"Apa kau tersesat?"
Baju yang lusuh dan bau amis darah yang menempel pada tubuhnya menarik sekumpulan lalat. Di tengah-tengah kesadarannya yang semakin menipis, sosok dirinya muncul di hadapannya.
''Apa yang kau takutkan? Sejak awal kau bukanlah siapa-siapa. Kau tidak memiliki nama, masa lalu, maupun rekan. Kau tidak dibutuhkan oleh siapapun bahkan oleh 'dia' yang kau anggap sebagai keluarga."
''Diam.''
''Menyerahlah dan jangan bang-"
''ARRGGGHHHH!!''
''Siapa......?"
"Aku ini.... Siapa....? "
Rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan meluap tak tertahankan bersamaan dengan hilangnya sosok tersebut yang meninggalkan rasa frustasi yang berlebihan. Rasa takut akan kesendirian terus menghantuinya.
***
Perlahan aku membuka mataku. Yang kulihat bukanlah daun-daun yang menghijau melainkan sebuah tembok putih besar. Aku memalingkan wajahku untuk melihat sekelilingku. Ini bukanlah sesuatu yang bisa ku sebut sebagai tempat tidur karena di hadapanku berdiri beberapa orang dewasa yang terlihat sangat terlatih. Jika hitunganku benar totalnya adalah 200 orang.
Lalu di balik kaca itu berdirilah beberapa orang berbaju putih sambil mengamati kami.
''Hey, bocah kau terlambat bangun. Aku sampai bosan menunggu.''
''Katakan dimana aku.''
"Apa itu penting? Toh kau akan mati.''
''Apa-''
''Mulai.''
Terdengar sebuah suara yang seperti memberikan aba-aba untuk memulai sesuatu. Dengan perintah tersebut, beberapa dari mereka bergerak maju sambil melayangkan tinjunya padaku. Aku berusaha menghindari setiap serangan mereka dengan memanfaatkan ruangan yang cukup luas untuk diriku.
Lima orang kembali maju dengan membentuk lingkaran bermaksud mengepungku. Logikanya adalah kekuatanku tidak sebanding dengan satu orang dewasa terlatih apalagi jika lebih dari satu. Aku juga berpikir demikian karena bagaimana pun itu adalah logika yang paling masuk akal. Tapi, entah bagaimana tubuhku dengan sendirinya bergerak menghindari serangan mereka.
Beberapa orang juga sangat ahli dalam melakukan seni bela diri seperti Judo, Kungfu, dan Jet Kune Do. Sejujurnya aku sama sekali tidak paham akan istilah itu, namun rasanya itu terdengar familiar.
''Jangan meremehkannya. Dia itu ******. Serangan biasa tidak akan mempan untuknya. Bentuk formasi D.''
''Siap.''
Dari serangan yang acak dan membabi buta kini berubah menjadi lebih terstruktur. Sepuluh⎯ tidak, 54 orang mengandalkan kecepatan, 98 menggunakan kekuatan dan sisanya adalah pendukung. Satu orang di belakang menjadi otak dari semua serangan yang di lakukan.
Dari gestur, bentuk tubuh, dan cara dia memberi perintah memberiku spekulasi bahwa dia yang paling lemah di antara semuanya. Sejak kemunculan mereka pria itu terus berpindah-pindah tempat dan berbaur dalam kerumunan untuk menyembunyikan dirinya. Setiap kali aku mendekatinya anggota yang lain akan berusaha menghadang.
''Kau melihat kemana bocah.''
Kepalan tangan yang kuat mencoba mengincar area perutku di ikuti dengan tendangan lain yang mengarah pada kepalaku.
''Kau terlalu berisik."
BUUGH
KRAAKK
''Arrrggghhhhhhhhhhhhh.''
"Lemah. Hanya ini kemampuanmu?"
''Untuk seukuran bocah kau sombong juga. Aku akan mengabulkan permintaanmu.''
***
Dalam sekejap bentuk serangan mereka berubah. Kali ini menggunakan senjata sebagai alat pendukung.
''Tembak.''
Dorr
Door
Sniper. Lawan yang cukup merepotkan.
Utara 3, Barat 9, Selatan 5. Jumlah snipernya cukup banyak, tapi anak itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut justru kini wajahnya di hiasi dengan senyuman aneh.
Wajahnya berkata bahwa ia sungguh menikmatinya.
Kini, lantai yang tadinya berwarna putih berubah menjadi lautan darah. Dari total 200 anggota kini hanya tersisa 38 yang masih hidup.
''Ba-bagaimana bisa kau-''
''Ti-tidakkkk!''
''Tolong!!!!!''
''Arrrgggghhh!!"
''Haah....Haah...Haahh.....''
"Bangun. Apa yang kau lihat? Aku di sebelah sini.''
Lautan darah kini memenuhi seluruh ruangan. Warna dasarnya tidak lagi terlihat. Temboknya terlihat seperti baru saja di cat dengan warna merah. Terlihat indah jika apa yang terletak di lantai tidak terlihat. Ribuan potongan tubuh berserakan dimana-mana. Tidak ada satu pun anggota tubuh yang terlihat utuh.
Pria yang sejak tadi memberikan instruksi kepada timnya hanya meringkuk ketakutan setelah melihat apa yang terjadi. Satu per satu anggota tim yang ia banggakan di bunuh dengan brutal oleh seorang anak kecil berumur 5 tahun hanya dengan tangan kosong. Di lihat dari sudut manapun, suatu kemustahilan bagi seorang bocah memenangkan pertarungan dengan 200 prajurit terlatih yang di lengkapi dengan senjata. Namun, faktanya bisa. Dari total 200 kini hanya tersisa 1 orang yang masih hidup.
''A-ampun. Ku mohon ampuni aku. Aku tidak mau mati. Kumohon.''
Tak ada lagi kata-kata yang bisa ia ucapkan kepadanya selain permohonan untuk hidup. Sekitar beberapa jam yang lalu ia masih bercengkerama dengan teman-temannya. Tertawa, minum bersama, dan merayakan kesuksesan bersama yang akan datang pada misi selanjutnya. Rasanya itu bagaikan mimpi. Sekarang mereka semua telah mati.
Hanya saja ia tidak ingin mati mengenaskan seperti rekan-rekannya. Setidaknya ia mati dengan layak setelah masa tuanya.
''Kau tahu, rekanmu mati karenamu. Tanggunglah dosa itu hingga ajal menjemputmu.''
"Ya. Itu aku. Aku yang membunuh mereka. Jika saja aku menolak misi ini mungkin mereka masih hidup. Ha...Hahaha...Hahaha....Aku membunuh mereka...AKU MEMBUNUH MEREKA....HAHAHAHA.''
Rusaknya mental lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Pria itu tidak bisa dikatakan hidup juga mati, tapi otaknya tak berfungsi dengan semestinya. Yang ia pikirkan hanyalah rasa bersalah akan kematian rekan-rekannya.
Tap...Tap...
Suara langkah kaki menghentikan tindakan bocah itu. Tatapan dinginnya seperti siap menangkap mangsanya.
Dua orang berpakaian jas putih mendekat. Betapa tercengangnya salah satu pria tersebut setelah melihat genangan darah yang menghiasi ruangan tersebut. Ini seperti berada di dalam kandang monster.
''Ini terlalu mengerikan. Tim 10 adalah tim terbaik yang kita miliki dan di akui juga oleh musuh. Tapi ini....''
''Bagaimana hasil rekamannya?''
"Dia membantai mereka dengan tangan kosong.''
''Sepertinya Chris juga menjadi gila. Tim 10 benar-benar hancur.'' Tambahnya.
"Mungkin inilah yang ku tunggu. Aku akan mengubahnya menjadi mesin pembunuh. Siapkan semuanya.''
''Baik, Pak.''
Pria paruh baya itu maju lebih dekat dengan kaca yang membatasi mereka berdua.
''Jadilah senjataku.''
Sorot mata bocah itu tak terlihat hidup sama sekali. Dia hanya menatap kekosongan.
''Kenapa aku harus menerimanya?''
''Hmph....Aku menginginkan kekuatanmu untuk membunuh musuhku. Apa itu cukup?''
''Apa yang kudapat?''
''Apapun.''
''Kalau begitu aku mau kepalamu. Bagaimana?''
Seringai buas menghiasi wajahnya.
''Hanya jika semua musuhku juga mati.''
''Setuju.''
Dengan demikian kesepakatan tercapai.
''Sebelum itu katakan siapa namamu dan dari mana asalmu. Sebelumnya kami menemukanmu bersimbah darah. Lalu aku melihat simbol aneh di tubuhmu. Ketika aku melihatnya aku merasa aneh seperti aku tiba-tiba menangis dan muntah. Sebenarnya apa itu? Itu bukan simbol biasa kan?'' Tanya pria itu.
''Kau melihat terlalu jauh.''
''Jelaskan dirimu terlebih dahulu. Setelah itu aku.'' Tambah sang bocah.
''Baiklah. Ini juga sebagai perkenalan. Mandilah terlebih dahulu. Asistenku akan mengantarmu. Jangan membunuhnya. Aku masih membutuhkannya.''
Tangan bocah itu seketika berhenti.
''Ok ok.''
''Namaku James Charwoft seorang ilmuwan sekaligus detektif kepolisian. Yah, sebenarnya ilegal. Pekerjaan asliku adalah detektif. Ilmuwan hanyalah pekerjaan sampingan untuk mencari informasi. Saat ini kau ada di Hongbo, lab rahasiaku.''
''Detektif? Itu lucu sekali dan juga apa hubungan diriku dengan pekerjaan detektifmu?''
''Kau boleh tertawa. Aku tidak melarangmu. Saat ini aku sedang menyelidiki kasus yang sangat menarik.''
"Sepuluh tahun yang lalu ada sebuah insiden yang cukup menggemparkan dunia. Insiden ini di kenal dengan nama Military 68. Saat itu, sejumlah tentara dari beberapa negara sedang mengadakan latihan gabungan untuk mencari kandidat terbaik. Aku tidak tahu persisnya, tapi dari 2000 kandidat yang ikut serta di temukan tewas dengan tubuh tercabik-cabik. Berdasarkan rekaman CCTV, mereka bertarung melawan 10 anak kecil yang seumuran denganmu yang menggunakan tangan kosong. Hingga saat ini tidak ada yang tahu identitas mereka."
"Namun, ada seorang anonim yang mengirim surat ke pemerintahan dunia dengan isi 'Aku tahu letak pembunuh Military 68. Mereka berada jauh di dalam hutan. Mereka yang tersesat memiliki tujuan yang sama.' Informasi ini telah di sebar dan 5 tahun terakhir ini pemerintah dunia terus mengupayakan pencarian, tapi hasilnya sama saja. Tak ada petunjuk sama sekali. Aku juga hampir menyerah hingga keberadaanmu memberiku harapan lagi."
''Jadi, kau hanya sekedar tertarik saja?''
''Aku ingin balas dendam. Istri dan kedua putraku adalah korban dari ulah mereka. Hanya itu tujuanku.''
''..........''
''Sejujurnya ceritamu cukup membosankan, tapi aku ingin bertemu dengan mereka. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang menarik.'' Tukas anak itu.
''Giliranmu.''
''Aku tidak tahu siapa diriku baik namaku maupun masa laluku. Dan untuk simbol ini, ini adalah kutukan dari sejumlah orang yang tidak ku kenal.''
Matanya tak menunjukkan kebohongan sama sekali. Dirinya saat ini hanyalah cangkang kosong yang tidak memiliki apapun.
''Itu sama sekali bukan perkenalan. Kalau begitu beritahu namamu ketika kau kembali.''
Percakapan berakhir dan sang bocah meninggalkan Hongbo dengan perlengkapan seadanya. Ia akan melakukan perjalanan untuk mencari 'mereka'. Jika itu adalah takdir, maka mereka pasti akan bertemu.
.
.
.
.
''Pak, apa Anda yakin mempercayainya?''
''Percaya? Hahaha....Tentu saja tidak. Dia itu hanyalah pion untuk menemukan target.''
''Lalu cerita itu?''
''Ah, itu bohong, meskipun tidak sepenuhnya. Itu untuk menarik simpatinya. Simbol itu akan menarik hama busuk dan mereka pasti akan muncul. Akulah yang akan mewujudkan keinginan Phyles. Eksperimennya tidak akan berakhir sia-sia.''
"Sebenarnya dia itu siapa? Beberapa anggota tim 10 menjadi gila karena mendengar namanya."
''Dia itu ilmuwan gila. Anak-anak yang tidak punya rumah di jadikan kelinci percobaannya. Dia berpendapat bahwa bakat yang di asah sejak dini akan memiliki potensi besar di masa depan. Coba bayangkan, saat ini dia masih seorang bocah, namun berhasil mengalahkan level medium. Apa jadinya jika ia tumbuh hingga dewasa? Mungkin ia bisa menaklukkan satu negara seorang diri."
"Itu....tidak mungkin kan...."
"Tidak. Itu bukan hanya mungkin, tapi suatu saat akan terjadi ketika dunia menjadi musuhnya. Di antara semua hasil eksperimennya, Anathema lah yang membuahkan hasil. Ada sekitar 150 anak yang memiliki simbol kutukan, tapi entah bagaimana semuanya tewas. Di samping mayat Phyles ada sebuah kertas bertuliskan 'Mereka berhasil melarikan diri. Kini tak ada yang bisa menghentikan mereka, kecuali salah satu dari mereka."
"Yah, sejak awal eksperimen Anathema bertujuan untuk menciptakan monster yang menghancurkan sistem pemerintahan dunia. Rasa sakit, ketakutan, dan kegilaan Phyles ada di dalam Anathema, meskipun sekarang itu justru menjadi senjata makan tuan."
''Huft....Kuharap Anda mengambil keputusan yang benar. Singa memang lucu sewaktu masih kecil, namun naluri liarnya tidak akan hilang. Ia tidak akan segan memangsa majikan yang telah merawatnya karena hewan buas tetaplah hewan buas dan monster tetaplah seorang monster.''
''Kau benar. Singa tetaplah singa. Ia tidak akan lupa bahwa ia adalah raja hutan. Namun, hewan yang telah jinak tidak akan mampu menggigit majikannya.''
''Bagaimana jika Anda salah?''
''Kau hanya perlu mengingatkannya pada proses yang pertama sebelum ia menjadi yang sekarang."
''Aku kalah.''
''Kita tak sedang berkompetisi. Hanya saja jika dia ingin menentangku maka aku akan mengembalikan hari-hari neraka itu padanya. Tidak ada yang bisa lepas dari genggamanku. Bukankah begitu, Phyles?''
.
.
.
.
.
Dibalik kegelapan yang pekat, sesosok misterius terlihat mengamati dari kejauhan dengan seringai jahatnya.
Siapakah dia?
Aku tahu dia bohong. Untuk seseorang yang ingin balas dendam wajahnya terlalu santai. Aku tidak tahu apa yang ia incar hanya saja jika dia ingin bermain, maka aku akan melayaninya.
Dengan bantuan James, aku bisa sampai di lokasi terakhir mereka terlihat. Hutan belantara menyambut diriku. Hari masih siang, namun matahari sama sekali tidak terlihat.
Kejadian 10 tahun yang lalu masih menyisakan bukti-bukti pertempuran. Jika apa yang di katakan Pak Tua itu soal usaha pemerintah untuk mencari mereka benar-benar dilakukan, seharusnya masih ada tanda-tanda kehadiran manusia di tempat ini. Tapi, ini terlihat seperti tidak pernah ada seseorang di sini seolah-olah tempat ini tak pernah di jamah sejak 10 tahun yang lalu.
Tulang belulang berserakan dimana-dimana. Seharusnya mayat-mayat ini telah di kubur, tapi tidak terlihat demikian. Dan juga semua tulang-tulang ini memiliki tingkat kerusakan yang sama. Dengan kata lain, ini tidak pernah di sentuh sama sekali. Pemerintah tak pernah mengupayakan pencarian.
Namun, ada yang aneh. Tulang-tulang ini lebih kecil untuk seukuran orang dewasa.
BUUGH
''Siapa....kau...''
Sial!
Kesadaranku mulai memudar. Aku benar-benar lengah. Pukulannya terlalu keras.
Aku.....tak bisa melawan.....
.
.
.
.
Samar-samar aku mendengar suara anak-anak.
Perlahan aku membuka mataku. Rasa sakit dari belakang kepalaku masih terasa. Untuk orang normal mungkin sekarang dia akan bangun di alam lain. Sedikit bersyukur bahwa aku bukan orang normal tersebut.
Ini seperti sebuah kamar dan juga aku tidur di atas kasur yang empuk. Cukup nyaman.
''Ah, kau sudah bangun.''
Suaranya mengembalikan kesadaranku seutuhnya.
Tampak seorang gadis cantik berdiri di hadapanku. Ia membawa sepasang pakaian di tangannya.
''Kau pasti punya banyak pertanyaan. Pakailah ini terlebih dahulu. Aku akan menunggu di luar.''
Kurasa aku tidak punya pilihan lain. Saat ini tubuhku hanya berbalutkan perban. Akan sangat aneh jika aku keluar dengan penampilan ini.
''Ikut aku.''
Tempat ini terlihat seperti bangunan klasik. Di sepanjang lorong yang kami lewati aku berpapasan dengan beberapa anak seusiaku. Kurasa aku tahu dimana ini. Takdir benar-benar mempertemukan kami.
''Zero, aku membawanya.''
Aku merasakan sesuatu yang besar dari orang bernama Zero ini. Dia.....di kelilingi oleh bau kematian.
Dengan anggukan kepala, gadis yang bersamaku tadi pergi meninggalkan kami berdua. Kini suasananya lebih mencekam.
2 menit telah berlalu dan gadis di depanku tak membuka suara sama sekali. Kurasa aku akan memulai pembicaan ini.
''Siapa ka-''
''Apa kau melihatnya?''
Dia memotong ucapanku.
''Apa?''
''Tulang-tulang yang berserakan di atas sana.''
''Ya. Ini dimana?''
''Lavianno. Itu adalah nama tempat ini dan berada dibawah tanah.''
Kurasa aku mulai paham kenapa mereka tidak pernah di temukan sejak 10 tahun terakhir ini. Tidak ada yang menyangka bahwa ada bangunan besar di bawah tanah ini. Tapi, dengan kemajuan teknologi saat ini seharusnya tempat ini sudah terdeteksi.
''Jika bukan karena surat ini, kau sudah mati. Berterima kasihlah pada orang yang membawamu."
''Jadi, yang membawaku bukan salah satu dari anggotamu?"
"Bukan. Pagi tadi kau di temukan di depan pintu dengan kepala berdarah. Lalu surat ini ada di sampingmu."
𝘼𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙙𝙞𝙖. 𝙎𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙬𝙪𝙟𝙪𝙙𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙢𝙥𝙞𝙖𝙣𝙢𝙪.
"Impian?"
"Membunuh pemerintah dunia saat ini."
"Kenapa?"
"Tulang- tulang itu adalah milik anak-anak di sini. Dulu, ada sekitar 1000 anak yang bekerja di bawah pemerintah sebagai alat untuk membunuh para pengkhianat, namun setelahnya kami juga di singkirkan oleh mereka. Dari 1000 anak kini yang tersisa hanya 57. Selebihnya telah di bantai. Di tengah pelarian kami, tempat ini ada begitu saja dan kami memutuskan untuk tinggal disini.''
''Ada apa dengan tubuhmu?''
Sekilas dia seperti anak-anak, tapi secara bersamaan dia juga terlalu 'dewasa' untuk seukuran anak-anak.
''Ini adalah hasil dari eksperimen. Seluruh anak-anak disini adalah hasil dari eksperimen gila para ilmuwan pemerintah. Sehebat-hebatnya seseorang akan kalah dengan umur. Inilah hasilnya. Umurku 16 tahun, tapi terlihat seperti umur 6 tahun. Kami tidak mengalami pertumbuhan secara fisik. Tubuh ini akan terus seperti ini hingga kami mati.''
Itu eksperimen yang cukup gila. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang mereka derita selama itu.
''Izinkan aku tinggal disini. Aku akan membalasnya suatu saat nanti.''
''.......''
Zero terdiam sejenak menatap diriku dengan intens. Aku penasaran dengan apa yang dilihat matanya terhadapku.
''Tubuhmu....Perban apa itu?''
''Ini? Aku tidak tahu. Hanya saja aku tidak bisa membukanya. Bukan karena tidak bisa, tapi setiap kali aku ingin membukanya kenangan aneh terlintas di kepalaku dan itu sangat menyakitkan."
''Begitu, ya. Mulai sekarang kau akan tinggal disini. Ini adalah rumahmu. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Jangan pernah mempercayai siapapun yang ada disini bahkan jika itu adalah aku. Percayalah pada darahmu.''
Aku tidak begitu paham dengan apa yang dikatakannya. Bukankah mereka tinggal dalam satu atap lalu kenapa ia perlu meragukan mereka?
''Apa pendapatmu tentang Zero?"
''Seperti seorang pemimpin dan dia memiliki aura yang aneh seperti kematian selalu berusaha menariknya.''
''Hmph....Hanya kau yang berpikiran seperti itu. Bagi anak-anak disini, Zero itu sosok ibu, panutan sekaligus musuh yang perlu dikalahkan.''
''Musuh?''
''Zero adalah yang terkuat. Kekuatan berarti kekuasaan dan kekuasaan.....berarti melihat dunia luar.''
Ekspresinya di penuhi oleh kesedihan yang begitu mendalam.
''Kenapa tidak melihatnya langsung?''
''Yang menentangnya akan di bunuh. Sekalipun kami semua melawannya itu tidak akan cukup. Tapi, terkadang aku melihat duka dimatanya setiap kali ia 'membunuh' mereka. Kurasa ia terus menanggung beban yang sangat berat selama 10 tahun terakhir ini. Karena itu, jika ini adalah takdir, ku mohon......angkatlah beban yang ia pikul.''
''Kenapa kau sangat yakin?''
''Entahlah. Keberadaanmu terasa begitu mencekam. Mungkin saja kau adalah yang 'terpilih'."
''Jangan terlalu berharap. Bisa-bisa kau akan mati jika itu mengecewakanmu.''
''Apa itu lelucon?''
''Tergantung bagaimana kau menanggapinya.''
''Yah, kurasa aku akan menganggapnya sebagai lelucon.''
''Tapi, kau sama sekali tidak tertawa.''
''Timingnya sudah lewat.''
Sekarang kami ada di tengah-tengah ruangan. Anak-anak seumuranku berkumpul dengan titik pusatnya adalah Zero. Kurang lebih ada sekitar 300 anak yang berkumpul dan semuanya memiliki ekspresi yang tak dapat di jelaskan. Beberapa anak memiliki aura yang kuat akan kegelapan dan beberapa lagi aura kehidupan yang sedikit menipis. Tidak ada anak yang normal di-
DEG
Eh?
Apa itu?
Barusan aku merasakan sesuatu yang sangat mengerikan. Jika Zero ditarik oleh kematian, maka dia sebaliknya. Dia... justru berjalan bersama kematian itu sendiri. Auranya terlalu mengerikan.
Hanya sesaat. Setelah itu aura itu menghilang begitu saja seolah-olah tak pernah ada. Kurasa tak ada yang menyadarinya, kecuali aku dan.....
Zero. Apa dia menyadarinya? Aku akan bertanya langsung padanya setelah ini selesai.
''Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan anggota baru. Kuharap kalian tidak mencari masalah dengannya.''
Tatapan penuh tekanan ditujukan padaku. Mungkin aku sudah di benci oleh mereka.
''Zero, dia belum punya nama kan? Bagaimana jika kami bertarung dan aku akan memberikan namaku jika dia menang?''
''Lakukan sesukamu. Siapa pun yang bisa mengalahkannya akan menyandang nama Zero.''
''Wah, serius?''
''Aku akan bertarung.''
''Ini akan menarik.''
Beberapa tanggapan terdengar. Antusias mereka untuk membunuhku semakin meninggi. Ini seperti melemparkan diri kedalam lubang tak berujung.
''Tapi...''
Suasanya kembali hening.
''Yang kalah akan dimasukkan dalam 'ruang isolasi."
Kata 'ruang isolasi' memberikan efek yang sangat besar bagi sebagian anak sehingga membuat suasana menjadi lebih mencekam daripada sebelumnya. Marah, takut, dan trauma bercampur menjadi satu di dalam ekspresi mereka. Kini, ada 2 pilihan yang bisa mereka pilih.
Terkurung seumur hidup di dalam sini atau....
Melawan dengan menghadapi traumanya.
Pilihan yang cukup sulit.
''Aku akan melawannya.''
''Zeta, apa kau yakin?''
''Tentu saja. Aku tidak akan berdiam diri disini seumur hidupku. Aku akan keluar dari sini.''
Tekad yang bagus. Tatapannya terlihat tidak akan goyah akan badai apapun.
''Aku suka semangatmu, tapi maaf saja kau akan kalah. Mundurlah dan matilah disini.'' Aku sedikit serius mengatakannya.
''Sepertinya kau sangat yakin dengan kemampuanmu.''
''Aku sudah memperingatkanmu.''
''Kaulah yang akan mati.''
''Karena kedua pihak setuju maka pertandingan akan dimulai.''
Pertandingan pun dimulai.
***
Zeta melakukan pergerakan terlebih dahulu. Serangan membabi buta ia kerahkan untuk menyerang lawannya.
Ia mengangkat kakinya lalu dengan kecepatan yang luar biasa langsung menghantam sisi kanan wajahnya.
''I-Itu serangan telak. Bagaimana bisa dia...''
Peluang kemenangan yang akan ia raih pupus seketika setelah melihat apa yang terjadi. Serangannya berhasil ditahan oleh bocah itu hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Aksi itu membuat yang lainnya tercengang apalagi itu adalah serangan mematikan yang biasa Zeta gunakan untuk membuat lawannya pingsan seketika. Hingga saat ini hanya ada 10 orang, termasuk dirinya yang bisa menangkis dan menghindari serangan tersebut.
Dengan pertunjukkan itu, nyali mereka mulai menciut.
''Cih. Kalau begitu coba tangkis ini.''
Serangan yang sama kembali ia layangkan dan seperti sebelumnya juga di tangkis.
Seringai aneh muncul di wajah Zeta. Sepertinya ia merencanakan sesuatu.
''Gotcha.''
Kaki kirinya yang ia layangkan seolah berhenti diudara dan dalam sekejap kaki kanannya telah mendarat pada perut bocah itu yang terbuka dengan lebar. Tangannya terlalu fokus melindungi wajahnya sehingga pertahanan di bawah wajahnya menjadi terbuka lebar. Itu adalah gerakan berputar dengan menyembunyikan serangan yang sebenarnya.
Serangan tipuan berhasil mengenai perutnya. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindari cedera parah.
''Terlalu lemah. Apa itu serangan terbaikmu?''
Ucapan itu memprovokasi Zeta sehingga ia maju dengan penuh emosi tanpa menyadari bahwa pertahanannya terbuka dengan lebar. Menyadari bahwa itu adalah kesalahan, ia mencoba membentuk pertahanan, tapi terlambat.
BUGGH
Serangan yang kuat mengenai perutnya. Ia tidak bisa mengelak maupun menangkisnya dan itu membuat darah mengalir keluar dari mulutnya. Kembali serangan kedua di layangkan mengenai tepat dibawah dagunya. Sebelum ia sempat menarik napasnya, serangan ketiga dilancarkan tepat pada area ulu hatinya hingga tembus. Akibatnya Zeta terjatuh dengan bersimbah darah.
''Pertandingan selesai. Bawa dia.''
Tidak ada sorakan ataupun kericuhan yang menemani pertarungan itu. Seolah tidak ada kelanjutan Zeta diseret menuju sebuah ruangan yang tidak pernah dibuka. Sepertinya itu adalah ruang isolasi yang mereka maksudkan. Darahnya membekas di lantai yang putih itu.
''Zero, apa kau yakin mengurungnya di ruangan itu? Kau tahu itu kan-"
''Dia sudah setuju dan itu bukan urusanmu. Kalau kau keberatan maka lawanlah dia.'' Ucap Zero sambil menunjuk anak baru tersebut.
''Tapi, itu terlalu-''
''Kau, mulai sekarang namamu adalah Zeta. Kau adalah bagian dari tempat ini.''
Zero tak menggubris apapun ucapan anak-anak yang lain. Ia menunjukkan sosok yang sangat tegas dan perbedaan tingkat kekuatan mereka. Walau sangat singkat itu tetap memberikan gejolak yang aneh dan dengan demikian anak itu juga memiliki nama untuk ia sandang. Itu memberinya identitas baru sekaligus kehidupan baru.
Namun, kemenangannya menarik perhatian beberapa anak. Lebih dari setengahnya mulai menunjukkan bentuk aslinya.
Dengan kemenangan itu beberapa dari mereka yang menontonnya terlihat tersenyum dengan sangat menyeramkan.
Itu bukanlah bakat yang di dapat hanya dengan mengandalkan eksperimen. Lebih besar dan menyeramkan, itu adalah insting hewan buas untuk memburu mangsanya.
Beberapa tahun terakhir ini tidak pernah ada bakat sealami ini yang mampu menarik perhatian mereka. Ini terlalu menarik dan mendebarkan.
''Sial. Itu sangat indah. Aku jadi ingin merasakan sensasi dari tetesan darahnya~''
''Tenanglah. Jika kita ceroboh Zero bisa menyadari keberadaan kita.''
''Dia benar. Jangan gegabah atau Master akan kecewa.''
Di balik kerumunan itu, beberapa anak mulai berbisik-bisik. Aura mereka berbeda dari yang lain.
''Cih.''
Kemenangan yang ia raih membuat seseorang kesal. Perasaan yang ia tujukan mengarah pada pribadi Zeta yang baru. Itu adalah pandangan penuh kebencian.
''Ada yang ingin melanjutkan pertandingan?''
''......''
''Aku anggap jawabannya tidak.''
Dengan begitu pertandingan pun berakhir.
''Zero, tunggu. Ada yang ingin kutanyakan.''
''Apa?''
''Sebelumnya aku merasakan aura yang sangat mengerikan. Darahku seperti mendidih dan itu.....sangat luar biasa. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.''
''Lalu?''
''Apa kau tahu itu siapa? Aku ingin melawannya. Mungkin aku akan menemukan sesuatu.''
''Sebenarnya apa yang sedang kau cari?''
"Aku tidak paham."
"Semakin aku melihatmu kau seperti sedang tersesat."
Itu bukanlah jawaban yang di inginkannya.
Apa yang sedang ku cari?
Kenapa aku mencarinya?
Pertanyaan itu berputar di atas kepalanya. Semakin ia memikirkannya, kegelapan yang sangat pekat muncul di hadapannya.
''.....eta.''
''Zeta!''
''Ugh. Maaf.''
''Itu salahku. Mengenai seseorang yang kau maksud, aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasakannya. Anak-anak disini tidak sekuat yang kau kira. Itulah kenapa aku menggunakan eksperimen lagi.''
''Jadi, sebelumnya kau pernah melakukannya?''
''Empat tahun yang lalu sebuah penyakit mematikan muncul pada tubuh salah satu anak. Kami tidak punya obat maupun seorang dokter. Aku berusaha semampuku dan takdir berkata lain. Satu per satu anak yang terjangkit meninggal. Ada 79 anak yang meninggal akibat penyakit tersebut.''
''Ditengah kekacauan itu, suara iblis berbisik padaku. 'Bukalah pintu itu dan hidupkan mereka.' Aku kacau dan aku menurutinya. Ternyata isinya adalah alat-alat eksperimen. Mungkin tempat ini dulu digunakan untuk melakukan uji coba pada manusia. Banyak bercak darah yang menempel di dinding dan sudah mengering. Beberapa alatnya masih bisa di gunakan. Dan aku melakukan eksperimen itu dengan di bantu oleh Phi, anak yang selalu ada di dekatku.''
''Dengan menyuntikkan sejumlah virus dan perbaikan pada beberapa bagian tubuh yang rusak, anak-anak yang meninggal dapat hidup kembali. Hanya saja dikarenakan otaknya sudah mati tubuhnya terlihat seperti zombie. Dengan berpatokan pada teori bahwa otak yang masih berfungsi dapat menahan virus tersebut, aku bisa menyempurnakan eksperimenku.''
''Jadi, pada akhirnya kau mencobanya pada anak yang masih hidup?''
''Tidak. Aku menangkap seorang anggota militer yang kebetulan melewati tempat ini. Dan seperti teoriku, dengan otak yang masih berfungsi virus itu sangat ampuh. Dia menjadi seorang zombie, namun tetap memiliki pemikiran sendiri. Tubuh yang kuat dan tidak bisa merasakan sakit, serta kecerdasan yang meningkat adalah senjata yang sangat sempurna.''
''Lalu dimana dia sekarang?''
''Mati. Virusnya semakin kuat dan secara perlahan memakan otaknya. Tubuh itu hanya bertahan selama 3 hari.''
''Pada akhirnya gagal juga.''
''Tidak sepenuhnya. Dengan ruang isolasi mereka lebih bisa dikendalikan secara mental. Yah walaupun itu juga bisa membuat mereka gila secara bersamaan."
''Kau lebih menarik dari yang kuduga.''
''Kuharap itu pujian.''
''Satu lagi. Dari mana datangnya anak-anak yang lain? Seharusnya jumlah kalian tidak sebanyak ini.''
''Sama sepertimu. Mereka berasal dari luar dengan latar belakang yang tidak diketahui.''
''Apa kau yakin diantara mereka tidak ada mata-mata pemerintah?''
''Aku tidak tahu. Jika sudah waktunya mereka pasti akan muncul."
''Kau terlalu optimis. Akan sayang sekali jika sosok sepertimu terkubur ditempat ini.''
''Aku hanya mengikuti arus. Itu saja.''
''Aku tidak bisa memahami dirimu.''
''Dan aku tidak ingin dipahami olehmu.''
Senyuman tipis terpatri diwajah mereka berdua. Hubungan yang tidak menentu terjalin dengan sendirinya. Mereka tidak butuh memahami ataupun dipahami. Cukup dengan percakapan ini mereka bisa saling melindungi punggung masing-masing.
Itu adalah ikatan yang tidak bisa Zeta pahami, namun ia menikmatinya.
'Ini akan semakin sulit untuk di percaya olehnya. Aku harus menyingkirkan anak itu.' Gumam seseorang di balik pintu itu. Tatapan penuh kebencian semakin menguat dari matanya.
''Aku pergi dulu.''
''Ya.''
***
Setelah percakapan selesai aku turun ke bawah menuju kamarku.
''Zeta.''
Seseorang memanggilku.
''Ah, kau...''
''Phi. Itu namaku. Maaf aku terlambat memperkenalkan diriku.''
''Tidak masalah. Lalu ada apa?''
''Ikut aku. Aku akan memperkenalkan tempat ini padamu.''
Kami berkeliling. Suasana hening dan mencekam terasa begitu nyata.
Sepanjang perjalanan, Phi bercerita padaku. Lavianno memiliki nama lain, yaitu Invi Aedificium yang berarti bangunan yang tidak terlihat. Letaknya yang berada jauh didalam tanah sangat sulit terdeteksi apalagi seluruh bangunan dibangun dengan batu sehingga alat pendeteksi logam tidak terlalu berguna.
Kedalamannya berkisar 800 meter hingga 1500 meter. Itu bukan kedalaman yang biasa. Entah bagaimana dan berapa lama serta siapa yang menggalinya tidak ada yang tahu.
Beberapa catatan yang tersisa di perpustakaan menjadi sumber informasi saat ini.
''Ini adalah perpustakaan. Buku yang memuat tentang tempat ini hanya ada 10 buah selebihnya hanya buku kosong saja.''
Untuk sebuah perpustakaan ini cukup besar. Ada sekitar 15 rak besar dengan satu rak memuat 300-400 buku. Hanya saja bukunya kosong tidak ada tulisan sama sekali. Buku tentang Lavianno hanya memiliki 3 lembar yang terisi tiap bukunya.
Ini terlalu aneh. Untuk apa mereka membuat perpustakaan sebesar ini jika isinya adalah buku kosong.
Setelah itu perjalanan berlanjut. Tak ada yang spesial dari tempat ini. Perpustakaan, kamar tidur yang sangat banyak dengan beberapa perlengkapan seadanya, kantin, kebun buatan mereka untuk bertahan hidup, dan yang paling menarik perhatianku adalah ruangan tertutup yang tidak pernah dibuka karena tidak memiliki lubang kunci ataupun gagang pintu seperti pintu pada umumnya. Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk membukanya hanya saja tidak membuahkan hasil. Total ada 24 ruangan tertutup yang masih belum bisa dibuka hingga saat ini.
Pada masing-masing pintu terdapat simbol-simbol aneh. Rasanya aku pernah melihat itu di suatu tempat.
Entahlah. Aku tidak ingat.
Setelah kami menelusurinya, ada 3 pintu yang tidak memiliki simbol dan warna pintunya berbeda dari yang lain. Semua pintu yang terdapat ditempat ini berwarna putih polos, sedangkan ketiga pintu ini berwarna hitam pekat. Teksturnya kasar berbeda dengan yang lain. Ini terlihat seperti-
''Ayo. Kita ke tempat lain.''
Entahlah. Pikiranku seperti melayang.
''Dan ini tempat terakhir. Ini adalah satu-satunya pintu menuju dunia luar. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.''
''Apa maksudmu?''
''Pintu ini tidak lagi terbuka sejak 5 tahun yang lalu. Alat untuk menyangga batunya menghilang dan tertutup permanen. Di satu sisi itu kabar bagus karena dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa menemukan tempat ini. Namun disisi lain, tempat ini juga menjadi kuburan.''
''Tunggu. Jika pintu ini tidak pernah terbuka, lalu bagaimana aku bisa masuk ke tempat ini?'
''Itulah yang di takuti oleh Zero. Mungkin tempat ini bukan tidak bisa ditemukan, tapi sengaja di sembunyikan oleh seseorang. Mungkin juga pintu itu bisa di buka dari luar dan mungkin juga ada yang membukanya dari dalam. Bagaimanapun itu bukan kabar baik. Itulah kenapa ia mengulang eksperimen yang sama dengan metode yang berbeda."
''Lalu menurutmu, apa kali ini eksperimen itu akan berhasil?''
''Tidak. Kebanyakan anak yang masuk ke tempat itu berakhir gila bahkan ada yang mati. Meskipun ada yang selamat butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kewarasannya."
Phi benar. Meskipun memiliki kekuatan yang besar jika mentalmu lemah maka kekuatan itu akan menjadi sia-sia. Tapi, jika efeknya demikian kenapa Zero memutuskan untuk terus melanjutkan eksperimen itu?
''Jika tempat ini memang tertutup, bagaimana kalian bisa tahu perkiraan waktu yang terjadi?"
''Disini ada 5 jam. Satu di aula, di perpustakaan, di depan ruang tertutup, di kamar Zero, dan di ruang eksperimen.''
'' Itu jam yang kalian pasang?''
''Bukan. Itu juga sudah ada sejak dulu. Jamnya masih hidup hingga saat ini."
"Begitu, ya."
Tempat ini benar-benar menyimpan banyak misteri. Jam yang masih berfungsi padahal sudah bertahun-tahun. Tak mungkin baterainya tidak diganti. Apa ada seseorang yang diam-diam mengganti baterainya? Tapi, untuk apa?
''Jujur saja tempat ini sedikit menyeramkan bagiku. Hawanya terlalu dingin.'' Phi menggosok-gosok tubuhnya untuk menghangatkan dirinya.
''Benarkah? Aku justru merasa nyaman disini."
Cukup aneh.
Di sepanjang perjalanan kami, aku sering kali merasa di ikuti dan hawa dingin terasa begitu dekat dengan kulitku. Aku tidak percaya pada hantu, tapi mungkin aku akan mengubahnya. Sosok tidak kasat mata lebih menyeramkan karena tidak bisa di sentuh. Sekalipun aku ingin menyerangnya aku tidak bisa menggapainya. Lebih baik aku melawan 1000 makhluk hidup daripada 1 arwah.
''Phi.''
''Apa?''
''Kenapa kau berbohong?''
''Hah? Apa maksudmu?''
''Sejak awal aku tidak merasakan kejujuran dalam ucapanmu.''
''Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti?''
''Apa kau akan mengkhianati Zero?''
''Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Mengkhianati Zero? Jangan konyol. Zero sangat berarti bagiku. Bagaimana mungkin aku akan mengkhianatinya? Kurasa perjalanan ini kita akhiri saja. Mungkin tempat ini memang ada penghuninya.''
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku dan Phi menghabiskan waktu selama 5 jam untuk berkeliling.
Setelah itu aku kembali ke kamarku. Ada banyak hal yang terus mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tidur.
Terlalu banyak hal aneh ditempat ini baik keberadaannya maupun isinya. Kamar ini juga terlalu bagus untuk tempat yang di tinggal lama. Area ini tidak pernah disentuh oleh siapapun, tapi lihatlah kamarnya sangat rapi. Kasurnya tidak berdebu dan selimutnya juga sangat bersih.
Lantainya juga tidak berdebu sama sekali. Jelas-jelas kamar ini telah di bersihkan sebelumnya, tapi kenapa Phi mengaku bahwa tempat ini tidak pernah di datangi?
Jadi, dia memang berbo-
Tok... Tok....
Ketukan pintu dimalam hari? Dan juga hanya ada aku di area ini.
Dengan sigap aku membuka pintu, tapi aku tidak melihat siapa-siapa.
Hanya ada lorong gelap tidak berujung yang terlihat. Tak ada lampu penerangan yang menyala.
Bulu kuduk ku mulai berdiri. Mungkinkah ini penghuni yang selalu mengawasiku?
Kurasa aku akan meminta Zero supaya di pindahkan ke kamar lain.