Liana keluar dari ruangan Ethan dengan napas yang sedikit tertahan. Rasanya baru beberapa menit saja ia berada di dalam sana, tetapi tekanan yang diberikan pria itu begitu kuat hingga hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
Tangannya masih menggenggam ponselnya erat, matanya menatap pesan dari pengasuh Noel.
"Noel demam. Aku sudah memberinya obat, tapi dia terus memanggil ‘Papa’ dalam tidurnya."
Jantungnya mencelos. Noel memang sering bertanya tentang ayahnya, tetapi Liana selalu berhasil mengalihkan pembicaraan. Namun, bagaimana jika nanti ia mulai menyadari bahwa ayahnya benar-benar ada—dan berdiri tidak jauh darinya saat ini?
Tidak. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Liana buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Sebagai sekretaris pribadi Ethan, mejanya berada tepat di depan ruangan pria itu. Ini berarti, setiap hari ia akan melihat pria yang telah mengubah hidupnya tanpa ia sadari.
"Liana, kau baik-baik saja?" suara seorang wanita membuyarkan lamunannya.
Liana menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut hitam sebahu berdiri di depannya dengan senyum ramah.
"Aku Amanda. Sekretaris senior di sini," wanita itu memperkenalkan diri. "Biasanya sekretaris eksekutif tidak bertahan lama dengan Tuan Alvaro. Aku harap kau cukup kuat untuk bertahan."
Liana tersenyum kecil. "Aku akan mencoba."
Amanda terkekeh. "Kau harus lebih dari sekadar mencoba. Tuan Alvaro itu… tidak mudah ditangani."
Liana menghela napas. Tentu saja, ia sudah menyadarinya sejak pertama kali berbicara dengan pria itu.
Belum sempat ia menanggapi, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, ia melihat panggilan dari pengasuh Noel.
Liana langsung menjawab, suaranya sedikit khawatir. "Ada apa, Mia?"
"Dema Noel makin tinggi, Liana. Aku sudah memberinya obat, tapi dia tetap lemas dan terus mengigau," suara Mia terdengar panik.
Liana langsung berdiri. Ia tidak bisa menunda ini.
"Aku akan segera pulang," katanya cepat.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan Ethan. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu.
Ethan mengangkat alisnya, tampak tidak senang karena Liana masuk begitu saja. "Apa kau tidak tahu cara mengetuk?"
Liana tidak peduli. "Saya perlu izin pulang lebih awal."
Ethan menyipitkan matanya. "Baru hari pertama bekerja dan kau sudah ingin pulang lebih awal?"
Liana mengangguk cepat. "Ini darurat."
Ethan menutup dokumen yang sedang ia baca, lalu melipat tangannya di depan dada. "Apa alasanmu cukup kuat untuk meninggalkan pekerjaan ini?"
Liana menggigit bibirnya. "Anak saya sakit."
Sejenak, ekspresi Ethan berubah.
"Anak?"
Liana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia lupa bahwa pria ini tidak tahu tentang Noel.
"Ya," katanya cepat. "Saya seorang ibu tunggal, dan anak saya sedang sakit parah. Saya harus pulang."
Ethan menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi pastikan ini tidak terjadi terlalu sering."
Liana mengangguk dengan lega. "Terima kasih, Tuan Alvaro."
Ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan, sama sekali tidak menyadari bahwa Ethan masih menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.
---
Liana tiba di apartemennya dengan napas terengah. Begitu ia masuk ke dalam, ia melihat Noel terbaring di sofa dengan wajah pucat. Mia, pengasuhnya, duduk di sampingnya dengan ekspresi cemas.
"Noel," Liana langsung berlutut di samping anaknya, meraba dahinya yang panas.
Mata Noel terbuka sedikit, lalu tersenyum lemah. "Mama…"
Air mata menggenang di mata Liana. "Mama di sini, Sayang."
Noel menggenggam tangan ibunya erat, lalu bergumam lemah. "Papa…"
Liana membeku.
Mia menatapnya ragu. "Dia terus mengigau seperti itu sejak tadi."
Liana menghela napas dan mengelus rambut anaknya. "Noel, Papa tidak ada di sini, Sayang."
Noel menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa Papa tidak pernah datang?"
Liana menutup matanya sejenak. Hatinya sakit mendengar pertanyaan itu.
"Karena…" suaranya tercekat. "Karena Papa sedang jauh."
Noel tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya kembali, tertidur dalam pelukan ibunya.
Liana menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran ini dari Noel?
---
Keesokan harinya, Liana kembali ke kantor dengan hati-hati. Ia sudah menyiapkan banyak alasan jika Ethan bertanya tentang kepergiannya kemarin.
Namun, saat ia tiba di meja kerjanya, sebuah kejutan menunggunya.
Di atas mejanya, ada sebuah kantong kertas cokelat.
Liana mengernyit. Ia mengambilnya dan membuka isi di dalamnya.
Sebuah botol sirup obat anak-anak.
Jantungnya berdegup keras.
Tidak mungkin…
Ia buru-buru membaca catatan kecil yang terselip di dalamnya.
"Untuk anakmu. Pastikan dia segera sembuh. – E.A"
Liana membeku.
Ethan Alvaro… memberikan ini untuk Noel?
Tapi bagaimana dia tahu jenis obat yang Noel butuhkan?
Liana menoleh ke arah ruangan Ethan, hatinya dipenuhi kebingungan.
Pria itu tidak mungkin tahu, kan? Tidak mungkin dia menyadari sesuatu…
Atau… apakah Ethan mulai curiga?
Liana menggigit bibirnya, merasa seluruh dunianya mulai bergetar. Jika Ethan tahu kebenarannya, apa yang akan terjadi?
Liana duduk di mejanya, tatapan matanya masih terpaku pada botol obat dan catatan kecil dari Ethan. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Kenapa Ethan melakukan ini?
Pria itu bahkan tidak mengingatnya. Jadi, apa yang membuatnya cukup peduli untuk memberikan obat ini?
Apakah Ethan mulai curiga?
Sebelum Liana bisa menemukan jawabannya, suara berat Ethan terdengar dari dalam ruangan.
"Liana, masuk ke dalam."
Liana terkesiap. Tangannya mengepal erat di pangkuannya sebelum ia menghela napas panjang dan berdiri. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju pintu, mengetuknya sekali, lalu masuk.
Ethan sedang berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota. Siluetnya tampak tegas dan dingin.
"Kau terlihat gelisah," katanya tanpa menoleh.
Liana berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Saya hanya tidak menyangka Anda memberikan ini."
Ethan berbalik, matanya menatap lurus ke arahnya. "Kau terkejut karena aku perhatian, atau karena sesuatu yang lain?"
Liana menelan ludah. Pria ini terlalu tajam.
"Saya hanya tidak menyangka Anda tahu tentang anak saya," jawabnya hati-hati.
Ethan menyandarkan tubuhnya ke meja, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Aku tidak tahu," katanya pelan, tetapi nadanya penuh arti. "Tapi sekarang aku penasaran."
Jantung Liana berdetak lebih cepat.
"Tentang apa?"
"Tentang anakmu," Ethan menatapnya lebih dalam. "Berapa umurnya?"
Liana menegang. Ia tahu ia tidak bisa menghindari pertanyaan ini, tetapi bagaimana pun, ia harus hati-hati.
"Empat tahun lebih," jawabnya, mencoba terdengar santai.
Ethan mengangguk pelan, tetapi tatapan matanya tak lepas dari wajah Liana. "Di mana ayahnya?"
Liana merasakan tenggorokannya mengering. Ia sudah menyiapkan jawaban ini selama bertahun-tahun.
"Ayahnya sudah pergi sejak sebelum dia lahir," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Ethan menyipitkan matanya. "Jadi, kau membesarkannya sendiri?"
Liana mengangguk. "Ya. Dan saya harap, tidak ada masalah dengan itu."
Ethan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berjalan mendekat. Napas Liana tercekat saat pria itu berdiri di hadapannya, terlalu dekat.
"Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?"
Jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.
"Tidak, Tuan," jawabnya cepat.
Ethan terus menatapnya, seolah sedang menilai kebenaran di balik kata-katanya.
"Aneh," gumamnya. "Karena aku merasa… kau tidak sepenuhnya asing bagiku."
Liana merasakan kakinya melemas.
"Tidak mungkin," katanya, mencoba tersenyum kecil. "Mungkin Anda hanya terlalu sering bertemu orang baru."
Ethan tidak menjawab. Ia hanya menatap Liana lebih lama sebelum akhirnya berkata, "Kembali bekerja."
Liana langsung berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, tetapi ia tahu, ini belum selesai.
Ethan mulai curiga.
Dan itu berbahaya.
—
Malamnya, Liana duduk di tepi tempat tidur Noel, menatap wajah kecil anaknya yang sedang tertidur lelap. Tangannya terulur, mengelus rambut Noel dengan penuh kasih sayang.
"Apa yang harus Mama lakukan, Sayang?" bisiknya.
Noel menggeliat sedikit, lalu bergumam dalam tidur, "Papa…"
Liana mengatupkan bibirnya erat. Air mata hampir jatuh, tetapi ia menahannya.
Sebelum ia bisa terlalu larut dalam pikirannya, ponselnya bergetar di atas nakas. Liana mengambilnya, lalu matanya membesar saat melihat nama yang tertera di layar.
Ethan Alvaro.
Kenapa pria itu meneleponnya malam-malam begini?
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Saat ini kau ada di mana?" suara Ethan terdengar dalam dan dingin.
Liana mengerutkan kening. "Di rumah. Kenapa, Tuan?"
"Aku butuh kau kembali ke kantor sekarang."
Liana terkejut. "Tapi sekarang sudah malam."
"Aku tidak suka mengulang permintaan," kata Ethan tegas. "Datang ke sini dalam waktu tiga puluh menit."
Tanpa memberi kesempatan bagi Liana untuk membantah, Ethan langsung menutup telepon.
Liana menatap ponselnya dengan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
—
Setengah jam kemudian, Liana berdiri di depan kantor Alvaro Corp. Gedung megah itu masih terang, meskipun sebagian besar karyawan sudah pulang.
Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam dan menaiki lift menuju lantai tertinggi. Saat pintu lift terbuka, ia melihat Ethan berdiri di depan jendela kantornya, sama seperti siang tadi.
"Ada apa, Tuan?" tanya Liana, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.
Ethan berbalik, lalu melemparkan sebuah amplop ke atas meja. "Aku ingin kau menjelaskan ini."
Liana melangkah maju dan mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik keluar isinya.
Matanya membesar.
Dokumen itu berisi informasi tentang dirinya. Tentang kehidupannya sebelum ini. Tentang… Noel.
Ia menelan ludah, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Dari mana Anda mendapatkan ini?"
"Aku memiliki sumberku sendiri," Ethan menjawab. "Kenapa kau tidak pernah menyebutkan tentang anakmu saat wawancara kerja?"
Liana mencoba berpikir cepat. "Karena itu adalah kehidupan pribadi saya. Dan saya tidak berpikir itu relevan dengan pekerjaan ini."
Ethan mengamati ekspresi wajahnya dengan seksama. "Menarik."
Liana mengepalkan tangannya erat. "Jika Anda hanya memanggil saya ke sini untuk menanyakan ini, saya rasa kita sudah selesai."
Ia berbalik untuk pergi, tetapi suara Ethan menghentikannya.
"Liana."
Ia terpaksa berbalik.
Ethan menatapnya tajam. "Anakmu… benar-benar tidak memiliki ayah?"
Liana merasakan jantungnya hampir berhenti.
Ia tahu, ini saatnya ia harus memilih.
Akankah ia terus menyembunyikan kebenaran?
Atau membiarkan Ethan mengetahui semuanya?