"Jantungku selalu berdetak lebih cepat ketika melihat sosokmu." - Renata Deanita -
Pagi ini, Renata bangun dengan rasa bahagia dan semangat yang menggebu-gebu. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai Sous Chef, posisi yang membuatnya otomatis berada satu tingkat di bawah Executive Chef yang bertanggung jawab pada semua resep di salah satu hotel terkenal di Indonesia. Yaitu SHANGRI’LA HOTEL & RESORT.
Karena ini adalah hari pertamanya bekerja, jadi Renata tidak ingin terlambat datang satu detik pun. Dia bergegas untuk mandi saat jam dinding sudah menunjukan pukul enam. Renata tinggal sendiri sejak setahun yang lalu, semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia. Dimulai dari ibunya yang meninggal karena mengidap kanker rahim. Selanjutnya, beberapa bulan kemudian sang ayah meninggal karena mengidap kanker paru-paru. Saat itu, Renata dan adiknya - Renita - sangat terpukul. Bukannya satu orangtua, mereka harus kehilangan dua-duanya. Meskipun begitu, baik Renata maupun Renita bisa hidup secara mandiri.
Sang adik, Renita sudah hidup bahagia dengan suaminya dan kini tinggal di Palembang. Renata tidak masalah, jika sang adik mendahului dirinya untuk menikah. Karena mereka berdua telah sepakat bahwa siapa yang mendapat jodoh terlebih dahulu, maka dia harus segera menikah. Ditambah lagi, keluarga mereka tidak pernah percaya pada mitos-mitos yang beredar - bahwa seorang adik tidak boleh melangkahi kakaknya dan menikah duluan.
Bukan berarti Renata tidak pernah berhubungan dengan pria. Dia pernah merasakannya, sekali dalam hidupnya, sebelum akhirnya disakiti. Dia harus rela menerima kenyataan bahwa sang kekasih ternyata sudah memiliki istri. Itulah yang menyebabkan Renata tidak ingin lagi menjalin hubungan apapun dengan seorang pria. Cukup sekali ia melakukannya dan cukup sekali ia merasakan sakit hati akibat cinta. Sekarang, ia hanya akan fokus pada karirnya. Menjadi wanita karir jauh lebih baik daripada berhubungan dengan yang namanya pria.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit bagi Renata untuk membersihkan tubuhnya. Kemudian dia berjalan menuju lemari pakaian dan mencari chef jacket berwarna putih. Setelah mengenakan chef jacket kebanggaannya, berikut jaket denim, Renata pun mengambil toolbag yang berada di atas lemari. Lalu memulai dengan memasukkan dua buah kain lap, satu buah apron hitam, cook hat beserta dua buah pisau berukuran sedang yang mungkin saja akan dibutuhkannya. Tak lupa juga, ia memasukkan buku catatan kecil dan pulpen - untuk menuliskan beberapa resep baru, yang pasti akan ia dapatkan di hotel nanti.
☆☆☆☆☆
"Sudah siap bekerja hari ini?"
Ini adalah kedua kalinya Renata bertemu dengan Arjuna Tunggajaya Nuraga - Executive Chef sekaligus atasan langsungnya. Kesan pertama yang terlintas di kepala Renata saat ia diwawancara Arjuna pria itu masih muda, juga tampan, boleh dibilang seksi abis, dengan rahang kuat dan sorot mata yang tajam. Tidak itu saja, tubuhnya juga atletis walaupun ditutupi oleh chef jacket yang lumayan besar. Saat itu, Renata tidak sadar bahwa dia mengigit bibir bawanya seraya memandangi Arjuna dari atas ke bawah.
Hari ini, ketika dia dibawa oleh asisten human resources untuk menemui Arjuna, pria itu masih setampan kali pertama dia melihatnya. Bahkan mungkin lebih tampan. Dan kesan angkuh serta sikap dinginnya masih sama seperti kali pertama.
Renata mengangguk dan menjawab tegas pertanyaan pria itu, "Sudah, Pak."
Arjuna menatap Renata sejenak, memeriksa tampilan wanita itunsebelum berujar tegas, “Bagus. Selamat datang kalau begitu."
Yang Renata tidak tahu, Arjuna juga menyimpan kesan sendiri. Pertama kali dia melihat Renata, dia berpikir wanita itu memang cantik tapi terlihat lugu dan terkesan tolol. Tapi riwayat hidup dan pengalaman kerjanya cukup mengesankan. Dan hari ini ketika Renata mengenakan seragam chef, wanita itu terlihat cukup profesional. Selanjutnya, Arjuna hanya perlu mengetes kemampuan wanita itu.
Renata masih bergeming sehingga Arjuna membentak pelan.
"Apa kamu di sini hanya untuk memandangi saya seperti itu?" tanya Arjuna. yang membuat Renata tersentak.
"Eh?" ucap Renata spontan.
Arjuna menghela napas gusar, baru saja dia berpikir wanita itu tidak tampak tolol. "Ikut saya!" Tanpa menunggu apakah wanita itu mengikutinya ataukah tidak, Arjuna membuka pintu kantor dan berderap menuju medan tempurnya - dapur hotel yang berukuran besar. Setelah perkenalan basa-basi, seluruh staf di ruangan tersebut menyebar ke mana-mana, masing-masing siap meneruskan pekerjaannya kembali, sehingga tinggallah Renata dan Arjuna yang masih saling berdiri berhadapan. Arjuna mendengus sejenak dan berbalik memungungi Renata, hanya untuk mendapati bahwa wanita itu masih mengikutinya.
"Mau mengikuti saya sampai mati?" Arjuna membalikkan tubuhnya dan menatap Renata yang kelihatan kebingungan.
"Ya? Eh, maaf ya, Pak." Renata sedikit membungkukkan tubuh, dengan maksud meminta maaf.
"KERJA!!!" teriak Arjuna, nmemekakkan kedua telinga Renata dan membuat seisi dapur tak berani nmenatap mereka berdua.
"Ba-baik, Pak." balas Renata dengan bibir bergetar karena rasamterkejutnya yang belum juga hilang.
Wanita itu melihat Arjuna yang melangkah menjauhinya. Prianitu kembali pada pekerjaannya yaitu memasak. Renata dapat melihat betapa lincahnya kedua tangan Arjuna dalam mengolah bahan dan bumbu masakan. Hingga Renata merasakan senggolan pelan pada bahunya.
"Yang sabar, ya," ucap orang yang baru saja menyenggol bahunya.
"Gue Imelda, lo?"
"Ke-Renata," jawab Renata pelan, kemudian bergerak untuk berdiri di samping Imelda yang sedang memotong beberapa sayuran.
"Kayaknya cuma kita cewek yang ada di dapur ini. Syukurlah, akhirnya gue dapat teman kerja cewek juga di sini. Kalau gak,nbisa resign lama-lama. Pada gak waras semua."
Renata merasa bahwa Imelda adalah tipe orang yang mudah bergaul, sehingga dia mulai tak sungkan dengan teman barunya tersebut. Sambil ikut memotong beberapa sayuran, Renata pun mulai bertanya kembali. "Emangnya, orang-orang di sini pada nggak wa--"
"RENATA!" Teriakan itu berhasil membuat tubuh Renata menegang seketika. "Coba kamu buatkan saya Cream Soup!" perintah Arjuna, yang entah kapan sudah berada di belakangnya.
"Cepat!" bentaknya. "Kalau kerja di sini, jangan lelet. Dan satu lagi, kamu tidak perlu saya suruh-suruh untuk membuat ini, itu atau apapun. Kamu harus bisa bekerja sendiri, punya inisiatif sendiri, cek daftar makanan apa saja yang kosong dan kamu bisa membuatnya."
Renata mengangguk pelan dengan tubuh yang masih bergetar kecil. Kemudian, dia membalikkan tubuh dan mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat Cream Soup. Cream soup bukan masalah besar, dia bisa membuatnya dengan cepat dan benar. Dan tentu saja enak, terbukti saat Imelda mencicipi buatannya tersebut.
"Cream Soup terbaik yang pernah gue rasain di sini, ya punya lo," puji Imelda yang membuat kedua pipi Renata memerah karena tersipu.
"Makasih, Kak Imelda."
"Sudah, panggil aja Imelda, Imel, Elda, atau apapun, terserah lo. Jangan panggil gue pake embel-embel Kak, karena gue nggak suka. Dan lo jangan pernah merasa canggung sama gue. Kita bisa berteman dengan baik, oke?"
Setidaknya ada Imelda yang dapat membuatnya tenang dan betah berada di dapur. Ada Imelda yang menjadi penghiburnya ketika atasannya itu berteriak dan membentak dirinya. Tapi Renata suka. Dia suka karena bisa bekerja di dapur ini. Bukan karena suka kepada Arjuna Tunggajaya Nuraga.
Renata sedang sibuk membuka apron dan melipatnya dengan rapi, ketika Imel mendekatinya. "Renata, lo mau makan siang sekarang?"
Renata mengangguk cepat, karena memang dia sudah lapar. Jadi, mereka berdua pun mulai meninggalkan dapur untuk mengunjungi kantin khusus karyawan di hotel ini.
"Eh, kenapa sih lo mau kerja sini?" tanya Imelda sembari mengambil nasi, tempe mendoan, dan tumis tauge tahu.
"Ya, karena gue suka sama dapur," balas Renata ketika mereka sudah menempatkan diri pada kursi yang tersedia.
Imelda menghela napas saat mendengar jawaban Renata yang terdengar bodoh. Bukan jawaban itu yang Imelda harapkan dari seorang Renata Deanita. Melainkan alasan mengapa Renata mau melamar di hotel ini.
"Gue baru kenal lo hari ini. Dan gue mencium bau-bau kalau lo cukup bego kalau diajak bicara," tawa Imelda berderai disela-sela memasukkan suap demi suap nasinya.
"Eh, emang gue salah ya?"
"Jelas-lah Re. Maksud gue tuh, kenapa lo mau melamar di hotel ini." Imelda mendengus kesal, bagaimana mungkin seseorang yang ahli bekerja di dapur memiliki tanggapan selambat ini.
"Oh... Ya, pertama gue lihat tuh latar belakang hotel ini, kedua gue belum punya kerjaan sejak berhenti dari hotel lama dan yang ketiga, ini impian gue bisa bekerja di hotel bintang lima. Sous chef lagi."
"Tapi ya," Imelda memotong-motong tempe mendoannya hingga menjadi beberapa keping. "Lo harus kuat hati, kuat mental. Jangan cengeng kalau lu emang mau kerja di sini."
"Maksud lo?" tanya Renata tak mengerti. Ekspresi polos yang ditampilkannya membuat Imelda menghela napas. Betapamlemotnya otak si Renata ini.
"Coba gue tebak, kesan lo pas pertama lihat Pak Arjuna tuh pasti galak, dingin dan angkuh. Terus, tadi lo nggak dengar apa, Pak Arjuna bentak-bentak dan teriakin lo? Beuh...itu mah belum apa-apa," jelas Imelda sembari memakan tumisan tauge tahu yang tersedia.
"Dan lo harus kuat hati jika nanti Pak Arjuna kasih lu omongan yang pedas melebihi cabe. Ya, walaupun gue akui, Pak Arjuna itu ganteng dan seksi abis. Bahkan gue suka horny kalau dekat-dekat sama dia." Kalimat itu nyaris membuat Renata tersedak, dia cepatnmenelan makanannya.
"Dan satu lagi, Pak Arjuna itu seorang duda."
Penjelasan itu membuat Renata membulatkan kedua matanya.
"Duda? Kok bisa, sih?"
"Iya dia duda, padahal pernikahannya baru jalan enam bulan. Mereka juga baru cerai satu bulan yang lalu," jelas Imelda kepada Renata.
"Lo tau alasan Pak Arjuna cerai?"
"Seperti yang gue dengar ya..." Imelda mendekatkan wajahnya pada telinga kanan Renata dan berbisik rendah. "Istrinya selalu nggak puas, kalau main sama dia."
"Masa sih, Del? Ah, lo bohong kali, secara gitu ya, Pak Arjuna itu ganteng, tajir sih udah tentu, dan duh... seksi abis. Masa sih dia duda," ujar Renata menolak tak percaya.
"Udah ah, nggak baik ngomongin atasan. Nanti kualat." Dan piring wanita itu juga ikut tandas begitu dia menutup pembicaraan tentang kehidupan pribadi atasannya.
"Intinya, lo harus kuat-kuat ya. Dan selamat datang di dapur kami. Semoga lo betah ya, Re."
Renata tersenyum sembari memikirkan kenapa seorang Arjuna yang tampan dan seksi bisa menjadi seorang duda? Dan satu lagi... Renata selalu merasakan jantungnya berdebar hebat setiap kali dia melihat sosok Arjuna.
"Rasa gengsi di dalam diri saya yang membuat saya sulit untuk mengakui bahwa kamu itu cantik. " - Arjuna Tunggajaya Nuraga -
Renata dan Imelda pun kembali menuju dapur setelah menghabiskan waktu satu jam untuk beristirahat. Masih ada pertanyaan yang berkeliaran di kepala Renata sejak dia datang ke kantin khusus karyawan. Yaitu; dia tidak melihat Arjuna di sana, lalu biasanya pria itu beristirahat di mana?
Sepanjang perjalanan menuju dapur, Renata tak henti-hentinya mendengarkan Imelda yang terus berbicara. Imelda menyerocos tentang apa saja, mulai dari kesan pertama dia kerja di sini, melihat sosok Arjuna yang membuatnya selalu horny atau apalah, sampai-sampai Imelda bercerita tentang salah satu kucing kesayangannya yang terlindas oleh mobilnya. Dan tentu saja, itu membuat Imelda menangis berhari-hari, itu sih yang Renata dengar sejak tadi.
Tiba-tiba saja, kedua mata Renata menemukan sosok yang tak asing lagi baginya. Sosok itu sedang duduk pada sebuah kursi taman dan meskipun jarak mereka cukup jauh, Renata bisa segera mengenalinya.
"Pak Arjuna.." gumamnya pelan, dan langsung saja dia berhenti berjalan dan menatap Arjuna yang sedang duduk di kursi taman.
Renata melihat Arjuna sedang duduk sembari menghisap rokok, lalu membuang asapnya begitu saja, seolah-seolah asap itu merupakan masa lalunya yang dibuang ke udara. Terlihat juga raut wajah Arjuna yang menunjukan kesedihan. Sesekali juga, pria itu tampak memejamkan kedua mata, dan membukanya kembali. Renata yang melihat itu merasa hatinya terenyuh. Apalagi saat mengetahui bahwa Arjuna merupakan seorang pria yang baru bercerai.
"Woyy!!" teriak Imelda yang membuyarkan lamunan Renata. Dia melihat temannya itu sudah berjarak beberapa meter darinya.
"Lo ngapain sih?!"
Renata yang tersadar, langsung saja kembali berjalan cepat. Oh bukan, melainkan berlari kecil agar bisa segera tiba di samping Imelda.
"Nggak apa-apa." jawabnya ketika sudah berada di samping Imelda.
"Lihat apa sih? Serius amat." Imelda pun kembali bertanya. Renata berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Um... nggak lihat apa-apa sih."
"Pak Arjuna ya?" tebakan Imelda membuat Renata terkejut. Bagaimana Imelda bisa tahu? Ah sial, dia terpergok juga.
"Ah, apaan sih lu," sergah Renata cepat.
"Pak Arjuna emang nggak suka istirahat di kantin." Imelda pun mulai melanjutkan langkahnya kembali, sementara Renata menyamakan langkah.
"Dia emang suka duduk di kursi taman itu. Sambil menikmati pemandangan hotel ditemani sebatang rokok. Sendiri, dan nggak pernah ada yang nemanin."
Kali ini, Renata mulai mendengarkan secara serius tatkala Imelda menjawab pertanyaan di kepalanya. Tanpa dia ucapkan, temannya itu sudah tahu.
"Emang suka sedih gitu ya, mukanya?" tanya Renata.
"Maklumlah, namanya juga orang yang baru cerai satu bulan yang lalu. Jadi, wajar aja kalau Pak Arjuna belum bisa move on," jelas Imelda lagi, sementara Renata mengangguk mengerti.
"Lo kayaknya, tahu banget ya tentang Pak Arjuna," lanjut Renata sementara mereka masih terus berjalan kembali ke dapur.
"Re, semua orang juga tahu. So, bukan cuman gue aja. Dannsekarang lo juga tau. Apa lu nggak tahu, gimana mulutnya orang-orang dapur kalau ada gosip terbaru," Imelda terkekeh. "Kayak lambe turah yang selalu up-to-date."
Renata tertawa. "Masa, sih?"
"lya, pura-pura ah lo. Tahu nggak, anak-anak dapur di sini paling suka gosip. Hidup semua kalau udah bergosip." Tawa Imelda berderai ketika sudah berada di depan dapur.
"Ekhm!" Suara dehaman itu membuat Imelda dan Renata terkejut setengah mati. Renata berhenti melangkah sementara Imelda segera menutup mulutnya.
"Sudah waktunya kerja. Ketawa-ketawa saja kerjaannya."
Mereka berdua tak berani menjawab, melainkan mempercepat langkah dan masuk ke dapur. Namun, tiba-tiba saja Renata merasakan cengkeraman lembut di tangan kanannya. Tentu sajanitu membuatnya tersentak dan jantungnya berdebar tak karuan.
"Ikut saya."
Perintah itu membuat bibir Renata kelu, ia tak mampu menjawab perintah Arjuna dan lebih memilih berjalan mengikuti pria itu di belakangnya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan kecil, dan sudah dipastikan itu adalah kantor Arjuna.
"Pak, sa-saya minta maaf," ucap Renata, yang masih mengira pria itu marah karena Renata dan Imelda tertawa-tawa di jam kerja.
Arjuna bergeming. Tak menyahut ucapan Renata. Dia hanyanmenatap tajam kedua mata Renata dengan tatapan yang mampu menghunus menuju hati Renata yang paling dalam. Ditatapnya kedua mata Renata tanpa henti, membuat wanita itu semakin menunjukan raut wajah yang ketakutan.
Satu hal yang disadari Arjuna, tatkala menatap mata Renata adalah; cantik. Dia tidak bisa menolak mengakuinya, kalau Renata benar-benar cantik, walaupun dia tahu wanita itu sedikit tolol.
"Pak.." lirih Renata lagi.
Tetapi, pria itu masih tak menyahutnya dan lebih memilih untuk memandangi penampilan Renata. Matanya mulai menjelajahi seluruh bagian atas kemudia terhenti pada dada wanita tersebut.
Arjuna menelan salivanya susah payah. Dua buah gunung yang terlihat menggoda tentunya membuat gairah Arjuna bergejolak meskipun Renata mengenakan chef jacket, namun sialnya, chef jacket yang dikenakan wanita itu terlihat terlalu ketat. Sehingga mencetak jelas semua lekuk tubuh wanita tersebut. Ah sial, apa yang sebenarnya Arjuna pikirkan?
Arjuna langsung saja membuang pikiran kotornya jauh-jauh. "Kamu tahu alasan saya menjadikan kamu sebagai Sous Chef?"
Renata mendongak setelah sejak tadi tertunduk ketakutan. "Ng-nggak tau, Pak."
Kenapa wanita ini semakin menggemaskan ketika sedang ketakutan, pikir Arjuna gemas.
"Karena saya yakin, kamu bisa memperhatikan pegawai lain di sini. Dan saya percaya kamu bisa bertanggungjawab pada resep di dapur kita." Renata terdiam, tidak berani membuka mulut. "Jadi, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik. Bukan malah ketawa-ketawa kayak tadi."
"Saya minta maaf, Pak," ucap Renata lagi, kali ini bahkan lebih pelan.
"Kembali ke dapur!" Perintah tegas itu langsung saja membuat Renata membalikkan badan dan melesat pergi dari ruangan Arjuna.
Jangan buat saya tergila-gila sama kamu, Re.
☆☆☆☆☆
Renata kembali ke dapur dan langsung saja memakai apronnya dengan cepat. Lalu kembali bekerja sebagai mestinya. Dia tidak ingin di hari pertama bekerja, sudah membuat masalah. Jadi, saat Imelda mengajaknya mengobrol, Renata tidak mendengarkannya.
"Re..." panggil Imelda sedikit berteriak, padahal jarak mereka cukup dekat. "Re ish...gue mau nanya."
"Apaan?" Renata menolehkan kepalanya sekilas, lalu kembali memfokuskan diri pada masakan yang sedang dibuatnya.
"Lo tau resep adonan poffertjes?"
"Tahu. Nih..." Renata menyodorkan catatan kecil yang biasa digunakannya.
"Eh, tadi Pak Arjuna bil-"
Pertanyaan Imelda terhenti ketika melihat Arjuna sudah memasuki dapur. Suasana dapur pun kembali berubah menyeramkan.
Arjuna berjalan-jalan melewati beberapa orang yang bekerja. Kadang juga mencicipi masakan yang sedang dibuat oleh para Juru masak.
"Kurang garam," ucapnya setelah mencicipi masakan dari salah satu juru masak pria.
"Ini," Arjuna kini berada di samping Imelda, yang sedang meracik bahan untuk membuat adonan poffertjes. "Ini putih telurnya kocok pisah."
Meskipun begitu, nada suara Arjuna tidak berubah. Tetap saja dingin seperti es, dan hal itulah yang membuatnya disegani oleh para pekerja yang lainnya. Kemudian, Arjuna terus saja memantau kinerja pekerja yang lainnya, hingga dia berjalan mendekati Renata. Tentu saja, Renata sedikit panik.
Saat Arjuna berjalan mendekati Renata, tanpa sengaja dia menyenggol siku kanan wanita itu, sehingga terdengar suara ringisan kesakitan dari mulut Renata.
"Renata," panggil Imelda terkejut, lalu cepat menghampiri wanita itu. "Tangan lo nggak apa-apa, kan? Duh... ini kan minyak panas."
Arjuna yang melihat itu langsung saja bereaksi, dengan cepat meraih tangan Renata dan membawanya menuju pancuran air mengalir di wastafel. Telihat sekali kalau wajahnya terksesan panik. Mungkin, Arjuna merasa bersalah karena telah tak sengaja menyenggol siku Renata.
"Pak.." panggil Renata hati-hati. Sumpah demi apapun, saat tangannya disentuh dan digenggam oleh Arjuna, jantungnya berdebar sangat kencang. Rasa sakitnya pun tiba-tiba saja hilang. Bahkan tubuhnya juga menegang kaku.
"Diam," perintah Arjuna yang masih bernadakan sedingin es.
"Pak, ini nggak apa-apa." Renata bersikeras ingin melepaskan genggaman itu. Tetapi, Arjuna menahannya semakin kuat.
"Saya minta maaf. Saya nggak sengaja," ucapnya kemudian, sembari mematikan pancuran air. "Masih panas?" lanjutnya.
Renata bisa menangkap kekhawatiran pria itu. Bahkan raut wajahnya juga menggambarkan rasa bersalahnya.
"Udah mendingan, kok, Pak," balas Renata seraya menarik tangannya. "Nanti di rumah saya olesi salep."
Arjuna bergeming. Pria itu tak membalas ucapan Renata dan hanya menatap wanita itu penuh arti. Pada detik selanjutnya, lengkungan senyum di bibirnya akhirnya terbit. Dan itu nyarismembuat Renata kehabisan napas karena senyuman Arjuna... benar-benar manis.
Gila! Bisa-bisa Renata melemas seketika. Hal yang dikatakan oleh semua orang tentang pria itu, justru membuat Renata semakin penasaran dengan sosok Arjuna. Arjuna yang terlihat lebih tampan dan seksi saat tersenyum. Arjuna yang terlihat begitu manis saat peduli kepadanya. Dan Arjuna yang selalu membuat jantung Renata berdebar kencang.
"Senyummu sangatlah manis. Mungkin aku akan terkena penyakit diabetes jika kamu tersenyum setiap kali melihatku." - Renata Deanita -
Sial! Mampus! Itu umpatan yang dikeluarkan Renata pagi ini. Bagaimana tidak? Saat ia melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Sudah dipastikan, dia akan telat masuk kerja, setidaknya setengah jam.
Tak tinggal diam, Renata langsung saja bangkit dari tidurnya dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan secepat kilat. Karena sudah tidak ada waktu lagi untuknya bersantai-santai.
Kalau bukan gara-gara semalam, Renata mungkin tidak akan terlambat bangun pagi ini. Bayangkan saja, dia selesai kerja pada pukul 22.00, tetapi karena hujan deras yang tak berhenti-henti, akhirnya dia harus pulang pukul 00.00. Tengah malam! Dan itu pun pulang sendiri, dengan menaiki ojek online. Belum lagi ojek yang yang ditumpanginya mogok di tengah jalan. Jujur, itumembuat Renata ingin menangis karena kesal. Sudah lelah, pulang larut, motor mogok, kehujanan dan keesokannya harus masuk pagi.
Sebenarnya, semalam banyak rekan kerjanya yang menawari Renata untuk pulang bersama. Hanya saja, Renata terlalu malu untuk menerimanya karena dia merupakan pekerja baru.
"Lo bareng gue aja Re. Bakal lama nih hujannya." tawar Imelda malam itu, yang kemudian ditolak oleh Renata. "Gue dijemput pake mobil sama pacar gue."
Tentu saja Renata menolaknya, dia tidak mau menjadi kambing congek di antara Imelda dan pacarnya. "Nggak usah, deh, Del, bentar lagi juga reda. Gue udah pesen ojek online soalnya."
"Kenapa lo nggak pesan yang pake mobil?"
Nah itu dia, kenapa Renata tidak pesan yang pakai mobil? Karena uang Renata malam itu pas-pasan. Jadi, untuk tarif sebuah mobil sangatlah kurang. Pokoknya malam itu adalah malam ter-apes yang pernah dia rasakan.
"Nggak deh, udah tanggung," balas Renata dengan berbagai macam alasan. Kalau dia bilang uangnya tidak cukup, sudah pasti Imelda akan terus memaksanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Menyerah, Imelda pun berpamitan kepada Renata karena jemputannya sudah tiba. Sekarang tinggalah Renata seorang diri, berdiri di belakang gerbang hotel, sambil menatap jalanan yang masih saja dijatuhi oleh air hujan. Sesekali, Renata juga melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Ah sial, udah jam sebelas malam," rutuknya pada diri sendiri.
"Belum pulang?"
Suara yang terdengar datar dan dingin itu berhasil mengejutkan Renata dan membuatnya seketika menoleh ke arah suara tersebut. Astaga! Demi apapun yang ada di dunia ini, apa yang dilihat Renata itu benar-benar nyaris membuatnya melemas saat itu juga. Jantungnya kembali berdebar keras dan dia merasa sesak. Hawa panas pun mulai menjalar di seluruh tubuh Renata dan tanpa sadar dia sudah menggigit bibir bawahnya sembari menelusuri penampilan sosok yang baru saja menyapamya.
Arjuna.
Pria itu yang menyapanya, khas dengan nada datar dan dingin. Berdiri hadapannya, Arjuna sudah mengganti chef jacket-nya dengan kaos putih polos berlengan pendek. Tatapan Renata terhenti pada kaos ketat yang dikenakan Arjuna. Kedua otot tangannya terlihat sempurna. Dada bidangnya...ugh! Renata ingin mengusapnya lembut. Dan wajahnya juga terlihat lebih bersih serta tatanan rambutnya juga begitu rapi. Tampak sebuah tas punggung hitam yang tergantung pada sebelah bahunya yang kekar. Pokoknya, seksi abis!!!
"Renata?" panggil Arjuna, yang membuat Renata makin salah tingkah, karena ketahuan merenung pria itu terlalu lama. Buru-buru, Renata memalingkan wajah dan mengutuk dirinya sendiri karena bersikap layaknya wanita jalang yang mendapatkan pelanggan. "Kamu belum pulang?"
"Be-belum, Pak." Renata masih memalingkan wajah, tak berani menatap Arjuna, karena itu bisa membuatnya sakit jantung lalu pingsan seketika.
"Um... " Arjuna bergumam. "Ngomong-ngomong, tangan kamu masih terasa panas?"
Lagi dan lagi, Arjuna terus menanyakan kondisi tangannya, dan tentu saja itu membuat Renata semakin salah tingkah. "Udah agak mendingan, Pak."
"Saya benar-benar minta maaf. Saya nggak sengaja."
Meskipun ucapan itu terdengar dingin, tetapi Renata dapat merasakan kekhawatiran yang Arjuna rasakan.
"Iya, Pak, nggak apa-apa, saya udah biasa kalau kena minyak panas." Sebisa mungkin, Renata mencoba untuk tidak bertukar tatap dengan Arjuna.
"Mau pulang bareng saya? Kebetulan, saya di jemput sopir pribadi, " tawarnya, yang membuat Renata membulatkan kedua matanya.
"Ng-nggak usah, Pak, saya udah pesan ojek online," tolak Renata cepat. Renata hanya tak ingin hubungannya dengan Arjuna melebihi batas antara atasan dan bawahan. Lagipula, dia tidak yakin jantungnya bisa tahan jika duduk semobil bersama Arjuna. Jadi, lebih baik tidak.
"Hujannya deras banget. Masa kamu pakai ojek," Arjuna tetap bersikeras.
Renata menggerak-gerakkan tangannya, juga bertekad menolak tawaran Arjuna. "Tadi saya pesan sebelum hujan, Pak."
"Yakin?"
Renata mengangguk cepat, tanpa benar-benar melihat ke arah Arjuna. Duh sial, kok atasannya ini tiba-tiba saja bersikap lembut? Argh...bisa-bisa Renata gila! Begitu mobil jemputan Arjuna datang, pria itu langsung saja menaikinya dan berpamitan dengan Renata. Satu hal lagi yang membuat Renata gila saat itu juga adalah; Arjuna kembali tersenyum, senyum hangat yang mampu membuat kedua lutut Renata melemas dan ingin ambruk begitu saja.
Renata tidak peduli dengan padangan karyawan lain ketika dia berlarian memasuki hotel. Yang dia pikirkan saat ini - bagaimana dia bisa menghindar dari amukan seorang Arjuna Tunggajaya Nuraga.
Tepat pukul 09.00 pagi, dan Renata baru sampai di dapur. Dia terlambat satu jam! Masih dengan napas yang memburu, Renata berjalan masuk dengan cepat, dan membuat semua staf dapur menoleh untuk menatapnya. Dia tidak sadar pada penampilannya sendiri sampai Imelda memanggilnya. Wanita itu menatap Renata dari atas ke bawah lalu kembali ke atas, lalu menepuk dahinya keras.
"Ampun Renataaa. ucapnya gemas seraya menghampiri Renata yang masih sibuk mengatur napasnya.
"Lo apa-apaan? Duh ini.."
Imelda menunjuk kancing chef jacket Renata yang tidak terpasang pada tempatnya. Jadi, bayangkan saja betapa berantakannya penampilan Renata sekarang.
"Terus, ini," tunjuk Imelda pada rambut Renata yang tak terikat dan berantakan.
"Dan satu lagi, ini," Imelda menunjuk bagian celana Renata yang belum terpasang dengan rapi. Kancingnya saja masih terlepas. Untung saja sepanjang perjalanan, celananya itu tidak melorot.
"Lo kayak gembel, tahu nggak," tambahnya lagi.
"Gue kesiangan, Del, jadi gue buru-buru aja," ucap Renata, seolah itu menjawab semuanya.
"Iya-iya, gue tau. Udah, lo sana, benerin dulu, tuh, baju sama semuanya," saran Imelda dan Renata mengangguk setuju. "Sebelum Pak Arjuna datang."
Benar juga ya, batin Renata. Ketika dia memasuki dapur, Renata tidak melihat pria itu. Dan ini kesempatannya untuk bisa membenahi diri sebelum bekerja. Mungkin, pria itu sudah pergi ke ruangan briefing.
☆☆☆☆☆
Mata Renata tak henti-hentinya memperhatikan sekelilingnya saat berjalan menuju ruang ganti. Dengah langkah cepat, sambil sesekali berlari kecil, Renata mencapai ruang ganti dalam waktu singkat. Begitu memasuki ruang ganti, Renata langsung saja berlari menuju cermin besar yang terpasang di dinding. .Betapa terkejutnya Renata saat melihat penampilannya sendiri. Kancing yang tak terpasang rapi, rambut yang berantakan, belum memakai make up dan celana yang belum dia kaitkan. Sangat buruk. Jauh lebih buruk dari seorang gembel.
Tak tinggal diam, Renata mulai merapikan dirinya sendiri. Dimulai dengan menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan gaya pony tail, lalu merapikan kancing baju, dan kemudian mengaitkan celananya cepat.
"Renata?" Suara itu membuat Renata hampir mengumpat karena rasa terkejut yang luar biasa. Renata menoleh dan mendapati Arjuna muncul dari ruangan di baliknya. Aduh, sial! Dia pikir pria itu sudah ada di ruang briefing pagi. Tapi, bukan itu masalah terbesarnya sekarang. Renata membulatkan kedua matanya ketika menyadari penampilan Arjuna rambut pria itu berantakan dan Arjuna memang sudah mengenakan chef jacket, tapi... Oh Tuhan, aura keseksian pria itu menyeruak memenuhi ruang ganti sumpek ini. Renata bisa melihat perut sixpack pria itu, begitu juga dengan dada bidangnya yang terekspos jelas, karena chef jacket yang dikenakanannya belum dikancingkan. Membuat Renata harus menelan salivanya susah payah.
"Kamu ngapain di sini?" Masih sama dengan Arjuna yang biasa, suaranya masih datar dan sedingin es, walaupun dia nyaris tampil bertelanjang dada di depan bawahannya.
"Umm... anu, Pak." Renata benar-benar salah tingkah. Putus asa, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Saya lagi merapikan baju saya, Pak," jawabnya jujur, sambil sesekali melirik Arjuna yang mulai mengancingi bajunya.
"Tapi, ini, Re-"
"Pak, saya minta maaf, Pak, " potong Renata cepat, sebelum pria itu melanjutkan. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Arjuna padanya. "Saya telat Pak, saya pulang dari sini jam dua belas malam, Pak. Terus sampai rumah udah jam satu pagi, Pak. Dan akhirnya saya bangun kesiangan, Pak," jelasnya cepat, dengan nada yang sedikit memohon.
"Renata-"
"Pak, tolong maafin saya, Pak. Jangan pecat saya, Pak. Kalau saya dipecat, saya nggak bisa makan, Pak. Saya minta maaf, Pak. Saya janji nggak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Pak. Dan saja janji, nggak akan bikin Bapak marah sama saya lagi," cerocosnya tanpa henti.
"Renata-"
"Pak, tolong, Pak," lagi-lagi Renata memotong ucapan Arjuna. Dia tahu bahwa itu sangatlah tidak sopan, tetapi Renata melakukan itu agar Arjuna mau memaafkannya.
"Tapi, Renata, ini ruang ganti khusus laki-laki," ucap Arjuna akhirnya, dengan nada datar. Sambil menatap intens kedua mata Renata yang langsung melebar kaget.
"HAHI?"
Renata tersentak begitu mendengar ucapan Arjuna. Pipinya langsung memerah karena rasa malu yang menjalari dirinya. Matanya mulai menjelajahi sekitar ruangan. Dan benar saja, saat kedua mata Renata menatap ke arah pintu, di sana tertulis jelas 'RUANG GANTI KHUSUS PRIA. Membuat Renata malu setengah mati karena berada di ruang ganti tersebut. Untung saja, hanya Arjuna yang berada di sini. Jika sampai banyak orang, bagaimana? Entahlah, mungkin Renata memilih untuk mati saja karena rasa malu.
"Aduh, Pak... maaf." Renata lalu terburu berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu. Namun, suara pria itu kembali mencegahnya.
"Renata.." Terpaksa, Renata menahan langkah. Renata tak bergerak, namun tak juga membalikkan tubuh. Remasan pada tasnya diperkuat dan sesekali juga, dia memejamkan kedua matanya. Hatinya sudah menjerit dan berharap agar atasannya itu tidak memarahinya lagi seperti kemarin.
"Kamu sakit?" selidik Arjuna.
"Hah!? Nggak Pak," jawab Renata, masih sambil memunggungi pria itu.
"Muka kamu pucat."
"Itu... itu karena saya nggak pake make up, Pak. Saya duluan ke dapur, ya, Pak."
Bagaikan kilat, Renata langsung melesat pergi. Dan dalam hitungan detik, wanita itu sudah hilang begitu saja. Sedangkan Arjuna, masih termangu manatap tempat Renata tadi berdiri. Menarik, gumamnya pelan, lalu diikuti dengan senyum kecil karena mengingat tingkah laku Renata barusan. Sayangnya Renata tidak melihat senyum Arjuna.