Bab 1

BUGH!

"Aaargh!"

Reigan tersentak saat tanpa sengaja tubuh kokohnya ditabrak oleh seorang gadis ramping yang tampak kuyu.

Gadis dengan sweater biru muda itu menjerit sesaat, kemudian berlalu begitu saja tanpa ekspresi yang berarti. "Maaf," ucapnya lirih sebelum benar-benar berpaling dan pergi.

'Mirip Suster Arumi!'

"Tunggu!" panggil Reigan refleks.

Mata sembab gadis itu menoleh  ke arah Reigan sekali lagi, kemudian melengos pergi tanpa peduli apapun.

'Gue enggak sengaja. Kabur, ah!'

"Gadis bandel, tunggu jangan lari!" Reigan spontan mengejar, sebab wajah si gadis mengingatkannya pada wajah seorang wanita yang selama ini ia cari.

"Sial! Mengapa dia cepat sekali!" rutuk Reigan gusar. Ia tetap mengejar, tak ingin kehilangan jejak.

Kedua asisten dan empat bodyguardnya turut mengejar.

Mereka seketika heran dengan kelakuan Reigan Finley Alfarez, sang putra presdir yang pemalas dan cuek, tiba-tiba saja ia menjadi begitu peduli kepada seorang gadis random tak dikenal.

'Kocak amat Bos, keren-keren malah ngejar cabe-cabean.' Willy menggerutu di dalam hati.

Selama ini Reigan adalah sosok yang dingin dan arogan. Uang, dan kekuasaan adalah nomor satu dalam catatannya, adapun para gadis cantik tidak lebih dari selembar tisu pembersih kotoran baginya. Sebab itu Willy heran melihatnya mengejar seorang gadis random di jalanan.

Meskipun ia malas terjun ke dunia bisnis secara  langsung, Reigan turut andil membantu pengawasan kinerja para pegawai perusahaan ayahnya. Ia enggan ambil bagian dalam perusahaan, tapi bersemangat menghitung berapa persen uang yang harus masuk ke rekeningnya setiap bulan.

Beruntung, Reigan putra tunggal, Gunawan Alfarez, Presdir SIGMA Group. Sejak Reigan kecil, kedua orangtuanya yang sibuk terlampau memanjakannya dengan uang.

"Siapa gadis itu, Willy? Apakah kamu dan Tuan Reigan mengenalnya?" tanya Rangga penasaran, sembari mempercepat langkahnya mengejar Bos mereka.

"I don't know. Aku yakin Big Boss mengenalnya, sebab itu ia mengejarnya. Atau mungkin Big Boss sanghe melihatnya." Willy menggendikkan bahu. Ia juga berjalan cepat.

"Sanghe-sanghe! Apaan!" Rangga protes dengan netra memicing.

"Hahahahha.... Big Boss lebih suka menghabiskan waktunya berkuda, dan melakukan berbagai jenis olahraga lainnya, daripada menghabiskan waktunya untuk berkencan." Rangga melanjutkan membela Reigan dari penilaian negatif Willy.

"Aaargh! Aku sering lihat Bos melotot kalau ada cewek seksi yang lewat." Willy bersikeras.

"Dia hanya terpukau sesaat. Awas saja kalau kamu bilang si Bos sanghe lagi, akan kulaporkan kau!" Rangga mengancam.

"Sial, eh! Jangan gitu, please!" Willy menyerah. Rangga tersenyum mengejek.

Sekilas terlihat sosok ramping berambut panjang berjalan cepat menaiki anak tangga, ia menghindari lift dan eskalator yang terdapat di dalam gedung besar pusat perbelanjaan modern itu.

Hana hanya mengulang apa yang dulu kerap dilakukannya bersama sang ibu, berlarian di tangga hingga mencapai rooftop, tempat yang dulu paling disukai mendiang ibunya untuk menyaksikan langit senja.

Edelweis Hana melangkahkan kaki mendekati sisi rooftop tanpa ragu pada awalnya, akan tapi kemudian langkahnya perlahan melambat.

"Akh, ternyata sangat mengerikan...." gumamnya lirih saat wajahnya menunduk ke bawah, orang-orang yang melintas tampak kecil dalam penglihatannya. Bagaimana tidak, ia berada di rooftop gedung delapan lantai.

Sekali lagi Hana bergidik ngeri, dan ia tidak sadar kalau dirinya pun terlihat mengerikan dengan rambut panjang riap-riapan dipermainkan angin malam yang bertiup cukup kencang.

"Aku ingin bebas dari semua penderitaan. Jika raga ini terbujur kaku, maka tak akan ada lagi rasa sakit," sekali lagi bibirnya mendesis, diiringi kakinya maju satu langkah.

"T-t-tap-tapi... aku belum pernah merasakan dicintai dengan hebat oleh siapapun." Hana menyesali kehidupannya yang malang.

Ibu tiri yang kejam dan ayah yang tidak punya kepedulian, membuat hidupnya serasa di neraka. Sungguh, ia masih punya mimpi untuk melanjutkan hidup agar bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai seseorang dengan tulus dan dalam.

"Ibu..." Bibir Hana bergetar. "Sebenarnya aku ingin hidup lebih lama, bertemu seorang pria yang akan menjadi pasanganku, menikah, kemudian membesarkan beberapa orang anak bersama. Tapi... hanya ibu yang paling memahami dan menyayangiku. Lebih baik... aku menyusul ibu saja."

Hana memejamkan mata, satu langkah lagi semua akan berakhir baginya. Namun... sebelum itu terjadi, satu lengan kokoh merengkuh pinggang Hana yang ramping, menarik tubuh gadis belia itu ke belakang dengan keras.

Hana terkesiap. "Ugh, lepaskan aku! Biarkan aku terjun." Ia memberontak, akan tetapi lengan Reigan sangat kuat merengkuh tubuhnya.

"Gadis bodoh, apa yang kamu lakukan? Tubuhmu akan hancur menjadi bubur jika terjatuh dari ketinggian gedung ini. Lagipula, aku tidak suka seseorang berbuat bodoh di proverty milik keluargaku, hanya akan menjadi berita buruk di media dan menurunkan reputasi perusahaan ayahku." Reigan membentak keras gadis di dalam kungkungannya. Ia tak habis pikir mengapa gadis semuda ini ingin membebaskan diri dari kehidupan dunia. Sebegitu beratkah bebannya?

"Apa pedulimu? Aku enggak tahu kamu siapa, tolong lepasin!" Hana menjerit lemah. Ia berada di puncak emosinya, pada salah satu titik terendah kehidupannya.

Reigan menatap wajah penuh air mata itu. "Apa kamu tidak kasihan kepada kedua orang tuamu? Mereka bersusah payah membesarkanmu. Dan ibumu pasti sangat sedih memiliki anak serapuh dirimu."

Reigan berusaha mempengaruhi gadis yang berhasil menyita perhatiannya tersebut. Pipi si gadis terlihat lebam, sudut bibirnya sedikit pecah. Reigan jadi kasihan, hal yang tak pernah ia rasakan.

'Gadis ini sangat mirip suster Arumi. Apakah dia putri suster Arumi yang dulu masih balita? Waktu berlalu dengan cepat, dan dia sudah gadis remaja sekarang.'

Reigan tidak pernah melupakan masa-masa kelam itu. Saat ia baru saja lulus Sekolah Dasar, rumah tangga kedua orang tuanya dalam kehancuran, sementara itu ia sedang mengalami cidera cukup serius karena sebuah kecelakaan.

Tidak ada siapapun yang memperhatikan dan memberi kasih sayang padanya, kecuali seorang suster yang ditugaskan untuk merawatnya. Reigan merasa terabaikan saat itu.

Kedua orang tua Reigan hampir tidak punya waktu untuk mengurus putra mereka, menyerahkan putra mereka kepada suster sepenuhnya.

Beruntung, suster bernama Arumi itu sangat baik dan penuh kasih sayang. Ia memperlakukan Reigan seperti putranya sendiri.

Bukan hanya merawatnya, Suster Arumi selalu memberikan nasihat-nasihat yang berharga kepadanya. Puluhan tahun berlalu, Reigan tidak pernah melupakan Suster Arumi.

Sejak lama ia mencari keberadaan suster itu, akan tetapi ia belum pernah menemukan jejaknya sama sekali. Sepulang kuliah dari Amerika, Reigan mulai mencari tahu keberadaan Suster Arumi, akan tetapi ia belum berhasil menemukannya hingga detik ini.

'Benar-benar sangat mirip, tapi bagaimana mungkin wanita itu semakin lama... semakin muda? Aku yakin gadis ini adalah putri atau adiknya,' batin Rei.

"Gadis bodoh, siapa namamu? Katakan apa masalahmu, siapa tahu kami bisa membantu," ujar Willy yang sedari tadi telah menyaksikan apa yang terjadi bersama rekan-rekannya yang lain. Melihat tuannya peduli kepada si gadis, ia pun turut menunjukkan kepeduliannya.

"Namaku Hana. Membantuku? A-aku... aku tidak punya apapun untuk membalas budi. Lepaskan! Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Hana berbicara nyaris berbisik, seakan-akan tidak memiliki energi tersisa.

"Gadis bodoh, suaramu lemah sekali. Sudah berapa lama kamu tidak makan?" Willy bertanya dengan kedua alis bertaut.

"Willy! Jangan memanggilnya seperti itu, sekalipun benar ia seorang gadis yang bodoh, bersikap baiklah padanya." Reigan membentak.

Netra Hana mendelik mendengar ucapan pria yang menolongnya. Terdengar pedas di telinga Hana.

"Oh, iya Bos. Maaf, aku salah bicara." Willy merunduk menahan kesal, sebab ia hanya mengikuti bosnya itu memanggil bodoh kepada si gadis belia.

"Gadis kecil, dunia sangat luas dan indah untuk dijelajahi. Buat apa menyiksa diri sendiri." Rei mulai menegakkan tubuh Hana, tapi ia belum mau melepaskan lengannya dari pinggang ramping gadis itu. Khawatir Hana akan berbuat nekad lagi.

"Aku bukan gadis kecil, usiaku sembilan belas tahun. Aku sadar resiko dari setiap perbuatan yang kuambil. Aku enggak mengenal kalian, tolong le-pas-kan a-ku!" Sekali lagi Hana memberontak, akan tetapi lengan kokoh pria tak dikenalnya itu bergeming. Tiba-tiba Hana merasa alam berubah menjadi gelap dalam sekejap

"Shit! Dia pingsan, sungguh merepotkan!" rutuk Rei kesal.

Bab 2

"Shit! Dia pingsan, sungguh merepotkan!" rutuk Rei kesal.

"Bukankah Anda yang mengejarnya dan merepotkan diri Anda sendiri Bos," celetuk Willy, sedikit mengejek si Bos dengan hati yang kebat-kebit.

Willy satu-satunya orang yang berani bersuara, sebab ia bukan sekedar asisten pribadi dari seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan besar, ia dan Reigan adalah sahabat dekat semenjak kecil.

"Diamlah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sekarang kau bawa gadis ini ke pusat kesehatan terbaik. Berikan dokter terbaik dan perawatan maksimal. Jangan lupa, cari tau siapa dia dan selidiki latar belakangnya!" Reigan menyerahkan tubuh Hana yang tidak berdaya ke tangan Willy begitu saja, kemudian ia beranjak pergi.

'Dasar Nobita!' Willy hanya mampu menggerutu di dalam hati, sebab dia adalah Dora Emon-nya, yang akan mewujudkan semua keinginan Reigan. Meskipun ia dibayar, tapi kadang ia kesal dengan sikap Reigan yang sesekali sangat menyebalkan.

"Hai, kalian berdua. Bantu aku tangani gadis ini," perintah Willy kepada dua bodyguard di dekatnya. Sesungguhnya ia sangat penasaran mengapa Reigan bertindak aneh, sangat perhatian kepada gadis asing yang tidak dikenalnya. Namun, Willy hanya bisa memendam rasa penasaran itu dalam-dalam.

"Siap, Tuan Willy." Kedua bodyguard itu menyahut dengan patuh.

Willy tiba-tiba teringat sesuatu. "Sial, harusnya hari ini aku ikut menghadiri pertemuan dengan Direktur Wijaya Property dan bertemu Moana yang cantik dan seksi. Sungguh apes! Aku harus berakhir berama gadis lusuh ini. Hmmm... siapa gadis bernama Hana ini? Bos tidak mungkin bertindak jauh tanpa alasan. Baiklah, akan kuselidiki latar belakangnya."

Willy terus menggerutu sembari membopong tubuh Hana. Dengan cepat ia membawa Hana ke rumah sakit terdekat. Willy memilih kelas perawatan Presidensial suite, agar Hana ditangani secara spesial.

"Dia sudah sadar dan baik-baik saja, hanya kelelahan dan kelaparan. Sepertinya ia sengaja tidak makan selama dua hari ini." Dokter menjelaskan kepada Willy dengan wajah tenang, tapi penuh selidik. "Apakah dia putrimu?"

"Alhamdulillah kalau begitu. Dia putri Bos-ku." Willy menjawab sekenanya. "Berarti hanya perlu memberinya istirahat dan makan?" tanyanya.

"Iya Pak Willy, dia akan kembali segar setelah energinya dipulihkan."

Setelah fisik Hana mulai pulih, giliran psikiater yang datang untuk berbicara dengannya. Perlahan-lahan pikirannya yang buntu dan gelap mulai terang kembali. Psikiater berhasil mengembalikan semangat hidupnya sehingga ia pun mau menyantap makanan.

"Dokter, aku harus pulang. Banyak hal yang harus kuselesaikan." Hana teringat tentang biaya perkuliahan yang belum dilunasinya. Ia harus mencari solusi dengan cepat.

"Tunggu, kamu boleh pulang besok pagi, bukan sekarang."

"Maaf, aku ada urusan yang sangat penting. Terima kasih atas semua pertolongan Anda, Dokter. Assalamualaikum." Hana berlari tak peduli apapun lagi.

Dokter hanya bisa menatap kepergian Hana dengan ternganga.

"Berhenti! Jangan kabur seenaknya, nanti Tuan Reigan bisa murka." Willy yang kebetulan sedang berjalan menuju ruang perawatan Hana, melihat gadis itu berlari kencang menuju luar gedung rumah sakit. Willy langsung mencegat langkah Hana.

Hana melewati Willy. Ia terus berlari. Semangatnya untuk hidup telah kembali. Ia bertekad untuk mendapatkan banyak uang, bagaimanapun caranya ia akan melunasi uang semester. Ia ingin menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang Dokter Anak, seperti janji yang dulu pernah ia ucap kepada mendiang ibunya.

"Kejar gadis itu!" perintah Willy kepada para pengawal.

"Siap Tuan!" Para pengawal langsung bergerak mengejar Hana, akan tetapi gadis itu menghilang tanpa jejak.

"Gadis bandel tidak tahu terimakasih. Bukannya berterimakasih sudah diselamatkan, tapi malah kabur, ckckckck..."

Sementara Willy mengurus Hana, Reigan sedang menghadiri pertemuan penting untuk mendampingi ayahnya bertemu dengan Alan Wijaya, Direktur Wijaya Property, saudara sepupu Rei sendiri.

Usai salah seorang dari Wijaya Property melakukan presentasi proyek Land of Heaven, Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan, termasuk Pak Gunawan dan Reigan.

Proyek Land of Heaven adalah proyek ambisius Reigan dan Alan. Reigan memang tidak suka terjun langsung ke perusahaan, kecuali untuk proyek tertentu yang disukainya.

Karena perusahaan adalah milik ayahnya, Reigan bisa memilih proyeknya sendiri sesuka hati. Di sini ia hanya berperan untuk mendesain bentuk proyek yang akan mereka buat. Ia adalah seorang arsitek hebat yang senang bekerja lepas.

"Moana, persiapkan semua berkas penting di atas meja. Putra Presdir SIGMA adalah orang yang sangat teliti, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun." Alan memberi perintah sembari melempar senyum misterius kepada Reigan Finley Alfarez.

"Anda cukup memahami profesionalitas, dalam bisnis ini tidak ada kata keluarga atau saudara. Anda harus memenuhi standar kualitas sebagaimana mestinya. Orang-orang kepercayaanku akan melakukan controlling secara berkala. Jadi, jangan bermain-main dalam proyek ini." Reigan menegaskan. ia duduk dalam posisi paling agung di sisi ayahnya, tepat di hadapan Alan dan para petinggi perusahaan lainnya.

"Hemm... benar yang dikatakan Reigan. Aku percayakan urusan proyek Land of Heaven kepadanya." Pak Gunawan tersenyum manis. Sejak lama ia ingin digantikan mengurus perusahaan, akan tetapi Reigan selalu membuat alasan untuk menolak.

"Kualitas adalah identitas perusahaanku. Aku menjamin untuk itu. Silakan periksa berkas-berkas perjanjian untuk kelanjutan proyek kita." Alan mengingatkan Rei akan kelasnya. Di level mana ia berada sebagai seorang pebisnis.

Tanpa diperintah, Rangga memeriksa berkas-berkas dari pihak Wijaya Property satu persatu. Ia tersenyum puas, kemudian menyerahkan semua berkas kepada Reigan untuk ditanda tangani.

"Semuanya sudah sesuai keinginan Anda, Tuan." Rangga bergumam di dekat bahu Reigan yang masih duduk disebelah kursi utama milik Pak Gunawan Alfarez, ayahnya.

"Let me sign it." Tanpa ragu Adam menanda tangani semua berkas itu. Ia percaya Rangga sangat tahu apa yang diinginkannya. Sementara Pak Gunawana telah mempercayakan megaproyek itu kepada Reigan.

Begitu semua urusan penting diselesaikan, Alan dan Reigan menyempatkan diri untuk mengobrol di dalam ruangan khusus yang sangat nyaman dan private.

"Apa gunanya tampan dan mapan, tapi hidup kesepian tanpa belaian sepertimu." Alan mulai usil mengusik absolutisme Reigan.

"Alhamdulillah, istriku selalu siap siaga memberikan belaian." Rangga yang turut mendampingi Reigan tiba-tiba menyahut sembari tersenyum bangga dan lebar. Ia tahu kalimat itu ditujukan Alan untuk memojokkan Reigan, ia hanya ingin membuat suasana hangat dan tidak canggung.

"Hahahahaha... Kamu enggak tahu apapun tentangku, musang kecil. Aku tidak pernah merasa kesepian, karena aku menyukai kesepian." Reigan tertawa santai. Ia seorang introvert, kesunyian adalah kawan baiknya.

"Hahahaha...." Alan balas tertawa. "Kamu selalu sibuk bergumul dengan bisnis dan uang sepanjang waktu. Ayo, ikut bersamaku menghadiri pesta lajang Randy yang akan diadakan di atas yatch supermewah." Alan penasaran, ingin sekali melihat reaksi orang-orang saat melihat Reigan Finley Alvarez yang sangat tertutup, tiba-tiba hadir di dalam sebuah pesta lajang yang gila.

"Tidak ada undangan khusus untukku, aku tidak akan datang." Rei tetap acuh tak acuh mendengar ajakan Alan.

"Tunggu saja, Jordy pasti akan mengundangmu secara khusus." Alan tetap bersemangat.

Benar saja, tidak lama kemudian Rei menerima panggilan video dari Jordy Sinaga, sahabatnya. Bahkan Jordi setengah memaksanya untuk segera datang.

"Oke. Aku akan hadir beberapa saat. Kau tahu aku tidak suka berlama-lama di keramaian." Rei menegaskan.

"Hhhh... pria tampan yang rumit. Baiklah, aku menunggu kalian." Jordy cukup puas mendengar jawaban Rei.

Alan tidak ingin menunda, ia langsung membujuk Rei untuk segera berangkat menghadiri pesta.

Pesta mewah yang dirancang sangat gila itu, tidak mampu membuat Rei larut di dalamnya. Ia seorang introvert yang lebih senang melakukan banyak hal secara private. Berbalut wajah dingin, ia memilih duduk di sudut ruangan pesta.

Alan membawa beberapa orang gadis cantik dari kalangan model ternama ke hadapan Reigan. "Pilihlah, gadis mana saja yang kamu suka. Malam ini, aku bosnya," ujar Alan sedikit bergaya.

"Mereka bukan seleraku." Rei membuang muka.

"Oh, aku lupa kalau kamu suka gadis murni yang tak pernah tersentuh. Seleramu terlalu langka di zaman modern seperti sekarang. Tapi baiklah, akan kucarikan gadis perawan untuk seleramu yang kuno bagai di zaman batu." Sudut bibir Alan tersenyum mengejek. Ia dan Rei terbiasa membuat lelucon sarkas.

"Dengar, aku menantangmu. Temukan satu saja untukku, ajukan satu permintaan jika kamu mendapatkannya." Reigan menyahut tanpa ekspresi yang berarti.

"Baik, tantangan diterima, bersiaplah untuk permintaan yang paling gila." Alan tersenyum smirk.

"Akan kutunggu." Reigan bersemangat, ia suka tantangan.

"Bos, maaf mengganggu percakapan kalian, ada telpon dari Willy. Sepertinya sangat penting." Rangga berjalan mendekati tuannya dengan wajah formal.

"Hmmm..." Rei hanya bergumam. Wajah tampannya sangat cool, tenang, tanpa ekspresi berlebihan.

"Halo Will, bagaimana situasimu?"

"Maafkan aku, Bos. Gadis bandel itu berhasil kabur setelah kondisinya pulih."

"Damn!"

"Tenang Bos, aku berhasil mendapatkan identitasnya. Ia bernama Edelweis Hana. Putri dari Arumi Helmia dan Ivan Hermawan."

"Wait-wait...." Reigan terkesiap, kali ini wajahnya menampakkan kegelisahan tak biasa. "Temukan dia, bawa dia padaku dengan cara yang paling lembut. Jangan membuatnya kesal, apalagi melukainya." Rei menegaskan perintahnya kepada Willy.

Willy tidak ingin banyak bertanya. "Baik Tuan, akan kami temukan gadis itu kembali."

Sementara itu, Hana dengan semangat dan tekad baru, berusaha menghubungi Madam Yura, wanita pemilik club yang direkomendasikan Cecil teman kuliahnya.

"Kalau kamu ingin mendapatkan uang dengan cepat, hubungi saja Madam Yura. Katakan padanya kamu adalah seorang mahasiswi yang masih virgin. Madam pasti akan mengistimewakanmu dan membayarmu dengan mahal," ucap Cecil kemarin.

Hana meraih ponselnya, meskipun hatinya penuh keraguan, akan tetapi ia merasa tidak punya jalan lain lagi selain mengandalkan dirinya sendiri.

"Halo, cantik. Bagaimana dengan penawaranku? Kebetulan sekali, seorang Bos besar meminta pesanan istimewa malam ini. Aku akan membayarmu dua kali lipat." Madam Yura mulai menebar umpan dengan suara khasnya.

Bab 3

Netra Hana berkabut mendengar penawaran Madam Yura. Batinnya dalam pergolakan dahsyat.

Menolak tawaran Madam Yura sama dengan menolak banyak uang. Sementara ia butuh uang itu untuk melunasi biaya kuliah serta membayar kebutuhan lainnya, sebab ayah dan ibu tirinya sudah tidak mau tahu lagi tentang kuliah Hana.

Hana  teringat kembali semua kata-kata menyakitkan yang ia terima dari ayah dan ibu tirinya, netranya terpejam. Peristiwa miris kemarin, berputar ulang di benaknya.

"Percuma saja kuliah, toh juga kamu tidak pernah berprestasi. Diam saja di rumah, gantikan pekerjaan Mbak Sri, supaya pengeluaran bulanan keluarga bisa dihemat," sungut Fera, istri kedua Adrian, ayah Hana.

"Hadeh. Enggak maulah. Aku sudah bercita-cita menjadi seorang Dokter Anak." Fera membela diri dengan bibir mencebik.

"Mana kuliah dokter itu mahal. Coba kamu lihat saudarimu Evita, ia selalu berprestasi dan membanggakan keluarga. Enggak percuma Papa dan Mama mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkannya." Adrian menampakkan kekagumannya kepada Evita, putri tirinya, tanpa peduli akan perasaan Hana yang terpojok dan terluka.

Hana berusaha tegar, menahan bendungan di matanya yang nyaris jebol. Ia meneguk salivanya dengan tatapan nanar sembari merayu hatinya sendiri yang terkapar.

"Biarkan aku melanjutkan kuliahku. Aku tidak akan merepotkan kalian." Hana menyahut dengan wajah merunduk dalam. Penghasilannya sebagai pelayan cafe memanglah tidak seberapa, tapi itu satu-satunya yang bisa ia harapkan saat  ini. Ia berharap bisa mengumpulkan rupiah lebih di tempat kerjanya yang baru. Atas bantuan Pandu, sahabat masa kecilnya, ia berhasil pindah bekerja di kafe yang lebih besar.

"Kamu ini memang susah dibilangin. Kalau kamu manut untuk berhenti kuliah, Mama akan carikan pria kaya yang bersedia menjadikanmu istri. Tapi sudahlah, lanjutkan saja omong kosongmu itu. Ayo Pa, kita berangkat. Teman-teman mama sudah lama menunggu. Ini acara reuni kami yang paling spesial, karena ada tamu istimewa yang hadir. Mama enggak mau telat." Fera buru-buru menggandeng lengan Adrian, menjauhkannya dari Hana. Ia khawatir hati adrian akan luluh melihat wajah sedih putri tirinya yang ia pikir sangat merepotkan keuangan keluarga.

"Dasar benalu, cuma bisa jadi beban orang tua!" Terdengar Fera merutuk sambil berjalan menjauh. Kata-katanya membuat Hana merasa kian terpuruk dan tidak berarti.

'Dasar nenek sihir!' Hana hanya berani merutuk dalam hati.

Dengan langkah gontai, Hana mempersiapkan diri untuk berangkat ke tempat kerja. Pedih masih ia rasakan di dalam sana, tidak rela dirinya selalu dibanding-bandingkan dengan saudari  tirinya yang memang pintar. Hana berdiri sunyi di pinggir jalan, menunggu Pandu datang menjemput dengan sepeda motor tua lusuh miliknya.

Tiiiiit!

"Aura magrib, buruan naik!" seru Pandu seraya menyodorkan helm ke hadapan Hana.

"Tega bener ngatain gue aura magrib," Hana meringis, tapi kemudian tersenyum lebar, sebab ia tahu Pandu hanya bercanda.

Pandu dan Hana bisa dibilang cukup dekat, terbiasa saling tolong menolong saat kesusahan, hanya saja untuk masalah pribadi, mereka tidak selalu saling terbuka.

"Sore ini ada tamu spesial di kafe yang sedang mengadakan acara reuni kampus. Sepertinya acaranya sampai tengah malam. Alhamdulillah nanti kita dapat uang lembur." Pandu menyemangati Hana.

"Alhamdulillah. Aku siap lembur. Yess!" Hana tak kalah bersemangat.

Sesampainya  di kafe, seperti biasa, Hana melakukan pekerjaannya dengan  riang dan cekatan. Suasana Kafe sangat ramai, sehingga Hana yang sibuk melayani para tamu sama sekali tidak menyadari kalau ayah dan ibu tirinya ternyata ada di dalam pesta reuni itu.

Fera baru saja memperkenalkan suaminya sebagai seorang pengusaha property yang sedang berkembang. Sebenarnya Adrian keberatan dengan cerita bohong Fera, tapi mau tidak mau ia harus berpura-pura  tersenyum manis demi menjaga perasaan istri tercinta.

"Wah, suamimu hebat. Calon konglomerat nasional bau-baunya, nih." Salah seorang teman Fera menanggapi.

"Ah, kamu bisa aja. Semoga semua proyek suamiku lancar, doakan ya." Fera merasa tersanjung.

"Kamu beruntung Fera, berbeda denganku, suamiku hanya seorang PNS yang pekerjaannya enggak akan bisa berkembang pesat, gajinya enggak bisa buat liburan ke luar negeri. Hufffhh...."

"Benar sekali, semoga saja nanti Fera mau memberikan paket liburan gratis ke luar negeri buat kita-kita yang suaminya gaji UMR ini. Hehehehe...."

Teman-teman Fera terus saja menyapa ramah, kagum akan keberhasilan sang sahabat dengan suami keduanya.

Sejenak Fera merasa kikuk, lantas dia menguasai diri dengan cepat. "Oh, pada saatnya nanti keinginan kalian akan terlaksana, tunggu saja. Semoga semua proyek besar suamiku berjalan lancar." Fera berakting menatap bangga kepada sang suami.

Kali ini wajah Adrian yang berubah kikuk. Ia hanyalah seorang office manajer di perusahaan property dengan gaji yang memang terbilang cukup tinggi. Tapi, ia bukan seorang pemilik perusahaan seperti yang diceritakan Fera kepada teman-temannya.

Rasanya Adrian ingin segera pulang ke rumah, takut kalau sampai ada orang yang mengenali siapa dia sebenarnya, dan semua kebohongannya bersama Fera akan terbongkar. Adrian gelisah.

Dang!

Tanpa sengaja sudut mata tajam Fera menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Netranya membeliak lebar, wajahnya berubah pucat untuk sesaat. "Apa yang dilakukan si burung pipit ceriwis itu di sini? Wajahku bisa tercoreng dengan keberadaannya. Hiss...." Fera mendesis.

Melihat gelagat sang istri yang aneh, kening Adrian mengerut. "Kenapa? Ada masalah apa?" tanyanya heran.

"Sssst.... Jangan menganggapnya siapapun di sini. Bersikaplah seolah-olah kamu tidak mengenalnya. Lihat di sebelah kanan, ada putri kita yang memalukan." Fera menunjuk dengan lirikan mata muak, yang langsung dipahami oleh Adrian.

"Hah? Ngapain Hana di sini? Oh, jadi ini kafe tempat Hana bekerja. Hmmm...." Adrian masih memikirkan sikap apa yang perlu diambilnya. Tentu saja ia ingin menyapa putrinya, tapi ia tahu itu akan membuat Fera malu.

Terlebih lagi, Fera telah mengatakan kepada teman-temannya kalau suaminya adalah seorang bos besar, owner dari perusahaan property bonafid. Jika teman-teman Fera tau aku memiliki putri seorang pelayan kafe, pasti Fera akan sangat malu dan murka kepada dirinya dan Hana.

"Sial, dia melihat kita dan menuju kemari." Seketika Fera cemas karena melihat Hana berjalan menuju ke arah mereka.

Daripada menanggung malu, Fera buru-buru menarik lengan Adrian, membawanya untuk menghadang jalan Hana.

Hana tersenyum manis dan polos, merasa bahagia bertemu dengan ayah dan ibu tirinya di tempat itu. Bagi Hana, itu adalah pertemuan tak terduga yang perlu sedikit dirayakan. Ia pikir ia harus menghampiri dan menyapa kedua orang tuanya, tapi lacur, Fera menatapnya dengan netra sinis dan dingin.

"Tolong, menjauh dari kami berdua. Bersikaplah seolah-olah kita tidak saling mengenal." Fera berbicara setengah berbisik di dekat telinga Hana. Penuh tekanandan mengancam.

Hana terkesiap, tak percaya apa yang diucapkan Fera. "Kenapa, Ma? A-a-apa... apa salahku? Aku ini putri kalian."

Adrian tak enak hati melihat wajah sedih sang putri, akan tetapi ia tidak ingin mengecewakan sang istri. "Hana, menurut saja apa yang diperintahkan mamamu. Semua demi kebaikan keluarga kita. Kembalilah bekerja...."

"... Kembali bekerja dan anggap saja kami orang asing bagimu. Kami malu punya putri seorang pelayan kafe." Fera menegaskan. Sementara itu, Adrian menelan salivanya dengan tatapan gundah.

Tepat di saat itu, tiba-tiba dua orang pria yang merupakan teman lama Fera tiba-tiba muncul dari arah belakang Adrian. "Fera, Adrian... kalian mengenal gadis pelayan ini? Apakah dia mengecewakan kalian?"

Sekali lagi wajah Adrian menegang, ia tak mampu menjawab, dan pada akhirnya ia harus bungkam saat mendengar jawaban dari Fera.

"Oh, sorry... kami enggak kenal gadis pelayan lusuh ini. Hanya meminta sedikit bantuan padanya." Fera menyikut pinggang Adrian setelah ucapannya selesai.

Adrian paham, Fera ingin penegasan darinya. "Iya, benar sekali apa yang dibilang Fera, kami tidak tahu siapa gadis pelayan ini, kami hanya meminta sedikit  bantuan darinya. Mari kita lanjutkan acara." Kali ini Adrian yang menarik sang istri. Meninggalkan Hana seorang diri dalam perasaan hancur, merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Air mata menggenang begitu saja di kedua pelupuk mata Hana. "Mereka malu mengakuiku. Sebegitu hinakah aku?" Berusaha tegar, ia mengusap air matanya, kemudian lanjut bekerja dengan berpura-pura tak mengenal kedua orang tuanya.

Setelah pekerjaannya selesai, Hana meminta tolong kepada Pandu untuk mengantarnya ke rumah Dion, cowok yang belum genap tiga bulan jadi pacarnya.

"Ngapain ke rumah Dion hampir tengah malam begini? Yang ada orang tua Dion pasti marah dan mengusir kamu." Pandu mengingatkan sambil melajukan sepeda motornya.

"Kedua orang tua Dion sedang liburan ke Bali bersama adik-adiknya, dia sendirian di rumah."

"Waduh, apa kamu enggak takut nanti Dion melakukan hal yang enggak seharusnya ke kamu, Han." Pandu khawatir.

"Aku lagi sedih, ada sedikit masalah di rumah. Dion enggak pernah bertindak macam-macam padaku. Dia menghormatiku. Malam ini aku cuma mau curhat." Hana masih sakit hati dan tidak ingin pulang ke rumah.

"Hati-hati, ya." Pandu tetap mengingatkan, sembari menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah Dion.

"Makasih, beruang lucu. Sekarang kamu boleh pergi. Nanti biar kuminta Dion mengantarku pulang."

"Oke. Jaga diri baik-baik jerapah," uca Pandu dengan berat hati sembari meninggalkan Hana seorang diri.

Dulu tubuh Hana pernah berbentuk kutilang darat, kurus tinggi langsing dada rata, sehingga teman-temannya memanggil jerapah. Sebaliknya, dulu Pandu pernah memiliki tubuh yang gendut, sehingga ia mendapat panggilan khusus 'si beruang lucu'.

Hana berhasil melangkahkan kaki di halaman rumah Dion dengan bebas, sebab ternyata pintu gerbang rumah itu belum terkunci. Hana sengaja tidak memberitahu Dion tentang kedatangannya. Ia ingin memberikan sedikit kejutan.

Rumah itu sunyi, tapi pintu utama terbuka lebar. Hana mengetuk dan memanggil dengan suaranya yang lirih, tapi tidak ada sahutan. Hana yakin Dion ada di dalam. Terlebih lagi, Hana menemukan sisa-sisa beraneka makanan di atas meja ruang tamu.

Hana memberanikan diri masuk ke dalam. Kakinya tersangkut sesuatu yang terasa lembut di lantai. Hana merunduk dan mengambil benda itu dengan rasa penasaran yang mulai bercokol.

DEG!

Jantung Hana seperti dihantam palu godam. "Lingerie siapa ini?" gumamnya was-was.

Tanpa sadar Hana menggerakkan kaki menuju kamar Dion di lantai dua. Ia mulai mendengar suara musik yang keras, bercampur dengan suara cekikikan seorang wanita. Jantung Hana kian berdegup kencang.

Semakik Hana mendekati kamar Dion, suara-suara aneh terdengar kian kencang di antara hentakan musik yang bergema.

"Oh, shit! Luar biasa. Mmmfhhh.... I love everything of you, Emma."

"I love yours, too. Kamu membuatku candu, darling."

Hana membeku di depan pintu kamar Dion, menyaksikan kegilaan yang dilakukan Dion dan Emma. Keduanya tengah bergumul layaknya pasangan suami istri. Dunia Hana runtuh seketika. Ia tak mampu berkata-kata.

Dalam ketidakberdayaannya, Hana melangkah pergi dengan hati yang terkoyak. Rasanya ia ingin mati saja saat ini. Ia berjalan mengikuti kemana saja langkah kakinya, dan tempat yang paling ingin didatanginya adalah sebuah gedung di mana dulu ibunya sering mengajak Hana bermain di atas rooftop. Dari atas rooftop itu ia dan ibunya menikmati senja yang indah.

Ibunya bilang, gedung itu adalah milik majikannya. Arumi, ibu Hana, diizinkan datang ke gedung itu kapan saja. Dari sana ia tahu jalan rahasia menuju rooftop dengan cepat.

"Edelweis Hana, berikan jawabanmu! Jangan berpikir terlalu lama dan membuatku lelah menunggu!" Madam Yura menyentak sekali lagi. Menyadarkan Hana dari ingatannya.

"A-a-aku... aku---"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED