Bab 1

"Sial, apa aku gagal untuk bangkit? Apa yang salah?"

Sosok pria dengan tubuh bak diselimuti sebuah cahaya itu berdiri di atas gundukan tanah. Beberapa detik lalu dia baru saja keluar dari gundukan tanah tersebut, dengan sebuah batu nisan yang namanya sudah tidak bisa dibaca lagi. Makam itu terlihat begitu tua dan tidak terurus. Banyak tumbuhan merambat yang menempel pada batu nisan, dan rumput liar tumbuh lebat di atas gundukan tanah itu.

Dan pria berselimutkan cahaya itu mengeluh dengan wajah menengadah pada langit, matanya terlihat sendu penuh oleh kekecewaan. Tubuhnya cukup tinggi dan memiliki otot yang bagus, dia berambut hitam gelap yang cukup panjang berkibar diterpa oleh angin, sedangkan matanya berwarna merah yang nyaris terlihat menyala jika berada di kegelapan.

Lagi-lagi dia mengeluh pelan, menundukkan wajahnya pada gundukan tanah itu. Burung-burung di pepohonan berlarian menjauhi makam seolah tengah ketakutan. Dia masih diam di sana, kemudian berjongkok di depan makam sambil melihat tangannya yang nyaris transparan itu.

"Berapa ratus tahun yang aku lewati, kenapa kebangkitanku seperti ini?" keluhnya lagi tidak habis pikir.

"Tubuhku sudah hancur oleh tanah. Astaga, aku tidak percaya ini akan terjadi padaku. Sepertinya Tuhan tidak mengijinkanku untuk melakukan kebangkitan. Sialan, aku benar-benar kesal. Jika seperti ini, hanya ada satu pilihan! Mencari tubuh baru, itu Menyebalkan!"

Dia terus menggerutu dengan wajah kesal bercampur kecewa, yang kemudian memilih berjalan meninggalkan makam tua tersebut dengan penuh helaan napas. Tepat setelah meninggalkan makam tuanya, dia dikejutkan oleh pemandangan kota yang mengagumkan di bawah langit jingga yang mempesona.

"Astaga, tempat apa ini?" serunya terkejut.

"Berapa lama aku mati? Apa dunia sudah benar-benar berubah?" lanjutnya tidak bisa mendapatkan jawaban.

Dia melirik pada sosok pria dengan balutan pakaian hitam yang berdiri di trotoar. Tangannya terulur hendak menyentuh pundak pria itu dan bertanya. Astaga, dia lupa siapa dirinya saat ini, sampai membuatnya cukup terkejut lantaran tangannya menembus tubuh itu.

"Astaga, yang benar saja!!!!" teriaknya penuh frustasi. Dia benar-benar sadar jika sosoknya saat ini benar-benar seperti hantu. Dan itu membuatnya lebih kecewa dari apa pun.

"Baiklah, di mana tubuh yang bisa aku gunakan?" gumamnya lagi memilih meninggalkan tempat beserta pria itu. Dia terus melihat ke sana ke mari pada pemandangan kota yang dipenuhi oleh gedung tinggi, yang saat matahari tenggelam banyak cahaya menyala di berbagai tempat, membuat tempat itu berkilau olehnya.

"Tempat ini cukup hebat," ungkapnya mengomentari kota tersebut.

"Kemarilah! Ibu akan bercerita!" Dia terhenyak saat mendengar sosok wanita yang berseru pada sejumlah anak-anak di teras rumah.

Dia memalingkan pandangannya dari gemerlap kota, melihat sekumpulan anak-anak di teras bangunan kecil yang terpagari dengan rapi. Anak-anak itu duduk rapi dengan seorang wanita tua duduk di depan.

"Ini dongeng 100.000 tahun lalu, sebelum jaman modern berdiri seperti sekarang. Hidup manusia yang disebut sebagai immortal. Mereka adalah sang abadi dengan kekuatan hebat yang bisa mengguncang dunia. Bahkan mereka bisa membunuh kita hanya dengan satu gerakan hebatnya!"

Dia kembali terperangah mendengar cerita itu. Entah mengapa itu terdengar begitu mirip dengan kehidupannya. Dia pun membawa kakinya ke tempat itu, lantas mendengarkan sebuah dongeng bersama anak-anak yang begitu antusias.

"100.000 tahun lalu terjadilah peperangan antara para immortal dalam waktu berhari-hari, mengotori tanah dengan darah mereka. Namun, sebelum ada yang memenangkan peperangan itu. Bencana datang dari langit! Petir menyambar dengan ganas menghanguskan para immortal. Bukan hanya itu, bahkan tanah pun bergoyang, air laut meluap tinggi menyapu bersih immortal di medan perang tak tersisa!" Wanita itu bercerita dengan penuh ekspresi, membuat anak-anak semakin antusias bukan main.

"Wah itu mengerikan sekali Bu!" sahut anak-anak dengan wajah ketakutan.

"100.000 tahun lalu kah?" gumamnya dengan wajah menengadah pada langit malam yang dipenuhi oleh gemerlapnya bintang. Dia kembali berjalan, sambil mengingat peperangan besar itu.

Namanya Theodore, sosok immortal yang hidup 100.000 tahun lalu dan mendapati kematian oleh kemarahan langit akibat peperangan penuh darah itu. Itu adalah cerita yang mengerikan.

100.000 tahun lalu

"Semuanya serang!!"

"Serang!!!"

Gemuruh suara kaki berlari terdengar bersahutan dengan teriakan memekakkan telinga. Detik berikutnya disusul oleh suara nyaring dari benda tajam yang saling beradu satu sama lain.

Perlahan darah mulai menetes mengubah warna tanah. Theodore memegang erat pedangnya, mengangkatkan ke atas langit, terus memberi komando ratusan pasukan untuk menyerang musuh.

Matanya merah menyala dan begitu tajam, tidak ada raut takut yang terukir di sana. Dengan perlahan Theodore mulai bergerak, dia memukul tubuh kuda yang ditungganginya dengan kaki kanannya, kemudian memacunya membuat hewan itu meringkik dan berlari.

Pedangnya mulai terayun ke beberapa arah, menebas musuhnya tanpa ampun. Darah merah berbau amis terus menodai tubuhnya. Tapi, itu tidak mengganggunya, seolah membunuh adalah hal yang biasa dia lakukan.

"Mereka terlalu kuat untuk dikalahkan dalam waktu singkat," lirih Theodore setelah tiga hari berlalu, dan pertarungan belum menunjukkan siapa pemenangnya.

"Maju! Bunuh semuanya!" teriak Theodore mulai kesal karena tidak kunjung menang.

Setelah beberapa hari berlalu, tiba-tiba langit menjadi begitu gelap padahal hari sedang cukup terik. Cahaya kilatan berwarna ungu menyambar-nyambar dengan ganas pada tanah. Justru mengenai orang-orang yang sedang bertarung.

"Ada apa ini?" tanya Theodore merasa aneh.

Petir itu jelas telah membunuh banyak orang. Kemudian disusul oleh tanah yang bergetar, bahkan di beberapa bagian terlihat retak, sehingga beberapa terperosok ke dalamnya. Ternyata itu semua belum selesai, air laut menguap dengan sangat tinggi, membuat Theodore merasakan tubuhnya bergetar.

"Ini bukan bencana, tapi ini adalah hukuman langit," lirihnya menatap langit gelap dengan petir. Air laut sudah semakin dekat. Sedang tidak ada kemungkinan adanya keselamatan.

"Sia-siakah? Langit marah dengan peperangan ini." Theodore menghembuskan napas beratnya. Dia terdiam sejenak dengan mata terpejam, sehingga tidak dapat mendengar suara panik semua orang yang berusaha menyelamatkan diri.

Mulutnya mulai bergerak, lengannya menahan petir yang menyambar dengan kuat. Tepat setelah dia selesai membaca sebuah mantra, petir itu mengenai tubuh Theodore.

"Aku akan terima kematian ini, tapi aku akan segera bangkit lagi," lirihnya yang akhirnya memejamkan matanya tanpa napas yang tersisa darinya.

Itulah yang terjadi padanya 100.000 tahun lalu, kematian yang menyebalkan baginya. Seharusnya dia bisa hidup sebagai immortal terkuat, apalagi dia memiliki pengaruh cukup besar. Tapi, lihatlah dia sekarang yang bahkan tidak memiliki tubuh, sehingga terus berjalan dengan harapan akan bertemu dengan tubuh tersebut.

"Ah, tidak heran jika dunia sudah berubah seperti saat ini. Semuanya sudah 100.000 tahun sejak bencana langit yang menghancurkan dunia itu. Dan, semua tentang immortal hanyalah dongeng pada jaman sekarang," gumamnya lagi.

Dia sudah mendapatkan jawaban yang dia cari. Namun, tetap saja itu mengejutkannya. Seharusnya dia bangkit 10.000 tahun setelah bencana langit, bukan 100.000 tahun. Dia kembali menggerutu penuh oleh kekesalan dan sumpah serapah yang seolah tidak ada habisnya.

"Sampai kapan aku harus mencari tubuh baru?!" serunya semakin menjadi-jadi.

Dia kembali menghembuskan napas beratnya, sambil terus berjalan menyusuri kota dalam keadaan malam yang cukup ramai oleh kegiatan manusia pada umumnya. Sesekali dia melihat sebuah layar pada salah satu bangunan besar dan tinggi, menampilkan sebuah gambar pertarungan dengan monster. Pemandangan itu membuat dahinya mengernyit, tentu tidak tahu itu apa, dan benda apa.

"Pertarungannya terlihat nyata?" gumamnya mengomentari. Tapi, dia tidak mau memikirkan gambar tersebut, memilih fokus untuk mencari sebuah tubuh yang bisa dia pakai.

Hingga pada akhirnya dia melihat sosok anak muda yang tubuhnya penuh oleh memar tengah meringkuk di ujung ruangan bersama beberapa anak muda lainnya yang tengah menindasnya sambil tertawa lebar. "Malang sekali anak itu," ujarnya mengasihani anak muda itu.

Bab 2

"Hahaha dasar lemah!"

"Itulah kenapa kamu selalu gagal pada ujian hunter!"

"Rasakan ini!"

Anak-anak muda itu terus menendang anak muda yang tidak berdaya, bahkan tidak bisa memberikan perlawanan sama sekali. Kedua tangannya menangkup kepala, demi melindunginya dari tendangan mereka. Sesekali dia memuntahkan darah, sambil terus meringis tanpa meminta ampun, menahan sakit pada tubuhnya.

"Malang sekali," ucap Theodore menatap iba anak itu.

"Ah, membosankan sekali! Dia sudah sekarat! Ayo kita tinggalkan!" ucap salah satu anak itu berhenti menendang.

"Benar, dia akan segera mati di sini. Ayo!" Dengan begitu mereka langsung meninggalkan pemuda yang sekarat itu. Lengan anak itu terulur pada Theodore yang berdiri tidak jauh di dekatnya.

"Apa kau malaikat? Tubuhmu bersinar, tolong aku!" lirih anak muda itu memelas.

"Kau bisa melihatku?" tanyanya memilih berjongkok di hadapan anak muda itu.

"Ya, tolong aku. Aku mohon, aku harus menjaga adik dan ibuku," ucap anak muda itu lagi penuh permohonan, dia seolah tahu jika hidupnya akan segera berakhir.

"Anak muda, sayangnya kau tidak bisa hidup setelah ini. Kecuali kau bersedia memberikan tubuhmu padaku, aku akan membalaskan ketidakadilan yang kau alami, dan melindungi adik dan ibumu." Anak muda itu terperangah, dia batuk darah untuk kesekian kalinya, lantas tersenyum kecil.

"Ya, jika hanya itu pilihannya. Aku bersedia," balas anak muda itu menyerahkan tubuhnya pada sosok yang dia lihat bak malaikat di matanya.

"Siapa namamu?" tanyanya yang kemudian membuatnya tersenyum mendengar nama anak muda itu begitu sama dengannya. Dia pikir inilah takdirnya, untuk memiliki tubuh anak muda tersebut.

"Baiklah, Theodore, kau milikku sekarang!" Theodore tersenyum kecil, menyaksikan napas terlakhir anak muda itu, lantas dia bisa memasuki tubuhnya yang penuh oleh memar. Rasa sakit yang luar biasa langsung dapat dia rasakan.

"Ini menyakitkan sekali," gumamnya penuh oleh rintisan.

"Sialan, kenapa tubuh anak ini begitu lemah!" Meski senang bisa mendapatkan tubuh, tapi dia pun begitu kesal dengan tubuh lemahnya.

Theodore memilih untuk duduk bersila, dia mencoba menyerap energi alam dan menyembuhkan lukanya. Beberapa menit kemudian tanpa hasil, dia kembali menyumpah serapahi tubuh lemahnya. Tapi, dia bisa melihat seluruh ingatan anak muda malang ini sebelum mati, ingatan itu cukup membuatnya marah.

"Sial, bahkan kekuatanku saat ini tidak bisa berfungsi! Benar-benar menyebalkan!" Theodore begitu frustasi dibuatnya, sehingga dia tidak memiliki pilihan lain selain pulang.

Dia dengan tertatih memasuki sebuah gang kecil hingga mendapati rumah kecil yang tidak begitu bagus itu, lampu di dalamnya masih menyala. Dia menghela napasnya pelan, lantas mengetuk pintu tersebut.

"Ya! Tunggu sebentar!" Suara menyahut terdengar di balik pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian sosok gadis kecil muncul dengan wajah terkejut bercampur panik melihat kedatangan Theodore.

"Kak Theo! Kakak kenapa? Kenapa penuh luka? Ayo masuk, biar aku obati!" Gadis kecil itu langsung memapah tubuh Theodore memasuki rumah, lantas membawanya duduk di salah satu kursi kayu tanpa bantalan yang membuatnya terasa begitu keras.

"Ibu! Kak Theo pulang dengan tubuh terluka!" Gadis itu kembali berteriak untuk memberitahu ibunya. Sedang dia sibuk menyiapkan air dan handuk, kemudian obat P3K.

"Jadi dia Allita, gadis yang baik," lirih Theodre memperhatikan gadis kecil itu.

"Astaga Theo, ada apa denganmu? Apa kamu berkelahi lagi? Lihatlah tubuhmu begitu mengerikan!" Sosok wanita berumur yang wajahnya penuh oleh guratan lelah itu menghampiri Theodore, matanya begitu sendu penuh oleh kesedihan menatapnya.

"Aku baik-baik saja, Bu. Jangan cemas," balas Theodore lembut.

"Sini biar aku obati!" seru Allita mulai membersihkan luka pada tubuh Theodore dengan hati-hati, apalagi sesekali Theodore meringis pelan pada setiap sentuhan gadis kecil itu.

"Maaf, sakit ya, Kak. Kakak kenapa sering bertengkar? Selalu saja pulang dengan lebam, ibu selalu cemas tahu!" Gadis kecil itu mulai berceloteh dengan intonasi marah. "Lagi pula, jika ingin bekerja tidak perlu menjadi hunter. Aku cemas, pekerjaan itu berbahaya! Bagaimana jika Kakak mati!" lanjutnya seolah memarahi Theodore.

Yang dimarahi hanya diam mendengarkan. Benar yang dikatakan gadis kecil ini, tapi dia sendiri tentu tahu kenapa pemuda ini mau melakukan semua itu. Nasibnya begitu berat, bahkan dia tidak memiliki kemampuan apa pun dengan tubuh lemahnya. Menjadi hunter hanya akan mengantarkan nyawanya pada monster.

Omong-omong tentang hunter, adalah pekerjaan berat yang bersangkutan dengan nyawa, lantas bekerja untuk membunuh monster dan menukarnya dengan uang. Mengerikan memang. Tapi, di dunia yang saat ini telah bangunnya para monster dari dalam tanah membuat tidak tenang manusia. Sehingga berdirilah berbagai perusahaan hunter di dunia untuk membasmi mereka dan melindungi manusia. Theodore yang mendapatkan informasi ini dari ingatan si anak muda pemilik tubuh ini membuatnya tersenyum sehingga membuat Allita mengernyit melihatnya.

"Kenapa tersenyum? Apa Kakak dengar aku?!" seru Allita tampak sedikit galak. Theodore yang mendengar itu justru terkekeh pelan, Dia menaruh lengan kanannya pada pucuk kepala Allita, lantas mengelus lembut rambutnya yang hitam itu.

"Ya, aku dengar. Terima kasih ya," ucap Theodore lembut.

Allita tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain menyedipkan matanya berulang kali. Apa yang dia pikirkan? Apa dia sedang berpikir jika Theodore saat ini sangat berbeda dengan Theodore yang dia kenal?

"Aneh, sejak kapan Kakak bersikap lembut seperti ini? Biasanya Kakak akan marah dan berteriak 'Terserah aku akan bekerja sebagai apa! Lihat saja, aku akan berhasil lolos sebagai hunter dan memberimu uang banyak, kemudian kita bisa makan enak, membeli banyak baju baru, dan membeli rumah baru!'," seru Allita memperagakan bagaimana Theodore berbicara.

Theodore yang mendengar itu justru terkekeh pelan, Dia merasa lucu sekali pada gadis kecil itu bersama sang kakak yang sok kuat padahal selalu dalam keadaan terpuruk dengan angan-angan yang tidak dapat dia raih, mengenaskan memang.

"Lihat saja ya, Allita!" balas Theodore sambil tersenyum kecil.

"Ibu! Kak Theo aneh!!!" teriak Allita membuat Theodore terkekeh pelan. Bagaimana tidak aneh? Karena dia bukanlah Theodore yang Allita kenal, mungkin suatu saat nanti dia akan mengatakan kebenaran ini padanya. Tapi, untuk sekarang biarlah dia seperti ini dulu.

"Mungkin kepalanya terbentur," balas sang ibu sambil terkekeh pelan. Dia datang dengan segelas teh hangat, menaruhnya di atas meja.

"Minumlah Theo," ucapnya lembut, lantas duduk di salah satu kursi dekat Theodore.

"Terima kasih, Bu!" Theodore langsung meneguk teh hangat itu. Rasanya cukup nikmat dan manis, sekalipun dia tidak terlalu suka makanan atau minuman manis. Tapi, ini adalah minuman pertama yang dia minum setelah 100.000 tahun, cukup membasahi tenggorokannya yang kering.

"Terlalu manis, tapi ini minuman pertamaku setelah sekian lama," gumam Theodore sambil menaruh kembali minuman itu di atas meja.

"Kakak, kenapa Kakak seperti tidak minum bertahun-tahun?" tanya Allita dengan wajah heran melihat kakaknya.

"Bukankah kamu suka dengan teh manis, Nak?" tanya sang ibu membuat Theodore mengernyit, hingga akhirnya dia mengatur ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang.

"Aku rasa, aku tidak terlalu menyukai sesuatu yang manis, Bu. Yang sedikit pahit lebih enak," ucap Theodore lembut sambil tersenyum menatap ibunya.

"Allita, ini sudah cukup. Terima kasih sudah mengobatiku," lanjut Theodore yang menghentikan Allita yang masih sibuk mengobati luka Theodore.

"Aku minta maaf telah membuat kalian selalu cemas, tapi kalian tenang saja. Aku akan menunjukkan jika aku bisa. Tunggu saja, kalau begitu aku ingin istirahat. Selamat tidur Ibu, Allita!" ucap Theodore sambil mencium pipi ibunya, dan mengelus pucuk kepala Allita, kemudian pergi ke kamarnya untuk istirahat.

Tindakannya itu membuat ibu dan adik terkejut, bahkan mereka mematung di tempat, lalu dengan perlahan kepala mereka bergerak ke kanan dengan serentak menatap satu sama lain dengan mata berkedip beberapa kali.

"Ada apa dengan kakakmu?" tanya si ibu kebingungan.

"Aku tidak tahu," balas Allita. Kedua orang itu kembali terdiam, lantas melihat ke pintu kamar Theodore yang sudah tertutup rapat. Kemudian kedua orang itu terkekeh pelan, mengenyahkan pikiran aneh tentang Theodore dan memilih untuk beristirahat

Bab 3

Di dalam kamar justru Theodore tidak tidur. Dia duduk bersila dengan kedua tangan terbuka di atas kakinya, sedangkan matanya terpejam. Dia kali ini dapat melihat kembali ingatan pemilik tubuh, sehingga seluruh pengetahuan dan ingatan itu menjadi miliknya. Setelah dia menyerap semuanya, Theodore mencoba menyerap energi alam, menjadikannya miliknya.

Membutuhkan waktu cukup lama karena tubuh lemahnya ini, bahkan dia berjam-jam tidak mendapatkan hasil apa pun. Sampai dini hari dia mulai bisa merasakan energi alam mulai memasuki tubuhnya dengan pelan. Tapi, tubuhnya masih belum bisa menerima energi tersebut, sehingga Theodore membuka matanya penuh keluhan.

"Sialan, tubuh ini terlalu lemah!" gerutu Theodore tidak habis pikir dengan dirinya yang justru mendapatkan tubuh anak muda ini.

Dia bangkit dari tempat duduknya, lantas menatap dirinya pada cermin. Dia melihat dirinya sendiri yang memiliki rambut hitam dengan mata merah, tubuhnya cukup kurus sehingga membuat meringis melihatnya. Dia menyentuh rambut belakangnya dengan wajah berpikir.

"Rambutnya terlalu pendek," ungkap Theodore yang terbiasa memiliki rambut panjang yang bahkan tidak kalah indah dengan rambut panjang seorang gadis. Apalagi di jamannya nyaris tidak ada pria berambut pendek.

"Biarlah, nanti akan tumbuh sendiri. Lebih baik fokus untuk memperkuat tubuh," gumamnya melihat betapa kurus dan lemahnya tubuhnya itu. Sekarang dia tidak lagi duduk atau berniat tidur, apalagi hari sudah nyaris pagi. Theodore memilih melakukan push up untuk melatih kekuatan tubuh lemahnya itu. Baru beberapa push up saja membuatnya kelelahan bukan main.

"Benar-benar lemah!" Untuk kesekian kalinya dia menggerutu kesal. Sampai akhirnya sadar jika matahari sudah terbit.

"Kak Theo! Sudah pagi, ayo bangun, sarapan, dan pergi sekolah!" seru Allita di luar kamar Theodore.

"Selamat pagi, Allita!" sapa Theodore yang keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah, lantas duduk di kursi bersama Allita, menghadapi makanan yang begitu sederhana.

"Ibu mana?" tanya Theodore tidak melihat wanita itu.

"Kakak seperti tidak tahu saja, Ibu berangkat kerja setengah jam lalu. Seperti biasa!" Theodore menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Ibunya bernama Bailey, sosok single parent yang menghidupi kedua anaknya sejak meninggalnya sang suami empat tahun lalu. Dia bekerja sebagai pembantu pada salah satu orang kaya tidak jauh dari rumah. Dan orang kaya itu memiliki anak tunggal yang telah membunuh Theodore tadi malam.

Setelah selesai makan, Theodore berjalan bersama Allita meninggalkan rumah, menuju sekolah mereka. Theodore sudah kelas 3 akhir sedangkan Allita kelas 1 menengah. Ibu berjuang menyekolahkan kedua anaknya, yang bahkan sesekali mereka tidak bisa membayar uang sekolah dalam beberapa bulan.

"Aku harus menyusun rencana," gumam Theodore sepanjang jalan memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Mengingat kejadian malang tadi malam, membuatnya ingin membalas kematian Theodore. Tapi, sayangnya dia tidak bisa bertindak begitu saja, mengingat salah satu anak itu adalah anak tunggal majikan ibunya.

"Apa yang Kakak gumamkan?" tanya Allita mengangkat wajahnya, melihat Theodore yang menampilkan wajah berpikir.

"Ah, bukan apa-apa," balas Theodore.

Kemudian mereka berpisah ke sekolah masing-masing. Allita melambaikan tangannya, kemudian berlari menyusul teman-temannya dan kembali berjalan sambil berbincang dengan mereka.

"Aku harap gadis kecil itu tidak ada yang mengganggunya," gumam Theodore memilih terus berjalan ke sekolah. Tidak lama kemudian dia sampai di tempat itu. Dia menghela napas pelan, merasa tidak menyangka jika dia akan melakukan aktifitas seperti ini.

"Theo! Selamat pagi!" sapa anak muda dengan tubuh gendut kala melihat kedatangan Theodore ke sekolah.

Namanya Wisley, teman baik Theodore. Dia tidak begitu miskin sepertinya, tapi salah satu orang yang bersikap ramah pada Theodore yang tergolong anak paling miskin di sekolah ini. Sehingga nyaris tidak ada yang mau berteman dengannya.

"Oh, Wisley! Selamat pagi!" balas Theodore tersenyum kecil.

"Lihatlah dirimu, Theo! Kau datang ke sekolah dengan wajah babak belur," ungkap Wisley menatap iba Theodore. "Itu pasti ulah Leaman?" lanjut Wisley bertanya sekaligus memastikan. Theodore hanya mengangguk sebagai jawabannya yang justru membuat Wisley terkejut.

"Ada apa?" tanya Theodore heran.

"Ya, kau hari ini jujur sekali," lirih Wisley seolah berusaha yang ada di sampingnya ini adalah Theodore. "Biasanya kamu akan bilang, 'Bukan dia, aku baik-baik saja', Dasar pembohong! Aku tahu mereka selalu jahat padamu!" lanjut Wisley mempraktikkan bagaimana Theodore berbicara.

"Oh, benarkah? Tapi, sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada mereka, nanti!" ungkap Theodore dengan suara pelan. Dia melirik Wisley yang berhenti berjalan, dan saat ini tubuhnya mematung dengan wajah tercengang, sedangkan Theodore malah mengernyitkan dahinya.

"Apa kau baik-baik saja, Theo?" tanya Wisley sambil menyentuh kening Theodore yang tidak panas. "Ada apa?" sahut Theodore menyingkirkan lengan Wisley dari keningnya.

"Sejak kapan kau berbicara untuk membalas mereka? Bukankah itu akan membahayakan ibumu yang bekerja di rumah Leaman. Ayolah kawan, kau tidak akan membuat situasi cukup rumit bukan?" ungkap Wisley. Dia tahu jika apa yang telah terjadi pada Theodore cukup mengerikan, memang pantas jika seharusnya tidak diam saja. Tapi, ibunya yang bekerja akan mendapatkan masalah jika terjadi sesuatu pada Leaman.

Terlebih ibunya tidak pernah tahu jika Theodore menjadi korban bully, sehingga sering mengira anaknya nakal dan suka berkelahi sehingga sering terluka. Theodore menepuk pelan pundak Wisley. "Tenang saja, aku tidak sebodoh itu!" balas Theodore yang begitu tenang.

"Theodore! Wisley! Selamat pagi!" Kali ini sosok gadis dengan rambut pirang yang berkliauan dengan kulitnya yang putih muncul dari dalam mobil mewah. Dia menyapa Theodore? Ya, benar. Namanya Shiny, satu-satunya anak orang kaya yang berteman baik dengan Theodore. Gadis paling cantik yang menjadi idaman pria di sekolah.

"Ya, selamat pagi," balas Theodore dengan santai.

"Kalian terlihat sibuk pagi ini," ungkap Shiny yang baru saja melihat kedua orang itu asyik mengobrol.

"Tidak juga," balas Thedore dengan suaranya yang tenang.

"Wisley! Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa sikapnya begitu tenang? Lihat wajahnya itu? Ah aku tahu, dia sedang babak belur, itu pasti ulah Leaman," bisik Shiny pada Wisley yang suaranya masih bisa Theodore dengar.

"Aku tidak tahu, dan Theo jujur jika Leaman yang melakukan itu padanya," ungkap Wisley begitu jujur. Lain lagi dengan Theodore yang hanya melihat dan mendengar obrolan kedua orang itu.

"Theo, aku pasti akan memberikan pelajaran pada Leaman kurang ajar itu. Mau sampai kapan dia menyakitimu hah? Lihat, kenapa kau masuk sekolah dengan tubuh terluka!" Kali ini Shiny memperlihatkan wajah cantiknya yang garang dengan tangan kanan mengepal meninju udara.

"Jangan kotori tanganmu, Shiny. Itu tidak cocok," balas Theodore membuat Shiny mematung dengan sikapnya yang begitu tenang.

"Begitu? Baiklah!" Shiny berakhir pasrah dengan otak berpikir tanpa mendapatkan jawaban. Dia melirik Wisley dengan wajah bertanya, tapi yang dilirik hanya mengedikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.

"Sudah waktunya masuk kelas," ucap Theodore yang berjalan mendahului kedua temannya itu.

Wisley dan Shiny kembali bertukar pandang, namun pada akhirnya mereka mengikuti langkah kaki Theodore dan masuk ke kelas masing-masing. Shiny berada di kelas 3-A sedangkan Theodore dan Wisley ada di 3-B. Shiny melambaikan tangannya saat memasuki kelasnya dengan ceria.

Berbeda dengan Theodore dan Wisley, mereka langsung mendapati meja dan kursi yang penuh oleh coretan dengan kalimat tidak nyaman. Bahkan hari ini Wisley pun bernasib sama. Sekalipun nyaris tidak ada yang mengganggu Wisley.

"Benar-benar," gumam Theodore yang mengeluarkan sapu tangan, lalu membasahinya dengan air, kemudian sibuk membersihkan mejanya, begitu juga dengan Wisley yang bernasib sama. Sedangkan guru sudah memasuki kelas, membuat Theodore terpaksa duduk sebelum berhasil membersihkan tempat duduknya.

"Mereka lagi kah?" gumamnya menatap sinis pada tiga anak yang sibuk terkekeh pelan. "Lakukan apa yang kalian mau untuk sekarang," lanjutnya sambil mengeluarkan alat tulis. Matanya mengelilingi semua orang di kelas yang hanya asyik menonton Theodore yang diganggu, dengan guru yang tidak mempedulikan murid miskin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED