Pagi itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Anjani. Bukan hanya mendung biasa, melainkan badai yang baru saja menerjang hidupnya, meninggalkan puing-puing kepedihan yang sulit untuk disatukan kembali. Beberapa hari yang lalu, vonis dokter bagaikan palu godam yang menghantam: ia tidak bisa memiliki anak. Rahimmya terlalu lemah, impian tentang tawa riang buah hati, tentang tangan-tangan mungil yang menggenggam jari-jarinya, semua sirna dalam sekejap. Kata-kata "infertilitas primer" masih terngiang, bergema memilukan di setiap sudut kamarnya.
Anjani mengusap air mata yang tak henti mengalir. Ia duduk bersimpuh di lantai dingin, memeluk kedua lututnya erat-erat, seolah mencari perlindungan dari kenyataan yang begitu kejam. Foto pernikahannya dengan Bagas tergeletak di atas nakas, menampilkan senyum-senyum bahagia yang kini terasa begitu asing, begitu palsu. Bagas, cinta pertamanya, belahan jiwanya, kini justru menjadi sumber luka yang paling dalam.
"Untuk apa lagi aku mempertahankannya?" gumam Bagas kala itu, suaranya dingin, tanpa jejak kehangatan yang dulu selalu Anjani kenal. Matanya menatap Anjani dengan pandangan hampa, seolah Anjani adalah benda tak berharga yang patut disingkirkan. "Aku butuh penerus, Anjani. Keluarga kita butuh garis keturunan."
Anjani ingat betul bagaimana kata-kata itu menusuknya lebih dalam dari pisau manapun. Hatinya mencelos, tercekat. Ia mencoba meraih tangan Bagas, berharap ada sedikit belas kasih di sana, sedikit pengertian. Namun, Bagas menepisnya. "Jangan sentuh aku," desisnya. "Kau menjijikkan."
Kata 'menjijikkan' itu melayang di udara, menancap di ulu hati Anjani, membuat napasnya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka, cinta yang dulu mereka rajut dengan begitu indah, janji-janji setia yang terucap di hadapan Tuhan, kini hancur lebur hanya karena satu vonis medis. Ia bukan lagi Anjani yang dicintai, melainkan sekadar rahim yang gagal, sebuah wadah kosong yang tak berguna.
Dan hari ini, puncaknya. Ibu Rita, ibu mertuanya, yang selama ini selalu bersikap manis dan penuh kasih sayang di hadapan Anjani, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kejam dan tak berperasaan. Pagi-pagi sekali, Ibu Rita datang ke rumah mereka, membawa serta beberapa koper besar.
"Anjani, kemasi barang-barangmu," perintah Ibu Rita, suaranya menusuk, tanpa basa-basi. Matanya menatap Anjani dengan jijik, sama seperti tatapan Bagas tempo hari. "Kau sudah tidak ada tempat di sini."
Anjani terkesiap. "Apa maksud, Bu?" tanyanya, suara bergetar.
Ibu Rita mendengus, melipat tangan di dada. "Apa lagi? Bagas akan menikah lagi. Dengan adik tirimu, Sinta."
Dunia Anjani runtuh. Bukan hanya retak, tapi hancur berkeping-keping. Sinta? Adik tirinya? Adik yang ia sayangi, yang ia lindungi, yang ia anggap seperti darah dagingnya sendiri? Bagaimana mungkin?
"Tidak mungkin," bisik Anjani, menggelengkan kepala tak percaya. "Sinta tidak akan melakukan ini padaku."
"Oh, dia akan," sahut Ibu Rita sinis. "Sejak awal, Sinta memang lebih cocok untuk Bagas. Dia muda, subur, dan tentu saja, dia bisa memberikan Bagas apa yang tidak bisa kau berikan: seorang anak."
Air mata Anjani kembali tumpah. Sakit. Sakit sekali. Pengkhianatan ini terasa berkali lipat lebih menyakitkan daripada vonis dokter sekalipun. Orang-orang yang ia cintai, orang-orang yang seharusnya menjadi sandarannya, kini justru menusuknya dari belakang, bersekongkol menghancurkan hidupnya.
Ia berdiri perlahan, merasakan nyeri di setiap persendiannya, seolah tubuhnya pun ikut remuk. Ia menatap Ibu Rita dengan pandangan kosong. "Jadi, selama ini, semua kebaikan itu... hanya sandiwara?"
Ibu Rita hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Itu sudah nasibmu, Anjani. Kau tidak berguna lagi. Sekarang, cepat kemasi barang-barangmu. Bagas tidak ingin melihatmu lagi di sini saat dia pulang nanti."
Seolah ada kekuatan gaib yang mendorongnya, Anjani mulai melangkah ke kamar tidur. Setiap langkah terasa berat, seperti menyeret beban seribu ton. Di lemari pakaian, ia melihat gaun pengantinnya yang tergantung rapi. Dulu, ia membayangkan gaun itu akan menjadi simbol kebahagiaan abadi. Kini, ia hanya melihatnya sebagai kain putih yang menyimpan kenangan pahit.
Dengan tangan gemetar, ia mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel kecil. Tidak banyak barang yang ia bawa. Seolah, ia ingin meninggalkan semua kenangan pahit ini di rumah yang dulunya ia sebut 'rumah impian'. Ia tidak punya tujuan, tidak punya rencana. Hanya ada kehampaan yang mencekiknya.
Ketika ia kembali ke ruang tamu dengan tas di tangan, Bagas sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, tanpa ekspresi. Di sampingnya, Sinta berdiri dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna krem, rambutnya tergerai indah, dan matanya berkilat licik.
Melihat Sinta berdiri di sana, di samping Bagas, Anjani merasakan gejolak amarah yang membakar. Bukan hanya sakit hati, tapi juga kemarahan yang membara. Bagaimana bisa Sinta, adik tirinya, wanita yang ia besarkan, yang ia belikan pakaian, yang ia ajari banyak hal, tega melakukan ini?
"Sudah siap?" tanya Bagas, suaranya tetap dingin.
Anjani tidak menjawab. Ia hanya menatap Bagas dan Sinta bergantian. Ada kebencian yang mulai tumbuh di hatinya, menggantikan rasa sakit yang tak terhingga.
"Anjani, kami tidak ingin ada masalah," kata Sinta, suaranya terdengar lembut, tapi ada nada ejekan yang jelas di dalamnya. "Lebih baik kau pergi saja. Hidupmu akan lebih tenang."
"Tenang?" Anjani tertawa sinis, tawa yang terdengar lebih seperti rintihan. "Bagaimana aku bisa tenang setelah kalian menghancurkanku seperti ini? Kalian bajingan!"
Sinta tersentak. Bagas maju selangkah. "Jaga bicaramu, Anjani!" bentaknya.
"Jaga bicaraku? Setelah kalian menginjak-injak hatiku, setelah kalian membuangku seperti sampah? Apa yang harus kujaga?!" Anjani tidak bisa menahan emosinya lagi. Semua kekecewaan, kemarahan, dan rasa sakit yang ia rasakan meledak. "Kau, Bagas, kau suami macam apa?! Dan kau, Sinta, kau adik macam apa?! Kalian berdua adalah iblis! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!"
Bagas mencengkeram lengannya. "Keluar dari rumahku sekarang juga!"
Anjani menarik tangannya dengan kasar. "Baik! Aku akan pergi! Tapi ingat ini baik-baik, Bagas! Dan kau, Sinta! Aku akan kembali! Aku tidak akan melupakan ini! Aku bersumpah, aku akan membalas perbuatan kalian!"
Dengan air mata dan amarah yang memuncak, Anjani berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu. Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah. Yang ia tahu, ia harus pergi sejauh mungkin dari tempat ini, dari orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Anjani berjalan tanpa arah, air mata membasahi pipinya yang dingin. Ia tidak tahu berapa lama ia sudah berjalan, atau ke mana tujuannya. Kota Jakarta yang ramai terasa begitu asing, begitu kejam. Setiap orang yang berpapasan dengannya seolah tidak melihat penderitaannya. Dunia tetap berputar, sementara dunianya hancur berkeping-keping.
Ia menemukan dirinya duduk di bangku taman yang sepi, di bawah pohon beringin tua. Daun-daun berguguran, mencerminkan perasaannya yang rontok. Ia mengeluarkan ponselnya, berharap ada seseorang yang bisa ia hubungi, seseorang yang bisa memberinya sedikit kekuatan. Namun, daftarnya terasa kosong. Orang tuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia hanya memiliki Bagas dan Sinta, dan kini, mereka adalah musuhnya.
"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya pada angin. "Aku tidak punya apa-apa lagi."
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Ayah" tertera di layar. Bukan ayah kandungnya, melainkan Pak Rahmat, ayah tirinya. Pria yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal, dan membawa Sinta ke dalam hidup mereka. Anjani dan Pak Rahmat tidak pernah memiliki hubungan yang hangat. Sejak dulu, Pak Rahmat selalu terlihat acuh tak acuh padanya, dan lebih memihak Sinta.
Anjani ragu sejenak, namun akhirnya mengangkat panggilan itu. "Halo, Ayah?"
Suara Pak Rahmat terdengar berat dan tergesa-gesa. "Anjani, kau harus pulang sekarang! Ada masalah besar!"
"Masalah apa?" Anjani merasakan firasat buruk.
"Ayah... Ayah terlilit utang. Sangat besar. Ayah bermain judi online dan sekarang... sekarang para rentenir mengancam akan membunuh Ayah jika Ayah tidak bisa membayar. Dan satu-satunya cara..." Suara Pak Rahmat tercekat. "Satu-satunya cara adalah kau harus menikah."
Anjani terkesiap. Menikah? Lagi? Setelah semua yang terjadi? "Menikah dengan siapa?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Dengan... dengan seorang pria bernama Bima. Dia... dia lumpuh. Tapi dia kaya raya. Keluarga mereka bersedia melunasi semua utang Ayah, asalkan kau bersedia menikah dengannya."
Dunia Anjani kembali berputar. Ini bukan mimpi buruk, ini adalah kenyataan yang lebih mengerikan dari mimpi terburuk sekalipun. Setelah dicampakkan karena tidak bisa memiliki anak, ia kini dipaksa menikah dengan pria lumpuh demi melunasi utang-utang ayah tirinya yang sembrono. Takdir seolah sedang mempermainkannya, melemparkannya dari satu jurang ke jurang lainnya.
"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa," Anjani menggelengkan kepala, air mata kembali membanjiri wajahnya. "Aku tidak bisa."
"Kau harus, Anjani! Ini demi keselamatan Ayah! Jika kau tidak mau, mereka akan membunuh Ayah! Apa kau tega melihat Ayah mati di tangan para penagih utang itu?!" Suara Pak Rahmat terdengar putus asa, bercampur dengan ancaman terselubung.
Anjani terdiam. Meskipun hubungan mereka tidak pernah baik, Pak Rahmat adalah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya setelah Sinta dan Bagas mengkhianatinya. Ia tidak bisa membayangkan jika Pak Rahmat benar-benar celaka. Beban itu terlalu berat untuk ia tanggung.
Namun, menikah lagi? Dengan pria yang bahkan belum ia kenal, yang lumpuh, dan semua ini hanya demi melunasi utang? Rasanya seperti menjual diri, menjual sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki.
"Ayah, apa tidak ada cara lain?" Anjani mencoba mencari celah.
"Tidak ada! Ini satu-satunya jalan! Pernikahan ini harus terjadi dalam seminggu! Mereka sudah tidak sabar!"
Anjani merasakan lehernya tercekat. Seminggu? Begitu cepat? Ia bahkan belum sempat mencerna semua kejadian hari ini. Hatinya hancur, jiwanya lelah. Bagaimana ia bisa menjalani hidup baru di tengah kekacauan ini?
"Anjani, Ayah mohon..." Suara Pak Rahmat terdengar seperti rintihan.
Anjani memejamkan mata. Ia merasa terjebak dalam labirin yang gelap, tanpa jalan keluar. Di satu sisi, ia tidak ingin Pak Rahmat celaka. Di sisi lain, ia tidak ingin mengorbankan hidupnya lagi.
Pikirannya berputar-putar. Mengapa semua ini harus terjadi padanya? Mengapa ia harus selalu menjadi korban? Dibuang suami, dikhianati adik, dan sekarang dipaksa menikah demi utang ayah tiri. Hidupnya terasa seperti lelucon pahit yang tak ada habisnya.
Namun, di tengah keputusasaan itu, secercah api kecil mulai menyala di dasar hatinya. Api amarah. Api dendam. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus diinjak-injak. Ia tidak akan membiarkan Bagas dan Sinta hidup bahagia di atas penderitaannya.
Jika ia harus menikah dengan Bima, pria lumpuh yang kaya raya itu, maka biarlah. Ia akan menggunakan pernikahan ini sebagai jembatan. Jembatan untuk bangkit, jembatan untuk mendapatkan kekuatan, dan jembatan untuk membalas semua perlakuan keji yang ia terima.
Ia teringat kembali tatapan mata Sinta yang penuh kemenangan, senyum licik yang mengukir di bibirnya. Ia teringat bagaimana Bagas menatapnya seolah ia adalah sampah. Tidak, ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.
"Baik, Ayah," kata Anjani, suaranya terdengar dingin dan mantap, bahkan mengejutkan dirinya sendiri. "Aku akan menikah dengannya."
Ada kelegaan yang jelas dalam suara Pak Rahmat. "Terima kasih, Anjani! Terima kasih! Ayah akan kirimkan alamatnya. Kau harus menemuinya besok."
Anjani mengakhiri panggilan. Ia menatap langit kelabu di atasnya. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tekad yang membara.
Ini bukan akhir baginya. Ini adalah awal. Awal dari sebuah perjalanan balas dendam. Awal dari perjuangan untuk mendapatkan kembali hidupnya. Ia akan menerima perjodohan ini, ia akan menjalani pernikahan itu, tetapi ia tidak akan menjadi Anjani yang lemah dan tertindas lagi.
Ia akan menjadi wanita yang kuat, wanita yang bangkit dari keterpurukan, dan wanita yang akan membuat Bagas dan Sinta menyesali perbuatan mereka. Dengan tatapan kosong, ia melihat bayangan dirinya di genangan air hujan. Bayangan itu tampak rapuh, namun di dalamnya, ada percikan api yang siap membakar.
Perjodohan dengan Bima adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, itu adalah pembebasan dari ancaman utang Pak Rahmat. Di sisi lain, itu adalah pintu masuk ke dunia yang sama sekali baru, dunia yang belum ia pahami. Namun, Anjani tahu satu hal: ia tidak akan menyerah.
Ia harus mencari tahu siapa Bima, pria lumpuh yang akan menjadi suaminya. Mengapa keluarganya mau menanggung utang sebesar itu hanya untuk pernikahan ini? Pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar "kaya raya". Mungkin ada rahasia, mungkin ada motif tersembunyi. Anjani harus bersiap.
Ia mengepalkan tangannya. Rasa sakit di hatinya tidak hilang, tapi kini ia merasa memiliki tujuan. Tujuan untuk membalas dendam, tujuan untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Malam itu, Anjani tidak bisa tidur. Pikirannya melayang-layang, membayangkan skenario terburuk dan terbaik dari pernikahannya yang akan datang. Ia membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama seorang pria yang lumpuh, bagaimana ia akan beradaptasi dengan keterbatasannya. Ia juga membayangkan bagaimana caranya mengumpulkan kekuatan, bagaimana ia bisa menggunakan posisinya sebagai istri dari seorang pria kaya untuk merencanakan balas dendamnya.
Ia harus pintar. Ia harus strategis. Ia tidak bisa bertindak gegabah. Bagas dan Sinta mungkin meremehkannya, mengira ia sudah hancur tak berdaya. Tapi mereka salah. Anjani yang sekarang, Anjani yang dipenuhi luka dan amarah, adalah Anjani yang berbahaya.
Esok pagi, Anjani berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, wajahnya pucat. Namun, di matanya, ada kilatan tekad yang membara. Ia mengikat rambutnya ke belakang, seolah mengikat semua kelemahan dan keraguan yang ia rasakan.
Ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Babak di mana ia akan bangkit dari abu, babak di mana ia akan berjuang untuk dirinya sendiri, dan babak di mana ia akan membalas setiap tetes air mata dan setiap rasa sakit yang telah Bagas dan Sinta torehkan padanya.
Anjani yang dulu, yang lugu dan mudah percaya, telah mati. Kini, yang tersisa adalah Anjani yang baru, yang siap menghadapi segala rintangan, yang siap berjuang untuk kehidupannya, dan yang siap untuk membalas dendam.
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa serta janji sebuah hari yang baru, namun bagi Anjani, ia terasa seperti permulaan sebuah siksaan yang lain. Semalam ia tidak tidur. Kata-kata Pak Rahmat, tentang perjodohan dengan Bima, pria lumpuh yang akan melunasi semua utangnya, terus berputar di benaknya. Ini adalah langkah yang mengerikan, namun juga satu-satunya jalan keluar yang ia miliki. Jalan yang penuh duri, tapi mungkin juga jalan menuju kekuasaan yang bisa ia gunakan untuk membalas dendam pada Bagas dan Sinta.
Anjani bangun dari tempat tidur sewaan yang sempit dan kurang nyaman. Ia hanya mampu menyewa kamar kecil di sebuah losmen kumuh dengan sisa uang yang ia miliki. Setiap sudut kamar terasa mencemooh nasibnya. Dinding yang mengelupas, kasur yang tipis, jendela yang menghadap gang sempit-semua berteriak tentang kehancuran hidupnya. Namun, kini ia memiliki tujuan, dan tujuan itu memberinya kekuatan untuk bangkit.
Ia meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Pak Rahmat sudah masuk, berisi alamat kediaman keluarga Bima. Sebuah alamat di kawasan elit Jakarta Selatan, kontras dengan tempat Anjani berada saat ini. "Jalan Camar Biru No. 17." Sebuah alamat yang terukir di benaknya, gerbang menuju babak baru yang tak terduga.
Anjani mandi dengan cepat, membasuh sisa-sisa air mata dan keputusasaan yang melekat di kulitnya. Ia mengenakan satu-satunya setelan pakaian formal yang ia bawa: blus putih sederhana dan rok hitam. Rambutnya ia kuncir rapi. Ia berusaha keras untuk terlihat tegar, meski hatinya terasa seperti remahan biskuit. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapan keluarga Bima, apalagi di hadapan Bima sendiri. Ia harus tampil sebagai wanita yang berharga, yang layak untuk dinikahi, bukan sebagai wanita yang terbuang dan putus asa.
Sebelum berangkat, ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Matanya masih sembab, tapi kini ada percikan api di sana, percikan tekad yang membara. "Ini bukan untuk mereka," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Ini untukmu, Anjani. Untuk balas dendammu."
Ia keluar dari losmen, udara pagi Jakarta yang panas langsung menyergapnya. Ia memutuskan untuk naik taksi online, meski ia tahu itu akan menguras sebagian besar uangnya. Ia tidak ingin terlambat, dan ia tidak ingin tiba dalam keadaan lusuh.
Perjalanan terasa sangat lama. Setiap gedung pencakar langit yang menjulang, setiap mobil mewah yang melintas, seolah menertawakan kemiskinan dan penderitaannya. Anjani menekan gejolak emosi di dadanya, membiarkan kemarahan menjadi bahan bakar.
Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gerbang hitam besar yang menjulang tinggi, diapit tembok batu alam yang kokoh. Ini bukan sekadar rumah, melainkan sebuah kompleks megah. Gerbang itu terbuka otomatis, menampakkan taman yang terawat sempurna dengan air mancur di tengahnya. Sebuah mansion bergaya Eropa klasik berdiri anggun di ujung jalan berliku, dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga eksotis.
Anjani merasakan lututnya sedikit gemetar. Ini adalah dunia yang sangat berbeda dari yang pernah ia kenal. Ia terbiasa hidup sederhana, bahkan setelah menikah dengan Bagas pun, rumah mereka tidak semewah ini. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia adalah Anjani, bukan lagi gadis polos yang mudah diinjak-injak.
Seorang pria berseragam membukakan pintu mobil untuknya. Anjani melangkah keluar, kakinya menapak di atas kerikil putih bersih. Aroma bunga melati dan mawar samar-samar tercium di udara. Ia berjalan perlahan menuju pintu utama mansion, yang terbuat dari kayu jati ukiran, terlihat begitu kokoh dan megah.
Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan wanita dengan seragam rapi tersenyum ramah padanya. "Selamat pagi, Nona Anjani. Silakan masuk. Tuan dan Nyonya sudah menunggu."
Anjani mengangguk, melangkah masuk ke dalam mansion. Interiornya jauh lebih mewah dari yang ia bayangkan. Lantai marmer berkilau memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai di langit-langit tinggi. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding, dan perabotan antik tertata rapi di setiap sudut. Ini adalah kekayaan yang nyaris tak terbayangkan.
Ia diantar ke sebuah ruang tamu yang luas. Di sana, duduk sepasang suami istri paruh baya, yang Anjani yakini adalah Tuan Arion dan Nyonya Diana, orang tua Bima. Mereka mengenakan pakaian yang raawat dan berkelas. Nyonya Diana tersenyum tipis, tapi matanya terlihat menilai. Tuan Arion tampak serius, dengan tatapan tajam yang sulit ditebak.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya," sapa Anjani, berusaha terdengar sopan dan tenang.
"Selamat pagi, Anjani," sahut Nyonya Diana, suaranya lembut namun berwibawa. "Silakan duduk."
Anjani duduk di sofa empuk, punggungnya tegak. Ia mencoba mengamati ekspresi mereka, mencari tahu apa yang ada di benak mereka.
"Jadi, Anda sudah tahu maksud kedatangan kami?" tanya Tuan Arion, suaranya dalam dan tegas.
Anjani mengangguk. "Ya, Pak. Pak Rahmat sudah menjelaskan situasinya."
"Baik. Kami tidak akan berbasa-basi. Kami tahu Anda sedang dalam kesulitan, dan kami bersedia membantu melunasi semua utang ayah tiri Anda," lanjut Tuan Arion, langsung ke intinya. "Sebagai gantinya, Anda harus bersedia menikah dengan putra kami, Bima."
"Saya mengerti," jawab Anjani, suaranya mantap.
Nyonya Diana menatapnya lekat-lekat. "Kami tahu ini mungkin terdengar mendadak dan tidak adil bagi Anda, Anjani. Tapi kami perlu jaminan bahwa Anda tulus. Bima... dia sudah melewati banyak hal. Kami tidak ingin dia terluka lagi."
"Saya akan berusaha menjadi istri yang baik," Anjani berjanji, berusaha terdengar meyakinkan. "Saya mengerti kondisi Tuan Bima."
"Mengerti kondisi putra kami?" Tuan Arion mengangkat alis. "Apakah Anda tahu bahwa Bima... lumpuh total? Dia bahkan tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya sendiri."
Jantung Anjani berdesir. Pak Rahmat mengatakan Bima lumpuh, tapi ia tidak menyangka separah itu. Total? Ia bahkan tidak bisa bergerak? Gambaran tentang kehidupan pernikahannya kelak mendadak menjadi jauh lebih kompleks. Ini bukan sekadar pernikahan tanpa cinta, ini adalah pernikahan dengan seseorang yang benar-benar bergantung padanya.
"Saya... saya tahu dia lumpuh," kata Anjani, berusaha menutupi keterkejutannya. "Pak Rahmat mengatakan itu."
"Tapi apakah Anda tahu seberapa parah kondisinya?" Nyonya Diana menambahkan, seolah ingin memastikan ia tidak salah paham. "Dia membutuhkan perawatan penuh waktu. Ada perawat khusus, tapi sebagai istrinya, Anda juga diharapkan untuk mendampinginya."
Anjani menarik napas dalam-dalam. Balas dendam memang penting, tapi apakah ini harga yang harus ia bayar? Menjadi perawat seumur hidup? Sebuah penjara emas?
Namun, ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, Pak Rahmat akan dalam bahaya. Dan ia tidak bisa membiarkan Bagas dan Sinta berpikir bahwa ia telah kalah sepenuhnya.
"Saya siap," Anjani mengangguk yakin, meskipun hatinya berteriak ragu. "Saya akan merawat Tuan Bima dengan baik."
Tuan Arion dan Nyonya Diana saling bertukar pandang. Ada ekspresi lega yang samar di wajah mereka.
"Baiklah. Jika Anda bersedia, kami akan mengatur pernikahan secepatnya. Upacara akan sederhana, hanya keluarga inti. Kami akan mengurus semua detailnya," kata Tuan Arion. "Dan sebagai permulaan, kami ingin Anda bertemu dengan Bima. Dia ada di kamarnya. Saya akan antar Anda."
Anjani mengangguk. Inilah saatnya. Saatnya bertemu dengan pria yang akan menjadi suaminya, sang "sarang singa" yang harus ia masuki. Ia mengikuti Tuan Arion menaiki tangga marmer yang melingkar, menuju lantai dua mansion.
Langkah kaki mereka bergema di lorong yang panjang dan sunyi. Anjani merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia harus bersikap? Ia tidak tahu apa-apa tentang Bima, kecuali bahwa ia lumpuh dan kaya raya.
Tuan Arion berhenti di depan sebuah pintu ganda kayu solid. Ia mengetuk pelan, lalu membukanya. "Bima, ada tamu."
Anjani melangkah masuk, dan dunia seolah berhenti berputar. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Namun, perhatian Anjani langsung tertuju pada sosok yang terbaring di ranjang medis yang tinggi di tengah ruangan.
Bima.
Ia tampak... lebih muda dari yang Anjani bayangkan. Mungkin sekitar usia 30-an awal. Wajahnya tampan, dengan fitur yang tegas dan hidung mancung. Namun, matanya... matanya terlihat kosong, hampa, dan ada kesedihan mendalam yang terukir di sana. Tubuhnya terlihat kurus, terbalut selimut, dan selang-selang medis terlihat jelas di samping ranjang.
Anjani melihat ke bawah, ke arah kakinya. Kaki Bima terlihat sangat kurus, tak bergerak. Ia benar-benar lumpuh, seperti yang dikatakan. Parah. Jauh lebih parah dari yang ia bayangkan.
Bima tidak menoleh saat Anjani masuk. Matanya tetap terpaku pada langit-langit, seolah dunianya hanya sebatas plafon kamar.
"Bima, ini Anjani," kata Tuan Arion, suaranya lembut. "Calon istrimu."
Tidak ada respons. Bima tetap diam, seolah tidak mendengar apa pun.
Anjani merasa canggung. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang. "Halo, Tuan Bima," sapanya, mencoba terdengar ramah.
Tidak ada jawaban. Bima tetap menatap kosong.
"Bima, bicara pada calon istrimu," desak Tuan Arion, ada nada kesedihan dalam suaranya.
Akhirnya, Bima memalingkan wajahnya, perlahan, matanya bertemu dengan mata Anjani. Tatapan itu dingin, kosong, dan dipenuhi kepedihan. Ia menatap Anjani seolah Anjani adalah hantu, atau benda tak bernyawa.
"Untuk apa kau di sini?" suara Bima serak, nyaris tak terdengar.
Pertanyaan itu membuat Anjani terkejut. Ia mengira Bima mungkin tidak akan berbicara sama sekali. "Saya... saya datang untuk bertemu Anda."
"Untuk apa?" Bima bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih jelas, namun tetap tanpa emosi. "Untuk mengasihani saya? Untuk mengambil uang keluarga saya?"
Perkataan Bima bagaikan tamparan keras. Anjani memang memiliki motif tersembunyi, tapi ia tidak menyangka Bima akan langsung menuduhnya seperti itu. Ia menatap mata Bima, mencari tahu apakah ada sedikit pun niat untuk menyinggungnya. Tapi yang ia temukan hanyalah kehampaan.
"Saya tidak bermaksud mengasihani Anda, Tuan Bima," jawab Anjani, mencoba menjaga ketenangan. "Saya datang karena... ini adalah kesepakatan. Ayah tiri saya memiliki utang besar, dan keluarga Anda bersedia membantunya."
Bima mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti tawa tanpa kegembiraan. "Kesepakatan. Ya, sebuah kesepakatan yang menguntungkan kalian semua. Saya hanya benda tawar-menawar."
Kata-kata itu menusuk Anjani. Ia merasakan kemarahan yang samar mulai muncul. Ia datang dengan hati yang hancur, dipaksa melakukan ini, dan sekarang ia dituduh sebagai wanita yang hanya mengejar harta.
"Saya tahu Anda mungkin merasa begitu," kata Anjani, suaranya mengeras sedikit. "Tapi saya juga terpaksa. Saya tidak ingin ini. Saya juga tidak pernah membayangkan hidup saya akan berakhir seperti ini."
Bima akhirnya memalingkan wajahnya lagi, kembali menatap langit-langit. "Pergilah."
"Bima!" Nyonya Diana, yang ternyata sudah masuk dan berdiri di belakang Anjani, berseru. "Bersikaplah sopan!"
"Untuk apa?" Bima membalas, suaranya putus asa. "Untuk apa berpura-pura? Tidak ada yang akan berubah. Saya tetap seperti ini. Dan dia, dia akan pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan."
Kata-kata Bima menyakitkan, tapi Anjani melihat lebih dari sekadar kekasaran. Ia melihat keputusasaan yang mendalam, luka yang teramat sangat. Bima bukan hanya lumpuh fisiknya, tapi jiwanya juga.
Tuan Arion menghela napas berat. "Bima, Anjani akan menjadi istrimu. Tolong hargai dia."
Bima tidak menjawab. Ia hanya terdiam, tenggelam dalam dunianya sendiri.
Anjani memandangi Bima. Ini adalah pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang hampa dan putus asa. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani kehidupan dengannya? Bagaimana ia bisa membangun rencana balas dendamnya jika ia terikat dengan seseorang yang bahkan tidak mau berkomunikasi dengannya?
Namun, ia teringat kembali pada Bagas dan Sinta. Senyum kemenangan mereka, pengkhianatan mereka. Anjani tidak akan membiarkan dirinya jatuh lagi. Ia harus kuat. Ia harus memanfaatkan setiap kesempatan.
"Tuan Bima," kata Anjani lagi, suaranya kini lebih lembut, lebih penuh pengertian. "Saya tahu ini sulit bagi Anda. Tapi saya berjanji, saya tidak akan meninggalkan Anda. Saya akan ada di sini, untuk Anda."
Bima tetap diam. Anjani tidak tahu apakah Bima mendengarkan atau tidak.
Nyonya Diana mendekat, menyentuh lengan Anjani. "Maafkan putra kami, Anjani. Dia... dia sangat terpukul sejak kecelakaan itu."
"Tidak apa-apa, Bu," Anjani berusaha tersenyum. "Saya mengerti."
Tuan Arion akhirnya berbicara. "Baiklah. Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya. Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Kami akan mengirimkan semua detailnya ke Pak Rahmat. Anda bisa kembali ke sana untuk sementara."
Tiga hari? Begitu cepat. Anjani merasakan gelombang kekhawatiran dan ketakutan menyergapnya. Tapi ia tidak menunjukkannya. Ia mengangguk. "Baik, Pak."
Sebelum keluar dari kamar Bima, Anjani menoleh sekali lagi. Bima masih menatap langit-langit, seolah Anjani tidak pernah ada di sana. Anjani merasa seolah ia masuk ke dalam kandang singa, dan singa itu tidak punya niat untuk bersahabat.
Ia meninggalkan mansion dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega karena kesepakatan sudah tercapai, tapi juga ada kekhawatiran yang mendalam tentang masa depannya dengan Bima. Ia harus hidup dengan pria yang lumpuh total, yang depresi, dan yang menganggapnya hanya sebagai barang dagangan.
"Ini bukan pilihan, Anjani," bisiknya pada dirinya sendiri saat taksi membawanya kembali ke losmen kumuh. "Ini takdir. Dan kau harus menjadikannya senjatamu."
Ia menghabiskan sisa hari itu dengan mencoba memahami kondisinya. Internet menjadi teman satu-satunya. Ia mencari informasi tentang kondisi lumpuh total, tentang perawatan yang dibutuhkan, tentang rehabilitasi. Semakin banyak ia membaca, semakin ia menyadari betapa besar tanggung jawab yang akan ia emban. Bukan hanya istri, tapi juga pendamping, perawat, dan mungkin, harapan terakhir bagi seorang pria yang telah kehilangan segalanya.
Malam itu, ia kembali tidak bisa tidur. Bukan karena kesedihan, melainkan karena pikiran yang berpacu. Ia mulai menyusun strategi. Bagaimana ia bisa mendapatkan kepercayaan Bima? Bagaimana ia bisa menembus dinding keputusasaannya? Jika Bima tetap dalam kondisi seperti itu, Anjani tidak akan bisa melakukan apa-apa. Ia membutuhkan Bima untuk bisa bangkit, untuk bisa menjadi sekutunya dalam rencana balas dendamnya.
Ia tahu, langkah pertamanya adalah membangun koneksi dengan Bima. Bukan dengan mengasihani, tapi dengan menunjukkan pengertian dan kekuatan. Ia harus menjadi cahaya di tengah kegelapan Bima, bukan sekadar bayangan lain yang lewat.
"Tiga hari," gumamnya. Waktu yang singkat untuk mempersiapkan diri menghadapi babak baru yang begitu berat ini. Tapi Anjani tidak akan mundur. Ia akan menghadapi takdirnya, dan ia akan mengubahnya menjadi kekuatan. Untuk dirinya sendiri, dan untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup; ini tentang memenangkan kembali hidupnya.
Tiga hari berlalu dalam kabut kecemasan dan persiapan yang terburu-buru. Bagi Anjani, setiap detik terasa berlarut-larut, namun di saat yang sama, waktu seolah melesat dengan kecepatan gila. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di losmen kumuh, mencoba mencerna semua informasi tentang kondisi Bima, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Artikel-artikel medis, forum-forum diskusi tentang kehidupan dengan disabilitas parah, semuanya ia lahap habis. Ia ingin mempersiapkan diri semaksimal mungkin, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Anjani tahu, ini bukan pernikahan biasa. Ini adalah sebuah misi.
Pagi pernikahan tiba, diselimuti oleh mendung tipis yang terasa pas dengan suasana hatinya. Tidak ada gemuruh pesta, tidak ada tawa riang sanak saudara. Hanya kesunyian yang mencekam, diselingi suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Pak Rahmat menjemputnya di losmen dengan mobil sewaan yang terlihat agak lusuh. Anjani mengenakan gaun putih sederhana yang dipinjamkan oleh Nyonya Diana melalui Pak Rahmat. Gaun itu indah, terbuat dari brokat lembut dengan sedikit payet di bagian dada, namun terasa asing di tubuhnya. Ia merasa seperti boneka yang dipakaikan gaun, tanpa jiwa.
"Kau terlihat cantik, Anjani," kata Pak Rahmat, suaranya sedikit canggung. Ia menghindari tatapan mata Anjani, seolah masih merasa bersalah atas situasi ini.
Anjani hanya tersenyum tipis. Kecantikan apanya? Ia merasa hancur. Namun, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Hari ini, ia akan mengenakan topeng. Topeng seorang calon istri yang patuh, topeng seorang wanita yang siap menerima takdirnya.
Perjalanan menuju mansion keluarga Bima terasa lebih cepat kali ini. Mungkin karena Anjani sudah tahu apa yang menantinya. Gerbang hitam itu kembali terbuka, dan mansion megah itu menyambutnya, bukan dengan kehangatan sebuah rumah, melainkan dengan aura dingin sebuah benteng.
Di dalam, suasananya hening. Hanya beberapa anggota keluarga inti Bima yang hadir, semuanya berwajah serius. Nyonya Diana mendekat, meraih tangan Anjani. "Terima kasih sudah datang, Anjani. Kami sangat menghargai ini."
Anjani hanya mengangguk. Ia merasakan tatapan aneh dari beberapa wanita paruh baya lainnya-mungkin bibi atau sepupu Bima-yang menatapnya dengan rasa ingin tahu bercampur simpati. Mereka pasti tahu cerita di balik pernikahan ini. Wanita yang dicampakkan, kini dipaksa menikah dengan pria lumpuh demi utang. Sebuah kisah klise yang memilukan.
Upacara pernikahan dilangsungkan di ruang keluarga yang luas, dihiasi bunga-bunga putih yang elegan. Penghulu sudah siap, begitu pula saksi-saksi. Namun, ada satu hal yang berbeda: mempelai pria tidak duduk di kursi, apalagi berdiri di sampingnya.
Bima terbaring di ranjang medisnya, yang telah dipindahkan ke tengah ruangan. Selang-selang medis sedikit disembunyikan, namun keberadaannya tetap terasa. Matanya tetap kosong, menatap langit-langit seolah tidak ada siapa-siapa di sana.
Anjani berjalan perlahan menuju ranjang Bima, jantungnya berdebar kencang. Gaun putihnya berdesir pelan di lantai marmer. Ia menempatkan dirinya di samping ranjang, berusaha tersenyum ramah kepada Bima, meski ia tahu senyumnya tak akan sampai ke hati pria itu.
Penghulu memulai prosesi ijab kabul. Suara lantang penghulu mengisi ruangan yang hening. Anjani mendengarkan setiap kata, setiap doa, dengan seksama. Ketika tiba saatnya bagi Bima untuk mengucapkan janji, Tuan Arion membisikkan sesuatu di telinganya. Bima menghela napas, lalu dengan suara serak dan putus asa, ia mengucapkan ijab kabul.
"Aku terima nikahnya Anjani binti Rahmat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Satu kalimat itu. Hanya satu kalimat itu. Namun, kalimat itu mengikat Anjani dalam sebuah takdir yang ia sendiri belum tahu akan membawanya ke mana. Ia resmi menjadi istri dari pria yang tidak ia kenal, yang bahkan tidak mampu bangkit dari ranjangnya sendiri. Ia adalah pengantin dalam bayang-bayang, menikahi sebuah bayangan.
Setelah prosesi selesai, beberapa kerabat mengucapkan selamat. Nyonya Diana memeluk Anjani erat. "Selamat datang di keluarga kami, Anjani. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku harap kau bahagia di sini."
Anjani membalas pelukan itu. Ia bisa merasakan ketulusan di balik kata-kata Nyonya Diana, sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Mungkin, di balik semua ini, ada sedikit harapan.
Sore itu, setelah semua kerabat pergi, mansion kembali sunyi. Anjani diantar ke kamar barunya, yang ternyata bersebelahan dengan kamar Bima. Sebuah kamar yang luas dan mewah, dengan balkon pribadi yang menghadap taman. Jauh lebih indah dari rumahnya dulu bersama Bagas. Namun, kemewahan ini terasa dingin, tanpa jiwa.
Seorang pelayan masuk, membawa koper Anjani yang sudah dipindahkan dari losmen. "Nona Anjani, jika ada yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk memanggil saya."
"Terima kasih," Anjani mengangguk.
Ketika pelayan pergi, Anjani duduk di tepi ranjang besar. Ia melihat sekeliling. Lemari pakaian yang luas, meja rias yang elegan, kamar mandi pribadi yang mewah. Semua serba ada, serba sempurna, namun terasa hampa.
Ia bangkit, berjalan ke balkon. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, sedikit meredakan ketegangan di hatinya. Ia melihat ke arah kamar Bima, jendelanya tertutup rapat.
"Ini adalah awal, Anjani," bisiknya pada diri sendiri. "Awal dari perjuanganmu."
Malam hari, setelah makan malam yang sepi bersama Tuan Arion dan Nyonya Diana, Anjani kembali ke kamarnya. Ia tahu ia harus memulai misinya. Misi untuk menembus dinding pertahanan Bima, misi untuk mencari tahu lebih banyak tentang keluarga ini, dan misi untuk menemukan celah dalam sistem yang akan membantunya membalas dendam.
Ia memutuskan untuk mengunjungi Bima. Ia harus membangun koneksi, tidak peduli seberapa sulitnya. Anjani tidak akan membiarkan dirinya diabaikan. Ia mengetuk pintu kamar Bima pelan, lalu membukanya.
Kamar Bima remang-remang, hanya diterangi lampu tidur. Bima masih terbaring di ranjang, wajahnya menghadap jendela, membelakanginya. Ia tidak menoleh.
"Tuan Bima," Anjani memulai, suaranya lembut. "Saya datang untuk melihat Anda."
Tidak ada respons.
Anjani melangkah mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. "Saya tahu Anda mungkin tidak menginginkan pernikahan ini. Dan saya... saya juga tidak pernah membayangkan ini akan terjadi." Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "Tapi kita sudah terikat. Dan saya ingin membuat ini berhasil. Bukan hanya untuk keluarga Anda, tapi juga untuk kita berdua."
Bima tetap diam. Anjani menghela napas. Ini akan menjadi lebih sulit dari yang ia duga.
"Saya tahu Anda pasti merasa sedih," lanjut Anjani, mencoba empati. "Kecelakaan itu pasti sangat berat."
Mendengar kata 'kecelakaan', bahu Bima sedikit bergetar. Ia sedikit bergerak, tapi tetap tidak menoleh.
Anjani melanjutkan. "Saya tidak tahu apa yang Anda alami. Tapi saya ingin Anda tahu, saya ada di sini. Saya akan mencoba memahami Anda. Saya tidak akan pergi."
Hening. Lalu, Bima akhirnya berbicara, suaranya bergetar, lebih lemah dari sebelumnya. "Semua orang pergi. Pada akhirnya, mereka semua pergi."
Kata-kata itu menusuk hati Anjani. Ada kesedihan yang mendalam di balik setiap suku kata. Ia sadar, Bima bukan hanya seorang pria yang lumpuh. Ia adalah pria yang terluka parah, yang telah kehilangan kepercayaan pada dunia.
"Saya tidak akan," kata Anjani, dengan nada yang mantap. "Saya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Saya tahu bagaimana rasanya dikhianati. Saya tidak akan melakukan itu pada Anda."
Bima tetap diam untuk waktu yang lama. Anjani tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia hanya duduk di sana, sabar, membiarkan kehadirannya menjadi satu-satunya jawaban.
"Kau... kau tahu bagaimana rasanya?" Bima akhirnya bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Anjani mengangguk, meskipun Bima tidak bisa melihatnya. "Ya. Saya dicampakkan oleh suami saya. Dia menikahi adik tiri saya sendiri. Hanya karena saya tidak bisa memiliki anak."
Ada keheningan panjang. Bima tidak berkata apa-apa, tapi Anjani merasakan ada perubahan tipis di atmosfer. Mungkin, sedikit saja, Bima mulai mendengarkannya.
"Jadi... kita sama-sama terluka," kata Anjani pelan. "Mungkin, kita bisa saling memahami."
Bima tetap tidak menjawab. Namun, ia tidak lagi memunggungi Anjani. Ia sedikit memiringkan kepalanya, seolah mendengarkan lebih saksama.
Anjani mengambil kesempatan ini. Ia mulai bercerita tentang hidupnya, tentang bagaimana ia membesarkan Sinta setelah ibunya meninggal, tentang bagaimana ia mencintai Bagas dengan sepenuh hati, dan tentang bagaimana semua itu berakhir hanya karena vonis medis. Ia tidak melebih-lebihkan, tidak mencari simpati. Ia hanya menceritakan fakta, dengan kejujuran yang tulus.
Ia berbicara selama hampir satu jam. Bima tidak menyela. Ia hanya mendengarkan. Dan itu, bagi Anjani, adalah sebuah kemajuan besar. Ia tidak bisa mengharapkan Bima langsung bangkit dan berbicara dengannya. Ini adalah proses, dan ia harus sabar.
Ketika Anjani selesai berbicara, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun, kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Ada sedikit kelembutan di dalamnya.
"Terima kasih sudah mendengarkan saya, Tuan Bima," kata Anjani. "Saya akan pergi sekarang. Selamat malam."
Anjani bangkit dari kursi, melangkah perlahan menuju pintu. Saat ia mencapai ambang pintu, ia mendengar suara Bima lagi.
"Siapa namamu?"
Anjani menoleh. Bima masih menatap langit-langit, tapi kali ini, ada sedikit kerutan di dahinya, seolah ia benar-benar memikirkan sesuatu.
"Anjani," jawabnya, suaranya sedikit bergetar karena terkejut sekaligus lega. "Nama saya Anjani."
"Anjani..." Bima mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencicipi rasanya.
Anjani tersenyum. Itu adalah sebuah kemajuan. Sebuah langkah kecil, tapi signifikan. Ia telah menembus sedikit dinding yang mengelilingi Bima. Ini adalah awal.
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan sedikit lebih ringan. Ia tahu, tugasnya tidak akan mudah. Bima adalah pria yang hancur, dan untuk membantunya bangkit, Anjani juga harus kuat. Tapi setidaknya, ia tidak sepenuhnya diabaikan. Ada percikan harapan di sana.
Malam itu, Anjani kembali merenung. Rencana balas dendamnya pada Bagas dan Sinta masih ada, membara di dalam hatinya. Namun, kini ia memiliki tanggung jawab baru. Tanggung jawab terhadap Bima. Ia tidak bisa hanya fokus pada dendamnya, ia juga harus memperhatikan pria ini, suaminya.
Ia harus menemukan cara untuk menyeimbangkan keduanya. Ia membutuhkan kekuasaan keluarga Bima untuk mewujudkan balas dendamnya. Dan untuk mendapatkan kekuasaan itu, ia harus mendapatkan kepercayaan Bima, dan mungkin, bahkan membuat Bima kembali bangkit dari keterpurukannya. Jika Bima pulih, ia akan menjadi sekutu yang sangat kuat.
Anjani tahu, ini akan menjadi permainan yang rumit. Ia harus bersikap hati-hati. Keluarga Bima mungkin tidak akan menyetujui jika mereka tahu motif tersembunyinya. Ia harus pintar.
Keesokan harinya, Anjani memulai rutinitas barunya. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan sederhana, dan mengantarkannya ke kamar Bima. Pelayan di mansion ini memang banyak, tapi Anjani ingin menunjukkan bahwa ia serius dengan janjinya.
Ketika ia masuk, Bima sudah bangun. Ia menatap Anjani dengan tatapan yang sama kosongnya seperti kemarin.
"Selamat pagi, Tuan Bima," sapa Anjani, meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Saya membawakan sarapan Anda."
Bima tidak menjawab. Ia hanya melihat nampan itu dengan tatapan hampa.
"Saya akan membantu Anda makan," kata Anjani, lalu mengambil sesendok bubur dan menyodorkannya ke arah Bima.
Bima tidak membuka mulutnya.
"Anda harus makan, Tuan Bima," kata Anjani lembut. "Anda butuh energi."
Bima masih diam. Anjani menyadari bahwa ini bukan tentang lapar atau tidak. Ini tentang perlawanan pasif, tentang keputusasaan yang membuatnya tidak ingin berbuat apa-apa.
"Saya tahu Anda marah," Anjani mencoba lagi. "Marah pada dunia, pada takdir Anda. Tapi dengan tidak makan, Anda hanya menyakiti diri sendiri."
Tiba-tiba, Bima menoleh, menatap Anjani tajam. "Untuk apa kau peduli?" suaranya serak. "Kau hanya ingin memastikan aku tetap hidup agar ayahmu terbebas dari utang, bukan?"
Anjani terdiam. Itu adalah tuduhan yang berat, dan sebagian darinya memang benar. Namun, ia tidak hanya peduli pada utangnya. Ia juga peduli pada Bima, pria yang kini menjadi suaminya, pria yang terluka parah.
"Saya peduli," jawab Anjani, menatap mata Bima tanpa gentar. "Saya peduli karena saya sekarang adalah istri Anda. Dan saya tidak akan melihat Anda menderita seperti ini. Saya juga tahu bagaimana rasanya berada di titik terendah. Saya tidak akan membiarkan Anda sendirian."
Ada sesuatu dalam tatapan Anjani, dalam ketulusannya, yang membuat Bima terdiam. Ia menatap Anjani lekat-lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. Akhirnya, perlahan, ia membuka mulutnya.
Anjani menyuapinya bubur. Satu sendok, lalu dua, lalu tiga. Bima makan dengan lambat, tanpa selera, tapi ia makan. Itu adalah sebuah kemenangan kecil.
Anjani menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar Bima. Ia membaca buku-buku untuknya, menceritakan tentang kejadian-kejadian di luar yang ia ketahui dari televisi atau percakapan dengan pelayan. Ia mencoba membuat Bima merasa tidak sendirian, tidak terisolasi.
Awalnya, Bima sangat pasif. Ia jarang bicara, dan jika bicara, nada suaranya selalu penuh keputusasaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Anjani mulai melihat perubahan kecil. Bima mulai sedikit merespons, kadang-kadang mengangguk, atau mengernyitkan dahi jika ia tidak setuju.
Suatu sore, Anjani sedang membacakan sebuah artikel berita tentang perkembangan teknologi. Tiba-tiba, Bima memotongnya.
"Berhenti."
Anjani menghentikan bacaannya. "Ada apa, Tuan Bima?"
"Bukan Tuan Bima," kata Bima, suaranya lebih jelas dari biasanya. "Panggil aku Bima."
Anjani terkejut. Itu adalah langkah maju yang signifikan. "Baik... Bima."
"Aku... aku dulu bekerja di bidang itu," kata Bima, matanya menatap langit-langit. "Teknologi. Aku punya perusahaan startup. Kami sedang mengembangkan aplikasi untuk membantu orang-orang dengan disabilitas."
Anjani menatapnya. Inilah pertama kalinya Bima berbicara tentang masa lalunya, tentang pekerjaannya. Sebuah celah telah terbuka.
"Itu... itu luar biasa," kata Anjani, berusaha terdengar tulus. "Apa yang terjadi pada perusahaan Anda?"
Bima terdiam sejenak. "Setelah kecelakaan itu, semuanya hancur. Mitra kerjaku pergi, investor menarik diri. Mereka bilang aku tidak berguna lagi. Aplikasi itu... aku tidak tahu bagaimana nasibnya."
Ada nada kepedihan yang mendalam dalam suaranya. Anjani merasa iba, namun ia juga melihat sebuah kesempatan. Jika Bima memiliki ambisi, jika ia memiliki sesuatu yang ia pedulikan, maka itu bisa menjadi kunci untuk membangkitkannya.
"Bima, apakah Anda masih ingin melanjutkan itu?" tanya Anjani, hati-hati.
Bima mendengus. "Untuk apa? Aku bahkan tidak bisa menggerakkan jariku."
"Teknologi itu berkembang, Bima," kata Anjani, suaranya penuh keyakinan. "Mungkin ada cara. Mungkin Anda bisa memimpinnya dari sini. Menggunakan ide Anda, pengalaman Anda."
Bima menoleh, menatap Anjani. Ada percikan di matanya, percikan rasa penasaran, atau mungkin, secercah harapan yang sudah lama padam.
"Bagaimana?" tanyanya.
Anjani tersenyum. "Saya akan mencari tahu. Saya akan melakukan riset. Kita bisa mencari cara. Anda punya pikiran yang cerdas, Bima. Itu tidak lumpuh."
Melihat Bima sedikit tertarik, Anjani merasakan harapan tumbuh. Jika ia bisa membuat Bima kembali bangkit, itu tidak hanya akan memberinya sekutu yang kuat, tetapi juga akan memberinya akses ke sumber daya dan koneksi yang lebih besar.
Ia juga menyadari, bahwa selama ini, perhatiannya pada Bima tidak lagi sepenuhnya karena motif tersembunyi. Ada rasa kasihan, ya, tapi juga ada keinginan tulus untuk membantu pria ini. Bagaimanapun, ia adalah suaminya. Dan Anjani sendiri tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya.
Selama beberapa hari berikutnya, Anjani mulai mencari tahu tentang perusahaan startup Bima, tentang industri teknologi, dan tentang kemungkinan rehabilitasi bagi orang dengan kondisi lumpuh total. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan rumah yang luas, membaca buku-buku tentang bisnis dan teknologi. Ia juga mulai mengamati interaksi Bima dengan perawatnya, mempelajari rutinitas dan kebutuhan medis Bima.
Nyonya Diana dan Tuan Arion tampak terkejut, namun juga lega, melihat perubahan pada Anjani. Mereka melihat Anjani tidak hanya pasrah, tetapi juga aktif dan peduli terhadap Bima. Mereka mulai mempercayai Anjani lebih dalam.
Anjani tahu, ini adalah bagian dari rencananya. Semakin keluarga Bima percaya padanya, semakin besar kebebasan dan akses yang akan ia dapatkan. Dan semakin Bima pulih, semakin dekat ia dengan tujuan balas dendamnya.
Suatu malam, saat Anjani sedang menyuapi Bima makan malam, Bima kembali bertanya.
"Kenapa kau tidak pergi?"
Anjani menatapnya. "Pergi ke mana?"
"Pergi dari sini. Mencari hidup baru. Kau masih muda, kau bisa mendapatkan pria lain, yang sehat."
Anjani tersenyum pahit. "Saya sudah melakukannya. Dan hasilnya? Saya dicampakkan. Saya dikhianati. Saya tidak akan lari lagi, Bima. Saya akan menghadapi apa yang ada di depan saya. Dan sekarang, yang ada di depan saya adalah Anda. Dan saya tidak akan meninggalkan Anda."
Bima menatapnya lekat-lekat. Ada keraguan di matanya, tapi juga ada rasa ingin tahu yang dalam.
"Aku... aku tidak percaya pada siapapun lagi," kata Bima, suaranya pelan.
"Saya tahu," jawab Anjani. "Tapi saya akan membuktikannya pada Anda. Saya tidak akan menyerah pada Anda, Bima."
Dalam keheningan malam itu, Anjani merasakan sesuatu yang baru tumbuh di antara mereka. Bukan cinta, belum. Tapi mungkin, permulaan dari sebuah kepercayaan. Sebuah ikatan yang, meskipun terbentuk dari kehancuran, bisa jadi merupakan fondasi bagi sesuatu yang lebih besar.
Anjani tahu, jalannya masih panjang. Balas dendamnya belum terlaksana. Namun, ia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak lagi sendirian. Ia punya Bima, bahkan jika Bima sendiri belum menyadarinya. Dan bersama Bima, Anjani akan menemukan cara untuk bangkit, dan untuk membalas setiap luka yang telah Bagas dan Sinta torehkan padanya.