Seorang wanita berparas cantik keluar dari kamar dengan mengenakan blazer panjang dan rok pendek diatas lutut berwarna biru dengan rambut sedikit bergelombang dibiarkan terurai begitu saja dan dia adalah Viona Anindita yang berusia 20 tahun.
Viona yang baru saja sampai di meja makan tersenyum menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi Ibu, Ayah," sapa Viona
"Pagi juga Vio," jawab Rika dan Irawan bersamaan.
"Duduklah Vio dan cepatlah sarapan, ini sudah siang nanti kamu terlambat!" perintah Rika.
"Iya Ibu," jawab Viona tersenyum meletakan tas kerjanya di kursi kosong dan duduk di depan Raka.
Mereka mulai sarapan dengan diam menikmati nasi goreng buatan Rika yang sangat nikmat itu.
"Ibu, Ayah, aku sudah selesai, sekarang aku berangkat dulu," pamit Viona.
"Ya, berangkatlah," jawab Irawan menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan pada Rika dan Irawan, dengan cepat Viona mengambil tas kerjanya, melangkah keluar meninggalkan rumah.
Viona yang berjalan sendiri di pinggir trotoar sambil menunggu taksi yang lewat, menghentikan langkahnya, saat melihat seorang pria dengan menggunakan motor bebek berhenti di hadapannya.
"Vio ayo naiklah, aku akan mengantarmu bekerja," ajak pria tersebut dengan menunjukkan senyuman manisnya.
"Apa kamu tidak terlambat jika mengantar aku bekerja, Revan?" tanya Viona.
"Kamu tenang saja, jam segini pabrik belum buka," jawab pria tersebut dengan memberikan helm pada Viona.
Yang berbicara dengan Viona itu adalah sahabatnya dari kecil bernama Revan berusia 20 tahun dengan paras tampan dan menarik, ia bekerja di sebuah pabrik sepatu di kota ini. Selain menjadi seorang sahabat, ia juga sangat mencintai Viona, namun mau bagaimana lagi Viona tidak pernah mencintainya dan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat tidak lebih dari itu.
"Oke, ayo kita berangkat!" ucap Viona yang sudah duduk di belakang Revan dan melingkarkan satu tangannya di perut sahabatnya itu.
Dengan perlahan Revan menjalankan motornya menuju kantor tempat Viona bekerja.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mereka bisa sampai di kantor dan saat ini mereka sudah sampai. Dengan segera Viona turun dari motor dan melepaskan helmnya.
"Nih helmnya dan terima kasih sudah mengantarku," ucap Viona memberikan helm pada Revan.
"Ingat Nona, ini tidak gratis!" canda Revan tersenyum menerima helm dari Viona.
"Baiklah, kalau nanti sudah gajian aku akan traktir kamu nasi uduk di depan kantor ini," jawab Viona terkekeh geli.
"Dasar pelit! Masak seorang sekretaris nelakti nasi uduk doang," cibir Revan memutar bola matanya malas.
"Sudahlah, jangan banyak bicara, kerja sana!" perintah Viona mengibaskan tangan kanannya.
"Oke-oke, aku berangkat, bay …."
Setelah berkata demikian Revan menjalankan motor bebeknya meninggalkan kantor tempat Viona bekerja.
Baru saja Viona melangkahkan kakinya, tapi sudah ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Vio, tunggu!"
Viona menghentikan langkahnya menoleh ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata ia adalah teman kerjanya bernama Gea berusia 25 tahun.
"Tumben kamu baru berangkat?" tanya Viona memandang Gea.
"Biasalah, anakku lagi rewel dan tidak mau ditinggal," jawan Gea tersenyum.
"Ya sudah ayo kita masuk, nanti pak Raka keburu datang," ajak Viona.
"Oke!"
Mereka berdua masuk ke dalam kantor dan menuju ruangan masing-masing.
Viona yang satu ruangan dengan pemilik perusahaan, segera mengerjakan pekerjaannya sebelum bos-nya itu datang.
***
Di waktu yang sama seorang pria matang baru saja keluar dari ruangan gym yang ada di rumahnya dan masuk ke dalam kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar ia beristirahat sebentar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi membersihkan badannya.
Usai mandi ia memakai pakaian kerjanya, setelah dirasa sudah cukup rapi dan wangi ia keluar dari kamar menuju ruang makan.
Sesampainya di sana sang ayah sudah menunggunya.
"Pagi Daddy," sapa pria tersebut sambil duduk.
"Pagi juga Raka, apa kau sudah mau berangkat bekerja?"
Pria yang menyapa ayahnya itu adalah Raka Hermawan yang berusia 47 tahun putra dari Hermawan pemilik perusahaan PT HM Sejahtera. Meski Raka sudah tua namun ia masih hidup sendiri dan belum mempunyai seorang istri.
"Iya Dad," jawab Raka sambil memakan roti bakarnya.
"Kenapa hanya harta kekayaan yang kamu cari? Cobalah sekali-kali keluar mencari wanita, agar aku segera mempunyai cucu!" ucap Hermawan dengan menghela nafasnya.
"Maaf Daddy, aku sibuk dan harus segera bekerja!" Raka berdiri dari duduknya dan mengambil tas kerjanya yang ia letakkan di kursi.
Begitulah Raka, setiap kali Hermawan memintanya mencari pasangan hidup ia selalu menghindar.
"Raka jangan menghindar terus setiap kali kita berbicara, kamu harus menikah!"
"Baiklah Daddy, itu kita bicarakan nanti, sekarang aku sudah terlambat," jawab Raka, kemudian ia melangkah meninggalkan Hermawan yang masih berada di ruang makan.
Di luar rumah, Raka bergegas masuk ke dalam mobil dan dengan perlahan ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah menuju kantornya.
Dua puluh menit kemudian, Raka baru sampai di kantor miliknya. Dengan cepat ia berjalan menuju ruangannya yang ada di lantai dua puluh empat.
Cklek
Raka membuka pintu ruang kerjanya yang menjadi satu dengan sekretarisnya.
Mendengar pintu dibuka, Viona menoleh ke arah pintu, setelah ia melihat siapa yang datang ia pun berdiri menyambut kedatangan sang big boss.
"Pagi Pak!" sapa Viona dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Pagi, apa kamu sudah menyiapkan semua untuk meeting nanti?" tanya Raka sambil duduk di kursi mejanya.
"Maaf Pak, tadi malam saya sudah mengirim jadwal perubahan meeting hari ini ke email Pak Raka," jelas Viona.
"Oh, iya, saya lupa membukanya! Sekarang apa jadwalnya?"
"Pagi ini kita akan meninjau proyek pembangunan taman bermain di kota A dan nanti setelah jam makan siang Anda akan meeting dengan PT SA di Cafe xxx," jelas Viona.
"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?"
"Sudah, Pak!"
"Oke, kamu bawa sekalian semu berkas-berkas untuk meeting nanti siang, agar kita tidak bolak-balik," perintah Raka, kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Baik Pak!" jawab Viona tersenyum, kemudian ia mengambil tasnya dan beberapa berkas keperluan meeting, selain itu ia juga membawa laptopnya.
Raka keluar dari ruangannya diikuti oleh Viona dari belakang. Sesampainya di depan pintu lift mereka segera masuk ke dalam dan memencet tombol satu.
Ting
Pintu lift terbuka dan keluarlah Raka bersama dengan Viona. Sesampainya di lobby mobil Raka sudah siap di depan.
Raka masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Viona, ia duduk di samping Raka yang tengah mengemudikan mobilnya dengan pelan menuju lokasi proyek pembangunan taman bermain.
Viona yang duduk di samping Raka hanya diam dan sibuk mempelajari berkas-berkas untuk meeting nanti siang. Begitu juga dengan Raka yang hanya fokus dengan setir mobilnya.
Cittt
Duk
___
Bersambung ….
Duk
Tiba-tiba saja Raka mengerem mendadak dan itu membuat Viona terperosok ke depan sehingga keningnya terbentur.
"Aduh, sakit tau, Pak! Kenapa sih harus mengerem mendadak?" Viona mengusap-usap keningnya yang terasa sakit akibat terbentur.
"Coba lihatlah di depan kita itu!" ucap Raka dengan memandang lurus ke depan tanpa melihat Viona.
"Ya Allah … ada kecelakaan. Aduh serem banget itu darahnya kemana-mana!" Viona menutup mulutnya bergidik ngeri melihat darah yang berceceran dimana-mana.
"Kalau takut jangan dilihat!" ucap Raka, yang melihat Viona ketakutan melihat kecelakaan beruntun tepat di depan mobilnya.
"Iya Pak, tapi bisakah kita mundur dan melewati jalan lain saja?" tanya Viona memandang ke arah Raka.
"Lihatlah kebelakang! Apa ada celah untuk kita bisa mundur?" Raka melirik sebentar Viona kemudian ia kembali melihat depan.
Viona menoleh ke belakang melihat deretan mobil yang tengah berhenti.
"Ah, sampai kapan kita harus terjebak di sini? Bisa-bisa kita terlambat sampai proyek!"
"Sudah diamlah dan kalau kamu takut, jangan melihat depan!"
"Iya, Pak!"
Viona menundukkan kepalanya mengambil ponsel dan memainkannya.
Sudah satu jam mereka terjebak macet akibat kecelakaan beruntun di depan mobil Raka.
"Pak, sudah selesai belum?" tanya Viona memandang Raka.
"Belum!"
"Ah, lama sekali," keluh Viona mencebikkan bibirnya kembali memainkan ponselnya.
Raka hanya terdiam menyandarkan kepalanya di kursi mendengar keluhan Viona.
"Pak, kalau kita terjebak di sini sampai jam makan siang, nanti kita bisa terlambat. Belum lagi kita harus meninjau proyek!" ucap Viona berhenti memainkan ponselnya, saat mengingat jadwal meeting nanti siang.
"Tenang saja semua bisa diatasi," jawab Raka dengan santainya.
Dua jam setelah itu, evakuasi kecelakaan beruntun selesai dan semua mobil mulai berjalan normal.
Dengan sedikit menambah kecepatan mobilnya Raka meluncur ke lokasi proyek.
Sesampainya disana, ia disambut oleh manajer proyek pembangunan taman bermain.
Cukup lama Raka meninjau proyek tersebut dan ia begitu puas dengan apa yang dikerjakan oleh bawahannya.
Kini jam makan siang telah tiba dan mereka masih ada di proyek pembangunan taman bermain.
"Maaf Pak, ini sudah jam makan siang kita harus segera ke Cafe xxx sebelum mereka datang," ucap Viona memperingatkan Raka.
"Ya!"
Raka dan Viona meninggalkan lokasi proyek pembangunan taman bermain menuju mobilnya diantar oleh manajer proyek.
Sesampainya di parkiran mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Dengan perlahan Raka mulai menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi proyek tersebut.
Sesampainya di jalan yang cukup senggang, Raka melajukan mobil sportnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai dan tidak terlambat.
"Ya Allah Pak, jangan ngebut-ngebut, nanti kita bisa kecelakaan!" Viona ketakutan saat Raka melajukan mobilnya dengan kencang.
"jangan takut, semua akan baik-baik saja," jawab Raka, tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
"Ya Tuhan ... Pak, aku tidak mau mati sebelum menikah. Pelankan mobilnya!" ucap Viona dengan begitu ketakutan.
"Kalau takut pejamkan saja matamu, kita sudah tidak banyak waktu dan mereka pasti sudah datang!"
Viona menganggukkan kepalanya, kemudian menutup matanya dengan kedua tangannya.
Raka semakin menambah kecepatan mobilnya sehingga mobil sportnya itu melaju dengan sangat kencang.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah ada di parkiran Cafe xxx.
"Buka matamu!"
Dengan pelan Viona melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya dan membuka pelan matanya.
"Lain kali kalau naik mobil jangan seperti ini Pak, saya takut, untung jantung saya nggak Cepot!"
"Jangan banyak bicara, ayo turun!" Raka membuka pintu mobilnya kemudian ia keluar.
Viona mengambil berkas-berkas untuk meeting dan laptop serta tasnya, setelah itu barulah ia keluar dari mobil berjalan mengikuti Raka dari belakang.
Sesampainya di dalam Cafe, Raka menghampiri klien-nya yang sudah menunggu bersama sekretarisnya.
"Maaf, Tuan Chen, kami terlambat!" ucap Raka menyalami Chen, klien-nya.
"Tidak masalah, Tuan, kami paham bagaimana kota Jakarta ini!" jawab Chen tersenyum.
"Terima kasih atas pengertiannya!"
"Sama-sama, Tuan. Mari silahkan duduk, Tuan, Nona!" Chen menyuruh Viona dan Raka untuk duduk.
"Terima kasih, Tuan!" jawab Viona dan Raka bersamaan.
Mereka semua duduk dengan santai, setelah memesan minuman Raka mulai meeting-nya.
Hampir tiga jam mereka meeting dan akhirnya semua itu selesai.
"Baiklah Tuan, kami permisi dulu," pamit Chen.
"Silahkan Tuan, terima kasih sudah menyetujui kerjasama kita ini. Semoga semuanya berjalan lancar," ucap Raka dengan menyalami Chen juga sekretarisnya.
"Sama-sama, Tuan, Mari!"
Raka tersenyum menganggukkan kepalanya, setelah itu Chen dan sekretarisnya pergi meninggalkan Cafe tersebut.
Kini hanya tinggal Raka dan Viona saja yang ada di sana.
Krek, krek, krek.
Viona memegang perutnya yang sudah keroncong sambil menggigit bibir bawahnya berharap Raka tidak mendengar.
"Apa kamu lapar?" tanya Raka memandang Viona saat ia mendengar perut sekretarisnya itu berbunyi.
Viona nyengir menganggukkan kepalanya dengan begitu malu.
"Pilihlah makanan yang kamu suka. Sekalian kita makan siang di sini!"
"Baik pak," Viona menganggukkan kepalanya tersenyum.
Setelah memesan makanan kesukaannya masing-masing Raka hanya terdiam dan sibuk dengan ponselnya begitu pula dengan Viona yang sedang sibuk dengan teman-teman di sosial media.
Tidak butuh waktu lama pesanan mereka sudah disajikan dan kini mereka makan dengan diam tanpa adanya pembicaraan apapun.
"Huh, akhirnya kenyang juga!" gumam Viona yang masih bisa didengar oleh Raka.
"Kalau sudah selesai sana bayar di kasir!" perintah Raka.
"Masak saya yang membayar semuanya? Ini kan mahal, pak!" protes Viona.
"Nih!" Raka memberikan kartu kredit miliknya pada Viona.
"Baiklah pak, saya akan membayarnya!" Viona segera mengambil kartu kredit dari tangan Raka dan melangkah menuju kasir.
Usai membayar makanan mereka berdua kembali ke kantor.
Ketika mereka berada dalam lift kantor tiba-tiba saja lift macet dan itu membuat Viona panik apalagi disana hanya ada dirinya dan Raka.
"Pak, kok ini macet? Aduh, bagaimana ini?"
"Jangan panik!" jawab Raka sambil memencet tombol darurat yang ada di lift.
Satu jam sudah mereka terjebak dalam lift sedangkan diluar lift berusaha memperbaiki kerusakan dan mencoba membuka pintu lift.
Kini Viona terduduk di lift dengan keringat bercucuran dan nafasnya mulai sesak karena disana sangat pengap.
Raka yang melihat Viona sesak nafas dan terduduk lemas segera membawanya ke dalam dekapannya.
"Pak, nafas saya sesak," lirih Viona dengan napas yang sudah tidak beraturan.
"Kamu harus tenang jangan panik, semua akan baik-baik saja!"
"Saya tidak kuat pak. Nafas saya sesak sekali."
"Bertahanlah!" ucap Raka mengambil satu berkas yang sudah terlepas dari tangan Viona kemudian ia gunakan untuk mengipasi Viona yang berkeringat dingin.
Viona yang tidak tahan dengan sesak nafasnya akhirnya ia tidak sadarkan diri dalam dekapan Raka.
"Ya Tuhan, dia pingsan! Kenapa mereka ini lama sekali membuka lift ini?!" gerutu Raka.
____
Bersambung...
Raka memandang pintu lift berharap akan segera dibuka, agar ia bisa dengan cepat membawa Viona keluar dari lift tersebut.
Sepuluh menit kemudian, pintu lift terbuka dan para pekerja keamanan juga orang yang bertugas memperbaiki lift masih ada di depan pintu.
"Tuan, cepatlah keluar, lift ini belum sepenuhnya jadi!" perintah petugas keamanan.
"Bawa semua berkas-berkas itu dan juga barang milik Viona! Ingat ini yang pertama dan terakhir kalinya ada lift yang rusak seperti ini!" Raka memperingatkan mereka sambil membopong tubuh Viona dan membawanya ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Raka menidurkannya Viona di sofa dan memerintah petugas keamanan untuk memanggil dokter.
Sambil menunggu dokter datang, Raka berusaha menyadarkan Viona dengan mengoleskan minyak kayu putih dihidung sekretarisnya itu.
Tok, tok, tok.
"Masuk," perintah Raka yang mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.
Cklek.
Pintu terbuka dan masuklah seorang dokter laki-laki menghampirinya.
"Dok cepat periksalah dia!" perintah Raka pada dokter.
"Memang Nona ini kenapa, Tuan?" tanya dokter sambil mengeluarkan alat medisnya.
Dia sesak nafas dan pingsan ketika kami terjebak dalam lift, Dok!" jelas Raka.
Baru saja Raka menjelaskan kejadian tadi pada dokter, Vionla sudah mulai membuka matanya.
"Nona apa yang Anda rasakan sekarang?" tanya dokter.
"Saya sesak nafas Dok, tapi sekarang sudah mulai lega!" jelas Viona.
"Apa Nona punya penyakit asma?"
"Iya Dok."
"Baiklah Nona, saya akan meresepkan obat asma untuk Anda dan jangan lupa bawa obat asmanya kemanapun Anda pergi, agar disaat asma Nona kambuh dapat segera teratasi," jelas dokter panjang lebar.
"Baik Dok!" jawab Viona menganggukkan kepalanya.
Setelah menuliskan resep untuk Viona dokter laki-laki tersebut segera berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
Usai mengantarkan dokter hingga lobby dan menyuruh pegawainya menebus obat Raka bergegas kembali ke ruang kerjanya, disana ia melihat Viona bersandar di sofa.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Raka sambil duduk di kursi kerjanya.
"Ya, Tuan!" jawab Viona tersenyum tipis.
"Jika kamu sudah tidak sesak nafas pulanglah dulu!" perintah Raka dengan memandang Viona.
"Nanti saja Pak, masih banyak yang harus saya kerjakan," tolak Viona.
"Kamu bisa mengerjakan besok. Jangan sampai kamu Sakit, karena nanti aku akan keteteran jika tidak ada kamu!"
"Baiklah, Pak!" Viona akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh Raka.
Dengan segera Viona mengemasi barang barangnya, namun sebelum ia sempat berpamitan seorang karyawan wanita telah mengantarkan obat ke ruangan Raka.
"Pak, ini obatnya!"
"Berikan saja pada Viona!"
"Mbak, ini obatnya!"
Terima kasih," ucap Viona tersenyum menerima obat yang diberikan padanya.
"Sama-sama, Mbak!"
Setelah memberikannya pada Viona karyawan wanita tersebut berpamitan pada Raka dan Viona untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Pak, saya pulang dulu!" pamit Viona.
"Ya, pulanglah!" jawab Raka menganggukkan kepalanya.
Viona keluar dari uang kerjanya pulang ke rumah.
Tidak lama, setelah Viona pulang ponsel Raka berbunyi dan ternyata yang menelponnya adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
Raka begitu terkejut saat mendengar jika Hermawan dilarikan ke rumah sakit, karena penyakit jantungnya kambuh.
Tanpa mengatakan apapun lagi raga segera menutup ponselnya dan dengan cepat ia meninggalkan kantor menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Raka segera menuju ruang IGD.
"Bibi, bagaimana keadaan Daddy?" tanya Raka setelah ia sampai di depan ruang IGD.
"Saya belum tau Den, karena Tuan masih ditangani di dalam," jawab asisten rumah tangga Raka.
"Semoga Daddy baik-baik saja, Bibi," ucap Raka dengan cemas.
"Aamiin."
Raka duduk di depan ruang IGD sedangkan asisten rumah tangga Raka kembali ke rumah untuk mengambil pakaian ganti Raka dan Hermawan.
Setelah dua jam lamanya dokter yang menangani Hermawan keluar dari ruang IGD. Melihat dokter keluar Raka segera menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan Daddy saya?" tanya Raka dengan khawatir.
"Tuan Hermawan kritis, karena jantungnya sudah mengalami komplikasi."
"Ya Tuhan ... tolong sembuhkan Daddy saya, Dok," pinta Raka.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Hermawan. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruang ICU agar mendapatkan perawatan secara intensif!"
"Baik, Dok," jawab Raka menganggukkan kepalanya.
Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, Dok!"
Setelah kepergian dokter. Dua suster telah mendorong tempat tidur Hermawan untuk dibawa ke ruang ICU.
"Tuan, mari ikut kami," ajak suster.
"Baik, Sus!"
Raka berjalan di samping tempat tidur Hermawan dengan terus memandang sang ayah yang tengah memejamkan mata dengan wajah yang sangat pucat.
Sesampainya di ruang ICU, Raka hanya boleh menunggu di depan ICU dan tidak boleh ikut masuk sebelum jam besuk tiba.
Raka yang sedang duduk menunggu sambil memejamkan matanya terkejut ketika seorang suster menepuk pundaknya.
"Ada apa Sus?" tanya Raka yang langsung membuka matanya.
"Tuan Hermawan ingin bertemu dan berbicara dengan Anda!"
"Baik, Sus!" jawab Raka dengan menganggukkan kepalanya kemudian ia berdiri dari duduknya.
Raka melangkah masuk diikuti oleh suster dari belakang. Ia duduk di samping Hermawan dengan begitu sedih.
"Raka," panggil Hermawan dengan lemah.
"Iya Dad, aku disini!" jawab Raka dengan memegang tangan Hermawan.
"Raka, lupakanlah Hafifa dan Risna yang sudah menghianatimu! Cobalah untuk membuka hati untuk wanita lain. Sampai kapan kamu akan hidup sendiri seperti ini? Sedangkan usiamu sudah tak lagi muda dan sepantasnya kamu memiliki anak, istri! Daddy mohon tolong carilah pendamping hidup, aku ingin disisa umurku ini memiliki seorang cucu dan menantu!" pinta Hermawan.
Setelah berkata demikian Hermawan memejamkan matanya sudah tidak sadarkan diri. Raka yang melihatnya pingsan, ia pun segera memanggil suster.
Tidak lama setelah Raka memanggil suster, beberapa dokter telah masuk ke dalam ruang ICU dan memeriksa keadaan Hermawan.
"Tuan sebaiknya anda keluar dulu biar dokter bisa menangani beliau," perintah suster.
"Baik Sus!"
Dengan gontai dan perasaan cemas Raka keluar dari ruang ICU.
Diluar ruangan Raka mondar-mandir menunggu kabar dari dokter dengan cemas, karena dari tadi dokter yang memeriksa Hermawan belum juga keluar.
Dua jam kemudian, pintu ruang ICU dibuka dan semua dokter keluar dari sana.
"Dok, bagaimana keadaan Daddy saya?" tanya Raka setelah melihat dokter keluar.
"Semuanya sudah stabil, tapi tolong jangan membebani pikiran beliau. Sebisa mungkin beliau dibuat rileks, agar tidak drop kembali!"
"Baik dok saya mengerti, sekarang apa saya boleh melihat Daddy saya?" tanya Raka dengan penuh harap.
"Biarkan beliau istirahat dulu, nanti kalau sudah dua jam Anda bisa menjenguknya!"
"Baik, Dok!"
"Sekarang kami permisi dulu, Tuan!" pamit dokter.
"Silahkan Dok!"
Setelah berpamitan dokter meninggalkan Raka seorang diri di depan ruang ICU.
Raka menyandarkan tubuhnya ditiang dengan bersedekap dada, sedangkan pikirannya melayang jauh entah kemana.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Daddy. Aku harus menuruti apa yang diinginkannya, tapi aku harus mencari seorang istri dimana? Kekasih saja aku tidak punya?" gumam Raka yang terus berpikir bagaimana caranya mencari seorang wanita untuk menyenangkan hati Hermawan.
____
Bersambung….