Dengan jalan yang penuh dosa itu, Gea berhasil menjadi model. Bahkan hanya dalam jangka waktu satu tahun Gea telah berhasil menjadi model papan atas. Wajahnya memenuhi billboard iklan di sepanjang Kota Cassey.
Ia telah berubah menjadi artis naik daun. Melejit seketika. Muda, cantik, dan berkarakter. Itulah Gea Mexalla.
"Wah, hanya perlu waktu satu tahun bagimu untuk menjadi artis tersohor." tutur Davidson sembari melihat spanduk sepanjang jalan dipenuhi dengan wajah Gea.
"Diamlah dan perhatikan mobil di depanmu."
"Lihatlah bagaimana gadis jalang ini begitu berani kepadaku kini,"
Tangan Davidson mulai menggerayang dan menyentuh paha Gea. Sebagai peringatan kalau gadis itu berubah menjadi pembangkang. Ia memainkan paha Gea, membuat gadis itu jijik dan ingin segera mengenyahkan tangan Davidson.
"Malam ini, aku ingin kau melayani Tuan Darby." kata Davidson tanpa melepaskan tangannya dari paha empuk nan mulus Gea yang dilapisi oleh stocking hitam jaring-jaring. Menjadikannya kian seksi. Pakaian ini juga dipilihkan oleh pihak Star Agency. Agar Gea memikat banyak orang.
Gea sudah tak tahan lagi. Ia menampik tangan Davidson, lantas menukas keras, "Bukankah kita sudah setuju kalau aku tak akan pernah tidur dengan tua bangka itu atau siapa pun?"
"Hahaha. Kau tidak tidur dengannya. Tetapi, kau hanya melayaninya. Itu hal yang berbeda. Tetapi, kenapa kau menyingkirkan tanganku ini, Gea? Kau tak ingin disentuh olehku?"
"Manager Davidson, berhentilah bersikap seolah aku ini anak kemarin sore yang butuh belaianmu!"
Davidson tertawa.
Sejak Gea dinobatkan sebagai model yang naik daun, Davidson tidak lagi membuat Gea tidur dengan para konglomerat. Itu untuk menjaga citra Gea dan juga bentuk tubuhnya agar tetap kencang.
Davidson sendiri sudah tidak pernah tidur dengannya. Ia mencari kepuasan lain. Sebab jadwal Gea yang begitu padat dengan tawaran iklan di mana-mana.
Akan tetapi, itu tak membuat tangan Davidson berhenti untuk usil. Dia sering melakukan tindakan tak senonoh pada Gea. Untungnya, Gea sudah mulai berani memberontak.
Bagaimana pun, dia adalah model papan atas. Wajahnya menghiasi televisi. Dia adalah sumber pendapatan perusahaan. Sudah sepantasnya dia lebih berani dan tidak diperlakukan semena-mena.
Kini, Davidson memberhentikan mobil di depan sebuah bar yang ramai. "Nikmati harimu dengan Tuan Darby. Buatlah dia puas entah bagaimana caranya. Kau tahu dia sudah memberikan dana selama lima bulan ini, kan?"
"Cih. Tidak sekalian saja kau bilang aku suruh tidur dengannya?"
"Lakukanlah. Agensi akan dengan sangat senang mendapatkan uang tambahan darinya."
Gea mendesis. Ia turun dari mobil Davidson. Gadis itu mulai masuk ke dalam bar. Suasana bar yang dipenuhi banyak orang membuat Gea tak terlalu diperhatikan. Mereka sibuk dengan diri masing-masing.
Gea masuk ke dalam, segera menemukan Tuan Darby yang dikelilingi oleh tangan-tangan pelacur yang nakal.
Tuan Darby melambaikan tangan kepadanya. "Kemarilah, Sayang!"
Para pelacur yang menghinggapi tangannya pada tubuh Tuan Darby pun diusir. Lelaki itu hanya ingin Gea. Mencicipi tubuhnya yang sangat seksi nan menggairahkan.
Pada saat itu, Gea mengenakan pakaian gaun tanpa lengan berwarna hitam ketat. Ditambah dengan sepatu boots dan stocking yang menambah kesan nakal.
Terlebih pada tubuh Gea yang ramping dengan ukuran bagian atas dan bawah yang besar. Bodynya aduhai, mirip gitar Spanyol. Nafsu Tuan Darby menggelegak, membayangkan kemolekan tubuh Gea yang sejati.
"Aku sudah lama menunggumu,"
Tuan Darby memegang pinggang Gea. Lalu merapatkannya kepada tubuhnya. Lelaki tua renta itu berbisik sensual. "Bagaimana jika kau duduk di pangkuanku, Gea Sayang?"
Gea hanya tersenyum, menggunakan topengnya. Ia harus berpura-pura menikmati ini semua. Padahal dalam hatinya memberontak tak mau.
"Itu pasti akan tidak nyaman bagimu juga, Tuan Darby."
"Ahh~ tidak, tidak.. Aku justru ingin merasakannya. Diduduki olehmu. Seperti apa ya rasanya dua belahanmu itu, hmmm?" katanya dengan nada rendah yang memuakkan.
Entah berapa kalinya sejak Gea menjadi seorang model, gadis itu diwajibkan untuk melayani para pria yang mau sebagai sponsornya. Salah satunya adalah Tuan Darby, salah satu investor kaya raya.
Aroma alkohol dari Tuan Darby menguar. Ia mendekatkan bibirnya pada Gea. Gadis itu langsung mengalihkan wajahnya.
"Eh?? Kau berani menolak. Tampaknya aku harus memberikanmu hukuman." Tuan Darby memperingatkan.
Lelaki itu menyambar bibir gadis itu. Mencecap setiap sela ruang mulut Gea. Ia bahkan menekan leher Gea supaya ciuman itu lebih intens!
Gea merasakan mulut yang bau dan juga serasa jorok saat Tuan Darby menjilati bibirnya itu. Ditahan Gea habis-habisan. Supaya mulutnya tak terbuka!
Gea buru-buru melepaskan ciuman tak sopan tersebut. Mendorong keras tubuh Tuan Darby gendut penuh lemak. "Jangan di sini. Aku tak ingin tertangkap paparazzi!"
"Ayolah, Sayang. Kau tak tahu kalau orang di sini sibuk untuk mencari pasangan untuk memuaskan nafsu mereka?"
Tuan Darby menunjuk sekelilingnya. Sial. Tempat ini memang dipenuhi dengan orang yang tengah memadu kasih. Bahkan mereka dengan berani saling berciuman dan saling menyentuh.
Akan tetapi, Tuan Darby tentu tak akan puas dengan bibirnya. Seperti sponsor lain, dia pasti lama-lama ingin tidur dengannya.
Gea telah berjanji sejak dia debut menjadi model naik daun, dia tak akan tidur dengan siapa pun lagi. Tak terkecuali dengan Tuan Darby. Entah seberapa pun kayanya Tuan Darby, tak akan lagi menyerahkan tubuhnya!!
"Bagaimana jika kita memesan tiket hotel?"
Gea memberikan senyuman yang menggoda. "Minumlah dulu, Tuan Darby."
Ia sengaja menuangkan banyak minuman. Satu botol. Dua botol. Sampai tiga botol minuman keras!
Bagaimana tidak teler lelaki tua ini?
"Tuan Darby, sepertinya Anda mabuk. Lebih baik aku antarkan saja Tuan Darby untuk pulang."
"Mabuk? Apa maksudmu?" tanyanya mengoceh.
Gea memapah tubuh Tuan Darby menuju ke parkiran. Lelaki reot tersebut sudah sering bersama dengannya. Bagi Gea, tak sulit untuk menemukan mobilnya.
Hendak membuka pintu mobil Tuan Darby, lelaki itu mendadak menyemprot. Entah bagaimana, ia sudah sadarkan diri dari mabuk seutuhnya. Mengetahui dirinya akan dibawa pulang begitu saja, kontan Tuan Darby marah.
Niatnya belum tertuntaskan! Keinginan dan hasratnya pada Gea belum padam! "DASAR ULAR BERBISA!"
"Setelah aku menjadikan sponsor selama lima bulan untukmu, kau bahkan tak pernah sudi untuk tidur denganku, pelacur!!" teriak Tuan Darby membahana basement lapangan parkir. Suasana di sana terlampau sepi. Baru pukul sepuluh, sehingga orang-orang belum ada yang berseliweran untuk berniatan pulang.
Tuan Darby menghimpit tubuh Gea ke mobilnya. Lalu berkata di luar kendali, di tengah nafsu yang berkobar-kobar. "Bagaimana kalau kita menikmati malam yang panjang di hotel bersama? Kau tak boleh menolakku. Karena kau malam ini... Kau harus memuaskanku!"
Gea tercengang. "Tuan Darby! Jangan bercanda!"
"Bercanda? Kau pikir aku bercanda untuk menidurimu, Jalang Kecil?!"
***
“Jangan lakukan ini, Tuan Darby!” erang Gea ketakutan.
Ia tak pernah menghadapi Tuan Darby yang mengamuk! Selama ini, lelaki itu hanya teler dan langsung masuk ke dalam mobil dan diantarkan pulang olehnya.
Tampaknya, kesabaran lelaki itu telah habis. Selama lima bulan, hanya iming-iming omong kosong dari Davidson yang mengatakan kalau Gea akan menjadi penghangat ranjangnya!
Telah lama Tuan Darby menunggu, ia tak mampu membendung nafsunya yang menggebu!
“Kalau kau tak mau melakukannya di hotel, maka akan kulakukan dengan cepat di basement!”
Lelaki tua bangka itu segera mendekat kepada Gea. Ingin mencabulinya. Tak peduli dengan kondisi yang terbuka di basement, tangannya mulai menyentuh bagian atas tubuh Gea!
“Lepaskan aku, Tuan Darby! Aku tak mau!”
Gea sudah hampir menangis. Air matanya membludak.
Gadis lemah itu mulai menjerit-jerit, tetapi percuma. Segalanya sia-sia.
Tuan Darby semakin menghimpit Gea. Ia merasakan bagian tubuh Gea yang menyenangkan dan melebihi ekspektasinya! Ia tak menyangka memainkan benda besar teramat menggoda!
Kaki Gea melemas. Ia bahkan tak bisa bergerak satu inci pun.
Gea terus merintih meminta tolong. Air matanya sudah menderas. Ia tak ingin dipegang-pegang oleh tua bangka ini!
Di saat itu, tiba-tiba saja ...
BUAGGG!!
Seorang lelaki yang entah datang dari mana bak superman menyelamatkan Gea. Gadis itu terperenyak jatuh. Sementara Tuan Darby merasakan perih yang nyata di pipinya!
Tuan Darby melemparkan tatapan sinis kepadanya. “Siapa kau?! Berani-beraninya kau mengangguku!”
“Hei, Tuan! Apakah kau tidak lihat wanita itu?! Dia bahkan sama sekali tak menikmati sentuhanmu yang kasar itu!”
“Persetan! Apa pedulimu!”
“Ini memang bukan peduliku, tetapi aku sama sekali tak mau melihat pria yang mencabuli wanita di depan mataku!”
BUAKK! DUAK!! DAKK!!
Serangan bertubi dilancarkan oleh lelaki tersebut. Gea melihatnya dengan perasaan cemas dan takut.
Pukulan dari lelaki tak dikenal itu begitu keras sampai Tuan Darby tepar dan pingsan.
“Ini mobilnya?!” teriak lelaki tersebut ke Gea.
Gea mengangguk.
Lelaki itu segera memasukkan Tuan Darby ke dalam mobil.
Melemparkan jasnya, memberikannya kepada Gea. “Kembalikan jasku nanti.”
Kartu nama diberikan kepada Gea. Melihat nama yang terpampang di sana... Cale Vertoghen. Seorang CEO dari produk fashion terkemuka, Vertoghen Stories. Ia adalah konglomerat di negara ini!
Gea mengerjap. Ia mendongak. Pahatan wajah Cale adalah mahakarya dari Tuhan. Ketampanannya luar biasa. Dengan sepasang alis yang tebal, bibir yang tipis, serta hidung yang mancung.
Gadis itu mematung memandanginya.
“Kau bisa pulang sendiri, kan?”
Lamunan Gea buyar seketika. Dengan suara merintih dan serak akibat habis menangis, Gea berujar. “Te-terima kasih...”
Cale hendak meninggalkan Gea, tetapi jauh dari lubuk hatinya berubah merasa bersalah. Gadis itu akan pergi seorang diri. Bagaimana jika ada sesuatu yang menimpanya lagi? Walaupun Cale tak mengenalnya, ia mendadak iba.
“Untuk malam ini, kuantarkan kau pulang.”
“A-apa?”
Gea tersentak.
* * *
Mobil sport Ferarri yang seharga puluhan ribu dollar itu melintasi jalanan Kota Cassey. Gadis itu terperangah dan cukup tidak nyaman duduk di dalam mobil mewah itu. Di sampingnya, lelaki yang baru saja dikenal itu menyetir, mengendarai mobil.
‘Apakah aku terlalu gampangan untuk diantarkan oleh lelaki ini?’
Gea secara spontan menerima tawarannya di tengah kondisi cukup terguncang. Kini, dia tengah menyesali keputusannya sendiri.
Bisa saja, dia baru saja keluar lubang buaya justru masuk ke kandang harimau.
Tidak ada yang tahu betapa ganasnya seorang lelaki.
“Kau bisa turun kalau canggung denganku. Tetapi dengan tampilanmu saat ini, kau hanya akan menjadi sasaran empuk pria brengsek.”
Gea menyetujui dalam hati. Ia dalam kondisi yang mengenaskan.
Davidson yang semestinya bertanggungjawab malah tak mengangkat telepon. Keluar dari mobil dengan keadaan ini hanya akan mengundang paparazzi.
“Terima kasih telah membantuku, Tuan Cale.”
“Cale saja.”
Gea menganggukkan kepala kecil. Matanya terantuk ke arah tangan Cale yang menyetir.
Ruas jarinya terluka akibat dia menyelamatkan Gea. Hantamannya kepada Tuan Darby pasti sangat kuat sampai-sampai dia lecet.
Manakala Gea sudah tiba di depan gedung apartemen, ia mengangsurkan plester kepada Cale. “Ini untuk mengobati luka di tanganmu.”
Cale mengernyit, memeriksa lukanya sendiri. “Ah, ini bukan apa-apa. Aku bisa mengobatinya nanti.”
“Sekecil apa pun luka itu, tetap saja terasa sakit.” Gea membuka plesternya, menyentuh tangan Cale. Memasangkan plester tersebut.
Cale mengamati Gea yang telaten mengobati tangannya. Padahal ini tak seberapa.
Meskipun demikian, Cale tak mengucapkan terima kasih sama sekali. Ia justru mengeratkan rahangnya, memberikan jarak. “Kembalikan jasku ketika kau sudah selesai menggunakannya.”
Gea berterima kasih sekali lagi. Ia sunggguh tak tahu apabila tidak ada Cale. Mungkin dia sudah diperkosa oleh Tuan Darby.
Gadis itu bergidik ngeri. Membayangkan dia harus tidur dan kembali melayani seorang pria di ranjang mengingatkannya pada sikap kejam Davidson padanya satu tahun lalu.
Meskipun setelah itu Davidson tak lagi meminta memuaskannya, tetap saja itu semua menjadi masa lalu yang kelam bagi Gea.
Ia masuk ke dalam apartemen. Sungguh tak ingin terjerat dalam masa lalu yang gelap itu lagi.
* * *
BRAKKK!
“BERANI SEKALI KAU MENOLAK TUAN DARBY!”
Suara Davidson menggelegar. Menerobos masuk ke dalam apartemen secara cepat, memarahi Gea yang baru saja terbangun dari tidurnya akibat suara itu.
“GEA MEXALLA! Jangan berpikir kalau kau sudah menjadi model papan atas dan berani menolak Tuan Darby! Kesuksesanmu saat ini juga karena keikhlasan Tuan Darby!!”
Gea ingin marah, ia baru saja bangun dan harus mendengar omelan Davidson.
Namun hanya menghela napas panjang, “Kau tidak tahu seberapa menderitanya aku tadi malam.”
“Kita sudah membaharui kontrak tiga bulan sejak aku disebut artis yang naik daun! Sejak itu, aku tak akan melayani pria sampai ke ranjang. Kenapa kau menyuruhku tidur dengan Tuan Darby?!”
Gea bukanlah pekerja seks komersial. Ia seorang model. Seorang manager tak seharusnya menjual modelnya sendiri.
“Astaga! Aku tak percaya kau mengatakan itu! Kau tak tahu uang yang telah dikucurkan Tuan Darby untukmu!!”
“Pada hari ini juga, kau harus bertemu dengan Tuan Darby dan meminta maaf atas segalanya! Aku telah memintanya meluangkan waktu pukul empat di Kafe X.”
Davidson melemparkan kertas tepat di wajah Gea. “Ini jadwalmu. Aku tak mau menemanimu hari ini. Aku muak dengan sikapmu yang seenaknya, Gea!”
DUM!!
Pintu berdebam kencang. Sosok Davidson telah pergi dari apartemennya.
“Mungkin aku harus mengganti sandi pintu apartemenku. Supaya Davidson bajingan itu tak main seruduk masuk!” Gea membuang napas keras. Tak mau lagi melihat Davidson yang marah-marah.
Gea melihat jadwalnya yang padat. Padahal dengan jadwalnya sebagai bintang iklan saja sudah membuahkan uang banyak, kenapa dia masih membutuhkan sponsor?
Kenapa dia harus menemui Tuan Darby?
Gea tak yakin dia akan selamat jika bertemu dengan Tuan Darby nanti. Karena sudah pasti, Tuan Darby menyiapkan hotel untuk menjelajahi tubuhnya.
Bangun dari tempat tidur, bersiap, dan langsung menuju lokasi pemotretan. Membuang pemikiran untuk bertemu dengan Tuan Darby.
Hanya di tempat pemotretan, Gea aman. Banyak orang yang begitu baik kepadanya.
Gea terpaksa mengulaskan senyuman, berpura-pura bahwa dia baik-baik saja.
Akan tetapi, seorang make up artist tak pernah bisa melewatkan perubahan wajah Gea. Ia pun bertanya manakala mendandani Gea. “Semalam apakah terjadi sesuatu kepadamu, Nona Gea?”
“Eh? Apa maksudmu?” Gea terkejut. Ia melihat ke arah make up artist yang mencurigainya.
* * *