Bab 1

Bagaimana rasanya sebuah kasih sayang? Rasa iri selalu datang menghampiri wanita cantik bertubuh kurus itu kalau sudah berhubungan dengan ‘kasih sayang’. Kalau kalian bertanya kenapa? Karena keluarganya tidak pernah menunjukkan rasa itu. Sedikitpun tidak!

Seperti hari ini, seorang siswi SMA dari keluarga Gunawan—pemilik pabrik kain dan sepatu terbesar di Kota Metropolitan, Jakarta Pusat tengah bergelung di bawah selimutnya di kamar kecil berukuran 3 kali 3 meter dengan kamar mandi di dalam dan meja belajar di depan kasur. Kalian pikir ini Kosan? Kalian salah! Ini kamarnya …, kamar pribadinya.

Jam masih menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Wanita cantik bernama Rachel Ananda Gunawan itu harus terbangun karena gebrakan keras yang bertubi-tubi di pintunya bersamaan dengan teriakan kasar dari seorang wanita.

“BANGUN KAU ANAK PEMALAS! PERGI SIAPKAN SARAPAN, SEKARANG!”

Rachel menghela nafas lelah sembari mengumpulkan nyawa. Segera dia bangun dan keluar kamar sebelum teriakan mereka berubah menjadi amukan. Ringisan pelan terdengar sepanjang jalannya menuju dapur rumah besar itu. Diam-diam dia merutuki diri sendiri karena tidak langsung mengobati luka di sudut bibirnya atau bahkan seluruh tubuhnya.

Luka? Ohh, kalian melupakan satu hal. Rachel adalah anak bullyan di sekolahnya hanya karena dia sekolah dengan beasiswa. Ayahnya tidak pernah memberinya uang sekalipun untuk membayar sekolah. Rachel harus banting tulang untuk membiayai diri sendiri. Pulang sekolah Rachel akan pergi bekerja paruh waktu di café. Dia merasa beruntung, café tempatnya bekerja menerima seorang siswi yang selalu babak belur setiap harinya untuk bekerja. Walaupun beberapa waktu dia selalu diomeli atasannya karena terlihat sangat buruk.

Tangan putih berbekas lebam itu mengambil bahan makanan di kulkas. Dengan lugas dia memotong dan memasak makanan. Sampai keluarganya turun satu persatu. Seperti biasa, bukan ucapan ‘selamat pagi’ yang dia dengar. Tapi—

“Bu! Aku selalu muak melihat si buruk rupa ini! Wajahnya selalu menyeramkan, hahaha …” Rachel mendengar saudara tirinya berkata sambil tertawa mengejek. Mira Zeni Gunawan, wanita bertubuh langsing yang berumur satu tahun lebih muda darinya.

“Kau benar, dia seperti monster!” balas wanita berumur 32 tahun yang duduk menyusul anak kesayangannya. Lina, seorang wanita yang berasal dari perkampungan dan menikah dengan Rendy Gunawan. Rachel adalah anak pertama tapi ayahnya bukan Rendy. Lina memiliki Rachel sebelum menikah dengan Rendy.

Jadi, sudah paham ‘kan kenapa Rachel di benci di sini? Ibunya selalu berpikir kalau dia hadir karena kesalahan. Dan Rachel harus bersyukur sudah dilahirkan. Rachel selalu berpikir, kenapa harus dilahirkan kalau orang yang melahirkannya membenci Rachel?

Rachel meletakkan piring di atas meja. Dia selalu menulikan diri dengan segala makian yang keluar dari mulut ayah, ibu, dan saudarinya. Dia sudah terbiasa, begitu pula dengan teman-teman di sekolahnya. Teman? Pantaskah mereka disebut teman?

“Dasar anak dungu! Menyingkir dari hadapanku!” usir pria paruh baya yang selesai membaca Koran.

“Ayah! Aku sudah terlambat! Pergi dulu!” Mira segera menarik tasnya dan keluar rumah.

Hal itu membuat Rachel ikut terkejut juga. Dia melirik jam dinding di ruang makan itu. Benar saja! Sudah jam 6:40 pagi, Rachel bakalan terlambat kalau berlari ke sekolahnya. Untung dia punya simpanan beberapa lembar uang untuk naik angkot.

Segera Rachel berangkat sekolah setelah memasukkan makanan ke dalam kotak makan. Tapi kakinya berhenti jauh di depan gerbang. Kalau dia masuk lewat sana, bisa-bisa mereka mencegatnya. Rachel ada ujian Matematika hari ini. Tidak mungkin dia bolos di mata pelajaran pertama.

Akhirnya, Rachel berlari ke belakang sekolah. Dia meloncati dinding sekolah. Tapi ternyata ada beberapa orang yang sudah menunggu kedatangan Rachel dari sana. Bibir mereka menyeringai membuat Rachel merinding.

“Hei! Dia di sini!” teriak wanita berambut panjang yang berada di ujung kanan.

Di hadapan Rachel sekarang ada tiga orang wanita. Sedangkan ‘Boss’ mereka datang beberapa saat kemudian. Sekarang mereka sudah lengkap. Lima orang wanita yang mengelilingi Rachel. Beberapa pemuda berada di belakang mereka. Mungkin mereka berjaga takut Rachel menendang ‘wanita’nya.

“Huh … berani banget Lo kabur dari Gue, Sampah!!” sinis si pemimpin.

Rachel mulai didorong sampai terjatuh. Rasa sakit terasa di telapak tangannya karena menahan beban tubuh. Tasnya dirampas paksa. Mereka mengeluarkan seluruh isinya.

“Siksa dia!” perintahnya sebelum membongkar satu persatu isi tas Rachel.

“Tidak … tolong lepaskan aku untuk hari ini saja,” mohon Rachel.

“Lisa, Si Bodoh minta dilepaskan,” ucap wanita lain dengan wajah mengejek.

“Jangan dengarkan,” jawab si pemimpin yang bernama Lisa. Tangan wanita itu merogoh kotak makan Rachel dan berjalan ke tempat sampah lalu membuang isinya.

Rachel menatap sedih makanannya.

PLAKK

“Akh …” Rasa panas terasa di pipi kiri Rachel. Ujung bibirnya robek, lagi.

“Kenapa Lo bawa-bawa sampah kayak gini? Hahaha …” Lisa tertawa. Lalu dia membuang kotak makan kosong itu ke tong sampah. “Kalau sampah, berarti harus di simpan di tempatnya ‘kan?”

Teman-temannya tertawa sinis menanggapi ucapan Lisa. Lalu Lisa menunduk dan berbicara, “Dan seorang sampah, harus disingkirkan ke tempat sampah juga.”

Setelah itu, hantaman keras datang ke punggung Rachel sampai dia jatuh telungkup. Hantaman itu tidak pernah berhenti sampai suara bell masuk berbunyi. Mereka bubar dengan senyuman di bibir mereka.

“Pulang sekolah nanti, awas Lo kalau kabur lagi!” ancam mereka sebelum pergi.

“Huh …” Rachel menghela nafas pelan. Tubuhnya sudah sering merasakan sakit seperti ini. Mungkin dia sudah merasa bosan diperlakukan seperti ini sampai dia mengira ini memang jadwal hariannya. Rachel bahkan sudah tidak pernah menangis lagi merasakan rasa sakit di tubuhnya—ohh, sesekali mungkin Rachel menangis karena dia ingin semua siksaan mereka segera selesai. Rachel tidak tahan dengan hantaman-hantaman yang mereka berikan pada tubuhnya.

Susah payah Rachel menggerakkan badannya. Dia meringis setiap menggerakkan otot dan sendinya. Rasanya seperti semuanya remuk. Mentalnya kembali di uji ketika masuk ke dalam kelas.

Tidak ‘pernah’ ada yang bertanya apa yang terjadi padanya, atau bahkan tatapan iba pun tidak ada. Ketika Rachel masuk, tawa dan ejekan selalu didengarnya. Dan lagi-lagi Rachel sudah merasa terbiasa.

Rachel cuman mau sekolah, belajar, dan mendapatkan ijazah untuk melamar pekerjaan nanti. Hanya untuk kertas yang bertulisan ‘Ijazah’.

Adakah dari kalian yang bertanya, ‘Kenapa gak lapor polisi, sih?’

Dan jawaban dari Rachel adalah dia pernah mau mencobanya. Untuk yang pertama dan terakhir kali, Rachel mengadukannya pada wali kelasnya. Dia bahkan sempat memohon di depan kepala sekolah. Coba tebak apa jawaban mereka.

‘Itu hanya permainan anak-anak, jangan di ambil hati.’

Patutkah seorang guru berkata seperti itu? Alhasil, dia di bully lebih parah dari sebelumnya. Rachel tahu, anak-anak yang membullynya adalah anak-anak orang kaya. Mereka bisa saja membayar keadilan dengan uang. Apalagi, Rachel tidak memiliki dukungan dari siapapun. Bahkan ayahnya mungkin akan mendukung mereka dan semakin menjatuhkan Rachel.

Jadi, percuma saja mengadu pada polisi. Kalau kita cuman sendirian, siapa yang bakal bela kita sedangkan para polisi itu memihak mereka? Dia cukup bersyukur bisa sekolah di sekolah elite ini. Walaupun dengan Beasiswa. Rachel hanya bisa bersabar. Untuk satu tahun lagi. Rachel pasti bisa melewatinya. Setelah itu, mari kita hidup tenang. Semoga …

2 Be Con

Bab 2

Rachel duduk di kursinya dengan lemas, rasa sakit dimana-mana. Tapi dia lebih meratapi sarapan sekaligus makan siangnya yang sudah masuk ke tempat sampah tadi pagi. Hari ini, Rachel terpaksa tidak makan. Diam-diam Rachel berharap semoga nanti malam dia bisa makan.

Rachel memutuskan untuk membuka buku Matematika-nya dan mulai mempelajari beberapa rumus yang belum dijelaskan guru. Dia akan mencoba memecahkannya sendiri hasilnya dan ketika guru menjelaskan, dia bisa mencocokkan hasilnya.

Rachel menatap bangkunya yang penuh dengan kata makian dan ejekan padanya. Awalnya Rachel tidak tahu alasan kenapa mereka bisa seperti ini. Tapi ternyata Mira mengatakan siapa Rachel di keluarganya. Kemudian semua orang mengejeknya ‘anak haram’ dan sampai sekarang semua yang dilakukan Rachel akan menjadi bahan ejekan mereka. Semua akan dianggap salah di mata mereka dan Rachel hanyalah ‘mainan’ di sekolah itu.

Entah kenapa waktu sangat cepat berlalu, kini jam pulang hampir tiba. Sekarang ini, Rachel sedang menguatkan mental dan fisiknya untuk bencana yang akan dia hadapi sebentar lagi.

“Heh, dungu! Lo gak bakalan bisa kabur lagi! Mampus Lo!” Mira berteriak dari depan kelas sambil tertawa bersama teman-temannya.

Ya, memang tidak bisa kabur. Benar-benar nasib yang buruk. Batin Rachel sengsara. Tidak lama mereka datang dan segera menarik Rachel menuju belakang sekolah. Dia dilempar sampai menabrak rak-rak besi yang ada di dalam gudang. Di belakang sekolah hanya ada gudang, jadi jarang sekali orang main ke sana. Palingan anak-anak yang merokok atau membully seperti mereka.

PLAKK

“Akh …”

“Berani Lo kabur dari Gue lagi, Gue bakal siksa Lo sampe mati di sini!” ancam Lisa sambil mencengkram pipi Rachel setelah menampar pipinya.

“JAWAB BEGO!” Cengkramannya semakin keras seiring dengan setiap kata yang dia ucapnya.

“Y-ya,” cicit Rachel dengan susah payah karena kesulitan berbicara saat pipinya dicengkram kuat-kuat.

“Apa? Gue gak denger!”

“Y-ya,”

“Hahaha!!” Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kepasrahan Rachel.

“Dasar, dungu!” maki salah satu pemuda di sana.

“Lisa, Sayang. Ayo pergi saja, aku mau muntah lihat mukanya,” ucap salah satu pemuda lagi yang berada di belakang Lisa. Dan dia ‘menjabat’ sebagai pacar Lisa. Pemuda itu terlihat tampan, tapi sifatnya benar-benar mirip iblis!

“Sebentar, Sayang, aku belum selesai. Setidaknya kita lihat dia sekarat,” jawab Lisa dengan senyum lebar di bibirnya.

Pemuda itu ikut tersenyum bahkan orang-orang disekitarnya seolah tertular. Rachel menarik nafasnya dalam-dalam, bersiap untuk merasakan rasa sakit di tubuhnya. Dan benar saja, seluruh punggung dan sisi perutnya menjadi sasaran mereka untuk di injak dan di tendang.

Cukup lama mereka menendang tubuh Rachel sampai mereka sudah merasa bosan dan meninggalkan Rachel yang terbaring diam. Mungkin mereka menyangka Rachel sudah pingsan. Salah satu dari mereka mengecek nadi di leher Rachel.

“Dia masih hidup,” ucapnya.

“Oke, kita pulang sekarang,” jawab yang lainnya.

“Gue muak lihat mukanya! Kenapa sih dia harus sekolah di sini?”

“Hah, namanya juga anak haram! Bisa sekolah di tempat elite kayak gini udah jadi keberuntungan buat dia!”

“Menjijikkan!”

“Bagus juga, kita jadi punya mainan di sini. Haha …”

Suara perbincangan mereka masih bisa Rachel dengan sampai ujung ruangan dan anak-anak itu berbelok menuju tempat parkir. Keheningan menerka Rachel. Dan itu mungkin cukup membuat Rachel beristirahat sejenak.

Cukup lama Rachel terbaring menyamping di ruangan itu sampai rasa sakit di tubuh akibat hantaman mulai berkurang. Perlahan Rachel menggerakkan badannya. Rasa sakit dan panas di bagian tertentu membuat Rachel meringis. Rachel yakin bekas ungu yang sebelumnya hampir hilang sekarang pasti muncul lagi.

“Sakit sekali,” Rachel meringis kesakitan.

Susah payah Rachel berjalan pulang. Dia berjalan dengan terpincang-pincang. Dia bahkan mengabaikan seluruh tatapan orang-orang yang memandangnya kasihan. Tapi tidak ada yang berani bertanya atau membantunya.

Inilah dunia yang sebenarnya. Dunia kejam yang harus Rachel tinggali. Dan beginilah sifat manusia yang sebenarnya. Mereka hanya akan memikirkan diri sendiri. Apalagi Rachel tinggal di Kota Metropolitan seperti ini. Semakin kita terlihat berantakan, mereka hanya akan menganggap kita pengemis atau orang gila.

Sesampainya di rumah, sama seperti orang-orang di jalan tadi. Sekalipun pembantu di sana, mereka tetap menatap Rachel dengan sinis dan mengejek. Saat masuk ke dalam rumah, Lina dan Mira yang ada di ruang tengah langsung berteriak saat melihat Rachel.

“Ma!! Lihat monster itu udah pulang! Mukanya kelihatan menyeramkan banget!” ucap Mira dengan senyum miring di bibirnya.

“Si Dungu ini merusak suasana hatiku!” gerutu Lina sebelum berjalan mendekat dan menjambak rambut Rachel.

“Akh … Bu, sakit!” keluh Rachel.

“Siapa ibumu? Aku bukan ibumu! Aku gak punya anak monster seperti kau!” Lina menyeret Rachel menuju kamarnya. Mendorong tubuh kurus itu sampai tersungkur di lantai. Pintu ditutup dan dikunci dari luar. Meninggalkan Rachel yang meringis sambil menggosok kulit kepalanya.

Rachel menatap pintu di depannya dengan nanar. Hatinya lebih sakit saat dia merasakan tangan ibu kandungnya sendiri yang memukulnya. Walaupun sudah terbiasa, tapi rasa sakitnya selalu terasa di hati dan pikiran Rachel.

Kalau dipikirkan dengan akal sehat, kalian pasti menyarankan untuk kabur saja dari rumah ini. Tapi nyatanya, orang-orang di rumah ini juga membutuhkan Rachel. Contohnya untuk bersih-bersih rumah, membuat makanan, dan— tumbal mereka. Kalau ada sesuatu yang tidak mau merugikan mereka, maka Rachel yang akan menggantikannya. Seperti contoh kasus yang akan kalian ketahui sebentar lagi.

Rachel berdiri dengan terpincang-pincang dan duduk di kursi meja belajarnya. Matanya menatap kaca kecil yang berada di atas meja. Wajahnya memang menyeramkan. Bekas ungu di sudut kanan matanya dan luka kecil di tulang pipi bagian kirinya, serta bekas telapak tangan di pipi kirinya. Lengkap sudah.

Rasa perih di perutnya mulai mengganggu Rachel. Sudah di yakini, malam ini Rachel tidak akan makan malam sampai besok pagi. Bahkan untuk besok pagi pun Rachel meragukannya. Rachel hanya bisa pasrah. Ditariknya buku berukuran 50 kali 50 cm berwarna biru dongker dari tasnya.

Rachel mulai menulis di lembar baru bukunya. Menulis hal yang dia suka. Sebuah diary pribadi. Rachel tidak pernah memiliki teman, hanya buku itulah satu-satunya teman yang bisa dijadikan tempat curhat untuk Rachel.

Wanita itu mulai menulis dan bercerita tentang kejadian hari ini. Selama menulis, dia hanya bisa menahan tangis dan rasa lelah yang sedikit demi sedikit merambat di hatinya. Untuk orang lain, mungkin mereka sudah menjadi gila atau gangguan mental.

Tapi untuk Rachel, dia hanya bisa menguatkan diri sendiri. Bohong kalau Rachel tidak pernah berpikir untuk bunuh diri. Walaupun Rachel pernah mempertimbangkan itu. Tapi dia teringat masih banyak orang yang berkebutuhan khusus menjalani hidupnya dengan damai. Banyak orang yang hidupnya sengsara sampai harus memungut makanan basi di pinggir jalan dan tetap menjalani hidupnya sampai sekarang. Setidaknya Rachel tidak seperti itu. Dia masih bisa makan dan tinggal di kamar yang layak.

Rachel harus tetap bersyukur walaupun nasibnya selalu menyedihkan. Pembullyan ini akan berakhir setelah Rachel keluar dari sekolah itu. Hanya tinggal setengah tahun lagi. Rachel pasti bisa melewatinya. Tuhan pasti sudah merancang kebahagiaan untuknya di masa depan nanti.

2 Be Con

Bab 3

Rachel tertidur di atas meja belajarnya. Saking lelah dan laparnya Rachel, tidur adalah pilihan yang tepat. Sampai suara gebrakan pintu membuat Rachel terkesiap. Kepalanya terasa seperti ketiban bertumpuk-tumpuk beton, sangat pusing. Pelaku penggebrakkan pintu itu adalah ibunya, Lina.

Lina muncul dengan wajah garang sebelum berkata, “Siapkan sarapan dan kami mau bicara hal penting padamu!”

Sudah seperti biasa bukan. Itulah ucapan selamat pagi. Dengan langkah yang gontai dan wajah yang pucat, Rachel berjalan menuju dapur dan menyiapkan bahan makanan untuk keluarganya sarapan.

Ini hari libur, setidaknya Rachel bisa bersantai dan mengobati lukanya yang kemarin. Selesai masak Rachel segera menyajikan piring dan makanan diatas meja makan. Baru saja Rachel Mau berbalik untuk mengambil makanannya sendiri, ayahnya berteriak menghentikannya.

“Hei, malam ini kau makan malam bersama kami,” ucapnya tanpa emosi.

Rachel sedikit terkejut. Tidak biasanya ayah tirinya mau berbicara dengannya tanpa ada makian yang keluar dari mulutnya. Tapi di sisi lain hati Rachel terasa sangat gelisah. Rachel yakin ada sesuatu dibalik perkataannya. Rachel ingin sekali menolaknya tapi Rachel tahu dia tidak bisa mengelak semua perkataan ayah tirinya. Perkataan keluarganya seperti sebuah perintah mutlak untuknya. Kalau Rachel menolaknya, Rachel mungkin akan hidup sengsara di rumah ini bahkan dia tidak akan merasakan ketenangan lagi.

“Kau bisa pergi dan menyingkirlah dari wajahku bocah dungu!” Ayah tirinya berteriak dan mulutnya kembali melontarkan makian pada Rachel.

Segera Rachel kembali ke dapur dan mengambil nasi dengan sisa lauk yang sudah dia pisahkan sebelumnya. Ini adalah makanan pertamanya sejak kemarin dia tidak makan sama sekali. Mungkin Rachel harus bersyukur kepada Tuhan karena dia tidak diberi penyakit asam lambung akibat tidak makan seharian penuh. Yah, walaupun perutnya akan terasa perih saat makanan yang dia makan pertama kali masuk ke perutnya.

Selesai makan, Rachel hendak masuk ke kamarnya lagi. Tapi dia melihat ibu ayah tirinya dan Mira sedang berkumpul di ruang keluarga. Dalam keadaan rumah yang sepi, sejauh manapun keberadaan Rachel dia bisa mendengar pembicaraan mereka walaupun samar-samar. Rachel berdiri lama di sana sambil mendengarkan keluarganya berbicara.

“Sayang, kau serius akan melakukan ini?” tanya Lina yang berada di samping suaminya.

“Ohh, Lina sayang. Ini kesempatan emas untuk kita semua,” jawab Rendy—ayah tiri Rachel. “Kalau kita menjodohkan anak dari keluarga Hallim dengan anak kita maka setengah dari saham keluarga Hallim akan kita pegang. Bukankah itu sangat bagus?”

“Itu bagus … Bagus sekali tapi anak bungsu dari keluarga Hallim itu punya penyakit mental! Aku gak mau punya menantu autis seperti itu!” Lina terlihat cemberut tapi bibirnya berkedut-kedut menahan seringaian. Ohh, siapa yang mau menolak kesempatan menjadi besan dari keluarga terkaya se-Asia itu? Keluarga Hallim adalah pengusaha terkaya yang mengelola perusahaan mobil sport, bahan pangan dan mall terbesar yang berada di beberapa apa kota bahkan di luar negeri.

“Lina yang akan menikah dengan anak bungsu keluarga Hallim itu bukan Mira.” Rendi terlihat sedang menenangkan istrinya. “Aku juga gak mau lihat anakku menikah dengan orang autis seperti itu. Tapi kita punya satu orang yang cocok,”

Mereka semua menyeringai. Tentu saja orang yang dimaksud itu adalah Rachel. Anak perempuan yang tidak pernah mereka anggap sebagai anak. Rachel akan menjadi tumbal mereka untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu benar, Sayang. Kita tidak perlu merasa rugi. Kali ini anak itu bisa bermanfaat bagi kita,” ucap Lina dengan riang.

“Hahaha … Anak dungu seperti itu sangat cocok bersama dengan orang gila!” Mira tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan nasib Rachel dan anak bungsu keluarga Hallim.

“Kita bisa memanfaatkan keluarga itu karena sudah menyerahkan anaknya kepada kita,” Rendy menyeringai lebih lebar karena tujuannya akan terwujud sebentar lagi.

“Baiklah ayo kita siapkan perayaan untuk malam ini!” Lina bertepuk tangan ringan sambil berdiri dan menatap anak dan suami kesayangannya.

“Kita harus menyambut dengan baik keluarga Hallim, Ma,” Mira tersenyum.

“Mira, Mama dengar dari teman Mama kalau anak sulung dari keluarga Hallim benar-benar tampan!”

“Oh, ya?” Senyum Mira semakin melebar. “Aku bakalan buat dia jatuh hati padaku!”

“Mama mendukungmu, Sayang.” Lina menghampiri anaknya dan memeluk Mira dengan hati kegirangan.

“Papa juga mendukungmu, Sayang.” Giliran Rendy yang berdiri dan menepuk bahu anaknya.

Rachel yang mendengar itu terlihat shock. Hatinya berdenyut sakit. Inikah yang disebut keluarga? Rachel tahu kalau dia memang tidak pernah dianggap anak oleh mereka. Rachel adalah sebuah kesalahan di masa lalu ibunya. Tapi untuk perjodohan ini, tidakkah seharusnya mereka bertanya apakah Rachel setuju atau tidak? Mereka hanya akan menikahkan Rachel karena uang. Karena keserakahan mereka untuk memiliki saham yang ada di keluarga Hallim ini. Ditambah lagi Rachel akan menikah dengan anak bungsu keluarga Hallim yang mereka bilang memiliki gangguan mental. Rachel ingin menangis saja rasanya. Dia ingin sekali menenggelamkan diri di lautan kalau dia tidak memikirkan bagaimana kehidupan setelah dia mati.

Rachel bingung sekarang. Hidup sendiri saja sudah cukup merepotkan. Sekarang bertambah mengurus pria 21 tahun yang keterbelakangan mental. Rachel tidak memikirkan tentang hidupnya. Tapi Rachel memikirkan tentang anak bungsu keluarga Hallim itu. Kalau dia menikah dengan Rachel bisa-bisa pria itu akan ikut sengsara sepertinya. Rachel tidak sanggup melihat itu semua.

Tuhan! Sebenarnya dosa apa yang telah saya perbuat di kehidupan sebelumnya? Kenapa nasibnya benar-benar Menyedihkan seperti ini?

***

Malam ini Rachel tidak masak makan malam karena ada pembantu yang lain yang akan masak makan malam khusus untuk pertemuan malam ini. Sedangkan Rachel ditarik ke kamar tamu. Rachel disuruh ganti baju dan duduk di meja rias. Mereka mulai memakaikan riasan tebal di wajah Rachel untuk menutupi lebam-lebam yang masih terlihat jelas di wajahnya.

Rachel memakai gaun berwarna cream dengan leher dan tangan yang tertutup. Karena seluruh tubuhnya memiliki bekas biru di mana-mana. Beberapa dari luka itu bahkan masih membuat Rachel tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Tidak lama ibunya masuk ke dalam kamar sambil bertolak pinggang dan berkata, “Anak dungu, awas kalau kau bicara macam-macam di depan keluarga Hallim.” Ibunya menunjuk wajah Rachel. “Kalau kau melakukan itu aku akan mengusirmu dari rumah ini dan akan kupastikan bahwa hidupmu selalu sengsara dimanapun kau berada!”

“Kenapa aku harus melakukan ini, Bu?” tanya Rachel dengan suara pelan lebih mirip bisikan.

“Huh … Kenapa kau bertanya? Kau hidup di rumah ini, jadi kau harus membayarnya!” sinis ibunya.

“Tapi—”

“Kau tidak berhak untuk menolak! Aku sudah melahirkanmu! Jadi setidaknya kau bermanfaat untukku kali ini!” Ibunya menunjuk Rachel lagi.

“Ingat, kau tidak boleh mengatakan apapun dan tunggu semua aba-aba dariku!” Lina melenggang pergi setelah memberikan peringatan keras kepada Rachel.

Rachel menatap kepergian ibunya dengan sedih seolah dia jijik melihat wajah Rachel. Diam-diam Rachel juga melirik orang-orang yang meriasnya. Tapi tidak satupun dari mereka yang mau berbicara pada Rachel bahkan menyapa pun tidak.

“Apa kalian diminta untuk tidak bicara padaku?” gumam Rachel dengan sedih. “Atau ternyata kalian juga jijik padaku. Sepertinya aku hidup adalah kesalahan terbesarku.”

Rachel masih bergumam tanpa ada yang memperdulikannya. Walaupun setidaknya Rachel tahu beberapa orang di belakangnya menatap Rachel kasihan. Tapi mereka tidak bisa mengatakannya atau memilih tidak dibayar oleh orang tuanya.

2 Be Con

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED