Bab 1

Di sebuah ruangan kamar berukuran sangat luas dengan segala furniture lengkap berkualitas tinggi yang menghiasi kamar berukuran sepuluh meter yang merupakan ruangan pribadi dari seorang gadis berusia 12 tahun, tak lain adalah Aisyahzaara Bellova yang sedang duduk bersimpuh di lantai dengan posisi menekuk lutut dan membenamkan wajahnya di antara kedua paha..

Zaara tidak berhenti menangis di dalam kamar saat sang papa memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita muda nan cantik yang lebih pantas menjadi tantenya setelah mamanya meninggal satu bulan yang lalu. Suara dari papanya yang baru saja mengucapkan Ijab Qabul bisa didengarnya dari ruangan kamar.

Tentu saja ia bisa menilai sosok wanita yang akan menjadi ibu tirinya adalah wanita yang terlihat jelas tidak menyukainya dan berpura-pura bersikap manis di depannya. Wajahnya yang sudah dirias oleh para MUA sudah berantakan karena bulir air matanya sudah memenuhi wajah.

Dengan tubuh bergetar dan masih sesenggukan, Zaara mengungkapkan kesedihannya, "Papa sangat jahat. Baru satu bulan mama meninggal, tapi papa sudah menikah lagi dengan wanita ular yang pasti akan membuat hidupku bagaikan di neraka seperti cerita di Tv."

"Mama, bawa aku bersamamu," isak Zaara dengan menangis tersedu-sedu. "Zaara takut pada wanita jahat itu. Kenapa mama meninggal tidak mengajak aku. Kenapa mama meninggalkan aku selamanya. Bagaimana nasib Zaara tanpa mama?"

Zaara tidak berhenti menangis terisak dengan air mata yang mulai menganak sungai di gaun indahnya yang berwarna putih. Suara tangisannya mulai memenuhi ruangan kamar. Belum puas ia menangis, suara ketukan pintu terdengar di telinga.

Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tak lama kemudian, bisa dilihatnya sang papa berjalan masuk ke dalam kamar bersama dengan wanita yang memakai kebaya pengantin tengah menatapnya dengan tatapan sinis.

"Putriku, kenapa menangis di sini, Sayang? Jangan membuat papa sedih dengan kamu mengurung diri dan menangis di dalam kamar. Ayo, sapa mamamu! Dia yang akan menjadi mama baru dan menyayangimu seperti mamamu yang telah meninggal," ucap Cakra Baihaqi seraya mengusap lembut rambut panjang putrinya.

Cakra beralih menatap ke arah wanita yang baru saja dinikahinya, "Sayang, ajak bicara putriku dan anggap dia seperti putri kandungmu sendiri. Aku akan membiarkan kalian berdua berbicara berdua dari hati ke hati sebagai ibu dan anak."

"Iya, Mas. Aku akan berbicara pada Zaara. Mas tenang saja, aku sudah menganggap putri Mas seperti putriku sendiri," ujar Rini Andriani dengan menampilkan senyuman manisnya. "

'Astaga, aku sangat mual dengan kata-kataku sendiri,' batin Rini.

Tatapan penuh kebencian diarahkan Zaara saat melihat tatapan sinis dari wanita yang dinikahi oleh papanya. Karena merasa sangat kesal, ia mendorong tubuh wanita yang berstatus sebagai mama tirinya. "Aku membencimu, jangan mendekatiku!" teriak Zaara dengan tatapan tajam.

Sontak saja dorongan kuat dari gadis berusia 12 tahun itu membuat Rini jatuh menghempas lantai.

   "Aarrrgghhh ...."

Cakra Baihaqi yang baru saja hampir keluar dari ruangan kamar putrinya itu langsung menoleh ke arah sumber suara kesakitan dan melihat wanita cantik yang baru saja dinikahinya itu jatuh terduduk di lantai.

Sontak ia langsung berlari ke arah sang istri dan bisa melihat kilat amarah dari putrinya yang berdiri menjulang di depan wanita yang meringis kesakitan itu. "Zaara! Jaga sikapmu pada mamamu!" teriak Cakra dengan suara baritonnya dan langsung menolong istrinya. "Kamu tidak apa-apa, Sayang?"

Rini menggelengkan kepalanya dan mulai menjawab pertanyaan dari pria yang baru saja menikahinya, "Aku tidak apa-apa, Mas. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Biarkan aku bicara berdua dengan Zaara. Mas tolong keluar sebentar!"

Melihat akting dari wanita yang sangat dibencinya, membuat Zaara langsung berteriak dengan keras. "Wanita jahat ini bukan mama Zaara. Zaara tidak mau punya mama tiri, dia sangat jahat, Pa."

Merasa sangat kesal atas ulah putrinya yang menurutnya sangat nakal, membuat Cakra langsung mengarahkan tangan hendak menampar putrinya yang menurutnya tidak mempunyai sopan santun pada orang yang lebih tua. Namun, tangannya dipegang oleh sang istri.

"Jangan, Mas! Zaara masih kecil, jadi belum mengerti apa-apa. Mas keluar saja karena sedang dikuasai oleh emosi. Biar aku yang mencoba berbicara pada Zaara," ujar Rini mencoba meyakinkan suaminya yang masih dikuasai oleh amarah.

"Baiklah, kamu ajari putriku yang nakal ini! Karena dulu mamanya sangat memanjakannya, jadi dia menjadi anak yang nakal. Aku serahkan putriku padamu," ucap Cakra seraya menepuk pundak wanita berparas cantik itu.

Rini menganggukkan kepalanya dan mulai menjawab perkataan dari suaminya. "Iya, Mas. Serahkan saja padaku."

"Jangan tinggalkan aku bersama wanita jahat ini, Pa! Dia akan menyakitiku!" teriak Zaara mengharap papanya tidak meninggalkannya.

Namun, teriakannya sama sekali tidak diperdulikan oleh papanya yang terlihat sudah menutup pintu. "Papa jahat," teriak Zaara yang beralih menatap tajam ke arah wanita yang sudah berdiri menjulang didepannya dan menatapnya dengan tatapan tajam.

Rini langsung tertawa sinis saat menatap gadis kecil yang tengah mengarahkan tatapan penuh kebencian padanya. "Papamu tidak akan menolongmu, gadis kecil karena dia sangat mencintaiku. Dia tidak akan memperdulikanmu lagi. Jadi, kamu harus sadar diri."

"Aaarrrgghhh ...." Zaara meringis kesakitan saat rambut panjangnya ditarik ke belakang oleh mama tirinya yang mengarahkan tatapan menakutkan.

"Jaga sikapmu padaku, Anak kecil! Jika tidak, aku akan membuat papamu membuangmu di panti asuhan!" hardik Rini yang semakin menjambak rambut dari gadis kecil yang sudah berkaca-kaca di depannya.

"Kau memang wanita jahat. Lepaskan tanganmu dari rambutku! Aarrggghhh ...." Zaara merasakan rambutnya yang semakin ditarik oleh mama tirinya, membuat ia meringis kesakitan. Hingga bulir bening membasahi wajahnya saat merasakan sakit yang sangat luar biasa pada kepalanya.

"Sudah aku bilang jangan melawanku! Atau kamu benar-benar ingin aku melemparmu ke jalanan? Dasar gadis nakal, jika kamu sampai berani melawanku, aku benar-benar akan membuatmu berakhir tidur di kolong jembatan. Kalau kamu tidak percaya, kamu coba saja!"

Rini melepaskan tangannya dari rambut panjang gadis kecil yang masih meringis kesakitan itu. Bisa dilihatnya bahwa anak perempuan itu tidak menangis atau pun berteriak saat disakiti. Lalu, ia pergi begitu saja setelah tangannya mendorong gadis kecil itu hingga jatuh terhempas ke lantai.

Zaara meringis menahan sakit tanpa mengeluarkan suara. Tatapan penuh kebencian tampak dari manik bening miliknya. Begitu pintu kamarnya tertutup dan siluet dari mama tirinya hilang di balik pintu, bulir bening mulai lolos dari bola matanya.

Karena tidak ingin ada yang mendengar suara tangisannya, ia menangis dengan posisi tangan membekap mulut dan tubuhnya sesekali bergetar.

"Mama, Zaara rindu mama. Ajak Zaara pergi, na. Papa sudah masuk dalam jebakan wanita jahat itu. Apa yang harus Zaara lakukan?" batin Zaara dengan penuh linangan air mata di wajah sembabnya.

******

🍃 5 tahun kemudian 🍃

Di sebuah SMA Negeri, terlihat para siswa-siswi tengah bersorak-sorai saat melihat pertandingan basket antara para siswa kelas XII dengan siswa kelas XI. Para murid perempuan terlihat asyik bersorak memberikan semangat pada idolanya masing-masing karena yang bertanding adalah para cowok-cowok populer di sekolah.

Pemandangan itu tidak berlaku pada Aisyahzaara Belova. Gadis berparas cantik dengan mata bulat dilengkapi bulu mata lentik dan hidung mancung serta bibir tipisnya. Ia berada di barisan paling belakang dan tengah fokus bermain game di ponselnya tanpa melihat pertandingan bola basket yang menurutnya sangat membosankan.

Nina lestari yang duduk di sebelah sahabat baiknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari Zaara. "Hei, Zaara!, sebenarnya apa yang ada di otakmu ini," ucap Nina seraya mengarahkan jarinya di kening sahabatnya.

Refleks Zaara langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya untuk menatap sahabat karibnya semenjak dari SMP hingga SMA. "Maksudmu apa?"

"Tuh ... banyak cowok-cowok keren yang terlihat maskulin saat bertanding basket. Akan tetapi, kamu sama sekali tidak melihat mereka dari tadi. Malah asyik menatap ke arah ponsel tidak pentingmu itu."

"Bukankah tadi aku sudah bilang tidak ingin menonton para anak mama itu, tapi kamu memaksaku tadi. Menyebalkan," ujar Zaara yang bangkit dari kursi.

"Ya ampun, Zaara. Cowok-cowok keren di sekolah malah kamu bilang para anak mama. Bahkan kamu diincar oleh ketua OSIS, tapi tidak kamu tanggapi. Kalau aku jadi kamu, sudah pasti aku akan langsung menerimanya. Kamu mau kemana?" tanya Nina seraya ikut berdiri.

"Aku mau cari om-om ganteng yang bisa memberikanku kasih sayang," ucap Zaara sambil terkekeh.

"Astaga, ngomong apa sih kamu Zaara. Kamu lagi kesambet, ya?" Mengarahkan tangannya ke kening sahabatnya dan beralih ke keningnya sendiri. "Nggak panas, tapi kenapa kamu seperti orang yang tidak waras."

"Sialan!" ujar Zaara seraya mencubit hidung Nina. "Aku waras dan sangat baik, tapi hatiku yang tidak baik. Kamu tahu sendiri kan alasannya?"

"Iya, aku tahu Zaara. Kamu bisa melewatinya selama lima tahun ini. Jadi, kamu harus semakin kuat dan buat siluman ular betina itu merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu harus melawannya!"

"Aku sama sekali tidak pernah memperdulikan dia mau berbuat apa. Aku hanya ingin bersenang-senang," jawab Zaara.

"Bersenang-senang? Kalau begitu kita jalan-jalan ke Mall, yuk!" ajak Nina dengan sangat bersemangat.

"Aku ingin menjadi sugar baby pria dewasa yang tampan dan kaya raya," ucap Zaara dengan tatapan penuh keseriusan. Kemudian ia melanjutkan perkataannya. "Bukankah wajahku sangat memenuhi syarat untuk menjadi sugar baby?"

"Apa, Sugar Baby? Wah ... sepertinya otakmu sudah bergeser dari tempatnya. Gila!" ucap Nina seraya menepuk lengan sahabatnya.

"Aku memang sudah gila lima tahun yang lalu, jadi jangan heran. Di mana aku bisa mencari om-om yang membutuhkan sugar baby, ya? Kira-kira siapa yang bisa membantuku?" tanya Zaara ke arah sahabatnya.

"Astaga, mana aku tahu, Zaara. Secara kan aku bukan sugar baby. Kamu benar-benar sudah gila ,Zaara, jangan sampai hidupmu lebih menderita setelah menjadi simpanan om-om. Pikirkan baik-baik, oke!" rayu Nina pada sahabatnya. Berharap sahabat baiknya itu tidak terjerumus ke hal-hal negatif.

"Aku sudah kenyang menderita. Jadi, jangan menasehatiku!" Tanpa memperdulikan petuah dari sahabat baiknya, Zaara berjalan meninggalkan area lapangan basket. 

To be continued...

Bab 2

Di dalam sebuah pesawat yang merupakan layanan First Class yang berada di baris paling depan dengan tingkat privasi yang lebih tinggi dan layanan yang lebih personal dibandingkan dengan kelas ekonomi. Dengan disiapkan taplak meja, gelas kaca, piring kaca, dan layanan lain yang seperti merasakan berada di restoran bintang 5 dengan pilihan menu yang juga beragam.

Dengan sedikit kursi dan dilayani oleh dua pramugari dengan fasilitas selimut dan aneka surat kabar yang bisa dibaca oleh penumpang kelas atas saat merasa bosan berada di dalam pesawat. Terlihat seorang pria dengan netra pekat, alis hitam tebal dilengkapi bulu mata lentik yang menampilkan kesan tegas dan di padukan dengan hidung mancung serta bibir yang tebal, membuatnya semakin mempesona di mata kaum hawa.

Dia adalah Arkanza Calief Anderson, berusia 30 tahun yang sedang berada di dalam sebuah pesawat dari Amerika menuju ke Jakarta. Arkan yang dari tadi asyik membaca surat kabar untuk membuang rasa bosan yang dirasakan, membuatnya meletakkan surat kabar itu ke tempatnya.

Lalu, ia meraih ponsel di saku celananya yang sudah dalam mode pesawat dan membuka galeri di dalam ponsel pintar miliknya. Kini, ia telah sibuk memuaskan indera penglihatannya untuk menatap sebuah foto dari seorang wanita yang menurutnya adalah wanita tercantik di dunia dan sangat dicintai.

"Aku sudah kembali, Sayang. Aku akan merebutmu dari pria berengsek yang telah merebutmu dariku. Aku bukan lagi pria miskin seperti yang dulu, sekarang aku sudah mempunyai apa yang orang tuamu inginkan."

Arkan mengusap foto wanita yang merupakan kekasihnya tahun yang lalu dan sampai sekarang masih sangat dicintainya. Ia pun menyandarkan kepalanya di punggung kursi dan memejamkan kedua mata untuk mengingat malam perpisahan yang paling berkesan antara dirinya dengan wanita yang sangat dicintainya lima tahun yang lalu.

***

Lima tahun yang lalu...

Arkan tidak berhenti bertanya-tanya di dalam hatinya saat tiba-tiba sang kekasih mengajaknya untuk ke hotel sepulang dari kantor. Satu tahun menjadi rekan kerja sekantor dan sekaligus menjalin hubungan percintaan, membuat keduanya menjadi pasangan paling romantis di kantor dan membuat iri rekan kerjanya yang lain.

Rini Andriani langsung mengunci pintu kamar hotel begitu berada di dalam bersama dengan pria tampan yang sangat dicintainya.

Sedangkan wajah penuh sorot pertanyaan dari Arkan terlihat jelas di wajahnya. "Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa mengajakku ke hotel? Jangan bilang kalau kamu mengajakku untuk melakukan 'Make love'. Kita belum menikah, aku tidak akan menurutinya."

Tanpa memperdulikan perkataan dari pria yang mengarahkan tatapan menelisik padanya, Rini mulai mengungkapkan isi hatinya, "Sayang, aku mencintaimu," ucap Rini dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan menghambur memeluk tubuh kekar pria yang sudah satu tahun dicintai.

"Hei, kenapa malah menangis. Aku tahu kamu sangat mencintaiku, begitu pun denganku. Kamu sudah tahu itu, kan? Kalau aku juga sangat mencintaimu. Lalu, apa maksudmu mengajakku ke sini?" Arkan mengusap lembut punggung wanita yang sudah terisak di dadanya yang bidang.

Tangis Rini seketika pecah begitu mendengar ungkapan hati dari pria yang mengusap lembut punggungnya. "Jangan meragukan cintaku padamu, Sayang. Aku benar-benar sangat mencintaimu."

Arkan sedikit menjauhkan tubuhnya dan menahan kedua sisi lengan sang kekasih, lalu menatapnya dengan intens. "Jangan membuat aku bingung dengan kata-katamu."

"Sayang, aku sangat mencintaimu," ucap Rini dengan isak tangisnya.

"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padamu, Sayang? Jangan buat aku gila saat melihatmu menangis seperti ini!" Arkan menangkup kedua sisi wajah cantik yang sudah penuh dengan lelehan air mata itu. "Cepat katakan padaku, sebenarnya ada apa denganmu?"

Rini menggelengkan kepala, dadanya seolah sesak saat memikirkan nasib tragis percintaannya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan menjadi salah satu wanita bernasib sama seperti Siti Nurbaya yang harus menerima dijodohkan dengan pria pilihan kedua orang tuanya.

Dengan susah payah ia menelan saliva dan mulai mengeluarkan suara, "Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi orang tuaku menjodohkanku dengan pria yang merupakan bosnya di perusahaan."

Sontak saja perkataan dari wanita yang sangat dicintainya itu membuat Arkan seketika langsung melepaskan tangannya dari wajah cantik yang masih berlinang air mata itu. Kakinya melangkah mundur beberapa langkah, tentu saja ia sangat shock mendengar perkataan dari sang kekasih.

"A-apa? Kamu dijodohkan? Apakah kamu selama ini tidak mengatakan apa-apa pada orang tuamu tentang hubungan kita?"

"Tentu saja aku sudah mengatakan kepada mereka kalau aku menolak perjodohan ini karena mempunyai hubungan denganmu. Akan tetapi, orang tuaku tidak merestui hubungan kita begitu mengetahui kamu hanyalah staf biasa di perusahaan."

"Jadi?" tanya Arkan dengan tatapan penuh dengan sorot mata penuh frustasi.

"Mau tidak mau, aku harus menuruti perintah dari orang tuaku karena mereka mempunyai banyak utang pada bosnya di perusahaan. Sayang, aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku," Rini kembali menghambur ke dada bidang pria yang masih terdiam membisu di tempatnya.

"Memangnya berapa utang keluargamu pada pria berengsek itu? Biar aku yang mencari cara untuk membayar utang-utang keluargamu. Apa pun akan aku lakukan agar kita tidak berpisah." Arkan memeluk erat tubuh ramping Rini dan mengecup keningnya.

"Kamu tidak akan bisa membayarnya, Sayang karena gaji kita di perusahaan tidaklah besar."

"Katakan saja padaku berapa?" rengut Arkan dan kembali menatap wajah cantik kekasihnya.

"Delapan ratus juta. Sudahlah, Sayang. Jangan memikirkan tentang utang-utang keluargaku. Aku mengajakmu ke sini karena ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu." Rini mengusap air matanya dan mengarahkan tangannya untuk meraba setiap inci pahatan sempurna di depannya.

Arkan membulatkan kedua matanya begitu mendengar uang delapan ratus juta, sehingga ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataan dari wanita yang asyik dengan wajahnya.

"Sebenarnya apa maksudmu, Sayang? Apakah kamu akan menyerahkan kesucianmu padaku? Agar orang tuamu membatalkan rencana perjodohan yang mereka rencanakan?"

"Aku ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu, meski aku tidak bisa menikah denganmu. Hari ini, aku akan menyerahkan kesucianku kepadamu, Sayang karena pria tua itu tidak berhak mendapatkannya.

"Bahkan dia sudah memiliki anak perempuan berusia 12 tahun dan istrinya baru saja meninggal satu bulan yang lalu." Rini mulai mengarahkan tangannya untuk membuka satu persatu kancing kemeja pria yang sangat dicintainya.

"Miliki dan nikmati aku karena sangat mencintaimu, Arkan." Tatapan penuh cinta tampak jelas di wajah Rini saat menatap wajah tampan pria yang sangat dicintainya.

Lagi-lagi Arkan membulatkan kedua mata begitu mendengar penjelasan dari sang kekasih. "Pria tua? Kamu gila, apakah kamu setuju untuk menikah dengan pria tua itu. Jangan lakukan, Sayang. Lebih baik kita kawin lari saja."

Rini sudah berhasil membuka semua kancing kemeja sang kekasih dan bisa melihat tubuh sixpack di depannya. Hal itu membuatnya menelan salivanya.

"Sayang, meski aku sangat membenci orang tuaku, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka. Karena aku tetap menyayangi mereka. Jadi, aku tidak bisa membuat mereka hidup di kolong jembatan karena terlilit utang."

"Tolong mengertilah! Bukankah kesucianku cukup untuk membuatmu merasa yakin bahwa aku sangat mencintaimu? Lebih baik kita nikmati saja malam ini!" ucap Rini yang sudah mulai melepaskan kemeja berwarna abu-abu itu dari tubuh sixpack pria tampan yang sangat dicintainya.

To be continued...

Bab 3

Arkan menahan tangan dari sang kekasih yang sudah mulai mengusap dada bidangnya. Tubuhnya seketika menegang saat mendapatkan sentuhan lembut dari wanita yang sudah menatap dengan penuh sarat makna. Seolah keduanya sama-sama mengungkapkan isi hati lewat tatapan penuh cinta dan menegaskan saling mendamba satu sama lain.

"Kamu yakin, Sayang?" tanya Arkan dengan mengarahkan jemari lentik sang kekasih ke bibirnya dan mengecupnya dengan sangat lembut.

Rini menganggukkan kepala, seolah sangat yakin dan sudah memantapkan hati untuk menyerahkan kesuciannya pada pria yang sangat dicintainya. "Aku sangat yakin dengan keputusanku, Arkan karena sangat mencintaimu. Jadi, jangan pernah meragukan cintaku saat aku tidak bisa menikah denganmu."

Arkan menggelengkan kepala dan menutup bibir tipis di depannya dengan jari telunjuk. "Selamanya aku tidak akan pernah membencimu dan akan merebutmu dari pria itu."

"Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya, Arkan! Karena dia sangat kaya, kita tidak ada apa-apanya." Rini menampilkan wajah sendu karena merasa tidak mempunyai harapan untuk bisa bersatu dengan kekasih yang sangat dicintainya itu.

"Aku akan pergi ke Amerika," ucap Arkan dan menatap reaksi dari wanita yang langsung menampilkan ekspresi wajah terkejut mendengar ucapannya.

"Amerika? Jangan bilang kamu menerima tawaran untuk dikirim ke kantor pusat oleh direktur? Bukankah tadi kamu menolaknya?"

"Aku berubah pikiran setelah mendengar penjelasanmu hari ini, Sayang. Aku akan bekerja dengan keras untuk mencari uang banyak dan kembali ke sini setelah lima tahun. Apakah kamu mau menungguku?" Arkan menatap wajah cantik wanita yang sudah satu tahun menjadi kekasihnya dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.

"Maksudmu? Kamu masih akan menerimaku meski aku sudah menikah dengan pria itu? Dan kamu menyuruhku untuk menunggumu?" Tatapan tidak percaya tampak jelas di wajah cantik Rini begitu mendengar perkataan dari pria tampan yang menurutnya tidak masuk di akal dan sangat konyol.

Arkan menganggukkan kepalanya dan memeluk erat tubuh seksi wanita yang sangat dipujanya. "Iya, aku akan merebutmu kembali setelah memiliki hal yang diinginkan oleh orang tuamu. Tunggu aku dan percayalah padaku!"

Tanpa memikirkannya, Rini langsung menganggukkan kepalanya. "Aku mau, Arkan. Aku akan menunggumu kembali dan akan langsung meninggalkan pria itu jika kamu kembali setelah sukses. Terima kasih Arkan, aku sangat mencintaimu." Wajah Rini tampak berkaca-kaca karena merasa sangat terharu mendengar janji manis dari sang kekasih yang sangat dicintainya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang," ucap Arkan yang langsung memiringkan wajahnya saat semakin mendekati bibir tipis merah merekah yang terlihat sangat membuatnya tergila-gila.

Dengan gerakan sangat lembut ia mulai meraup bibir tipis itu dan mulai menyesap dan melumatnya. Tidak lupa ia sudah melesakkan lidahnya untuk mengabsen setiap sudut bagian dalam rongga mulut wanita yang sudah mulai membalas ciumannya.

Sedangkan tangannya tidak tinggal diam karena sudah melepaskan satu persatu kancing pakaian sang kekasih melepaskannya dari tubuh seksi itu. Dan ciumannya semakin bertambah liar karena ia sudah sibuk memberi jejak kepemilikan di setiap inci bagian atas tubuh wanita yang sudah mulai mengeluarkan lenguhannya.

Kini, keduanya sama-sama sudah terbakar hasrat yang menggelora dan semakin menginginkan lebih karena saling mendamba. Karena sudah cukup melakukan foreplay, Arkan meraup tubuh seksi wanita yang sudah berubah merah permukaan kulit wajahnya ke atas ranjang king size dan mulai bercinta dengan wanita yang sangat dicintainya.

Suara desahan dan lenguhan dari keduanya mendominasi ruangan kamar hotel itu dengan benda mati yang menjadi saksi bisu dari adegan percintaan panas yang membuat dua insan yang dimabuk cinta itu mengungkapkan perasaannya dengan momen penyatuan diri.

Tentu saja karena itu adalah hal yang pertama kali untuknya, membuat Rini menjerit kesakitan saat dinding pertahannya berhasil di terobos masuk oleh pria yang sudah bergerak sesuai irama di atas tubuhnya.

Arkan langsung membungkam bibir wanita yang sudah mencakar punggungnya dan mulai membuai wanita yang berada di bawahnya dengan gerakan yang awalnya lambat berubah semakin cepat dan semakin lama semakin membuat wanita yang kesakitan itu mulai menikmati perbuatannya.

Seolah keduanya sama-sama tidak memikirkan hari esok karena hanya memikirkan sebuah kepuasan batin saat berhasil merasakan surga dunia yang diimpikan oleh semua pasangan suami istri tanpa memikirkan bahwa perbuatan mereka melanggar aturan.

Setengah jam berlalu, kini keduanya sama-sama jatuh terkulai lemas dengan peluh yang bercucuran membasahi tubuh polos mereka, serta deru napas yang memburu setelah setengah jam lebih bercinta.

*******

Suasana di Bandara Internasional Soekarno Hatta terlihat sangat ramai di terminal kedatangan. Terlihat seorang gadis yang masih memakai seragam SMA baru saja turun dari mobil mewah dengan seorang supir paruh baya yang baru saja membukakan pintu untuknya.

Dengan buru-buru ia berjalan keluar dari mobil karena terlambat menjemput sang papa yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. "Terima kasih, Pak Dedi. Tunggu saja di parkiran! Nanti aku hubungi Bapak jika sudah bertemu dengan papa."

"Baik, Nona muda," ucap Pak Dedi seraya membungkukkan badan dan melangkah masuk ke dalam mobil untuk segera memarkirkan mobil di tempatnya.

Sementara itu, Zaara tampak sangat kesal karena wajahnya semenjak keluar dari sekolah tadi masam. Tentu saja ia sangat membenci wanita yang tak lain adalah mama tirinya yang menyuruhnya untuk menjemput papanya di Bandara karena sedang sibuk ke salon.

Hal itu membuatnya tidak jadi pergi ke Cafe untuk mencari om-om tampan untuk menjadikannya sugar baby.

"Si ular betina itu benar-benar sangat licik dan membuatku tidak bisa mencari om-om tampan. Dia pasti merayu papa tadi dan bilang tidak bisa menjemput karena ingin merawat diri untuk melayani papa. Memuakkan! Aku benar-benar ingin muntah saat melihat wajah munafiknya."

Zaara masih tidak berhenti merengut dan bersungut-sungut karena merasa sangat kesal tanpa memperhatikan sekelilingnya dan tanpa sadar ia menabrak seorang pria yang sedang menundukkan kepalanya saat menatap ke arah ponselnya.

Tidak bisa dihindari, ponsel milik pria yang ditabraknya jatuh ke lantai dan seketika langsung retak layar bagian depan karena terbentur lantai.

Zaara buru-buru berjongkok untuk mengambil ponsel dari orang yang ditabraknya dan mengamati benda pipih yang terlihat bernasib sangat mengenaskan di tangannya.

'Wah, mati aku. Aku pasti di suruh mengganti ponsel ini. Mana aku nggak bawa dompet lagi karena tas kutaruh di dalam mobil. Lebih baik aku mengajak bernegosiasi orang yang aku tabrak saja,' gumam Zaara di dalam hati dengan perasaan yang sedikit cemas.

Lalu, ia yang masih memegang ponsel pintar yang retak itu langsung mendongak untuk menatap ke arah pria yang tengah berdiri menjulang di depannya. Manik bening miliknya menatap pria yang memakai kemeja berwarna abu-abu dengan blazer hitam, serta kaca mata hitam yang melindungi mata dan semakin membuat pria berparas tampan itu terlihat sangat maskulin dan juga gagah.

Zaara tidak berkedip menatap wajah tampan dengan pahatan sempurna di atasnya. 'Astaga, pria ini keren dan sangat maskulin. Aku suka dia. Om tampan seperti ini yang selama ini aku cari,' batin Zaara.

"Dasar gadis yang sangat ceroboh! Apa yang kau lihat anak kecil," ucap Arkan yang merasa kesal karena ulah kecerobohan dari gadis berseragam abu-abu itu.

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED