a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
Rodolfo telah bersiap dengan senapannya, kali ini ia mencoba untuk memfokuskan kepercayaan dirinya agar ingatan tentang masa lalu itu tidak terlalu mengganggu konsetrasinya.
"Kali ini tak akan kubiarkan Kau lolos, Jonathan," gumamnya seraya memicingkan mata agar bisa fokus terhadap bidikannya.
Dor!
Satu lesatan peluru dari senapan milik Rodolfo meluncur dengan cepat, membelah angin, dan melawan hukum gravitasi. Namun, di luar dugaannya Jonathan yang menjadi target itu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
Sleb!
"Ahk!" Tiba-tiba terdengar suara pekikan tertahan.
"BOS!!!"
Terlihat seorang anak buah Jonathan berlari seraya berteriak memanggilnya, saat mendengar suara pekikan yang tertahan itu.
"Cepat beritahu yang lain, ada penyusup!" Perintah Jonathan pada anak buahnya seraya memegang bahu kanan yang baru saja tertembak oleh peluru Rodolfo.
Dengan sigap, anak buah Jonathan itu berlari keluar ruangan untuk memberitahu yang lain sesuai perintah bosnya.
Sementara itu, Rodolfo langsung terkejut saat melihat tembakannya meleset. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa seperti terkena kutukan saat mencoba untuk membunuh Jonathan. Seperti mengalami De Javu, kegagalan di masa lalunya kini terulang kembali.
"Sial!!!" umpatnya.
"Apa yang terjadi denganku? Mengapa ini terjadi lagi? Ah ...." Armando menggerutu sejadinya, ia merasa telah melakukan kesalahan fatal lagi.
Ingatan-ingatan tentang masa lalu membuatnya hilang konsentrasi, sehingga tidak bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan gerakan yang akan dilakukan oleh Jonathan, Sang Target Sasaran.
"Gawat! Mereka pasti akan memburuku! Aku harus segera pergi sebelum mereka menemukanku!"
Dengan perasaan yang kacau ia merapikan semua peralatannya untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Pikiran Rodolfo saat ini hanyalah ingin selamat dari situasi yang menurutnya sangat gawat, bahkan bisa mengancam keselamatannya. Ia lalu berjalan cepat di antara pohon-pohon seraya menggendong tasnya.
DOR! DOR! DOR!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang terdengar cukup nyaring di telinganya.
"TANGKAP DIA!!!"
Terdengar suara seseorang sedang memberi komando yang membuat Sang Pembunuh Bayaran itu menjadi gelisah dan mengambil langkah seribu.
"Sepertinya mereka telah melihatku!"
Walaupun ia seorang pembunuh yang terlatih, namun jika harus berhadapan dengan satu pasukan yang jumlahnya sangat banyak, membuat ia tidak mau mengambil resiko dan memilih untuk menyelamatkan diri. Apalagi situasi medan yang belum dikenalnya, membuat ia terpaksa untuk terus berlari.
Seluruh pasukan penjaga dan pengawal Jonathan yang berjumlah puluhan itu berlari mengejar Rodolfo, saat pimpinan mereka berteriak memberi perintah.
"Gawat! Jalannya menuju jurang!" Rodolfo mulai panik saat mata tajamnya melihat sebuah jurang bekabut yang menganga sekitar 100 meter dari tempatnya sekarang.
Sambil terus berlari, mata Rodolfo melihat sekeliling dengan cepat untuk mencari tempat persembunyian sementara, sampai kondisi aman. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sebuah tempat seperti tumpukan batu-batu besar yang berada tidak jauh di sebelah kanannya. Dengan cepat ia berbelok arah menuju ke tempat itu.
"Sepertinya itu bisa menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi," gumamnya seraya menambah kecepatan larinya.
Rodolfo berpikir bahwa celah-celah di antara tumpukan batu-batu besar itu bisa menjadi pelindungnya walau hanya sementara. Tanpa berpikir panjang, ia lalu menerobos masuk saat melihat celah yang seukuran tubuhnya. Sementara itu, pasukan Jonathan yang mengejar Rodolfo masih tetap berlari hingga sampai di tepi jurang.
"Aku rasa dia terjatuh," ucap salah seorang yang membawa senapan laras panjang.
"Mustahil dia sebodoh itu, ayo kita telusuri ke sisi yang lain!" sahut temannya yang lain seraya memberi komando.
Mereka semua kemudian berpencar kembali untuk mencari jejak keberadaan Rodolfo, seorang lelaki yang telah gagal membunuh Jonathan.
***
Kembali ke tempat Rodolfo, yaitu sebuah ruangan di antara celah batu...
Langkah kaki lelaki itu tetap fokus berjalan sambil sesekali pandangannya menoleh ke belakang, ia khawatir pasukan pengejar itu akan ikut serta masuk ke dalam dan membuntutinya. Tiba-tiba Rodolfo merasakan keanehan saat berada di dalam. Awalnya ia mengira jika celah di antara tumpukan batu itu akan sempit dan pengap. Namun, itu semua salah. Ia tidak merasa pengap atau sesak napas, melainkan seperti berada di dalam gua yang luas, dingin, dan lembab.
"Tempat apa ini?" Ia berkata pelan saat merasakan hawa dingin yang semakin menjalari tubuhnya.
Tubuhnya yang sudah merasa lelah perlahan membaik dan merasa segar, kemudian ia berinisiatif untuk mengambil pemantik dari saku celananya, pemantik yang biasa ia gunakan untuk membakar rokok. Ia terkejut saat melihat ada obor yang menempel pada dinding gua, sehingga ia mencoba untuk membakar obor itu dan menjadikannya sebagai alat penerangan.
"Apakah ada kehidupan di sini?" pikirnya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti menyelidiki sesuatu.
"Lebih baik aku beristirahat dulu di sana," ucapnya saat melihat sebuah batu yang berbentuk kotak seperti kursi yang terbuat dari adukan semen dan pasir.
Perlahan ia memejamkan matanya, pikirannya kembali teringat pada kejadian beberapa menit yang lalu. Kejadian yang selama ini belum pernah terjadi dalam hidupnya.
"Betapa bodohnya aku, reputasiku akan hancur setelah ini. Huft!"
Ia mengutuk dirinya sendiri, mentalnya merasa down, apa yang pernah ia pelajari sebelumnya tentang pengendalian diri mendadak lupa.
"Aaaaaaarrrrggghhh!!!"
Ia berteriak kencang meluapkan emosi, hingga tanpa sadar obor yang ada di tangannya pun ia lemparkan ke sembarang tempat.
Wuzzz!!!
Tiba-tiba terlihat api yang berjalan, seperti sebuah mobil balap yang sedang berada di lintasan. Hal itu membuat Rodolfo terkejut, rupanya lemparan obor tadi mengenai sesuatu, sehingga menyalakan api yang seperti sebuah ritual dalam upacara-upacara kuno.
Api itu berjalan merambat dengan cepat, bahkan merayap di antara dinding-dinding gua. Rodolfo hanya diam terpana menyaksikan semua itu, walaupun perasaannya tengah diselimuti ketakutan. Ketakutannya kian bertambah saat ia menyadari bahwa aliran api itu saling bertaut, saling menyambung, hingga menjadi sebuah gambar berbentuk bintang.
"Gawat!!!"
Ia mulai tersadar saat melihat lambang itu. Biasanya ia hanya melihat di poster-poster, majalah, atau televisi. Namun saat ini ia menyaksikannya secara langsung, bahkan ia mulai menyadari bahwa pelakunya adalah dia.
Tak lama kemudian situasi di tempat itu semakin menyeramkan. Kabut-kabut putih pun perlahan keluar entah dari mana dan mulai menutupi seluruh isi gua, bahkan sampai menutupi seisi hutan.
Kabut misterius yang sama sekali tidak dipahami oleh Rodolfo. Ia hanya diam sambil melihat ke segala arah.
"Bagaimana ini?" ia mulai panik.
Namun, ada hal yang tidak ia sadari. Saat ia mulai panik dan memejamkan mata, tiba-tiba tubuhnya tampak menghilang sedikit demi sedikit. Mulai dari kaki, perut, tangan dan berakhir kepala. Ya, seluruh tubuh pria itu menghilang secara misterius. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Ketika ia membuka kedua matanya, ia sudah berada di atas tempat tidurnya dengan pakaian lengkap tanpa kurang sedikit pun.
"EH?! APA?!" Rodolfo terkejut bukan kepalang saat menyadari ia telah ada di dalam rumahnya.
"A-apa yang telah terjadi?" Dengan penuh rasa kebingungan, ia memeriksa keadaan tubuhnya dan itu sempurna, tidak ada sediktipun kekurangan.
"Aneh, apakah aku bermimpi?" gumamnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Setelah mengalami hal yang tidak masuk akal, Rodolfo mencoba untuk menenangkan diri dengan tidak mengingat lagi peristiwa di gua itu. Ia menganggap misi untuk membunuh Jonathan telah selesai, karena ia merasa kejadian itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.
"Ugh!" Tiba-tiba ia merasakan sakit kepalanya, sakit yang teramat sangat dan membuat ia terpaksa harus diam sejenak ketika sedang membaca misi yang ada di meja di depannya.
Kejadian aneh kembali ia alami saat ia mencoba membuka kedua matanya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah bayangan hitam yang membentuk siluet seorang manusia yang sedang melayang tak jauh darinya. Namun, bayangan itu hilang saat Rodolfo memaksakan kelopak matanya agar terbuka lebih lebar.
"Hah?! Apa itu?" ucapnya sambil melotot dan melemparkan pandangan ke segala arah.
"Hmm ... mungkin hanya halusinasiku saja," ucapnya lagi sambil memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Kemudian, ia mencoba untuk bersikap biasa dan kembali mempelajari misi selanjutnya yang harus ia jalani.
"APA?!" Rodolfo tiba-tiba terkejut saat membaca salah satu lembar kertas yang berisi identitas orang yang akan menjadi targetnya.
Ia tidak menyangka jika seorang Diego yang merupakan public figure terkenal bisa terlibat dalam kasus penyelundupan heroin bersama dengan Jonathan dengan menggunakan media boneka hasil produksi perusahaan milik Jonathan.
Di mata masyarakat, Diego adalah seorang yang dermawan. Ia sering memberi bantuan dan menggalang dana untuk kemanusiaan, malah menjadi duta anti-narkotika.
"Publik figur yang sangat busuk! Hanya mengotori dunia dan menjadi wabah bagi generasi muda!" ucap Rodolfo, kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
Ia tidak percaya pada popularitas dan reputasi publik figur, karena menurutnya itu hanya topeng. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tabir, dan itu harus segera diungkap.
"Aku harus membasmi orang seperti ini, agar tidak tumbuh tunas baru yang berakar kuat," gumamnya lagi sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak.
Lantas ia membuka lembar demi lembar berkas dalam map itu, ia tersontak kaget dengan informasi terakhir yang ia dapat.
"Besok?!? Apakah tidak terlalu cepat?!" ucapnya dengan nada heran dan mengerutkan dahi.
Di sana tertulis bahwa, besok, Diego akan bertemu dengan seorang agen dari salah satu produk iklan di sebuah restoran pukul delapan malam dan akan duduk di kursi nomor dua belas.
Rodolfo mengangguk-angguk pasrah, karena tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Walau ia tahu, sangat tidak mungkin baginya menjalani hidup seperti orang biasa.
Namun demikian, ia merasa tenang, karena ia cukup mengenal area sekitar restoran itu. Restoran itu terletak berdekatan dengan rel kereta api, di mana tidak ada ketenangan sama sekali seperti restoran pada umumnya. Apalagi letak meja nomor dua belas, posisinya seperti di pojok dan menghadap arah lintasan kereta api. Mengetahui hal itu, Rodolfo pun mulai memutar otaknya, mengatur strategi yang terbaik yang harus ia jalani.
"Hmm ...," ia bergumam sambil memejamkan mata.
Dalam pikirannya ia bersimulasi, membayangkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika menggunakan masing-masing strategi yang ada di pikirannya.
"Oke!" ujarnya sambil menjentikan jari.
Karena merasa telah mendapat apa yang diinginkan, ia pun memutuskan untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya...
Rodolfo tampak berjalan-jalan disekitar restoran yang tertulis di keterangan misinya. Ia melihat sekeliling, mencoba mencerna situasi. Pikirannya bervisualisasi dengan pandangan matanya. Tiba-tiba, arah matanya terjatuh pada seorang pria yang sedang duduk di kursi tepi jalan.
Rodolfo merasa curiga dengan tingkahnya, pria itu terlihat gelisah merencanakan sesuatu. Namun, Rodolfo mengabaikan saja dan melangkah menjauh meninggalkan lokasi restoran.
Saat memasuki gang sempit, ia menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu?" tanya Rodolfo saat merasakan adanya pergerakan yang mengikutinya tanpa menoleh ke belakang.
"Hai, Rodolfo!" ucap seorang pria yang berada di belakangnya.
Rodolfo tak menjawab, ia langsung melakukan tendangan memutar ke arah pria itu. Namun dengan sigap pria itu menangkap kaki Rodolfo, kemudian membalas dengan pukulan telak ke dada Rodolfo.
Tapi, dengan cepat Rodolfo menangkis dan balik menendang kepala pria itu hingga jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu, ia lalu mendekatinya, kemudian mencekik leher pria yang terbaring itu.
"Katakan! Apa maumu?" tanya Rodolfo.
Pria itu hanya menatapnya tajam sambil berusaha melepas cekikan di lehernya. Sudut mata Rodolfo melihat bahwa tangan pria itu meraba pinggangnya sendiri, hendak mengambil pistol. Namun, dengan cepat Rodolfo meraih pisau dari balik jaketnya dan menusukannya ke leher pria itu.
Tiga kali tusukan membuat leher pria itu memuncratkan darah segar, matanya melotot, mulutnya menganga, dan tewas secara mengenaskan.
Setelah itu, Rodolfo berdiri dan membersihkan pisaunya, kemudian memasukannya kembali ke balik jaket. Namun, ia merasa penasaran dengan pria yang baru saja ia cabut nyawanya. Ia pun lalu meraba celana pria itu dan menemukan sebuah cincin berlogo tengkorak.
"Hmm ...," ucapnya sambil menggenggam cincin itu.
"Jangan pernah mengirim domba untuk membunuh serigala!" ucapnya sambil melangkah pergi saat mengetahui bahwa orang yang dia bunuh adalah salah satu anggota dari organisasi yang ia ketahui.
***
Malam harinya...
Terlihat Rodolfo sedang bersiap di tepi jembatan yang berada di atas rel kereta api. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta api melintas di bawahnya dan ia langsung melompat ke atap gerbongnya.
Walaupun kereta api itu melaju sangat cepat, hal itu tidak menyulitkan sama sekali bagi orang terlatih seperti Rodolfo. Ia berdiri dengan gagah di atas atap gerbong kereta api sambil menggenggam sebuah pistol andalannya, yaitu pistol sejenis Magnum.
Pandangan matanya fokus ke depan, sesekali ia harus berlutut bahkan menelungkup saat melewati terowongan. Setelah jarak dirasa cukup dekat dengan restoran, ia berdiri mengokang senjatanya. Terlihat olehnya, Sang Target, yaitu Diego sedang duduk persis di dekat jendela sambil mengotak-atik ponselnya.
Dor!
Rodolfo melesatkan satu peluru dari pistolnya. Peluru yang dibuat khusus agar mampu melesat lebih cepat dari peluru biasanya, dan memungkinkan peluru itu bisa membelok membelah arah angin.
Dalam sekejap mata, peluru itu masuk ke otak Diego, menembus mata kirinya, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur. Diego Sang Target pun langsung tak bergerak sedikit pun, ia meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan.
Rodolfo hanya menatap dingin, lalu memasukan kembali pistolnya ke dalam jaket dan duduk santai di atas atap gerbong kereta api.
Kematian Diego yang mendadak itu sontak membuat seluruh pengunjung restoran menjadi panik. Begitu juga Sang Agen, ia yang melihat langsung semua kejadian dengan mata kepalanya sendiri, hanya bisa gemetar menahan rasa takut.
Kejadian itu diluar dugaannya, saat ia akan memanggil Diego untuk membuka percakapan, tiba-tiba kereta api melintas dan tubuh Diego langsung terkapar. Ia seolah tidak percaya dengan yang terjadi, lalu menghampirinya dan melihat tubuh Diego sudah terbaring kaku dengan luka tembakan dari mata kiri hingga tembus ke kepala.
Pihak restoran yang mengetahui peristiwa itu pun segera membubarkan pengunjungnya dan menelepon Petugas Kepolisian.