Langit mendung, tak menyurutkan semangat Tania untuk menemui cinta pertamanya. Baru empat jam yang lalu ia berada di Malaysia, dan kini ia sudah menginjakkan kakinya di depan rumah sang pujaan hati, yang berada di negara kelahirannya, Indonesia.
Tania menatap lurus seorang pria tampan yang cukup membuatnya terkesima. Wajah pria itu seperti percampuran oppa oppa Korea dan Jawa. Ya masih Asia juga sih, tapi sangat tampan.
"Egheeemm..."
Tania tersentak saat deheman itu membuyarkan lamunannya. Ia mendadak gugup. Ia masih menatap pria yang kini bersandar di tiang pintu sembari melipat tangannya ke dada, "Ada keperluan apa?" Tanya pria itu padanya.
"Hm, Maaf, apa betul ini rumahnya Rian?"
Tatapan pria itu yang tadinya santai, berganti dengan tatapan intimidasi. tentu saja hal itu langsung membuat Tania berdebar kencang.
"Iya betul. Anda siapanya Rian?"
Tania bersorak dalam hati. Sepertinya informasi yang Amel berikan padanya tidaklah salah. Ia lalu melirik ke belakang menatap sahabatnya yang masih menunggu di mobil. Dan lagi dari kejauhan ia bisa melihat Amel memberikannya semangat.
Tania kembali melirik ke depan. "Sebenarnya gini Mas, mungkin Mas nggak akan percaya dengan apa yang saya katakan ini. tapi fakta sebenarnya saya ini pacarnya Rian."
"Ha?"
"Iya. Saya serius loh Mas, nggak bohong. Mas bisa panggilkan Rian kalau Mas nggak percaya."
"Saya memang nggak percaya. Setahu saya keponakan saya itu nggak punya pacar."
Tania membola seketika mendengar pria itu menyebut Rian sebagai keponakannya. itu artinya pria di depannya ini adalah omnya Rian.
Tania langsung merubah sikapnya menjadi lebih anggun. Ia Bahkan merapikan rambutnya di depan pria itu. Tentu saja itu terkesan aneh bagi si pria.
Tetapan mencurigakan langsung ia layangkan pada Tania.
Tania berdehem beberapa kali, "Maaf om kalau saya lancang datang ke sini, tapi..."
"Sejak kapan saya nikah sama tante kamu?"
"Ha?"
"Kamu tadi panggil saya Om kan? sejak kapan saya nikah sama tante kamu."
"O, o itu... Om kan omnya Rian, jadi om saya juga, secara saya kan pacarnya Rian Om." Jawab Tania mencoba untuk tidak gugup sama sekali, walaupun saat ini jantungnya berdegup sangat kencang.
"Saya bukan Om kamu, jangan panggil saya seperti itu."
Tania terdiam seketika. Melihat respon pria di depannya itu membuat semangatnya berkurang 0,0005%.
"Om Bian?"
Tania yang tadi tertekuk langsung mengangkat kepalanya dan melihat seseorang muncul dari dalam rumah. "Om Bian ngapain di sini? Ada tamu kenapa nggak disuruh masuk Om?"
Pria yang dipanggil dengan nama Bian tadi langsung melirik Tania. Namun seketika Bian curiga karena Tania tak merespon sama sekali dengan kehadiran Rian.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau main futsal sama Radit."
"O ya sudah, hati-hati."
Rian tersenyum pada Tania sebelum pria itu melangkah menuju mobilnya dan keluar dari rumah. Selama kemunculan Rian tadi sampai Rian pergi, tak ada respon apapun dari Tania. bahkan Gadis itu tak menyambut Rian sedikitpun. begitupun dengan Rian. hal itu membuat Bian seketika curiga.
"Kamu yakin pacarnya Rian?" Pertanyaan Bian membuat Tania terkejut.
"I...iya mas. Saya pacarnya Rian. Minta tolong panggilkan Rian Mas?"
Bian menatap Tania lekat. Iya lalu berdiri tegap masih dengan tangan yang dilipat di dada. Yang menunjukkan tubuhnya dan mensejajarkan dengan Tania.
Tania kembali gugup karena wajah mereka begitu dekat. Namun ia seketika merinding saat senyum sinis keluar dari bibir pria tersebut.
"Kalau mau niat nipu jangan di sini. Gadis bodoh!" Umpatnya. Tania membola seketika. Umpatan Bian tadi membuat emosinya mendadak naik.
"Gadis bodoh? Waahh, eh saya ini mau ketemu sama pacar saya. Saya sudah sopan lho mas dari tadi. Saya cuma minta sama Mas Tolong panggilkan pacar saya."
"Kapan kamu ketemu sama Rian?"
"Ha?"
"Keyakinan saya langsung minus saat kamu bersikukuh mengatakan kalau kamu ini adalah pacarnya Rian."
"Iya memang saya pacarnya Rian kok."
"Kapan kalian pacaran? sebelum kalian lahir."
"Ha? Maksudnya apa sih? Jangan bikin pusing Mas ya."
"Kamu yang bikin saya pusing. Kamu cari Rian ke sini sementara tadi itu Rian dan kamu tidak merespon sedikitpun, sama dengan Rian yang juga tidak merespon kamu. yakin kalian pacaran?"
Pernyataan Bian tadi membuat Tania langsung membeku. Otaknya mendadak kosong. Bahkan dia tak tahu harus berkata seperti apa lagi. Ia mencari Rian namun ia tak mengenal wajah Rian. Di mana-mana orang pasti akan menganggapnya sebagai penipu.
Tak!
Sebuah pukulan pelan mendarat di puncak kepala Tania menyadarkan Tania langsung dari lamunannya.
"Isshhh mas KDRT ya. Main pukul aja!" Teriaknya kesal. Suasana hatinya benar-benar sangat buruk saat ini.
"KDRT apanya? Kapan saya nikah sama kamu."
"Iiihhh! Siapa juga yang mau nikah sama kamu. Pria jahat, nggak punya hati."
"Ettsss, itu umpatan atau pujian? Lagian kamu pikir saja siapa yang percaya, mendung-mendung begini muncul seorang gadis mengaku sebagai pacarnya Rian. Tapi saat Rian muncul, gadis tersebut tak merespon sama sekali. Bahkan Rian nya pun tidak mengenali kamu. Kamu pikir saya harus bersikap santai gitu. Ya nggaklah."
Tania benar-benar lemas seketika. Ia tak tahu harus merespon Seperti apa lagi. karena memang semua yang Bian ucapkan itu benar adanya.
Tania menatap tepat di mata Bian. Bibirnya sudah tertekuk ke bawah dan bola matanya mulai memanas. melihat tatapan Tania yang seperti itu, sudah bisa Bian tebak jika sebentar lagi gadis di depannya ini pasti akan menangis.
dan benar saja. Tania langsung terduduk dan tertunduk. hal itu membuat Amel yang ada di mobil langsung kaget dan memutuskan untuk keluar.
"Tania? Eh? Lo kenapa gini?" Tanya Amel sambil berlari mendekati Tania.
Bian yang mendengar gadis yang baru muncul itu menyebut nama Tania, ia pun langsung menatap penuh pada Amel. Amel langsung memeluk tania. tak lama gadis itu berdiri lagi lalu menatap Bian tajam.
"Eh mas, punya hati nggak sih?"
"Ha? kok saya?"
"Ya iyalah. sejak tadi teman saya ngomongnya kan sama anda."
"Heh! kamu jangan asal tuduh. teman kamu ini yang nggak jelas."
"Nggak jelas dari mananya? dia jauh-jauh pulang ke Indonesia cuma untuk menemui cinta pertamanya yang sudah sepuluh tahun nggak ketemu sama dia. anda apakan sahabat saya.?" Amel kembali duduk. ia meminta Tania untuk berdiri dan beranjak dari sana.
"Tunggu. mungkin saya bisa sampaikan pada Rian. siapa nama kamu, dan kenapa kamu ada di sini." ucap Rian. jantung pria itu bergemuruh. apa Tania di depannya ini adalah Tania yang ia temui dulu sepuluh tahun yang lalu. "Nama kamu siapa?" tanya Bian lagi.
"Saya Tania. sepuluh tahun lalu saya bertemu dengan Rian dan dia bilang kalau saya ini pacarnya dia saat dewasa nanti. saya hanya.."
"Oke. oke. sa--saya akan sampaikan pada Rian." Bian memotong ucapan tersebut. ia tak bisa mendengar Tania melanjutkan kalimatnya lagi. saat ini, Bian sangat ingin menangis dan memeluk gadis di depannya saat ini. gadis yang nampak rapuh dan sangat ia rindukan. namun tak mungkin ia melakukan itu. karena yang tania kenal dulu adalah Rian, bukan Bian. walaupun faktanya, yang Tania temui saat kecil dulu adalah Bian yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Oh ya mas. Jika Rian lupa, perlihatkan cincin ini padanya."
Jantung Bian semakin bergemuruh. cincin itu. ia juga punya. 'Kamu kembali Tania.', batin Bian. ia kesulitan menelan ludahnya. seperti ada batu yang tertahan di kerongkongannya. sungguh ia ingin memeluk tubuh itu sekarang. tapi ia hanya bisa melihat tubuh itu berjalan menjauh sampai keluar dari rumahnya.
melihat mobil yang Tania naiki sudah mulai menjauhi rumahnya, Bian dengan cepat langsung memasuki mobilnya dan mencoba mengikuti Tania. awalnya ia kehilangan jejak sampai akhirnya ia menemukan mobil itu kembali saat ia memasuki sebuah gang yang tak jauh dari rumahnya. dari kejauhan. ia melihat mobil itu memasuki sebuah rumah.
dadanya sesak. air matanya sudah menetes. Tania yang sudah ia cari keberadaannya sejak dulu, Tania yang membuatnya tak melirik perempuan lain sampai saat ini, kini sudah kembali.
"Aku merindukanmu Tania. aku Rindu."
__
Malamnya, Bian sama sekali tak bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul satu malam. bayangan Tania yang menangis di hadapannya tadi benar-benar membuat suasana hatinya memburuk. bahkan Ia menjadi sangat membenci dirinya sendiri karena tak mengenali Tania yang sangat ia rindukan.
Bian kembali berputar ke setiap sudut tempat tidurnya untuk mencari kenyamanan agar bisa tertidur, namun tak bisa. ia menggeram kesal. Bian turun dari tempat tidur dan melangkah menuju lemari pakaiannya. ia mengambil sebuah kotak yang cukup besar dari dalam sana. ia membawa kotak tersebut menuju tempat tidurnya dan duduk di atas sana.
dalam kotak ini, berisi banyak kenangan yang ia kumpulkan tentang Tania. secara perlahan , Bian membuka kotak tersebut dan benda pertama yang menarik perhatiannya adalah cincin dari rumput yang sudah mengering. sama persis dengan cincin rumput yang tadi Tania perlihatkan padanya.
'Ini buat kamu. nanti kalau kita sudah besar, aku akan ganti cincinnya dengan cincin yang lebih bagus.'
'Serius? jadi saat besar nanti, kita pacaran?'
'iya. menikah pun juga bisa. nanti saat kita menikah, aku belikan Tania cincin emas yang sangat bagus.'
'Asiiikkk. oke. aku tagih janji kamu ya Rian.'
Bian menatap kelingkingnya yang dulu ia tautkan dengan kelingkin Tania saat Tania kecil menautkan janji.
"Kamu makin cantik Tania. sangat cantik. Maaf karena dulu aku memperkenalkan diriku sebagai Rian. aku tahu aku salah, karena yang kamu tahu saat ini adalah Rian, bukan Bian. Maafin aku." ucapnya lirih.
Bian kembali menatap isi kotak. di sana ada foto Tania dan foto mereka berdua yang diambil menggunakan polaroid miliknya. bahkan Tania tak sempat mengambil foto yang sengaja sudah ia siapkan.
Bian mengambil ponselnya. ia lalu menyalakan layar utama dan langsung memunculkan foto Tania kecil. wallpaper yang sudah sepuluh tahun ini tak pernah ia ganti dari ponselnya sekalipun dia mengganti ponselnya dengan yang baru.
"Aku nggak akan biarin kamu pergi lagi Tania. banyak hal tragis yang terjadi padaku saat kamu pergi. dan hanya menanti kamu kembali yang membuat aku bertahan sampai saat ini. Aku nggak akan lepasin kamu kali ini Tania."
*****
Esok harinya, Tania sudah segar kembali setelah ia mendapatkan wejangan dari Amel setelah mereka sampai di rumah Amel. ia hampir menyerah dan melupakan keinginannya ini, namun jika sekali saja ia sudah menyerah, lalu kenapa ia harus jauh-jauh ke Indonesia meninggalkan kuliahnya di Malaysia, bahkan sampai bersitegang dengan orang tuanya jika akhirnya akan seperti ini.
Jadi, sejak ia menutup mata semalam, ia sudah bertekat akan terus berusaha. dan mencoba meyakinkan Rian jika dulu mereka pernah bertemu. walaupun semalam pertemuannya dengan Rian benar-benar zonk.
"Lo mau usaha lagi?" tanya Amel yang sedari tadi melihat Tania mematut diri di depan cermin.
"Iya dong. benar kata kamu semalam. jika baru sekali aja sudah nyerah, buat apa sampai jauh-jauh ke sini." jawabnya membuat Amel tersenyum.
"Gitu dong. itu baru namanya Tania. lo itu anak petualang. Masa cuma gara-gara semalam saja bisa nyerah. Nggak etis dong."
"Kamu benar." Tania kembali menatap cermin sebentar lalu kembali menatap Amel, "Gimana? udah cantik belum?"
"Lo itu nggak dandan pun tetap cantik Tania." goda Amel membuat Tania malu seketika.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. hari ini hari sabtu dan Amel bilang jika sabtu minggu tak terlalu ada kegiatan kampus. jadi, kampus tempat Rian kuliah juga kemungkinan sama dan Rian ada di rumahnya hari ini.
"Tania, lo nggak bisa tinggal di sini saja apa?" pertanyaan Amel membuat tania berhenti memoles lip tint nya. ia menatap Amel, "Aku mau Amel. tapi orang tua aku bilang kalau aku tinggal di apartemen. dan mereka juga sudah siapkan apartemennya."
"Ck! padahal gue udah seneng banget lo bisa ke sini dan tinggal di rumah gue selama enam bulan ke depan."
Tania tertawa kecil. ia menyelesaikan dulu dandannya lalu berjalan mendekati Amel. "Kan kamu bisa ke apartemen. bantu bantu bikin rencana soal kegiatan gila aku selama di Indonesia. hahaha." ucapnya sembari tertawa.
Amel tahu ia tak bisa memaksakan Tania untuk tetap tinggal bersamanya. Jadi sepertinya ia yang akan sering menginap di apartemen Tania.
"Oke. Sekarang lo udah cantik. Siap buat ketemu pangeran Rian. Mau gue anter?" Ucap Amel menawarkan diri namun Tania langsung menggeleng.
"Kayaknya nggak deh. aku pinjam motor kamu aja ya. Sekalian mau muter-muter daerah sini. Aku juga belum lihat kondisi rumahku yang sejak 10 tahun yang lalu nggak aku tempatin." Ucapnya.
"A, Tania, gini, sebenarnya kalau untuk rumah Lo, gue belum kasih kabar ya."
"Hm? Kasih kabar maksudnya?"
"Gue nggak tahu ya Apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu bulan setelah lo pindah, rumah itu ada yang robohin."
"WHAT? Robohin? robohin maksudnya? Kamu jangan bercanda Amel." Tania benar-benar terkejut mendengar kabar dari Amel. Orang tuanya tak bicara tentang ini sama sekali.
"Gue serius dan gue lagi nggak bercanda. Gue sendiri nggak tahu kenapa, gue pikir Lo udah tahu ternyata belum. Gue juga mikirnya aneh. Masa baru 1 bulan lo pindah tapi kok rumahnya langsung dihancurin seolah-olah Lo nggak bakal balik lagi ke Indonesia."
Tania mendadak bingung, "Masa iya sih. Tapi Mami sama papi nggak ada cerita lho sama aku sama sekali."
"Kalau itu gue juga nggak tahu ya, tapi lu bisa tanya sama orang tua lo kenapa baru 1 bulan kalian pindah rumahnya udah dihancurin. padahal rumahnya bagus loh. kan bisa dikontrakin bagi yang mau. Atau kan bisa jadi tempat kalian balik kalau memang mau balik. kayak gini kan siapa tahu lo balik, gitu loh. Kalau rumahnya masih ada bisa jadi kan lo tinggal di sana."
Tania seketika terdiam. Ia sendiri juga merasa sedikit aneh dengan kepindahan orang tuanya ke Malaysia. Bahkan orang tuanya benar-benar memutus kontak dari Indonesia dan saat ia meminta izin untuk ke Indonesia orang tuanya sangat marah. Bahkan sampai saat ini Tania tak pernah tahu apakah mereka ada saudara di Indonesia atau tidak. pasalnya saat Tania pergi ke Malaysia, umurnya masih 10 tahun dan ia pun tidak kemana-mana ataupun tidak pernah menemui kerabat atau keluarga dari kedua orang tuanya. Yang ia tahu Mami papinya bilang kalau mereka tidak ada kerabat sedikitpun di Indonesia. Kalau dipikir-pikir tak mungkin juga bukan? masalahnya kedua orang tuanya asli orang Indonesia. tentu Mereka punya orang tua dan saudara di sini.
"Kayaknya tugas Aku bakalan nambah deh selama 6 bulan aku di sini." Celetuknya.
"Tugas maksudnya?"
"Mami papi aku bilang kalau mereka nggak punya keluarga selama di Indonesia. Bohong banget kan? masalahnya Mami papi asli orang Indonesia. Masa nenek kakek aku nggak ada. Nggak mungkin Mami sama papi nggak ada saudara juga. Benarkan?. Ditambah lagi yang kamu bilang tadi Kalau rumah aku dirobohin 1 bulan setelah kami pindah. Aneh nggak sih?. Padahal Rumah itu bagus loh. kalau dirobohin gitu aja kan sayang. Kalau dijual lebih bagus kan daripada dirobohin."
Amel nampak berpikir. Ia lalu mengangguk , "yang lo bilang ada benarnya juga sih. Apalagi pas lo bilang mau ke Indonesia. orang tua lo menentang keras kan? kalau tidak terjadi apa-apa di Indonesia sebelum lo pindah, mereka pasti nggak bakal semarah itu. bahkan sampai lo berdebat habis-habisan sama orang tua lo. Dan orang tua lo kan asli Indonesia ya. Masa mereka benar-benar menutup semua akses kehidupan mereka untuk Indonesia sih."
"Kamu bener Amel. Kayaknya aku harus cari tahu dulu. Sebelum 6 bulan ini berakhir, aku harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuaku. Dan aku juga harus cari tahu perihal saudara-saudara kedua orang tuaku dan kakek nenek aku. Masalahnya aneh banget loh."
"Ya udah. nanti kalau lo butuh sesuatu, gue bantuin deh. lo jangan sungkan buat bilang sama gua dan minta bantuan gua. gua punya bakat jadi detektif asal lo tahu." Ucap Amel membuat Tania tertawa
"Ya udah. Yang jelas sekarang aku mau ketemu pangeran Rian dulu. Semalam ketemu kan, tapi sialnya aku nggak ngenalin."
"Iya ih. Aneh banget sih Lo. Katanya Rian itu cinta pertama Lo. Masa kemarin nggak ngenalin."
"Aku juga herannya gitu. Masa aku nggak ngeh sama dia pas dia muncul di depan aku. Justru tatapan aku lebih fokus ke om nya Rian, masa. Aneh kan aku."
"Banget. Lo super aneh." Ucap Amel menimpali. Tania mendengus kesal.
"Tapi kamu kepikiran nggak sih kalau om nya Rian itu yang Rian saat aku ketemu dulu."
"Ha? Lo gila? Ih, aneh banget Lo Tania. Mana ada yang begitu."
"Ck! Kan aku bilang kan pendapat kamu."
"Tapi kan yang punya gebetan itu Lo, kenapa Lo nanya pendapat gue. Gue aja nggak pernah ketemu sama Rian."
"Tapi kamu kan pernah ketemu sama Rian waktu ngikutin Di mana rumah dia kan."
Amel nampak berpikir sejenak. Yang Tania katakan itu benar. saat Tania pindah, Tania meminta bantuannya untuk melihat apakah Rian masih datang ke taman dulu tempat mereka bermain atau tidak Dan ternyata beberapa kali ia melihat Rian datang ke sana dan ia pun juga mengikuti di mana tempat tinggal Rian.
"Kamu ingat kan gimana wajahnya Rian waktu kecil dulu."
"Ingat sih. Tapi nggak mungkin. Emang nama omnya si Rian siapa?"
"Yang aku dengar kemarin dia dipanggil Bian. "
"Hah? Rian dan Bian.?"
"Iya."
"Sshhh.. tapi nggak sih kayaknya. Gue juga belum sepenuhnya ketemu sama omnya Rian. Lo tau sendiri kan kemarin gue ketemu sama dia dalam posisi gua marah. Jadi kepala gue nggak mengingat gimana bentuk wajahnya dia."
Tania meletakkan telunjuknya di bibir dengan raut wajah muka yang terlihat sedang berpikir. "Atau gimana kali ini kamu ikut sama aku! siapa tahu nanti ketemu lagi sama si Bian Bian itu. Jadi kamu bisa lihat dengan teliti apakah wajahnya ada kesamaan atau nggak? Lagian tujuan aku tadi minjem motor kan untuk lihat keadaan rumah. pas kamu bilang dirobohin, ya udah mau lihat apa lagi."
"Ya udah. Lo pergi sama gue aja. kita pakai mobil. Nanti sekalian pulangnya kita bisa mampir ke tempat lo tinggal dulu."
"Ya udah."
Tania berdiri dari duduknya disusul oleh Amel. keduanya keluar dari kamar dan memutuskan untuk pergi.
Rumah Amel berada dua gang setelah rumah Rian. Namun tak terlalu jauh juga sebenarnya jika menggunakan motor atau mobil.
Belum terlalu jauh Amel keluar dari rumahnya, ia dikejutkan dengan tepukan Tania di pundaknya. "Itu Rian nggak sih?" tunjuk Tania pada sebuah taman di mana dulu ia dan Rian bertemu.
"Kayaknya iya. Tapi Gue nggak pernah ketemu Rian pas dewasa.. Gue cuma tahu rumahnya karena gua pernah ngikutin dia dulu Dari sini menuju rumahnya."
"Iya tapi itu cowok yang aku temui kemarin yang Bian bilang kalau itu sebenarnya Rian."
"Ha? Seriusan? Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan Rian yang kemarin itu beneran Rian yang aku temuin waktu masih kecil dulu."
Tania dan Amel saling tatap. Tak lama keduanya berteriak. Seolah dapat petunjuk dari Allah, Amel langsung melajukan mobilnya menuju taman. Kehadirannya langsung diperhatikan oleh Rian. Pria itu yang dari tadi asik memainkan gitarnya langsung menghentikan permainannya dan melirik fokus pada mobil Amel.
Tak lama dari dalam mobil Tania turun. Namun Amel masih berada di dalam mobil. Gadis itu memperhatikan wajah Rian yang cukup menyenangkan jika terus ditatap.
Sementara Tania melangkah terus mendekati Rian.
"Hai.." sapa Tania lebih dulu dan langsung dibalas dengan senyuman oleh Rian."Kamu Rian ya?" Tanya Tania.
"Iya. Aku Rian. Kamu bukannya yang kemarin ke rumah ya?"
Tania Mengangguk antusias. Dalam hatinya ia bersorak. Rian mengingatnya.
"Salam kenal ya." Ucap Rian.
"Salam kenal?"
"Iya. Itu pertama kali kita ketemu kan?"
"Kalau aku bilang jauh sebelumnya kita pernah ketemu, kamu percaya nggak?"
"Eh? Jauh sebelumnya?"
"Iya. Jauh sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu, kita sering bertemu di taman ini."
*****
Esok harinya, Tania sudah segar kembali setelah ia mendapatkan wejangan dari Amel setelah mereka sampai di rumah Amel. ia hampir menyerah dan melupakan keinginannya ini, namun jika sekali saja ia sudah menyerah, lalu kenapa ia harus jauh-jauh ke Indonesia meninggalkan kuliahnya di Malaysia, bahkan sampai bersitegang dengan orang tuanya jika akhirnya akan seperti ini.
Jadi, sejak ia menutup mata semalam, ia sudah bertekat akan terus berusaha. dan mencoba meyakinkan Rian jika dulu mereka pernah bertemu. walaupun semalam pertemuannya dengan Rian benar-benar zonk.
"Lo mau usaha lagi?" tanya Amel yang sedari tadi melihat Tania mematut diri di depan cermin.
"Iya dong. benar kata kamu semalam. jika baru sekali aja sudah nyerah, buat apa sampai jauh-jauh ke sini." jawabnya membuat Amel tersenyum.
"Gitu dong. itu baru namanya Tania. lo itu anak petualang. Masa cuma gara-gara semalam saja bisa nyerah. Nggak etis dong."
"Kamu benar." Tania kembali menatap cermin sebentar lalu kembali menatap Amel, "Gimana? udah cantik belum?"
"Lo itu nggak dandan pun tetap cantik Tania." goda Amel membuat Tania malu seketika.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. hari ini hari sabtu dan Amel bilang jika sabtu minggu tak terlalu ada kegiatan kampus. jadi, kampus tempat Rian kuliah juga kemungkinan sama dan Rian ada di rumahnya hari ini.
"Tania, lo nggak bisa tinggal di sini saja apa?" pertanyaan Amel membuat tania berhenti memoles lip tint nya. ia menatap Amel, "Aku mau Amel. tapi orang tua aku bilang kalau aku tinggal di apartemen. dan mereka juga sudah siapkan apartemennya."
"Ck! padahal gue udah seneng banget lo bisa ke sini dan tinggal di rumah gue selama enam bulan ke depan."
Tania tertawa kecil. ia menyelesaikan dulu dandannya lalu berjalan mendekati Amel. "Kan kamu bisa ke apartemen. bantu bantu bikin rencana soal kegiatan gila aku selama di Indonesia. hahaha." ucapnya sembari tertawa.
Amel tahu ia tak bisa memaksakan Tania untuk tetap tinggal bersamanya. Jadi sepertinya ia yang akan sering menginap di apartemen Tania.
"Oke. Sekarang lo udah cantik. Siap buat ketemu pangeran Rian. Mau gue anter?" Ucap Amel menawarkan diri namun Tania langsung menggeleng.
"Kayaknya nggak deh. aku pinjam motor kamu aja ya. Sekalian mau muter-muter daerah sini. Aku juga belum lihat kondisi rumahku yang sejak 10 tahun yang lalu nggak aku tempatin." Ucapnya.
"A, Tania, gini, sebenarnya kalau untuk rumah Lo, gue belum kasih kabar ya."
"Hm? Kasih kabar maksudnya?"
"Gue nggak tahu ya Apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu bulan setelah lo pindah, rumah itu ada yang robohin."
"WHAT? Robohin? robohin maksudnya? Kamu jangan bercanda Amel." Tania benar-benar terkejut mendengar kabar dari Amel. Orang tuanya tak bicara tentang ini sama sekali.
"Gue serius dan gue lagi nggak bercanda. Gue sendiri nggak tahu kenapa, gue pikir Lo udah tahu ternyata belum. Gue juga mikirnya aneh. Masa baru 1 bulan lo pindah tapi kok rumahnya langsung dihancurin seolah-olah Lo nggak bakal balik lagi ke Indonesia."
Tania mendadak bingung, "Masa iya sih. Tapi Mami sama papi nggak ada cerita lho sama aku sama sekali."
"Kalau itu gue juga nggak tahu ya, tapi lu bisa tanya sama orang tua lo kenapa baru 1 bulan kalian pindah rumahnya udah dihancurin. padahal rumahnya bagus loh. kan bisa dikontrakin bagi yang mau. Atau kan bisa jadi tempat kalian balik kalau memang mau balik. kayak gini kan siapa tahu lo balik, gitu loh. Kalau rumahnya masih ada bisa jadi kan lo tinggal di sana."
Tania seketika terdiam. Ia sendiri juga merasa sedikit aneh dengan kepindahan orang tuanya ke Malaysia. Bahkan orang tuanya benar-benar memutus kontak dari Indonesia dan saat ia meminta izin untuk ke Indonesia orang tuanya sangat marah. Bahkan sampai saat ini Tania tak pernah tahu apakah mereka ada saudara di Indonesia atau tidak. pasalnya saat Tania pergi ke Malaysia, umurnya masih 10 tahun dan ia pun tidak kemana-mana ataupun tidak pernah menemui kerabat atau keluarga dari kedua orang tuanya. Yang ia tahu Mami papinya bilang kalau mereka tidak ada kerabat sedikitpun di Indonesia. Kalau dipikir-pikir tak mungkin juga bukan? masalahnya kedua orang tuanya asli orang Indonesia. tentu Mereka punya orang tua dan saudara di sini.
"Kayaknya tugas Aku bakalan nambah deh selama 6 bulan aku di sini." Celetuknya.
"Tugas maksudnya?"
"Mami papi aku bilang kalau mereka nggak punya keluarga selama di Indonesia. Bohong banget kan? masalahnya Mami papi asli orang Indonesia. Masa nenek kakek aku nggak ada. Nggak mungkin Mami sama papi nggak ada saudara juga. Benarkan?. Ditambah lagi yang kamu bilang tadi Kalau rumah aku dirobohin 1 bulan setelah kami pindah. Aneh nggak sih?. Padahal Rumah itu bagus loh. kalau dirobohin gitu aja kan sayang. Kalau dijual lebih bagus kan daripada dirobohin."
Amel nampak berpikir. Ia lalu mengangguk , "yang lo bilang ada benarnya juga sih. Apalagi pas lo bilang mau ke Indonesia. orang tua lo menentang keras kan? kalau tidak terjadi apa-apa di Indonesia sebelum lo pindah, mereka pasti nggak bakal semarah itu. bahkan sampai lo berdebat habis-habisan sama orang tua lo. Dan orang tua lo kan asli Indonesia ya. Masa mereka benar-benar menutup semua akses kehidupan mereka untuk Indonesia sih."
"Kamu bener Amel. Kayaknya aku harus cari tahu dulu. Sebelum 6 bulan ini berakhir, aku harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuaku. Dan aku juga harus cari tahu perihal saudara-saudara kedua orang tuaku dan kakek nenek aku. Masalahnya aneh banget loh."
"Ya udah. nanti kalau lo butuh sesuatu, gue bantuin deh. lo jangan sungkan buat bilang sama gua dan minta bantuan gua. gua punya bakat jadi detektif asal lo tahu." Ucap Amel membuat Tania tertawa
"Ya udah. Yang jelas sekarang aku mau ketemu pangeran Rian dulu. Semalam ketemu kan, tapi sialnya aku nggak ngenalin."
"Iya ih. Aneh banget sih Lo. Katanya Rian itu cinta pertama Lo. Masa kemarin nggak ngenalin."
"Aku juga herannya gitu. Masa aku nggak ngeh sama dia pas dia muncul di depan aku. Justru tatapan aku lebih fokus ke om nya Rian, masa. Aneh kan aku."
"Banget. Lo super aneh." Ucap Amel menimpali. Tania mendengus kesal.
"Tapi kamu kepikiran nggak sih kalau om nya Rian itu yang Rian saat aku ketemu dulu."
"Ha? Lo gila? Ih, aneh banget Lo Tania. Mana ada yang begitu."
"Ck! Kan aku bilang kan pendapat kamu."
"Tapi kan yang punya gebetan itu Lo, kenapa Lo nanya pendapat gue. Gue aja nggak pernah ketemu sama Rian."
"Tapi kamu kan pernah ketemu sama Rian waktu ngikutin Di mana rumah dia kan."
Amel nampak berpikir sejenak. Yang Tania katakan itu benar. saat Tania pindah, Tania meminta bantuannya untuk melihat apakah Rian masih datang ke taman dulu tempat mereka bermain atau tidak Dan ternyata beberapa kali ia melihat Rian datang ke sana dan ia pun juga mengikuti di mana tempat tinggal Rian.
"Kamu ingat kan gimana wajahnya Rian waktu kecil dulu."
"Ingat sih. Tapi nggak mungkin. Emang nama omnya si Rian siapa?"
"Yang aku dengar kemarin dia dipanggil Bian. "
"Hah? Rian dan Bian.?"
"Iya."
"Sshhh.. tapi nggak sih kayaknya. Gue juga belum sepenuhnya ketemu sama omnya Rian. Lo tau sendiri kan kemarin gue ketemu sama dia dalam posisi gua marah. Jadi kepala gue nggak mengingat gimana bentuk wajahnya dia."
Tania meletakkan telunjuknya di bibir dengan raut wajah muka yang terlihat sedang berpikir. "Atau gimana kali ini kamu ikut sama aku! siapa tahu nanti ketemu lagi sama si Bian Bian itu. Jadi kamu bisa lihat dengan teliti apakah wajahnya ada kesamaan atau nggak? Lagian tujuan aku tadi minjem motor kan untuk lihat keadaan rumah. pas kamu bilang dirobohin, ya udah mau lihat apa lagi."
"Ya udah. Lo pergi sama gue aja. kita pakai mobil. Nanti sekalian pulangnya kita bisa mampir ke tempat lo tinggal dulu."
"Ya udah."
Tania berdiri dari duduknya disusul oleh Amel. keduanya keluar dari kamar dan memutuskan untuk pergi.
Rumah Amel berada dua gang setelah rumah Rian. Namun tak terlalu jauh juga sebenarnya jika menggunakan motor atau mobil.
Belum terlalu jauh Amel keluar dari rumahnya, ia dikejutkan dengan tepukan Tania di pundaknya. "Itu Rian nggak sih?" tunjuk Tania pada sebuah taman di mana dulu ia dan Rian bertemu.
"Kayaknya iya. Tapi Gue nggak pernah ketemu Rian pas dewasa.. Gue cuma tahu rumahnya karena gua pernah ngikutin dia dulu Dari sini menuju rumahnya."
"Iya tapi itu cowok yang aku temui kemarin yang Bian bilang kalau itu sebenarnya Rian."
"Ha? Seriusan? Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan Rian yang kemarin itu beneran Rian yang aku temuin waktu masih kecil dulu."
Tania dan Amel saling tatap. Tak lama keduanya berteriak. Seolah dapat petunjuk dari Allah, Amel langsung melajukan mobilnya menuju taman. Kehadirannya langsung diperhatikan oleh Rian. Pria itu yang dari tadi asik memainkan gitarnya langsung menghentikan permainannya dan melirik fokus pada mobil Amel.
Tak lama dari dalam mobil Tania turun. Namun Amel masih berada di dalam mobil. Gadis itu memperhatikan wajah Rian yang cukup menyenangkan jika terus ditatap.
Sementara Tania melangkah terus mendekati Rian.
"Hai.." sapa Tania lebih dulu dan langsung dibalas dengan senyuman oleh Rian."Kamu Rian ya?" Tanya Tania.
"Iya. Aku Rian. Kamu bukannya yang kemarin ke rumah ya?"
Tania Mengangguk antusias. Dalam hatinya ia bersorak. Rian mengingatnya.
"Salam kenal ya." Ucap Rian.
"Salam kenal?"
"Iya. Itu pertama kali kita ketemu kan?"
"Kalau aku bilang jauh sebelumnya kita pernah ketemu, kamu percaya nggak?"
"Eh? Jauh sebelumnya?"
"Iya. Jauh sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu, kita sering bertemu di taman ini."
*****