Bab 1

Seorang gadis cantik menatap nanar ke arah televisi di depannya. Acara di salah satu stasiun televisi swasta itu sedang menyiarkan pernikahan Azlan Bagaskara dan pengantin perempuannya bernama Deswita Maharani. Kening gadis itu terlipat dalam. Bagaimana mungkin namanya disebut dengan lantang oleh sang pembawa acara, tapi tubuhnya berada di ruangan ini. Gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan situasinya saat ini.

Bahkan namanya terpampang jelas di layar televisi. Membuat sang pemilik nama merasa bingung juga marah. Nama dan identitasnya digunakan orang lain untuk menikah dengan azlan.

Adegan selanjutnya membuat kedua bola matanya melotot. Seorang pengantin perempuan berjalan dengan anggun memasuki altar dan janji suci pernikahan itu benar-benar terucap sempurna. Sayangnya, pengantin wanita tidak membuka penutup wajah. Dia hanya melambaikan tangan usai prosesi sakral itu. 

Gadis cantik bernama Deswita Maharani itu mencubit lengannya sendiri. Ia meringis kesakitan. Tandanya ia belum mati. Lalu kenapa ia bisa berada di tempat ini. Sejenak ingatannya mulai kembali.

Rani, gadis cantik dan polos itu terperanjat saat bangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu. Pandangannya menatap setiap sudut ruangan yang asing, ranjang yang asing juga bau parfum asing yang tercium di hidungnya. Seperti aroma seorang pria. Namun, Rani tidak terlalu fokus memikirkan itu karena tiba-tiba dia mendengar suara samar-samar. Ternyata suara itu berasal dari televisi yang terpasang di dinding ruangan.

Rani tidak langsung menyadari apa yang terjadi. Namun, acara televisi itu menayangkan acara pernikahan Azlan Bagaskara, calon suaminya. Ya, seharusnya hari ini adalah hari bahagia untuknya dan Azlan. Mereka sudah bersama selama lima tahun dan hari ini adalah hari pernikahan mereka. Namun siapa sangka, Rani terdampar di tempat ini. Terkunci di dalam kamar asing dengan segala kebingungan yang mulai berdatangan menghantam jiwanya.

Aku berada di mana? Batin Rani bertanya-tanya. Air matanya menetes ketika mengingat adegan sang kekasih hati mengucap janji suci, menikahi namanya tetapi bukan dirinya. Hanya nama, sementara tubuh yang berada di pesta pernikahan itu adalah orang lain. Rani tentu saja merasa kecewa juga sakit hati. Ternyata cintanya berbalas pengkhianatan sebesar ini. Bagaimana dia bisa menghadapi dunia, jika dia akan menjadi asing dengan identitas dirinya sendiri? Rani tentu saja sangat merasa dirugikan atas kejadian ini. 

Suara pintu yang terbuka membuat Rani tersadar dari lamunan. Ia segera mengalihkan pandangan.  Entah mengapa gadis itu seakan sudah rela dengan gagalnya impian menikah dengan Azlan. Dia lebih penasaran kenapa tubuhnya berada di sini. Padahal jelas-jelas tadi malam dia tidur di apartemen miliknya. 

"Bagaimana dengan pertunjukannya? Apa kamu menangis ?"

Suara bariton itu langsung mempertanyakan tentang tayangan yang baru saja ditontonnya. 

Rani mendengus kesal ketika mendapati Ron Ibrahim. Sahabat dekat Azlan dan juga dirinya masuk dengan santai tanpa rasa bersalah. Kali ini gadis itu menatap tajam pada Ron. Pikirannya penuh dengan prasangka buruk. 

"Apa yang kamu lakukan Ron ? Ini adalah hari pernikahanku. Kenapa kamu tega menyekap aku di tempat ini ?" Suara Rani terdengar bergetar. Rasa sakit yang sedari tadi dia abaikan kini perlahan menyesaki hatinya. Mengirim sinyal pada netra untuk meloloskan butiran bening itu meluncur bebas di kedua belah pipi cantiknya.

Ron mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Pria itu tidak terganggu dengan pertanyaan Rani.

"Aku pikir kamu akan meraung-raung dan mengumpat kasar. Nyatanya kamu masih bisa bertanya dengan tenang kepadaku," ejek Ron. Pria itu masuk dengan tenang, matanya tak lepas memindai Rani. "Aku hanya disuruh untuk menjagamu," sambungnya.

Rani terdiam. Otaknya berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini hubungannya dengan Azlan baik-baik saja. Bahkan orang tua Azlan sangat antusias menyambut pernikahan mereka. Lalu, kenapa kini Azlan menikah dengan orang lain? Sungguh dia tidak habis pikir dengan kejadian hari ini. Apakah kedua orang tua Azlan mendapat tekanan dari orang lain? Ataukah memang dia diculik oleh Ron, sehingga Azlan mencari pengantin pengganti. Namun, kenapa identitasnya sebagai pengantin perempuan tetap digunakan oleh si pengantin perempuan itu? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di kepalanya.

"Kamu tentu sangat bingung dengan kejadian hari ini bukan? Aku juga sama, aku sangat bingung dengan kejadian hari ini. Aku disuruh Azlan untuk menjagamu."

"Jangan bercanda, Ron!"

"Ini, bacalah surat kontrak ini. Maka kamu akan mengerti."

Lagi-lagi Rani terkejut. Dia butuh penjelasan, bukan surat kontrak. Dia masih bekerja dan punya penghasilan yang lumayan cukup untuk hidupnya. Ia tidak butuh surat kontrak. 

Rani menyusut air matanya dengan kasar meskipun tetap saja butiran kristal itu berduyun-duyun datang dan membasahi pipi. 

"Aku tidak sedang mengajukan proyek kerjasama dengan siapapun dan perusahaan manapun. Jangan bercanda Ron, aku butuh jawaban tentang pernikahanku ini," ucap Rani ketus. Gadis  itu berharap ini adalah prank untuknya. 

"Itu dari keluarga Bagaskara," jawab Ron. Pria itu bangkit dari duduknya. Raut wajahnya serius.

Rani menyambar map yang dipegang oleh Ron secepat kilat. dan membaca poin demi poin yang tertera di kertas dalam map tersebut. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Tangannya terkepal erat.

"Apa-apaan ini ? Brengsek!" Umpat Rani. Dirinya sungguh tidak menyangka akan terjebak dalam situasi rumit dan merugikannya itu. Ternyata Rani hanyalah pengantin bayangan. Bukan dia yang sebenarnya dinikahkan dengan Azlan. Dan dia harus menyetujui pengaturan keluarga Bagaskara atau akan diasingkan ke luar negeri.

"Jadi lima tahun kebersamaan kami adalah manipulasi?" tanya Rani pada dirinya sendiri. Perlahan ingatannya kembali mengulang saat pertama kali perkenalannya dengan Azlan. Ternyata dia baru menyadari berapa banyak alasan yang dipakai Azlan untuk tidak menemuinya bahkan ketika di akhir Minggu. Rani mengira itu disebabkan oleh kesibukan Azlan di perusahaan milik keluarganya. Ternyata dia bodoh. Azlan jelas menemui kekasih yang sesungguhnya. 

"Benar, dan kamu dalam kendali Bagaskara sekarang," sahut Ron datar. Pria itu tidak ingin terlalu lama membohongi gadis baik di depannya itu.

"Ceritakan padaku!" 

"Aku tidak berhak, sebaiknya kamu mencari tahu nanti setelah bertemu dengan Azlan. Bukankah orang-orang mengenalmu sebagai istri Azlan? Jadi sangat wajar jika di muka umum kalian bersama bukan?"

Rani mengepalkan tangannya. Semua masih membingungkan bagi otaknya yang pas-pasan. Bagaimana Azlan begitu pandai memainkan dua peran yang berbeda. Menjalin hubungan dengannya dan merencanakan pernikahan bersama. Selama ini Rani pikir semua tentang dirinya, tetapi tubuh gadis lain yang bersama pria itu. Apa arti dari lima tahun yang terjalin. 

Rani mengakui dirinya bukan dari keluarga kaya. Bahkan, saat pertama kali dirinya dikenalkan dengan keluarga Bagaskara dia tidak yakin akan direstui. Namun, sikap Adi Bagaskara dan Selin Bagaskara-istrinya sangat ramah. Hingga tepat lima tahun setelahnya yakni hari ini, semua kebohongan keluarga itu terkuak.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal, Ron? Mungkin aku bisa menerima dan menghindar atau memilih mundur." Rani menekuk wajah, menyadari posisinya saat ini.

"Aku tidak berhak."

"Sebagai seorang teman, seharusnya kamu memberitahu yang sebenarnya. Pantas saja wanita itu tidak membuka kain penutup mukanya. Dia bukan Deswita Maharani, dia adalah istri bayangan. Dia tidak akan dikenal oleh publik. Sebenarnya dialah yang palsu bukan aku."

Ron mendesah. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku menutupi semua ini darimu. Namun, aku yang seorang bawahan ini bisa apa? Kamu tahu aku hanya asistennya Azlan," ucap Ron lirih. Ron mengakui dirinya tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan kebenarannya pada Rani, sahabat sekaligus kekasih sahabatnya itu.

Rani menghela nafas, rasa sesak kembali datang menjalari hatinya yang tiba-tiba membeku. Sudah tidak ada lagi senyum ceria dan kehangatan yang terlihat dari wajah polos perempuan dua puluh tiga tahun itu. Yang tersisa hanya kebencian dan kemarahan. Ia akan membalas perlakuan keluarga kaya itu. Bagaimanapun caranya.

Rani menutup wajahnya, kali ini gelombang rasa sakit itu datang lebih besar menghantamnya. Gadis manis itu tergugu, menepuk-nepuk dadanya sendiri yang sesak. Dirinya merasa begitu bodoh menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak pernah mencintainya.

Ron membiarkan Rani menangis sepuasnya. Dia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rani. Sejenak ruangan itu hanya diisi tangisan Rani. Hingga sebuah pertanyaan sulit keluar dari bibir perempuan itu.

"Siapa perempuan itu, Ron ?"

Bab 2

Ron menggeleng. "Aku tidak tahu, Ran. Selama ini Azlan tidak pernah menceritakan tentang wanita lain di depanku. Aku juga tidak tahu kalau aku disuruh menjagamu di sini. Entah siapa yang telah membawamu ke sini."

Rani tertawa sumbang. "Mustahil. Kau adalah sahabat sekaligus asistennya. Tidak mungkin kamu tidak mengetahui tentang wanita itu, Ron.""

"Sumpah, Ran. Aku sama sekali tidak tahu."

"Tidak mungkin. Katakan dengan jujur kepadaku Ron. Aku akan memaafkanmu jika kamu berkata terus terang."

Ron menggeleng. Pria itu memang tidak mengetahui tentang pengantin wanita itu. Sial sekali memang. Menjadi asisten dan sahabat tapi tidak tahu apa-apa. Ada kekacauan dan dia yang harus membereskan semuanya.

Ron yakin, Azlan akan menyesali keputusan yang dibuatnya. Ron akan memastikan itu terjadi.

Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali bertindak diam-diam. Tidak ada pilihan lain, dia hanya bisa melindungi Rani semampu dirinya. 

"Ron, siapa wanita itu?" 

Pertanyaan Rani membuat Ron tersadar. Pandangan keduanya bertemu. 

Ron menggeleng sebagai jawabannya. Dirinya memang benar-benar tidak tahu siapa perempuan yang menjadi istri sahabatnya. Dia hanya tahu wanita itu bernama Angela. Siapa sebenarnya Angela dia tidak tahu. 

"Jangan membohongiku, Ron."

"Aku benar-benar tidak tahu, Ran. Jangan memaksaku untuk mengatakan apa yang tidak aku tahu."

"Kamu menyembunyikan semuanya bertahun-tahun dariku. Apa aku masih bisa percaya kepadamu?" tanya Rani sengit. Betapa saat ini Rani sangat membenci Ron dan Azlan yang sudah lancang mempermainkan hidupnya. Ada sakit yang begitu dalam, yang saat ini dia coba redam dan tutupi. Meskipun Rani berusaha keras menata hatinya, tetapi suaranya tetap tersendat-sendat bergantian dengan isakan kecil. 

"Aku kecewa kepadamu, Ron. Jika membunuh tidak dilarang oleh agama kita, maka kamu adalah orang pertama yang akan aku lenyapkan," ujarnya dengan nada datar. Kali ini Rani sudah menyerah kalah. Tidak ada lagi harapan untuk meminta penjelasan apapun pada Ron. Toh semuanya percuma, Ron lebih memilih setia pada Azlan.

Rani menguatkan hati. Dirinya terlanjur masuk lingkaran keluarga kaya yang menurutnya terlalu misterius. Banyak hal-hal di luar nalar yang mereka lakukan. Salah satunya adalah pernikahannya kali ini. Pernikahan yang dipalsukan. Dia mengutuk siapapun yang telah memperdayai-nya. Rani bersumpah akan membalas mereka.

"Terserah apa pendapatmu tentangku, sebaiknya kamu segera tandatangani surat kontrak itu. Waktuku tidak lama." Ron membalas ucapan Rani dengan dingin. Pria itu memilih melangkahkan kakinya keluar. Lelah hatinya berdebat dengan Rani. Selain itu, dia sedang berada di titik kebimbangan. Antara tetap menjalankan bagian perannya, atau malah memberontak sekuat yang dia bisa bersama Rani. Wanita cantik yang diam-diam sudah menempati sudut ruang kosong di hatinya.

"Tunggu! Apa untungnya bagiku?" tanya Rani. 

Ron berbalik. Sudut bibirnya terangkat.

"Bacalah point terakhir ! Jika kamu merasa keberatan, kamu bisa bertanya nanti setelah calon suami brengsekmu itu selesai bulan madu," jawab Ron datar.

Rani kembali memegang dadanya yang terasa nyeri. Bahkan rencana bulan madu dan tiket yang dibelinya pun digunakan wanita jalang itu. Rani mengerang marah. Sakit karena dikhianati itu tidak seberapa besar daripada direndahkan seperti ini. Dibuang dan dicampakkan tanpa penjelasan.

"Keluarkan aku dari sini, Ron !" pinta Rani kemudian.

"Maafkan aku, Ran. Aku benar-benar tidak bisa."

"Sepertinya kamu sudah melupakan persahabatan kita. Oh, ya aku paham sekarang. Aku hanyalah wanita miskin. Sementara Azlan, dia adalah orang kaya. Wajar kamu lebih memilih dia daripada aku." 

"Jangan sok tahu tentang pilihanku, Ran!"

"Sejak kapan berbohong menjadi hobimu, Ron?"

Ron terdiam. Dia tidak menjawab lagi pertanyaan Rani. Rani mulai menyadari bahwa selama ini tak banyak informasi tentang Ron yang dia ketahui. Meskipun Ron terbilang dekat dengannya. Bisa jadi Ron bersekongkol dengan Azlan. 

"Baiklah, sepertinya memang aku harus mencari tahu sendiri jawabannya. Terimakasih sudah pernah menerimaku sebagai sahabat. Mulai detik ini, aku memutuskan untuk tidak mengenalmu sama sekali."

"Terserah, tidak ada untungnya juga bagiku," sahut Ron dingin dan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Ron hanya tidak mau hatinya terus berdenyut nyeri setiap kali Rani menuduhnya ikut bersekongkol dengan Azlan. Andai saja Rani tahu apa yang dilakukan Ron untuk melindunginya. Ah, tapi itu percuma. 

Rani termenung sendiri sepeninggal mantan sahabatnya itu. Ya, mulai detik ini Ron adalah orang asing baginya setelah Azlan. Diraihnya map berisi surat kontrak. Banyak sekali point yang merugikan dirinya. Lebih tepatnya merampas kebebasannya. Di point terakhir Rani akan mendapatkan 5000 dollar jika mampu bertahan sampai dengan Azlan siap mengenalkan Angela sebagai istrinya.

"Aku melupakan sesuatu, ini ponselmu. Jangan menambahkan kontak siapapun ke dalamnya!"

Ron kembali masuk dan mengulurkan sebuah tas kanvas berukuran sedang pada Rani. Rani merebutnya kasar. Dia tadi sedikit terkejut ketika pria itu kembali masuk.

"Tenanglah, aku tidak akan berebut denganmu," ejek Ron sebelum tubuh pria itu hilang di balik pintu. Rani tak peduli dengan ejekan Ron. Dia hanya butuh penjelasan dari Azlan. Bukan yang lain.

 Rasa penasaran membuat Rani segera membuka tas itu. Benar isinya adalah sebuah ponsel keluaran terbaru. Sialnya, ketika diaktifkan hanya ada nomor milik Azlan. Tentu saja membuat wanita itu tersenyum miris. Dia seperti seorang simpanan saja. Semua serba dibatasi, semua serba diatur. Dia tidak lagi punya ruang untuk mengekspresikan perasaannya. Ah, Rani sangat membenci hal itu. Sebagai wanita muda yang energik, dia punya banyak sekali target yang ingin dicapai. Namun, semua hancur hanya dalam waktu semalam saja.

Dengan emosi yang memuncak, Rani segera menelpon Azlan. Namun, pria itu sama sekali tidak mengangkatnya. Rani semakin emosi dan kecewa. Membayangkan Azlan sedang mencumbu wanita lain membuatnya benar-benar meradang. Rasa-rasanya kematian Azlan tidak akan cukup untuk menebus rasa sakit hatinya yang begitu besar. 

Jelaskan kepadaku atau aku akan membongkar semuanya di internet!!

Sebuah pesan ancaman dia kirimkan kepada Azlan. Namun, pesan itupun hanya centang satu. Rani dibuat frustasi. Sudah jelas Azlan sedang pergi berbulan madu saat ini. 

Rani mengepalkan tangannya erat hingga kukunya melukai telapak tangan. Aku akan membalas penghinaan kalian suatu saat nanti, batin Rani penuh kebencian.

***

Sementara itu di sebuah kamar hotel di Bali, sepasang pengantin baru tampak kelelahan. Mereka kelelahan karena selesai acara tadi pagi di Jakarta mereka langsung terbang ke Bali untuk berbulan madu. Padatnya pekerjaan membuat dua sejoli itu mempercepat masa liburnya. 

"Bagaimana dengan wanita udik itu, Sayang?" Terdengar wanita seksi itu bertanya pada pria yang saat ini telah resmi menjadi suaminya. Lebih tepatnya mereka menikah palsu.

"Kenapa kau bertanya tentang dia?" Pria itu memicingkan mata keheranan.

"Hanya memastikan. Jangan sampai dia bunuh diri karena gagal menikah denganmu," sahutnya terkekeh. "Terimakasih sudah memberikan aku identitas yang hebat," lanjutnya lagi.

Pria yang ternyata adalah Azlan itu tersenyum sinis. "Jangan terlalu memikirkan wanita itu, aku pastikan dia tidak akan melarikan diri. Lagipula identitasnya hanyalah sebagai pegawai rendahan sedangkan kamu adalah seorang keturunan Parker."

Wanita seksi itu tersenyum kecil, ia kemudian mendekati Azlan dan mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Kita akan menikmati hari ini dengan sesuatu yang indah, Sayang."

"Tentu. Aku akan membuatmu mendesah sampai tidak bisa berjalan. Rencana kita berjalan dengan lancar."

"Kamu hebat, Sayang."

"Kamu juga, kamu berhasil mengendalikan dirimu bertahun-tahun."

Keduanya mulai bercumbu dengan mesra. Azlan dan wanita itu seakan tidak mengenal kata lelah. Azlan membiarkan ponselnya meraung-raung karena ia menebak itu pasti Rani. Perempuan bodoh itu. Ia tidak peduli. 

Acara panas itu berakhir saat sore hari. Wanitanya tertidur karena kelelahan sedang Azlan meraih ponselnya di nakas. Wajahnya menggelap ketika membaca pesan dari nomor baru.

Jelaskan kepadaku atau aku akan membongkar semuanya di media sosial !!

Bab 3

Azlan berjalan keluar menuju balkon kamar. Ia menghubungi Ron untuk memastikan kondisi Rani. Namun, hingga panggilan yang entah keberapa Ron tidak mengangkatnya. Azlan tentu saja sangat marah. Pria itu menghubungi Rani.

"Halo, akhirnya kamu menghubungi juga, Tuan Azlan Bagaskara."

Suara Rani terdengar tenang dan tegas. Tidak ada tanda-tanda wanita itu habis menangis atau terpuruk.

"Jangan melakukan tindakan bodoh, Ran!"

"Tergantung sikap Anda, Tuan. Anda-lah yang membuat saya bertindak seperti itu."

"Aku bisa jelaskan, Ran. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak mengkhianatimu. Ini semua serba mendadak, aku tidak bisa mengambil keputusan yang akan merugikan perusahaan."

"Ck, bagi keluarga Anda harta memang satu-satunya barang berharga. Tidak peduli jika harus mengorbankan perasaan orang lain. Saya tahu dan dengan sadar mundur dari percaturan nasib ini. Saya bukan pion untuk kalian.''

"Ran, kamu bicara apa, hah?"

"Saya sedang berbicara tentang seorang pecundang dari keluarga Bagaskara."

"Apa yang kamu inginkan, Deswita Maharani?"

"Temui saya secepatnya, atau saya akan membuat keluarga Bagaskara menjadi lelucon seluruh negeri! Bye!"

"Halo, Ran!"

Tut. 

Panggilan diputus sepihak. Azlan mengepalkan tangan erat. Terlihat rahangnya mengeras. Sial, seharusnya kau tidak berurusan dengan Rani.

***

"Dimana Rani ? Aku harus menemuinya sekarang."

Pria berwajah tampan dan mempunyai rahang tegas itu bertanya dengan mata yang berkilat marah. Bagaimana dia tidak marah, rencana bulan madunya harus gagal total gara-gara ancaman Rani. Yang seharusnya ia menghabiskan waktu selama satu minggu di Bali, ini hanya sehari semalam. Dia kembali terbang ke Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan yang dibuatnya.

"Dia tidak ada di sini, Az," jawab Ron.

"Aku menyuruhmu untuk menjaganya. Bagaimana dia bisa kabur, hah!" Wajah pria itu terlihat sangat marah. Matanya semakin tajam mengintimidasi sang sahabat. Ron seperti tidak mengenal Azlan lagi.

"Kau benar-benar tidak punya hati, Az. Kau tega mem-"

"Minggir ! Aku mau melihatnya." Azlan mendorong Ron agar menjauh dari pintu kamar yang digunakan untuk menyekap Rani. 

Brak!

Pintu langsung terbuka sempurna. Azlan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kamar. Namun, dia tidak menemukan Rani. Dengan wajah memerah Azlan segera keluar. Tatapan tajam bak mata elang itu mengarah pada Ron Ibrahim. Tersangka utama hilangnya Rani. Azlan tidak akan memberikan toleransi apapun pada Ron jika Rani benar-benar pergi dari tempat itu. Apalagi sampai terbukti bahwa Ron ikut andil dalam kaburnya Rani.

"Aku sudah bilang, Rani tidak ada di sini. Kau tidak percaya padaku," ucap Ron dengan tenang.Tanpa rasa bersalah Ron memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri. Tentu saja sebelum Azlan, si muka menyebalkan itu memuntahkan lahar panas amarahnya.

"Dimana dia?" Kali ini Azlan bertanya dengan nada rendah meskipun masih terdengar geram.

Ron Ibrahim tertawa. Dia menatap netra setajam elang itu dengan sedikit keberanian.

"Mengapa harus semarah itu, Bro? Dia sudah menandatangani surat itu. Kamu juga sudah membuangnya. Seharusnya kamu tidak terprovokasi dengan ucapannya.

Azlan masih tidak tergoyahkan oleh ucapan Ron, menurutnya Ron hanya buang-buang waktunya saja. Ia harus bertemu Rani dan mengendalikan perempuan itu. Jangan sampai perempuan itu mengacaukan semuanya.

"Kau mencari surat kontrak itu 'kan?"

"Apa maksudmu, Ron?"

"Kau hanya butuh surat kontrak itu untuk mengikat Rani. Tidak perlu orangnya ada atau tidak ada di dekatmu. Dalam surat kontrak itu tertulis perjanjian di antara kalian. Ada jam kerja untuk Rani. Bahkan menemanimu termasuk dalam jam kerjanya dia."

Azlan membeku. Yang membuat surat perjanjian itu adalah Angela, ia hanya tahu perjanjian itu mengikat dan mengatur Rani. Azlan sama sekali tidak mengetahui detailnya.

"Lalu untuk apa kamu datang ke sini? Untuk memberikan penjelasan seperti katamu tadi malam? Memberikan penjelasan yang seperti apa?"

"Jaga batasanmu, Ron !" Hardik Azlan.

"Aku selalu menjaga batasanku. Aku hanya bicara fakta saja. Surat kontrak itu berlaku efektif mulai besok hari Senin, sekarang hari Sabtu. Dia bebas pergi kemanapun dia mau."

Azlan mengepalkan tangannya. Entah kenapa kepergian Rani tanpa memberinya kabar, membuatnya ketakutan setengah mati. Bagaimana kalau gadis itu bunuh diri ? Batinnya bertanya-tanya sendiri.

"Selamat datang Tuan Azlan yang terhormat!"

Tiba-tiba suara yang dinantikannya itu terdengar sopan di rungu Azlan Bagaskara. Azlan menoleh. Rani, istri palsunya sekarang berada di hadapannya. Mata sembab wanita itu membuktikan bahwa ada banyak kesedihan dan rasa sakit yang disembunyikannya. Sebuah senyum tipis lebih tepatnya senyum sinis terlukis jelas di bibirnya.

"Persiapkan dirimu! Kita akan bertemu istriku sekarang!"

Hanya jawaban itu yang Rani terima. Sebuah perintah yang mau tidak mau, suka tidak suka harus dia terima. Tidak ada lagi suara lembut dan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Azlan.

Rani tidak membantah, hanya melemparkan lirikan lewat ekor matanya ke arah Ron. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar tanpa mengucap sepatah katapun.

"Semoga kamu tidak menyesal," ucap Ron kepada Azlan, membuat pria itu kembali menatap tajam pada sahabat sekaligus salah satu orang kepercayaannya. Hanya Ron yang berani terang-terangan memberi komentar tentang hidupnya. Biasanya Ron akan mendukung apapun yang dia lakukan. Namun, kali ini Ron memilih berseberangan dengannya.

"Kau berani membantahku!"

"Aku bersaksi Rani adalah gadis yang baik. Kamu akan menyesal melepaskan wanita dengan effort yang besar sepertinya."

"Tahu apa kamu tentang effort? Cari pasangan dulu baru berkomentar tentang hubunganku," balas Azlan. Pria itu mengejek sahabatnya.

Tidak berapa lama Rani keluar dengan pakaian yang lebih rapi. Wanita yang telah menjadi kekasih seorang Azlan Bagaskara selama lima tahun itu terlihat cantik dan segar. Azlan segera menarik Rani untuk keluar dari rumah itu.

"Tolong lepaskan tangan saya!"

Azlan menoleh, tidak biasanya sang kekasih menolak genggaman tangannya. Azlan terlihat tidak suka dengan sikap Rani. Baginya, suka tidak suka Rani harus mau menuruti keinginannya. Bukankah sudah cukup selama lima tahun ini dia memberikan perhatian pada wanita itu? Ah, dimana-mana memang yang namanya wanita itu selalu menyebalkan.

"Apa Anda sama sekali tidak mendengar ucapan saya, Tuan Azlan?"

Rani menghempaskan tangannya dengan kasar. Pegangan tangan Azlan pun terlepas. Setelah itu Rani melangkah terlebih dahulu. Dia tidak mau berjalan bersama dengan Azlan. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara. Dua sejoli yang dulunya selalu tampil sempurna kini sudah berubah menjadi dua orang asing yang tak saling kenal hanya dalam hitungan jam.

****

Kediaman Bagaskara.

Rani akan mengingat dengan kuat hari ini. Kalau perlu dia akan memahat semua urutan kejadian hari ini di sudut dinding hati. Merasakan pedihnya sayatan dan juga asinnya air mata. Dia akan mengingat setiap detail rasa sakit yang ditorehkan oleh keluarga terpandang Bagaskara. 

Lihatlah, Adi Bagaskara dan Selin Bagaskara duduk santai menikmati secangkir americano. Mereka terlihat bahagia tanpa beban. Mereka juga tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikitpun saat Rani sampai di tempat itu. Rani terasing dalam rumah yang seminggu lalu masih menerimanya dengan begitu hangat. Namun, sebagai anak muda yang baik, Rani menyapa terlebih dahulu kedua mantan calon mertuanya.

"Selamat siang Om, Tante," sapa Rani ramah.

Dua orang itu hanya menoleh sesaat dengan wajah yang begitu sinis. Rani cukup tahu diri. Dia memilih duduk di depan dua orang yang katanya sedang menunggunya itu sementara Azlan berlalu menuju kamarnya di lantai atas.

"Apa kamu tahu kenapa kamu dibawa ke sini, Deswita Maharani?"

Rani enggan menjawab. Dia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang hanya akan menyudutkannya, sekalipun dia sudah menjawab dengan benar. Kekuasaan memang selalu menang dimana-mana. Bagaimana dia mengombang-ambingkan orang kecil seperti dirinya hingga karam di tengah lautan air mata dan putus asa.

"Menantuku yang cantik ingin berkenalan denganmu." Pada akhirnya sebuah pengakuan itu keluar juga dari mulut Selin Bagaskara. Wanita yang selama ini bertopeng malaikat di depannya. Tidak masalah. Rani sudah bersahabat dengan rasa sakit itu sendiri.

"Menantu yang mana, Nyonya?"

Rani mengutuk dalam hati, kenapa pertanyaan bodoh itu sampai keluar begitu saja.

"Pertanyaan yang bagus sekali. Siapa lagi menantu keluarga Bagaskara kalau bukan Angela Parker," ucap Selin dengan jumawa.

"Tetapi sangat disayangkan sekali, Anda menyembunyikan menantu hebat Anda itu. Dia tidak akan pernah bergandengan tangan dengan suaminya untuk tampil di muka umum," balas Rani menohok.

Balasan dari Rani tentu saja membuat keduanya terdiam. Adi Bagaskara mengepalkan tangannya, sementara Selin memilih menatap tajam pada Rani. 

Rani terkekeh meski pada akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya harus keluar juga.

"Tak apa, memang aku yang terlalu bodoh. Kupikir ketulusan itu nyata. Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari itu hanyalah bayangan di air yang tenang. Terlihat indah namun semu."

"Bagus sekali kamu menyadari posisimu, kami akan membayarmu dengan mahal atas kasus pemakaian identitas ini."

Adi Bagaskara bertepuk tangan melihat ketegaran mantan calon menantunya. Lebih tepatnya menantu yang pura-pura diakuinya.

"Aku kira Ron sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jadi, aku tidak perlu mengulanginya lagi."

Rani mengangguk. Mau seperti apapun dia berlari, dia belum punya modal untuk bertahan hidup di luar sana. Jadilah mulai hari ini dia akan bertahan sekuat tenaga di rumah ini. Seperti perjanjian yang tertulis di surat kontrak, tetapi dalam kontrak itu tertulis bahwa perjanjian berlaku mulai hari Senin besok.

Sebenarnya hati Rani bertanya-tanya tentang Angela Parker. Apakah dia mengenal perempuan itu atau tidak. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pecundang itu.

"Dimana menantu hebat Anda itu, Nyonya. Saya tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Rani sinis.

"Sebagai orang rendahan seharusnya kamu bersabar menunggu majikan kamu datang, Rani."

Rani tidak menjawab lagi, mereka terdiam untuk sementara waktu hingga suara cempreng itu mengagetkan Rani.

"Apa kabarmu Deswita Maharani?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED