Bab 1

"Ma, kita tidak lebaran?" tanya Kamal.

Lebaran Idul Fitri tinggal dua hari lagi, tetapi Bu Senia belum mempersiapkan apa-apa.

Senia, wanita paruh baya, wanita yang dipanggil Mama oleh Kamal, tampak menyunggingkan senyumnya yang telaga. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, ada awan kelabu yang bergelantungan di wajah letihnya.

"Maafkan, Mama, Nak," ucap Bu Senia. "Kita mungkin terlambat lebaran. Mudah-mudahan Tuhan kasi kemudahan supaya kita bisa lebaran di hari lebaran Ketupat."

Terjawab sudah kenapa tidak ada kegiatan sama sekali di rumah ini. Sadar akan hal itu, Kamal merogoh sejumlah uang dari sakunya. Sebelum menyerahkannya, Kamal lebih dulu mencium hasil jerih payah yang sejatinya ia kumpulkan untuk biaya sekolah.

"Mudah-mudahan ini cukup," ucap Kamal sambil menyodorkan uang tersebut.

"Ya, Allah, Nak, ini dapat dari mana? Ini bukan dapat dari mencuri, 'kan?" Bu Senia kurang yakin.

"Ya, Allah, Ma ... !" Kamal mendesis sedih. "Itu saya punya hasil jualan daun pisang beberapa hari ini, kasian."

Bu Senia menatap Kamal, mencari kebenaran di sana. Sesaat setelah itu, barulah Bu Senia memeluk Kamal.

"Maafkan, Mama, Nak!" sesal Bu Senia.

"Iya, tidak apa-apa, Ma," balas Kamal dengan nada yang nyaris tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.

Setelah itu, selain tangan yang bergetar-getar, mata berkaca-kaca, Bu Senia tak lagi berucap. Begitupula dengan Kamal.

***

Di suatu awal malam, beberapa hari sebelum hari penerimaan siswa baru SMP.

Usai mengusap wajah, mengembang kempiskan dada, dengan jantung berdebar-debar, perlahan Kamal melangkah, menghampiri lapak seorang penjual sepatu. 

Di sini, sekira dua puluhan menit menunggu, barulah Kamal mendapatkan kesempatan. Kamal memulainya dengan memepet, berlindung di belakang pengunjung lainnya. Begitu melihat adanya peluang, sigap Kamal menyambar sepasang sepatu, lalu menyembunyikannya dalam baju di bagian perut, kemudian beredar dengan tergesa-gesa.

"Maling ... ! Anak itu maling!"

"Mana malingnya, mana?"

"Itu, itu ...."

Suara gaduh antara penjual sepatu dan beberapa orang pengunjung, riuh rendah meneriaki Kamal. Akan tetapi, Kamal sudah terlanjur menjauh, dan menyelinap di antara para pengunjung lainnya. Kamal tak tersentuh. 

Ketika suara itu tak lagi terdengar dan yakin tak ada yang membuntuti, Kamal melambankan langkah, dan terus berlaku baik-baik saja. Kemudian, diam-diam ia menjauhi keramaian, dan langsung menuju pulang.

***

Hari pertama masuk sekolah.

Pagi-pagi sekali Kamal sudah bersiap-siap untuk memulai hari pertamanya di SMP Negeri terdekat dari rumahnya.

Kecuali sepasang sepatu yang ia curi di pasar malam berapa malam lalu, semua yang melekat di badannya adalah barang bekas. 

Selain barang bekas, kecuali baju putih yang di atas sakunya ia ganti dengan OSIS SMP, semuanya Kamal dapatkan dari pemberian seorang teman.

Dari celana, topi, dasi, atribut, hingga lokasi sekolah, semuanya Kamal dapatkan dari seseorang yang baru saja lulus SMP. 

Celananya sedikit kedodoran, tapi tidak masalah bagi Kamal. Ia bisa melipat ujungnya hingga sejajar dengan mata kaki. 

Satu yang belum ia punyai, yakni tas sekolah. Kamal tidak mengkhiraukan itu, sebab pagi ini Kamal merasa sangat beruntung, bisa melanjutkan sekolah meskipun dengan segala keterbatasan.

"Mal? Mau ke mana, Nak?" Bu Senia sambil menatap Kamal dari ujung kaki sampai ujung rambut. Raut heran terpampang jelas di wajah Bu Senia.

"Sekolah, Ma!" jawab Kamal dengan tenang. "Saya diterima di SMP X," tambahnya sambil meraih, lalu mengecup punggung tangan Bu Senia. Bu Senia diam saja.

Setelah itu, Kamal beredar mencari Pak Rajimin. Kamal mendapati Pak Rajimin tengah duduk di pintu belakang, membuang tatapan ke luar rumah.

Pagi-pagi Bapak sudah melamun? Ragu, tetapi pada akhirnya Kamal memberanikan diri menghampiri Pak Rajimin.

Pada Pak Rajimin, Kamal melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan pada Bu Senia. Sayangnya, Pak Rajimin tidak menggubris salaman Kamal.

Setelah itu, barulah Kamal beredar menuju pohon pisang yang berada di samping rumah, mengambil sepatu yang ia sembunyikan di situ. Demi keamanan, Kamal tidak langsung memakainya, tetapi hanya menentengnya. Beberapa puluh meter sebelum gerbang sekolah, barulah Kamal mengenakan sepatu tersebut.

Saat sepatunya sudah ia kenakan, Kamal merasa ada yang janggal dengan sepatu ini. Salah satu dari sepatu ini terasa sempit, sangat sempit. 

"Astaga!" desis Kamal. Lalu, diam-diam Kamal melirik ke sekeliling. 

Beruntung hari masih sangat pagi. Belum ada seorang siswa pun yang berada di sekitar sini kecuali Kamal sendiri, sehingga tidak ada yang tahu kecuali Kamal sendiri bahwa sepatu yang ia kenakan ini size-nya selisih dua angka. Yang sebelah kiri size 35, sedangkan yang kanan size 37. 

Pun, selagi tak ada siapa-siapa yang melihat, segera saja ia pakai semula, lalu berjalan pelan-pelan menuju gerbang sekolah. 

Sekian puluh langkah melangkah, kaki Kamal mulai terasa perih. Akan tetapi, demi tekadnya agar tetap bersekolah, ia tahan-tahan. Kamal bisa sejauh ini, itu semua berkat tekadnya yang baja.

Karena ketidakadaan biaya, Pak Rajimin yang hanya seorang lelaki pincang tanpa pekerjaan yang jelas, sudah sejak lama mewanti-wanti agar Kamal tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Menurut Pak Rajimin, keinginan Kamal untuk tetap bersekolah adalah keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian keluarga.

Sedangkan Bu Senia yang hanya seorang ibu rumah tangga, yang terkadang jadi kuli rumput di ladang orang, sebenarnya meminta Kamal untuk istirahat satu tahun. Setelah itu, barulah Kamal kembali melanjutkan sekolah.

Semuanya sudah berlangsung, Kamal tidak ingin lagi menoleh ke belakang.

****

Penyambutan siswa baru.

Bersama ratusan siswa baru lainnya, Kamal berhimpun di aula sekolah.

Adalah Pak Hanafi, Kepala Sekolah di SMP ini. Usai membuka pidato penyambutan, beliau memberi motivasi kepada siswa baru, juga menjabarkan visi misi sekolah.

Di akhir sambutannya, beliau memberi kesempatan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan apa cita-cita mereka.

Kamal yang duduk paling depan tidak menyia-siakan kesempatan, gegas menegakkan telunjuk.

"Siapa namanya, Nak?" tanya Pak Hanafi, pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

"Kamal Hayat, Pak!" jawab Kamal.

"Baik!" sambut Pak Hanafi. "Kamal Hayat, apa cita-cita kamu?"

"Saya bercita-cita menjadi seorang Bodyguard, Pak!" jawab Kamal dengan begitu percaya diri.

Sontak seisi ruangan pada hening. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelahnya, riuh, dan tidak sedikit yang mengejek Kamal.

"Hu ... cita-cita apaan itu? Jadi maling saja, biar sesuai."

Kamal melirik si pembicara. O, sial! Dia Hartati Loa, anak seorang Juragan. Wajar jika dia mengejek Kamal. Buru-buru Kamal menarik pandang.

Bersamaan dengan itu, teman-teman Kamal masih riuh rendah, tetapi Pak Hanafi sigap menenangkan. 

"Tenang, tenang!" seru Pak Hanafi. "Tidak penting apa cita-cita kalian, asalkan kalian sanggup melakukannya dengan profesional. Jadi, jika kalian bercita-cita untuk menjadi seorang penjahat, jadilah seorang penjahat yang profesional."

"Siap, Pak!" sahut Kamal.

"Hu ... !" Kembali mereka menghura Kamal.

****

Belum genap dua minggu bersekolah, apa yang dilakukan oleh Kamal di pasar malam tempo hari, mulai tersebar luas. Namun, karena tidak ada saksi mata, mula-mula Kamal mengacuhkan berita tersebut.

Hinggalah di suatu siang sepulang sekolah, terlihat Pak Rajimin menunggui Kamal di halaman rumah.

Di sini, di siang bolong ini, Pak Rajimin sambil memegang daun kelapa kering. Saat Kamal tinggal beberapa langkah dari hadapan Pak Rajimin, Pak Rajimin mulai menyulut daun kelapanya.

"Mana sepatumu, Kamal?" sambut Pak Rajimin dengan nada tinggi.

Dibentak, Kamal tergugu.

"Mana!" ulang Pak Rajimin masih dengan nada yang sama.

Pada akhirnya, perlahan Kamal mengeluarkan sepatu yang senantiasa ia sembunyikan dalam bajunya tersebut. 

"Sini!" Pak Rajimin merebut sepatu Kamal dan langsung membakarnya.

"Pak! Itu?"

"Diam!" 

Pada saat yang bersamaan, sepatu itu sudah menyala.

"Ini kamu dapat di mana?" 

"Saya beli, Pak! Ya, Allah, Pak, kenapa dibakar?"

Plak! 

Pak Rajimin menampar Kamal dengan menggunakan sepatu yang mulai menyala tersebut.

"Ini kamu beli atau kamu curi?"

"Mati saya, Bapak sudah tahu," batin Kamal.

"Jawab, Kamal!"

"Iya, saya curi, Pak, tapi saya sudah izin sama Tuhan."

"Kamal ... ! Bapak sudah bilang! Kamu jangan aneh-aneh!" Pak Rajimin sambil menempelkan sepatu menyala itu ke perut Kamal.

Seketika itu juga lelehan karet panas melengket di baju Kamal. Perut Kamal mulai kepanasan.

"Ulang kali dibilangin ... !"

"Ampun, Pak ... !"

Kamal menjerit, Pak Rajimin tidak peduli, Pak Rajimin terus saja menghantamkan sepatu terbakar itu ke tubuh Kamal.

Plak plak plak!

Terakhir, Pak Rajimin menekan leher di bawah telinga Kamal dengan menggunakan sepatu terbakar tersebut.

Setelah bagian perut, kini leher Kamal juga yang sudah melepuh. Kamal sudah tidak tahan lagi. Sambil mencopot baju seragam sekolah yang ia kenakan, sesegera itu juga aku berlari menjauh.

"Tolong ... ! Ampun ... !"

"Jangan pernah lagi pulang ke rumah ini!"

Pak Rajimin terus saja mengumpat, sedangkan Kamal terus saja juga berlari menjauh.

"Awas kalau sampai kamu kembali ke rumah ini lagi!" ancam Pak Rajimin.

Sayup-sayup Kamal masih mendengar itu m Akan tetapi, jika tak kembali, Kamal hendak ke mana?

Bab 2

Jalan raya sedang ramai-ramainya dilintasi oleh anak sekolah, sedangkan Kamal yang tengah setengah berlari dengan air mata berderaian, sambil menahan perih di perut, juga di leher, mau tidak mau terpaksa harus berpapasan dengan mereka-mereka yang baru pulang sekolah. Sedikit dari mereka adalah teman sekolah Kamal.

Di sini, ada yang menatap, saling bisik, dan ada juga yang coba menghentikan Kamal seraya bertanya, kenapa?

Kamal bungkam, bergeming, dan terus saja menjauhi keramaian.

Usia Kamal boleh saja masih belia, tetapi diperlakukan dengan secara kasar, yang mana kata sebagian orang, perlakuan Pak Rajimin terhadap Kamal itu sudah masuk dalam kategori tak manusiawi, jika ingin menghitung seberapa sering Pak Rajimin menyakiti fisik dan psikis Kamal, maka sungguh tiadalah yang sanggup sesiapa membilangnya.

Anak kepala batu, anak durhaka yang tidak tahu diuntung, itu adalah sedikit kata yang sekonyong-konyong menjadi pembenaran bagi Pak Rajimin untuk menyakiti lahir dan batin Kamal. 

Karena semua itu, membuat Kamal menjadi seseorang yang tidak lagi punya urat malu. Jika pun masih ada, Kamal dapat memastikan urat malu tersebut sudah putus.

Kamal sudah kebal malu, tidak ada hal apa pun lagi yang bisa membuatnya merasa malu.

Lalu, sadar diri setelah ini Pak Rajimin akan kembali menjadi bahan gunjingan tetangga, maka pada suatu kesempatan, segera saja Kamal berbelok jalan, membelakangi jalan raya, selanjutnya mengambil arah menuju hutan yang kata sebagian orang adalah hutan larangan.

Langkah kaki Kamal terhenti pada rumpun pohon pisang hutan. Melihat buahnya yang tampak kekuning-kuningan, perutnya yang sedang kosong tidak sabar untuk segera diisi. Kamal pun tidak menunda-tundanya lagi.

Pisang hutan yang tengah dilahap Kamal saat ini, selain bergetah dan tidak manis sebagaimana pisang pada umumnya, biji-bijian yang ada dalam buahnya pula, jumlahnya jauh lebih banyak dari dagingnya. 

Karenanya, butuh dua sisir barulah Kamal merasa kenyang. 

Usai makan, Kamal beredar menuju sebatang pohon, duduk bersandar sambil menjiwai baju seragam sekolahnya yang telah bolong di bagian depan. 

Betapa pilunya Kamal. Kamal berpikir, andai Pak Rajimin tahu betapa Kamal sangat membutuhkan baju ini. 

Tidak berapa lama kemudian, masih dalam posisi duduk menyandarkan punggung ke batang pohon sambil memeluk baju dan buku tulisnya, tanpa sadar, Kamal tertidur.

"Mal, Kamal! Bangun, Nak!"

Gaung suara seseorang membangunkan tidur Kamal. Perlahan Kamal membuka mata. "Mama? Bagaimana caranya Mama tahu kalau saya berada di sini?" batin Kamal.

Saat menatap wajah, Kamal tertegun mendapati wanita ini yang juga balas menatap dengan tatapan sendu.

"Ayo pulang, Nak!" ujar wanita ini lagi. 

"Tidak, Ma! Saya takut bapak nanti dia pukul saya lagi," tepis Kamal sambil menjatuhkan pandang ke kaki beliau.

"Tidak, Nak! Bapak sudah menyesali perbuatannya. Pulanglah bersama mama."

Tunggu dulu! Siapa wanita ini? Kamal merasa ada yang aneh dengan wanita ini. Jari kaki di kaki kanan Bu Senia berjumlah enam, bukan lima. Selain itu, Bu Senia tidak pernah mengenakan sandal mahal.

"Ada yang tidak beres, siapa wanita ini?" batin Kamal.

Lalu, sesegera itu juga Kamal menjumput segenggam tanah, lalu melemparkannya ke wajah wanita aneh ini.

Wush!

"Siapa kamu? Kamu bukan mamaku!" cecar Kamal.

"Mataku, mataku ...."

Wanita ini meraung-raung sambil memegangi matanya. Kamal, alih-alih menghiraukannya, ia justru berdiri lalu menendang bokong wanita ini.

Bug! 

Wanita ini terjerambab seketika. Pada saat yang bersamaan, suaranya perlahan berubah. Dari meringis berubah menjadi suara desisan yang tidak terbaca. 

Hanya dalam sekejap mata, wanita ini sudah menjelma seekor anak ular. Ular dengan panjang sekira lima puluhan centimeter, dengan besar badan kurang lebih jempol kaki orang dewasa.

Selain itu, bumi berangsur-angsur gelap. Ini malam hari, bukan siang hari sebagaimana sesaat barusan.

Sampai di sini, Kamal begitu ketakutan sehingga buru-buru berlindung, lalu mengintipnya dari balik sebatang pohon.

Apakah dia siluman Wambeleu*?

Tidak salah lagi, dia memang siluman. Tanpa menunggu lagi, Kamal bergegas menjauhinya.

Kamal sudah menjauh sekira dua ratusan meter kala tiba-tiba pula terpikir buku tulis yang lupa ia bawa serta. Kamal sangat cemas, tetapi tidak punya pilihan, ia kembali mengambil buku tulisnya.

Saat kembali, Kamal mendapati ular ini masih dalam keadaan bergulingan sambil merintih-rintih. Di sini, tanpa pikir panjang, begitu Kamal mendapatkan kesempatan, sigap Kamal menangkap, lalu menyentaknya.

Sret!

Hanya dengan sekali sentakan, di seketika itu juga kepala ular tersebut terpisah dari ekornya.

"Hiks hiks hiks. Kenapa kamu berusaha untuk membunuhku, Kamal?"

Ular ini belum mati? Kamal menjatuhkan ekornya, lalu menyandera, menggenggam kuat-kuat potongan kepalanya.

"Saya mau diapakan lagi, Kamal?"

"Diam!" bentak Kamal. "Kamu ini siluman! Saya akan membunuhmu!"

"Saya memang siluman, tapi demi Tuhan, saya tidak punya niat menyakiti kamu." Ular ini coba membela diri.

"Kamu siluman, mana ada siluman yang ngerti Tuhan!" tukas Kamal.

Ular siluman ini masih terus berkata-kata, memelas-melas agar Kamal membebaskannya. Akan tetapi, Kamal tidak menghiraukannya sama sekali. Malahan, saat ini Kamal tengah mencari batu, berniat untuk meremukkan kepala ular ini agar benar-benar mati.

"Kamal, kalau saya ada niat mencelakakan kamu, sudah dari tadi saya lakukan. Saya hanya ingin minta bantuan kamu untuk bertemu Lahia." Ular ini masih berusaha.

Lahia? Lahia adalah seorang pawang ular. Sampai di sini, Kamal mulai sedikit tersentuh.

"Kamal ...." lirih ular ini lagi.

"Diam!" Kamal kembali membentaknya. "Saya tidak kenal siapa Lahia!"

"Hiks hiks hiks. Saya hanya sebatang kara, Kamal. Tapi biarlah, tolong tanam kepala saya biar saya bisa pergi dengan tenang." Nada bicara ular semakin lirih.

Kamal diam sejenak. Dalam kegelapan malam, Kamal masih bisa melihat bagaimana kilauan di mata ular ini yang tampak sembab akan air mata. 

"Baiklah," ucap Kamal juga akhirnya. "Saya akan kabulkan permintaanmu."

Lalu, dengan menggunakan patahan kayu, mulailah pula Kamal menggali lubang dengan dalam secukupnya, kemudian meletakkan potongan kepalanya ke dalam lubang, bersiap untuk menguburnya.

"Kamal, saya punya permohonan terakhir? Bisakah kamu mengabulkannya?"

"Permohonan terus!" gerutu Kamal dalam hati. "Ya, sudah, katakan!" seru Kamal kemudian.

Ular ini meminta Kamal untuk membalaskan dendamnya pada pembunuh kedua orangtuanya. 

Menentang Lahia sang pawang ular adalah permintaan tak masuk akal, tetapi Kamal berpura-pura menyanggupinya.

"Iya, pergilah dengan tenang!" ucap Kamal berdusta.

Lalu, Kamal meraih potongan ekor ular ini, kemudian perlahan menimbunnya bersama potongan kepalanya. Usai menimbunnya, Kamal menancapkan patahan ranting ke gundukan tanah tempat di mana aku mengebumikannya. Setelah itu, Kamal menjumputi buku tulisnya, kemudian beredar. 

Sembari melangkah satu-satu, sesekali Kamal mengintip ke belakang. Kamal khawatir ular tadi masih hidup lalu mengikutinya. Akan tetapi, tampaknya aman-aman saja.

Setibanya di kampung, Kamal bertahan di sebuah pos kamling tua yang tidak lagi terpakai. Di sini, ia menunggu pagi menjelang.

***

"Hey hey! Ngapain ke sini? Keluar keluar!" Pak Tarman, satpam sekolah, mengadang Kamal, beberapa langkah setelah Kamal membelakangi gerbang sekolah.

"Mau sekolah, Pak!" sahut Kamal ragu.

"Jangan bohong, keluar!" hardik Pak Tarman. "Kalau mau ngemis, jangan di sini! Sana sana!" 

Dituduh sebagai seorang pengemis, Kamal tergugu. Kamal bungkam dengan perasaan yang sukar tergambarkan.

"Hey, kamu dengar, tidak?" Sorot mata Pak Tarman semakin menyeramkan.

"Saya murid di sini juga, Pak! Sumpah, saya bukan pengemis." Kamal coba membela diri.

__

Note : Wambeleu adalah nama yang disematkan pada salah satu spesies ular yang tidak kalah berbisanya dari ular Cobra.

Bab 3

"Kami pahami masalah kamu, Kamal, tapi ini peraturan." Untuk yang ke-tiga kalinya Bu Sri Mariani, guru Bimbingan Konseling, mengulang kalimat yang ada kata Peraturan di dalamnya.

"Tolonglah kasian, Bu," balas Kamal juga untuk yang kesekian kalinya. "Kalau saya sudah dapat uang, saya pasti beli sepatu baru. Sepatu saya hilang, kasian, Bu."

"Kamu ini, ya!" Bu Sri mendengus sambil geleng-geleng kepala. Wanita setengah abad, guru yang terkenal dengan ke'killer'annya di sekolah ini, mulai hilang kesabaran. Sampai di sini, nyali Kamal mulai sedikit ciut.

"Atau, begini saja, Kamal," ucap Bu Sri kemudian. "Minta orang tua kamu urus surat keterangan tidak mampu, biar kami ajukan beasiswa untuk kamu."

Kamal diam sejenak. Ini seperti angin segar setelah barusan lidah Kamal tanpa sengaja tergelincir, mengadukan ketidakberdayaan diri dan keluarga. Namun, di sisi lain, Kamal sangsi ayahnya akan bersedia untuk memenuhi permintaan Bu Sri.

"Kalau kalian merasa kesulitan mengurusnya, biar ibu yang datang ke rumah kalian untuk ...."

"Tidak perlu, Bu, tidak perlu," potong Kamal. "Bapak saya pasti bisa urus sendiri," tambah Kamal dengan nada yang dipantas-pantaskan.

Guru Bimbingan Konseling adalah seorang guru yang dibekali dengan ilmu jiwa yang mumpuni. Bu Sri Mariani, hanya dengan menatap wajah Kamal, beliau sudah sanggup membaca pikiran Kamal.

Bu Sri mengernyit, buru-buru Kamal menambahkan, "Iya, Bu, nanti saya sampaikan sama bapak. Terus, sekarang, apakah saya sudah boleh ikut belajar?" 

"Kamal!" Bu Sri mulai membentak. "Peraturan sekolah ini diterapkan untuk dilaksanakan! Kalau kamu kami biarkan ikut proses belajar mengajar dengan kondisi compang-camping seperti ini, bagaimana nanti kalau ada siswa lain yang ikut-ikutan? Kamu paham, tidak, apa yang ibu bicarakan?" tambah Bu Sri berapi-api.

Sudah final. Tidak ada lagi celah bagi Kamal untuk dapat mengikuti jalannya proses belajar mengajar di pagi hari ini. Pun, dengan kepala terkulai lesu, Kamal beredar dari ruang BK, selanjutnya memberanikan diri untuk pulang ke rumah.

***

Kepulangan Kamal di rumah, alih-alih menemukan solusi dari masalah yang tengah mengadang, ianya justru menciptakan pertengkaran hebat antara Pak Rajimin dan Bu Senia.

Upaya Bu Senia yang coba membela, ianya tidak cukup mampu menjinakkan gelegar Pak Rajimin yang bersikukuh tidak menginginkan keberadaan Kamal di rumah, bahkan di kampung ini.

"Kamu jangan terlalu keras seperti itu, Rajimin!" Sampai di sini, Bu Senia sudah punya keberanian untuk melawan, dan bahkan menyerang balik Pak Rajimin. "Seharusnya kamu mikir, kenapa dia nekat mencuri? Kenapakah kamu tidak pernah mikir apa masalahnya? Itu semua karena kita juga, Rajimin! Kita mau mengadopsi anak orang, tapi tidak mau membiayainya! Seharusnya, sampai di sini kamu sudah bisa mikir, Rajimin!"

Seumur-umur, selain menyebut nama secara langsung, bukan lagi Bapak sebagaimana biasanya, ini adalah yang pertama kalinya Kamal melihat Bu Senia bisa sedemikian batu karang di hadapan Pak Rajimin. 

Kenapa? Diam-diam Kamal mendesau. Selain takjub tapi sekaligus resah, Kamal juga mulai bertanya-tanya, apakah Bu Senia sudah berubah menjadi seorang wanita pembangkang?

"Kamu malah bela anak durhaka ini, Senia? Kamu tidak pikirkan bagaimana aib yang dia diciptakan untuk kita? O, baguslah kalau kalian sudah sekongkol begitu! Biar saya saja yang pergi dari rumah ini," ancam Pak Rajimin.

"Pergi saja, Rajimin, pergi! Tidak usah ngancam-ngancam kami terus." Bu Senia membalas dengan tidak kalah sengitnya. "Kalau kamu tidak pergi, biar kami yang pergi!" tambah Bu Senia berapi-api.

Bu Senia cetar membahana, kemudian, hening. Pak Rajimin terdiam, Bu Senia membuang muka. Aura dalam rumah ini begitu tegang.

Sampai di sini, Kamal merasa, dirinyalah sang petaka yang menjadi penyebab gempa bermagnitudo mega dalam keluarga ini. Ini buruk, Kamal kian terpuruk.

"Baiklah! Saya kabulkan permintaanmu, Senia! Saya akan pergi!" Pak Rajimin akhirnya buka suara setelah barusan beliau hanya diam. Lalu, tampak beliau membalikkan badan. Ketika Pak Rajimin berancang-ancang untuk beredar, sigap Kamal mengadang, merebut lalu memeluk salah satu kaki Pak Rajimin. "Tolong jangan pergi, Pak, biar saya saja yang pergi!" Kamal mengiba dengan begitu lirihnya.

Selain memeluk erat kaki Pak Rajimin, Kamal juga memelas habis-habisan agar ayah angkatnya ini mengurungkan niat. Akan tetapi, alih-alih tergugah, Pak Rajimin justru menampar tengkuk Kamal.

Plak!

Bugh!

Kamal nyaris terjerambab.

"Mulai sekarang, kalian jangan lagi panggil saya Bapak! Saya bukan bapak kalian. Kalau kalian menganggap saya sebagai Bapak, seharusnya kalian menghargai saya, mengikuti apa yang saya bicarakan."

Pak Rajimin menukas tajam, Kamal justru gegas bangkit, lalu kembali merebut kaki beliau. "Tidak, Pak, tidak! Saya berjanji mulai sekarang saya akan turuti kemauan Bapak!" ucap Kamal.

"Lepaskan!" hardik Pak Rajimin.

Plak plak!

"Argh ...." Kali ini tamparan Pak Rajimin jauh lebih kuat dari sebelumnya, Kamal meringis tertahan.

"Bunuh saja, Rajimin, bunuh saja kami semua, biar kamu puas! Hiks hiks hiks," serang Bu Senia sambil berderai air mata.

Kamal sudah tidak sanggup. Refleks ia bangkit lalu berucap lantang. "Cukup ... cukup! Saya mohon, cukup! Tolong jangan bertengkar lagi kasian, saya mohon, cukup! Sudah, biar saya yang pergi!"

Sedetik kemudian, Kamal sudah berlari keluar rumah.

"Kamal ... ! Jangan pergi, Nak ... !"

Gaung suara Bu Senia itu, ianya lebih sembilu dari panah-panah api yang menyasar sukma. Akan tetapi, Kamal tidak punya pilihan lain selain mengabaikan dan semakin mempercepat langkah. Kamal tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk akan terjadi di antara ayah dan ibu angkatnya tersebut.

Seumpama suatu infeksi pada bagian tubuh manusia, agar tidak menjalar lebih jauh, Kamal rela menjadi bagian yang diamputasi. Tidak apa terbuang, asalkan Pak Rajimin dan Bu Senia masih tetap dalam satu kesatuan yang utuh.

Lalu, pergi dari rumah?

Itu hanyalah sebaris kalimat putus asa yang bersekutu dengan kondisi ketidakberdayaan. Hendak pergi ke mana, sedangkan Kamal seumur-umur belum pernah meninggalkan desa ini?

Hutan yang kata sebagian orang adalah hutan larangan, hingga detik ini masih belum tergantikan sebagai satu-satunya tempat yang paling bisa menerima kehadiran Kamal. 

Sepasang kaki yang tengah menyangga raga dengan jiwanya yang hampa, telah menuntun langkah tanpa arah Kamal, merangsek jauh ke dalam hutan, hutan yang sangat jarang dijamah oleh manusia.

Hinggalah sebatang pohon beringin berukuran besar yang menjentik pikiran Kamal untuk menjeda langkah.

"Ini sudah kayaknya," gumam Kamal dalam hati.

Lalu, sekali lagi Kamal coba menjiwai pohon beringin yang ukurannya sangat tidak biasa. Rumbai-rumbainya lebat menjuntai, ujung pohonnya entah berada di mana. 

Menurut rumor yang Kamal dengar, rumbai-rumbai yang sangat padat begini, ini adalah tangga naik turun bagi para penghuni beringin. Saat Kamal mencermatinya, ianya sudah sangat mirip dengan ciri-ciri yang diceritakan oleh banyak orang. Satu yang tidak terasa, aura mistisnya. Padahal, beringin ini berada di tengah hutan larangan. Akan tetapi, mungkin belum terasa.

"Baiklah, saya akan mencobanya," batin Kamal. 

Lalu, dengan posisi duduk bersila, mata memejam, tapak tangan tegak saling tumpu di depan dada, Kamal berbisik : "Wahai penghuni pohon beringin, siapa pun kalian, saya, Kamal Hayat, mohon izin bertemu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED