"Loh, sudah pulang, Buk?" tanya bungsuku yang sedang membersihkan motor kesayangannya di depan rumah.
Motor yang aku hadiahkan saat dia pertama bekerja. Saat itu aku pikir, jika aku memberikannya motor impiannya, dia akan semangat untuk bekerja. Tapi kenyataannya sungguh berbeda.
Aku tersenyum tipis, melangkah mendekat ke arahnya. "Iya, Mar."
"Kok tumben, Buk? Biasanya pulang jam empat sore," tanyanya lagi dengan kening berkerut.
"Iya, Mar. Hari ini ibu pulang cepat," jawabku.
"Memang kenapa pulang cepat, Buk? Ada masalah di pabrik?" tanya Damar lagi. Tampaknya dia penasaran dengan sebab aku pulang lebih cepat. Karena memang aku selalu pulang sore setiap hari.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Damar harus tahu jika aku berhenti bekerja mulai hari ini. Aku harus memberitahunya sekarang.
Sudah sejak anak-anak kecil aku bekerja. Aku sudah terlalu lelah. Kini aku sudah tua, sudah saatnya aku berhenti bekerja.
"Ada yang ingin ibu sampaikan padamu, Mar. Bisa kita bicara sebentar?" tanyaku padanya.
Damar menatapku dengan raut penuh tanya. Tapi tak urung juga dia menganggukkan kepalanya, lalu meletakkan kain lap di atas jok motornya. "Ada apa, Buk?"
"Kita bicara sambil duduk, Mar." Aku pun melangkah menuju kursi rotan yang ada di teras. Sedang Damar mengikutiku dari belakang.
Kami pun duduk berdampingan setelah sampai di kursi. Aku terdiam sejenak memandang dengan ragu ke arah bungsuku itu. Ada sedikit keraguan dalam hatiku saat ingin mengutarakan apa yang terjadi.
"Ada apa, Buk?" tanya Damar ketika aku belum juga membuka suaraku.
"Di mana Feni, Mar? Dia juga harus tahu apa yang ingin ibu sampaikan," tanyaku sebelum mengungkapkan apa yang ingin aku sampaikan.
"Dia sedang pergi arisan dengan teman-temannya, Buk. Ada apa sih, Buk? Jangan membuat Damar penasaran," sahut Damar mulai terlihat tidak sabar.
Aku menghela napas pelan mendengar jawaban Damar. Menantuku itu suka sekali ikut arisan dengan teman-teman sosialitanya.
"Mar, tolong dengarkan ibu baik-baik. Mulai besok, ibu sudah tidak bekerja lagi. Ibu sudah pensiun, Mar," tuturku, menatap Damar.
"Apa? Pensiun, Buk?" Damar tampak terkejut dengan apa yang aku ungkapkan.
"Iya, Mar. Usia ibu sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja."
"Tapi kenapa Ibu tidak bicarakan dulu padaku, Buk? Harusnya Ibu meminta pendapatku terlebih dahulu. Bukan langsung main berhenti saja." Suara Damar sedikit meninggi.
Hatiku sedikit nyeri ketika mendengarnya. Kupikir Damar akan menerima keputusanku untuk berhenti bekerja. Aku sudah tua untuk terus bekerja. Terkadang aku sering sekali masuk angin di tempat kerja. Tubuhku yang sudah semakin tua, membuatku sering kecapekan dan berakhir dengan masuk angin.
"Ibu sudah tidak sanggup bekerja lagi, Mar. Ibu ingin fokus beribadah di sisa umur ibu yang tinggal sedikit ini, Mar," ucapkuu lirih sembari menundukkan kepala.
"Tapi, Buk. Bagaimana nasibku dan Feni jika Ibu sudah tidak bekerja lagi?"
Aku menatap nanar anak lelakiku itu. Ada rasa nyeri di hatiku ketika dia seakan tidak menginginkan aku untuk berhenti bekerja. Padahal aku sudah bekerja semenjak dia dan Dina masih kecil, karena suamiku meninggal saat itu. Aku pun harus terpaksa menggantikan perannya untuk mencari nafkah untuk anak-anakku.
Aku bekerja banting tulang untuk mereka. Aku bahkan tidak menikah lagi demi kebahagiaan mereka. Aku selalu menuruti keinginan mereka karena aku tidak mau membuat mereka kekurangan apapun setelah kehilangan ayah mereka.
"Ka-mu bisa mencari kerja lagi, Mar."
"Mudah sekali Ibu menyuruhku bekerja lagi. Nyari kerja itu nggak semudah yang Ibu katakan. Aku sudah mencari ke sana kemari, tapi nggak ada yang cocok buatku, Buk."
"Bukan susah, Mar. Tapi kamu yang suka pilih-pilih kerja."
Damar memang suka berganti-ganti kerja. Dia sering tidak betah di tempat kerjanya. Katanya gajinya yang kurang, perkerjaannya berat, atau bahkan karena lingkungan kerja yang tidak nyaman untuknya. Damar paling lama bertahan di tempat kerja hanya tiga bulan dan itu pun dia keluar karena menikah dengan Feni yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya saat itu.
"Ah, sudah! Ibu banyak sekali bicara. Kalau Ibu benar-benar berhenti bekerja, Damar mau Ibu memberikan Damar modal untuk usaha, seperti Mbak Dina. Enak sekali Mbak Dina, Ibu berikan modal untuknya usaha," sungut Damar.
"Tapi ibu memberikan yang sama pada kalian, Mar. Ibu tidak membedakan kalian berdua. Kamu juga ibu beri uang untuk modal usaha. Tapi kamu malah membeli mobil dengan uang itu."
"Aku tidak mau tahu, Buk. Pokoknya Ibu harus menyediakan uang untukku!" Damar berdiri dari duduknya, kemudian dia berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkanku sendiri dalam kesedihan.
Aku hanya bisa menatap nanar punggung tegap milik bungsuku itu. Aku tidak menyangka jika Damar akan semarah itu hanya karena aku berhenti kerja.
Ya Allah ....
Niat hati aku ingin lebih dekat dengan-Mu di sisa umurku ini, tapi putraku sendiri malah seperti itu.
Aku mengelus dada, mencoba bersabar atas semua perilaku bungsuku itu. Aku tidak mau do'a yang jelek keluar dari bibirku untuknya. Aku teramat sangat menyayanginya. Putra satu-satunya yang kumiliki.
Aku berdiri dari duduk, kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar. Waktu Dzuhur sudah tiba. Aku harus segera menunaikan kewajibanku.
***
Brakk.
Aku menoleh ke arah pintu ketika mendengar pintu dibuka dengan kasar. Aku sedang berbaring di ranjang setelah menunaikan Sholat, saat mendengar suara pintu terbuka.
"Ibu ... apa maksud Ibu berhenti bekerja?" Feni tiba-tiba masuk setelah pintu terbuka dengan lebar.
Aku mendesah pelan. Menantuku itu sangat tidak sopan. Dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mertuanya.
"Ada apa, Fen?" tanyaku sembari bangkit dari pembaringan dan duduk di tepi ranjang.
"Kata Mas Damar, Ibu berhenti bekerja?" tanyanya dengan suara keras sekali.
"Iya, Fen. Ibu berhenti bekerja mulai hari—."
"Kenapa? Kenapa Ibu berhenti bekerja?" buru Feni memotong ucapanku.
Aku menatap Feni dengan terkejut, selama ini dia tidak pernah memotong ucapanku seperti ini. Dia selalu bersikap lembut padaku. Tapi kenapa sekarang dia berubah? Apa hanya karena aku tidak bekerja lagi hingga dia merubah sikapnya padaku? Apa ini sikap aslinya yang sebenarnya?
Ya Allah ... aku hanya bisa mengelus dada melihat menantuku itu berani kepadaku hanya karena aku berhenti bekerja. Padahal selama ini dia tidak pernah berani padaku. Dia selalu bersikap manis padaku.
Apa memang aku salah jika aku berhenti bekerja? Apa di usiaku yang sudah tidak lagi muda ini masih harus dipaksa untuk bekerja?
"Jaga suaramu, Fen! Aku mertuamu, tidak seharusnya kamu berani kepadaku? Memangnya kenapa jika aku berhenti bekerja? Kamu sudah cukup menikmati hasil keringatku. Jangan menuntutku lebih lagi!" Hatiku meradang diperlakukan tidak sopan oleh wanita yang baru satu tahun menjadi menantuku itu.
Feni tampak terkejut mendengar nada suaraku yang terdengar sedikit meninggi. Biasanya aku tidak pernah meninggikan suaraku padanya ataupun pada anak-anakku lainnya.
"Ibu ... ibu berani membentakku?" cicit Feni. Dia memandangku dengan sorot mata tidak suka.
Aku memalingkan wajahku dan tidak menjawab Feni. Rupanya aku terlalu memanjakannya, hingga dia tidak menaruh hormat padaku. Padahal aku selalu menganggapnya putriku sendiri. Aku tidak membeda-bedakan dia dengan Damar ataupun Dina. Aku memperlakukan mereka sama. Setiap dia menginginkan apapun aku juga berusaha untuk memenuhinya.
"Baiklah. Aku akan mengadukan Ibu pada Mas Damar. Biar Ibu rasakan telah berani membentakku!" ancamnya.
Feni melangkah pergi, terdengar suara hentakan kakinya yang keras. Sepertinya dia terlihat sangat marah. Tapi aku tidak peduli. Dia memang harus diajari sopan santun.
Aku kembali merebahkan tubuh tuaku di atas pembaringan. Netraku menatap langit-langit kamar. Pikiranku mengembara. Memikirkan keinginanku untuk pergi ke Tanah Suci. Keinginan yang terpendam sedari dulu, dan harus kutahan karena aku harus membahagiakan anak-anakku.
Aku selalu menahan keinginanku untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Kini aku ingin melaksanakan keinginanku itu. Mumpung aku masih punya rejeki. Aku mendapat uang pesangon dari pabrik. Rejeki dari Allah, untukku bertandang ke Baitullah.
Aku sangat berharap bisa mewujudkan keinginanku dalam waktu dekat. Aku tidak tahu sampai berapa lama sisa umurku. Masihkah aku diberi kesempatan untuk menjadi tamu Allah di sana.
***
"Kok kamu membuat mie instan, Mar? Memangnya Feni tidak masak?" tanyaku begitu sampai di dapur. Kulihat tubuh jangkung putraku sedang berdiri di depan kompor sembari mengaduk mie yang ada di dalam panci.
Jam makan malam sudah tiba. Biasanya Feni akan memanggilku jika makanan sudah siap. Tapi kali ini dia tidak memanggilku sama sekali. Jadi aku pergi sendiri ke dapur karena perutku sudah mulai lapar. Aku hanya makan di pagi hari tadi sebelum ke pabrik.
Damar menoleh padaku sebentar, lalu melengos, kembali melanjutkan aktifitasnya memasak mie instant. Bibirnya mengerucut, tampak sekali jika dia sedang kesal.
Aku pun mendekat ke arahnya, lalu kusentuh pundak anak lelakiku itu dengan lembut. "Kamu nggak jawab pertanyaan ibu, Nak?" tanyaku lembut.
Damar mematikan kompor, lalu dia kembali menoleh ke arahku. Tatapan matanya tajam menyorot wajah tuaku. Aku tersentak. Selama ini dia tidak pernah melihatku dengan sorot tajam itu. Dia selalu bermanja padaku.
"Ini semua karena Ibu! Ibu yang sudah membuat Feni marah hingga tidak mau memasak untuk makan malam."
Aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari bibir putraku itu. Tanganku yang menyentuh pundak Damar perlahan terlepas.
Damar menuang mie instant yang telah selesai dimasaknya ke dalam mangkok. Kemudian dia membawa mangkok itu ke atas meja makan. Setelahnya dia duduk di kursi, lalu mulai menyantapnya dalam diam.
Hatiku terenyuh melihat putraku makan makanan tidak sehat itu. Aku menghela napas pelan, lalu melangkah menghampirinya.
"Ibu masak untukmu ya, Mar?" tanyaku padanya setelah sampai di sampingnya.
Damar berhenti menyuap mendengar pertanyaanku. Lalu dia menoleh ke arahku. "Tidak perlu," jawabnya singkat.
"Nanti kamu masih lapar jika hanya makan mie itu, Mar." Aku terus membujuknya tidak tega rasanya membuat putraku itu tidak makan dengan benar.
Hati ibu mana yang tega jika melihat putranya kelaparan. Tolong jangan bilang jika aku adalah ibu yang lemah. Aku hanya sangat menyayangi anak-anakku. Mereka adalah permata hatiku.
"Biar saja, Buk."
Kembali Damar hanya menjawabku dengan singkat. Kebiasaannya jika hatinya sedang diliputi amarah. Aku menghela napas pelan. Susah sekali membujuk bungsuku itu, dia keras kepala seperti mendiang ayahnya.
Damar kembali mengalihkan pandangannya dariku. Dia kembali menyuapkan mie yang tinggal separuh di mangkoknya. Aku pun memutuskan untuk duduk di samping Damar. Menunggunya selesai makan, untuk mengutarakan keinginanku padanya. Tapi, apa waktunya pas untuk berbicara sekarang? Sedang dia dalam keadaan yang diliputi amarah.
Damar pun menyelesaikan makannya, di mangkoknya hanya tersisa kuah mie saja. Anakku itu pasti sangat lapar hingga makannya cepat sekali. Lalu aku menyodorkan segelas air putih untuknya.
Damar menerima air tersebut, kemudian meneguknya hingga tandas. Setelahnya dia meletakkan gelas bekas minumnya ke atas meja.
Damar menoleh ke arahku, senyumku seketika terbit ketika melihat amarah Damar sudah terlihat mereda. Aku pikir bisa mengajaknya berbicara kali ini.
"Buk. Ada yang ingin Damar tanya," ucapnya.
"Apa, Nak?" tanyaku mulai berbesar hati karena Damar sudah mau berbicara padaku.
"Ibu dapat uang pesangon 'kan?" tanyanya langsung.
Aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Damar. Perasaanku mulai tidak enak setelah mendengar pertanyaannya itu. Ada rasa khawatir mendengar Damar menanyakan uang pesangonku.
"Memang ada apa, Mar?"
"Ah ... Ibu. Jawab saja pertanyaan Damar, Buk. Ibu dapat uang pesangon 'kan?" Damar mulai tampak tidak sabar karena aku tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"I-ya, Mar. Ibu dapat uang pesangon dari pabrik. Tapi—."
"Nah ... mana uangnya, Buk? Biar Damar aja yang pakai, lumayan bisa buat Damar modal usaha. Sekalian untuk belikan Feni emas, biar dia nggak ngambek lagi," papar Damar memotong ucapanku. Padahal aku belum menyelesaikan ucapanku. Tapi Damar sudah lebih dulu memotongnya tanpa memperdulikanku.
Aku membulatkan mata mendengar penuturan putraku itu. Kenapa bisa dengan entengnya dia menyampaikan keinginannya padaku? Padahal aku juga mempunyai keinginan sendiri untuk menggunakan uang pesangonku.
"Tidak bisa, Mar. Ibu mau pakai uang itu untuk menunaikan ibadah haji, Mar. Ibu sudah lama sekali ingin pergi ke Tanah Suci. Kali ini ibu akan memakai uang itu untuk mewujudkan keinginan ibu," tegasku, menolak permintaan Damar.
Sejak dulu aku selalu mengutamakan kehagiaan anak-anakku, lalu kenapa aku tidak bisa mewujudkan keinginanku satu-satunya? Padahal keinginanku cuma itu, dan itupun aku tidak merepotkan anak-anakku untuk mewujudkannya.
Sekali saja. Sekali saja, aku ingin bertandang ke Tanah Suci. Hanya itu impianku di masa tuaku ini.
Damar mendengkus kasar mendengar penolakanku, lalu dia langsung berdiri dari kursinya dengan kasar, hingga kursi yang didudukinya terlempar ke belakang. Kemudian dia berlalu pergi dengan langkah panjang. Sementara aku berjenggit kaget ketika mendengar suara keras kursi yang terlempar.
Aku memandang sendu kepergian Damar. Rasa laparku seketika menghilang, hanya rasa perih di hatiku yang terasa sekarang ini, karena melihat putraku terlihat marah padaku. Aku tidak menyangka jika Damar akan menentang keinginanku untuk pergi ke Tanah Suci.
"Di rumah saja Bu Ratmi?"
Aku menolehkan kepalaku saat mendengar pertanyaan yang ditujukan padaku. Kulihat Bu Darti sedang berdiri di depan halamanku dengan menenteng kresek belanjaan. Aku tersenyum tipis ke arahnya.
"Iya, Bu," jawabku singkat.
"Loh, sudah nggak kerja lagi, Bu?" tanya Bu Darti lagi.
Aku menghela napas pelan, Bu Darti adalah tetanggaku yang suka kepo dengan urusan orang lain. Dia selalu mencari gosip untuk dibicarakannya dengan ibu -ibu tetangga lain.
"Nggak, Bu," jawabku sembari mengisi kembali ember dengan air. Aku sedang menyirami tanaman di halaman rumahku ketika Bu Darti sedang lewat.
"Lha kenapa sudah nggak kerja lagi, Bu?" tanyanya lagi.
"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma ingin istirahat saja." Benar 'kan, dia pasti akan kepo denganku yang sudah tidak bekerja ini.
"Assalamu'alaikum, Buk." Dina baru saja datang dengan menaiki sepeda motor.
Aku lega karena dia datang. Aku sedikit malas berbincang dengan Bu Darti. Dia pasti sedang mencari bahan untuk gosip-gosipnya.
"Wa'alaikumussalam, Din," sahutku.
"Eh, Nak Dina. Dari mana nih?" tanya Bu Darti pada Dina.
Dina turun dari motornya, lalu melangkah ke arahku dan meraih tanganku, kemudian mengecup punggung tanganku.
"Dari rumah, Bu," jawabnya pada Bu Darti. "Buk, masuk yuk. Ada yang ingin Dina katakan," ucapnya beralih menatapku.
Aku menganggukkan kepala, lalu meletakkan ember yang aku bawa.
"Bu Darti, kami permisi masuk dulu," tuturku sopan.
"Eh, iya, Bu," sahutnya, kemudian berlalu pergi.
Sementara aku dan Dina masuk ke dalam rumah. Lalu meneruskan langkah ke dapur untuk membuatkan minum sulungku yang baru saja datang.
"Bu Darti kenapa tadi, Buk?" tanya Dina saat kami masih dalam perjalanan ke dapur.
"Cuma sekedar menyapa ibu saja, Din," sahutku.
"Hati-hati loh, Buk. Bu Darti orangnya kan kayak gitu, suka kepo cari bahan gosip," pungkas Dina mengingatkanku.
"Iya, Din. Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?"
"Teh aja deh, Buk," jawabnya.
"Ya sudah, kamu tunggu dulu sebentar di depan. Ibu buatkan dulu tehnya."
"Nggak, Dina ikut Ibu ke dapur aja."
"Baiklah, terserah kamu aja," sahutku.
Kami pun telah tiba di dapur. Aku langsung mengisi air di panci, kemudian menaruhnya di atas kompor. Tak lupa aku juga menyalakan kompor tersebut. Lalu aku mengambil gelas, mengisinya dengan gula dan teh.
"Kata Damar, Ibu berhenti bekerja. Bener, Buk?" tanya Dina, dia telah duduk di kursi meja makan sembari bermain ponsel.
"Iya, Din. Ibu sudah terlalu tua untuk terus bekerja. Ibu sering sekali masuk angin," jawabku sembari sibuk menuangkan air panas yang telah mendidih ke dalam gelas. Setelah gelas terisi, aku mengaduknya perlahan.
Dina berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekat ke arahku. "Lalu apa rencana Ibu selanjutnya?"
Aku mengernyitkan keningku ketika mendengar pertanyaan Dina. "Rencana apa maksudnya, Din?"
"Ya ... rencana Ibu setelah berhenti bekerja. Ingin membuka usaha atau bagaimana gitu lho, Buk. Masak Ibu tidak paham," tukas Dina.
"Rencananya ibu mau berangkat ke Tanah Suci dulu, Din. Ibu sangat ingin ke sana."
"Ngapain sih, Buk? Ibu buang-buang uang saja," celetuk Dina.
Aku seketika menghentikan gerakanku mengaduk teh. Lalu aku menoleh ke arah putriku yang sedang berdiri di sampingku itu dengan sorot terluka. Apa salahnya jika memang aku menghabiskan uangku sendiri sesuai dengan keinginanku? Padahal aku tidak meminta uang pada mereka untuk memenuhi keinginanku itu. Tapi mengapa seolah aku meminta uang pada mereka untuk pergi ke Tanah Suci.
"Ibu, harusnya Ibu memakai uang yang Ibu miliki untuk membuka usaha atau tanam modal. Ibu kan sudah tidak bisa bekerja lagi, jadi Ibu juga harus memikirkan masa tua Ibu. Bagaimana nanti kalau Ibu sudah tua dan tidak bisa apa-apa, sakit? Pasti perlu uang untuk berobat kan, Buk?" papar Dina. Seolah tidak memikirkan perasaanku sama sekali.
Hatiku mencelos mendengar ucapan sulungku itu. Bagaimana kata-kata yang menyakitkan hatiku itu keluar dari bibirnya. Bukankah ketika aku tua nanti anak-anakku lah yang berkewajiban mengurusku? Sama ketika aku mengurus mereka di waktu kecil hingga sekarang. Tapi kenapa rasanya seolah mereka tidak membiarkan aku berisritahat di masa tua dengan tenang.
"Buk ... Ibu berikan saja uang yang Ibu miliki pada Damar untuk membuka usaha. Nanti jika usaha Damar berkembang dengan pesat, dia pasti akan memberangkatkan Ibu ke Tanah Suci. Kasihan dia, Buk. Ingin membangun usaha tapi belum memiliki modal," cetus Dina tiba-tiba.
Jadi ini alasan Dina mendatangiku, dia ingin membujukku untuk memberikan uangku pada adiknya. Ternyata kakak beradik itu sama saja. Mereka tidak pernah mengerti aku. Ibunya sendiri.
Ternyata memberikan kasih sayang pada anak-anakku dengan memanjakannya, memberikan apa yang mereka inginkan adalah salah. Aku telah salah dalam mengasuh mereka.
"Jadi kalian tidak mau mengurusku saat aku sudah tua? Begitu maksudmu, Din?" tanyaku dengan suara parau.
"Loh, bukan seperti itu, Buk. Ibu jangan salah paham." Dina terlihat gelagapan mendengar pertanyaanku. "Kami pasti akan bergantian mengurus Ibu. Tapi kami juga butuh biaya untuk melakukannya, Buk. Maka dari itu, Ibu harus mempunyai tabungan. Jangan Ibu habiskan uang yang Ibu miliki untuk hal-hal yang tidak perlu."
"Tidak perlu katamu? Kamu tahu, pergi ke Tanah Suci adalah impian ibu sejak dulu. Tapi teganya kamu mengatakan kalau itu hal yang tidak perlu." Aku menatap Dina dengan raut sendu.
Hatiku sungguh terluka oleh sulungku itu. Susah payah aku membesarkannya, tapi ini balasannya kepadaku. Sungguh tega sekali.
Kenapa yang ada di pikiran mereka hanya ada uang dan uang. Apa kebahagiaan ibunya ini tidak penting sama sekali?
"Ibu tahu bukan itu maksudku, Buk. A-ku hanya ingin Ibu tidak menyalahgunakan uang yang Ibu miliki," ucap Dina terbata.
Aku bergeming mendengar alasan Dina. Hatiku sudah terasa bagai disayat-sayat mengetahui anak-anakku tidak mengerti apa keinginanku.
Aku menghela napas kasar. "Minumlah, Din. Aku ingin istirahat. Jika kamu masih ingin di sini. Silahkan berbincang dengan adikmu," ucapku meraih teh yang baru saja selesai aku buat, lalu menyodorkannya pada sulungku itu.
Setelah cangkir teh berpindah tangan ke tangan Dina. Aku beranjak pergi, meninggalkan Dina yang tampak mematung. Karena tidak biasanya aku mengabaikan kedatangannya. Aku selalu menemaninya ketika dia datang kemari.
Dina selalu datang setiap minggu kemari, saat aku libur bekerja. Katanya dia ingin menghabiskan waktu denganku saat aku libur bekerja.
Aku melangkahkan kaki ke kamar. Saat keluar dari dapur, aku melihat Damar dan juga Feni. Mereka sedang duduk di depan ruang televisi. Nampaknya mereka sedang menunggu hasil pembicaraan Dina denganku.
Aku meneruskan langkah menuju ke kamar. Tidak menghiraukan mereka sama sekali. Hatiku sedang sakit saat ini. Aku tidak mau menambahkannya lagi dengan berbincang dengan mereka.
Setelah tiba di kamar, aku menguncinya dari dalam. Aku tidak mau mereka menggangguku saat ini. Aku sedang ingin sendiri merenungi semua yang terjadi.