Bab 1

Tok... Tok... Tok...

“Nona!” panggil wanita paruh baya sembari mengetuk pintu kamar majikannya.

“Iya tunggu sebentar, bi!” sahut si pemilik kamar dari dalam kamarnya. Mendengar sahutan dari majikannya, wanita paruh baya tadi berhenti mengetuk pintu.

Ceklek [Suara pintu terbuka]

“Ada apa, bi?” tanya seorang gadis yang baru saja membuka pintu kamar. Gadis itu majikan dari wanita paruh baya tadi.

“Tuan meminta nona untuk datang ke ruang kerja. Kata tuan ada yang ingin di bicarakan dengan nona,” jawab wanita paruh baya itu.

“Baiklah, bibi bisa ke bawah duluan. Aku mau ke dalam dulu, mengambil tas kuliahku.” ucap gadis itu tersenyum manis.

“Baik nona,” wanita paruh baya itu mengerti dan bergegas pergi dari hadapan gadis muda tadi.

Seperginya wanita paruh baya yang merupakan pelayannya, gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Raut wajahnya berubah. Tidak terlihat lagi senyuman manis yang di perlihatkannya tadi. Hanya ada pancarkan kesedihan yang di perlihatkannya.

“Tidak apa-apa Sheere. Semuanya tidak akan berakhir hari ini,” gumam gadis itu menguatkan dirinya sendiri.

Sheeree Isabelle adalah namanya. Sangat cantik seperti wajahnya. Rambut cokelatnya, panjang bergelombang. Bulu matanya lentik. Alisnya hitam tipis. Pupil matanya cokelat, hampir senada dengan rambutnya. Hidungnya tidak terlalu mancung. Bibirnya mungil dan semerah Cerry. Giginya putih bersih.

Sheeree definisi dari gadis berwajah cantik dan manis. Di lengkapi dengan bentuk tubuhnya yang lumayan untuk gadis seusianya. Namun tubuhnya terkesan mungil sebab tidak terlalu tinggi. Apalagi di usianya yang sekitar sebulan lagi akan menginjak 19 tahun, ia tumbuh menjadi gadis yang sempurna.

Sudah cantik, manis, menggemaskan dan di tambah dengan kepintarannya di rata-rata, laki-laki mana yang tidak mengaguminya. Sheeree menjadi bunga baru di kampusnya, padahal ia baru saja masuk. Banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Dari para laki-laki seangkatan dengannya, sampai dengan para seniornya.

Bukan hanya fisiknya dan kepintarannya yang membuatnya menjadi bunga baru kampus, tapi juga sifatnya. Rata-rata para gadis yang menjadi bunga di kampus, memiliki sifat angkuh dan sombong. Berbanding balik dengan sifat Sheeree. Ia baik, ramah, lembut, ceria dan masih banyak lagi sifatnya yang membuat para laki-laki mengejarnya.

Bahkan saat ada orang yang jahat padanya, Sheeree tidak pernah marah. Seolah amarah itu tidak ada pada dalam dirinya. Ia hanya membalas dengan senyuman dan tidak mempermasalahkan hal itu. Bisa di bilang Sheeree akan bersikap cuek pada orang-orang yang menurutnya tidak perlu di lawan. Mengapa? Sebab itu hanya buang-buang waktu saja.

Daripada melawan orang-orang yang telah berbuat jahat padanya, Sheeree lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengejar cinta suaminya. Ya—satu hal yang belum di ketahui orang luar adalah kalau Sheeree sudah menikah. Oleh sebab itulah ia menolak para laki-laki yang mengejarnya. Cintanya terlalu besar untuk suaminya. Namun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Sehingga ia harus lebih berusaha agar cintanya di balas.

Bahkan pernikahan yang terjadi antara Sheeree dan suaminya hanya karena perjodohan masa kecil. Sebelum orang tua Sheeree dan kakek suaminya meninggal. Dari awal perjodohan mereka, Sheeree memang sudah mencintai suaminya. Sayangnya cinta itu hanya darinya dan tidak pernah di balas suaminya sampai saat ini.

Pernikahan mereka pun memang terjadi tetapi ada kontrak di dalamnya. Suaminya memberikan surat kontrak pernikahan pada Sheeree, tepat pada malam pertama mereka. Kontrak pernikahan itu berlaku selama satu tahun. Sheeree sempat merasa sedih di berikan surat kontrak itu, sebelum akhirnya menyetujuinya. Ia menyetujui dengan harapan bisa membuat suaminya membalas cintanya. Nyatanya sampai hari ini, di mana kontrak pernikahan mereka akan berakhir. Ia belum berhasil untuk mendapatkan cinta suaminya.

***

Dengan langkah yakin, Sheeree berjalan keluar dari kamarnya. Senyumannya kembali di perlihatkannya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menghadapi hari ini.

Sheeree mulai menuruni anak tangga yang menjadi penghubung lantai 1 dan 2 rumahnya. Ia terus menuruni satu-persatu anak tangga, sampai sudah berada di lantai 1. Kemudian Sheeree berjalan pergi menuju ruang kerja suaminya.

Tok... Tok... Tok...

“Mas!” panggil Sheeree ketika sudah berada tepat di depan pintu kerja suaminya.

“Masuklah!” suara bariton terdengar dari balik pintu. Siapa lagi pemilik suara itu, selain laki-laki yang berstatus suaminya.

Sheeree membuka pintu dan berjalan masuk, setelah mendapat ijin dari suaminya. Ia dapat melihat kalau suaminya itu tengah sibuk dengan setumpuk berkas kliennya.

“Hal apa yang ingin di bicarakan mas denganku?” tanya Sheeree lembut sembari duduk di sofa yang ada di ruang kerja suaminya.

“Kamu tidak lupa kan kalau hari ini kontrak pernikahan kita berakhir?” tanya suaminya balik tanpa menatap ke arah Sheeree.

“Aku tidak lupa, mas!” jawab Sheeree tersenyum menatap suaminya.

Laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu, tampak memesona dengan kacamata bertengger di matanya. Apalagi saat sibuk dengan setumpuk berkas seperti sekarang.

“Baguslah. Setidaknya saya tidak harus mengingatkanmu lagi,” ucap laki-laki dewasa itu datar.

Arvid Philibert nama suami Sheeree. Paras tampan bak pangeran di milikinya. Rambut hitamnya pendek berponi. Hidungnya mancung. Pupil matanya indah dengan warna cokelat muda. Alisnya hitam sedikit tebal. Bibirnya terbilang seksi untuk para laki-laki. Giginya putih bersih. Tidak hanya wajahnya yang bak pangeran, bentuk tubuhnya pun sangat atletis. Tinggi, tegap dan berotot karena ia rutin berolahraga.

Di usianya yang menginjak 25 tahun, Arvid sukses sebagai seorang pengacara. Sudah banyak kasus yang di menangkannya. Meski tidak jarang juga ada beberapa kasus yang gagal untuk di menangkannya. Namanya dan semua pencapaiannya sudah terkenal di negara Swiss. Banyak yang mengaguminya karena semua pencapaiannya di usianya sekarang.

Di tambah lagi, pengacara bukanlah profesi satu-satunya Arvid. Ia juga berprofesi sebagai Dekan di Universitas, tempat Sheeree berkuliah. Dengan kepintaran yang di milikinya, Arvid di kenal sebagai Dekan pintar. Kekayaannya sebagai pengacara dan Dekan tentu sangat banyak. Menjadikannya sebagai laki-laki muda kaya raya.

Sosok Arvid di gilai banyak gadis atau perempuan. Siapa yang tidak mau dengannya? Seorang laki-laki tampan mempesona dan luar biasa sepertinya. Sudah tampan, memiliki banyak pencapaian, menjalankan dua profesi sekaligus, kaya dan pintar. Para gadis atau perempuan pastinya tidak akan melewatkannya sebagai laki-laki incaran. Namun tidak mudah untuk itu.

Mengapa?

Arvid memiliki cuek dan datar, di sisi sifat arogannya. Sulit untuk para gadis atau perempuan untuk mendekatinya. Sehingga ia masih sendiri di usianya yang ke 25 tahun. Pernah sekali Arvid dekat dengan seorang perempuan tapi berakhir menjadi sadboy. Di karenakan perempuan itu ternyata mencintai orang lain dan telah menikah.

Sejak itu Arvid tidak pernah terdengar dekat lagi dengan seorang gadis atau pun perempuan. Bukan karena sakit hati tapi memang ia merasa kecewa. Rasa kecewa itu sudah hilang seiring berjalannya waktu. Meski begitu, Arvid juga terpaksa menerima perjodohannya dengan Sheeree. Ia tidak mencintainya sama sekali.

Arvid sudah berusaha mencintai Sheeree sebelum pernikahan mereka terjadi. Akan tetapi ia tidak bisa. Oleh sebab itulah surat kontrak pernikahan selama satu tahun di berikannya pada Sheeree. Setelah waktu satu tahun itu habis, pernikahan mereka berakhir sesuai dengan isi kontrak.

Bab 2

“Heeum tapi ada satu hal yang ingin ku bicarakan juga dengan mas,” deham Sheeree. Tangannya mengetuk-ngetuk meja mini malis di depannya.

“Apa?” tanya Arvid singkat.

“Kesepakatan—aku ingin membuat kesepakatan dengan mas,” jawaban Sheeree spontan membuat Arvid berhenti membaca berkas. Matanya beralih menatap ke arah gadis yang sudah satu tahun di nikahinya.

“Kesepakatan?” beo Arvid mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?”

“Iya kesepakatan. Hari ini kontrak pernikahan kita berakhir tapi aku ingin membuat kesepakatan baru. Beri tambahan waktu selama 1 bulan untukku lebih berusaha mendapatkan cinta mas. Jika selama 1 bulan itu, aku tetap gagal. Aku sendiri yang akan menandatangani surat perceraian dan bercerai tanpa meminta harta. Aku juga akan bertanggung jawab untuk memberitahukan pada keluarga besar mas tentang alasan kita bercerai karena tidak cocok. Bagaimana menurut mas kesepakatan ini?” jelas Sheeree lembut seperti biasanya.

Sheeree sudah memikirkan kesepakatan itu sebelumnya dan sangat berharap Arvid mau menyetujuinya. Ia tidak meminta lebih. Hanya persetujuan Arvid yang di mintanya.

“Kamu pikir saya mau menyetujuinya?”tanya Arvid datar. Matanya menatap tajam ke arah Sheeree.

“Yeah aku pikir memang begitu. Mas merupakan sosok yang selalu berpikir dengan logika. Jadi ku rasa mas tidak akan mengabaikan kesepakatan yang saling menguntungkan ini,” ucap Sheeree tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan tajam Arvid.

“Hmmm baiklah,” Arvid menganggukkan samar kepalanya.

“Mas setuju?” tanya Sheeree memastikan arti anggukan Arvid barusan.

“Ingat hanya satu bulan saja, tidak lebih!” dengan ucapannya ini, berarti Arvid setuju. Sheeree bisa bernafas lega dan tentu merasa senang mendengarnya. “Saya setuju dengan kesepakatan ini bukan karena ucapanmu tadi. Anggap saja ini sebagai kompensasi untukmu,”

“Kompensasi?”beo Sheeree tidak mengerti. Kompensasi apa yang di maksudkan Arvid. Sampai suaminya itu mau menyetujui kesepakatan yang di ajukannya.

“Kompensasi untukmu yang sudah mau berakting dengan saya. Sebagai suami-istri yang saling mencintai,”ucapan Arvid ini membuat Sheeree tersenyum kecut mendengarnya.

Selama ini memang ia dan Arvid selalu berakting di hadapan keluarga besar suaminya itu. Mereka berdua berakting layaknya saling suami istri. Padahal hanya ia yang benar-benar mencintai, tidak dengan Arvid.

Sheeree selalu berharap satu hal. Bisakah mereka berdua benar-benar saling mencintai, bukan cuma akting semata?

“Mas sendiri sudah tahu. Aku benar-benar mencintaimu, bukan berakting. Em tapi kalau mas menganggap seperti itu, juga bukan masalah. Setidaknya kesepakatanku di setujui mas,” balas Sheeree masih dengan mengetuk-ngetuk meja mini malis di depannya.

“Kesepakatanmu sudah saya sepakati. Lalu sekarang apa lagi yang perlu kita bicarakan?” Arvid bertanya seraya kembali fokus membaca berkas di tangannya.

Yah bagaimana pun Arvid sudah tahu bahwa Sheeree mencintainya tapi hatinya tidak bisa di paksakan. Ia tidak bisa membalas cinta Sheeree dan tidak ingin menyakitinya terlalu jauh. Makanya ia membuat dinding penghalang untuk mereka berdua dengan kontrak pernikahan.

“Masih ada yang perlu kita bicarakan, mas!” jawab Sheeree.

“Katakan!” seru Arvid singkat.

“Kesepakatan ini akan di mulai dari besok. Selama kesepakatan ini berlangsung, aku mau mas menuruti semua keinginanku. Apa pun itu, mas tidak boleh menolaknya sama sekali!” ucap Sheeree tanpa ragu. Ia memang sudah memikirkan beberapa hal yang mungkin bisa membuatnya berhasil mendapatkan cinta Arvid.

“Salah satunya?”

“Aku ingin memeluk dan di peluk mas,” dengan santainya Sheeree mengucapkan itu.

Selama ini memang tidak pernah sekali pun merasa di peluk oleh Arvid. Kalau pun ada, paling tidak benar-benar memeluk atau pun di peluk. Mengapa? Hal ini di karenakan Arvid selalu berusaha menjaga jarak darinya.

“Hmmm tidak masalah,” deham Arvid langsung menyetujuinya.

“Mas tidak keberatan?” tanya Sheeree tersenyum lebar.

“Hanya seperti itu tidak masalah. Asal tidak tidur bersama,” tukas Arvid tanpa berhenti membaca berkas di tangannya. Seolah berkas lebih nyaman untuk di lihat, daripada Sheeree.

“Terima kasih, mas. Aku jamin semua yang ku inginkan hal biasa saja. Tidak mengarah ke hal yang tidak di inginkan mas,” ungkap Sheeree lembut.

“Itu bagus,” singkat Arvid.

“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu mas lagi. Aku pergi kuliah dulu,” Sheeree beranjak berdiri dari sofa yang di dudukinya.

“Jangan lupa sarapan, mas!” lanjutnya

Selama ini Sheeree tidak pernah sarapan atau makan bersama Arvid. Padahal mereka berdua tinggal di satu rumah yang sama. Bukankah itu terdengar konyol?

“Hmmm,” Arvid berdehem ringan membalas ucapan Sheeree.

Sheeree keluar dari ruang kerja Arvid, sesudah berpamitan. Ia berjalan dengan perasaan bahagia. Setidaknya masih ada waktu 1 bulan untuknya berjuang lagi mendapatkan cinta Arvid. Walau pun nantinya ia gagal, tidak akan di sesalinya.

“Non sarapan dulu!” seru wanita paruh baya yang tadi datang ke kamarnya. Saat ini ia menghampiri Sheeree.

“Aku makan di kampus saja, bi Ana! Takut telat,” Sheeree menolak secara halus.

Wanita paruh baya itu bernama Damiana. Di panggil Bi Ana. Sudah bekerja bertahun-tahun di rumah Arvid. Kerjanya pun dari pagi sampai sore hari saja. Setelah pekerjaannya selesai, Bi Ana akan pulang ke rumahnya sendiri.

“Begitu ya non? Bagaimana kalau bibi buatkan bekal untuk nona?” tawar bi Ana pada istri dari tuannya itu.

“Boleh deh, bi! Maaf kalau merepotkan,” Sheeree merasa tidak enak hati kalau menolak tawaran dari bi Ana. Wanita paruh baya itu sudah datang pagi-pagi sekali ke rumah untuk membuatkan sarapan.

“Tidak apa-apa. Nona tunggu sebentar, bibi buatkan bekal!” seru bi Ana yang langsung di balas anggukan pelan dari Sheeree.

Bi Ana segera pergi dari hadapan Sheeree dan membuatkan bekal di dapur. Beruntungnya sarapan sudah siap. Sehingga bi Ana hanya perlu memasukkan beberapa menu sarapan itu ke dalam kotak bekal Sheeree. Tidak lupa pula beberapa potongan buah segar di masukkan bi Ana. Sheeree memang suka menjadikan potongan buah segar sebagai penutup makannya.

Berselang 5 menit, bi Ana sudah kembali ke hadapan Sheeree. Di tangannya membawa kotak bekal. “Ini bekalnya, non!”

“Terima kasih, bi! Aku pergi kuliah dulu,” Sheeree menerima kotak bekal itu seraya berpamitan.

“Hati-hati non!”

Sheeree mengangguk samar, sebelum pergi dari hadapan bi Ana. Ia pergi menuju keluar rumah. Di mana mobil Lamborghini biru miliknya sudah terdapat di sana.

“Kuncinya non,” seorang laki-laki paruh baya bergegas menghampiri Sheeree dan memberikan kunci mobil padanya.

Sheeree memang pergi kuliah dengan mengemudikan mobil sendiri. Sama seperti pada saat ia masih duduk di SMA. Keluarganya cukup kaya sehingga untuk membelikan Sheeree sebuah mobil, bukanlah hal yang sulit.

“Terima kasih, pak Diky!” Sheeree menerima kunci mobilnya dan tidak lupa berterima kasih pada pak Diky, sopir pribadi dari Arvid. Baru bekerja sekitar 2 tahun yang lalu.

“Sama-sama non,” pak Diky menunduk hormat seperti biasanya.

“Aku pergi dulu, pak Diky!” seru Sheeree sembari membuka pintu mobilnya dan meletakkan tas beserta kotak bekalnya di kursi sebelah kursi pengemudi.

“Hati-hati di jalan, non!”

Sheeree tersenyum tipis, bersamaan dengan anggukan pelan kepalanya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam mobilnya. Pintu mobil kembali tertutup secara otomatis. Sebelum melajukan mobil, tidak lupa Sheeree memasang sabuk pengamannya. Kemudian barulah ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menjauhi kawasan rumah.

Bab 3

||Universitas St Gallen||

Sheeree sudah sampai di Universitas SG sekitar 30 menit. Ia bergegas turun dari mobil sembari menenteng tas dan kotak bekalnya. Baru saja turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh seorang gadis yang tengah berkacak pinggang.

“Lo hampir terlambat, Sheeree!” celetuk seorang gadis berpakaian cukup seksi.

“Hampir saja kan. Bukan sudah terlambat,” cetus Sheeree santai. “Lagian kok tumben seorang Lea Veronique udah tiba duluan. Biasanya selalu terlambat,”

Lea Veronique sahabat dari Sheeree. Wajahnya juga cantik. Alisnya hitam tebal, bulu matanya melentik. Pupil matanya sedikit cokelat-kehitaman. Hidungnya mancung. Bibirnya merah seksi. Giginya putih bersih. Rambutnya yang hitam lurus, di ikat lumayan tinggi. Memperlihatkan jenjang lehernya yang putih. Belum lagi pakaiannya yang seksi, dapat memperlihatkan bentuk body goals miliknya. Sungguh menyegarkan mata para laki-laki yang melihatnya.

Tubuhnya lebih tinggi daripada Sheeree tapi soal kepintaran, ia lebih rendah. Bukan berarti Lea bodoh tapi memang ia berada di bawah Sheeree kalau soal pelajaran. Sifatnya pun berbanding balik dengan Sheeree. Lea lebih dominan bar-bar, emosional, suka melawan, blak-blakan dan centil. Namun di balik itu, ia sosok gadis yang sangat baik. Penyayang terhadap semua orang terdekatnya, termasuk Sheeree.

Lea juga menjadi bunga baru kampus. Pesonanya tidak kalah dari Sheeree. Banyak juga laki-laki yang mengejarnya. Bahkan ada beberapa laki-laki yang sudah pernah berpacaran dengannya. Waktu pacarannya pun terbilang singkat, hanya dalam 1 minggu. Setelahnya Lea sendirilah memutusi laki-laki yang telah menjadi pacarnya selama seminggu. Hal itu membuat Lea di cap sebagai playgirl tapi tidak membuat para laki-laki berhenti mengejarnya. Lea juga tidak masalah dengan sebutan itu. Bodo amat baginya!

“Emangnya kenapa kalau gue tiba duluan dan gak terlambat? Sekali-kali gue kayak gini. Biar gak lo doang yang di sebut bunga kampus teladan!” cecar Lea jutek.

“Iya deh terserah lo aja. Mending kita masuk ke kelas sekarang! Sebelum terlambat dan dapat hukuman,” ajak Sheeree. Tangannya langsung bergelayut di lengan Lea.

Sheeree dan Lea selalu mengambil kelas jurusan yang sama, yaitu Administrasi bisnis. Jurusan itu sudah menjadi kesepakatan mereka berdua.

“Ck kita mungkin saja terlambat dan di hukum, kalau lo datangnya telat 10 menit. Gue gak mau di hukum gara-gara lo. Nanti hilang dong citra gue sebagai bunga kampus tanpa kasus,” Lea mengomel sembari mulai berjalan bersama Sheeree.

“Kan gue gak terlambat sekarang. Jadi berhenti mengomelnya, ok!” pinta Sheeree menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah biasa baginya mendengar Lea seperti itu.

“Hmmm baiklah gue bakal berhenti tapi ada satu syarat. Lo harus mau temanin gue berbelanja pulang kuliah. Kalau lo nolak, gue akan terus lanjut mengomel!” cetus Lea memasang raut wajah jutek seperti nada bicaranya.

“Oke gue temanin. Udah puas kan?” sahut Sheeree terpaksa.

Memang berbelanja bukanlah hobinya tapi mau bagaimana? Sahabatnya ini sangat keras kepala. Sheeree harus mau menuruti, kalau ingin semuanya cepat berakhir.

“Nah gitu dong. Gue puas jadinya. Nanti kita berbelanja di Mall yang baru di buka,” raut wajah Lea berubah menjadi senang. Sudut bibir seksinya terangkat. Memperlihatkan senyuman puasnya. Nada bicaranya pun tidak lagi jutek seperti tadi.

“Iya terserah lo aja!” seru Sheeree pasrah.

Sheeree dan Lea terus berjalan menuju kelas mereka. Selama berjalan, tidak henti-hentinya Lea mengoceh dan Sheeree hanya diam mendengarkan. Tidak jarang juga mereka membalas sapaan para laki-laki. Balasan yang mereka berdua berikan membuat para laki-laki terpesona. Contohnya seperti sekarang.

“Hai Sheeree dan Lea!” sapa laki-laki berkaos putih di lapisi jaket kulit berwarna hitam.

“Hai!” balas Sheeree singkat, di sertai senyuman manis.

“Hai boys! Kamu sangat tampan, sempurna dan aku suka,” seperti biasanya, Lea membalas sapaan para laki-laki dengan nada centilnya. Bahkan ia juga mengedip manja ke arahnya.

Mendapat balasan seperti itu, laki-laki berkaos putih tadi memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang karena pesona Sheeree dan Lea. Saking sibuk memegang dadanya, ia bahkan tidak sadar kalau kedua gadis itu sudah berlalu melewatinya.

||Di dalam kelas||

“Gue heran deh,” ucap Sheeree ketika sudah sampai ke kelas jurusannya. Ia duduk di kursi miliknya.

“Lo heran kenapa?” tanya Lea penasaran, bersamaan mendudukkan diri di kursi sebelah Sheeree.

“Kenapa para laki-laki bisa suka cewek secentil lo? Terus mau aja gitu di jadi in pacar selama seminggu. Padahal masih banyak cewek cantik dan baik di sini,” celetuk Sheeree membuat Lea tertawa.

“Hahaha gue kira lo heran apaan. Para laki-laki suka sama gue itu udah wajarlah. Secara kan gue paket lengkap. Itu udah Valid, no debat!” lontar Lea di sela tawanya. Memang inilah dirinya. Selalu percaya diri dalam segala hal.

“Lo terlalu percaya diri,” sindir Sheeree terkekeh.

“Gue percaya diri karena ini memang kenyataannya,” seloroh Lea dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

“Dasar!” Sheeree menggeleng-gelengkan kepalanya. Sahabatnya itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Namun Sheeree salut terhadap sahabatnya itu.

Kemudian tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi antara Sheeree dan Lea karena bel sudah berbunyi. Para mahasiswa dan mahasiswi yang satu ruang kelas dengan mereka berdua, juga sudah duduk di kursi masing-masing. Tidak berapa lama segera, Dosen mata kuliah pertama datang dan segera pembelajaran.

***

“Yuk ke kantin!” ajak Lea setelah mata kuliah pertama selesai dan sekarang jam istirahat. Kelas juga sudah kosong karena baik mahasiswa atau pun mahasiswi sudah berhamburan menuju kantin Universitas.

“Oke,” singkat Sheeree beranjak dari duduknya. Tidak lupa pula kotak bekal makanan tadi di bawanya.

“Tumben banget lo bawa bekal ke sekolahan. Tadi gak sarapan di rumah ya?” selidik Lea dengan bersedekap dada.

“Gue emang gak sarapan, takut terlambat. Makanya bi Ana buatin gue bekal ini,” Sheeree menjawab jujur.

“Jadi gak sarapan sama suami lo?” tanya Lea sedikit keras, spontan Sheeree memicingkan matanya ke arahnya. “Ups sorry!”

“Untung kelas sudah sepi. Kalau sampai ada yang mendengar, lo harus tanggung jawab!” titah Sheeree

“Iya sorry deh,” cicit Lea menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.

“Gue maafin. Yuk ke kantin sekarang!” ajak Sheeree tidak ingin mempermasalahkan hal itu tadi lagi.

“Yuk!”sahut Lea

Sheeree dan Lea segera berjalan menuju kantin Universitas. Seperti biasanya, mereka berdua akan berjalan sambil berbicara. Berbagai macam pembicaraan mereka bahas. Sampai akhirnya mencapai kantin Universitas.

“Lo mau apa? Biar gue aja mesan,” tanya Sheeree pada Lea yang tengah sibuk mencari meja kosong untuk mereka berdua.

“Seperti biasa,” jawab Lea menatap sekilas ke arah Sheeree.

“Oke,” balas Sheeree singkat dan kemudian pergi menuju tempat memesan makanan atau minuman di kantin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED