Hallo nama ku Robert William, aku seorang pengusaha muda yang tampan, dingin dan kaya raya. Yang memiliki beberapa perusahan besar yang tersebar di Indonesia. Orang tua ku sudah tidak ada, semenjak aku beranjak dewasa, sehingga aku sudah terbiasa mengerjakannya sendiri, karena aku anak tunggal.
Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk prempuan, tapi bukan berarti aku berpacaran dengam sembarang gadis. Aku hanya tidak suka dengan hubungan yang rumit, jika sudah merasa terganggu aku memutuskannya. Beberapa waktu lalu aku masih menjalin hubungan dengan seorang model yang aku temui di acara perusahaan, ia adalah Brand ambassador dari salah satu perusahaan milikku. Kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Namun saat aku ada pekerjaan di luar kota selama beberapa bulan, aku kecolongan. Ternya ia berselingkuh dengan pria yang tak lain adalah saingan perusahaanku.
Aku tidak merasa marah, hanya saja aku merasa jijik,dengan perempuan murahan seperti dia. Toh kami hanya berpacaran untuk mengisi waktu saja. Tak jarang wanita itu datang memohon ke kantor ku untuk kembali padanya dan aku meminta security untuk datang mengusirnya.
Aku termenung sendiri menatap keindahan kota dari jendela gedung kantorku. Aku teringat pada gadis kecil cantik itu. Gadis kecil yang membuatku mengingat semua, hingga kini aku masih penasaran seperti apa dia sekarang.
Tok...tok...tok..
Suara ketukan pintu menyadarkan ku dari lamunan. Aku melihat sudah ada sahabatku Joy yang membawa secangkir kopi.
" Jangan terlalu banyak melamun bro, prempuan mana lagi yang kau pikirkan?"
" Jangan gila kau, mana ada di kamusku memikirkan prempuan yang ada mereka yang memikirkan ku"
" kau terlalu PD bro.. Nanti ikut aku ya"
"Kemana? Gak ah, nanti gak jelas, capek aku Joy"
"Kau wajib ikut, kalau kau masih anggap aku sahabat mu. Ini acara spesial."
Robert hanya menarik nafas melihat kelakuam sahabatnya.
Malam ini aku sudah berada di sebuah club malam, tempat biasa aku dan Joy nongkrong. Aku hanya menemani Joy menemui pacar barunya. Aku tidak berniat dekat dengan prempuan mana pun saat ini. Seorang gadis muda dengan pakaian onepace mendekatiku, mendekatkan wajahnya padaku.
"Aku temani malam ini ya"
"Jangan ganggu aku, sana cari laki-laki lain.."
Gadis itu kesal dan meninggalkanku. Aku bosen dengan rutinitasku hari ini, sama seperti hari-hari biasanya. Aku sepertinya membutuhkan sesuatu yang menantang. Aku bergegas meninggalkan Club dan mengirimakn pesan kepada Joy kalau aku pulang duluan. Aku mengendarai mobilku dengan kencang, aku sudah lelah dan ingin cepat-cepat sampai di rumah. Saat sedang mengendarai mobilku, tiba-tiba saja seorang perempuan datang entah dari mana dan aku hampir memabraknya. Untung aku bisa lebih cepat menginjak rem mobilku. Aku keluar mobil dan meneriaki prempuan itu yang terduduk di depan mobilku.
"Dasar prempuan zaman sekarang, bukannya liat-liat kalau mau nyebarang" ucapku kesal
"Maaf...maaf... maaf pak, saya buru-buru, sekali lagi saya minta maaf"
"Tunggu woi!!" Teriakku
Perempuan itu tetap tidak mendengarkan teriakan ku, dia bergegas pergi meninggalkanku. Aku kembali masuk ke mobil dan bergegas mengendarainya karena mobil-mobil yang di belakangku sudah membunyikan klakson. Aku mengingat wajah prempuan yang hampir aku tabrak tadi. Wajahnya sangat cantik.
"Kenapa dia langsung lari gitu sih, belum juga selesai ngomong" batinku.
Vallery Smith adalah seorang dokter muda di sebuah Rumah sakit ternama di Jakarta. Ia baru saja pulang dari pendidikannya di luar negeri. Di Jakarta ia hanya sendiri, karena orang tuanya sekarang berada di Paris. Ia senang bisa kembali ke Indonesia setelelah sekian lama berada di negeri orang. Ia juga memiliki pacar yang sejak awal kuliah di Indonesia. Saat ia mendapat beasiswa kuliah di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya, mereka terpaksa menajalin hubungan jarak jauh. Pacarnya bernama Glen seorang pengacara di Jakarta.
Vallery sangat mencintai Glen, karena dia adalah cinta pertamanya. Hari ini Vallery libur karena sudah tiga hari tidak pulang, harus melakukan beberapa oprasi. Hari ini ia benar-benar mengambil cuti untuk istirahat. Sangking lelahnya ia hampir saja tertabrak saat menyebrang rumah sakit. Pekerjaannya menguras tenaga dan waktunya dan karena pekerjaan ini pula ia dan Glen jarang bertemu. Beruntungnya Glen sama sekali tidak pernah keberatan dengan kesibukan kekasihnya. Sesekali ia datang ke rumah sakit hanya untuk mengantar makanan atau hanya sekedar menemani meminum kopi. Glen bilang hari ini dia akan datang ke Apartemen Vallery. Sudah seminggu mereka tidak bertemu. Glen baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya, biasanya dia akan membawakan oleh-oleh untuk kekasihnya. Suara seseorang terdengar menekan sandi pintu apartementnyadan tak lain itu adalah Glen. Vallery langsung menghampirinya dan memeluk kekasihnya itu.
"Sayang kangen.."
"Aku juga kangen, kamu sehatkan?" Tanya Glen pada Vaery sambil mengacak rambut Vallery
"Sehat dong, kamu bawa apa?"
"Makanan kesukaan kamu dan ini bunga buat kamu"
"Hmm so sweet banget sih pacar aku"
Vallery meletakn bunga di vas bunga yang ada diujung ruang tamunya. Glen memluk Vallery dari belakang dan mencium lehernya.
"Aku kangen harum pacarku"
"Maaf ya sayang, beberapa hari ini aku selalu sibuk"
Vallery membalikan badan dan kembali memeluk Glen. Beberapa jam berlalu, tidak terasa karena mereka asik mengobrol, menonton sebuah film dan saling melepas rindu dan akhirnya Glen pamit pulang. Vallery merengek agar Glen menginap saja di apartementnya namun Glen menolak karena harus kembali kekantornya. Ia bilang harus mengurus berkas penting untuk bertemu klien besok. Vallery mengantarnya sampai di depan pintu apartement.
"Nanti jangan lupa telfon ya" ucap Vallery
"Kamu jangan lupa istirahat, besok kerja pagi atau malam?"
"Aku kerja pagi yang"
"Ya sudah aku pergi dulu ya, lepaskan dulu tanganmu ini sayang"
"Hmm baiklah, tapi cium dulu"
Glen mencium kening Vallery dan mengelus rambutnya.
"Manja banget sih, padahal kalau di luar cuek"
"Karena manjaku cuma buat kamu"
Glen kembali mencium kening Vallery dan pergi melambaikan tangannya pada Vallery. Vallery masuk menutup pintu apartementnya dan memasuki kamaranya, ia mengambil handphonenya dan membuka sosial medianya hanya untuk menisi waktunya saja. Sesekali ia mengapload beberapa aktifitasnya walaupun tidak sering. Ia hanya suka hanya melihat-lihat unggahan orang lain. Kadang untuk melihat aktifitas kekasihnya. Ia membuka akun sosial media Glen. Pacarnya ternyata beberapa lalu mengunggah fotonya disebuah laut. Mungkin pada saat perjalanan bisnisnya ia sekalian berlibur. Vallery membaca beberapa caption di sana
"Memories Of The Sea" dan mata Vallery tertuju pada sebuah komentar "hari yang indah ya kan" begitu kalimat yang tertera di akun prempuan itu. Vallery membuka akun prempuan cantik, seperti seorang pengacara juga. Mungkin mereka sesama teman layer, pikir Vallery.
Vallery meletakan handphonenya dan menuju balkon. Ia membawa secangkir kopi dan menikmati indahnya malam di luar sana. Ia kadang mengingat indahnya saat ia baru berpacaran dengan Glen 5 tahun yang lalu. Saat itu ia tidak tertarik pada Glen, hanya saja Glen sangat gigih mendekatinya. Itulah hal yang membuat dia luluh dan akhirnya menerima Glen, hingga saat ini rasa cintanya dengan Glen semakin besar. Ia adalah laki-laki yang baik. Selalu ada untuk Vallery bahkan saat mereka jauh, Glen rela menyusulnya karena mendengar kabar Vallery sakit. Keluarga mereka sudah saling mengenal, namun entah kenapa sampai saat ini Glen belum melamar Vallery. Vallery hanya berpikir positif, mungkin saja Glen masih sibuk dengan pekerjaannya. Yang terpenting sekarang mereka masih tetap saling mencintai dan menyayangi.
Setelah persiapkan diri dengan segala rutinitas pagi hari seorang wanita pada umumya. Mandi, bersolek, membuat sarapan seadanya dan membersihkan beberapa tempat yang sekiranya berserakan. Vallery tidak suka melihat barang-barang tidak pada tempatnya. Ia melihat jam tangannya, ternyata sudah waktunya ia berangkat. Ia berangkat mengendarai mobilnya keluar gedung apartement. Hari ini ia hanya memiliki schedule berkeliling memerika pasien. Tidak ada schedule oprasi hari ini, jadi ia berencana untuk datang ke Firma tempat Glen bekerja. Ia sengaja tidak memberi kabar agar memberi kejutan pada kekasihnya.
Vallery menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya. Ia langsung bergegas menuju kantor Glen, tidak butuh waktu lama untuk sampai di kantor Glen. Ia memarkirkan mobil dan keluar menuju ruangan Glen sambil membawa beberapa makanan ia beli sebelum kekantor Glen. Memasuki lift dan berjalan mendekati ruangan Glen. Sekretaris yang mengetahui kedatangan Vallery berusaha menghadang jalannya.
"Bu Vallery... tumben datang gak kasih kabar dulu" ucapnya gugup
"Udah lama gak main kesini Tin, pak Glen ada didalam kan? Biar saya langsung masuk saja."
"Hmm... bapak sedang tidak ada bu, bapak..."
"Masa sih, emang bapak kemana?"
"Bapak... hmm..."