Bab 2

Di dalam sebuah pesawat yang merupakan layanan First Class yang berada di baris paling depan dengan tingkat privasi yang lebih tinggi dan layanan yang lebih personal dibandingkan dengan kelas ekonomi. Dengan disiapkan taplak meja, gelas kaca, piring kaca, dan layanan lain yang seperti merasakan berada di restoran bintang 5 dengan pilihan menu yang juga beragam.

Dengan sedikit kursi dan dilayani oleh dua pramugari dengan fasilitas selimut dan aneka surat kabar yang bisa dibaca oleh penumpang kelas atas saat merasa bosan berada di dalam pesawat. Terlihat seorang pria dengan netra pekat, alis hitam tebal dilengkapi bulu mata lentik yang menampilkan kesan tegas dan di padukan dengan hidung mancung serta bibir yang tebal, membuatnya semakin mempesona di mata kaum hawa.

Dia adalah Arkanza Calief Anderson, berusia 30 tahun yang sedang berada di dalam sebuah pesawat dari Amerika menuju ke Jakarta. Arkan yang dari tadi asyik membaca surat kabar untuk membuang rasa bosan yang dirasakan, membuatnya meletakkan surat kabar itu ke tempatnya.

Lalu, ia meraih ponsel di saku celananya yang sudah dalam mode pesawat dan membuka galeri di dalam ponsel pintar miliknya. Kini, ia telah sibuk memuaskan indera penglihatannya untuk menatap sebuah foto dari seorang wanita yang menurutnya adalah wanita tercantik di dunia dan sangat dicintai.

"Aku sudah kembali, Sayang. Aku akan merebutmu dari pria berengsek yang telah merebutmu dariku. Aku bukan lagi pria miskin seperti yang dulu, sekarang aku sudah mempunyai apa yang orang tuamu inginkan."

Arkan mengusap foto wanita yang merupakan kekasihnya tahun yang lalu dan sampai sekarang masih sangat dicintainya. Ia pun menyandarkan kepalanya di punggung kursi dan memejamkan kedua mata untuk mengingat malam perpisahan yang paling berkesan antara dirinya dengan wanita yang sangat dicintainya lima tahun yang lalu.

***

Lima tahun yang lalu...

Arkan tidak berhenti bertanya-tanya di dalam hatinya saat tiba-tiba sang kekasih mengajaknya untuk ke hotel sepulang dari kantor. Satu tahun menjadi rekan kerja sekantor dan sekaligus menjalin hubungan percintaan, membuat keduanya menjadi pasangan paling romantis di kantor dan membuat iri rekan kerjanya yang lain.

Rini Andriani langsung mengunci pintu kamar hotel begitu berada di dalam bersama dengan pria tampan yang sangat dicintainya.

Sedangkan wajah penuh sorot pertanyaan dari Arkan terlihat jelas di wajahnya. "Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa mengajakku ke hotel? Jangan bilang kalau kamu mengajakku untuk melakukan 'Make love'. Kita belum menikah, aku tidak akan menurutinya."

Tanpa memperdulikan perkataan dari pria yang mengarahkan tatapan menelisik padanya, Rini mulai mengungkapkan isi hatinya, "Sayang, aku mencintaimu," ucap Rini dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan menghambur memeluk tubuh kekar pria yang sudah satu tahun dicintai.

"Hei, kenapa malah menangis. Aku tahu kamu sangat mencintaiku, begitu pun denganku. Kamu sudah tahu itu, kan? Kalau aku juga sangat mencintaimu. Lalu, apa maksudmu mengajakku ke sini?" Arkan mengusap lembut punggung wanita yang sudah terisak di dadanya yang bidang.

Tangis Rini seketika pecah begitu mendengar ungkapan hati dari pria yang mengusap lembut punggungnya. "Jangan meragukan cintaku padamu, Sayang. Aku benar-benar sangat mencintaimu."

Arkan sedikit menjauhkan tubuhnya dan menahan kedua sisi lengan sang kekasih, lalu menatapnya dengan intens. "Jangan membuat aku bingung dengan kata-katamu."

"Sayang, aku sangat mencintaimu," ucap Rini dengan isak tangisnya.

"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padamu, Sayang? Jangan buat aku gila saat melihatmu menangis seperti ini!" Arkan menangkup kedua sisi wajah cantik yang sudah penuh dengan lelehan air mata itu. "Cepat katakan padaku, sebenarnya ada apa denganmu?"

Rini menggelengkan kepala, dadanya seolah sesak saat memikirkan nasib tragis percintaannya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan menjadi salah satu wanita bernasib sama seperti Siti Nurbaya yang harus menerima dijodohkan dengan pria pilihan kedua orang tuanya.

Dengan susah payah ia menelan saliva dan mulai mengeluarkan suara, "Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi orang tuaku menjodohkanku dengan pria yang merupakan bosnya di perusahaan."

Sontak saja perkataan dari wanita yang sangat dicintainya itu membuat Arkan seketika langsung melepaskan tangannya dari wajah cantik yang masih berlinang air mata itu. Kakinya melangkah mundur beberapa langkah, tentu saja ia sangat shock mendengar perkataan dari sang kekasih.

"A-apa? Kamu dijodohkan? Apakah kamu selama ini tidak mengatakan apa-apa pada orang tuamu tentang hubungan kita?"

"Tentu saja aku sudah mengatakan kepada mereka kalau aku menolak perjodohan ini karena mempunyai hubungan denganmu. Akan tetapi, orang tuaku tidak merestui hubungan kita begitu mengetahui kamu hanyalah staf biasa di perusahaan."

"Jadi?" tanya Arkan dengan tatapan penuh dengan sorot mata penuh frustasi.

"Mau tidak mau, aku harus menuruti perintah dari orang tuaku karena mereka mempunyai banyak utang pada bosnya di perusahaan. Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku," Rini kembali menghambur ke dada bidang pria yang masih terdiam membisu di tempatnya.

"Memangnya berapa utang keluargamu pada pria berengsek itu? Biar aku yang mencari cara untuk membayar utang-utang keluargamu. Apa pun akan aku lakukan agar kita tidak berpisah." Arkan memeluk erat tubuh ramping Rini dan mengecup keningnya.

"Kamu tidak akan bisa membayarnya, Sayang karena gaji kita di perusahaan tidaklah besar."

"Katakan saja padaku berapa?" rengut Arkan dan kembali menatap wajah cantik kekasihnya.

"Delapan ratus juta. Sudahlah, Sayang. Jangan memikirkan tentang utang-utang keluargaku. Aku mengajakmu ke sini karena ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu." Rini mengusap air matanya dan mengarahkan tangannya untuk meraba setiap inci pahatan sempurna di depannya.

Arkan membulatkan kedua matanya begitu mendengar uang delapan ratus juta, sehingga ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataan dari wanita yang asyik dengan wajahnya.

"Sebenarnya apa maksudmu, Sayang? Apakah kamu akan menyerahkan kesucianmu padaku? Agar orang tuamu membatalkan rencana perjodohan yang mereka rencanakan?"

"Aku ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu, meski aku tidak bisa menikah denganmu. Hari ini, aku akan menyerahkan kesucianku kepadamu, Sayang karena pria tua itu tidak berhak mendapatkannya.

"Bahkan dia sudah memiliki anak perempuan berusia 12 tahun dan istrinya baru saja meninggal satu bulan yang lalu." Rini mulai mengarahkan tangannya untuk membuka satu persatu kancing kemeja pria yang sangat dicintainya.

"Miliki dan nikmati aku karena sangat mencintaimu, Arkan." Tatapan penuh cinta tampak jelas di wajah Rini saat menatap wajah tampan pria yang sangat dicintainya.

Lagi-lagi Arkan membulatkan kedua mata begitu mendengar penjelasan dari sang kekasih. "Pria tua? Kamu gila, apakah kamu setuju untuk menikah dengan pria tua itu. Jangan lakukan, Sayang. Lebih baik kita kawin lari saja."

Rini sudah berhasil membuka semua kancing kemeja sang kekasih dan bisa melihat tubuh sixpack di depannya. Hal itu membuatnya menelan salivanya.

"Sayang, meski aku sangat membenci orang tuaku, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka. Karena aku tetap menyayangi mereka. Jadi, aku tidak bisa membuat mereka hidup di kolong jembatan karena terlilit utang."

"Tolong mengertilah! Bukankah kesucianku cukup untuk membuatmu merasa yakin bahwa aku sangat mencintaimu? Lebih baik kita nikmati saja malam ini!" ucap Rini yang sudah mulai melepaskan kemeja berwarna abu-abu itu dari tubuh sixpack pria tampan yang sangat dicintainya.

To be continued...

Bab 3

Arkan menahan tangan dari sang kekasih yang sudah mulai mengusap dada bidangnya. Tubuhnya seketika menegang saat mendapatkan sentuhan lembut dari wanita yang sudah menatap dengan penuh sarat makna. Seolah keduanya sama-sama mengungkapkan isi hati lewat tatapan penuh cinta dan menegaskan saling mendamba satu sama lain.

"Kamu yakin, Sayang?" tanya Arkan dengan mengarahkan jemari lentik sang kekasih ke bibirnya dan mengecupnya dengan sangat lembut.

Rini menganggukkan kepala, seolah sangat yakin dan sudah memantapkan hati untuk menyerahkan kesuciannya pada pria yang sangat dicintainya. "Aku sangat yakin dengan keputusanku, Arkan karena sangat mencintaimu. Jadi, jangan pernah meragukan cintaku saat aku tidak bisa menikah denganmu."

Arkan menggelengkan kepala dan menutup bibir tipis di depannya dengan jari telunjuk. "Selamanya aku tidak akan pernah membencimu dan akan merebutmu dari pria itu."

"Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya, Arkan! Karena dia sangat kaya, kita tidak ada apa-apanya." Rini menampilkan wajah sendu karena merasa tidak mempunyai harapan untuk bisa bersatu dengan kekasih yang sangat dicintainya itu.

"Aku akan pergi ke Amerika," ucap Arkan dan menatap reaksi dari wanita yang langsung menampilkan ekspresi wajah terkejut mendengar ucapannya.

"Amerika? Jangan bilang kamu menerima tawaran untuk dikirim ke kantor pusat oleh direktur? Bukankah tadi kamu menolaknya?"

"Aku berubah pikiran setelah mendengar penjelasanmu hari ini, Sayang. Aku akan bekerja dengan keras untuk mencari uang banyak dan kembali ke sini setelah lima tahun. Apakah kamu mau menungguku?" Arkan menatap wajah cantik wanita yang sudah satu tahun menjadi kekasihnya dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.

"Maksudmu? Kamu masih akan menerimaku meski aku sudah menikah dengan pria itu? Dan kamu menyuruhku untuk menunggumu?" Tatapan tidak percaya tampak jelas di wajah cantik Rini begitu mendengar perkataan dari pria tampan yang menurutnya tidak masuk di akal dan sangat konyol.

Arkan menganggukkan kepalanya dan memeluk erat tubuh seksi wanita yang sangat dipujanya. "Iya, aku akan merebutmu kembali setelah memiliki hal yang diinginkan oleh orang tuamu. Tunggu aku dan percayalah padaku!"

Tanpa memikirkannya, Rini langsung menganggukkan kepalanya. "Aku mau, Arkan. Aku akan menunggumu kembali dan akan langsung meninggalkan pria itu jika kamu kembali setelah sukses. Terima kasih Arkan, aku sangat mencintaimu." Wajah Rini tampak berkaca-kaca karena merasa sangat terharu mendengar janji manis dari sang kekasih yang sangat dicintainya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang," ucap Arkan yang langsung memiringkan wajahnya saat semakin mendekati bibir tipis merah merekah yang terlihat sangat membuatnya tergila-gila.

Dengan gerakan sangat lembut ia mulai meraup bibir tipis itu dan mulai menyesap dan melumatnya. Tidak lupa ia sudah melesakkan lidahnya untuk mengabsen setiap sudut bagian dalam rongga mulut wanita yang sudah mulai membalas ciumannya.

Sedangkan tangannya tidak tinggal diam karena sudah melepaskan satu persatu kancing pakaian sang kekasih melepaskannya dari tubuh seksi itu. Dan ciumannya semakin bertambah liar karena ia sudah sibuk memberi jejak kepemilikan di setiap inci bagian atas tubuh wanita yang sudah mulai mengeluarkan lenguhannya.

Kini, keduanya sama-sama sudah terbakar hasrat yang menggelora dan semakin menginginkan lebih karena saling mendamba. Karena sudah cukup melakukan foreplay, Arkan meraup tubuh seksi wanita yang sudah berubah merah permukaan kulit wajahnya ke atas ranjang king size dan mulai bercinta dengan wanita yang sangat dicintainya.

Suara desahan dan lenguhan dari keduanya mendominasi ruangan kamar hotel itu dengan benda mati yang menjadi saksi bisu dari adegan percintaan panas yang membuat dua insan yang dimabuk cinta itu mengungkapkan perasaannya dengan momen penyatuan diri.

Tentu saja karena itu adalah hal yang pertama kali untuknya, membuat Rini menjerit kesakitan saat dinding pertahannya berhasil di terobos masuk oleh pria yang sudah bergerak sesuai irama di atas tubuhnya.

Arkan langsung membungkam bibir wanita yang sudah mencakar punggungnya dan mulai membuai wanita yang berada di bawahnya dengan gerakan yang awalnya lambat berubah semakin cepat dan semakin lama semakin membuat wanita yang kesakitan itu mulai menikmati perbuatannya.

Seolah keduanya sama-sama tidak memikirkan hari esok karena hanya memikirkan sebuah kepuasan batin saat berhasil merasakan surga dunia yang diimpikan oleh semua pasangan suami istri tanpa memikirkan bahwa perbuatan mereka melanggar aturan.

Setengah jam berlalu, kini keduanya sama-sama jatuh terkulai lemas dengan peluh yang bercucuran membasahi tubuh polos mereka, serta deru napas yang memburu setelah setengah jam lebih bercinta.

*******

Suasana di Bandara Internasional Soekarno Hatta terlihat sangat ramai di terminal kedatangan. Terlihat seorang gadis yang masih memakai seragam SMA baru saja turun dari mobil mewah dengan seorang supir paruh baya yang baru saja membukakan pintu untuknya.

Dengan buru-buru ia berjalan keluar dari mobil karena terlambat menjemput sang papa yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. "Terima kasih, Pak Dedi. Tunggu saja di parkiran! Nanti aku hubungi Bapak jika sudah bertemu dengan papa."

"Baik, Nona muda," ucap Pak Dedi seraya membungkukkan badan dan melangkah masuk ke dalam mobil untuk segera memarkirkan mobil di tempatnya.

Sementara itu, Zaara tampak sangat kesal karena wajahnya semenjak keluar dari sekolah tadi masam. Tentu saja ia sangat membenci wanita yang tak lain adalah mama tirinya yang menyuruhnya untuk menjemput papanya di Bandara karena sedang sibuk ke salon.

Hal itu membuatnya tidak jadi pergi ke Cafe untuk mencari om-om tampan untuk menjadikannya sugar baby.

"Si ular betina itu benar-benar sangat licik dan membuatku tidak bisa mencari om-om tampan. Dia pasti merayu papa tadi dan bilang tidak bisa menjemput karena ingin merawat diri untuk melayani papa. Memuakkan! Aku benar-benar ingin muntah saat melihat wajah munafiknya."

Zaara masih tidak berhenti merengut dan bersungut-sungut karena merasa sangat kesal tanpa memperhatikan sekelilingnya dan tanpa sadar ia menabrak seorang pria yang sedang menundukkan kepalanya saat menatap ke arah ponselnya.

Tidak bisa dihindari, ponsel milik pria yang ditabraknya jatuh ke lantai dan seketika langsung retak layar bagian depan karena terbentur lantai.

Zaara buru-buru berjongkok untuk mengambil ponsel dari orang yang ditabraknya dan mengamati benda pipih yang terlihat bernasib sangat mengenaskan di tangannya.

'Wah, mati aku. Aku pasti di suruh mengganti ponsel ini. Mana aku nggak bawa dompet lagi karena tas kutaruh di dalam mobil. Lebih baik aku mengajak bernegosiasi orang yang aku tabrak saja,' gumam Zaara di dalam hati dengan perasaan yang sedikit cemas.

Lalu, ia yang masih memegang ponsel pintar yang retak itu langsung mendongak untuk menatap ke arah pria yang tengah berdiri menjulang di depannya. Manik bening miliknya menatap pria yang memakai kemeja berwarna abu-abu dengan blazer hitam, serta kaca mata hitam yang melindungi mata dan semakin membuat pria berparas tampan itu terlihat sangat maskulin dan juga gagah.

Zaara tidak berkedip menatap wajah tampan dengan pahatan sempurna di atasnya. 'Astaga, pria ini keren dan sangat maskulin. Aku suka dia. Om tampan seperti ini yang selama ini aku cari,' batin Zaara.

"Dasar gadis yang sangat ceroboh! Apa yang kau lihat anak kecil," ucap Arkan yang merasa kesal karena ulah kecerobohan dari gadis berseragam abu-abu itu.

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED