air mata mengalir. Apa aku peduli dengan tangisannya itu sekarang? No. Tidak sama sekali.
"Udah? Udah selesai bicaranya?" tanyaku setelah sebelumnya menghela nafas panjang, lantaran tak tahan mendengar cerita dan tangis penyesalannya. Sakit hati, kecewa, marah semua campur jadi satu. Bahkan saking sakitnya, air mataku tak mau mengalir sekarang.
"Maafin aku, Vi. Aku juga nggak tahu kalau akhirnya bakal kayak gini. Seandainya aku lebih bisa ngontrol perasaan aku dan nggak egois, semua pasti baik-baik aja."
Aku tersenyum pahit," Kata seandainya kamu itu, udah nggak berlaku lagi sekarang, Jen. It's too late. Dan nggak ada gunanya juga."
"Via, please maafin aku."
"Iya. Aku pasti maafin kamu. Aku pasti maafin sahabat aku yang dengan teganya tidur sama calon suami sahabatnya sendiri dengan alasan KHILAF itu. Aku pasti maafin. Tapi untuk sekarang kayaknya aku belum bisa."
"Vi... ."
"Aku nggak tahu udah berapa lama kalian berhubungan. Aku juga nggak peduli udah berapa kali kalian ngelakuin hal gila itu. Aku cuma mau kalian pergi sejauh-jauhnya dari hidup aku."
"Tapi Vi, Reza bakal marah besar sama aku, kalo sampe pernikahan kalian batal," ucap Jenni lagi sok-sok'an peduli dengan rencana pernikahanku. Padahal dia sendiri yang menghancurkannya.
"Aku. Nggak. Peduli. Aku beneran nggak peduli sekarang. Sama nggak pedulinya kalian dengan perasaan aku, waktu kalian tidur bareng."
"..."
"Kalau kalian benar saling cinta, kalian berdua aja yang nikah. Itu kan yang kalian mau?"
"Nggak gitu, Vi. Itu benaran cinta semalam doank."
"Terserah! Yang pasti jangan pernah temuin aku lagi. Apa pun alasannya."
Aku pergi meninggalkan Jeni, sahabatku sejak SMP yang kini mengkhianatiku. Di balik semua rasa kecewa, rasanya aku lega telah melepaskan semua emosi ini. Termasuk aku lega melepaskan Reza yang ternyata tak sebaik yang aku pikir.
Huft...lebih baik sendiri daripada menghabiskan hidupku dengan orang seperti itu.
***