Abian Bimantara. Anak kamu, Adrian Bimantara.
Oke. Ini mengejutkan.
“Hah?!” Seluruh anggota keluarga Bimantara serentak melongo setelah membaca sebaris kalimat yang tertulis di kertas yang mereka temukan dalam box dimana baru saja mereka menemukan sesosok bayi laki-laki gembul berkulit putih yang menjadi ciri khas keluarga Bimantara–rata-rata memang mempunyai kulit yang putih bersih. Entah laki-laki atau perempuan.
Tuan serta nyonya dan si sulung di kediaman Bimantara langsung mengalihkan pandangan pada si putra bungsu yang juga berada di tempat kejadian perkara dengan tatapan heran sekaligus menyelidik.
Adrian Bimantara dikenal sebagai anak pendiam. Meski begitu, dari kecil hingga dewasa dia tak pernah melakukan hal-hal yang dapat menggunjing keluarga. Anak yang patuh, berbakti, selalu mengedepankan pendidikan hingga dia berhasil menduduki kursi menejer di perusahaan milik keluarga Bimantara. Dia tak punya waktu–atau tak terlalu suka–terlibat dengan seseorang untuk urusan perasaan.
Bisa dikatakan si bungsu fokus pada karir daripada menjalin hubungan dengan seseorang. Walau banyak wanita yang menaruh hati dan berusaha merebut perhatiannya, Adrian tetap tak acuh. Dan lelaki yang sempat dikira aseksual–oleh keluarganya–tiba-tiba memiliki anak?
Hah? Kapan buatnya?!
“Nggak!” pungkas si bungsu merengut. Tidak terima. “Mungkin aja itu bayinya kakak!”
“Enak aja!” Adnan pun tak terima, “Jelas-jelas nama kamu yang ada di sini. Sekarang jelasin sama kami. Kamu hamilin siapa?”
Arah tatapan pasangan Bimantara senior masih terarah pada si bungsu. Ditambah pertanyaan menohok Adnan tadi. Ketiganya berpikir bila Adrian tidak mau bertanggung jawab maka bayi gelap ini dikirim kemari. Untuk membuktikan bila si bungsu Bimantara bersalah.
Hmph.
Tidak ada penjelasan lebih masuk akal dari itu. Mereka bertiga menghela bersamaan. Astaga!
“Aku nggak pernah berhubungan nggak jelas kayak gitu sama siapa pun! Nggak mungkin bayi itu anak aku!” Adrian lagi-lagi membantah. Ya, dia merasa tidak terlibat hubungan asmara atau melakukan pergaulan bebas. Tidak terima dituduh begini. Siapa pula yang membuang si bayi ke kediaman Bimantara dan menumbalkan namanya?
Ketiga anggota Bimantara yang lebih tua dari si bungsu menatap ke arah box berisi bayi gembul yang sedang bermain-main dengan mainan karet yang ada di genggamannya. Nggak jelas, tapi menghasilkan bayi, batin ketiganya sedikit prihatin dengan keadaan si gembul yang tak diakui oleh ayahnya.
“Coba Tes DNA! Hasilnya pasti nggak cocok!” Adrian membangun benteng pertahanan.
Agam Bimantara–sang Kepala keluarga–kembali menghela, “Tenanglah. Kita semua terkejut. Apalagi nama kamu tertulis di kertas itu. Kalau tes DNA bisa ngasih jawaban, kita bakal lakuin.”
“Kalau hasilnya cocok, gimana?” tanya Adnan menghiraukan raut kekesalan di wajah adiknya. Dia hanya ingin mereka menetapkan tindakan jika hasil tes keluar.
Adrian mendengus, “Hasilnya nggak bakal cocok!”
“Udah, udah. Kalau hasilnya cocok tentu kita rawat. Dia adalah keturunan Bimantara. Baru cari ibu kandungnya,” Agam langsung mengacungkan telunjuk ketika si bungsu ingin menyela, “Kalau hasilnya nggak cocok, kita tetap rawat sampai nemuin siapa yang bawa kemari dan balikin bayi itu.”
Adil dan bijak. Semua setuju. Meski Adrian tetap merengut. Untuk sementara sebelum dilakukan tes DNA, bayi bernama Abian itu tetap akan mereka jaga. Rosa langsung mengambil si bayi dari dalam box dan menggendongnya. Menatap dari dekat wajah lucu Abian yang banyak terlihat menuruni gen Bimantara–atau lebih tepatnya Adrian. Ahem.
Yang berbeda dari Bimantara adalah binar cantik di mata si gembul yang tidak dimiliki oleh keturunan Bimantara lain. Irisnya berwarna coklat terang, seperti kerlipan lampu yang bersinar di gelap malam serta senyumnya yang lebar. Bayi Abian tidak suram–bermuka datar seperti keturunan Bimantara biasanya–dia malah gampang tertawa; apalagi ketika Rosa mencubit hidung mancungnya.
Abian bergidik geli dan tertawa tanpa suara.
Ah, seandainya benar cucu, Rosa dengan senang hati menerima. Umumnya kejadian seperti ini akan ditanggapi serius, namun dia tak ingin hawa dingin keluarga ini yang begitu terkenal berdampak pada si kecil Abian yang seperti oasis di dalam rumah. Abian adalah kebalikan dari orang-orang Bimantara. Semoga benar bila si bayi adalah cucunya. Dia berdoa dalam hati.
**
Hanya tiga hari. Hasil tes DNA telah keluar. Mereka sengaja mengirim bahas tes tanpa datang ke Rumah Sakit karena tidak ingin membuat skandal. Untungnya Dokter senior di Rumah Sakit yang mereka kirimi bahan tes adalah teman Agam, jadi rahasia mengenai si bayi tetap aman.
Semuanya berkumpul di ruang tengah; ruang keluarga. Agam, Rosa, Adnan dan Adrian. Tak lupa si gembul bernama Abian dalam gendongan sang Nyonya Bimantara yang sibuk mengigiti mainan karet. Padahal giginya belum tumbuh.
Amplop berlabel Rumah Sakit berada di genggaman sang Kepala keluarga. Mereka memandang amplop berwarna putih itu dengan tegang. Menunggu Agam membuka dan membaca isi surat di dalamnya. Sewaktu ujung amplop di robek, Adnan dan Adrian bersamaan menelan saliva dengan susah payah. Menegangkan sekali, ah!
Surat keterangan hasil tes sudah dilembari. Agam tengah membaca apa yang tertulis di sana. Raut wajahnya perlahan berubah. Mengerutkan kening lalu menyipitkan mata di bagian akhir dari isi surat.
“Astaga ...!”
“Kenapa? Kenapa?” sang Nyonya Bimantara mendekati suaminya. Ikut membaca isi surat hasil tes DNA yang dipegang oleh Agam. Langsung membaca ke bagian kesimpulan. Alis Rosa bertaut seraya menggumam, “Beneran?”
Melihat reaksi kedua orang tuanya yang bisa dikatakan aneh, Adnan dan Adrian mendekati Agam serta Rosa. Si sulung merebut kertas surat hasil tes DNA tersebut dari tangan ayahnya–mohon jangan ditiru tindakan tak sopan ini–kemudian membacanya bersama Adrian.
Berdasarkan bahan yang pihak Rumah Sakit terima dan uji coba kecocokan antara Adrian Bimantara dengan bayi bernama Abian hasilnya hampir seratus persen–yang artinya DNA mereka cocok–memaksudkan ialah si bungsu adalah ayah dari si bayi.
Adrian mengambil kertas surat hasil tes DNA dan membaca ulang setiap kata yang tertera di sana. Berharap dia salah melihat tadi. Namun, kesimpulan yang menyatakan bahwa DNAnya dan Abian cocok–mereka adalah ayah dan anak–tidak berubah. Terpampang kelas di sana dengan nama Dokter yang menguji coba, tanda tangan dan stempel.
“Nggak mungkin!” seru si bungsu, “Ini pasti salah!” lanjutnya tidak terima.
“Adrian.” Sang Kakak menepuk pundak si adik, mencoba menenangkan, “Sekali pun kamu membantah, hasil ini nggak akan berubah.” Katanya.
“Tapi ..., tapi ..., aku nggak pernah berhubungan dengan siapa pun! Gimana mungkin bayi itu anaku?!” sungguh, bagaimana caranya bayi yang tengah digendong oleh mamanya adalah bayinya–anaknya? Dia tidak pernah tidur dengan siapa pun!
“Adrian, bukannya kamu yang mau tes DNA?” Agam bersuara. Menohok si bungsu.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu terdiam dengan wajah pucat. Bagaimana ... bagaimana bisa terjadi? Kenapa begini? Niatnya agar terbukti bahwa dia tak terikat darah atau apapun dengan si bayi. Tapi, kenapa malah terbukti mereka berkaitan? Dia adalah ayahnya? Ti-tidak mungkin!
“Udah, udah. Apapun hasilnya kita udah sepakat untuk rawat Abian,” Rosa mencairkan suasana yang cukup tegang antara suami dan kedua putranya. “Sekarang kita mesti cari siapa ibunya Abian.”
Agam dan Adnan kompak menghela, sedang Adrian terpaku pada hasil tes DNA di tangannya. Masih memikirkan bagaimana bisa Abian adalah anaknya. Mengingat-ingat setiap orang yang dia temui, yang dia kenal, yang berkemungkinan adalah ibu dari si bayi. Atau dia tak sadar pernah berbuat asusila? Argh!
***
“Ini, gendong Bian. Mama mau pergi. Duh, udah telat.” Nyonya Bimantara–Rosa menyerahkan begitu saja bayi berusia enam bulan ke dalam dekapan putra bungsunya–yang tentu dengan sigap Adrian terima.
Bayi, loh!
Mamanya seenaknya menyerahkan Bian–mereka memanggilnya begitu, karena rasanya Abian terlalu panjang–tanpa pandang kiri-kanan kemudian berlalu sembari menggumam jika sudah terlambat. Argh! Kenapa mesti Adrian yang menggendong atau menjaga si bayi ketika mamanya ingin pergi?
“Ma! Aku ngambil libur hari ini bukan buat jadi pengasuh Bian!” jerit Adrian tak terima. Hah! Dia sengaja libur memang karena ingin istirahat, bukan menjaga si gembul yang tak protes atau rewel diserahi pada ayahnya.
Abian memang bayi yang ceria dan hyperactive, tapi tidak menyusahkan. Bayi lucu itu cenderung suka digendong, jadi siapa pun yang menggendong dia hanya akan tertawa tanpa suara dan tenang. Hmph, gampang sekali untuk diculik.
Rosa berbalik setelah mendengar ucapan putra bungsunya, “Trus siapa yang jaga Bian? Para asisten rumah tangga sibuk. Papa kamu ada meeting, Adnan juga ada pertemuan dengan client trus Mama pun harus ketemu client sekarang!”
“Tapi ....”
“Nggak ada tapi-tapi, jaga Bian. Jangan lupa buatin susu dan ganti popoknya!” peringat sang Nyonya yang lalu melanjutkan langkah.
Aku mana bisa lakuin itu semua! Itu pekerjaan para ibu! Adrian mendumel dalam hati. Astaga~ mengapa hari ini jadi begini? Niatnya ingin bersantai malah di repotkan menjaga bayi. Meski Abian anteng saja dalam gendongannya.
Keluarga Bimantara memant keluarga yang sibuk. Masing-masing memiliki pekerjaan. Adnan dan Adrian bekerja di perusahaan yang dirintis oleh sang Ayah; Agam Bimantara. Perusahaan apa itu tanya saja pada yang bersangkutan. Pun Rosan mempunyai usaha sendiri; membuka galery wedding organizer. Jika ada client, dia bisa sibuk sampai hari H–atau bisa beberapa minggu.
Memperkerjakan tiga asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah dan beberapa yang pulang hari mempunyai pekerjaan masing-masing–yang tak mungkin direpotkan lagi mengurus bayi. Beberapa hari kemarin Rosa tak sibuk, jadi bisa mengawasi Bian. Lain ceritanya hari ini saat dia dihubungi bila ada client yang ingin menggunakan jasa WOnya.
“Aku cari babysitter untuk Bian ya,” sebuah ide tercetus dari mulut si bungsu Bimantara.
Membuat langkah sang Mama terhenti sekali lagi. Membalik badan dan memandang Adrian dengan bintang-bintang di mata. “Good job! Ide bagus. Tapi, mama yang bakal wawancara calonnya nanti ya. Dah~” dan meninggalkan Adrian.
Si bungsu menghela. Dia berjalan ke ruang keluarga atau tengah dan mendudukkan diri di sofa. Menyandarkan punggung. Si bayi berpindah ke pangkuannya di posisikan duduk menyandar ke perut Adrian. Bian kan belum bisa duduk sendiri.
“Okeh ...,” Adrian mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai menyalakan layar. Cahaya dari ponsel menarik perhatian Bian sehingga matanya terus mengarah pada benda hitam di tangan sang Ayah. “Kita buat iklan mencari babysittee untuk kamu.” Katanya.
Baby Bian hanya diam. Fokus penglihatannya mengarah pada layar ponsel sang Ayah yang tampak menarik. MengikutuI kemana pun ponsel itu digerakkan oleh Adrian. Sesekali tangan Bian menepuk-nepuk sendiri kakinya dan tertawa karena melihat hal baru.
Si bungsu membuka salah satu aplikasi job yang baru di unduh di ponsel; memiliki fitur membuat iklan dan mengjsi tiap-tiap kolom–spesifikasi untuk calon pelamar dan nomor telepon yang dihubungi. Berhubung mamanya yang mau wawancara, jadi dia memasukkan kontak sang Mama. Tapi, Adrian tidak menyertakan alamat kediaman Bimantara–takut jika yang datang atau menghubungi mamanya bukan karena pekerjaan yang ditawarkan, tetapi meneror keluarga mereka.
Ah, pandangan Adrian terhadap prilaku orang-orang–khususnya perempuan–yang mengidolakannya adalah teror. Ahem. Karena keluarga Bimantara termasuk salah satu keluarga yang menjadi sorotan publik; anggotanya sering menjadi topik di media masaa atau online. Dia tidak suka kehidupan pribadinya di kulik dan di papar menjadi berita. Apalagi dengan fisik mereka yang tampan dan cantik, tentu menjadi perhatian banyak orang. Namun, si bungsu tidak suka menjadi objek pembicaraan dalam bidang apapun.
“Okay, udah selesai.” Adrian menyimpan kembali ponselnya. Tidak menyadari si bayi di pangkuan mengikuti gerakan tangannya yang memasukkan ponsel ke saku celana sehingga tubuh VBian makin lama makin miring kemudian jatuh ke sofa di sebelahnya.
Huh?
Bian tidak menangis. Si bayi malah tertawa tanpa suara. Dia mencoba bergerak-gerak, memiring-miringkan badan. Tapi tidak berhasil. Tubuhnya tetap seperti sewaktu jatuh, tertelungkup di sofa. “Mm! Mmm!” Bian mengeram karena tak mampu bergerak.
“Ha-ha ...,” Adrian tertawa kecil, mengambil tubuh kecil itu dan kembali memangku – dengan posisi berhadapan. “Tidak bisa membalik, hm?”
Bibir si gembul terbuka lebar, memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi. Raut wajah Bian tampak girang. Lalu menggerakkan badannya naik-turun. Melonjak-lonjak di paha sang Ayah.
Senyum tipis terbit di bibir si bungsu. Dia memang belum mengakui Bian sebagai putranya; belum bisa menerima si bayi adalah keturunan Bimantara dari dirinya, namun ... bukan berarti dia akan bersikap ketus dan menjauhi Bian. Si gembul berpipi chubby minta digigit itu masih bayi, tidak mengerti apapun–tidak wajar bila dia menghindari si bayi. Jadi, setidaknya Adrian memperlihatkan sosialisasinya sebagai manusia, sebagai seseorang yang memiliki nurani, otak dan perasaan.
Yah ..., tidak buruk juga menghabiskan waktu dengan si gembul yang tak rewel ini.
**
Menarik napas dalam lalu dihembuskan. Melakukannya beberapa kali untuk menetralkan degup jantung yang tidak beraturan sembari memandang bangunan besar di balik pagar. Meski sudah berusaha tenang, tapi tetap saja detak di dada bukannya kembali normal malah makin kencang seraya dia melihat seorang laki-laki berpakaian security terlihat di pos penjaga. Bia memejam mata sebentar. Mengucap doa di dalam hati, sekali lagi menarik napas lalu berjalan ke pos penjaga.
“Pe-permisi, Pak.” Katanya memanggil laki-laki berbadan besar berseragam petugas keamanan yang biasa dilihat di rumah-rumah gedong atau orang kaya.
Laki-laki tadi menundukkan kepala supaya wajahnya bisa dilihat dari jendela kecil di posnya, “Ya?”
“Sa-saya mau lamar pekerjaan di sini. Katanya yang punya rumah lagi cari babysitter.” Bia menjelaskan dengan gugup. Pasalnya pekerjaan yang dia bilang cuma sekedar dengar saja. Tak tahu apakah benar-benar mencari orang atau sudah dapat atau dia salah dengar atau malah salah presepsi. Tapi, yang penting datang dulu dan mengkonfirmasi.
“Oh, sebentar ya mbak. Saya tanyain dulu.” Kata si petugas keamanan kemudian berbalik.
Bia melihat laki-laki besar yang kelihatan menakutkan karna posturnya yang tinggi-besar, namun nada bicaranya ramah sedang menelpon. Mungkin bermaksud bertanya kebenaran yang dia sampaikan tadi. Tak lama petugas tadi kembali ke dekat jendela dan memperlihatkan wajahnya.
“Saya udah konfirmasi. Sebentar saya buka gerbangnya.” Ujar si petugas keamanan sangat santun.
Gerbang besar yang berada di depan perempuan yang menguncir satu rambut panjangnya pelan-pelan terbuka sendiri. Dia menghela. Sekali lagi berusaha menenangkan diri. Terlebih saat setelah gerbang dibuka dan memperlihatkan rumah besar berhalaman luas terpampang di depannya. Bia menelan ludah. Dia sudah sampai di sini. Tinggal berjalan beberapa langkah lagi.
“Silahkan, mbak.” Si petugas keamanan muncul di sisi kiri dekat pos penjaga. Mempersilahkan perempuan yang memakai baju sederhana yang berdiri di depan gerbang tadi masuk.
Bia mengangguk, “Terima kasih, Pak.” Katanya dan matanya kembali fokus pada rumah besar di hadapannya. Berapa kali sudah dia menghela, menghembus dan menarik napas saat tiba di sini? Di area perumahan yang ukurannya besar; perumahan orang-orang kaya. Detak jantung yang hampir normal kembali beroperasi kencang. Memperbaiki posisi tas yang ukurannya cukup besar–seperti tas yang biasa dipakai atlet–dia mempersiapkan diri.
Satu langkah. Dia berhasil melakukannya. Dua langkah. Berlanjut langkah-langkah selanjutnya–tak dihitung lagi. Hingga sampai di pekarangan rumah. Dia mesti menaiki tiga anak tangga supaya tiba di teras. Kemudian berjalan sedikit dan akhirnya berada di depan pintu berwarna coklat dengan handle yang kemungkinan terbuat dari besi–entah, Bia tidak tahu dan tak mau memikirkannya. Ragu-ragu tangannya memanjang dan menekal saklar kecil yang dia tahu adalah bel. Biasanya begitu, kan?
***
Suara bel yang kencang terdengar di seluruh penjuru rumah. Tak memakan waktu lama pintu utama segera terbuka dan menampakkan seorang perempuan paruh baya dari balik pintu.
“Selamat malam. Selamat datang di kediaman Bimantara.” Sapaan hormat dilontar oleh perempuan paruh baya yang terlihat seperti petugas pelayanan di kantor-kantor jasa. “Mau bertemu siapa?” tanyanya sopan.
Gadis berkuncir satu ini mengangguk kikuk, “Se-selamat malam. Sa-saya mau ketemu yang punya rumah, katanya mereka lagi cari babysitter. Jadi, saya mau calonkan diri.”
“Silahkan masuk. Saya akan panggil Tuan rumah.” Ujar perempuan paruh baya ini. Bergeser sedikit dari pintu sehingga menciptakan celah.
Perempuan yang masih kelihatan sangat muda ini mengangguk lagi lalu berjalan masuk sambil memperbaiki tali tas yang tersampir di pundak mendahului perempuan paruh baya yang mungkin adalah asisten atau maid–entahlah. Dia dipersilahkan duduk di sofa di ruang tamu, sementara perempuan tadi menghilang di lorong yang kemungkinan memanggil sang Tuan rumah.
Selagi menunggu, dia memandangi keadaan ruang tamu. Dekorasinya simple. Empat sofa berbeda ukuran mengelilingi sebuah meja persegi panjang yang dilapisi taplak bermotif bunga dan dihiasi bunga plastik. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan alam. Hanya begitu. Tidak ada aksen lain. Yah, begini saja sudah cukup, sih.
Seorang perempuan datang ke ruang tamu sembari menggendong bayi. Duduk di hadapan si gadis berpakaian sederhana dan memandanginya intens. Sedang si bayi tampak sibuk menggigiti mainan karet berbentuk bebek.
“Maaf ...,” suara Nyonya Bimantara mengalihkan fokus perempuan di depannya, “Kamu mau mencalonkan diri sebagai babysitter? Kamu yakin?” dia kira yang datang adalah seorang perempuan yang sudah berumur seperti kebanyakan ART yang bekerja di rumah. Tapi, ternyata masih sangat muda. Apa tahu cara merawat bayi?
Untuk merawat si gembul, Rosa tak mau memperkerjakan sembarangan orang. Nanti cucunya juga dirawat sembarangan. Apalagi banyak kasus pengasuh anak yang kasar pada anak yang diasuh. Pun, dia kira putra bungsunya menghubungi agen penyalur pembantu. Tapi, perempuan itu datang sendiri. Tanpa agen? Bagaimana bisa sampai kemari?
Si gadis berkuncir satu ini mengukir senyum kecil lalu mengangguk. “Saya punya pengalaman mengasuh bayi, saya yakin, Bu.” Katanya.
Sang Nyonya Bimantara masih belum bisa meyakinkan dirinya. Meski punya pengalaman, entah mengapa dia tak dapat percaya begitu saja. Rosa berusaha tersenyum agar perempuan di depannya tidak merasa terlalu cepat di tolak, “Um ..., saya bicarakan sama suami dan anak-anak saya dulu, ya. Sebentar ....” bangkit berdiri dan beranjak dari ruang tamu.
Malam begini, anggota keluarga Bimantara biasanya berkumpul di ruang tengah. Meski melakukan kegiatan masing-masing; pastinya mereka ada di sana. Rosa buru-buru menghampiri sang suami yang sedang menonton televisi.
“Pa ..., ada yang mau jadi babysitter untuk Bian,” ujar Rosa memberitahu.
Adnan yang sedang mengetik di laptop mendongak, “Loh, bukannya bagus, Ma? Langsung ada yang datang ke sini.”
“Aku nggak masukin alamat rumah ini di iklan.”
Kalimat si bungsu membuat anggota yang lain saling pandang bertatapan–kecuali si gembul yang tidak peduli dan hanya fokus memencet-mencet mainan karetnya.
Mereka diam beberapa saat hingga semuanya bergegas meninggalkan ruang tengah menuju ruang tamu. Di sana sosok perempuan berkuncir satu dan berpakaian sederhana duduk di salah satu sofa. Menunduk sambil menautkan ke sepuluh jarinya. Agam berdeham membuat gadis itu mengangkat kepala dan melihat seluruh anggota Bimantara berdiri di dekatnya.
Memandangi mereka satu-persatu hingga sorotnya terhenti sewaktu bertatapan dengan si bungsu. Gadis ini cepat-cepat mengalihkan perhatian.
Sang Kepala keluarga diikuti istri serta anak-anaknya menempati semua sofa ruang tamu. Menatap perempuan yang datang ke rumah mereka mengatakan ingin menjadi babysitter.
“Bisa perkenalkan diri kamu?” sang Tuan rumah–Agam–angkat bicara.
Si gadis berkuncir satu mengangguk, “Saya Rabia Anjasari. Sembilan belas tahun. Lulus SMA tahun lalu. Saya punya pengalaman mengasuh bayi.”
Agam mengangguk. Masih sangat muda. Lulus tahun lalu pula. Mestinya bisa mencari pekerjaan lain dibanding menjadi babysitter atau pengasuh. Hm ....
“Gimana kamu tahu kalau kami yang buat iklan mencari babysitter?” Adrian bertanya. Merasa ganjil terhadap perempuan di depannya. Darimana dia tahu rumah ini? Dia sama sekali tidak mencantumkan identitas apapun tentang Bimantara.
Perempuan bernama Rabia ini tidak mau memandang ke arah Adrian. Dia sedikit menunduk dan menjawab pertanyaan itu, “Ma-maaf. Saya nggak sengaja dengar waktu bantu bawain barang-barang di depan toko.”
“Toko? Toko apa?”
“Saya nggak tahu pastinya, tapi nama tokonya Rosa Galery.” Jelas Bia, tetap tak mengarahkan pandangannya pada si bungsu yang mencecar pertanyaan.
Rosa tersentak. Gerak-gerik sang Nyonya tertangkap mata oleh Agam dan Adnan. Sontak saja si sulung mendelik pada mamanya. Nah, sekarang mereka tahu siapa yang membocorkan identitas–mereka yang mencari babysitter. Adrian sendiri menghela ketika nama galeri sang Mama disebut. Berarti Rosa dan Bia secara tak sengaja bertemu lalu seakan diajak kemari untuk bekerja.
“Ya udah. Tapi, apa kamu yakin bisa jadi babysitter? Kamu masih muda, pasti bisa cari pekerjaan lain yang lebih pantas.” Usul Rosa. Rasanya tidak tega mengijinkan si gadis muda menjadi pengasuh bayi. Tidak elit sama sekali.
Kepala yang rambutnya diikat satu makin menunduk, “Saya ... semua dokumen-dokumen saya hilang karena di rampok. Saya dari desa, kalau balik lagi ... ma-maaf, kalau Tuan dan Nyonya terima saya, saya bersedia nggak dibayar. Tapi, ijinin saya tinggal di sini. Saya nggak punya tempat tinggal.”
Rosa dan Agam saling berpandangan. Merasa iba pada perempuan di hadapan mereka. Sang Nyonya Bimantara mengalihkan tatapan pada kedua putranya. Berbicara dari ekspresi mereka. Adnan setuju dan tidak merasa keberatan, sedang Adrian tampak tak yakin.
“Rabia, begini ... kalaupun kami setuju, kamu harus bisa ambil hati Bian,” kata sang Nyonya lalu memposisikan si bayi di pangkuannya menyebabkan mainan karet yang sejak tadi menjadi fokus si gembul jatuh, “Dia yang nentuin apa kamu bisa jadi pengasuhnya.
“Saya ngerti, Bu.” Balas Bia pasrah.
“Nah, coba kamu panggil,” pinta Rosa.
Yah, meskipun si bayi tidak rewel dan mau saja digendong orang lain, tapi belum tentu mau begitu saia menerima orang baru di sisinya. Apalagi Rabia akan hampir dua puluh empat jam berada di dekat Bian. Bisa jadi bayi ini mulai rewel dan menolak. Tidak mau berdekatan dengan pengasuhnya. Karena Adrian sewaktu kecil juga begitu. Suka dengan siapa saja yang menggendongnya, namun menolak tiap pengasuh yang bertugas menjaganya. Alhasil Rosa tak bisa lepas mengawasi si bungsu.
Hm, apa sifat Bian akan seperti Adrian? Buah kan jatub tidak jauh dari pohonnya.
Akhirnya kepala Bia terangkat, memandang bayi di pangkuan Rosa–yang terus melihat ke bawah dimana mainannya jatuh–dengan pandangan rindu. Tanpa diketahui siapapun, bibir gadis ini memoles senyum tipis. Ujung bibirnya naik sedikit. Dia mengangguk atas permintaan sang Nyonya, “Bian ....”
Bayi yang tengah menunduk itu menengadah saat merasa dipanggil. Irisnya yang berbinar bertemu sorot teduh dari perempuan di depan. Abian yang memang sedang tak terlalu aktif tiba-tiba tertawa. Tangannya memanjang seakan ingin menggapai Bia bersamaan dengan tubuhnya terdorong ke depan.
“Ah! Mm! Mm! Mmm~!” si gembul mengeram. Memaksa tubuhnya maju. Ingin segera meraih orang yang ada di depannya.
Mau tak mau Rosa bangkit lalu menyerahkan Bian pada Bia. Bayi itu kegirangan, melompat-lompat di dekapan si perempuan berkuncir satu.
“Aah!” kedua tangan kecil si gembul menepuk pipi Bia, senyum tak pudar dari wajahnya. “Aaah! Mm! Mm-mm-mah! Mah!” dia terus berceloteh dengan bahasa sendiri.
Melihat itu ... tampaknya Bian menerima si perempuan yang akan menjadi pengasuhnya. Para Bimantara lain juga yang selama beberapa hari ini melihat si gembul tidak tahu jika Bian bisa selincah dan seceria itu bersama seseorang. Dia kelihatan sangat menyukai perempuan bernama Rabia tersebut.
Kamu kangen, ya? Sama. Mama juga kangen banget sama Abi. Retina coklat milik Bia berbayang. Buliran bening menumpuk di mata. Dia pengin nangis!
***