Bab 1.
Meysa berusaha menerima perjodohan ini. Sebagai baktinya kepada orangtua yang telah membesarkan dan mendidiknya. Akan tetapi bisakah dia membuka hati untuk mencintai jodoh pilihan orangtua yang seorang duda beranak dua. Bisakah anak tiri menerima kehadirannya. Serta mantan istri yang sering mengusik hidup mereka.
*******
"Selamat Pagi, Pa, Ma!" sapaku. Pagi ini aku sarapan sambil terburu-buru.
"Hmm, pasti kesiangan lagi, belakangan ini Meysa sering tidur larut malam karena menyelesaikan tulisan skripsinya," jelas Mama ke Papa.
Papa menyudahi sarapannya. Diam sambil tertegun memikirkan sesuatu. Belakangan ini terlihat perubahan di dirinya. Tubuhnya yang ringkih termakan usia dan kulit mulai keriput, serta rambut pun sudah banyak di tumbuhi uban, pertanda usia telah memasuki senja.
"Boleh Papa berbicara sesuatu," ucap Papa.
"Ada apa kelihatannya serius amat?" tanya Mama.
"Papa berniat menjodohkan kamu dengan anak temanku, namanya Harry. Ia menjabat sebagai manajer di perusahaan keluarganya.
"Apa kamu bersedia menerima tawaran Papa?" tanya Mama padaku.
"Kita tidak ada pilihan lagi, bila anak kita mau di jodohkan maka biaya kuliahnya akan terselamatkan. Hutang ku ke orangtua Harry akan lunas," jelas Papa sambil menerawang menatap langit dapur.
Aku tak menjawab pertanyaan Papa. Cepat kusudahi sarapan ini lalu berpamitan sambil mencium punggung tangan mereka.
Sepanjang jalan aku kepikiran terus dengan ucapan Papa tadi. Setahun belakangan ini, usaha yang dikelola Papa mulai mengalami sepi serta hampir bangkrut. Biaya hidup semakin banyak dan meningkat. .
Satu mobil sudah terjual, sertifikat rumah sudah tergadai. Tinggallah satu sepeda motor yang aku pakai untuk transport kuliah. Adikku menggunakan angkot karena sekolahnya tidak begitu jauh dari rumah mereka.
*****
Saat ini aku tengah persiapkan kelulusan. Tekadnya untuk jadi Sarjana Manajemen harus segera terwujud. Untuk mendapat penghasilan aku nyambi berbisnis online. Menjual baju, sepatu, tas, kosmetik apasaja yang diinginkan temen kuliah atau pelanggan di medsos, pasti bisa aku orderkan.
Hampir setiap hari aku disibukkan dengan buku-buku tebal, dan mesin printer. Soal lelah, sudah pastilah demi membahagiakan kedua orangtua dan membantu biaya kuliah dan sekolah adikku,
Sembari menunggu dosen di samping kantor, aku mengingat semua perjuangan untuk sampai di tahap ini. Kampus ini banyak menyimpan kisah cintaku.
Kekasih yang pergi menghilang tanpa kabar. Belakangan di ketahui sudah balikan dengan mantannya. Untuk apa mempertahankan lelaki yang tak serius mencintainya. Tapi ya sudahlah, jodoh sudah di atur Tuhan. Aku lebih memikirkan kondisi Papa.
Belakangan ini kulihat Papa sering sakit, jarang membuka usahanya. Padahal toko busana itu lah satu-satunya penghasilan keluarga ini.
Mama hanya seorang ibu rumahtangga.
Tak terasa lamunanku di kaget kan oleh suara orang yang belakangan ini sering ku kejar dimana pun berada.
Bu Devi sedang mengomel dan melotot hampir lompat tuh biji mata, melihat ke arahku.
"Hey ... dari tadi di panggil kok tidak menyahut?" seru Bu Dosen sambil berkacak pinggang di depanku.
"Habisnya dari tadi di tungguin, Ibu tidak keliatan. Saya tanya kebagian admin kantor, di suruh tunggu saja. Orang penting memang susah di ajak ketemu, kalah Ibu Pejabat," ledekku.
"Mana tugas skripsi kamu, biar saya koreksi. Waktu saya tidak banyak!"
Sombong amattt, batinku dalam hati.
Sembari menyodorkan makalah ke meja Bu Dosen. Kelihatan Bu Dosen membolak-balik kan kertas sambil mengernyitkan dahinya, lalu mencoret beberapa tulisan di makalahku.
"Saya beri waktu tiga hari untuk meralat tulisan itu ya, kabari saya kalau sudah selesai!" perintahnya sambil meletakkan begitu saja berkas di atas meja,
Ia pun berlalu meninggalkan aroma parfum yang kadang harum, kadang anyep tercium di hidungku yang bangir ini.
Aku melihat coretan di makalah tadi. Duh, Tuhan, padahal susah payah aku melakukan riset ke kantor itu, kenapa harus balik lagi kesana, mana karyawannya pada jutek lagi.
Aku memijat dahi untuk menghilangkan pusing di kepala ini. Sambil berjalan menyusuri parkiran, mata ini jelalatan kesana kemari mencari sepeda motor milikku.
Loh, kok tidak ada, biasa ku parkirkan di bawah pohon dekat pos sekuriti. Keringat mulai bercucuran, cuaca panas terik lagi.
"Mey, nyari apa sih, kok mukamu pucat begitu, berkeringat lagi?" tanya farah si sohib baik hati.
"Duh, bantuin yuk nyari sepeda motorku!" pintaku semakin panik.
"Sebentar ya." Farah berlalu meninggalkan pikiranku yang makin kacau.
Ku rogoh tas, lalu mencari kunci kontak di dalamnya. Buku dan berkas semua ku keluarkan. Tetapi kunci yang dicari tidak ketemu juga.
Aku menengadahkan wajah ke langit. Matahari serasa di atas kepala, menyilaukan mata yang mulai berair. Aku terduduk di bawah pohon rindang di sela parkiran ini.
Bagaimana kalau sepeda motor itu hilang. Apa yang akan ku katakan kepada Papa? Hanya itu satu-satunya kendaraan yang kami punya. Aku menyeka airmata yang mengalir di pipi, pikiranku kalut.
Dari jauh kelihatan Farah berjalan bersama sekuriti kampus. Aku beranjak dari duduk dan menyeka airmata sekali lagi.
"Sudah, jangan menangis," ucap Farah sambil memelukku. Ku lihat dia senyum sambil melirik Sekuriti di sebelahnya.
"Lain kali jangan ceroboh lagi ya Non.
Kunci kontaknya di cabut jangan di gantung begitu saja. Bahaya lo!" ucap sekuriti sambil menyerahkan kunci kontak ke tanganku.
Ternyata ketika waktu aku terburu-buru tadi mengejar Bu Dosen, kunci kontak lupa dicabut. Seperti biasa setelah mahasiswa masuk semuanya. Sekuriti wajib keliling melakukan patroli di pelataran parkiran.
Kelihatan ada kunci kontak sepeda motor yang masih tergantung. Tidak tahu punya siapa, lalu sekuriti mendorongnya ke pos penjagaan.
Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali ke sekuriti, sambil memeluk sahabatku.
"Loh, seharusnya saya dong yang dipeluk, Non. Kan saya yang nemuin sepeda motornya!" protes Sekuriti itu sambil cengengesan mengedipkan mata ke arah Kami.
"Oh, peluknya dalam hati saja ya Pak," ejekku sambil menstater sepeda motor.
Sekuriti tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil berlalu.
"Selesai ini kamu hendak kemana Mey?" tanya Farah.
"Aku harus pulang Far, hendak memeriksa berkas ini. Makalahku banyak yang salah. Bu dosen hanya memberi waktu singkat untuk memperbaikinya," jelas ku.
"Oke lah, sampai ketemu besok ya," ucap kami hampir berbarengan.
******
Alhamdulillah, sampai juga di rumah, gumamku sambil membunyikan klakson.
"Assalamu'alaikum Ma!" ucapku. Kok sepi rumah ini, pada kemana ya.
"Maaa, Maaa!" panggilku. Tidak ada juga sahutan dari dalam rumah.
"Mbak Mey, ini kunci rumahnya! Tadi di titip ke saya. Papa Mbak Mey tiba-tiba pingsan, jadi dibawalah oleh Mama ke rumah sakit menggunakan taksi," jelas Bu Lili tetangga sebelah rumah.
"Oh, terima kasih ya Bu," ucapku.
"Iya, sama-sama Mbak Mey," ucap Bu Lili sambil berlalu.
Aku mengambil ponsel lalu menelepon Mama.Panggilanku tersambung, setelah mendapatkan alamat rumah sakitnya. Aku langsung tancap gas kesana.
******
Setengah jam kemudian.
"Assalamu'alaikum Ma!"
"Wa'alaikumsalam!" Mama membuka pintu.
Langsung ku peluk wanita paruh baya ini, keliatan matanya sembab habis menangis.
"Apa yang terjadi, bagaimana keadaan Papa, Ma?" tanyaku panik.
Sambil menghela nafas, Mama menjelaskan bahwa kondisi Papa drop, hingga pingsan, karena banyak pikiran. Aku terdiam membisu mendengarkan ucapan Mama.
Ma ... Maaa, terdengar suara Papa memanggil" Ia mulai siuman, sambil membuka mata melihat sekelilingnya. Mungkin mendengar suara berisikku ini kesadaran beliau langsung kembali.
"Papaa, apa yang dirasakan sekarang?" tanyaku sambil memeluk dan merebahkan kepala di sampingnya.
Sepertinya Papa hendak membicarakan sesuatu, tapi kelihatan ragu untuk berbicara. Lalu Mama menjelaskan sekali lagi maksud mereka untuk menjodohkan aku dengan anak koleganya.
Aku diam terpaku, sambil duduk bersandar di dinding kamar. Apa mungkin aku menikah dengan orang yang belum kukenal apalagi mencintainya. Tapi bagaimana dengan biaya kuliah ini. Tabunganku telah terpakai untuk modal jualan online. Seribu pertanyaan berkecamuk di dalam kepala ini.
Bersambung ....
Bab 2.
Setelah beberapa hari pulang dari rumah sakit, kesehatan Papa pun mulai pulih. Aku belum bisa menjawab tentang rencana perjodohan itu. Di sisi lain aku butuh biaya untuk adikku dan kuliah semester akhir ini. Belum lagi hutang Papa sudah jatuh tempo.
Aku melaksanakan salat istiharah selama tiga hari berturut-turut. "Ya Allah, aku iklas. Semoga pilihan orangtuaku ini, adalah terbaik untukku dan keluarga," doaku di hati.
Saat makan malam tiba, kami berempat yaitu Papa, Mama, aku dan adikku berkumpul di meja makan. Papa ingin tahu keputusan ku malam ini. Beliau bertanya lagi tentang perjodohan itu. Aku diam sejenak, sambil mengucapkan Bismillah di hati, aku mengangguk tanda setuju. Semua yang duduk di meja makan pun manarik nafas lega. Kemudian melanjutkan makan malam tanpa suara.
Selesai makan malam, Papa berencana untuk mengundang keluarga temannya untuk datang ke rumah. Mengajak dinner makan malam antara dua keluarga, biar saling kenal.
Setelah menghubungi lewat telepon, di tetapkan lah hari untuk pertemuan itu. Semakin mendekati hari pertemuan itu, hatiku semakin gelisah tidak karuan. Jujur aku tidak menyangka akan secepat ini melepas masa lajang.
Sepanjang malam jadi sulit memejamkan mata. Pikiranku menerawang mengenang kisah cinta yang telah kandas. Mungkin Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya, hiburku dalam hati.
********
Pagi ini aku ke kampus lebih cepat, karena ada janji dengan Bu Dosen yang kemaren. Makalah sudah selesai ku perbaiki, tinggal di acc saja. Mudah-mudahan di lancarkan.
Selesai sarapan aku berpamitan sambil mencium punggung tangan orangtuaku
Kelihatan raut wajah Papa mulai segar.
Mungkin pikirannya sudah tenang mendengar keputusanku tadi malam.
Sesampainya di kampus, sambil berlari kecil aku menuju ruang kantor. Aku berpapasan dengan Farah sahabatku.
"Hey, kenapa terburu-buru, seperti di kejar setan, hendak cari siapa Mey?" tanya Farah.
"Bu Devi sudah datang ya?" jawabku ngos-ngosan sambil menarik nafas.
"Oh, baru saja keluar. Katanya sih ada urusan di luar kampus," jelas Farah.
Hahh, aku putar balik berlari ke arah parkiran, pasti beliau masih disana. Baju pun mulai basah oleh keringat. Dari jauh kelihatan wujud nyata seorang Bu Devi.
"Bu, buuu ... tunggu." Aku berlari sekuat tenaga, hampir menabrak sepeda motor yang terparkir di depanku. Bu Devi kaget dan menoleh.
"Saya buru-buru nih ada urusan," beliau membuka pintu mobilnya, hendak masuk.
"Maaf Bu, ini tugas makalah saya, sudah di perbaiki," jelas ku sambil menyerahkan berkas ke tangannya.
"Kamu ini tidak lihat, saya sedang sibuk!" Bu Devi langsung mencubit pipiku.
"Tapi saya salut dengan kegigihan kamu, Meysa. Tunggu sebentar ya! Saya koreksi di dalam mobil saja." Aku menunggu sambil bersandar di samping mobilnya.
Derrt, derrt.
Suara ponsel bergetar, kubuka tas dan mengambilnya. Tertera tulisan Mama sedang memanggil.
["Assalamualaikum Ma," ucapku]
["Waalaikumsalam, Mey," balas Mama]
["Mama hanya mengingatkan, nanti malam keluarga Harry hendak berkunjung ke rumah kita. Mereka datang jam delapan malam. Papa mu mengundang mereka untuk makan malam bersama di rumah kita. Kamu bantuin Mama masak ya!" pinta Mama]
["Oh ya sudah, setelah selesai urusan di kampus Mey segera pulang ya Ma," balasku]
Setelah mengucapkan salam telepon pun di matikan. Bu Devi keluar dari dalam mobilnya, sambil menyerahkan berkas ke tanganku. Ku lihat hasil koreksinya, sudah di ceklis semua. Tertera nilai A dan paraf di samping tulisanku.
Rasa senang tak terkira ku ucapkan terima kasih, lalu mencium punggung tangan Bu Devi.
"Semoga di lancarkan sidang akhirnya ya Mey," ucap Beliau lalu masuk ke dalam mobilnya.
Lega rasanya ya Allah, tinggal menunggu jadwal sidang akhir saja. Mungkin seminggu lagi perkiraanku. Sambil berjalan menyusuri koridor kampus, tujuanku hendak ke kantin.
Duduk menyendiri di sudut kantin untuk menghilangkan dahaga dan penat hati ini.
"Bu, orange juice dinginnya satu ya,"
pintaku ke ibu kantin.
"Eh non Mey, sendiri aja nih?"
"Iya bu, liat Farah tidak bu?" tanyaku.
"Belum keliatan tuh," ucap bu kantin sambil celingukan kanan kiri.
Lalu ku kirim pesan ke Farah, kalau sedang menunggunya di kantin. Setengah jam menunggu, Farah pun datang menemui ku.
"Hey, sudah lama ya?" kepala Farah nongol dari balik jendela kantin.
"Duh ... Kaget tahu!" sahut ku sambil mencebik kan bibir ke arahnya.
Tanpa basa basi aku menceritakan ke Farah rencana malam nanti.
"Bismillah saja, semoga ini yang terbaik untukmu. Pilihan orangtua Insha Allah tak mungkin salah," ucapan Farah menenangkan hati ini.
Ku lirik jam di tangan, tak terasa sudah pukul satu siang. Kami pun menyudahi sesi keluh kesah ini. Kemudian membayar pesanan tadi. Lalu berpisah di halaman parkir.
********
Menjelang sore, keliatan Mama mulai sibuk di dapur. Memasak hidangan dengan berbagai menu. Aku membantu menata meja makan.
Mama paling pintar memasak berbagai resep hidangan. Sepertinya sudah cocok membuka usaha warung makan.
Wanita setengah baya ini masih kelihatan cantik dan energik meski tak muda lagi.
Tiap di tanya, "apa sih resep awet muda Ma?" pasti jawabnya rajin ibadah, sabar dan selalu bersyukur pada Allah.
"Hmm, harum sekali, Mama masak apa? Aromanya tercium sampai ke kamar Kiki," tanya adikku sambil mengendus-endus seperti kucing.
"Ada deh, nanti kamu ikut makan juga kok," jawab Mama sambil menjentikkan jarinya.
Tepat pukul delapan malam, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Suara klaksonnya memberi tanda bahwa ada tamu di luar. Papa dan Mama membuka pintu, dan benar, keluarga Harry sudah tiba. Keluarga pun menyambut dengan ramah dan mempersilakannya masuk.
Aku berhias memakai baju terbaik ku, hati ini semakin deg-degan. Rasanya campur aduk hingga terasa mulas di perut. Terdengar suara Mama memanggil ku. Sambil merapikan baju aku pun melangkah keluar kamar.
Kemudian bersalaman, sambil memperkenalkan diri dengan sopan. Tampak sepasang suami istri separuh baya, memperkenalkan diri sebagai orangtua Harry, bernama Bapak Angkasa dan Ibu Mentari, sepasang anak remaja bernama Rey dan Mona adalah anak dari mas Harry.
Terakhir mataku tertuju pada seorang lelaki berperawakan sedang, kulitnya sawo matang, rambutnya di sisir dengan model yang kekinian, serta aroma parfum nya tercium lembut di hidung. Sambil berjabat tangan kami saling berkenalan.
"Hay, aku Harry. Senang berkenalan dengan kamu," sapanya terlebih dahulu.
"Sa-saya Meysa," sahutku sedikit gugup.
"Yuk! Langsung saja kita ke ruang makan, nanti di lanjutkan kenalannya," ajak Papa mencairkan suasana.
"Cieee, mbak Meysa grogi yaa? Keliatan lo wajahnya bersemu merah, seperti habis di entup tawon," ledek Kiki sambil tertawa menjulurkan lidahnya.
Suasana makan malam ini terasa hangat penuh kekeluargaan. Terlihat mas Harry mencuri pandang ke arahku, sesekali tatapan kami saling beradu. Sementara sepasang anak remaja ini kelihatan sikapnya acuh saja.
"Hidangannya lezat sekali, persis masakan di rumah makan," puji orangtua mas Harry.
"Sudah bisa lo, buka rumah makan. Kalau Pak Gunawan dan Bu Mitha bersedia, biar saya beri modal," saran orangtua mas Harry sambil menganggu kan kepala.
"Terima kasih sarannya, Pak Angkasa," ucap Papa sambil tersenyum.
"Ayuk, di tambah lagi nasinya Pak, Bu, anak- anak! Jangan malu-malu, sebentar lagi kan hendak jadi keluarga," ajak Mama dengan ramah.
Setelah tiga puluh menit berlalu, makan malam pun selesai. Kami kembali duduk di ruang keluarga.
"Anak-anak boleh main di ruang tivi terserah hendak menonton atau main game, biar tidak bosan ya! ajak Mama.
Kiki, Rey dan Mona beranjak ke ruang tivi.
"Gerah nih selesai makan, enaknya cari angin duduk di luar, setuju kan?" mas Harry mengajakku duduk di teras.
Kami duduk berjarakkan meja bulat.Terasa canggung bingung apa yang hendak dibahas.
Mas Harry memecah kesunyian.
"Mey, mas boleh tanya tidak," pintanya.
"Iya boleh kak, eh mas," sahutku.
Koq aku jadi gugup begini ya.
"Panggil saja Mas, biar lebih akrab!" pintanya.
Kemudian beliau bertanya tentang kuliahku, cita-cita dan harapanku. Aku menjelaskan dengan bersemangat. Kalau sudah membahas masa depan, tidak ada kata malu dan pantang menyerah bagiku.
"Saya salut dengan prinsip dan pandangan hidup kamu. Jarang ada wanita seusiamu sudah dewasa cara berpikirnya," ucap mas Harry.
Wajahku bersemu merah, merasa tersanjung dengan pujiannya. Kalau seperti ini lelaki yang di jodohkan, pasti aku belajar menerima dan mencintainya. Dari tutur katanya kelihatan berwibawa dan bertanggung jawab. Sekarang gantian, aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas, sudah pisah berapa lama dari istri," tanyaku hati-hati.
"Sudah lima tahun, sejak Rey anak yang besar sekolah SD. Hak asuh jatuh ke tangan saya, karena ibunya tidak becus mengurus anak," jawabnya.
Tidak terasa dua jam berlalu.
Mulai dari makan bersama, hingga memperkenalkan diri, dan bicara tentang kegiatan masing-masing. Di ketahuilah selisih usia kami beda lima tahun. Tapi mas Harry kelihatan masih muda seperti tidak berjarak denganku.
Setahu aku seorang pengusaha itu harus menjaga penampilan. Harus menarik, rapi serta berwibawa. Karena setiap hari bertemu klien dan karyawannya di kantor.
Hari mulai larut, udara terasa dingin.Bintang di langit terlihat berkelip, seakan ikut menyaksikan kedekatan kami berdua. Tak lama keluarga mas Harry pun berpamitan pulang. Mereka berjanji akan datang lagi untuk membahas tentang pernikahan kami.
Bersambung ....
Bab 3.
Setelah perkenalan itu, aku dan Mas Harry saling bertukar nomor hape. Di mulai dengan perhatian yang kecil membuat hubungan kami semakin akrab. Biasanya waktuku seharian habis di kampus, di sibukkan dengan urusan makalah dan skripsi.
Akan tetapi sekarang berbeda, aku lebih sering mengerjakan tugas kuliah di rumah. Aku mulai belajar memasak, membantu Mama di dapur. Mengurus rumah. Aku tak ingin mengecewakan kedua orangtua dan calon suamiku nanti.
*******
Satu bulan setelah perkenalan ....
Sekarang rasanya hati ini lebih bersemangat, untuk menyelesaikan kuliah. Sidang akhir telah selesai. Tinggal menunggu saat wisuda tiba. Hati ini terasa ringan menjalani hidup, seakan lepas satu beban di pundak. Di tambah lagi setiap saat ada yang memberi ku semangat.
Seperti pagi ini, aku menunggu chat dari Mas Harry, walau hanya mengucapkan salam saja, tapi hati ini sudah bergetar rasa deg-degan di dada. Hati seakan di tumbuhi bunga asmara.Aku jadi sering senyum sendiri membaca chatnya. Ku buka layar hape, ada notifikasi masuk di logo berwarna hijau, ada chat dari Mas Harry. Langsung ku buka tulisannya,
["Assalamualaikum, selamat pagi.Jangan lupa salat Subuh ya Mey!"]
Kulihat dia online satu jam yang lalu.Yang di tunggu sudah chat duluan, pikirku. Aku kan cewek, malu lah kalau mulai duluan. Lalu ku balas chatnya.
["Waalaikumsalam Mas Harry.Iya sudah, terimakasih telah mengingatkan aku ya."]
Ehh, dia lagi online nih, kelihatan tulisan sedang mengetik, lagi membalas chat ku.
["Nanti sore sibuk tidak? saya hendak mengajak kamu jalan, biar lebih akrab."]
Kok tiba-tiba tenggorokan ini terasa kering ya, aku keluar menuju dapur untuk minum sambil duduk di kursi meja makan.
"Eh Mama sudah bangun? ngagetin saja deh," tegurku sambil meletakkan hape ke atas meja.
Derrt ... Derrt.
Hape ku bergetar, ku lihat chat dari Mas Harry masuk lagi. Mama melirik heran, tumben sepagi ini ada yang chat, pikirnya.
"Hmm ... pantesan, yang chat rupanya calon suami," ledek Mama.
"Iya Ma, Mas Harry ngajak ketemuan nanti sore," jelas ku.
"Pergilah Mey, Harry anaknya baik, tahu sopan santun terhadap orangtua. Mama yakin kamu pasti bisa membuka hati dan menyukainya," saran Mama.
"Iya Ma," ucapku. Lalu membalas chat dari Mas harry.
["Bisa Mas, jemputlah sore nanti!"]
Mas Harry membalas dengan senyum dan emoji hati yang banyak. Membuatku senyum sendiri sambil memandangi isi chatnya.
Mama pun ikut tersenyum sambil berlalu. Melihat perubahan ini, orangtuaku merasa optimis kalau perjodohan ini akan berhasil sesuai rencana.
Aku sering bertanya dalam hati, kenapa lelaki sekeren Mas Harry bisa berpisah dari istrinya. Lelaki mapan, kaya, ganteng lagi, pastilah antri wanita cantik untuk memiliki hatinya.
Apalah aku ini, seorang gadis polos, banyak yang bilang cantik sih yang terlahir dari keluarga sederhana. Orangtuaku hanya pengusaha kecil.
Sementara ku lihat respon dua anak dari Mas Harry, datar saja tidak ada ramah sama sekali.Apa mereka tak suka melihat aku. Nantilah ku bicarakan masalah ini dengan mas Harry, pikirku.
*******
Menjelang siang ...
Aku mendapat telepon dari pihak kampus, mengabarkan bahwa jadwal wisuda akan di gelar seminggu lagi. Alhamdulillah, semoga di lancarkan. doaku di hati.
Orangtua ku sangat senang mendengar kabar ini. Akhirnya tugasnya menyekolahkan anak berhasil sampai sarjana. Tapi bagaimana dengan biaya wisuda yang tidak sedikit ini.
Tabungan sudah terpakai, usaha Papa omzetnya sudah menurun drastis. Semoga ada jalan ya Allah. Mataku nanar menatap langit kamar. Karena kelelahan berpikir, akhirnya aku pun tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba terbangun karena hape bergetar tepat di sebelah telingaku. Terlihat di layar hape Mas Harry sedang memanggil. Aku maraih hape dan menekan ke atas tombol hijaunya.
["Assalamualaikum Mas Harry!"]
["Waalaikumsalam Mey!"]
["Siap-siap ya, satu jam lagi saya jemput ke rumah!"]
["Oh iya, di tunggu ya Mas!"]
Rasanya baru tertidur. Begitu di lirik ke dinding, sudah jam tiga sore saja. Aku menarik handuk di belakang pintu, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Setengah jam kemudian, aku sudah berpakaian rapi. Memakai gamis maroon, warna pavorite ku yang senada dengan kerudungnya, lalu berhias di depan cermin. Rasanya sudah cukup cantik lah, tidak malu-maluin.
Tin ... tiin ... tiiin,
Terdengar suara klakson mobil di halaman rumah. Aku menyibak gorden jendela kamar. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil. Sepertinya itu Mas Harry. Aku membuka pintu depan, dan melihat dengan pandangan kagum. Mas Harry begitu rapi memakai setelan kemeja berwarna maroon di padu dengan celana jins berwarna hitam.
"Wah, kenapa bisa kompak warna pakaian kita?" ucap kami hampir bersamaan. Aku menutup mulut sambil tersipu malu,
"Sudah siap kan? yuk kita berangkat!"Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu memanggil Mama untuk berpamitan.
"Maa, Mey izin untuk keluar bersama mas Harry ya!"
"Izin juga untuk membawa Mey jalan-jalan ya tante!" ucap mas Harry hampir berbarengan.
"Iya, iya, hati-hati di jalan, sebelum Magrib sudah sampai di rumah ya!" pesan Mama.
*******
Sore ini terasa beda, karena ada calon suami yang mengajak jalan. Mas Harry membukakan pintu mobil, lalu aku masuk dan ia menutupnya kembali. Layaknya nyonya besar saja, di perlakukan seperti ini, batinku. Mas Harry sudah berada di dalam mobil kembali, duduk di samping ku.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Rasa gugup melanda hati ini. Aroma parfum nya sangat lembut menusuk ke hidung.
Aku mencuri pandang ke arahnya, dan kami pun saling beradu pandang. Mas Harry mencairkan suasana dengan Menghidupkan musik cd di mobilnya. Alunan lagu mengalun lembut.
🎵Aku ingin menjadiii ... mimpi indah dalam tidurmu, aku ingin menjadiii ... sesuatu yang mungkin bisa kau rindu, karenaaa ... langkah merapuh tanpa dirimu, oh karena hati telah letihhh🎵
Lagu Dealova itu pavorite aku banget.Sambil senyum-senyum kecil, aku bernyanyi mengikuti alunan musik nya.
Tak terasa sudah sampai di depan cafe. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota. yang menyajikan nuansa alam nan indah, sangat cocok untuk pasangan yang ingin memadu kasih. Tulisannya "Cafe Cinta" lengkap dengan live musik.
Setelah membukakan pintu mobil, aku dan mas Harry jalan beriringan. Kami memilih duduk di bagian luar, agar bisa menikmati tanaman yang tumbuh indah.
Duhhh, terasa sangat romantis deh, batinku.Pelayan cafe mempersilakan kami duduk, dan menanyakan pesanan.
"Hendak pesan apa Bapak, Ibu?' tanyaPelayan dengan sopan.
"Mey, kamu hendak pesan apa?" tanya mas Harry.
"Aku paling suka nasi ayam pecak dan minumnya orange juice," jawabku.
"Mbak, pesanannya di samakan saja ya, masing-masing dua porsi," pinta Mas Harry. Lalu pelayan mencatat pesanan kami.
"Mohon di tunggu pesanannya ya Pak!"ucap pelayan sambil berlalu.
"Mey, kamu tidak malu kan jalan dengan saya, masih pantas kan?" tanya mas Harry sambil menatapku lembut.
"Kenapa harus malu, Mas masih keliatan muda koq, rasa masih seumuran ini," candaku.
"Terima kasih ya Mey, sudah menerima status saya dengan dua anak," ucap Mas Harry sambil mengenggam tanganku.
"Santai saja, aku mengerti koq.Yang penting mas tetap sopan, tidak macam-macam dengan aku. Sampai tiba saat kita menikah nanti. Dan satu lagi, Mas harus tetap lembut jangan pernah kasar ke aku. Tetap seperti sekarang ini dan untuk selamanya," pintaku sambil membalas tatapan matanya.
Lima belas menit kemudian, pesanan pun datang.
"Silakan di nikmati hidangannya, Bapak, Ibu," pelayan mempersilakan dengan hormat.
"Terima kasih Mbak," sahutku.
Kami pun makan dengan lahap. Kelihatan Mas Harry sedang lapar, karena selesai bekerja, pulang sebentar lalu menjemput ku.Mas Harry melihat ke arahku sambil berkata:"Maaf Mey, ada sisa makanan di ujung bibirmu!" lalu ia mengambil tisu dan menghapus sisa itu di bibir ku.
Mata kami saling bertatapan, rasa deg-degan ini begitu nyata. Sikap nya membuatku merasa di hargai sebagai wanita. Seolah ia bisa membaca isi hatiku. Mungkin sudah berpengalaman lebih dahulu di bandingkan aku.
Selesai makan ...
Kami melanjutkan pembicaraan, terasa angin sore berhembus ringan. Semakin menambah suasana romantis.
"Mey, kenapa sikap kamu begitu tenang, ketika keluarga saya datang untuk membicarakan perjodohan kita?" tanyanya.
Aku terdiam, lalu menarik nafas pelan.
"Sebelum kita bertemu, aku sudah berdoa, semoga lelaki yang di jodohkan orangtua ini, terbaik untuk masa depanku. Rido Allah tergantung ridonya orangtua, Mas!" Itu yang ku yakini sejak dulu," jelas ku.
"Meskipun jodoh itu duda beranak dua," tanya mas Harry lagi.
"Itu hanya status Mas, di mata Allah kita semua sama. Yang membedakan hanyalah ibadahnya," jawabku mantap.
"Mas salut sama kamu Mey, wanita seumur mu ini, biasanya lagi senang main, nongkrong sama teman. Bukan memikirkan pernikahan dan persoalan orangtua," puji nya.
Derrrt ... Derrrt.
Hape Mas Harry bergetar.
"Maaf Mey, Mas angkat telepon dulu ya!" Ia bergeser sedikit dari duduknya.
Lalu berbicara dengan nada sedikit kesal dan kaku. Aku pura-pura tidak memperhatikannya. Setelah lima menit kemudian, ia kembali duduk di sebelahku.
Tanpa menunggu aku bertanya, Mas Harry menjelaskan dengan nada kesal. Sejak berpisah lima tahun yang lalu, Ia dan mantan istrinya sudah sepakat, kalau week end saja anak-anak bersama mamanya. Selebihnya bersama mas Harry, karena hak asuh jatuh ke tangannya. Ia menyewa dua orang jasa pembantu, untuk mengurus rumah dan mengasuh anaknya.
"Setiap anak-anak pulang dari rumah Mamanya, mereka malas di suruh belajar. Kalau di tanyain nada bicaranya suka ketus," jelas Mas Harry dengan nada kesal.
"Mungkin mereka tahu, kalau Papanya hendak menikah lagi, ada rasa takut bakalan punya ibu tiri," jawabku menyimpulkan.
"Lagi pula mamanya juga sudah menikah lagi dan punya anak. Beda dengan saya yang lebih memilih sendiri. Takut terulang lagi, makanya berhati-hati dalam memilih pasangan," jelas Mas Harry sambil menatapku dan menggenggam tangan ini.
"Mas, kita merasakan hal yang sama.Sama-sama di kecewakan pasangan. Cuma bedanya aku belum menikah,"ucapku sambil membalas genggaman tangannya.
Lama kami saling bertatapan, mata ini terasa hangat dan berkaca-kaca.Mas Harry mengusap mataku yang mulai berair.
"Kenapa kamu jadi tertawa sih Mey?" ledek Mas Harry mencairkan suasana.
"Aihh ... Mas Harry ini, membuat aku jadi baper lah. Sudah ahh, yuk kita pulang, sudah hampir Magrib ini!" ajakku.
Setelah membayar semua pesanan, kami pun pulang. Jalanan pun mulai macet karena jamnya orang pulang kerja.
Bersambung ....