Bab 1

**Bab 1: Tamu Tak Diundang** 

Kerajaan Landbird berdiri megah di jantung benua Eropa, dikelilingi hamparan padang hijau yang membentang sejauh mata memandang. Selama bertahun-tahun, rakyatnya hidup dalam kemakmuran di bawah kepemimpinan Raja Flynn Landbird dan Ratu Elea Marre. Namun, di balik megahnya istana dan kebijaksanaan mereka, satu kelemahan menjadi bisikan di lorong-lorong istana: ratu belum juga memberikan seorang pewaris.  

Elea duduk di depan cermin besar berbingkai emas di kamarnya. Jemarinya dengan anggun mengoleskan bedak tipis ke wajahnya. Matanya yang biru cerah memantulkan ketegasan, meskipun hati kecilnya terasa hampa. Hari ini, ia akan menyambut Flynn, suaminya yang baru saja kembali dari perang. Namun, kegembiraan itu ternoda oleh kabar yang ia terima dari Daisy, pelayan setianya.  

"Jadi benar?" tanya Elea pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. "Raja membawa seorang wanita ke istana?"  

Daisy, yang berdiri di belakang Elea, menunduk hormat sebelum menjawab. "Benar, Yang Mulia. Wanita itu bernama Beatrice. Baginda menemukannya di hutan ketika perjalanan kembali dari medan perang."  

Elea mengangguk kecil, menunjukkan bahwa ia memahami. Tanpa sepatah kata lagi, ia melanjutkan merias wajahnya. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya direncanakan Flynn.  

***

Sementara itu, Flynn berada di kamarnya bersama Beatrice. Wanita itu tampak kumuh, dengan pakaian lusuh dan rambut yang acak-acakan. Namun, di balik keadaan itu, kecantikan alaminya terpancar jelas. Flynn duduk di sampingnya, wajahnya menunjukkan campuran rasa iba dan kekaguman.  

"Apa yang terjadi padamu, Beatrice?" tanyanya dengan lembut.  

Beatrice menunduk, air mata menggantung di sudut matanya. "Saudara-saudara saya mengusir saya, Yang Mulia. Saya tidak punya tempat untuk pergi. Jika bukan karena Baginda, saya mungkin sudah mati di hutan."  

Kisah itu menyentuh hati Flynn. Ia menggenggam tangan Beatrice dan berjanji akan melindunginya. Ia memutuskan untuk mengizinkan Beatrice tinggal di Istana Lily, tempat para selir raja tinggal.  

Namun, momen itu terganggu oleh ketukan pintu.  

"Masuk," ujar Flynn.  

Pintu terbuka, dan Elea masuk dengan langkah anggun. Pandangannya jatuh pada Beatrice, yang masih duduk di sofa dengan pakaian kumuh dan tubuh kotor. Elea menatap wanita itu dengan pandangan datar sebelum berkata, "Bawa wanita ini ke Istana Lily. Bersihkan dia. Dia tidak pantas berada di kamar Raja dalam keadaan seperti ini."  

Nada suara Elea terdengar dingin, namun tetap anggun. Flynn, yang merasa tersinggung, berdiri. "Jangan berbicara seperti itu, Elea. Tidak semua wanita terlahir sempurna sepertimu. Setidaknya, Beatrice memiliki hati yang lebih baik."  

Ucapan itu seperti tamparan bagi Elea. Namun, ia menahan emosinya. Dengan anggun, ia menarik napas panjang dan meninggalkan kamar Flynn tanpa membalas ucapan itu. Namun, di balik ketenangannya, ada luka yang tak terlihat, menggores lebih dalam dari sekadar kata-kata.  

***

Di Istana Lily, Elea mengambil peran yang seharusnya tidak perlu ia emban. Ia mempersiapkan pakaian dan perhiasan untuk Beatrice. Pelayan setianya, Daisy, memandang Elea dengan bingung.  

"Yang Mulia, mengapa Anda melakukan semua ini? Wanita itu hanya-" Daisy menghentikan ucapannya, mencoba menjaga batas kesopanan.  

Elea menatap Daisy dengan senyum kecil. "Raja menyukainya, Daisy. Itu sudah cukup."  

"Namun, jika Raja ingin memiliki selir, setidaknya ia harus mengikuti adat yang berlaku," gumam Daisy dengan nada geram.  

Elea mengangkat tangannya, menghentikan Daisy sebelum pelayan itu melanjutkan keluhannya. "Hati-hati dengan ucapanmu. Tugas kita adalah melayani, bukan menghakimi."  

Daisy menurut, meskipun hatinya masih dipenuhi amarah.  

***

Beatrice kini berdiri di hadapan Elea, rambut peraknya tergerai indah, dan gaun satin sederhana menghiasi tubuhnya. Ia tampak jauh lebih anggun setelah dibersihkan. Namun, polosnya ia memanggil Elea, "Kakak."  

Daisy yang berdiri di samping Elea langsung bereaksi. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu! Yang berdiri di hadapanmu adalah Ratu Landbird. Kau bahkan belum resmi menjadi selir!"  

Beatrice terisak mendengar teguran itu. Ia menunduk dan berkata dengan suara gemetar, "Aku hanya ingin lebih dekat dengan Ratu. Sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga ini."  

Elea menghembuskan napas panjang. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Daisy berhenti. "Daisy, kau tidak salah, tapi ucapanmu terlalu kasar. Beatrice, kau harus mengerti bahwa ada tata krama yang harus dijaga. Jangan lupa tempatmu."  

Beatrice mengangguk pelan, menyeka air matanya. Melihat sikap polos itu, Elea merasa sedikit iba. Namun, jauh di dalam hatinya, ia juga merasakan sesuatu yang tak bisa ia abaikan.  

Ketika Beatrice pergi, Daisy mendekat dan berbisik, "Yang Mulia, maafkan hamba. Tapi wanita itu... dia bukan sekadar gadis terlunta. Aura yang ia bawa bukan aura kebaikan."  

Elea tersenyum kecil, mencoba menenangkan pelayannya. Namun, diam-diam ia berpikir, Apakah benar ada bayangan gelap yang mengintai di balik kecantikan Beatrice? 

Malam menjelma di Kerajaan Landbird, memeluk istana megah itu dengan selimut keheningan. Namun, di dalam hati Ratu Elea, tak ada keheningan. Ia berbaring di ranjangnya yang luas, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran emas. Ingatannya melayang pada sosok Beatrice-gadis dengan rambut perak yang kini tinggal di Istana Lily.  

Pikirannya terusik oleh sikap Flynn. Sebagai raja, Flynn memang memiliki hak untuk memiliki selir, tetapi cara ia membawa Beatrice ke istana terasa begitu... ceroboh. Flynn adalah pria bijaksana yang jarang bertindak impulsif. Namun kali ini, ia tampak seperti pria yang dibutakan oleh sesuatu yang lebih dari sekadar simpati.  

Elea memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Namun, dalam bayangannya, ia melihat senyuman Beatrice yang tampak polos namun penuh teka-teki.  

***

Bab 2

Bab 2 bayang bayang di balik senyuman.

Di sudut lain istana, Beatrice berdiri di balkon kamarnya. Angin malam yang dingin menerpa kulitnya, namun ia tampak tak terganggu. Tatapan matanya mengarah pada menara tempat Raja Flynn berada. Senyum kecil bermain di sudut bibirnya.  

"Bagaimana mungkin tempat ini begitu indah dan megah?" gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.  

Namun, di balik senyum itu, ada kilatan ambisi yang tersembunyi. Ia menatap cincin berlian yang kini melingkar di jarinya, hadiah dari Raja Flynn. Dalam pikirannya, ia melihat gambaran dirinya sebagai ratu di istana ini, menggantikan Elea yang tampak sempurna namun rapuh.  

Beatrice memejamkan mata, mengingat kembali hari ketika Flynn menemukannya di hutan. Ia tidak sepenuhnya berbohong tentang masa lalunya, tetapi ia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran. Ia tahu betul bahwa air matanya adalah senjata, dan kelemahannya adalah alat untuk membangkitkan simpati.  

"Flynn," bisiknya pelan, "kau akan memberiku segalanya."  

***

Keesokan paginya, Elea memutuskan untuk mengunjungi Istana Lily. Ia ingin memastikan Beatrice telah beradaptasi dengan baik. Namun, ia juga punya tujuan lain: untuk mengenal lebih jauh wanita yang telah menyita perhatian suaminya.  

Daisy berjalan di samping Elea, membawa sekeranjang bunga segar. Meskipun tugasnya sederhana, ia tetap menunjukkan ekspresi serius. "Yang Mulia, apakah perlu Anda mengunjungi Beatrice sendiri? Biarkan saja pelayan yang mengurusnya."  

"Tidak, Daisy," jawab Elea tenang. "Aku harus melihatnya sendiri. Lagipula, aku ingin memastikan ia memahami perannya di istana ini."  

Ketika mereka tiba di kamar Beatrice, Elea mengetuk pintu dengan lembut. Tak lama, pintu terbuka, dan Beatrice menyambut mereka dengan senyuman lebar. Ia sudah tampak jauh berbeda dari pertama kali dibawa ke istana. Rambut peraknya tertata rapi, dan gaun sederhana yang ia kenakan menonjolkan kecantikannya yang alami.  

"Yang Mulia," Beatrice menyapa dengan suara lembut. "Merupakan kehormatan besar Anda datang ke kamar saya."  

Elea melangkah masuk, matanya mengamati setiap sudut kamar. Semuanya tampak bersih dan teratur, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.  

"Aku ingin memastikan kau sudah nyaman di sini," ujar Elea. "Bagaimana keadaanmu sejauh ini?"  

Beatrice tersenyum, ekspresinya penuh rasa terima kasih. "Sangat baik, Yang Mulia. Istana ini seperti surga bagi saya. Saya berhutang segalanya pada Raja Flynn dan... pada Anda."  

Elea hanya mengangguk kecil. Namun, dalam diamnya, ia mencoba membaca sikap Beatrice. Apakah rasa syukur itu tulus, atau hanya sekadar permainan?  

***

Setelah percakapan singkat, Elea dan Daisy meninggalkan kamar Beatrice. Ketika mereka berjalan kembali ke ruang utama istana, Daisy akhirnya tak bisa menahan diri lagi.  

"Yang Mulia, wanita itu terlalu licin. Senyumnya terlalu sempurna," gumam Daisy.  

Elea melirik Daisy dengan senyum kecil. "Kau terlalu curiga, Daisy. Mungkin dia hanya ingin terlihat sopan."  

Namun, jauh di dalam hatinya, Elea tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Beatrice. Ia hanya belum menemukan bukti untuk menguatkan firasatnya.  

***

Malam itu, Flynn mengundang Elea untuk makan malam bersama. Itu adalah tradisi mereka setiap kali Flynn kembali dari perjalanan jauh. Elea datang dengan mengenakan gaun biru tua, rambutnya disanggul dengan anggun, mempertegas auranya sebagai seorang ratu.  

Namun, ketika ia tiba di ruang makan, ia terkejut melihat Beatrice sudah duduk di sana. Flynn tersenyum lebar dan melambai pada Elea.  

"Elea, maafkan aku. Aku mengundang Beatrice untuk bergabung. Dia harus belajar tentang adat kerajaan, dan siapa yang lebih baik mengajarinya selain kau?"  

Elea mengangguk perlahan, meskipun hatinya terasa sesak. Ia duduk di kursinya, menjaga senyum tetap menghiasi wajahnya.  

Sepanjang makan malam, Flynn terus berbicara dengan antusias tentang masa depan kerajaan dan peran Beatrice di dalamnya. Elea mendengarkan dengan tenang, meskipun setiap kata terasa seperti duri yang menusuk hatinya.  

Beatrice, di sisi lain, tampak menikmati momen itu. Ia sesekali melirik Elea, seolah-olah ingin mengukur reaksi sang ratu. Namun, Elea tidak menunjukkan apa pun.  

Namun, di balik ketenangan Elea, ada rencana yang mulai terbentuk. Jika Flynn bertekad untuk mempertahankan Beatrice di istana, maka Elea harus menemukan cara untuk melindungi posisinya-dan kerajaannya.  

Ia menatap Flynn dengan mata yang penuh ketenangan, namun di dalam pikirannya, ia berkata pada dirinya sendiri, *Aku tidak akan membiarkan istana ini jatuh ke tangan orang yang tidak pantas.*  

Seminggu telah berlalu sejak Beatrice secara resmi tinggal di Istana Lily. Flynn semakin sering menghabiskan waktu bersamanya, meninggalkan Elea dengan kesendirian yang mulai terasa menyesakkan. Namun, Elea tetap menunjukkan sikap anggun di depan semua orang. Ia tahu bahwa satu langkah keliru dapat meruntuhkan martabatnya sebagai ratu.  

Sementara itu, Daisy, yang selalu setia berada di sisi Elea, mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia telah lama melayani ratu dan mengenali perubahan halus dalam sikap Flynn sejak kedatangan Beatrice.  

"Yang Mulia," ujar Daisy suatu malam ketika mereka berdua berada di kamar Elea, "saya merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Kehadirannya bukan hanya mengancam posisi Anda sebagai ratu, tetapi juga sesuatu yang lebih besar."  

Elea yang sedang membaca sebuah buku tebal menutupnya perlahan. Ia menatap Daisy dengan ekspresi serius. "Apa maksudmu?"  

"Saya merasa, Beatrice bukan wanita biasa," jawab Daisy, suaranya menurun seolah takut ada yang mendengar. "Ada cara dia berbicara dan bertingkah laku yang terasa terlalu... sempurna. Seolah dia tahu cara membuat Raja Flynn sepenuhnya berada di bawah kendalinya."  

Elea tidak langsung menjawab. Dalam hatinya, ia mengakui bahwa ada sesuatu tentang Beatrice yang membuatnya tidak nyaman. Namun, ia tidak memiliki bukti untuk mendukung kekhawatiran Daisy.  

"Kita akan melihat apa yang sebenarnya ia inginkan," ujar Elea akhirnya. "Aku akan memancingnya untuk menunjukkan warna aslinya."  

***

Keesokan harinya, Elea mengundang Beatrice untuk minum teh di taman istana. Undangan ini mengejutkan Beatrice, namun ia menerimanya dengan senang hati. Ketika mereka duduk di bawah kanopi bunga mawar, Elea memperhatikan cara Beatrice berbicara dan membawa dirinya.  

"Kau tampak sangat menikmati waktumu di sini," ujar Elea dengan senyum lembut.  

Beatrice mengangguk. "Bagaimana mungkin saya tidak menikmatinya, Yang Mulia? Istana ini adalah tempat yang luar biasa, dan Raja Flynn begitu baik hati pada saya."  

Elea menyesap tehnya perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Beatrice. "Aku dengar kau sangat dekat dengan Raja Flynn. Apakah kau merasa kau telah menjadi bagian dari keluarga ini?"  

Beatrice tersenyum kecil, sedikit menundukkan kepalanya. "Saya berharap demikian, Yang Mulia. Saya ingin menjadi seseorang yang berarti bagi Raja... dan juga bagi Anda."  

Kata-katanya terdengar tulus, namun Elea merasakan sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Ia memutuskan untuk menggali lebih dalam.  

"Beatrice," Elea berkata dengan nada lembut namun tegas, "ada banyak wanita di kerajaan ini yang ingin berada diposisimu. Bagaimana jika mereka tidak menyukaimu? Apakah kau siap menghadapi konsekuensinya?"  

Beatrice terdiam sejenak. Namun, kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap Elea dengan mata yang penuh keyakinan. "Jika ada yang tidak menyukai saya, itu adalah hak mereka. Namun, saya tidak akan membiarkan apa pun menghalangi saya untuk mendukung Raja Flynn."  

Jawaban itu membuat Elea yakin bahwa Beatrice memiliki ambisi yang lebih besar dari sekadar menjadi seorang selir.  

***

Bab 3

Bab 3: Fitnah di Istana Lilly  

Malam yang tenang di Istana Landbird menjadi awal dari badai baru. Beatrice, dengan cermat menyusun rencananya, memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih berani. Ia tahu bahwa Flynn telah terpikat olehnya, namun untuk benar-benar mengamankan posisinya, ia harus melemahkan pengaruh Elea di mata sang raja.  

Setelah makan malam, Beatrice berpura-pura terlihat murung di kamarnya. Matanya memerah seolah habis menangis, sementara tangan gemetar memegang sapu tangan sutra pemberian Flynn. Saat salah satu pelayan lewat, Beatrice memanggilnya dengan suara lemah.  

"Bisakah kau menyampaikan pesan ini kepada Raja Flynn? Katakan... aku ingin berbicara dengannya. Ini penting," ujar Beatrice dengan nada putus asa.  

Pelayan itu segera menyampaikan pesan kepada Flynn yang tengah berada di ruang kerjanya. Flynn, yang merasa khawatir, langsung menuju kamar Beatrice tanpa menunda.  

Ketika Flynn masuk, ia menemukan Beatrice duduk di tepi tempat tidur, menangis tersedu-sedu. Rambut peraknya kusut, dan wajahnya tampak begitu lemah.  

"Beatrice, apa yang terjadi?" tanya Flynn dengan nada penuh kekhawatiran. Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan lembut.  

Beatrice mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan Flynn. "Yang Mulia... saya tidak tahu harus berkata apa... tetapi saya merasa tidak diterima di istana ini."  

Flynn mengernyit. "Apa maksudmu? Bukankah aku telah memastikan bahwa kau mendapatkan semua yang kau butuhkan?"  

Beatrice menundukkan wajahnya, air matanya mengalir deras. "Itu benar, Yang Mulia. Anda begitu baik pada saya... tetapi Ratu Elea... Dia... dia mengatakan hal-hal yang sangat menyakitkan."  

Mata Flynn membelalak. "Apa yang dikatakannya?"  

"Saya tidak ingin mengadu, tetapi... dia mengatakan bahwa saya tidak pantas berada di sini. Bahwa saya hanya wanita jalanan yang Anda pungut dari jalanan. Dia bahkan menyebut saya sebagai aib bagi istana ini." Beatrice menutup wajahnya dengan kedua tangan, pura-pura menahan isak tangis.  

Flynn menggertakkan giginya, wajahnya memerah karena marah. Ia tidak pernah membayangkan Elea, yang selalu terlihat tenang dan bijaksana, akan berkata seperti itu.  

"Beatrice," ujarnya tegas, "kau tidak perlu takut. Aku akan menangani ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Elea, memperlakukanmu seperti ini."  

Beatrice menatap Flynn dengan ekspresi penuh rasa terima kasih. "Yang Mulia, saya tidak ingin menimbulkan masalah antara Anda dan Ratu Elea. Saya hanya ingin Anda tahu... saya tidak pernah ingin merebut apa pun darinya."  

Flynn memeluk Beatrice dengan lembut, mencoba menenangkannya. Namun, dalam hatinya, kemarahan terhadap Elea semakin membara.  

***

Keesokan harinya, Flynn memanggil Elea ke ruang kerja. Ketika Elea tiba, ia menemukan Flynn berdiri di dekat jendela, ekspresi wajahnya keras dan penuh emosi.  

"Kau memanggilku, Flynn?" tanya Elea dengan lembut.  

Flynn berbalik, tatapannya menusuk. "Aku ingin bertanya sesuatu. Apakah benar kau mengatakan hal-hal yang menghina Beatrice?"  

Elea mengernyitkan alisnya. "Menghina? Apa maksudmu?"  

"Jangan berpura-pura tidak tahu," tukas Flynn tajam. "Beatrice mengatakan bahwa kau menyebutnya wanita jalanan yang tidak pantas berada di istana ini. Bahwa dia adalah aib bagi kerajaan."  

Elea tertegun. Ia merasa tidak percaya Flynn benar-benar menuduhnya seperti itu tanpa bukti. "Flynn," katanya dengan tenang, "kau mengenalku lebih dari siapa pun. Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Beatrice."  

"Tapi dia menangis, Elea," balas Flynn dengan nada tegas. "Dia terlihat begitu hancur. Mengapa dia harus berbohong?"  

Elea menatap Flynn, mencoba menemukan alasan di balik kemarahannya. "Flynn, aku tidak tahu apa yang telah dia katakan padamu. Namun, aku bersumpah atas nama mahkota ini, aku tidak pernah menghina Beatrice. Jika aku memiliki masalah dengannya, aku akan berbicara langsung kepadamu."  

Flynn terdiam sejenak, namun keraguannya jelas terlihat. "Aku hanya ingin kau tahu, Elea, bahwa Beatrice adalah bagian dari hidupku sekarang. Aku tidak akan mentoleransi siapa pun yang mencoba menyakitinya."  

Elea merasa hatinya retak mendengar kata-kata itu. Namun, ia tetap berdiri tegak, menolak menunjukkan kelemahannya. "Aku menghormati keputusanmu, Flynn. Tetapi aku tidak akan menerima tuduhan yang tidak benar."  

Setelah percakapan itu, Elea meninggalkan ruang kerja Flynn dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa Beatrice sedang memainkan permainan berbahaya, dan sayangnya, Flynn terlalu buta untuk menyadarinya.  

***

Di Istana Lily, Beatrice tersenyum puas saat mendengar dari salah satu pelayan bahwa Flynn telah berbicara dengan Elea. Ia tahu bahwa fitnahnya telah berhasil memicu perpecahan antara raja dan ratu.  

"Semakin banyak jarak di antara mereka," pikir Beatrice, "semakin mudah bagiku untuk menguasai semuanya."  

Namun, jauh di dalam istana, Elea mulai menyusun rencananya sendiri. Ia tidak akan membiarkan fitnah Beatrice menghancurkan apa yang telah ia bangun selama ini. Sebagai seorang ratu, ia tahu bahwa kekuatan terbesarnya bukanlah kemarahan, melainkan kecerdasan dan kesabarannya.  

"Ini belum berakhir, Beatrice," pikir Elea sambil menatap cermin di kamarnya. "Aku akan membuktikan siapa dirimu sebenarnya."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED