Bab 1

Lelaki tampan yang sedang menyesap kopi di cangkir berwarna putih susu itu, bernama Airlangga Abimanyu. Di sebelahnya, adalah orang kepercayaannya bernama Sam Wisesa. Abimanyu sedang bertamu, bermaksud membeli tanah di area perbukitan sebuah kota tanpa menawar. Kebutuhannya akan area baru untuk usahanya begitu mendesak.

Setelah bercakap-cakap dengan wanita muda di hadapannya itu, dapat diketahui bahwa tanah penjualan itu bukan milik wanita bernama Dyah tersebut. Dyah hanya membantu sepupunya dengan memasang iklan online juga di koran. Tak menyangka akan secepat ini di taksir orang.

"Saya hubungi sepupu saya sek nggih, Mas," ucap Dyah.

Abimanyu hanya mengangguk dan tersenyum simpul.

Cukup lama panggilan tersebut diangkat hingga pada akhirnya Abimanyu terpaku mendengar suara indah di seberang telpon sana.

"Mbak Liana, iki sing meh tumbas tanah dateng kerumahku, piye?"

"Oh, nggih, Mbak Dyah."

Suara yang mendayu-dayu itu membuat Abimanyu memberanikan diri dengan mengisyaratkan kepada Dyah supaya dia saja yang berbicara.

"Halo"

"Ahh iya. Halo, Mas, gimana-gimana?"

"Bagaimana, Bu? Tanahnya saya hargai 450 juta ya?"

"Oh, boleh-boleh, Mas."

"Jadi, saya kirim ke mana ini uangnya?"

"Mmm, aku tanya bapakku dulu, ya, Mas. Nanti aku hubungi lagi soalnya bapakku lagi kerja."

"Oh, kalau begitu saya simpan nomer nya njenengan, ya, Bu. Biar gampang nanti saya hubungi."

"Siap, Mas."

Setelah berbincang sebentar dengan Dyah. Dua lelaki berjas hitam itu pun melenggang pergi. Abimanyu berharap semoga setelah ini, dia bisa bertemu dengan si pemilik suara bernama Liana itu.

***

Malam ini, Abimanyu melepas penat setelah beberapa jam kerja dengan secangkir kopi susu. Abimanyu teringat wanita bernama Liana. Ahh shit! Mengingatnya saja membuat bagian bawah sana perlahan menegak.

Bersamaan dengan makiannya, ponselnya berdering. Sebuah nomor baru nan cantik tertera di layar ponselnya, segera ia menggeser warna hijau ke atas.

"Hallo." suara lelah Abimanyu begitu lirih.

Hmmm. Abimanyu berpikir sejenak, jangankan berbeda pulau, berbeda negara pun akan Abimanyu perjuangkan. Dia sangat penasaran akan seperti apa rupa Liana, apakah se-indah suaranya? Rasa penasaran yang menggebu itu membuat harapannya melambung tinggi.

"Jika saya meminta bertemu langsung, bagaimana?" Ucap Abimanyu.

"Ooo, boleh. Boleh. Nanti saya kirimkan alamatnya."

Klik.

Liana mematikan telepon secara sepihak padahal Abimanyu belum selesai berbicara. Tetapi setidaknya dia puas, sebentar lagi dia akan bertemu dengan Liana ini.

***

Airlangga Abimanyu adalah seorang pengusaha dengan kekayaan di atas rata-rata. Hampir seluruh hotel di tanah jawa adalah miliknya. Lelaki tersebut dilahirkan dari keluarga yang berada dan apapun yang dia mau harus terwujud.

Wanita mana yang mampu menolak ketampanan serta keperkasaan dari Airlangga Abimanyu. Tidak ada. Bahkan mungkin semua wanita rela berada di bawah kungkungannya.

Rahang yang terukir tegas, kokoh, dan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya. Matanya yang berwarna hazel dan kuning melingkar di luarnya merupakan pembawaan dari Ibunya. Ayahnya seorang pribumi yang masih merupakan keturunan dari Kerajaan Singosari.

Itu yang membuatnya sulit mencari wanita, selain mencari yang harus jelas asal usul dan juga setara dengan derajatnya, Airlangga Abimanyu tak sembarangan memilih wanita. Dia tak pernah punya pacar. Padahal di usianya yang menginjak 32 tahun, dia sudah mapan untuk menikah. Lelaki tersebut hanya menyukai one night stand. Entah. Hanya Airlangga Abimanyu yang tau apa alasannya.

***

Pesawat pribadi milik Abimanyu terpampang nyata di halaman sebuah bandara. Bukan Abimanyu namanya jika tak membuat kehebohan. Dengan sengaja dia melintasi jalanan umum di dalam bandara, padahal dia bisa melewati jalan khusus untuk pengusaha sepertinya.

Lelaki gagah dengan kaca mata beningnya itu menarik perhatian sebagian banyak wanita maupun gadis-gadis termasuk pramugari yang terbengong-bengong melihat ketampanan yang hakiki itu.

Ganteng banget ya alloh.

Apa dia malaikat turun ke bumi?

Lebih ganteng dari babang minho ini mah.

Kurang lebih seperti itulah komentar netizen yang budiman melihat ketampanannya. Setampan apa sih sampai babang LeeMinHo lewat? Eh, ini beneran tampan loh readers.

"Bos, anggota sudah saya siapkan disana."

"Good."

Itu adalah Sam, kaki tangan Abimanyu sekaligus sahabatnya yang sangat dia percaya. Sam Wisesa, anak dari sahabat Ayah Abimanyu yang juga terjebak cinta oleh gadis luar negeri.

Sepanjang penerbangan Abimanyu lebih memilih untuk mendengarkan musik. Penerbangan dengan waktu lebih singkat dari biasanya pun membuat perasaanya entah bagaimana.

***

Hiruk pikuk kota Balikpapan mengingatkannya dengan tempat tinggalnya di Semarang. Sama-sama ramai, padat kendaraan dan angkot. Dia sangat jarang mengunjungi perusahaan di sini. Dikarenakan Oma-nya selalu melarang pergi jauh. Tapi, kenapa ini boleh? Ya, karena Abimanyu menggunakan alasan akan bertemu dengan calon istrinya.

Melajukan mobil, menuju alamat yang dilampirkan wanita itu melalui WhatsApp menuju sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi. Kemudian, Sam menekan klakson agar pagar dibuka.

Di halaman rumah megah itu, dua pria bertubuh tegap menghampiri mobil Abimanyu. Lelaki tersebut lantas membuka kaca mobil untuk memperlihatkan wajahnya.

"Ingin bertemu siapa?" sapa bodyguard berwajah garang itu.

"Ibu Liana. Saya Abimanyu," ucapnya sambil melepaskan kaca matanya.

"Silakan, Pak. Tuan besar dan Nyonya sudah menunggu di dalam. Mari saya antar."

Abimanyu mengendarai mobil mewahnya memasuki pekarangan yang begitu banyak tanaman bunga-bunga. Air mancur dengan patung singa berada di tengah-tengah halaman tersebut.

Suara pantofel Abimanyu menggema pelan di atas lantai marmer berwarna aqua itu. Kemudian, terlihat sosok lelaki lebih tua dari ayah Abimanyu di ruang tamu, sedang duduk sembari memegang smartphone-nya, dan di sebelah lelaki itu ada dua orang anak perempuan sedang memakan kue.

"Selamat pagi, Pak." sapa Abimanyu.

"Selamat pagi. Ini pasti nak Abimanyu ya?"

"Iya, Pak." Abimanyu mengeluarkan senyum terbaiknya mengingat yang ada di hadapannya adalah calon mertuanya.

Sam menaruh koper berisi uang di meja kayu jati yang ukirannya jelas di buat khusus.

"Mbak, tolong buatkan minum untuk dua orang tamu saya ya, sekalian panggilkan Nyonya suruh kemari. Oh,ya, jangan lupa tolong telfonkan Liana suruh cepat pulang." ucap lelaki itu, melalui walkie talkie nya.

Abimanyu menjelajahkan indera penglihatannya ke seluruh arah. Dapat ia tebak lelaki di hadapannya ini suka mengumpulkan benda-benda kuno.

Abimanyu berbincang dengan kedua orang tua yang sudah separuh abad tersebut, tetapi masih segar bugar. Bapak itu ingin menunggu anaknya terlebih dahulu barulah bisa dimulai pembicaraanya karena tanah itu sejujurnya adalah milik Liana.

Suara deru mobil berhenti membuat jantung Abimanyu berpacu lebih cepat. Terdiam, tak berani menoleh ke belakang.

"Halooo, Kung." Seorang wanita menggandeng anak lelaki kecil di samping kirinya. Melenggang masuk dan menyalami Abimanyu dan Sam.

"Yuhuu! Eperibadeh, Luna pulang nih." Selanjutnya seorang wanita dengan pakaian yang longgar, celana panjang robek membuat Abimanyu menganga.

Kedua wanita itu juga cantik. Sepertinya semua anak lelaki dihadapannya ini cantik-cantik.

"Mbaaakk!" Abimanyu menolehkan kepalanya. "Mbak, tolong kuenya di siapkan, ya," ujar wanita itu melalui pintu samping.

Astaga! Cantik. Cantik sekali. Inikah yang dinamakan 'Makhluk Tuhan Paling Seksi?' Oh, tidak! Mungkin inilah 'Bidadari Tak Bersayap' .

Wanita tersebut berjalan dengan anggun. Lihatlah, sepatu besarnya, celana jeans panjang, dan baju berwarna putih yang sedikit ketat menonjolkan buah dadanya yang besar dan padat itu. Abimanyu jelas menelan liurnya.

"Li, ini mas-mas yang mau beli tanah itu," ucap Ibunya menerangkan.

Mata hazel Abimanyu bersitatap dengan mata cokelat gelap milik Liana. Senyum wanita itu mengembang memperlihatkan lesung di kedua pipinya.

Ia mengulurkan tangan, bersalaman dengan Abimanyu dan Sam. Lembut sekali telapak tangan wanita itu. Kulit yang putih bersih, senyum yang menawan dengan lipstik peach nya itu. Apalagi lesung pipi nya saat dia tersenyum, make-upnya yang polos menambah kecantikannya. Wah, Abimanyu bagai terhipnotis.

"Arjun mana mah?" tanya Liana.

Arjun? Siapa dia? Gejolak di hati Abimanyu meronta-ronta. Namun, dia dengan sigap mengendalikan diri dari rasa yang menggebu-gebu ini.

"Masih tidur baru minum susu tadi. Suami mu mana?" Ibunya berkata sembari menyerahkan anak kecil perempuan di sampingnya dalam gendongan Liana.

"Sebentar Bang Fajar nyusul kok, Ma, dia masih nge-gym," jawab Liana.

Suami?

Seketika hati Abimanyu bak tergelindas truk tronton. Hancur berkeping-keping tak tersisa. Haruskah dia menjadi pebinor?

Bab 2

Sudah 2 hari Abimanyu tak bertemu Liana, padahal uang tanah Liana baru diberikan separuh oleh Abi. Sengaja, dengan begitu dia punya alasan untuk bertemu lagi dengan Liana. Namun, perkiraan lelaki itu salah, dia pikir Liana akan meminta untuk segera melunasi pembayarannya, tapi nyatanya Liana santai saja.

"Menurutmu gimana, Sam?" Sam mengacungkan jempolnya sembari matanya terfokus pada salome di hadapannya. "Enak, Bos," jawabnya.

"Awsss sakit, Bos." Sam memegangi jidatnya yang disentil oleh Abi.

"Bukan makanannya bego, tapi Liana."

Sam mengelus-ngelus dagunya yang tak berjenggot, kemudian lelaki itu menyunggingkan bibirnya hingga menbentuk sebuah senyuman. "Menjadi pebinor, ya, Bos? Hmm, not bad. Apalagi Bu Liana cantiknya warbyasah, body nya seksi dan bestlah buat jadi istri bos. CO-COK."

***

Abi dan Sam memasuki outlet junk food yang berlogo kakek-kakek itu, untuk bertemu dengan seseorang. Mereka  memesan makanan sambil membahas beberapa hal tentang perusahaan tambang mereka di Balikpapan ini. Surganya minyak.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu pribahasanya.

Abimanyu terperangah dengan beberapa orang yang memasuki outlet tersebut. Wanita cantik mengenakan dress berwarna tosca bermotif bunga, dengan flat shoes senada, serta rambut panjangnya yang tergerai, menbuat fokus Abimanyu buyar seketika.

Liana.

Menggandeng tangan seorang pria yang menurut Abi lumayan tampan. Batin Abimanyu bertanya-tanya, 'Apakah itu suami Liana?' Karena dengan mata telanjang dapat dilihat jika lelaki itu menggendong seorang bayi dengan gendongan carriernya.

"Bu Lianaaa!" Sam berteriak membuat Abi gelagapan saat tatapan mata indah wanita itu bertubrukan dengan tatapannya.

Wanita di sebrang sana tersenyum, berjalan mendekat tanpa melepaskan genggaman tangan pria di sampingnya. "Wahhh! Ada Mas Abi dan Mas Sam, ya, kebetulan banget."

Liana dan pria di sampingnya menaruh bokong mereka ke kursi yang telah disiapkan Sam.

"Ini suami Bu Liana?" Abi membuka suara.

"Iya, kenapa?!" Pria tampan di samping Liana menjawab dengan cepat membuat Liana menggeleng.

Seketika Abimanyu terdiam, bagaimana bisa dia merebut Liana jika suaminya saja tampan seperti itu. Mata pria yang bersama Liana itu, menatap Abimanyu dengan tajam seolah mengisyaratkan 'Dia milikku'.

"Abah, aku mau main prosotan," ucap dua anak perempuan di belakang pria tersebut.

Pria itu kemudian menolehkan wajahnya dan tersenyum kepada dua anak Liana yang cantik-cantik. "Yaudah, yok, tapi habis itu pada makan, ya. Nanti abah pesankan ayam tepung."

Kedua anak tersebut mengangguk cepat. Tak sabar. Setelah pria itu pergi ke area bermain, kemudian situasi berubah hening. Liana menikmati mangga floatnya dan sesekali mencuil daging ayam di hadapannya. Kemudian, ponsel Liana berdering, menyanyikan lagu love me like you do.

"Haloo, Bang."

"_______"

"Masih jalan sama Leon, sih."

"________"

"Gak bisa. Sorry, ya."

"________"

"Bodo amat"

Wanita itu mematikan telefonnya sepihak. Tak menyadari bahwa dua pasang mata di depannya terkejut dengan ucapan Liana yang terkesan galak. Merasa ditatap seperti itu Liana hanya tersenyum getir nan tipis.

"Suamiku." kata Liana enteng.

"Jadi Bu Liana punya suami dua?"

Seketika mata Liana menatap Sam dengan tatapan habislah kau. Sementara Abimanyu merutuki dirinya memiliki sahabat se-oon ini.

"Suamiku cuma satu yang barusan nelpon. Kalau lelaki yang tadi, dia itu Leon, adikku. Kita beda cuma 2 tahun." jelas Liana membuat hati Abi lega.

"Oh, iya, Bu sisanya bagaimana, ya?" tanya Abi.

"Apa Mas Abi sudah buru-buru balik?"

Abi mengangguk menanggapi pertanyaan wanita itu. Sebenarnya hatinya berat, tapi mau bagaimana lagi jika perusahaan di Jawa sana sangat membutuhkannya.

"Terserah saja Mas Abi, saya pusing. Di transfer juga boleh kok. Permisi dulu, ya." Liana beranjak dari duduknya kemudian menghampiri anak dan laki-laki yang mengaku suaminya itu.

Dari tempat duduknya Abimanyu melihat Liana berbicara kepada adiknya yang bernama Leon itu. Dan pria itu pun, mengelus rambut Liana. Beruntung sekali dia. Abimanyu iri? Tentu saja, jiwa kelelakiannya meronta-ronta ingin merasakan halus dan harumnya rambut wanita cantik itu.

Tapi tenang saja, biasanya kesabaran itu akan berbuah manis.

Sam menepuk pundak Abimanyu yang begitu fokus kepada Liana di area bermain. Abimanyu tersenyum ke arah pria setengah abad dan wanita muda di hadapannya. Mereka adalah orang yang ditunggu oleh Abimanyu dan Sam.

Sesekali mata Abimanyu melirik ke arah di mana Liana berdiri.

Liana hanya berdiri di tepian dengan mengawasi kedua anak perempuannya. Sementara pria tampan yang bersama Liana tadi sedang duduk disalah satu kursi menyantap hidangan di hadapannya.

"Maaf, Pak Abimanyu, apakah di sebelah sana ada hal yang menarik yang lebih penting dari laporan saya?"

Abimanyu salah tingkah kemudian dia tersenyum menampilkan sebaris giginya yang rapi. "Tentu saja, Pak Miftah. Di sebelah sana ada bidadari jatuh dari surga," terangnya tanpa malu.

Mata Pak Miftah dan sekretarisnya pun menengok ke mana telunjuk Abimanyu mengarah. "Wah!! Itu Ibu Liana, Pak Abi." Wanita muda itu berbicara sambil menganggukkan kepalanya.

"Anda kenal?"

Wanita muda itu menggeleng, "Hanya tau saja. Dia itu istrinya Pak Fajar, salah satu pemilik pabrik kertas."

Abimanyu dan Sam menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah membaca laporan bulan ini, Abimanyu menyudahi pertemuan mereka yang singkat, padat, dan jelas.

Matanya menjelajahi sekitar, apakah Liana masih ada? Dia berdecak kesal. Ternyata Liana telah hilang dari area makan itu. Abimanyu terus mendumel di dalam hatinya, entah kenapa rasanya dia ingin terus berada dekat dengan bidadari cantik itu.

Ah, apakah ini yang dinamakan love at first sight?

Tidak. Tidak mungkin.

Seorang Abimanyu tidak mungkin jatuh cinta secepat kilat begini, 'kan?

Logika dan perasaan Abimanyu berseteru.

Dipikir secara logika, perempuan itu hanyalah pemuas nafsu belaka. Laki-laki dan perempuan saling membutuhkan untuk memuaskan hasrat mereka, benar begitu kan?

Cinta itu OMONG KOSONG.

Dipikir secara perasaan, Abimanyu berdesir dan tak berkutik saat melihat mata indah milik Liana. Perasaannya terlampau bahagia hingga dengan menatap wanita itu saja, Abimanyu bisa tersenyum lebar.

Entahlah, Abimanyu pun tak bisa menyimpulkan pasti apa yang ia mau.

Yang jelas, dia ingin wanita bernama Liana itu menjadi miliknya; memuaskan hasratnya, berada di atas ranjangnya setiap saat, dan juga menjadi pendamping hidupnya, mungkin.

Abimanyu menggelengkan kepalanya. Memikirkan wanita cantik itu membuat kepalanya sedikit sakit. Pekerjaannya menjadi tak fokus.

Nantilah. Abimanyu akan memikirkan lagi bagaimana caranya. Sekarang, dia harus segera menyelesaikan semua tugas di kota ini dan kembali ke asalnya.

Seperti sekarang, dia segera mentransfer sisa pembayaran ke dalam rekening Liana. Kemudian lelaki itu dengan gagahnya berjalan menuju mobil yang terparkir di luar mall ini.

Sam terlihat membukakan pintu belakang mobil membiarkan majikannya melenggang masuk dan menutupnya lagi.

"Kepalaku pusing," kata Abimanyu.

Sam melirik ke arah spion, "Bos sakit?"

"Ck. Pusing mikirin bidadari surga."

Sam tersenyum lebar kemudian pria itu menoleh sebentar ke arah Abimanyu di jok belakang, "Tenang Bos, saya akan cari informasi tentang bidadari itu. "

Abimanyu hanya mengacungkan jempolnya dan dengan cekatan ia mengetik pesan untuk rekannya di kota ini. Meminta untuk dicarikan teman ranjangnya nanti malam.

Itulah Airlangga Abimanyu.

Sifatnya yang suka bermain wanita, akankah bisa hilang dengan kehadiran Liana? Maybe yes, maybe no, right?

Bab 3

Lelah.

Itu yang Liana Tri Rahayu rasakan. Hari-hari terasa semakin lelah, tapi takdir selalu saja menginginkan dia terpenjara dalam keadaan seperti ini. Bukan lelah fisik, tetapi lelah hati yang terus bersabar dan mencoba abai. Sampai kapankah dia bisa bertahan dengan keadaan ini?

Liana memasuki rumah nya beserta ketiga anaknya.

Bayi tampan yang sedang di gendong Liana itu bernama Arjuna Sakti Kusuma. Arjuna telah berusia 1 tahun, bayi tampan dengan matanya yang hanya segaris itu senang sekali memeluk Liana.

Sedangkan dua gadis kecil yang berjalan lebih dulu di depan Liana, adalah Amelia Dyah Pitaloka yang berusia 8 tahun dan gadis imut montok serta putih yang berusia 2 tahun itu, adalah Adelia Rengganis Putri.

Ketiga anak tercinta Liana. Tak ada alasan bagi Liana untuk tak menyayangi mereka atau melampiaskan semua kekesalan Liana pada mereka. Mereka semua anak yang penurut, tak rewel, baik dan juga tak banyak menuntut ini dan itu.

Saat kakinya melangkah masuk, telinga Liana menangkap suara desahan dari kamar tamu yang berada di bawah tangga setengah lingkaran itu. Langkahnya terhenti sejenak dan matanya tertutup kuat. Kemudian dia melangkah lagi menuju lantai dua.

Ya, lantai satu adalah privasi suaminya sedangkan dia menetap di lantai dua.

Suara persetubuhan itu, sudah tak membuat Liana sakit. Dia sudah biasa. Bukan sekali dua kali, tetapi ini sudah kesekian kalinya Liana mendengar.

Siapalagi kalo bukan Bang Fajar dan para pelacur panggilannya itu. Terkadang dia ingin mengakhiri pernikahan ini, tapi ada hati yang harus dijaga. Mertuanya yang sangat baik dan juga hati mamanya yang ia sayangi.

***

"Mah, aku bosen, pengen jalan-jalan," ucap Amel, anak Liana dengan rambut gelombangnya dan lesung bibir nya itu.

"Emang kamu mau kemana?"

"Ke Jogja, gi mana? Pengen kerumah Mbah yut sambil jalan-jalan."

Liana mengangguk pertanda setuju.

Sesuai permintaan Amelia siang tadi, Liana telah berkemas membawa satu koper besar, dan tas punggung yang digendong Amel. Sepertinya memang Liana butuh liburan dan hiburan sejenak, walaupun Liana berencana untuk mampir ke restoran besarnya nanti.

"Papaaahh!" teriak Liana begitu sampai di dalam rumah.

Nampak Papanya sedang berada di ruang TV sembari menonton siaran boxing. "Lah Li, ngapain malam-malam kesini? Bawa koper lagi. Kamu pisah sama Fajar?" cecar Mamanya Liana yang bernama Lailatul Azizah atau biasa di panggil Lulu.

"Ish, bukan. Aku mau ke jogja ini. Amel ngajakin. Leon mana?"

"Masih tidur tuh habis main bola dia."

"Tidur? Gak kerja tuh anak?" gumamnya.

Kaki jenjang Liana segera melangkah menaiki anak tangga. Dia menitipkan ketiga buah hatinya kepada Ibunya, sebentar. Liana menuju pintu berwarna hitam setelah melewati pintu berwarna pink dan hijau.

Tok

tok

tok

"Dek?"

Liana mendorong pelan pintu itu dan ternyata tidak dikunci. Mata Liana menelusuri kamar Leon yang luas itu. Jemari Liana meraba-raba dinding menyalakan lampu untuk menerangi kamar yang gelap gulita ini.

Liana menggeleng. Adiknya yang tampan itu ternyata shirtless, hanya mengenakan boxer berwarna hitam dengan tidur memeluk guling.

Liana mendudukkan dirinya di tepian ranjang. "Le." Liana menggoyangkan bahu adik tampannya itu. "Leon?" Tetap tak ada sahutan.

Dasar kebo!!!

Jemari Liana mengelus punggung Leon dengan pelan membuat lelaki itu menggeliatkan badannya. Kemudian ia condongkan wajahnya dan mengecup pipi yang selalu menggemaskan itu.

Liana terkekeh melihat mata Leon yang langsung terbuka dan mendorong Liana dengan kasar. "Mbaaak!"teriaknya.

Liana hanya terkekeh lucu melihat tingkah Leon. "Anter mbak ke bandara, ya, ganteng. Mau holiday ke Jogja."

"Sama siapa?" Leon memijit pangkal hidungnya yang mancung.

"Sama anak-anak."

"Leon ikut."

"Ish, gak usah lah."

"Mbakk," rengek Leon. Lelaki bermata hitam itu memegang lengan Liana. "Kita nikah, yuk. Biar mbak hidup gak begini terus. Aku janji bakal buat mbak bahagia."

Liana menangkup pipi kiri Leon sesekali mengelus rambut adiknya yang sudah dewasa itu. "Leon, kamu itu adik mbak. Okey. Cukup kamu temanin mbak dihari buruknya mbak aja, mbak udah bahagia. Simpan rasa cintamu untuk gadis lain."

Cup. Liana mengecup pipi adik nya itu dengan dalam kemudian melenggang keluar dari ruangan itu.

"Cuman adik sambung juga," lirih Leon.

***

Liana dan ketiga anaknya memasuki kawasan bandara sepinggan. Wanita itu sengaja memilih penerbangan malam agar tidak berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Tampilannya sangat santai. Sepatu kets berwarna merah, celana jeans sebetis, dan kaos hitam bertuliskan will you menambah keseksiannya malam itu.

Liana dan ketiga anaknya berjalan menyusuri ruang tiket hingga colekan di lengannya membuatnya menoleh. "Ehh, ketemu terus, ya, Mas Sam."

"Iya, nih, Bu."

"Jodoh kali yak?"

"Jodohnya sama Bos saya aja, Bu."

Liana terkekeh menampilkan gigi gingsul nya yang menambah nilai plus disenyumnya itu.

"Mau kemana malam-malam gini?" tanya Sam sembari membantu menarik dua koper wanita itu.

"Pengen holiday ke Jogja."

Tiba-tiba sebuah lampu einstein muncul dari ujung rambut Sam Wisesa. "Bareng aja, Bu."

"Hah?"

"Iya bareng, naik pesawatnya Pak Bos aja. Gratis loh. Kan lumayan, Bu," rayu Sam.

"Tanya dulu deh ke Mas Abi."

"Masih sibuk dia, Bu. Nggak bakal nolak Pak Bos kalau Ibu yang numpang." Sam menaik-turunkan kedua alisnya membuat Liana tersenyum kembali dan itu semakin membuat Sam meleleh. Andai Bosnya tak jatuh hati dengan wanita di depannya ini sudah pasti dia akan menikung sekarang juga.

"Oke." Liana menganggukkan kepalanya pelan.

***

Pesawat pribadi milik Airlangga Abimanyu akan berangkat setengah jam lagi. Sedari tadi, Liana dan ketiga anaknya serta Abimanyu dan Sam sudah berada di pesawat. Pesawat ini memiliki ruang yang cukup luas, ada beberapa kamar tidur dan juga sofa-sofa mahal yang empuk serta pramugari yang siap melayani.

"Tidur dulu aja, Bu."

"Eum, Mas Abi panggil aku Liana aja,ya. Kan, Mas Abi lebih tua."

Abi sedikit terkejut. Abi hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak pudar dari wajah, membuat Liana semakin salah tingkah.

"Ayo Li, ku antar ke kamar di sini. Kasian anak-anak kalo di sofa." Abi berdiri, tangannya terulur hendak menggendong Adelia tapi dengan cepat Liana menggenggam tangan Abi seperti mengatakan biar aku saja yang gendong. Abi pun tak mau kalah, dengan cepat dia menjauhkan tangan Liana seolah mengatakan tak apa.

***

Haus. Itu yang Liana rasakan. Tenggorokan tercekat. Segera dia berdiri dengan rambut yang masih berantakan, matanya menyipit melihat lampu-lampu ruangan. Liana berpegangan pada tangan sofa membuat seseorang yang tak jauh dari sana bergerak kaget.

"Kenapa?"

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dan memijit pelan kening serta pelipisnya. Laki-laki tampan nan gagah itu memapah Liana mendudukkan diri di sofa.

"Aku mau minum mas, haus," lirih Liana.

Tanpa menjawab, lelaki tinggi itu berdiri dan kembali dengan membawakan air mineral serta beberapa camilan untuk Liana.

"15 menit lagi pesawat baru mendarat, kamu siap-siap, ya," jelas Abi sambil kembali menatap layar ipad nya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED