Bab 2

Aku tahu dia bohong. Untuk seseorang yang ingin balas dendam wajahnya terlalu santai. Aku tidak tahu apa yang ia incar hanya saja jika dia ingin bermain, maka aku akan melayaninya.

Dengan bantuan James, aku bisa sampai di lokasi terakhir mereka terlihat. Hutan belantara menyambut diriku. Hari masih siang, namun matahari sama sekali tidak terlihat.

Kejadian 10 tahun yang lalu masih menyisakan bukti-bukti pertempuran. Jika apa yang di katakan Pak Tua itu soal usaha pemerintah untuk mencari mereka benar-benar dilakukan, seharusnya masih ada tanda-tanda kehadiran manusia di tempat ini. Tapi, ini terlihat seperti tidak pernah ada seseorang di sini seolah-olah tempat ini tak pernah di jamah sejak 10 tahun yang lalu.

Tulang belulang berserakan dimana-dimana. Seharusnya mayat-mayat ini telah di kubur, tapi tidak terlihat demikian. Dan juga semua tulang-tulang ini memiliki tingkat kerusakan yang sama. Dengan kata lain, ini tidak pernah di sentuh sama sekali. Pemerintah tak pernah mengupayakan pencarian.

Namun, ada yang aneh. Tulang-tulang ini lebih kecil untuk seukuran orang dewasa.

BUUGH

''Siapa....kau...''

Sial!

Kesadaranku mulai memudar. Aku benar-benar lengah. Pukulannya terlalu keras.

Aku.....tak bisa melawan.....

.

.

.

.

Samar-samar aku mendengar suara anak-anak.

Perlahan aku membuka mataku. Rasa sakit dari belakang kepalaku masih terasa. Untuk orang normal mungkin sekarang dia akan bangun di alam lain. Sedikit bersyukur bahwa aku bukan orang normal tersebut.

Ini seperti sebuah kamar dan juga aku tidur di atas kasur yang empuk. Cukup nyaman.

''Ah, kau sudah bangun.''

Suaranya mengembalikan kesadaranku seutuhnya.

Tampak seorang gadis cantik berdiri di hadapanku. Ia membawa sepasang pakaian di tangannya.

''Kau pasti punya banyak pertanyaan. Pakailah ini terlebih dahulu. Aku akan menunggu di luar.''

Kurasa aku tidak punya pilihan lain. Saat ini tubuhku hanya berbalutkan perban. Akan sangat aneh jika aku keluar dengan penampilan ini.

''Ikut aku.''

Tempat ini terlihat seperti bangunan klasik. Di sepanjang lorong yang kami lewati aku berpapasan dengan beberapa anak seusiaku. Kurasa aku tahu dimana ini. Takdir benar-benar mempertemukan kami.

''Zero, aku membawanya.''

Aku merasakan sesuatu yang besar dari orang bernama Zero ini. Dia.....di kelilingi oleh bau kematian.

Dengan anggukan kepala, gadis yang bersamaku tadi pergi meninggalkan kami berdua. Kini suasananya lebih mencekam.

2 menit telah berlalu dan gadis di depanku tak membuka suara sama sekali. Kurasa aku akan memulai pembicaan ini.

''Siapa ka-''

''Apa kau melihatnya?''

Dia memotong ucapanku.

''Apa?''

''Tulang-tulang yang berserakan di atas sana.''

''Ya. Ini dimana?''

''Lavianno. Itu adalah nama tempat ini dan berada dibawah tanah.''

Kurasa aku mulai paham kenapa mereka tidak pernah di temukan sejak 10 tahun terakhir ini. Tidak ada yang menyangka bahwa ada bangunan besar di bawah tanah ini. Tapi, dengan kemajuan teknologi saat ini seharusnya tempat ini sudah terdeteksi.

''Jika bukan karena surat ini, kau sudah mati. Berterima kasihlah pada orang yang membawamu."

''Jadi, yang membawaku bukan salah satu dari anggotamu?"

"Bukan. Pagi tadi kau di temukan di depan pintu dengan kepala berdarah. Lalu surat ini ada di sampingmu."

𝘼𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙙𝙞𝙖. 𝙎𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙬𝙪𝙟𝙪𝙙𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙢𝙥𝙞𝙖𝙣𝙢𝙪.

"Impian?"

"Membunuh pemerintah dunia saat ini."

"Kenapa?"

"Tulang- tulang itu adalah milik anak-anak di sini. Dulu, ada sekitar 1000 anak yang bekerja di bawah pemerintah sebagai alat untuk membunuh para pengkhianat, namun setelahnya kami juga di singkirkan oleh mereka. Dari 1000 anak kini yang tersisa hanya 57. Selebihnya telah di bantai. Di tengah pelarian kami, tempat ini ada begitu saja dan kami memutuskan untuk tinggal disini.''

''Ada apa dengan tubuhmu?''

Sekilas dia seperti anak-anak, tapi secara bersamaan dia juga terlalu 'dewasa' untuk seukuran anak-anak.

''Ini adalah hasil dari eksperimen. Seluruh anak-anak disini adalah hasil dari eksperimen gila para ilmuwan pemerintah. Sehebat-hebatnya seseorang akan kalah dengan umur. Inilah hasilnya. Umurku 16 tahun, tapi terlihat seperti umur 6 tahun. Kami tidak mengalami pertumbuhan secara fisik. Tubuh ini akan terus seperti ini hingga kami mati.''

Itu eksperimen yang cukup gila. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang mereka derita selama itu.

''Izinkan aku tinggal disini. Aku akan membalasnya suatu saat nanti.''

''.......''

Zero terdiam sejenak menatap diriku dengan intens. Aku penasaran dengan apa yang dilihat matanya terhadapku.

''Tubuhmu....Perban apa itu?''

''Ini? Aku tidak tahu. Hanya saja aku tidak bisa membukanya. Bukan karena tidak bisa, tapi setiap kali aku ingin membukanya kenangan aneh terlintas di kepalaku dan itu sangat menyakitkan."

''Begitu, ya. Mulai sekarang kau akan tinggal disini. Ini adalah rumahmu. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Jangan pernah mempercayai siapapun yang ada disini bahkan jika itu adalah aku. Percayalah pada darahmu.''

Aku tidak begitu paham dengan apa yang dikatakannya. Bukankah mereka tinggal dalam satu atap lalu kenapa ia perlu meragukan mereka?

''Apa pendapatmu tentang Zero?"

''Seperti seorang pemimpin dan dia memiliki aura yang aneh seperti kematian selalu berusaha menariknya.''

''Hmph....Hanya kau yang berpikiran seperti itu. Bagi anak-anak disini, Zero itu sosok ibu, panutan sekaligus musuh yang perlu dikalahkan.''

''Musuh?''

''Zero adalah yang terkuat. Kekuatan berarti kekuasaan dan kekuasaan.....berarti melihat dunia luar.''

Ekspresinya di penuhi oleh kesedihan yang begitu mendalam.

''Kenapa tidak melihatnya langsung?''

''Yang menentangnya akan di bunuh. Sekalipun kami semua melawannya itu tidak akan cukup. Tapi, terkadang aku melihat duka dimatanya setiap kali ia 'membunuh' mereka. Kurasa ia terus menanggung beban yang sangat berat selama 10 tahun terakhir ini. Karena itu, jika ini adalah takdir, ku mohon......angkatlah beban yang ia pikul.''

''Kenapa kau sangat yakin?''

''Entahlah. Keberadaanmu terasa begitu mencekam. Mungkin saja kau adalah yang 'terpilih'."

''Jangan terlalu berharap. Bisa-bisa kau akan mati jika itu mengecewakanmu.''

''Apa itu lelucon?''

''Tergantung bagaimana kau menanggapinya.''

''Yah, kurasa aku akan menganggapnya sebagai lelucon.''

''Tapi, kau sama sekali tidak tertawa.''

''Timingnya sudah lewat.''

Sekarang kami ada di tengah-tengah ruangan. Anak-anak seumuranku berkumpul dengan titik pusatnya adalah Zero. Kurang lebih ada sekitar 300 anak yang berkumpul dan semuanya memiliki ekspresi yang tak dapat di jelaskan. Beberapa anak memiliki aura yang kuat akan kegelapan dan beberapa lagi aura kehidupan yang sedikit menipis. Tidak ada anak yang normal di-

DEG

Eh?

Apa itu?

Barusan aku merasakan sesuatu yang sangat mengerikan. Jika Zero ditarik oleh kematian, maka dia sebaliknya. Dia... justru berjalan bersama kematian itu sendiri. Auranya terlalu mengerikan.

Hanya sesaat. Setelah itu aura itu menghilang begitu saja seolah-olah tak pernah ada. Kurasa tak ada yang menyadarinya, kecuali aku dan.....

Zero. Apa dia menyadarinya? Aku akan bertanya langsung padanya setelah ini selesai.

''Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan anggota baru. Kuharap kalian tidak mencari masalah dengannya.''

Tatapan penuh tekanan ditujukan padaku. Mungkin aku sudah di benci oleh mereka.

''Zero, dia belum punya nama kan? Bagaimana jika kami bertarung dan aku akan memberikan namaku jika dia menang?''

''Lakukan sesukamu. Siapa pun yang bisa mengalahkannya akan menyandang nama Zero.''

''Wah, serius?''

''Aku akan bertarung.''

''Ini akan menarik.''

Beberapa tanggapan terdengar. Antusias mereka untuk membunuhku semakin meninggi. Ini seperti melemparkan diri kedalam lubang tak berujung.

''Tapi...''

Suasanya kembali hening.

''Yang kalah akan dimasukkan dalam 'ruang isolasi."

Kata 'ruang isolasi' memberikan efek yang sangat besar bagi sebagian anak sehingga membuat suasana menjadi lebih mencekam daripada sebelumnya. Marah, takut, dan trauma bercampur menjadi satu di dalam ekspresi mereka. Kini, ada 2 pilihan yang bisa mereka pilih.

Terkurung seumur hidup di dalam sini atau....

Melawan dengan menghadapi traumanya.

Pilihan yang cukup sulit.

''Aku akan melawannya.''

''Zeta, apa kau yakin?''

''Tentu saja. Aku tidak akan berdiam diri disini seumur hidupku. Aku akan keluar dari sini.''

Tekad yang bagus. Tatapannya terlihat tidak akan goyah akan badai apapun.

''Aku suka semangatmu, tapi maaf saja kau akan kalah. Mundurlah dan matilah disini.'' Aku sedikit serius mengatakannya.

''Sepertinya kau sangat yakin dengan kemampuanmu.''

''Aku sudah memperingatkanmu.''

''Kaulah yang akan mati.''

''Karena kedua pihak setuju maka pertandingan akan dimulai.''

Pertandingan pun dimulai.

***

Zeta melakukan pergerakan terlebih dahulu. Serangan membabi buta ia kerahkan untuk menyerang lawannya.

Ia mengangkat kakinya lalu dengan kecepatan yang luar biasa langsung menghantam sisi kanan wajahnya.

''I-Itu serangan telak. Bagaimana bisa dia...''

Peluang kemenangan yang akan ia raih pupus seketika setelah melihat apa yang terjadi. Serangannya berhasil ditahan oleh bocah itu hanya dengan menggunakan satu tangan saja.

Aksi itu membuat yang lainnya tercengang apalagi itu adalah serangan mematikan yang biasa Zeta gunakan untuk membuat lawannya pingsan seketika. Hingga saat ini hanya ada 10 orang, termasuk dirinya yang bisa menangkis dan menghindari serangan tersebut.

Dengan pertunjukkan itu, nyali mereka mulai menciut.

''Cih. Kalau begitu coba tangkis ini.''

Serangan yang sama kembali ia layangkan dan seperti sebelumnya juga di tangkis.

Seringai aneh muncul di wajah Zeta. Sepertinya ia merencanakan sesuatu.

''Gotcha.''

Kaki kirinya yang ia layangkan seolah berhenti diudara dan dalam sekejap kaki kanannya telah mendarat pada perut bocah itu yang terbuka dengan lebar. Tangannya terlalu fokus melindungi wajahnya sehingga pertahanan di bawah wajahnya menjadi terbuka lebar. Itu adalah gerakan berputar dengan menyembunyikan serangan yang sebenarnya.

Serangan tipuan berhasil mengenai perutnya. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindari cedera parah.

''Terlalu lemah. Apa itu serangan terbaikmu?''

Ucapan itu memprovokasi Zeta sehingga ia maju dengan penuh emosi tanpa menyadari bahwa pertahanannya terbuka dengan lebar. Menyadari bahwa itu adalah kesalahan, ia mencoba membentuk pertahanan, tapi terlambat.

BUGGH

Serangan yang kuat mengenai perutnya. Ia tidak bisa mengelak maupun menangkisnya dan itu membuat darah mengalir keluar dari mulutnya. Kembali serangan kedua di layangkan mengenai tepat dibawah dagunya. Sebelum ia sempat menarik napasnya, serangan ketiga dilancarkan tepat pada area ulu hatinya hingga tembus. Akibatnya Zeta terjatuh dengan bersimbah darah.

''Pertandingan selesai. Bawa dia.''

Tidak ada sorakan ataupun kericuhan yang menemani pertarungan itu. Seolah tidak ada kelanjutan Zeta diseret menuju sebuah ruangan yang tidak pernah dibuka. Sepertinya itu adalah ruang isolasi yang mereka maksudkan. Darahnya membekas di lantai yang putih itu.

''Zero, apa kau yakin mengurungnya di ruangan itu? Kau tahu itu kan-"

''Dia sudah setuju dan itu bukan urusanmu. Kalau kau keberatan maka lawanlah dia.'' Ucap Zero sambil menunjuk anak baru tersebut.

''Tapi, itu terlalu-''

''Kau, mulai sekarang namamu adalah Zeta. Kau adalah bagian dari tempat ini.''

Zero tak menggubris apapun ucapan anak-anak yang lain. Ia menunjukkan sosok yang sangat tegas dan perbedaan tingkat kekuatan mereka. Walau sangat singkat itu tetap memberikan gejolak yang aneh dan dengan demikian anak itu juga memiliki nama untuk ia sandang. Itu memberinya identitas baru sekaligus kehidupan baru.

Namun, kemenangannya menarik perhatian beberapa anak. Lebih dari setengahnya mulai menunjukkan bentuk aslinya.

Bab 3

Dengan kemenangan itu beberapa dari mereka yang menontonnya terlihat tersenyum dengan sangat menyeramkan.

Itu bukanlah bakat yang di dapat hanya dengan mengandalkan eksperimen. Lebih besar dan menyeramkan, itu adalah insting hewan buas untuk memburu mangsanya.

Beberapa tahun terakhir ini tidak pernah ada bakat sealami ini yang mampu menarik perhatian mereka. Ini terlalu menarik dan mendebarkan.

''Sial. Itu sangat indah. Aku jadi ingin merasakan sensasi dari tetesan darahnya~''

''Tenanglah. Jika kita ceroboh Zero bisa menyadari keberadaan kita.''

''Dia benar. Jangan gegabah atau Master akan kecewa.''

Di balik kerumunan itu, beberapa anak mulai berbisik-bisik. Aura mereka berbeda dari yang lain.

''Cih.''

Kemenangan yang ia raih membuat seseorang kesal. Perasaan yang ia tujukan mengarah pada pribadi Zeta yang baru. Itu adalah pandangan penuh kebencian.

''Ada yang ingin melanjutkan pertandingan?''

''......''

''Aku anggap jawabannya tidak.''

Dengan begitu pertandingan pun berakhir.

''Zero, tunggu. Ada yang ingin kutanyakan.''

''Apa?''

''Sebelumnya aku merasakan aura yang sangat mengerikan. Darahku seperti mendidih dan itu.....sangat luar biasa. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.''

''Lalu?''

''Apa kau tahu itu siapa? Aku ingin melawannya. Mungkin aku akan menemukan sesuatu.''

''Sebenarnya apa yang sedang kau cari?''

"Aku tidak paham."

"Semakin aku melihatmu kau seperti sedang tersesat."

Itu bukanlah jawaban yang di inginkannya.

Apa yang sedang ku cari?

Kenapa aku mencarinya?

Pertanyaan itu berputar di atas kepalanya. Semakin ia memikirkannya, kegelapan yang sangat pekat muncul di hadapannya.

''.....eta.''

''Zeta!''

''Ugh. Maaf.''

''Itu salahku. Mengenai seseorang yang kau maksud, aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasakannya. Anak-anak disini tidak sekuat yang kau kira. Itulah kenapa aku menggunakan eksperimen lagi.''

''Jadi, sebelumnya kau pernah melakukannya?''

''Empat tahun yang lalu sebuah penyakit mematikan muncul pada tubuh salah satu anak. Kami tidak punya obat maupun seorang dokter. Aku berusaha semampuku dan takdir berkata lain. Satu per satu anak yang terjangkit meninggal. Ada 79 anak yang meninggal akibat penyakit tersebut.''

''Ditengah kekacauan itu, suara iblis berbisik padaku. 'Bukalah pintu itu dan hidupkan mereka.' Aku kacau dan aku menurutinya. Ternyata isinya adalah alat-alat eksperimen. Mungkin tempat ini dulu digunakan untuk melakukan uji coba pada manusia. Banyak bercak darah yang menempel di dinding dan sudah mengering. Beberapa alatnya masih bisa di gunakan. Dan aku melakukan eksperimen itu dengan di bantu oleh Phi, anak yang selalu ada di dekatku.''

''Dengan menyuntikkan sejumlah virus dan perbaikan pada beberapa bagian tubuh yang rusak, anak-anak yang meninggal dapat hidup kembali. Hanya saja dikarenakan otaknya sudah mati tubuhnya terlihat seperti zombie. Dengan berpatokan pada teori bahwa otak yang masih berfungsi dapat menahan virus tersebut, aku bisa menyempurnakan eksperimenku.''

''Jadi, pada akhirnya kau mencobanya pada anak yang masih hidup?''

''Tidak. Aku menangkap seorang anggota militer yang kebetulan melewati tempat ini. Dan seperti teoriku, dengan otak yang masih berfungsi virus itu sangat ampuh. Dia menjadi seorang zombie, namun tetap memiliki pemikiran sendiri. Tubuh yang kuat dan tidak bisa merasakan sakit, serta kecerdasan yang meningkat adalah senjata yang sangat sempurna.''

''Lalu dimana dia sekarang?''

''Mati. Virusnya semakin kuat dan secara perlahan memakan otaknya. Tubuh itu hanya bertahan selama 3 hari.''

''Pada akhirnya gagal juga.''

''Tidak sepenuhnya. Dengan ruang isolasi mereka lebih bisa dikendalikan secara mental. Yah walaupun itu juga bisa membuat mereka gila secara bersamaan."

''Kau lebih menarik dari yang kuduga.''

''Kuharap itu pujian.''

''Satu lagi. Dari mana datangnya anak-anak yang lain? Seharusnya jumlah kalian tidak sebanyak ini.''

''Sama sepertimu. Mereka berasal dari luar dengan latar belakang yang tidak diketahui.''

''Apa kau yakin diantara mereka tidak ada mata-mata pemerintah?''

''Aku tidak tahu. Jika sudah waktunya mereka pasti akan muncul."

''Kau terlalu optimis. Akan sayang sekali jika sosok sepertimu terkubur ditempat ini.''

''Aku hanya mengikuti arus. Itu saja.''

''Aku tidak bisa memahami dirimu.''

''Dan aku tidak ingin dipahami olehmu.''

Senyuman tipis terpatri diwajah mereka berdua. Hubungan yang tidak menentu terjalin dengan sendirinya. Mereka tidak butuh memahami ataupun dipahami. Cukup dengan percakapan ini mereka bisa saling melindungi punggung masing-masing.

Itu adalah ikatan yang tidak bisa Zeta pahami, namun ia menikmatinya.

'Ini akan semakin sulit untuk di percaya olehnya. Aku harus menyingkirkan anak itu.' Gumam seseorang di balik pintu itu. Tatapan penuh kebencian semakin menguat dari matanya.

''Aku pergi dulu.''

''Ya.''

***

Setelah percakapan selesai aku turun ke bawah menuju kamarku.

''Zeta.''

Seseorang memanggilku.

''Ah, kau...''

''Phi. Itu namaku. Maaf aku terlambat memperkenalkan diriku.''

''Tidak masalah. Lalu ada apa?''

''Ikut aku. Aku akan memperkenalkan tempat ini padamu.''

Kami berkeliling. Suasana hening dan mencekam terasa begitu nyata.

Sepanjang perjalanan, Phi bercerita padaku. Lavianno memiliki nama lain, yaitu Invi Aedificium yang berarti bangunan yang tidak terlihat. Letaknya yang berada jauh didalam tanah sangat sulit terdeteksi apalagi seluruh bangunan dibangun dengan batu sehingga alat pendeteksi logam tidak terlalu berguna.

Kedalamannya berkisar 800 meter hingga 1500 meter. Itu bukan kedalaman yang biasa. Entah bagaimana dan berapa lama serta siapa yang menggalinya tidak ada yang tahu.

Beberapa catatan yang tersisa di perpustakaan menjadi sumber informasi saat ini.

''Ini adalah perpustakaan. Buku yang memuat tentang tempat ini hanya ada 10 buah selebihnya hanya buku kosong saja.''

Untuk sebuah perpustakaan ini cukup besar. Ada sekitar 15 rak besar dengan satu rak memuat 300-400 buku. Hanya saja bukunya kosong tidak ada tulisan sama sekali. Buku tentang Lavianno hanya memiliki 3 lembar yang terisi tiap bukunya.

Ini terlalu aneh. Untuk apa mereka membuat perpustakaan sebesar ini jika isinya adalah buku kosong.

Setelah itu perjalanan berlanjut. Tak ada yang spesial dari tempat ini. Perpustakaan, kamar tidur yang sangat banyak dengan beberapa perlengkapan seadanya, kantin, kebun buatan mereka untuk bertahan hidup, dan yang paling menarik perhatianku adalah ruangan tertutup yang tidak pernah dibuka karena tidak memiliki lubang kunci ataupun gagang pintu seperti pintu pada umumnya. Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk membukanya hanya saja tidak membuahkan hasil. Total ada 24 ruangan tertutup yang masih belum bisa dibuka hingga saat ini.

Pada masing-masing pintu terdapat simbol-simbol aneh. Rasanya aku pernah melihat itu di suatu tempat.

Entahlah. Aku tidak ingat.

Setelah kami menelusurinya, ada 3 pintu yang tidak memiliki simbol dan warna pintunya berbeda dari yang lain. Semua pintu yang terdapat ditempat ini berwarna putih polos, sedangkan ketiga pintu ini berwarna hitam pekat. Teksturnya kasar berbeda dengan yang lain. Ini terlihat seperti-

''Ayo. Kita ke tempat lain.''

Entahlah. Pikiranku seperti melayang.

''Dan ini tempat terakhir. Ini adalah satu-satunya pintu menuju dunia luar. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.''

''Apa maksudmu?''

''Pintu ini tidak lagi terbuka sejak 5 tahun yang lalu. Alat untuk menyangga batunya menghilang dan tertutup permanen. Di satu sisi itu kabar bagus karena dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa menemukan tempat ini. Namun disisi lain, tempat ini juga menjadi kuburan.''

''Tunggu. Jika pintu ini tidak pernah terbuka, lalu bagaimana aku bisa masuk ke tempat ini?'

''Itulah yang di takuti oleh Zero. Mungkin tempat ini bukan tidak bisa ditemukan, tapi sengaja di sembunyikan oleh seseorang. Mungkin juga pintu itu bisa di buka dari luar dan mungkin juga ada yang membukanya dari dalam. Bagaimanapun itu bukan kabar baik. Itulah kenapa ia mengulang eksperimen yang sama dengan metode yang berbeda."

''Lalu menurutmu, apa kali ini eksperimen itu akan berhasil?''

''Tidak. Kebanyakan anak yang masuk ke tempat itu berakhir gila bahkan ada yang mati. Meskipun ada yang selamat butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kewarasannya."

Phi benar. Meskipun memiliki kekuatan yang besar jika mentalmu lemah maka kekuatan itu akan menjadi sia-sia. Tapi, jika efeknya demikian kenapa Zero memutuskan untuk terus melanjutkan eksperimen itu?

''Jika tempat ini memang tertutup, bagaimana kalian bisa tahu perkiraan waktu yang terjadi?"

''Disini ada 5 jam. Satu di aula, di perpustakaan, di depan ruang tertutup, di kamar Zero, dan di ruang eksperimen.''

'' Itu jam yang kalian pasang?''

''Bukan. Itu juga sudah ada sejak dulu. Jamnya masih hidup hingga saat ini."

"Begitu, ya."

Tempat ini benar-benar menyimpan banyak misteri. Jam yang masih berfungsi padahal sudah bertahun-tahun. Tak mungkin baterainya tidak diganti. Apa ada seseorang yang diam-diam mengganti baterainya? Tapi, untuk apa?

''Jujur saja tempat ini sedikit menyeramkan bagiku. Hawanya terlalu dingin.'' Phi menggosok-gosok tubuhnya untuk menghangatkan dirinya.

''Benarkah? Aku justru merasa nyaman disini."

Cukup aneh.

Di sepanjang perjalanan kami, aku sering kali merasa di ikuti dan hawa dingin terasa begitu dekat dengan kulitku. Aku tidak percaya pada hantu, tapi mungkin aku akan mengubahnya. Sosok tidak kasat mata lebih menyeramkan karena tidak bisa di sentuh. Sekalipun aku ingin menyerangnya aku tidak bisa menggapainya. Lebih baik aku melawan 1000 makhluk hidup daripada 1 arwah.

''Phi.''

''Apa?''

''Kenapa kau berbohong?''

''Hah? Apa maksudmu?''

''Sejak awal aku tidak merasakan kejujuran dalam ucapanmu.''

''Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti?''

''Apa kau akan mengkhianati Zero?''

''Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Mengkhianati Zero? Jangan konyol. Zero sangat berarti bagiku. Bagaimana mungkin aku akan mengkhianatinya? Kurasa perjalanan ini kita akhiri saja. Mungkin tempat ini memang ada penghuninya.''

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku dan Phi menghabiskan waktu selama 5 jam untuk berkeliling.

Setelah itu aku kembali ke kamarku. Ada banyak hal yang terus mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tidur.

Terlalu banyak hal aneh ditempat ini baik keberadaannya maupun isinya. Kamar ini juga terlalu bagus untuk tempat yang di tinggal lama. Area ini tidak pernah disentuh oleh siapapun, tapi lihatlah kamarnya sangat rapi. Kasurnya tidak berdebu dan selimutnya juga sangat bersih.

Lantainya juga tidak berdebu sama sekali. Jelas-jelas kamar ini telah di bersihkan sebelumnya, tapi kenapa Phi mengaku bahwa tempat ini tidak pernah di datangi?

Jadi, dia memang berbo-

Tok... Tok....

Ketukan pintu dimalam hari? Dan juga hanya ada aku di area ini.

Dengan sigap aku membuka pintu, tapi aku tidak melihat siapa-siapa.

Hanya ada lorong gelap tidak berujung yang terlihat. Tak ada lampu penerangan yang menyala.

Bulu kuduk ku mulai berdiri. Mungkinkah ini penghuni yang selalu mengawasiku?

Kurasa aku akan meminta Zero supaya di pindahkan ke kamar lain.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED