Bab 1

Seharian ini, cuaca mendung membungkus langit seperti turut berdukacita mengantar jasad wanita hebat yang dimakamkan sore ini. Eva berdiri di antara kerumunan orang-orang yang berduka. Eva bisa melihat bapak kosnya yang bernama Rafa sedang menggendong bayi perempuan yang masih memerah. Pria itu melongokkan kepala untuk melihat wajah istrinya untuk terakhir kali.

Arumi Cahaya Laksma.

Nama wanita paling cantik di mata Rafa, kini terabadikan di batu nisan. Meninggal setelah melahirkan bayi mungil yang kini menangis. Seolah-olah, bayi merah itu mengetahui akan terpisah dengan ibunya untuk selama-lamanya.

"Kasihan sekali bayi itu," gumam Eva. Tatapannya tidak lepas dari bayi ditutupi bedung. Eva melangkah mendekati bapak kosnya. Ingin menyampaikan dukanya secara langsung. Dia berdiri di belakang Rafa dan memanggil dengan lirih, "Pak."

Rafa berbalik dan melihat Eva. Wajah Rafa basah oleh air mata. Jelas sekali jejak kesedihan karena ditinggal belahan jiwanya. Meskipun sulit, Rafa berusaha menampilkan senyum pada Eva. Rafa menyerahkan bayinya ke gendongan kakaknya.

"Semoga Bapak diberi ketabahan. Sekarang, Ibu Arumi berada dalam pelukan Tuhan. Dia adalah wanita hebat."

Eva adalah salah satu penyewa kos milik Rafa yang datang ke pemakaman menyampaikan duka cita. Dia memberi kalimat penyemangat pada Rafa yang terlihat rapuh.

"Terima kasih, Eva," ucap Rafa yang dibalas anggukan oleh Eva.

Rafa duduk di samping kuburan dan memperbaiki letak bunga Lily putih yang sengaja disusun untuk menghiasi batu nisan.

"Kamu masih hidup di sini dan di sini, Sayang." Rafa menunjuk dadanya sebelah kiri lalu beralih ke kepalanya. "Ragamu memang tidak menemani kami lagi, tapi kamu abadi dalam ingatan aku, juga bagi anak kita."

Rafa mengusap air matanya. "Aku janji akan menjaga bayi kita. Aku akan membesarkan dia menjadi perempuan hebat sepertimu. Kamu pegang janjiku."

Eva tanpa sadar meneteskan air matanya lagi. Dia bisa merasakan sakit keluarga berduka itu. Juga bisa melihat ketulusan cinta dari bapak kosnya kepada istrinya. Sangat menyentuh, sehingga Eva menginginkan pria masa depannya juga mencintainya hingga akhir hayat seperti cinta bapak kosnya. Cepat-cepat Eva mengusap basah di pipinya.

"Ayo pulang, Raf!" Dona, kakak Rafa mengusap punggung adiknya.

"Aku masih mau di sini, Kak. Pulang saja lebih dulu." Rafa menolak. Dia masih ingin menemani istrinya.

Dona memutar bola matanya. Dia cukup kesal dengan sikap Rafa yang terlalu menyesali kepergian istrinya.

"Kamu, bisa gendong bayi?" tanya Dona.

Eva yang berdiri di samping Dona menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Ibu tanya saya?"

Dona mengangguk, "Bisa 'kan? Bantu saya gendong anak Rafa dulu. Saya harus paksa anak ini untuk pulang. Kalau tidak, bisa-bisa kita dibuat bermalam di sini."

Sebelum Eva memberikan respon, bayi itu sudah Dona pindahkan ke tangan Eva. Bayi itu tidak berat, tapi Eva terlihat tertekan dengan bayi di gendongannya. Ini pertama kalinya, Eva menggendong bayi baru lahir. Ketakutan dan perasaan was-was melingkupinya.

'Bagaimana kalau bayi ini tiba-tiba bergerak dan jatuh?' pikir Eva yang membuatnya semakin ketakutan.

"Rafa, ayo pulang! Kasihan anak kamu. Kakak tau kamu bersedih, tapi nggak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Arumi sudah tiada, kamu harus merelakannya. Sekarang, kamu punya bayi yang harus dipedulikan."

Tidak mendapat respon dari Rafa, Dona menarik tangan adiknya. "Raf, pulang!"

Rafa mengangguk dan bangkit. "Aku pamit pulang, Sayang. Tenanglah di sana. Aku akan menyusulmu suatu hari nanti."

Langkah kaki Rafa berat meninggalkan istrinya tidur sendirian di sana. Kehilangan seorang istri atau ibu adalah pengalaman paling buruk yang dialami oleh seorang suami atau anak. Kalau bisa, Rafa ingin menukar dengan nyawanya. Bayi mereka akan lebih baik jika memiliki ibu tanpa ayah, dibanding ayah tanpa ibu. Bayi mungil itu lebih membutuhkan sosok ibu.

***

"Udah mau balik?"

Eva terperanjat dengan suara dari arah belakangnya. Ketika menoleh, dia mendapati Rafa berdiri di sana.

Eva mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rafa.

"Kamu pulang pakai apa?" kata Rafa.

"Saya udah pesan ojek online, Pak. Bentar lagi sampai."

"Makasih ya, Eva. Kamu banyak bantu saya hari ini." Rafa mengucap dengan tulus.

Lagi, Eva mengangguk sebagai balasan.

"Selama beberapa minggu, mungkin bulan, saya nggak balik ke kos dulu. Kamu sama teman-teman kamu tetap hati-hati di sana. Ingat jam malam. Kunci gerbang."

"Iya, Pak. Aman." Eva mengatakannya dengan yakin. Dia tahu penjagaan dan aturan kos sangat ketat. Tetapi, itu wajar karena kos hanya dihuni oleh perempuan.

"Anak Bapak ke mana?" tanya Eva yang menyadari sejak pulang dari pemakaman, bayi itu tidak terlihat.

"Dia tidur sama kakak saya."

"Bapak nggak ada niat gitu buat cari ibu baru buat anak bapak?" tanya Eva dengan nada bercanda. Dia bisa melakukannya, karena melihat Rafa cukup santai sekarang.

"Kamu mau?" tanya Rafa.

Bab 2

Berulang kali, Eva membolak-balik tubuhnya sambil menutupi telinganya dengan bantal. Dia berusaha tertidur lagi, tapi terganggu oleh suara tangisan bayi. Bahkan, dia sudah menyumpal telinga dengan earphone dan memutar instrumen penenang jiwa. Usaha untuk melanjutkan tidur tetap saja gagal gara-gara bayi itu.

"Anak siapa sih yang nangis terus? Emak bapaknya nggak kasihan apa liat anaknya nggak berhenti nangis?"

Eva melempar asal bantalnya, lalu terduduk. Dia mengembuskan napas kasar.

"Padahal ini hari pertama aku bisa istirahat setelah seminggu penuh ujian akhir semester. Aku relain nggak pulang biar bisa tenang di kos. Tidur puas tanpa dengar ceramah mama papa yang selalu nyuruh cepat lulus."

Eva merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu komunikasi. Dia mahasiswa yang pintar tapi minim kepedulian terhadap nilai dan mata kuliahnya sehingga semuanya menjadi berantakan dan nilai-nilainya anjlok.

Hari ini menjadi hari kebebasannya setelah berperang dengan materi-materi kuliah, makalah atau laporan pengganti ujian dan soal-soal ujian. Dia berencana menghabiskan harinya dengan tidur sepuasnya.

Pagi tadi, teman-teman kosnya sudah pamit pulang ke kampung halamannya masing-masing. Meninggalkan Eva sendirian di kos. Libur panjang setelah ujian akhir semester memang disambut bahagia oleh semua mahasiswa, kecuali Eva.

"Ini nggak bisa dibiarin, aku harus marahin emak bapaknya tuh bayi. Masa nggak ada usaha buat tenangin anaknya sih?"

Eva bangkit berdiri. Menarik sembarangan kardigan untuk menutupi pakaian tidurnya yang lusuh. Dia menutup pintu kamarnya dengan membanting keras.

"Eh, aduh. Bodoh banget sih Eva." Dia mengutuk dirinya setelah menyadari kesalahan yang diperbuatnya. "Itu pintu susah dibuka dari luar. Gagang pintunya rusak. Nanti cara kamu masuk gimana? Otak nggak dipake sih kalau udah kesel. Main banting-banting segala."

Eva mengata-ngatai dirinya sendiri yang kadang tidak bisa mengontrol emosinya. Meskipun belum menemukan solusi membuka pintunya, dia berjalan mengikuti sumber suara tangisan bayi.

Dia terhenti di depan rumah pemilik kos atau sering disebut rumah utama. Dia memandangi pintu rumah itu tanpa melakukan apapun.

"Masa iya, bapak kos udah balik. Bukannya dia tinggal di rumah kakaknya ya?"

Eva mengingat perkataan bapak kosnya bahwa ibu kos yang meninggal setelah melahirkan anaknya. Bapak kosnya akan tinggal di rumah kakaknya sementara waktu agar anaknya terurus. Kejadian itu sudah berlalu tiga bulan lalu. Selama itu, rumah utama sengaja dikosongkan. Itu kali terakhir, Eva bertemu dengan bapak kosnya. Eva tipe anak kos yang jarang bertemu bapak kos, kecuali jika pintu kamarnya bermasalah lagi atau toiletnya sedang buntu. Kebetulan saja hari itu, dia ikut mengantar jenazah istri bapak kos.

"Apa itu suara anaknya bapak kos? Kasihan banget anak itu. Ibunya meninggal di hari kelahirannya."

"Apakah bayi itu sudah besar? Waktu aku gendong, dia masih merah."

Eva mengangkat tangannya hendak memencet bel, namun tertahan di udara. Dia tidak tahu harus menegur bapak kosnya yang membiarkan bayi itu menangis kencang dan menganggu istirahat Eva. Atau Eva membiarkan saja bayi itu menangis. Tapi, Eva tidak tega mendengarnya. Dia khawatir kalau bapak kosnya ketiduran dan tidak melihat bayinya yang jatuh, mungkin.

"Aku harus mengeceknya," kata Eva kemudian memencet bel.

Hanya sekali dan dia memilih menunggu sang empunya rumah. Jika lama tidak ada yang keluar, Eva akan menerobos masuk untuk memeriksa kondisi bayi itu.

"Eh, suara tangis bayi kok hilang?" Eva menempelkan telinga ke daun pintu.

Dia bisa mendengar langkah kaki menuju pintu. Cepat-cepat Eva menjauhi daun pintu dan berdiri agak jauh.

Seorang pria yang Eva kenali sebagai bapak kos keluar sambil menggendong bayi. Pria itu tampak kaget melihat keberadaan Eva di depan rumahnya.

"Pak, anaknya kenapa?" tanya Eva. Dia tidak lupa menampilkan senyuman pada pria itu.

"Ternyata kamu," ucap bapak kos terlihat kecewa dengan kedatangan Eva. "Ada apa, kamu perlu sesuatu?"

Pertanyaan itu yang selalu Eva dengar ketika berkunjung ke rumah utama. Wajar saja, penyewa kos datang ke rumah utama tentu membutuhkan atau melaporkan sesuatu.

Berbeda kali ini, Eva menunjuk bayi dalam gendongan bapak kos dan mengulang pertanyaannya, "Anak Bapak kenapa menangis?"

Sejujurnya, Eva merasa kurang nyaman jika memanggil pria itu dengan sebutan bapak. Yang terlihat, bapak kos itu belum terlalu tua. Umurnya sekitar 28 tahun. Lebih cocok dipanggil Mas. Tetapi atas dasar kesopanan dan segan, akhirnya semua anak kos memanggilnya bapak kos.

"Ini nih, dia lagi pup. Saya bingung cara gantinya." Dengan suara berbisik, bapak kos tampak malu mengatakannya.

"Saya bantuin ganti popoknya, boleh?" Eva menawarkan diri. Lenyap sudah kemarahannya Eva, menyisakan rasa kasihan pada bayi itu.

"Kamu bisa?" tanya bapak kos tampak ragu.

"Aku pernah menggantikan popoknya bayi, sekali." Evan mencicit di akhir kalimatnya. Dia pun ragu menggantikan popok bayi bapak kos. Atas dasar kasihanlah yang mendorongnya untuk menawarkan diri membantu.

Bayi yang pernah Eva gantikan popoknya adalah ponakannya sendiri yang berumur 2 tahun saat itu. Meskipun sama-sama batita, Eva yakin cara menggantinya tetap sama. Eva hanya perlu tempo yang lebih pelan dan halus untuk menggantikan popok bayi mungil bapak kos.

"Baiklah. Kamu masuk dulu." Bapak kos mempersilahkan. Ada binar-binar bahagia di wajahnya yang sempat tertekuk dan sedih sebelumnya.

Eva mengekor di belakang bapak kos memasuki rumah. Bapak kos meletakkan bayi mungil itu di karpet berbahan super lembut di ruang tengah. Dia berlalu menuju salah satu kamar di rumah itu.

Eva memperhatikan bayi mungil itu yang sudah sejak tadi berhenti menangis, namun bekas-bekas amukannya masih tersisa di wajahnya yang memerah. Eva tersenyum melihatnya.

'Sangat menggemaskan,' batin Eva tidak tahan ingin mencubit pipi gembul bayi itu.

Ada getaran aneh yang Eva rasakan ketika bertatapan mata dengan bayi itu. Eva yakin, bayi itu sudah bisa melihatnya. Dan Eva dibuat jatuh cinta oleh pandangan pertama bayi itu.

Eva sangat tertantang untuk mencium bayi itu. Dia mendekatkan wajahnya ke bayi mungil yang sedang memainkan tangannya. Ketika hampir menyentuh dahi bayi itu, Eva mendorong wajahnya dengan tangannya sendiri agar tidak lancang mencium bayi itu.

"Nakal banget sih pikiran gue. Mau sosor anak orang."

Eva memarahi dirinya sendiri yang hampir melewati batas. Daripada mencium bayi itu, Eva hanya menoel-noel pipinya. Eva juga mengajaknya berinteraksi dengan menggerakkan kepala dan mulutnya. Membentuk berbagai macam ekspresi untuk ditunjukkan pada bayi itu. Eva memulai aksi komunikasi bayi.

Bapak kos kembali bergabung dengan peralatan bayi yang diletakkan di samping Eva.

"Eva, saya mau minta bantuan kamu satu hal lagi," pinta bapak kos kurang enak.

"Apa itu, Pak?" tanya Eva.

"Popok bayi saya nggak ada. Kamu mau jaga anak saya saja di sini atau bantu saya beli popok." Bapak kos memberi pilihan.

"Jaga dia!" Eva menunjuk bayi itu tanpa ragu dan penuh semangat.

Bayi itu memiliki magnet yang membuat Eva tidak bisa meninggalkannya. Eva tersenyum bahagia ketika bayi itu menangkap telunjuknya dan menggenggam erat.

"Lihat pak! Anak bapak melarang saya pergi. Dia nahan saya. Bapak saja yang pergi beli popok. Percayakan bayi bapak sama saya." Eva tersenyum lebar sehingga menampilkan deretan giginya yang sedikit kuning.

Eva lupa menggosok gigi sebelum ke rumah bapak kos. Untung saja, Eva tidak bau mulut. Kemarahannya tadi yang dia niatkan akan ditumpahkan kepada bapak kos berubah haluan. Dia menjadi bahagia dalam sekejap hanya dengan melihat bayi mungil yang cantik itu.

Bapak kos itu geleng-geleng melihat perempuan muda ini yang penuh antusiasme.

"Baiklah. Nak, Kamu sama Kakak Eva dulu ya. Papa mau keluar sebentar. Jangan rewel dan jadi anak penurut sama Kak Eva. Ok?" Bapak kos menjawil pipi bayinya dan menciumnya.

Interaksi bapak dan anak itu tidak lepas dari penglihatan Eva. Perasaannya menghangat melihat bapak kos begitu mencintai dan penuh kasih pada bayinya.

"Pak, aku mau cium juga." Eva keceplosan.

Bab 3

Setelah ucapan spontan yang diucapkan Eva. Yang membuat wajahnya dan wajah bapak kos berubah kaget. Keduanya kompak membuang muka karena salah tingkah.

Eva tidak memiliki pemikiran lain dari perkataannya. Dia hanya ingin meminta izin mencium bayi itu juga, tapi waktu yang dipilihnya ternyata salah. Perkataan yang membuatnya malu karena kesalahpahaman di pemikiran keduanya.

"Saya ... saya ke supermarket depan dulu. Titip Arumi. Saya segera kembali. Secepatnya." Bapak kos segera pamit untuk menghindari kegugupan dan rasa canggung yang masih membungkus Eva dan dirinya.

Eva hanya mengangguk pelan.

Ditinggal berdua dengan bayi mungil itu membuat Eva tidak bisa melakukan hal banyak selain mengajak bayi itu berinteraksi. Eva tidak berani meninggalkan tempat duduknya karena khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang hilang dari rumah ini, pasti dia yang akan dituduh. Meskipun Eva tidak pernah punya niat mengambil apapun, tapi namanya masalah akan menghampiri walaupun bukan dia penyebabnya.

Sesaat, Eva menunjukkan mainan bebek plastik ke depan wajah Arumi, tiba-tiba tangisan bayi itu pecah. Eva panik dan buru-buru ingin menggendongnya. Dia bingung harus menggendong dengan bersandar di dada dan bertumpu di bahunya atau menggendong dengan membaringkan di lengan.

"Aduh, gimana sih cara gendongnya?" tanya Eva pada diri sendiri.

"Lehernya udah bisa nahan nggak sih ini? Kalau berdasarkan umurnya, udah bisa. Tapi kalau pas aku gendong ternyata belum nahan lehernya, gimana dong? Bisa-bisa, aku bunuh anak orang."

Eva bolak-balik menyentuh lengan bayi itu. Ragu-ragu menyelimutinya. Masih dengan pikirannya yang berusaha mencari jalan keluar, dia dikejutkan dengan tangisan bayi itu yang semakin kencang.

Tanpa pikir panjang lagi, dia mengangkat bayi itu dan membuat lengan yang tidak seberapa panjang itu sebagai penyangga bayi itu. Memastikan kepala, leher, punggung dan pantat bayi tertahan dengan baik.

Eva menimang-nimang agar bayi itu tenang. Cukup lama Eva melakukan itu sambil mengeluarkan suara yang mengungkapkan rasa sayang pada bayi itu. Sesekali dia juga memasang ekspresi ikut sedih. Akhirnya, bayi itu diam dan menatap lurus pada Eva.

Eva bernapas lega melihat bayi itu sudah diam. "Sayang, kamu kenapa nangis-nangis, huum? Tenang ya, ada Kakak Eva yang jagain. Ututututut sayang-sayang."

Eva tidak sadar jika dia menggendong Arumi keluar rumah saking paniknya. Dia terus-menerus menggoyangkan tangannya agar bayi dalam gendongannya merasa nyaman.

Tawa Eva pecah ketika melihat bayi itu kesulitan membuka mata karena silau dengan cahaya luar rumah.

"Kenapa, Sayang? Silau ya?" tanya Eva gemas. "Mau masuk aja ya? Nggak sanggup melihat di sini? Iya?"

Eva berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tetapi, suara teriakan memanggil namanya membuat dia berbalik lagi. Dan betapa kagetnya Eva ketika melihat ada orangtuanya terpaku di sana. Eva yakin, yang meneriakinya tadi adalah mamanya. Sedangkan, di belakang mama, ada ayahnya yang menatap kecewa Eva.

"Ma-mama, Papa. Kok mereka bisa ada di sini?"

Dengan langkah lebar, mama dan papa Eva mendekat. Setibanya di hadapan Eva, tatapan tajam itu berganti menatap bayi dalam gendongan Eva.

"Eva! Ini bayi siapa?!" tanya mama Eva penuh penekanan.

"Ini, ini tuh ... ini anak ...," Eva gugup sekaligus takut pada kemarahan mamanya. Dia tidak tahu penyebab kemarahan mamanya. Tapi itu benar-benar menakutkan.

"Eva! Mama tanya, ini bayi siapa?! Apa ini bayi kamu? Jadi ini alasan kamu nggak pernah mau balik ke rumah kalau libur kuliah. Ternyata, kamu punya anak di sini?"

"Ma, bukan gitu. Ini bukan bayi aku. Tapi tolong, mama jangan teriak-teriak di depan bayi ini. Itu nggak baik untuk anak ini. Dia belum bisa mendengar suara terlalu keras. Kalau dia terkejut bisa bahaya, Ma."

"Eva! Berani sekali kamu menegur mama!" Mama Eva semakin murka.

"Ma, bener kata Eva. Jangan berteriak di dekat bayi." Papa Eva berusaha menenangkan dengan mengusap lembut lengan istrinya.

"Papa, diam saja!" bentak Mama Eva menepis tangan papa Eva. "Anak ini sudah membohongi kita. Dia tidak pernah pulang selama libur kuliah. Sudah 2 tahun, dia tidak pulang-pulang. Itu pasti karena bayi ini. Dia menyembunyikan bayi ini dari kita. Pergaulannya bebas di sini, Pa."

"Mama!" Eva ikut meninggikan suara. Menegur ucapan mamanya yang mulai melantur.

Dia tidak terima dituduh macam-macam oleh mamanya sendiri. Memang benar, dia tidak pulang selama dua tahun. Itu karena dia malas mendengar ocehan mamanya dan tante-tante yang punya mulut besar itu. Dia malas dituntut harus bisa ini dan itu.

Teriakan Eva menganggu bayi itu. Bayi mungil itu menangis kencang. Pasti bayi ini merasa tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya yang memanas. Tangisan bayi itu mengisi ruang-ruang kosong pertengkaran antara Eva dan mamanya.

"Mama, nggak tahu apapun yang terjadi di sini. Mama nggak seharusnya menuduh aku seperti itu. Aku anak mama. Apa pantas seorang ibu menuduh anaknya dengan keburukan?"

"Eva! Mama ...." Ucapan mama Eva terpotong oleh kehadiran dan suara panik seseorang.

"Eva, Arumi kenapa?" Bapak kos yang bernama Rafa itu segera mengambil alih bayinya. Dia berusaha menenangkan bayinya dan tidak memperhatikan kehadiran orang tua Eva yang menatap bingung padanya.

"Nak. Cup-cup-cup-cup, udah ya sayang nangisnya." Rafa berusaha mengentikan tangisan bayinya.

"Eva! Dia, ayah dari bayi itu?" tanya Papa Eva dengan suara tenang.

"Iya, Pa." Kali ini, Eva bisa menjawab dengan suara terkontrol. Matanya tidak lepas dari bayi mungil itu. Sepertinya bayi itu ketakutan. Dia terus menangis.

Mama Eva yang mendengar jawaban putrinya hendak menarik kerah baju Rafa, namun ditahan Eva. Dia menatap Eva dengan tatapan tanya. Dia menjadi geram karena dihentikan.

"Ma, jangan memperkeruh masalah. Eva nggak mau dibuat malu oleh dugaan melantur Mama."

"Lihat anak ini. Lihat, Pa. Dia sudah berani membela pria itu secara terang-terangan. Mama tidak salah lagi. Kalian ...." Mama Eva tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia berbalik memunggungi Eva.

"Eva, bantu dia tenangin bayi itu dulu. Papa mau tenangin mama dulu. Nanti kita lanjutkan bicara. Papa percaya sama kamu."

Mata Eva berkaca-kaca menatap papanya. Dia, Papa Eva adalah orang paling Eva sayangi dan hormati. Papa Eva memiliki watak tenang dan bijaksana, selalu menilai segala sesuatu dengan pandangan luas. Berbanding terbalik dengan mamanya yang tidak sabaran, posesif dan suka marah-marah. Tapi, dibalik sifat bertolakbelakang orangtuanya, Eva sangat menyayangi mereka. Sifat yang berbeda itu justru menghidupkan rumah mereka. Itulah kejutan dari seorang jodoh.

"Eva, nggak seperti yang mama pikir, Pa. Papa harus percaya itu. Aku akan menjelaskan semuanya ketika mama sudah tenang. Biar mama bisa menilai bahwa Eva tidak melakukan apapun apalagi bertindak bodoh seperti yang mama pikirkan."

Papa Eva mengangguk dan tersenyum. Dia menepuk sekali pundak putrinya dan menarik istrinya sedikit menjauh dari rumah utama.

"Pak, maafin saya dan orang tua saya ya. Arumi sampai nangis ketakutan begitu." Eva mendekat ke Rafa. Dia menundukkan wajah, malu dengan keributan yang dia sebabkan.

"Tidak apa-apa, Eva. Arumi mungkin kaget dengan suara keras. Itu bukan kesalahan kamu."

"Pak, boleh saya gendong Arumi. Biar saya yang tenangin dia. Aku penyebab dia nangis, karena itu aku harus bertanggung jawab."

Setelah Rafa mengangguk, Eva memindahkan Arumi ke pelukannya. Dia melakukan hal yang sama saat dia menenangkan Arumi tadi—sebelum mama dan papanya datang.

Berhasil.

Arumi berhenti menangis dan berusaha meraih wajah Eva. Di depan mereka, Rafa terpesona dengan kemampuan Eva menenangkan bayinya.

'Semudah itu, Eva mampu mendiamkan Arumi.' Rafa membatin.

Rafa tertegun, kemudian berdeham. Dia menyadari suatu hal. "Sepertinya, Arumi menyukaimu," celetuk Rafa.

"Hah!" Eva kehabisan kosakata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED