Bab 1

Seorang perempuan yang sedang berjalan terburu-buru dengan tampilan baju yang tampak acak-acakan itu sudah menyusuri pelataran kantor tempatnya bekerja. Langkahnya terus berpacu cepat dengan berlari tunggang langgang saat melihat arloji yang melingkar di pergelangan kirinya sudah menunjukkan pukul enam lebih lima puluh lima menit, yang mana itu artinya ia hampir terlambat untuk datang di hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan besar ternama di kota yang ia tinggali sejak dua bulan yang lalu. Bisa-bisa ia akan terkena masalah jika hal itu terjadi.

Derajat hidupnya seakan berubah saat tahu jika ia resmi diangkat sebagai karyawan baru di sana. Meskipun berperan sebagai karyawan biasa, wanita yang akrab disapa dengan panggilan Lea itu sudah sangat beruntung dan juga bersyukur. Lantaran masuk dan diterima sebagai karyawan resmi di perusahaan itu sangatlah susah dan juga ketat dengan seleksi.

"Permisi permisi."

Ia sampai menyerobot beberapa orang di depan yang menurut perempuan itu sudah menghalangi jalannya. Tanpa sengaja Lea menabrak seseorang hingga membuat dirinya terjatuh sebab kalah fisik. Tak bisa menyalahkan siapapun, karena gadis itu sendirilah yang melakukan kecerobohan.

Bugh!

"Aduh."

Ia terhuyung ke belakang hingga jatuh dan terduduk di lantai dengan cukup keras. Rasanya seperti menabrak sebuah tembok besar dan juga keras. Tentu saja itu terasa sangat menyakitkan bagi dahi yang tak sengaja menubruk objek keras tersebut hingga pantatnya yang menjadi korban benturan dengan lantai pelataran kantor.

"Kamu kalau jalan hati-hati dong! Apa kamu tidak tahu diri sampai berani menabrak-"

Ucapan seorang perempuan bertubuh langsing dan juga semampai itu langsung terpotong saat seorang pria di sampingnya menahan dengan isyarat tangannya agar bisa berhenti. Bahkan ia tak lagi berani membantah walaupun hal itu untuk membelanya. Selain diam dan menundukkan kepala, tak ada lagi yang perlu dilakukan olehnya saat ini.

"Ma-maaf, saya tidak sengaja. Karena saya sedang buru-buru," ucap Lea dengan menundukkan kepala dan berusaha bangkit dari posisi duduknya.

Namun ucapan maaf itu tidak ditanggapi serius oleh seorang korban yang ditabrak olehnya tadi. Justru ia malah menarik name tag atau id card miliknya yang menggantung di leher itu lantas membaca nama yang tertera di sana. Hingga membuat Lea sampai terbelalak dan semakin merasa deg-degan.

"Aleanora Fidelya," ucap pria itu untuk melafalkan nama Lea dari kartu pengenalnya.

Perlahan Lea mengangkat pandangannya untuk melihat seseorang yang ada di depannya saat ini. Tatapan tajam bak elang dan rahang yang tercetak sempurna membuat kesan tegas wibawanya terpancar. Walaupun ia tak mengenalnya, Lea rasa pria itu adalah seniornya di sini.

"Saya tandain kau, jika lain kali saya tahu kau mengulangi hal yang sama, maka jangan harap posisimu akan baik-baik saja di sini. Karena saya tidak suka dengan orang ceroboh," lanjutnya dengan nada sarkas dan juga tatapan yang tajam.

Lea pun menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya yang semula berdebar cepat, kini semakin berpacu tak keruan. Tatapan mata bak elang yang ia lihat itu seakan sudah menusuk jiwanya dengan kecepatan kilat. Ia mengerjap sekali sebelum akhirnya berdeham pelan sebelum menimpali ucapannya.

"Maaf, Pak. Bapak tidak bisa memecat saya dengan sepihak tanpa alasan yang jelas terlebih dahulu, lagipula bapak ini siapa? Kenapa bapak bisa mengancam saya seperti itu?" jawab sekaligus tanya Lea dengan enteng.

Sontak saja jawaban dari perempuan itu sudah mengundang banyak sorotan mata dan juga perhatian dari banyak orang di sana. Para karyawan yang lain sampai terperangah karena mendengar penuturan Lea barusan. Antara sengaja atau tidak, hal tersebut tetap tak seharusnya untuk dikatakan karena dianggap tidak sopan.

"Bukankah alasan yang saya ucapkan barusan kurang jelas bagimu? Saya tidak suka dengan orang yang ceroboh!" jawab pria itu yang tak kalah enteng.

"Berani beraninya kamu berbicara kasar dan menentang boss?" imbuh perempuan yang ada di sampingnya sejak tadi.

Ucapan dari seorang perempuan bertubuh semampai tadi berhasil membuat Lea langsung bungkam suara. Nyalinya semakin ciut hingga refleks memundurkan langkah sedikit menjarak. Situasinya benar-benar rumit hingga membuat sang empu mati gaya.

"B-boss?" ulang Lea pelan seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

"Sudah cukup. Waktu saya sudah terbuang tiga menit dengan sia-sia hanya untuk meladeni seorang karyawan seperti dia," potong pria itu setelah melihat arloji di pergelangan tangan kirinya lantas membenarkan jasnya dan pergi berlalu meninggalkan Lea begitu saja.

Tanpa membalas atau mengatakan apapun lagi, seorang perempuan yang sejak tadi berada di sisi pria tersebut sudah melenggang pergi menyusulnya. Sedangkan Lea sendiri masih kerepotan untuk mengatur laju pernapasannya dengan baik. Belum lagi ia juga harus terburu-buru melanjutkan langkahnya meski dengan jantung yang masih berpacu cepat akibat insiden yang baru saja terjadi.

Boss?

Kata itu terus terngiang dalam pikirannya. Bagaimana bisa ia tidak mengenali atasannya sendiri di perusahaan itu? Bisa bahaya jika setelah ini ia tidak segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada pria yang disebut dengan boss oleh perempuan yang menyebalkan tadi.

"Leaa!"

Seruan dari seseorang yang posisinya tak jauh darinya sudah membuat Lea tersadar dari lamunannya dan berhenti untuk melangkah lagi.

"Hera."

"Kamu kenapa ceroboh banget sih. Kamu tahu kan, barusan berurusan sama siapa?" cerocos Hera dengan napas yang memburu akibat berlarian kecil tadinya.

Lea pun mengangguk dengan takut juga wajah yang memelas. Sedangkan Hera sampai berdecak dengan meraup wajahnya frustasi. Mereka berdua benar-benar terancam terkena masalah.

"Terus aku harus gimana, Ra? Aku nggak tahu kalau dia itu boss di sini," ungkapnya tampak sangat menyesal atas kejadian yang baru saja menimpanya.

"Kamu sih udah dibilang harus hati-hati kalau mau kerja di sini. Mau itu boss atau nggak, jaga ucapan dan juga perilaku jika masih ingin posisi kita aman."

"Kalau udah begini, mau nggak mau kamu harus minta maaf sama Pak Elgar. Paling nggak rubah sikap ceroboh dan suka telatmu ini dengan yang lebih baik. Karena Pak Elgar paling nggak suka sama orang yang menyimpang," lanjut Hera yang masih bisa didengar dengan baik oleh Lea.

"Menyimpang? Maksudnya gimana sih, Ra?"

"Ya pokoknya menyimpang dari ketetapan atau aturan beliau di sini, Leak!" pungkas Hera lagi dengan menambahkan panggilan kesayangannya untuk Lea.

"Iya deh iya. Nanti aku bakal minta maaf sama dia."

"Beliau. Bukan dia," bisik Hera sangat lirih sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar, takut-takut jika ada seseorang yang juga bisa mendengar ucapan Lea tadi.

Sedangkan Lea sudah menghela napas dengan berat, pikiran serta hatinya benar-benar sedang berkecamuk sekarang. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Akankah dengan meminta maaf bisa mengembalikan suasana hati pria yang sangat menyebalkan baginya itu?

"Ya udah ayo cepetan! Malah ngelamun. Kerjaa!"

"Eh tunggu, Ra."

"Ada apa lagi sih, Leak?"

"Bukannya boss perusahaan ini kemarin udah tua ya-"

"Sstt, suka sembarangan banget sih kalau ngomong!" Hera sampai langsung membungkan mulut Lea dengan tangan kanannya.

"Iya, maaf. Tapi itu maksud aku kenapa sekarang bossnya jadi beda? Aku nggak salah lihat kan? Jelas-jelas usia pria tadi sama pria yang aku lihat kemarin saat pulang interview sangat berbeda jauh."

Nyatanya rasa bingung sekaligus penasaran dari Lea itu masih bersarang dalam benaknya. Tentu insiden perlawanannya tadi bukan karena disengaja. Karena pada dasarnya boss yang ia kenal bukanlah pria muda seperti yang ia jumpai tadi.

"Yang kamu lihat kemarin adalah boss besar, sedangkan pria yang kamu kacaukan barusan adalah boss muda. Alias putra boss besar, yang jelas-jelas akan menjadi pemimpin sekaligus pemilik berikutnya bagi perusahaan ini," jelas Hera.

"Mati aku!" gumam Lea dengan wajah memerah.

"Jangan mati dulu, selesaikan dan perbaiki dulu reputasimu sebelum posisimu dan posisiku terancam!"

"Kenapa kamu juga harus terlibat? Di sini hanya aku yang terkena masalah."

"Karena aku yang sudah merekomendasikan dan membawamu datang ke perusahaan ini sebagai seorang calon karyawan yang kompeten, Leak! Kamu lupa?"

Setelah ini Lea akan melewati hari-harinya yang panjang dan juga menyedihkan karena sebentar lagi harus berurusan dengan atasannya untuk meminta maaf. Mungkin pria tersebut tidak menginginkan perminta maafan darinya, namun Lea harus tetap melakukan itu guna memperbaiki reputasi dan mempertahankan posisinya karena sudah tidak sengaja membuat atasannya kesal dengan insiden tadi. Ibarat kata sudah terjatuh, Lea tak akan membiarkan tertimpa tangga setelahnya.

"Pak Elgar?" gumam Lea sembari mengingat nama pria yang ditabraknya tadi dari sebutan Hera beberapa menit lalu.

Bab 2

Lea terus mondar-mandir dengan rasa cemas di dadanya. Ia masih bingung dan terus memikirkan bagaimana caranya untuk memulai percakapan yang akan ia katakan pada boss nya nanti. Kedua tangan yang bertaut dan jantung yang terus berdebar cepat sudah menandakan dengan jelas jika saat ini ia sedang dilanda rasa kegugupan yang luar biasa. Ia tidak mencemaskan apa-apa selain mengkhawatirkan posisinya sebagai karyawan baru di sini.

Bagaimana jika pria yang ia tabrak tadi terbawa perasaan atau bahkan berubah pikiran untuk segera membuatnya pergi dari sini? Ia tidak akan sanggup dan tidak akan bisa membiarkan hal itu terjadi. Karena harga diri dan juga ketangguhannya diuji untuk saat ini.

"Leaa! Kamu ngapain mondar-mandir terus sih? Aku pusing lihatnya," protes Hera karena memang sejak tadi Lea tak ingin berhenti ataupun duduk dengan tenang di kursinya.

"Ya kalau gitu jangan dilihat biar nggak pusing."

"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu cemas sejak tadi?"

Lea pun menghela napasnya dengan kasar. Pikirannya benar-benar berantakan hingga sulit untuk berpikir jernih. Dan kini tatapan mereka sudah saling mengunci saat Lea menghadap pada Hera.

"Seperti katamu tadi, aku masih mencemaskan pekerjaanku di sini."

Hera yang baru tahu penyebab sahabat sejak SMA sekaligus teman kerjanya di sini langsung membulatkan mulutnya seperti berbentuk O. Ia juga menganggukkan kepala seraya menepuk bahu kanan sahabatnya itu.

"Boleh sih kamu khawatir dan kepikiran karena masalah tadi, tapi ya nggak gini juga. Karena sebentar lagi jam operasional kembali aktif. Jadi manfaatkan waktu istirahatmu sekarang dengan baik."

"Karena Pak Elgar semakin nggak suka kalau kinerja karyawannya semakin turun karena masalah lain dari luar yang dibawa ke pekerjaan," pungkas Hera kemudian.

"Tapi tadi kamu sendiri yang menyuruhku untuk minta maaf sama dia-"

"Beliau, Leak!" koreksi Hera dengan nada penuh penekanan.

"Iya maksudku beliau. Jadi sekarang aku masih bingung dan memikirkan bagaimana cara yang pas untuk diucapkan sama beliau tanpa harus membuatnya tersinggung dan marah lagi sama aku, Ra?"

Hera tampak sedang berpikir sekarang. Ia juga menyendekapkan kedua tangannya di depan dada dengan pikiran yang masih melanglang buana. Tak berbeda jauh dengan Lea yang sama-sama pusingnya.

"Aku punya ide!" ujarnya kemudian yang langsung membuat Lea terbelalak dan semangat.

"Apa itu? Cepat katakan!"

"Karena aku tahu ya kalau Pak Elgar itu tipe laki-laki ataupun boss yang paling anti sama yang namanya orang males, ceroboh, nggak sesuai aturan dan keinginannya atau apapun itu deh. Jadi kamu harus jadi karyawan yang perfect bagi beliau."

"Perfect? Emang kamu pikir selama ini aku nggak perfect?"

"Ya nggak gitu juga sih. Cuman nggak memenuhi kriteria aja."

Lea langsung memukul pelan bahu Hera dengan tatapan sinis. Dan sang empunya yang merasakan itu hanya mengaduh dengan menatap mata Lea sama sinisnya. Terlihat sama-sama sulit mengontrol emosionalnya.

"Mau dibantuin nggak sih?"

"Ya mau lah. Cuman aku nggak ngerti harus bagaimana biar bisa perfect seperti ucapanmu barusan."

Hera menepukkan satu kali dari kedua tangannya lantas menaikkan turunkan kedua alisnya sebanyak tiga kali.. Hal itu ia lakukan seperti sedang memberikan kode atau isyarat bagi sahabatnya yang lambat loading ini. Karena cara itu terkadang ampuh untuk memancing pemahamannya.

"Kenapa kamu kayak gitu sih?"

"Kamu harus berubah," jawab Hera dengan seringaian yang menurut Lea sangat menggelikan.

"Berubah kayak gimana? Emangnya aku power-"

"Sstt, gini nih yang buat kamu selalu stuck dan nggak maju maju. Karena pikiranmu sempit dan nggak mau berkembang," potong Hera dengan cepat.

"Terus?"

"Makanya kamu harus berubah. Berubah dalam bentuk kebiasaan dan sikap burukmu yang selalu merugikan diri sendiri itu."

"Tapi kamu tahu kan, Ra. Aku udah kayak gini sejak dulu."

"Justru karena kamu udah kayak gitu dari dulu, mulai sekarang harus dirubah."

"Tapi tadi kamu lihat sendiri kan, Ra? Kalau Pak Elgar udah nggak permasalahkan kejadian tadi. Beliau juga udah pergi gitu aja tanpa nuntut aku buat minta maaf atau semacamnya kan? Jadi nggak usah minta maaf nggak apa-apa kali. Yang penting aku nggak ceroboh ataupun ngulangi kesalahan yang sama lagi, seperti kata Pak Elgar yang terhormat tadi," pungkas Lea dengan harap-harap jika Hera tidak akan memaksanya lagi.

"Tapi-"

"Nggak ada tapi-tapian lagi, Hera. Udah ya, aku nggak mau pusing lagi karena masalah ini. Lupain aja, posisi kita pasti aman kok. Lagi pula aku juga nggak sengaja tadi, masa gitu aja sampai ngaruh sama pekerjaan kita di sini. Sadis bener," sahut Lea yang sudah jengah untuk berlarut-larut dalam persoalan ini.

"Ya udah deh. Kamu nggak perlu minta maaf lagi sama Pak Elgar. Tapi itu bukan berarti untuk dijadikan alasanmu nggak berubah ya. Kamu harus tetep berubah jadi pribadi yang lebih baik bagi diri sendiri dan juga orang lain. Karena kamu nggak boleh membuat dirimu ini dicap sebagai orang yang-"

"Baik, Ibu. Saya pasti akan berubah. Tapi juga perlu membutuhkan waktu. Karena kebiasaan saya yang suka telat, ceroboh, dan yang lain-lainnya itu sudah mendarah daging dalam diri jiwa dan raga saya sejak dini," timpal Lea dengan bahasa bakunya.

"Kalau begitu, aku menunggumu untuk bisa beradaptasi dengan baik di sini. Jangan segan untuk meminta tolong atau apapun itu sama aku, oke?"

"Siap."

"Udah ayo kerja lagi, jam istirahatnya udah selesai," peringat Hera yang diangguki olehnya.

Kehidupan masa dewasa Lea benar-benar mulai terasa dan teruji saat ini. Apalagi sekarang ia sedang tinggal jauh dengan kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki sejak kedua orang tuanya meninggal dari insiden kecelakaan kala ia masih bersekolah di bangku dasar. Dan kehidupannya sekarang harus dipaksa keras untuk berjuang sendirian, ia tidak ingin lagi bergantung apalagi menyusahkan dan membuat beban kakaknya. Ia harus bisa bangkit dan memutar balik kondisinya yang semula susah dan menyedihkan sampai berakhir bahagia, selamanya.

"Leaa!"

Seketika lamunannya buyar kala Hera memanggil dengan sedikit menyenggol bahunya.

"Apa lagi sih, Ra?"

"Ituu," ucap Hera dengan berbisik sangat pelan sembari mengisyaratkan sesuatu dengan dagunya.

Dan Lea yang sudah bisa paham dengan kode tersebut sontak mengikuti kemana arah yang ditunjukkan oleh Hera tadi. Seketika Lea panik dan refleks menundukkan kepala. Baru juga selesai dibahas, sang empu sudah tiba saja di sana.

"Mampus. Kenapa Pak Elgar ke sini?" tanya Lea yang langsung menundukkan kepala karena sudah melihat Elgar datang dan masuk ke ruangan para karyawan, yang mana ada Lea juga di dalamnya.

"Karena mungkin beliau lagi survei pekerjaan kita secara langsung."

"Aduh."

Baru saja tadi dia bisa tenang karena tidak perlu memikirkan masalah yang menimpanya tadi pagi. Namun sekarang Elgar malah datang menghampiri ruangannya untuk crosscheck semua pekerjaan para karyawannya secara langsung. Dan di situlah letak permasalahan yang sudah membuat Lea takut setengah mati. Karena ia belum menyelesaikan pekerjaannya sejak tadi karena sibuk mondar-mandir dan mencemaskan nasibnya di sini.

Bab 3

Keringat dingin mulai terasa membasahi kedua tangan Lea. Wanita itu merasakan kegugupan yang luar biasa saat langkah Elgar semakin mendekat ke arah tempatnya berada. Jantungnya seakan ingin meledak karena saking cepatnya berdetak.

"Kenapa kau terus menunduk tanpa menunjukkan hasil kerjamu hari ini?" tanya Elgar tak lama kemudian kepada Lea.

Wanita itu sontak menelan ludahnya dengan getir dan perlahan memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya menghadap bossnya itu. Mau tak mau ia juga akan tetap berurusan dengan Elgar. Belajar tebal. muka dan tahan banting sepertinya akan dilakukan oleh Lea mulai saat ini.

"Kamu lagi?" lanjut Elgar saat masih bisa mengenali wajah Lea hari ini.

Dan sang empu hanya tersenyum kikuk dengan tatapan mata yang memelas dan tentunya dengan ekspresi yang sungguh ketakutan. Ia sampai segan menatap balik ke arah Elgar itu terlalu lama. Apalagi posisinya sekarang memang sedang bersalah.

"Maaf, Pak."

"Saya tidak butuh kata maafmu. Sekarang mana hasil kerjamu hari ini?"

Perasaan Lea semakin tak karuan karena tatapan tajam yang tersorot ke arahnya dengan begitu menakutkan. Hera yang berada duduk di sampingnya pun tak bisa membantu banyak. Ia sendiri juga takut jika harus mengikut campuri masalah dengan Elgar, atasannya secara langsung. Bisa-bisa nanti ia akan terkena imbasnya sendiri.

"Maaf, Pak. Saya belum selesai mengerjakannya sampai saat ini," aku Lea dengan jujur. Ia sudah tidak punya piihan lagi sekarang. Daripada ia semakin terkena amukan besar karena berbohong, lebih baik ia mengaku terlebih dahulu sebelum pria yang ada di depannya ini memarahinya.

"Belum terselesaikan? Sejak tadi apa yang kau lakukan?"

Suara keras dari Elgar terdengar menggema ke sepenjuru ruangan sana. Pria itu sudah benar-benar dibuat naik darah akan sikap yang dilakukan oleh Lea hari ini. Padahal seluruh karyawan di sini sudah sangat jelas mengenal tipe dan kriteria dirinya sebagai pimpinan di sini. Lantas mengapa satu karyawan yang baru ia kenal ini sudah banyak membuat kesalahan meski dalam satu hari saja?

"Saya-" ucapan Lea mendadak tergantung saat ada suara langkah kaki yang terdengar sedang terburu-buru masuk ke ruangan karyawan sana. Jelas saja hal itu sudah menyita semua perhatian orang, termasuk Elgar sendiri.

"Pak Elgar."

Ternyata itu adalah seorang wanita muda menyebalkan yang Lea lihat tadi pagi.

"Ada apa?"

"Maaf, Pak. Kali ini saya harus mengabarkan berita buruk."

Dahi Elgar refleks mengerut saat mendengar pernyataan yang disampaikan oleh sekretarisnya ini.

"Berita buruk apa? Cepat katakan dan jangan bertele-tele!" tukasnya dengan wajah yang mulai tegang.

"Pak As masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh lagi, Pak."

Terlihat dengan jelas, Elgar langsung merubah raut wajahnya yang garang tadi menjadi cemas. Pikirannya mulai kalut dan tak bisa fokus dengan pekerjaannya lagi sekarang. Sebelum ia benar-benar pergi dari sana, ternyata Elgar masih menyempatkan diri untuk menghadap ke arah Lea lagi dengan mengungkapkan pesan yang menurut Lea sangat mengerikan.

"Ini adalah peringatan terakhir bagimu. Jika satu kali lagi kamu melakukan kesalahan, maka saya tidak akan segan-segan untuk memberhentikanmu dengan paksa dari sini. Paham?"

Lea menahan napasnya sekejap sebelum ia bisa nengangguk pelan dengan berat dan juga terpaksa.

"Baik, Pak."

Elgar langsung pergi meninggalkan ruangan karyawannya dengan langkah terburu-buru. Dan tentunya wanita yang berstatus sebagai sekretarisnya itu juga sudah melangkah pergi dengan mengikuti kemana Elgar melangkah. Seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

"Selamet," gumam Lea sendiri seraya mengusap dadanya. Ia masih tegang akibat sisa rasa yang ia miliki beberapa saat yang lalu akibat Elgar tadi.

"Beruntung banget kamu hari ini bisa lepas dari amukan Pak Elgar. Mulai sekarang kamu harus bisa menaati peraturan dan bekerja yang baik selama kamu masih ingin bekerja di sini," bisik Hera yang tak kalah leganya seperti Lea sekarang ini.

"Iya boss iya."

Sedangkan di lain sisi saat ini, Elgar sudah berlarian kecil mencari ruang inap ayahnya setelah memasuki lorong rumah sakit barusan. Jantungnya berdetak sangat cepat, napasnya memburu, serta keringat yang terus luruh membasahi wajah dari dahi hingga dagunya. Perasaannya benar-benar kacau di setiap kali mendengar kabar jika ayahnya jatuh sakit sampai dirawat seperti ini.

Karena itu menandakan jika penyakit ayahnya kembali kambuh tanpa bisa dielakkan sama sekali. Dan ketika ia berhasil menemukan ruang inap pasien yang sejak tadi dicarinya, langkah Elgar langsung terhenti di depannya saat itu juga. Ia mengatur pola napasnya dengan baik sebelum benar-benar memberanikan diri untuk menekan gagang pintu ke bawah dan masuk ke dalam sana.

Lima detik kemudian akhirnya Elgar bisa masuk dengan suara langkah yang pelan. Namun karena saking hening dan sunyinya ruang inap itu, seseorang yang ada di dalam sana masih bisa mendengar dan menoleh ke arahnya.

"Kak Elgar."

Seorang gadis muda yang beruraian air mata itu langsung pergi menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Elgar. Tanpa bisa menolak ataupun mengelak lagi, Elgar menerima dan mendekapnya dengan sepenuh hati. Keduanya seakan dapat merasakan sakit serupa.

"Papa sakit lagi, Kak," ujarnya dengan suara yang parau akibat banyak menangis hari ini.

"Bagaimana bisa kambuh lagi?"

"Kata dokter papa terlalu banyak pikiran sampai stress dan penyakit jantungnya kumat lagi," jelasnya pada Elgar.

"Kakak mau lihat papa sebentar."

Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan mengendurkan pelukannya sampai terlepas. Sedangkan Egar sudah melangkah maju semakin dekat ke arah brankar rumah sakit, dimana tempat ayahnya berbaring sekarang. Kedua matanya saat ini sudah melihat dengan jelas pria paruh baya yang sedang terbaring dengan memejamkan matanya di sana. Wajah yang pucat pasih dengan bantuan alat oksigen untuk membantu pernapasannya benar-benar membuat perasaan pria berusia 28 tahun itu sakit.

"Mama kemana?"

"Mama masih ngurus administrasinya papa, Kak."

Elgar menganggukkan kepalanya mengerti. Tatapannya kembali terarah seperti semula. Dan kini ia mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai tangan ayahnya agar bisa digenggam lembut dan juga hati-hati.

"Pa, ini Elgar. Papa harus segera bangun. Papa nggak boleh sakit, papa harus cepet sembuh," monolog Elgar yang seakan papanya itu bisa mendengar juga menjawabnya.

"Papa harus tetap sehat sampai Elgar bisa buktikan sama papa. Elgar akan dedikasikan semua usaha dan kerja keras Elgar sampai detik ini hanya untuk papa. Tolong tetap bertahan dan selalu sehat sampai Elgar juga tua nanti," lanjutnya.

Kali ini suaranya terdengar sedikit gemetar lantaran ia sedang menahan rasa tangis dalam dadanya. Kedua matanya pun juga sudah berkaca-kaca karena berusaha keras untuk membendung air mata di sana. Ia tidak bisa menangis. Ia tidak akan membiarkan hatinya kalah dengan kondisi yang seperti ini.

"Kak."

Perlahan Elgar menoleh ke arah sumber suara dengan berusaha menarik bibirnya simpul.

"Tadi mama sempet bilang sama aku, kalau papa stress sampai sakit kayak gini karena memikirkan kakak."

"Memikirkan kakak? Karena hal apa? Apa kakak melakukan kesalahan yang nggak-"

"Karena kakak nggak kunjung nikah sejak papa menitah satu tahun yang lalu," potong gadis itu yang berhasil membuat Elgar langsung terdiam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED